Mencari Blue Fish

This post is about Indonesia

Selamat tahun baru!  Bagaimana perayaan tahun baru Anda?  Dua anggota Tim Lompat-lompat menghabiskan malam tahun baru di rumah saja, sementara satu lagi berada di Manila.

Namun beberapa hari sebelum Natal, saya sempat berkunjung ke Tanjung Lesung (lagi).  Kali ini saya bertekad: niat saya menemukan Blue Fish harus kesampaian!  Blue Fish yang ini bukan ikan, melainkan salah satu hotel dalam kawasan wisata Tanjung Lesung (yang luas sekali) yang konon disukai para ekspat.  Dulu saya pernah mencoba bersepeda lewat pantai untuk mendatangi Blue Fish dari Kalicaa, namun gagal.  Medan berat, sementara rupa-rupanya jarak ke Blue Fish terhitung jauh.

Sewaktu meminjam sepeda dari Kalicaa, saya pun mencoba memperoleh jawaban meyakinkan dari sang penjaga penyewaan sepeda.

“Blue Fish itu jauh nggak Mas?”

“Wo, jauh!” jawabnya langsung.

“Tapi bisa naik sepeda ke sana?”

“Bisa.”

Hmmm… okelah!  Saya berangkat saja kalau begitu, mumpung masih pagi.  Saya kembali ke vila untuk mengambil botol minum, namun ternyata yang membawa kunci kamar sedang keluar.  Ya sudahlah, pikir saya.  Sejauh apa sih Blue Fish?  Barangkali sebelum haus lagi saya sudah tiba di sana.

Belajar dari pengalaman lalu, sekarang saya mengambil jalan aspal yang menghubungkan Kalicaa dengan bagian-bagian lain Tanjung Lesung dan juga dengan dunia luar.  Udara hangat dan langit cerah—kebahagiaan tersendiri karena hari sebelumnya hujan terus turun 12 jam tanpa henti, membuat kami lebih memilih main-main di kolam renang vila saja dan meringkuk sambil mengobrol setelahnya.

Benar-benar enak rasanya bersepeda di bawah naungan pepohonan yang besar dan teduh.  Di balik deretan pepohonan, bisa terlihat tambak, hutan bakau, ataupun sawah.  Oleh karena berjarak hanya beberapa ratus meter dari pantai, tumbuh-tumbuhan yang menghiasi persawahan—selain padi tentunya—juga berciri khas daerah pantai.  Di kejauhan terlihat sejumlah gunung.  Langit terasa sedemikian luas.

Papan penunjuk jalan membimbing saya untuk membelok ke kiri.  Saya pun meninggalkan jalanan aspal, dan kini harus memeras tenaga lebih banyak untuk membuat ban-ban sepeda saya berputar di jalan tanah yang berpasir.  Yang lebih parah, jalan itu berhias kubangan di sana-sini.  Terkadang kubangan menutup seluruh lebar jalanan di depan saya, dan tak ada jalan lain selain menerabas air yang entah berapa dalamnya itu.  Ngeri juga saya kalau sampai tersangkut di lumpur.  Untunglah segala susah-payah itu terbayar oleh udara yang segar, pemandangan sawah yang permai beserta para petani yang sedang giat bekerja.

Menit demi menit berlalu, tak kunjung juga saya jumpai si Blue Fish.  Sempat terbersit niat untuk balik badan dan pulang saja.  Namun akhirnya saya kembali bertemu persimpangan jalan: cabang jalan yang satu menuju ‘Dadap Village’ sementara yang satu lagi menuju Blue Fish.  Hmmm… perasaan ingin tahu saya tergelitik untuk menengok Desa Dadap, yang mungkin merupakan tempat tinggal para petani penggarap sawah ini.  Namun saya membulatkan hati: niat saya kan melihat Blue Fish!  Saya pun mengambil cabang ke kanan.

Jalanan tidak lagi berlapis pasir putih, melainkan bebatuan kecil berwarna kelabu.  Sama saja merepotkannya.  Saya bertanya-tanya, apakah jalanan ini memang dibiarkan seperti ini, ya?  Biar terasa lebih alami atau bernuansa pedesaan.  Saya pun membayangkan: kalau saya seorang ekspat dari Eropa atau Amerika, mungkin rasanya unik sekali, berkendara di atas jalanan yang bopeng-bopeng, diapit persawahan yang tak pernah saya lihat di negeri saya.  Apalagi kalau padi sedang merunduk keemasan, pasti indah sekali!

Ketika akhirnya tiba di Blue Fish, wuiiiihhh!  Lega sekali!  Saya disambut pegawai hotel yang dengan berbaik hati mengajak saya melihat-lihat kamar hotel yang sedang dibersihkan.  Dibandingkan vila di Kalicaa, hotel Blue Fish memang amat sederhana, namun apik dan bersih.  Saat ini total hanya bisa menampung 48 orang secara bersamaan, rata-rata adalah ekspat atau tamu yang berniat memancing.  Tarif hotel per malam sudah termasuk voucher untuk berkegiatan di pantai-pantai Tanjung Lesung.  Selain itu, kini sedang ada penambahan fasilitas berupa kolam renang, agar tamu tak perlu melulu jauh-jauh ke Beach Club atau resor untuk bermain air.  Tepi laut di depan Blue Fish sendiri cenderung tenang, namun kurang ideal untuk berenang.

Puas melihat-lihat, saya pun berpamitan.  Belum lagi separuh perjalanan, mendadak saja langit menggelap.  Waduh!  Awan yang tadinya putih beriringan, kini kelabu mengancam.  Saya berusaha mempercepat kayuhan sepeda.  Para petani dan orang-orang yang berseliweran dengan sepeda motor pun tampak bergegas-gegas.  Namun awan hujan lebih cepat dari kami semua.  Saya pun harus pasrah basah-kuyup ditimpa badai yang tidak setengah-setengah.  Pepohonan yang rimbun pun tak kuasa menahan hantaman air hujan ke badan saya.

Ada-ada saja memang pengalaman saya bersepeda di Tanjung Lesung.  Tapi semuanya seru!  Setelah mengembalikan sepeda, saya meminum teh hangat sisa sarapan yang masih terhidang di restoran untuk menghalau dingin.  Kadung basah, saya pun menuju Beach Club untuk bermain pasir dan air.

Itulah perjalanan terakhir saya di tahun 2010.  Semoga tahun 2011 ini  semakin banyak perjalanan dan pengalaman seru yang kami dan Anda alami yang bisa kita bagi bersama.  Sekali lagi, Selamat Tahun Baru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: