Mencicipi Hidup Gerilyawan di Terowongan Cu Chi

This post is about Vietnam

Masih ingat pemandu kami, Mr Hai, yang membawa kami ke Kuil Cao Dai di luar Ho Chi Minh City, Vietnam? Kali ini saya akan melanjutkan kisah perjalanan kami bersamanya.

Perut yang kini kenyang usai makan siang, penyejuk udara yang dinginnya mengalahkan udara panas di luar, membuat kami mengantuk.  Sebagian besar penumpang terlelap sewaktu bis bergerak menuju tujuan kami berikutnya: terowongan Cu Chi (bacanya: ku ci), sisa perang Vietnam yang terkenal, simbol perlawanan sengit rakyat Cu Chi terhadap pasukan pendudukan Amerika Serikat.  Biaya masuk terowongan Cu Chi adalah 80.000 Dong.  Di sebelah depan, ada toko yang menjual suvenir, makanan kecil, dan minuman, juga toilet.  Nantinya saya menyesal tidak membeli air mineral terlebih dahulu di toko tersebut.

Sebelum memasuki kompleks terowongan Cu Chi yang sebenarnya, Mr Hai menunjukkan suatu ’pemandangan unik’ bagi turis-turis bule: …pohon nangka.  Ups!  ”Kalian selama ini makan buahnya, belum pernah kan lihat pohonnya?”  Hmmm, kami paling-paling terkagum-kagum pada jumlah buah nangka yang dihasilkan pohon tersebut.  Banyak sekali!

Jalan masuk ke kompleks Cu Chi berupa terowongan yang besar dan lega—sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan ’neraka’ terowongan sungguhan para gerilyawan.  Selama di kompleks tersebut, setiap rombongan didampingi pemandu setempat, yang berpakaian hijau-hijau seperti tentara Vietnam Utara zaman dahulu, lengkap dengan pin bergambar bintang di atas latar separuh merah-separuh biru tersemat di topinya.  Mr Hai menjelaskan bahwa itu lambang Vietnam semasa perang.  ”Merah itu melambangkan Utara, biru itu melambangkan Selatan.  Sejak Utara menang dan kami bersatu lagi, hanya satu warna: merah,” papar Mr Hai.

Terowongan Cu Chi terdiri atas ratusan cabang yang membentang berkilo-kilometer di bawah tanah.  Fungsinya bukan sekadar tempat persembunyian, melainkan juga basis perlawanan terhadap tentara Amerika Serikat.  Terowongan-terowongan dilengkapi bagian untuk makan, beristirahat, menyelenggarakan rapat, dan juga pabrik yang menyulap barang-barang bekas menjadi perlengkapan baru bagi tentara perlawanan.  Ban mobil bekas dijadikan sandal, bom AS yang gagal meledak disulap menjadi senjata, dan lain sebagainya.  Tentara perlawanan memanfaatkan apa pun yang bisa mereka peroleh dan pergunakan.  Bahkan besi tua sisa tank dan pesawat pun dijual ke negara lain seperti Jepang, yang ”mengubahnya menjadi mobil dan dikirim kembali ke Vietnam, bikin polusi”, tutur Mr Hai dengan gaya melawaknya yang datar.

Mr Hai dan dua patung yang mengenakan pakaian gerilyawan dan gerilyawati Vietnam di masa Perang Vietnam.

Kita dapat melihat beberapa petugas yang berpura-pura menjadi anggota pasukan perlawanan sedang bekerja mengolah barang-barang bekas menjadi perlengkapan yang bisa digunakan lagi.  Tidak hanya proses pembuatan ala zaman tersebut, kita pun disuguhi salah satu santapan utama yang tersedia bagi para pejuang saat itu—singkong rebus, dengan bumbu kacang tumbuk yang manis.

Ukuran asli lorong-lorong di Cu Chi luar biasa kecil—bukan hal istimewa menurut Mr Hai, karena dahulu toh para prajurit itu kekurangan makan, sehingga tubuh mereka kecil-kecil sekali.  ”Kalau sekarang sih sudah pada kegendutan, tidak muat,” Lagi-lagi pemandu kami itu menceletuk.  Pemandu setempat kami, yang tubuhnya agak gempal, menunjukkan salah satu pintu masuk rahasia ke lorong yang, astaga, memang luar biasa kecilnya.  Ia memperagakan cara memasuki pintu yang hanya berupa petak kecil di tanah itu.  Melihatnya saja sudah membuat kami merasa seram.

Mas ini terhitung gempal. Dia hanya bisa masuk sejauh itu.

”Nanti kita masuk ke lorong yang sudah disiapkan buat wisatawan.  Tenang saja, sudah dibesarkan dua kali lipat dari aslinya,” kata Mr Hai.  Lorong yang boleh dimasuki itu juga dijamin bebas jebakan.  Dahulu, untuk membuat kapok para tunnel rat—julukan bagi para prajurit AS yang dapat tugas berat mencari dan memetakan terowongan-terowongan itu—sejumlah jebakan maut terpasang di berbagai tempat di lorong.  Bila kita tidak tahu, habis sudah.

’Hidangan utama’ kawasan terowongan Cu Chi memang lorong yang boleh dimasuki itu.  Namun bila Anda tak benar-benar berminat untuk menjajal pengalaman yang bisa menimbulkan panick attack itu, tetap cukup banyak hal yang bisa Anda lihat di situ.  Misalnya saja, koleksi berbagai macam jebakan maut (’tiger trap’) yang dahulu dipakai para pejuang.  Harus diakui, jebakan-jebakan mereka itu cukup inovatif, meskipun sadis.  Mr Hai dan pemandu setempat kami menggunakan tongkat bambu untuk mengaktifkan jebakan-jebakan tersebut.  Ada yang menjeblak terbuka kalau terinjak, dan prajurit AS naas itu akan terjatuh ke dalam lubang yang dasarnya ditanami besi-besi tajam.  Tertancap di situ pasti bukan perasaan menyenangkan—salah satu adegan Tour of Duty yang menggambarkan hal itu melekat dalam ingatan saya.  Ada yang dipasang di pintu, dan akan mengayun menghantam siapa pun yang membuka pintu yang…

”…bakal jadi steril dan pindah ke Thailand jadi ladyboy,” Lagi-lagi Mr Hai melontarkan gurauannya yang seenaknya dan membuat kami terkekeh geli.  ”Jadi itulah sejarah awal-mula para ladyboy di sana!”

Kelihatan tidak berbahaya…

Tapi coba saja Anda injak!

Bila Anda berpikiran sungguh kejam taktik para pejuang Vietnam itu, pikirkan ini: pasukan AS menghujani kawasan mereka dengan berkilo-kilo bom dan senjata kimia beracun yang menghancurkan alam mereka—sungguh tidak seimbang.  Dan efek dari segala senjata maut itu hingga kini masih terasa di Vietnam.  Sejumlah sumber air di wilayah Da Nang, misalnya, diklaim masih tercemar zat kimia yang digunakan AS semasa perang, dan menimbulkan cacat pada bayi dan anak-anak di daerah tersebut.

Selain koleksi beraneka rupa jebakan, ada juga tank-tank AS yang dirusak pejuang dan pameran berbagai tipe senjata api yang digunakan semasa perang.  Anda juga boleh mencoba menembakkan salah satu senjata api di lapangan tembak dengan membeli pelurunya saja.  Tak seorang pun dari rombongan kami yang menerima tawaran itu, namun sebagian besar mengiyakan untuk masuk ke dalam lorong.

Mr Hai menjelaskan bahwa panjang lorong itu 100 meter.  Ada sejumlah pintu keluar, tapi tidak semua dibuka, kecuali satu yang terletak di 25 meter pertama.  Apabila ada yang berubah pikiran, Mr Hai menyarankan mereka keluar duluan melalui pintu itu.  Awalnya saya agak ragu-ragu ikut ke dalam, tapi kepercayaan diri saya mendadak tumbuh.  Setelah pemandu setempat kami turun, sepasang orang Prancis mengikutinya, dan saya di belakang mereka, diikuti Mel, Ephi, dan sisa rombongan kami yang juga turun dengan pede.  Sebagian anggota rombongan untuk tetap berada di atas tanah saja dan akan menemui kami di pintu keluar.

Dua puluh lima meter pertama lorong masih cukup lebar, dan masih ada cukup banyak cahaya, dari lampu maupun lubang keluar.  Lantai lorong juga halus.  Semua itu membuat saya nekad: ah, kalau begini terus ya tidak apa-apalah, terus saja sampai 100 meter!  Maka dari itu, saya peringatkan sekali lagi, kalau-kalau Anda juga tipe orang yang tahu-tahu nekad seperti saya: jangan, sekali lagi jangan, menelusuri lorong ini bila Anda mudah panik di dalam gelap dan tempat sempit, karena apa yang akan Anda rasakan di bawah sana bisa jadi sangat menyiksa.

Perjalanan dalam lorong ternyata tak semulus 25 meter pertama.  Di beberapa bagian, lorong sangat sempit, dan kerap kali tidak ada cahaya sama sekali!  Memang sih, tidak akan tersesat, hanya tinggal maju terus, tapi tetap saja menyeramkan!  Berkali-kali kami harus berjalan jongkok atau bahkan merangkak.  Yang paling membuat saya kesal, laki-laki yang tepat di depan saya sama sekali tidak memberi peringatan mengenai apa pun yang ia lewati, dan ia melesat saja meninggalkan kami, mungkin karena mau menyusul kekasih atau istrinya yang bergerak lebih dahulu.  Sering kali saya kaget karena ternyata kita tiba-tiba harus turun lagi ke bawah melalui lubang, atau ketika dalam gelap saya terbentur dinding setinggi dada yang harus dipanjat.  Walhasil, sayalah yang mulai berteriak-teriak ke belakang memberi peringatan—”We’re going up!  Watch out, we’re going down!” dan lain sebagainya—dan pesan itu diteruskan berantai ke belakang.

Tak terkira rasa lega yang meledak di hati saya ketika akhirnya saya tiba di pintu keluar, dan dengan dengkul lemas kembali muncul di atas tanah yang masih diterangi matahari!  Saya baru sadar jantung saya berdetak demikian cepat, dan saya nyaris dehidrasi.  Menyesal betul rasanya tidak beli minuman botolan tadi, padahal minum yang saya beli di HCMC ditinggal di bis.  Sambil menunggu seluruh anggota rombongan keluar, saya duduk menenangkan diri.  Gila.  Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan.  Tak terbayangkan rasanya, dahulu lorong-lorong itu, dalam ukuran asli yang jauh lebih sempit, menjadi tempat hidup sedemikian banyak orang untuk waktu yang cukup lama. Sekarang sih kami tertawa kalau melihat foto wajah-wajah stres kami saat baru keluar dari terowongan.  Waktu itu sih, haduh!

Namun meskipun menyeramkan dan membuat depresi, lorong-lorong gelap itu dulu juga menjadi latar kisah-kisah romantis yang bersemi dalam kehidupan yang serba susah.  ”Wanita yang menjaga kedai kopi di sebelah depan itu lahir di dalam terowongan ini,” kata Mr Hai, nada bangga terselip dalam suaranya.  ”Dan dia cantik, kan?”

Tentu ada juga kisah-kisah tragis—salah satu yang paling sering diulang-ulang adalah kisah seorang ibu yang baru saja melahirkan dan terpaksa membunuh bayinya agar tidak menangis, karena pasukan AS sedang berkeliaran di sebelah atas.  Wanita itu menjadi gila, namun perbuatannya yang lebih memilih mengabaikan insting keibuannya demi menyelamatkan lebih banyak orang yang bersembunyi dalam terowongan, dianggap sebagai tindakan kepahlawanan.

Mr Hai sendiri adalah veterang perang tersebut—saya tak sengaja menguping pembicaraannya dengan salah seorang turis yang menanyainya karena penasaran dengan jari-jemari tangan kiri Mr Hai yang tidak sempurna.  Saya sendiri baru memperhatikan itu setelah sang turis menyinggungnya.  ”Saya dulu perwira bagian komunikasi,” Mr Hai menjelaskan.  Ah, itukah salah satu sebabnya ia bisa berbahasa Inggris sejak lama?

Tur di Cu Chi ditutup dengan menyaksikan film dokumentasi dan penjelasan diorama mengenai terowongan-terowongan itu.  Isi dokumentasi yang jelas-jelas menggambarkan pasukan Amerika sebagai penjahat tak berperikemanusiaan rupa-rupanya membuat sepasang turis Amerika cukup gerah.  Berkali-kali mereka bertukar pandangan dengan alis terangkat.  Yang menggelikan, ketika DVD dokumentasi usai diputar, layar TV menampilkan merk pemutar DVD: California.

Yah, meskipun isi dokumentasi itu menyengat, dan perang sengit tersebut ’baru’ 35 tahun usai, orang-orang Vietnam secara umum tidak memendam dendam lama-lama.  Orang Amerika tidak perlu takut bepergian ke Vietnam—mereka tetap akan diterima dengan tangan terbuka dan keramahan.  Itu justru membuat hati saya semakin teriris—dulu, betapa tega AS membombardir rakyat yang sungguh pemaaf dan baik hati seperti ini!

6 Comments (+add yours?)

  1. Eve
    Jan 01, 2011 @ 14:25:07

    100 meter, panjang juga. *sedih baca cerita2 zaman perang*

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 02, 2011 @ 13:57:46

      Iya, ternyata panjang =___= Hikmah banget deh, jangan suka sok jago… Tapi pengalaman hebat banget deh, melata di bawah tanah.

      Sedih memang, tapi saya kagum, Vietnam perlahan-lahan berhasil bangkit dari keterpurukan (yah, sebenarnya baru sejak tahun 1980-an semenjak Politbiro mengambil langkah-langkah tegas untuk membangun Vietnam). Dan dengan tempat-tempat seperti Cu Chi, generasi muda Vietnam bisa belajar pedihnya perang.

      Reply

  2. Fahrie
    Jan 01, 2011 @ 18:36:36

    Menarik…!🙂

    Reply

  3. Kou
    Jan 02, 2011 @ 04:46:18

    Waai, ke terowongan situ yah😀
    Gua juga dulu pernah baca sejarahnya, emang miris yah -__-
    Dan di semua film buatan US, Vietkong selalu digambarin nggak beres… curang yah.

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 02, 2011 @ 13:49:55

      Memang sih, Vietkong juga tak segan berlaku kejam terhadap pendukung Vietnam Selatan. Dan kenyataan itu tak mereka tampakkan di, misalnya, museum-museum perjuangan Vietnam (kapan-kapan kami cerita, yah). Namun pihak AS juga bukan malaikat penolong seperti yang sering digambarkan di film-film mereka. Pemerintah Vietnam Selatan (yang Katolik) saat itu juga menindas umat Buddha (bisa baca post terkait tentang kota Hue).

      Tapi menarik, mempelajari kepedihan perang langsung di medan di mana peperangan pernah benar-benar berlangsung. Mungkin seharusnya Indonesia punya tempat seperti ini ya? Ataukah ada yang tahu ada di mana di Indonesia, biar kami bisa kunjungi?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: