Kota Tua Phuket

This post is about Thailand

Saya bukannya tidak suka pantai, tapi pantai yang terlalu ramai dan dipadati bangunan di sekitarnya bukan selera saya.  Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menghabiskan satu hari di kota tua Phuket.  Kota tua Phuket memang tidak sepopular pantai-pantai di pulau tersebut, namun kini mulai menggeliat terutama sebagai tujuan wisata budaya, khususnya arsitektur.  Kota kecil ini memang menjadi salah satu ‘museum terbuka’ gaya arsitektur Sino-Portugis selain Melaka di Malaysia dan Macau di Cina.  Memang belum serapi dan seteratur kedua kota lain itu, tetapi saya yakin bila usaha merevitalisasi kota ini terus dilangsungkan, bukan mustahil suatu hari nanti Phuket akan setenar pantai-pantainya.

Dari tempat kami menginap di kawasan Patong, kami menumpang bis umum menuju kota tua Phuket.  Berdasarkan informasi dari pemilik hotel, kami cukup membayar 25 Baht saja.  Kami mencegat bis itu di sebuah halte (tak resmi?) dekat Wat Suwan Khiri Wong, karena terminal bis antarkota terletak di ujung selatan Patong, terlalu jauh dari hotel kami.  Tak lama menunggu, bis yang lebih mirip truk pun tiba.  Biar kata mirip truk, bis-bis Phuket bersih kok.

Tiga deret bangku bis menyamping berhadap-hadapan di bagian belakang kendaraan (meski ada juga bis dengan kursi yang menghadap ke depan).  Jendela-jendela tak berkaca, atau kalaupun ada, dibuka lebar-lebar, sehingga angin bebas menyeruak masuk.  Di langit-langit ada sejumlah bel yang ditekan bila kita hendak turun.  Bila tidak ada kenek, atau bahasa kerennya kondektur, supir bis yang nanti akan menarik bayaran dari penumpang.  Teringat kata-kata pemilik hotel, kami menyediakan uang pas.  Mungkin memang seharusnya begitu, karena ada pasangan turis yang dengan polos bertanya berapa yang harus mereka bayarkan, dan dijawab 35 Baht/orang.  Padahal kami yang membayar 25 Baht dengan gaya seolah sudah biasa tidak dimintai tambahan apa-apa.

Jarak kota tua dari Patong cukup jauh.  Ketika tiba, kami diturunkan di bunderan air mancur.  Tujuan pertama kami adalah Coffee Max yang terletak tepat di depan tempat kami turun.  Di kafe ini kami meneguk kopi untuk membuat mata melek di pagi hari yang cukup dingin untuk ukuran Phuket saat itu.  Setelah merasa siap, perjalanan kami menyusuri kota tua Phuket berjalan kaki pun dimulai.

Oleh karena saat ini kota tua Phuket belum merupakan tempat tujuan wisata populer, tak banyak informasi memadai yang kami peroleh.  Untunglah kami memegang sebuah buku panduan wisata Thailand terbitan AA/Periplus, yang memberikan contoh rute menelusuri kota tua Phuket.  Memang tidak kami ikuti mentah-mentah 100%, namun rute pemberian AA menjadi pegangan awal kami.

Dari Coffee Max, kami berjalan menyusuri Jalan Phang-Nga yang cukup ramai.  Di lampu merah kedua, kami belok kiri dan mengamati kantor pos pusat dan museum filateli Phuket.  Bentuk bangunan campuran Asia-Eropa itu terasa akrab bagi seseorang yang berasal dari negara yang juga pernah dijajah bangsa Eropa untuk waktu lama.

Setelah menyeberangi sungai, kami belok kiri ke Jalan Thalang.  Di sebelah kanan jalan, terdapat kantor TAT (Otoritas Pariwisata Thailand) yang tampak mencolok dengan dinding berwarna salem dan daun pintu serta jendela berwarna hijau.

Tepat di samping kantor TAT, terdapat Taman Ratu Sirikit yang dibangun tahun 2004 untuk memperingati ulang tahun ke-72 Baginda Ratu.  Bila dilihat dari depan, sekilas hanya ada patung naga raksasa dan undak-undakan yang entah menuju ke mana.  Dakilah anak-anak tangga itu, dan Anda pun akan disambut kesejukan sebuah taman yang tak terlalu luas namun cantik.  Kitarkan pandangan Anda ke seluruh penjuru kota tua Phuket yang berlatar belakang perbukitan (nama Phuket berasal dari kata bukit).  Di kejauhan juga terlihat menara masjid – tak hanya Cina dan Portugis, namun Phuket juga dipengaruhi budaya Islam.  Sampai sekarang, sekian puluh persen penduduk Phuket memeluk agama Islam.

Puas bersantai di taman, kami kembali menelusuri Jalan Thalang yang di kanan-kiri diapit pertokoan yang mengingatkan pada Jonkers Street di Melaka.

Kami membelok ke Soi Rommani (ada juga yang mengejanya Rommanee – belum ada transliterasi standar), di mana terdapat banyak bangunan kecil yang sudah memperoleh kembali kejayaan masa lalu mereka.

Jalan kecil itu berujung di Jalan Dibuk, tempat terdapat sebuah kompleks wat dan sekolah, Wat Mongkhon Nimit.  Kami mampir sejenak untuk berteduh di bawah pepohonan besar sekaligus mengamati kegiatan anak sekolah.

Kami kembali ke Jalan Dibuk sampai berjumpa persimpangan dengan Jalan Yaowarat, lantas membelok ke selatan.  Di lampu merah berikutnya, kami membelok ke Jalan Krabi, dan setelahnya iseng memasuki jalan kecil yang buntu.  Terdapat sejumlah bangunan kuno yang belum memperoleh sentuhan perawatan yang baik, namun nantinya pasti indah sekali bila telah memperoleh giliran renovasi.

Memutar lagi ke Jalan Krabi, kami melalui Museum Phuket Thaihua, kemudian lurus saja melewati pertigaan dengan Jalan Satun.  Di sebelah kanan, terdapat Wisma Gubernur yang telah beralih fungsi menjadi restoran dan sekolah memasak Blue Elephant.  Sejenak saya membayangkan, bagaimana ya dulu rasanya menjadi keluarga gubernur yang tinggal di bangunan berhalaman sangat luas itu.

Museum Phuket Thaihua

Wisma Gubernur Phuket

Di lampu merah berikutnya, kami meninggalkan jalan Krabi dan berbelok kiri ke Jalan Patiphat, lalu ke kiri lagi, memasuki Jalan Ranong.  Di sini terdapat perkantoran Thai Airways, yang juga mencakup sebuah gedung bersejarah.  Kami lantas melewati tempat ngetem bis-bis lokal di depan pasar setempat (di sini ada mushola, kalau-kalau Anda perlu), namun kami meneruskan lagi perjalanan kembali ke bunderan air mancur untuk mengisi perut di The Circle.  Setelahnya, baru kami menumpang lagi bis ke Patong, kembali ke wilayah yang disarati lampu neon, kebisingan, dan musik menggelegar.  Dalam hati, saya berdoa kota tua Phuket yang damai tak akan menjadi seperti itu.

Gedung kantor Thai Airways di Phuket.

4 Comments (+add yours?)

  1. primajati
    Dec 16, 2010 @ 03:38:46

    sukaaa sama bentuk kusen pintu dan jendelanya… nice pictures miss…

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 16, 2010 @ 04:34:51

      Kepikiran nggak sih, cobaaaa kota tua Jakarta dilestarikan seperti ini yah🙂 Para turis tuh bisa tertarik datang ‘hanya’ berkat bangunan-bangunan tua bersejarah padahal.

      Reply

  2. hilsya
    Jan 02, 2011 @ 02:06:24

    nice info… keren!
    *jadi semangat lagi buat ke phuket…*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: