Kiat Selamat: Jepang

This post is about Japan

Nah.  Kini kita telah berada di Jepang.  Bagaimana cara berkeliling di dalamkota, ya?  Bagaimana bila ingin bepergian ke kota-kota lain?  Makan sebaiknya di mana bila ingin yang murah, atau yang halal?  Berikut ini kami menjabarkan sejumlah ‘kiat selamat’ umum selama berada di Jepang.  Ini tentunya dari pengalaman kami sendiri – jadi kalau Anda punya kiat dan informasi lain yang bisa dibagi, silakan tuliskan sebagai komentar di halaman ini.

Keterangan lebih terperinci menyangkut tempat-tempat tertentu (misalnya, berlayar di Danau Ashi di Hakone) bisa dilihat di artikel-artikel khusus tentang daerah tersebut.

Angkutan umum dan taksi

Kereta adalah angkutan umum ‘favorit’ selama kami berada di Jepang.  Ke mana-mana kami menggunakan kereta ataupun subway, disambung jalan kaki bila perlu.  Bis dalamkota hanya kami gunakan sekali-sekali, itupun tidak diTokyo.   Kalau naik bis, perhatikan saja apakah masuk dari depan atau belakang, dan apakah membayar sewaktu naik atau turun.  Ini karena di kota yang berbeda, peraturan juga bisa berbeda.  Dan sebisa mungkin siapkan uang kecil untuk membayar bis kalau tidak memiliki kartu transportasi, agar proses keluar-masuk bis lancar.

Di sebagian bis, tarif terpampang di layar TV.

Sebagian orang biasanya pergi ke Jepang sudah berbekalkan tiket terusan (pass) yang hanya bisa dibeli di luar Jepang, khusus untuk turis.  (Di Indonesia, misalnya, Anda bisa memperoleh JR Rail pass di cabang Euro by Train Indonesia, telepon cabang Harmoni (021) 6305645; cabang Kemang (021) 70681681/682) Dengan pass semacam ini, dalam jangka waktu tertentu kita bebas menaiki kereta (plus bis) apa saja yang tercakup oleh tiket terusan tersebut.  Tapi hati-hati, cek juga perusahaan kereta yang mengoperasikan rute yang hendak kita ambil, karena belum tentu pass kita berlaku juga untuk kereta/rute itu.  Salah-salah malah jadinya boros, karena di luar tiket terusan yang mahal, kita masih harus membeli tiket lain-lain lagi.

Kami sendiri memilih tidak membeli tiket terusan macam itu karena memutuskan untuk menggunakan beberapa moda transportasi berbeda.  Sebagai gantinya, kami membeli tiket terusan khusus untuk kota-kota tertentu, sehingga mulai dari Tokyo, di dalam kota dimaksud, sampai balik lagi ke Tokyo, kami tak lagi mengeluarkan sepeser pun, meski berganti-ganti moda transportasi dari satu tempat tujuan pariwisata ke tempat lain.  Ini misalnya kami lakukan sewaktu pergi ke Hakone.

Ssshhh... di dalam kereta jangan ribut yah...

Baiklah, mari kita bicarakan mengenai kereta dahulu.  Tokyo dilayani oleh sejumlah rute yang dioperasikan beberapa perusahaan berbeda, namun jalur utama tengah kota adalah jalur melingkar Yamanote.  Banyak kawasan utamaTokyo mudah disambangi dengan menggunakan kereta Yamanote – beberapa di antaranya adalah Ikebukuro, Shinjuku, Shibuya, Harajuku, Shin-Okubo, Ueno, dan Akihabara.

Kalau melihat peta kereta Tokyountuk pertama kali, memang memusingkan saking banyaknya jumlah rute yang berpotongan di sana-sini.  Namun bila sudah biasa, tidak akan terasa sulit kok, malah terasa seru saat merencanakan perjalanan agar cepat dan hemat.  Telusuri saja dengan hati-hati rute dari stasiun asal ke stasiun tujuan, harus ganti jalur di mana.  Jalur-jalur berbeda diberi warna berbeda sehingga mudah dikenali.  Bawalah peta kereta yang juga menyertakan nama-nama tempat dalam kanji, karena tidak di semua stasiun mudah menemukan petunjuk rute dalam huruf Latin.

Harga tiket kereta diTokyomemang bikin ‘berat hati’ kalau dirupiahkan.  Dari Ikebukuro ke Shinjuku, selisih beberapa stasiun saja, dihargai 160 yen.  Akan tetapi dibandingkan moda transportasi lain di Tokyo, kereta tergolong murah, cepat dan tidak merepotkan.  Kereta di Kyoto bahkan lebih mahal – selisih satu stasiun saja kita harus merogoh kantong 220 yen.  Kalau menurut D-san, itu karena pendudukKyototidak sebanyakTokyo, sehingga otomatis pengguna kereta juga lebih sedikit dan tarif pun meningkat.

Oya, harap diingat bahwa di dalam kereta, tidak disarankan menerima telepon.  Telepon genggam harus berada dalam kondisi ‘silent’ atau yang disebut ‘manner mode’ oleh orang Jepang.  Bahkan bila berada di sekitar tempat duduk yang diperuntukkan bagi penderita penyakit jantung, orang yang cedera, ibu hamil, dan lanjut usia, telepon genggam Anda harus dimatikan.  (Meski saya perhatikan aturan ini juga tidak selalu dipenuhi oleh warga Jepang sendiri.  Tapi kalau yang melakukan orang asing, pasti pandangan orang akan berbeda,kan?)

Pergi ke Jepang juga berarti siap-siap cukup sering (dan cukup jauh) berjalan kaki.  Namun menjadi pejalan kaki di Jepang sungguh dimanjakan oleh trotoar yang nyaman dan aman.  Hati-hati saja, karena trotoar juga digunakan oleh pengendara sepeda.  Dan perhatikan baik-baik lampu lalu-lintas bila hendak menyeberang.  Meski pernah juga saya (malam-malam sih) diajak menyeberang tidak di zebra cross dan saat lampu tidak hijau bagi penyeberang jalan.  Saya yang agak panik bertanya, “Memangnya boleh kita melakukan ini?”  D-san dan T-san menjawab dengan agak heran, “Ya, tentu saja.” Hmmm.. tapi rasanya lain kali, saya menaati aturan lalu-lintas saja deh!

Taksi, seperti telah kami sebutkan sebelumnya, sebaiknya memang hanya dijadikan pilihan bila kondisi benar-benar mendesak.  Tarif flag-fall alias buka-pintunya saja sudah mencekik – kalau dirupiahkan sekitar 50 ribu rupiah.  Untuk jarak ‘seimprit’ saja, bisa kena 600-700 yen.  Namun kita bakal dibuat kagum oleh kesopanan para supir yang jauh di atas supir taksi di sejumlah negara lain.

Nah, bagaimana kalau kita pergi ke luar kota?  Untuk pergi ke kotalain, bisa menggunakan kereta, baik yang jalur ekonomi, ekspres, romance car, ataupun shinkansen.  Banyak jalur-jalur kereta ke luarkota ini bersimpul di Shinjuku.

Bagian dalam salah satu bis malam Jepang. Selimut dan bahkan sandal kamar mandi pun tersedia.

Alternatif lain adalah menggunakan bis antarkota, baik bis siang maupun bis malam, yang rata-rata juga menaik-turunkan penumpang di kawasan Shinjuku.  Tiket bisa dibeli online, melalui telepon, agen perjalanan, ataupun loket perusahaan bis.

Akan tetapi, menemukan bis-bis antarkota ini susah-susah gampang.  Kerap kali tidak ada terminal khusus; bis hanya datang dan pergi di sekitar waktu kedatangan-keberangkatan.  Jadi apabila Anda memesan tiket, pastikan juga di mana Anda harus menunggu bis tersebut.  Bila Anda memesan online, dalamsurat elektronik konfirmasi yang Anda terima, akan dicantumkan juga alamat tempat menunggu beserta petanya.  Di Shinjuku, misalnya, Anda mungkin akan diminta menunggu di dekat Starbucks di depan L Tower. Di Kyoto diminta menunggu di dekat terminal bis pariwisata.

Nah, setengah jam sebelum waktu keberangkatan tiba, ‘tahu-tahu saja’ akan muncul petugas dari perusahaan bis, yang mengenakan rompi warna perusahaannya.  Daftar ulang diri Anda (mungkin Anda akan diminta menyebutkan nomor kode pemesanan), dan nanti bila bis tiba, petugas akan menggiring Anda menuju bis yang akan mengantar Anda menuju tempat tujuan.

Bila waktu perjalanan panjang, setiap 2-3 jam sekali bis akan berhenti di tempat istirahat (rest area) sehingga kita bisa turun untuk menggunakan toilet, melemaskan kaki, ataupun berbelanja camilan.  Sekadar peringatan, sopan-santun sangat dijaga di dalam bis-bis Jepang.  Tidak ada yang mengobrol dengan suara keras atau bersuara berisik.  Bila menonton TV yang tersedia ataupun mendengarkan musik, harap perhatikan volume suara.  Dan apabila hendak memundurkan senderan kursi, jangan lupa meminta izin kepada penumpang yang duduk di belakang Anda.

Kalau ada yang Anda tidak mengerti, atau Anda tidak bisa menemukan tempat yang Anda cari, jangan segan-segan bertanya.  Meskipun mungkin tidak lancar berbahasa Inggris, warga Jepang biasanya ringan tangan sekali membantu orang yang kebingungan.  Kami malah pernah mendapat bantuan dari tiga orang perempuan muda yang repot-repot menelepon, mencek peta online, dan membawa kami berkeliling demi menemukan tempat menunggu bis ke Kyoto.  Padahal kami hanya bertanya saja, lho!  Kalau tidak tahu ya tidak apa-apa juga, kan kami bisa bertanya kepada orang lain.  Namun mereka sangat bersemangat membantu, sampai kami yang merasa tidak enak hati.  Yah, ada baiknya kita juga mempelajari percakapan dasar untuk menanyakan arah.

Makanan

Makanan!  Nah, ini salah satu pertanyaan paling krusial yang kerap diajukan orang yang hendak berkunjung ke Jepang.  Biasanya yang dipermasalahkan adalah

1)    rasa, kalau lidah memang agak sulit menerima makanan negara lain

2)    halal atau tidaknya, ataupun pantangan lain seperti daging sapi dan semacamnya; dan kalaupun diri tidak punya pantangan,

3)    harganya.

Kalau masalah Anda adalah nomor (1), maka cobalah cari hidangan ‘internasional’ seperti KFC yang mungkin lebih ‘nyambung’ dengan selera Anda.  Kalau masalah Anda adalah nomor (2), maka memang sebaiknya waspada dalam memilih makanan.  Sulit sekali menemukan makanan (berlabel) halal di Jepang.  Kalaupun ada, biasanya restoran India, Pakistan, atau Arab, yang harganya lebih mahal daripada makanan Jepang.  Jauhi ramen, kecuali Anda bisa memastikan kuahnya tidak dibuat dengan campuran babi.  Hati-hati juga dengan steak, hamburger, dan sosis – meskipun tulisannya daging sapi, kadang juga hidangan-hidangan tersebut bercampur daging babi.  Lebih baik cari hidangan berbasis seafood.  Soba, onigiri, karaage, juga boleh dicoba.

Nasi kari ala Jepang.

Mau yang murah?  Coba belilah hidangan siap saji di minimarket-minimarket (convenience store, ‘kombini’) yang menjamur di mana-mana.  Kedai-kedai murah yang biasanya didatangi karyawan atau anak sekolah di stasiun-stasiun juga ada, namun biasanya tempatnya tidak didesain untuk duduk-duduk lama dengan nyaman.  Sebagian tempat makan menggunakan sistem tiket yang harus Anda ambil di mesin yang ada di dekat pintu masuk.  Masukkan uang, pilih tombol hidangan yang Anda inginkan, ambil tiket dan kembalian bila ada, lalu serahkan tiket Anda ke pelayan.  Tinggal tunggu pesanan datang.  Banyak paket makanan yang dijual dengan sistem tiket berharga di bawah 500 yen.

Tapi jangan tanya saya ya, kalau makanan gorengan, digorengnya pakai minyak apa.

Hidangan dari restoran keluarga, Jonathan's.

Beberapa catatan lain mengenai tata cara makan di kedai atau restoran Jepang:

-       Air putih biasanya gratis.  Mereka juga dapatnya dari keran, kok.  Tapi tidak di semuakota Jepang air putih bisa diminum langsung dari ledeng, jadi selalu cek terlebih dahulu.

-       Di sebagian restoran, terutama restoran cepat saji, peralatan makan bekas dan sisa-sisa hidangan harus dibereskan sendiri.  Bawa piring, gelas, dan sendok-garpu-pisau dengan baki ke meja atau lemari khusus untuk peralatan bekas pakai.  Pisah-pisahkan sampah – kertas, sedotan dan plastik, sisa makanan, dan minuman yang tidak habis – ke tempat pembuangan masing-masing.

Jangan heran ya kalau orang Jepang makan mi (ramen dll) dengan berisik, karena ini justru tandanya mereka menikmati santapan mereka!

Mesin otomat

Cara mudah memperoleh minuman (dan sekarang juga makanan) adalah melalui mesin otomat (vending machine) yang mudah ditemukan di mana-mana, bahkan di sudut-sudut jalan kawasan perumahan.  Modal Anda adalah uang logam saja.  Harga minuman berkisar dari 100 sampai 150-160 yen.  Tinggal cemplungkan uang, tekan tombol di bawah minuman yang Anda pilih, dan tunggu kaleng atau botol minuman menggelinding keluar, beserta kembalian kalau ada. Ada mesin otomat yang menjual minuman dengan harga seragam, 100 yen. Ada pula yang menyediakan minuman hangat.

You've just gotta love 'em.

Toilet

Toilet di Jepang bermacam-macam jenisnya.  Mulai dari WC jongkok dan WC duduk tanpa air, sampai tipe washlet yang canggih.  Pertama kali melihat washlet perhatian kita pasti akan langsung tertarik kepada jumlah tombol yang ada selain tentunya tombol atau tuas untuk flush.  Tombol ‘standar’ yang biasa ada di semua washlet adalah tombol air untuk membilas daerah kewanitaan dan setelah buang air besar (dua tombol berbeda) serta tombol stop.  Lalu mungkin ada tombol untuk pengering bokong (ya, tahu-tahu akan terasa angin sejuk dari bawah…), untuk menghangatkan dudukan WC, serta untuk mengatur kecepatan semburan air.

Tapi jangankan washlet, terkadang tisu saja tidak ada.  Di stasiun Kyoto, misalnya, jangankan air untuk membasuh, tisu sekalipun tidak disediakan gratis, melainkan harus dibeli di mesin otomat di bagian depan toilet.  Kalau Anda malas menggunakan WC yang seperti itu, cobalah cari toilet di pusat perbelanjaan yang bagus.  Selain bersih, banyak juga yang menyediakan washlet.  Dan dari beberapa kali pengalaman, toilet umum di tempat peristirahatan di sepanjang jalan Kyoto-Tokyo juga sangat bersih dan menyediakan washlet.  Toilet-toilet umum tempat peristirahatan bahkan dilengkapi pancuran mandi, ruang ganti baju, serta berbagai kebutuhan lain yang diperlukan para penumpang kendaraan yang hendak menyegarkan diri sejenak setelah berjam-jam menempuh perjalanan.

Tombol yang mana dulu yak...

Eskalator

Selama ukuran tangga berjalan memungkinkan, orang Jepang akan selalu mengosongkan satu sisi untuk mereka yang terburu-buru dan ingin melesat melewati orang-orang lain yang anteng-anteng saja berdiri di eskalator.  Hanya saja di masing-masing kota, sisi yang dikosongkan itu bisa berbeda-beda, sehingga jangan sampai salah, ya!  Di Tokyo, misalnya, yang dikosongkan adalah sisi kanan (jadi kita berdiri santai di kiri), sementara diNara, yang dikosongkan adalah sisi kiri (kita berdiri di kanan).

Loker

Adabeberapa jenis loker – untuk pengguna kartu transportasi berlangganan ataupun loker koin.  Carilah tulisan ‘コインロカー’ (coin locker).   Sediakan uang logam 100 yen-an, karena mesin kunci loker biasanya hanya mau menelan koin dengan nominal tersebut. Ada beberapa ukuran loker yang tersedia – tentunya semakin besar semakin mahal tarifnya – siap dipilih sesuai ukuran barang yang hendak Anda titipkan.  Loker besar yang beberapa kali kami pilih, misalnya, tarifnya adalah 400 yen untuk sekali tutup-buka pintu, atau seharian bila sepanjang hari itu pintu tak Anda buka lagi sama sekali.

Barang paling lama bisa Anda titipkan selama 3 hari, sebelum kemudian disita petugas.  Jadi kalau mau keluarkota1-2 hari tanpa membawa-bawa barang berat, koper bisa Anda titipkan di loker koin.  Untuk pertama, bayar sehari saja.  Nanti esok atau lusa sewaktu hendak membuka loker, terlebih dahulu masukkan uang logam untuk membayar kekurangan tarif.

Listrik

Tidak seperti di Indonesiayang menggunakan listrik bertegangan 220 V, di Jepang tegangan listrik adalah 110 V.  Jangan khawatir karena charger peralatan listrik sekarang biasanya bisa digunakan untuk 110/220 V sekaligus, tidak lagi perlu trafo.  Bawa saja adapter, karena stopkontak Jepang tidak berbentuk bulat, melainkan cagak.

Sip!  Siapkah untuk jalan-jalan di Jepang dengan aman dan nyaman di Jepang?

Tampang depan subway di Tokyo.

Posted by Tante Guru

Pengantar: Beijing

This post is about China

Beijing sedang diterpa angin kencang yang datang dari Mongolia.  Terkadang tiupan angin begitu laju, nyaris menyeret saya serta entah ke mana ia pergi.  Tapi teman-teman berkata: justru sekarang ini musimnya enak untuk berkunjung ke Beijing.  Tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas.  Yang penting: kepala tetap dingin.

“Jangan harapkan orang sini minta maaf kalau mereka menabrak kita,” kata seorang teman yang telah 11 tahun bermukim di Beijing.  “Bukannya mereka tidak sopan.  Karena dengan orang sebanyak ini, bagi mereka bertabrakan itu hal yang tidak bisa dihindarkan, tidak perlu dibesar-besarkan.”

Saya mengingat-ingat nasihatnya itu, dan selama beberapa hari di Beijing, saya juga berusaha menjadi orang yang lebih cuek dari biasanya: diam saja ketika ditabrak, meski kalau saya yang menabrak, saya otomatis berkata “Sorry.”

Tak perlu pula emosi bila pelayan seolah melemparkan sumpit, tisu, dan piring ke meja Anda.  Meskipun mungkin rasanya agak risih bagi kita, memang begini gaya mereka, bukannya mereka sedang berlaku tidak sopan.

Teman saya itu juga berkata untunglah saya datang ke Beijing sekarang, setelah Olimpiade.  “Dulu sewaktu gue datang pertama ke sini, meski pakai you-can-see, cewek-ceweknya tidak cukur bulu ketiak,”  Ia tertawa geli mengenang.  “Namun sekarang mereka modis-modis sekali.”

Saya memandang berkeliling dan mengiyakan.  Yang saya tak habis pikir, beberapa gadis tampak mengenakan stiletto – padahal mereka harus berjalan kaki jauh bila menaiki metro, entah itu menuju bangunan tujuan mereka atau berpindah jalur, dan seringkali harus mendaki tangga yang cukup tinggi.  Wow.  Apa mereka tidak merasa kerepotan?  Namun jelas keberadaan 15 jalur metro telah sangat membantu pergerakan mereka – dan juga para penghuni Beijing yang berbelas-belas juta.  Seandainya tidak ada jalur-jalur kereta bawah tanah ini, entah bagaimana kacaunya ketika mereka semua harus berangkat sekolah atau bekerja dan pulang pada waktu nyaris bersamaan.

Metro, bis, atau taksi?

Bagi pengunjung seperti saya, keberadaan kereta bawah tanah juga amat membantu.  Bepergian ke berbagai tempat yang jauh dari tempat saya menginap, dan yang tentunya tak pernah saya datangi sebelumnya, menjadi mudah.  Cukup cek jalur kereta (misalnya di situs ini), mana yang paling dekat dengan tujuan kita, rencanakan perpindahan jalur yang efektif kalau perlu, dan, voila, tidak perlu takut tersesat.  Papan-papan petunjuk arah yang dilengkapi tulisan Latin siap membantu kita.  Pengumuman dan petunjuk di kereta juga dilengkapi transliterasi.

Kartu sekali jalan Metro Beijing.

Berkat subsidi, harga tiket kereta bawah tanah di Beijing menjadi amat murah.  Dengan 2 CNY (yuan), selama kita tidak keluar dari stasiun, kita bebas bepergian ke stasiun mana saja.  Kalau di Jakarta, miriplah dengan sistem karcis Transjakarta: harganya flat, tidak seperti subway Singapura atau Hongkong yang menghitung berdasarkan jarak.

Anda bisa membeli tiket langsung dari loket, ataupun melalui mesin yang menerima uang logam pecahan 1 CNY dan uang kertas mulai dari 5 CNY.  Bila tidak mengerti bahasa Cina, ubah saja bahasa yang terpampang di mesin menjadi bahasa Inggris.  Sebelum memasuki peron, bila Anda membawa tas atau kantong belanja, segala bawaan Anda itu harus dilewatkan di dalam mesin sinar-X terlebih dahulu untuk pemeriksaan.  Ya, soal ini memang pemerintah Beijing sangat ketat dan berhati-hati.

Sorongkan tiket Anda ke mesin pembaca di gerbang masuk, dan simpan tiket tersebut, karena harus Anda masukkan ke mesin pembuka gerbang di tempat tujuan akhir Anda nanti.

Bagaimana dengan bis umum?  Harga karcis bis dalam kota juga flat, 1 CNY.  Jadi bila hendak ke mana-mana, siapkanlah uang receh yang siap dimasukkan ke dalam kotak di depan pintu masuk bis.  Sayangnya, meskipun di bis biasanya ada petunjuk nama-nama halte yang dilengkapi dalam transliterasi Latin, di halte sendiri petunjuk rute bis hanya menyertakan transliterasi untuk tempat awal dan tujuan akhir bis.  Sebaiknya bila Anda memang memutuskan untuk naik bis ke tempat tertentu, ceklah di situs internet (atau tanyakan kepada orang yang mengerti) untuk mengetahui nomor bis dan di halte mana saja bis itu bisa Anda peroleh.  Ada baiknya juga Anda mencatat atau menandai peta nama tempat tujuan Anda dalam tulisan Cina, agar mudah ditunjukkan kepada orang ketika menanyakan jalan.

Halte-halte di Beijing dilengkapi petunjuk nomor dan rute bis yang singgah di halte tersebut.

Taksi di Beijing juga tidak terlalu mahal, meskipun biaya flagfall (buka pintu)-nya cukup besar, 10 CNY.  Namun bila Anda memang harus menggunakan taksi, dan apalagi bila perginya tidak sendirian sehingga tarif taksi bisa dibagi bersama, kantong Anda tak akan terlalu diberati.  Oya, jangan marah-marah kalau supir taksi menambahkan 2 CNY ke tarif akhir Anda, karena ini memang peraturan di sana.  Tambahan ini bisa berubah-ubah setiap waktu.  Hanya beberapa hari sebelum saya tiba di Beijing, besarnya hanya 1 CNY.

Toilet umum

Ah, ya.  Masalah ini juga harus saya bahas, karena banyak juga yang penasaran soal kabar-kabar yang beredar mengenai toilet umum di Beijing.  Apa benar sedemikian parahnya?  Kalau soal ini, lagi-lagi teman saya berkata, “Untung lu datangnya setelah Olimpiade.”  Ya, karena dalam rangka persiapan besar-besaran menyambut Olimpiade, pemerintah Cina merombak banyak fasilitas umum di Beijing demi kenyamanan para pengunjung.  Toilet-toilet umum berubah menjadi toilet kering, baik yang duduk ataupun yang jongkok, dengan tisu, wastafel, dan sabun tersedia.

Fasilitas boleh berganti—kebiasaan yang susah diubah.  Siap-siap saja ‘mematirasakan’ indra bila Anda memasuki toilet umum di Beijing.  Rata-rata memang bersih, namun beberapa kali juga saya dapat ‘jackpot’, mendapati WC bekas buang air besar yang tidak disiram.  Di berbagai tempat (bahkan di dalam pesawat terbang!) pemerintah atau pengelola bangunan juga harus memasang peringatan yang kira-kira berbunyi ‘Demi kenyamanan, harap kunci pintu toilet Anda’.  Dan, ya, bahkan di pesawat terbang, ada saja yang menggunakan toilet tanpa mengunci pintu, membuat pramugari dan orang yang mengantri kebingungan.   Cerita heboh datang dari seorang rekan: ia mendapati 2 orang perempuan duduk di toilet yang berhadap-hadapan, dengan pintu terbuka, sambil mengobrol!

Jadi, yah, seperti juga di mana pun, tengok-tengok saja dulu toilet umumnya sebelum masuk: terlihat meyakinkan atau tidak?  Kalau rasanya tidak, ya, masih banyak kok toilet umum di Beijing yang bisa dimanfaatkan, misalnya di pusat-pusat perbelanjaan menengah ke atas yang tentunya lebih terjamin.  Gratis ini, hehehe.

Kebiasaan lain: meludah

Ini kebiasaan lain penduduk Beijing yang cukup mengganggu untuk orang yang tidak terbiasa.  Mereka gemar meludah di mana pun, termasuk di dalam ruangan: dan sebelum diludahkan, mereka ‘mengocok’ dahulu dahak itu dalam tenggorokan sehingga mengeluarkan bunyi keras.  Pokoknya jangan menyender ke dinding atau duduk di lantai, deh.  Bercak-bercaknya saja sudah mencurigakan.

Eh, tapi jangan karena kisah-kisah kami ini, Anda jadi malas berkunjung ke Beijing, karena kota ini sebenarnya menawarkan banyak hal yang mengesankan.  Ini sekadar agar Anda bersiap-siap dan tidak malah marah-marah mendapati penduduk Beijing melakukan banyak hal secara berbeda dengan kita.  Di bagian lain dari seri laporan Lompat-lompat ke Beijing, kami akan menampilkan cara mengunjungi sejumlah tempat terkenal di Beijing tanpa mengambil paket tur dari biro perjalanan, dan juga melihat sisi kehidupan Cina Muslim di Beijing.

Posted by Tante Guru

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.