Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

Beberapa lantai di bawah The Star Theater, bangunan yang dikenal sebagai The Star Vista, sebagian besar difungsikan sebagai tempat makan dan minum, dengan restoran dan bar berjejer-jejer.  Ada juga panggung terbuka yang, karena waktu itu sedang dalam suasana Tahun Baru Cina, digunakan sebagai tempat mementaskan sejumlah bentuk kesenian tradisional Cina.  Tepat di belakang The Star, juga terdapat cabang Starbucks Rochester Park yang menempati sebuah bekas gedung tua.  Tempatnya sangat nyaman, enak untuk dijadikan tempat bercengkerama!  Kadang-kadang, cabang Starbucks ini sedemikian ramai, sehingga pengunjung diminta untuk tidak berlama-lama atau serakah mengambil tempat.

Starbucks di belakang The Star Vista

sg-2013-03

Nilai plus dari perjalanan menonton konser saya kali ini adalah… jadi ‘tamu tak diundang’ after party band yang saya tonton saat itu.  Tempatnya?  Tidak seberapa jauh dari Star Theater.  Semua berkat teman saya yang entah bagaimana berhasil dapat bocoran tentang tempat after party tersebut.  Kami memang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam pesta itu, alias jadi penonton saja.  Terkadang cengar-cengir tak jelas dan melambai-lambai ke anggota-anggota band.  Lumayanlah, ditanggapi positif dan ramah oleh mereka.

Berhubung sedang tahun baru Cina, kami berkunjung juga dong ke Chinatown untuk melihat-lihat.  Seperti bisa diduga, Chinatown semarak oleh berbagai dekor.  Kelenteng-kelenteng dipenuhi orang-orang yang hendak memanjatkan doa, mengharap tahun yang baru pun akan membawa keberuntungan.

sg-2013-05

sg-2013-06

sg-2013-07

Salah satu keuntungan datang ke Singapura saat tahun baru Cina adalah museum-museum gratis dimasuki!  Semacam keistimewaan bagi orang-orang yang tidak ikut merayakan Tahun Baru dan bingung hendak berkeliaran ke mana karena rata-rata tempat perbelanjaan tutup.

Kami pertama-tama mengunjungi Museum Filateli (kali kedua untuk saya).  Museum ini memang tidak besar, namun saya menyenanginya.

sg-2013-08

Setelahnya kami melangkahkan kaki ke Museum Peranakan yang terletak tidak jauh dari Museum Filateli.  Di sini kita bisa menyaksikan berbagai pajangan yang mengisahkan seluk-beluk kaum peranakan di Singapura.  Yang paling saya senangi adalah ‘telepon dari masa lalu’.  Ada sejumlah telepon antik, yang bila kita angkat akan memperdengarkan suara seorang peranakan yang menggunakan dialek dari masa ketika telepon itu digunakan.

sg-2013-09

sg-2013-10

Satu lagi pengalaman tak terlupakan di Singapura!

sg-2013-04

sg-2013-11

Hong Kong

Lagi-lagi saya menginap di Ah Shan Hostel saat bertandang ke Hong Kong.  Bagaimana, ya?  Saya sudah ‘nyambung’ betul dengan tempat ini, yang letaknya sangat strategis.  Tidak jauh dari stasiun MRT, dekat halte bis ke bandara, terletak di kawasan di mana berbagai keperluan dan suvenir mudah diperoleh, murah (untuk ukuran Hong Kong) dan bersih, pemiliknya orang Indonesia-Hong Kong.  Paling-paling kekecewaan saya hanya karena kebodohan saya sendiri: baru sadar bahwa di gedung yang sama, di lantai berbeda, ada sebuah kafe kucing.  Dan sadarnya telat, ketika saya sudah hampir check-out untuk berangkat ke bandara!

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Tujuan utama saya ke Hong Kong adalah menonton konser di Asia World-Expo, sehingga saya tidak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan.  Namun saya menyempatkan diri melihat-lihat bagian kota yang lain, yang sebelumnya tidak pernah sempat saya datangi dalam kunjungan-kunjungan saya ke Hong Kong dahulu.  Saya penasaran ingin melihat yang namanya Central Promenade, Expo Promenade dan Hong Kong Exhibition and Convention Center dari dekat.

Sayang, pagi itu hujan mengguyur lumayan deras.  Saya hanya bisa berjalan sampai mentok ke HKECC, sejauh yang ternaungi atap.  Ya, meski lumayan juga jarak yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Wan Chai, namun saya tidak perlu khawatir kehujanan ataupun tertabrak kendaraan bermotor, karena saya cukup menyusuri walkway alias jembatan-jembatan beratap untuk pejalan kaki.  Walkway ini ada juga yang menembus beberapa gedung, yang rupanya memang membuka satu lantai khusus untuk digunakan berlalu-lalang para pejalan kaki.  Kalau bukan karena koordinasi yang baik dengan pemerintah dan keamanan yang terjamin, mana bisa begini ya?

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Masih pagi, sehingga tidak banyak kegiatan di HKECC.  Saya juga hanya mengagumi apa yang bisa terlihat dari lobi bawah saja. Sepertinya sih asyik nih menonton konser atau pertunjukan lain di sini.  Karena sulit meneruskan ke Promenade dalam kondisi hujan, saya malah melipir ke cabang Pacific Coffee di Great Eagle Center.  Tempat yang nyaman, dengan barista yang ramah, yang sepertinya mengenal nyaris semua pelanggannya.  Mungkin memang setiap pagi sebelum berangkat kerja, mereka mampir ke situ untuk meneguk secangkir kopi hangat.

Pacific Coffee

Pacific Coffee

Setelahnya, saya mencoba berjalan kaki di sekitar Wan Chai, tapi hujan tak kunjung reda sementara saya tak punya payung.  Akhirnya saya hanya berjalan-jalan sedikit di sekitar stasiun, lalu kembali lagi.

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Saya juga, seperti biasa, berkunjung ke Avenue of Stars.  Rasanya belum ke Hong Kong kalau belum ke sini dan menghabiskan waktu sejenak.  Eksibisi di Museum Seni sedang tidak menarik bagi saya, sehingga saya meneruskan langkah sampai ke terminal feri Star.  Eh!  Bebek!  Si bebek raksasa!  Proyek seni menggemaskan berwarna kuning ini mengambang-ngambang dengan santainya, tidak kalah pede dari kapal-kapal pesiar dan feri yang berlalu-lalang atau berlabuh di terminal tersebut.  Seluruh Hong Kong sedang demam si rubber duck!  Karya-karya seni yang terbuka bagi publik seperti ini dan secara teratur berganti (terakhir saya ke sini, kawasan terminal feri Star memajang patung-patung Doraemon) memberi kesegaran bagi penduduk yang hidup berimpit-impitan di kota mereka yang sangat ramai.

BEBEK!

BEBEK!

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Sempat juga saya kembali ke Avenue of Stars saat malam.  Iseng saja ingin melihat permainan ‘teater cahaya’ gedung-gedung di Pulau Hong Kong yang sebenarnya tidak terlalu spektakular.  Tapi lumayanlah, tontonan gratisan sambil menikmati angin semilir yang menghambur dari selat.  Kebetulan sedang bulan purnama pula.

Magis.

Magis.

Cumi bakar di Avenue of Stars.  Mengantrinya lama, tapi saya penasaran.  Ternyata rasanya seperti... juhi kering.

Cumi bakar di Avenue of Stars. Mengantrinya lama, tapi saya penasaran. Ternyata rasanya seperti… juhi kering.

Malam-malam saya juga sempat menyambangi SoHo, kawasan yang terkenal karena berbagai tempat makan dan toko yang ‘hip’.  Penasaran saja, karena terakhir kali ke Hong Kong (saat siang) saya mencoba mendatangi wilayah tersebut, tapi malah tersesat.  Padahal ternyata saya waktu itu sudah dekat dengan SoHo, hanya saja terlanjur bingung!  Untuk ke SoHo ternyata hanya perlu berjalan kaki sedikit dari Stasiun Central ke eskalator Mid-Level, lalu menaikinya.  Eskalator?  Ya, untuk mempermudah penduduk menaiki kontur sekitar Central yang berbukit-bukit, pemerintah Hong Kong mengoperasikan sejumlah eskalator, termasuk yang mencapai SoHo.  Tapi eskalator-eskalator ini hanya bergerak ke atas, kalau untuk turun kita harus menggunakan undak-undakan biasa.

Sudut luar Museum Seni.

Sudut luar Museum Seni.

Sebenarnya kawasan SoHo cukup menarik, dengan berbagai restoran, klub, dan bar yang menyajikan berbagai dekorasi eksterior maupun interior memikat.  Hanya saja, karena saya sendirian, kok rasanya cengo’ kalau mau mencoba bergabung dengan keramaian di tempat-tempat nongkrong itu, yang didominasi oleh ‘ekspat bule’ pula.  Rasanya ke SoHo lebih asyik kalau ada temannya, deh.  Jadi bisa memilih tempat makan yang nyangkut di hati, ambil satu meja bersama teman-teman, lantas asyik mengobrol dan tertawa sambil bersantap.  Lain kali, lain kali!

Lembang

Akhirnya, setelah bertahun-tahun hanya mendengar tentang Kampung Daun, saya berkunjung juga ke tempat tersebut bulan Juni lalu.  Hehe, ketinggalan banget nggak?  Terus terang, saya sebenarnya sebelumnya agak meremehkan restoran yang dikonsep bernuansa alam ini.  Saya pikir, ah paling-paling tempatnya seperti apa sih, jangan-jangan cuma sawung-sawung yang didirikan di halaman yang ditata seadanya menyerupai ‘alam’.  Dan yah, memang, saya harus telan bulat-bulat segala perilaku meremehkan saya itu.

lb-2013-01

Berkendara ke ‘atas’, kata orang Bandung, ke arah Lembang, lantas membelok ke Jalan Sersan Bajuri, cukup lama juga perjalanan kami di tengah sore hari yang gelap karena mendung sebelum akhirnya kami tiba di Kampung Daun.  Dari bagian depannya pun saya sudah terkesima, melihat sebuah toko cenderamata dan oleh-oleh dengan dinding dari kayu berwarna muda, dan terang bermandikan cahaya lampu.  Ketika melangkah masuk ke area makan, wah, rasa kagum saya berlebih-lebih lagi.

lb-2013-02

lb-2013-03

Sawung-sawung ditata mengikuti kontur daerah tersebut, dihubungkan oleh jalan setapak.  Semakin ke belakang, jalan setapak itu semakin menanjak, terkadang berubah menjadi tangga.  Sebagian tamu yang kebagian sawung di sebelah belakang, atau memang menginginkan sawung di tempat yang lebih ke atas atau lebih sepi, harus mau bersusah-payah mendaki.  Tapi banyak juga tamu yang iseng saja, tidak keberatan berlelah-lelah sedikit naik ke atas demi melihat-lihat pemandangan.  Sebuah kali berair jernih mengalir membelah kawasan Kampung Daun, menimpali aktivitas tamu dengan suara gemericik atau bahkan berdebur.  Nikmat sekali, apalagi kalau dapat sawung tepat di samping kali, beuh!

lb-2013-05

lb-2013-04

Harga makanannya memang agak mahal, namun saya rasa itu harga yang pantas untuk hidangan yang kita santap sambil menikmati suasana ‘hutan’ yang masih asri.  Dengar-dengar terkadang ada ular yang masih suka memunculkan diri dari rerimbunan.  Yah, menambah-nambah bumbu ‘bersantap di alam’ lah ya.

lb-2013-06

lb-2013-07

Beijing

Sebenarnya sih saya bukan tipe yang senang mengeluh dalam perjalanan, apalagi kalau perjalanannya dibayari alias gratis.  Kalau kesal pasti ada saja, hanya saja biasanya tidak saya endapkan di hati terlalu lama.  Paling saya kenang saja dengan perasaan geli.  Namun yang saya alami di Beijing kali ini, sungguh bikin jera rasanya, dan membuat tidak ada perasaan ingin kembali ke Beijing dalam waktu dekat, entah itu sendirian ataupun bersama biro travel.  Terutama bersama biro travel.

bj-2013-01

Memang, kalau yang namanya ikut biro travel, ya setelan default-nya adalah patuh dan pasrah pada jadwal yang disusun biro travel.  Sebelumnya saya juga sudah beberapa kali ikut perjalanan bersama biro travel, dan baik-baik saja.  Nyaris tidak ada keluhan.  Namun kali ini, haduh, terus terang jadwalnya membosankan sekali, malah bikin kesal.  Di tempat pariwisata yang diincar, diburu-buru, bahkan sampai kami tidak bisa berjalan-jalan bebas di hutong (kawasan kota tua bangsa Manchuria).  Kami dinaikkan ke becak-becak yang lantas ngebut melintasi jalan-jalan sempit hutong.  Padahal banyak toko, restoran, dan kafe menarik yang sepertinya pantas dikunjungi!   Kami malah berkali-kali digiring ke toko-toko yang pastinya sudah menjalin kerjasama dengan biro travel ybs, dilimpahi bujukan dan bahkan tipuan, agar mau membeli barang-barang yang harganya dipatok kelewatan.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Bagaimana tipuannya?  Antara lain: kami diajak masuk ke sebuah toko mutiara air tawar.  Setiap kelompok digiring memasuki ruang duduk tertentu.  Rombongan kami terpencar-pencar menjadi tiga kelompok di ruang-ruang yang agak berjauhan.  Pertama-tama kami disuguhi penjelasan tentang produk-produk yang dijual toko tersebut.  (Ini dilakukan di toko mana pun, entah itu teh, sutera, dan lain sebagainya, dan sebenarnya cukup menarik dan informatif, dengan sampel-sampel gratis yang boleh dicicip atau dibawa pulang.)

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini.  Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini. Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Tak berapa lama, masuklah seorang gadis yang manis sekali ke ruangan kami.  Dengan gaya lucu dan kekanak-kanakan, ia mengaku sebagai salah seorang putri direktur yang dipaksa ayahnya ikut melayani di toko karena mereka sedang kewalahan.  Ia mau karena bisa melatih bahasa Inggris-nya.  Namun ia berkali-kali minta maaf karena bukan instruktur yang sebenarnya, sehingga ia hanya bisa memberitahukan informasi yang terbatas.  Di sela-sela penjelasannya soal budidaya kerang mutiara air tawar, ia mengucapkan hal-hal manis seperti tidak akan lupa pada kami yang telah menjadi temannya, ingin berkunjung ke Indonesia, dan lain sebagainya.

bj-2013-03

Puncaknya, ia membagikan kepada kami masing-masing sebuah cincin.  Ia bisa melakukan itu sebagai putri direktur.  Lantas ia bilang, kala keluar dari ruangan ini dan melihat-lihat ke sekeliling toko, kalau ada barang yang dimau, bilang saja kami temannya, agar diberi diskon!  Kalau diingat-ingat lagi rasanya memang too good to be true ya semua itu.  Tapi ada saja lho yang nyaris tertipu mengeluarkan ribuan yuan untuk barang yang pasti kurang daripada itu harganya, karena merasa tersanjung sekali disukai sang putri direktur.  Kami dengan cepat mengetahui tipuan ini ketika, setelah kami ‘dilepas’ ke dalam toko, kami lekas-lekas mendatangi rombongan lain dan menanyakan apakah mereka memperoleh cerita yang sama.  Iya, betul, ternyata mereka pun didatangi perempuan yang mengaku putri direktur, dengan kisah yang sama, dengan janji diskon yang sama.  Ups!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Yah, sebetulnya bagi saya taktik ini sungguh disayangkan, hanya mendatangkan keuntungan sekejap.  Padahal para ‘korban’ menjadi tidak percaya lagi terhadap para pedagang, bahkan pariwisata, Cina atau setidak-tidaknya Beijing.  Anggota-anggota rombongan saya berbisik-bisik, “Nggak lagi-lagi deh, balik ke sini…”  Saya sendiri sih masih ingin kembali ke Istana Musim Panas, karena belum puas melihat-lihat dengan waktu hanya 45 menit yang diberikan biro travel.  Namun di sana pun harus hati-hati, jangan berbelanja di penjaja pinggir jalan dengan uang pecahan besar.  Bisa-bisa Anda mendapatkan kembalian mata uang Rusia, Taiwan, atau negara lain yang nilainya kurang daripada kembalian yang seharusnya Anda terima dalam yuan.  Bahkan, tak jarang turis malah menerima kembalian uang palsu!

Berikut ini beberapa foto dari kawasan Istana Musim Panas.

bj-2013-04

bj-2013-07

bj-2013-06

bj-2013-05

Untungnya sih saya sempat, atas seizin atasan, ‘meloloskan diri’ dari jadwal menyebalkan ala biro travel.  Saya berkeliaran sendiri dan menonton sebuah band Jepang di salah satu loka di Beijing, di daerah yang belum pernah saya singgahi sebelumnya.  Nah, kalau jalan-jalan sendiri seperti ini, saya suka!

Dan ini beberapa foto lainnya dari Beijing.

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Mesin otomat perpustakaan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina.  Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya!  Yang ini hidangan khas Sichuan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina. Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya! Yang ini hidangan khas Sichuan.

Balikpapan, Setelah Hampir 20 Tahun Lewat

This post is about Indonesia

Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya sebelum akhirnya bisa menulis tentang perjalanan saya ke kota tempat saya sempat dibesarkan dulu ini.

Bukan apa-apa, tetapi perjalanan kali ini memang sangat emosional untuk saya.  Setelah nyaris 20 tahun berlalu, saya kembali ke Balikapapan, untuk menjenguk nenek saya, yang kini sudah sangat tua sehingga pikun dan nyaris tidak bisa melakukan apa-apa.  Bukan pengalaman baru yang menyenangkan untuk ditumpukkan di atas kenangan saya tentang saat beliau masih sehat-walafiat, sibuk membuat kue nastar dengan oven model lama di dapur rumahnya di Balikapapan.

Toh akhirnya jadi juga saya terbang ke Balikpapan dengan Citilink dari Jakarta.  Hari sudah gelap ketika saya tiba, dan saya disambut oleh Bandara Sepinggan yang rasa-rasanya tak banyak berubah, masih seperti dulu.  Hei, tapi… tunggu dulu.  Ada bangunan terminal baru yang terlihat modern, baru digunakan oleh satu maskapai saja.  Selain terminal baru itu, Sepinggan juga sedang menjalani renovasi menyeluruh.  Saya hanya berharap bentuk bandara yang baru tidak sekadar modern namun generik, melainkan tetap menampilkan unsur-unsur budaya setempat yang khas.

(Oh ya, namanya juga di bandara Kalimantan, di Sepinggan ada sejumlah peringatan bahwa penumpang yang membawa mandau – senjata tajam khas Kalimantan – diharapkan menitipkannya ke pilot, demi keamanan penerbangan.)

Saya dijemput oleh paman dan sepupu saya, dan diajak ke Boncafe untuk makan malam.  Ini restoran yang sudah berusia cukup tua, banyak menyajikan hidangan Barat atau fusi, dan sepertinya punya kalangan penggemar tersendiri.  Saya melihat setidaknya satu kelompok ekspat yang sedang makan malam di situ bersama kami.  Dan para pelanggan ini bisa membawa pulang pecah-belah yang dibuat khusus untuk peringatan – kalau saya tidak salah – tiga dasawarsa Boncafe.

Sedari awal, paman saya jelas-jelas menunjukkan kebanggaan pada kotanya.  Ia heran kepada saudara-saudara yang memutuskan pergi menuju Tanah Jawa demi mencari penghidupan.  “Di sini pekerjaan ada, uang banyak.  Mau apa-apa juga ada.  Mall saja banyak.”

Ah, iya.  Betul.  Ingatan saya tentang Balikpapan memang tidak banyak, tapi jelas tidak melibatkan pusat-pusat perbelanjaan dan hotel-hotel besar yang kini tumbuh menjamur di kota tepi pantai itu.  Pasar Rapak tempat saya kerap dibawa ayah saya berbelanja sewaktu kecil dulu pun telah berubah menjadi ‘trade center’.  Bangunan-bangunan modern sebelah-menyebelah dengan deretan ruko-ruko lama kecil yang masih terpelihara.  Saya bahkan masih mengenali sejumlah toko yang sering saya singgahi sewaktu anak-anak.  Dan meskipun sudah mulai ada ‘taksi’ seperti yang biasa kita kenal di Jakarta, angkutan umum yang disebut ‘taksi’ – kalau di Jakarta kita sebut omprengan – juga masih berkeliaran.

Sejak lama memang Balikpapan, meskipun bukan ibukota provinsi, menjadi gerbang masuk ke Kalimantan Timur.  Kota ini adalah salah satu pangkalan pengolahan Pertamina: perusahaan minyak negara tersebut adalah salah satu faktor yang berpengaruh paling besar dalam pembentukan kota ini.  Kini pun Balikpapan merupakan kota yang banyak dikunjungi pebisnis: untuk merekalah sedemikian banyak hotel-hotel itu dibangun.

Balikpapan memang bukan tempat tujuan wisata utama, bila tempat wisata yang ada dalam benak kita adalah sebuah daerah dengan pemandangan alam luar biasa dan/atau berbagai produk budaya yang menunjukkan adat-istiadat yang kuat.  Namun, dari Balikpapan, kita bisa menuju tempat-tempat seperti itu di Kalimantan Timur, sementara kota itu sendiri berjaya sebagai daerah bisnis dan industri.  Terlepas dari itu, Balikpapan punya daya tarik tersendiri – mungkin bukan sebagai tempat berwisata, melainkan sebagai tempat tinggal.

Bukan hanya masalah pekerjaan dan uang seperti yang disebutkan paman saya.  Namun kota ini masih mempertahankan pesonanya sebagai kota kecil yang nyaman dan bersahabat bagi penghuni.  Kelengkapan sarana berbelanja dan bersenang-senang, termasuk bioskop Blitz Megaplex yang akan segera buka, bukan segalanya.  Balikpapan juga punya taman-taman yang menyenangkan, lapangan-lapangan luas yang siap menampung aktivitas warga, dan trotoar-trotoar yang enak ditelusuri.  Di akhir minggu ketika saya ke sana, sedang ada ramai-ramai berupa senam dan jalan kaki bersama yang diikuti orang dewasa maupun anak-anak.  Bayangkan menyenangkannya melakukan itu semua di bawah langit biru yang bersih, dinaungi pepohonan rindang, dan diterpa angin pantai yang segar.

Ingatan saya yang bolong-bolong tentang Balikpapan juga gagal mengingat kalau kota ini berbukit-bukit.  Ingat, sih, dulu saya pernah tinggal di ‘Gunung Polisi’, dan juga di ‘Panorama’ yang juga berwujud ‘gunung’.  Tapi ternyata ada juga ‘gunung-gunung’ lain, termasuk salah satunya di mana rumah keluarga paman saya berdiri.  Ketika pagi hari tiba dan saya melangkah ke halaman belakang, saya disambut matahari yang masih malu-malu timbul, udara yang sejuk, dan pemandangan menuruni lereng bukit.

Saya juga lupa bahwa kompleks Pertamina dan Stadion Persiba sebenarnya terletak agak jauh dari pusat keramaian kota.  Menyusuri jalanan tepat di samping laut, melewati Pelabuhan Semayang, melalui jalan yang diapit pepohonan yang tak terusik, kami pun tiba juga di kompleks Pertamina yang masih dihiasi rumah-rumah lama, seperti yang dulu keluarga saya huni bertahun-tahun lalu.  Rumah di Parikesit dan Panorama yang pernah kami tinggali sama-sama masih ada.  Sebagian rumah Pertamina tampak masih atau bahkan bertambah bagus, namun sebagian justru tampak tidak terawat.  Gedung Banua Patra dan Gelora Patra yang kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara, terlihat mulai reyot.  Dan saya lupa, apakah dulu kompleks Pertamina sesepi ini?  Ataukah memang dulu penghuninya lebih banyak?

Paman saya mengajak sarapan nasi kuning di Karangjati, di sebuah warung sederhana yang ia klaim dulu tempat merupakan favorit ayah dan ibu saya.  Hidangan sederhana, berupa teh hangat dan nasi kuning di atas kertas pelapis yang dengan repot-repot dibuat berbentuk bunga, dengan lauk pendamping yang bisa kita pilih sendiri, menjadi pengganjal perut yang menyenangkan.  Orang-orang bergantian datang, mengejar rasa yang telah mereka akrabi berpuluh-puluh tahun.   Saya juga sempat mencicipi untuk-untuk, penganan yang dulu hampir setiap hari bisa mampir ke perut saya.

Di depan deretan toko-toko tempat kedai nasi kuning ini terdapat, berjajar sejumlah rumah panggung kuno milik Pertamina yang telah dijadikan cagar budaya.  Ah, kota ini memang seperti ‘berwajah dua’.  Di sana-sini, ditunjukkan tanda-tanda kemakmuran modern yang belum lama hinggap, namun masih banyak pula sudut kota yang seolah tak pernah berubah meski jangka waktu 20 tahun memisahkan saya saat terakhir melihat mereka dulu dan saya yang sekarang.   Di sejumlah tempat waktu seperti berjalan cepat sekali, menyongsong status Balikpapan sebagai ‘kota modern’ – seperti yang tampak di ‘Balikpapan Baru’ yang dibangun dengan keseragaman gaya dan bentuk, membuatnya tak jauh beda dari ‘kota-kota baru’ lain di Indonesia, Serpong misalnya.  Akan tetapi di sejumlah bagian lain kota, waktu seolah berjalan demikian lambat, enggan bergerak maju.

Sebelum saya ke bandara untuk pulang ke Jakarta, Paman membawa saya ke restoran kepiting saos favoritnya, Kenari, yang menyajikan aneka macam masakan seafood dan ayam, tentu saja dengan kepiting sebagai bintangnya.  Para pelayan dengan sigap akan membungkus-khusus kepiting bila kita memberi tahu bahwa pesanan kita itu akan dibawa terbang ke kota lain.  Tak heran hidangan kepiting ini menjadi salah satu oleh-oleh yang dinanti dari Balikpapan.  Paman saya bahkan membawakannya untuk dokter langganan atasannya di Singapura setiap kali ia menemani sang bos berobat ke sana.

Terminal keberangkatan yang digunakan maskapai saya masih sama dengan yang dulu – berlangit-langit rendah, dengan berderet-deret tempat duduk tanpa pemisah khusus untuk setiap gate.  Tapi sebuah kedai Starbucks tampak mencolok dengan warna logonya yang hijau dan putih, sementara di sudut lain kini ada tempat khusus untuk mengisi ulang baterai telepon genggam.  Ah, perubahan memang tidak terhindarkan.  Akan tetapi, dengan perasaan lega karena akhirnya bisa juga mencolokkan charger telepon genggam saya, diam-diam saya berharap, semoga kali lain saya mengunjungi Balikpapan, kota ini masih bisa saya kenali…

Bangkok Juni 2012

This post is about Thailand

Wah, akhirnya saya punya waktu juga untuk menuliskan sedikit tentang perjalanan saya ke Bangkok pada bulan Juni 2012 kemarin.  Dari perjalanan yang kesekian kali ini, saya akan ceritakan beberapa hal yang belum pernah saya bahas sebelumnya ya.  Soalnya, ada beberapa tempat yang saya kunjungi lagi dan memang tidak bisa tidak saya kunjungi kalau ke Bangkok, seperti daerah Siam Central dengan MBK, Siam Paragon, pusat seni dan lain-lain.  Sedikit pembaruan kabar: sewaktu saya ke sana, Siam Discovery masih beroperasi seperti biasa.  Tetapi sekarang pusat perbelanjaan itu sedang ditutup untuk renovasi sampai akhir tahun, sehingga sedang tidak bisa dikunjungi.

Di berbagai penjuru, kita bisa temukan seni.

Kabar lain, akhirnya saya mencicipi juga naik jalur kereta layang terbaru, yang menghubungkan bandara dengan Phaya Thai.  (Dari Phaya Thai ini kita bisa meneruskan naik kereta ke arah Mo Chit/Chatuchak atau ke arah Siam Central dan lain-lain.)  Jalur kereta ini, selain mempermudah transportasi bagi para penduduk Bangkok, tentu saja membuat akses ke beberapa daerah Bangkok semakin gampang bagi para wisatawan.  Salah satu stasiun kereta yang terletak di jalur ini hanya berjarak selemparan batu dari Pratunam Market (tempat berbelanja tekstil dan pakaian jadi yang ternama di Bangkok, semacam Tanah Abang) dan Hotel Baiyoke Sky, bangunan tertinggi di Bangkok.  Ngomong-ngomong nama hotel itu dibaca ‘baiyok’.

Saya juga sempat mengunjungi lagi Chulalongkorn University, universitas kenamaan se-Thailand, yang menempati kompleks luas dan lengkap tak jauh dari daerah Siam Central.  Seperti di universitas-universitas lain, para mahasiswa dan mahasiswi di universitas dengan warna kebesaran ini mengenakan seragam.  Mahasiswa tahun pertama bisa dikenali karena beberapa ciri, misalnya rok yang panjangnya seragam, selutut.  Nanti setelah tahun kedua, meski tetap mengenakan seragam hitam-putih, seragam tersebut bebas mereka modifikasi.

Eh, di universitas ini saya melihat salah sebuah bis yang memajang wajah Nichkhun Horvejkul, idola Thailand yang merupakan anggota boyband Korea 2PM.  Hayo hayo siapa mau naik…

Wat yang saya kunjungi kali ini adalah Wat Traimit Wittayaram di daerah Yaowarat alias Pecinan Bangkok.  Wat yang buka Selasa-Minggu (Senin tutup) dari pukul 8 pagi sampai 5 sore ini kerap dikunjungi wisatawan untuk melihat patung Buddha emas yang diletakkan di lantai paling atas.  Bila Anda hanya hendak melakukan ini, maka wat tidak memungut biaya untuk masuk.  Penduduk setempat masih aktif beribadah di wat ini, sehingga tolong hormatilah mereka bila Anda ingin melihat-lihat dan mengambil gambar di dalam ruang penyimpanan patung Buddha tersebut.

Wat ini penting karena suatu alasan lain yang sering terlewatkan oleh wisatawan, yaitu dilengkapi dengan museum kecil yang tidak hanya menceritakan tentang sejarah patung Buddha emas dan pendirian wat, melainkan juga sejarah Yaowarat dan warga Thai keturunan Cina secara umum.  Museum tersebut terletak di dua lantai di bawah ruang patung Buddha emas.  Cukup membayar 100 baht (sekitar Rp 30 ribu saja) untuk memperoleh akses ke dua lantai itu.  Lepaskan sepatu, masukkan ke dalam kantong khusus tas, dan bawalah sepatu Anda seraya melihat-lihat di sebelah dalam.

Tiketnya hanya sekecil ini lho. Awas hilang.

Di lantai yang pertama, kita bisa menelusuri sejarah warga Thai keturunan Cina melalui berbagai model, pajangan, dan diorama.  Ada ruangan yang dibuat menyerupai palka kapal-kapal yang dulu membawa mereka ke Thailand.  Bagian yang seharusnya merupakan jendela tingkap ke geladak sebenarnya adalah layar-layar yang seolah-olah menampilkan langit, yang berubah-ubah dari cerah hingga berbadai.  Kita pun bisa merasakan sekelumit pengalaman para pemberani yang menempuh pelayaran sulit di masa lalu, sehingga tiba di tanah yang lantas menjadi rumah bagi mereka dan keturunan mereka.

Sementara di lantai dua, kita bisa mempelajari sejarah wat dan patung Buddha emas.  Ternyata dulu patung tersebut terselubung cat yang menyebabkan orang banyak tidak mengetahui betapa besar nilai ekonomi patung itu.  Sewaktu patung tersebut sedang dalam proses dipindahkan ke tempat yang baru, turun hujan badai dan ada tali penahan yang putus.  Patung Buddha tersebut tergesek dan terungkaplah emas yang tadinya disembunyikan.

Sedikit catatan, beberapa bagian museum ini sebenarnya agak menyeramkan bila ditempuh sendirian, saking riilnya model-model manusia yang menampakkan kehidupan sehari-hari nenek-moyang warga Thai keturunan Cina.  Kalau bulu kuduk mudah merinding, mendingan ajak teman yah.

Soal makanan, seperti biasa saya tidak pernah bermasalah di Thailand.  Saya sempat mencicipi beberapa restoran, di antaranya restoran Muslim halal Sophia.  Sayang saya lupa mencatat alamatnya, dan saya ke situ pun diantarkan orang.

Hotel yang saya tempati selama perjalanan kali ini adalah Royal View Resort (BTS terdekat: Victory Monument) dan Indra Regent di Hotel.  Royal View Resort terletak di daerah yang lebih tenang, jauh dari keramaian, dan bahkan kita harus memasuki jalan kecil untuk menemukannya.  Sementara Indra Regent terletak di Pratunam yang ramai, bahkan tersambung dengan pusat perbelanjaan.  Namun keduanya buat saya sama nyamannya.  Kamar-kamarnya luas, tidak mahal, dan sudah dilengkapi dengan buffet sarapan yang bisa memberikan energi untuk seharian menjelajahi Bangkok.

Kisah Tercecer tentang Manila

This post is about The Philippines

Saat sedang terkapar sakit di rumah dan tidak melakukan apa-apa, saya teringat bahwa saya belum menyelesaikan rangkaian cerita saya mengenai Manila.  Ah, ya.  Lama betul tertunda.  Baiklah sebelum terlupa dari ingatan, saya ceritakan di sini.  Selain Intramuros, ini beberapa tempat lain yang saya kunjungi.

Manila senja hari terlihat dari gedung tinggi.

Rizal Park

Taman ini terletak tidak jauh dari Intramuros.  Teman-teman saya mengajak saya menaiki jeepneyke taman yang menyandang nama salah satu pahlawan terbesar, bila bukan yang terbesar, Filipina.  Bentuk jeepney – angkot ala Filipina – yang cukup panjang sanggup memuat lebih banyak orang daripada angkot ala Jakarta.  “Hati-hati tasmu,” bisik teman saya.  Ya, Manila memang bukan kota seaman Singapura, misalnya.  Lebih mirip Jakarta.  Kehati-hatian yang biasa saya terapkan di Jakarta juga harus saya terapkan di kota ini.

Turun-turun dari angkot, saya diajak makan ‘dirty ice cream’.  Nah lho!  Kok tamunya malah diajak makan makanan kotor?  Teman saya tertawa.  “Itu julukan saja, soalnya esnya dijual di pinggir jalan.  Sebenarnya sih bersih.”  Oalaaah… es krim-es kriman semacam yang dijual abang-abang di dekat sekolah-sekolah dasar.  Gerobak penjualnya juga mirip.  Oleh karena penasaran, saya cicipi juga.  Lagipula enak juga panas-panas dapat hidangan dingin.

Si ‘dirty ice cream’ ini terdiri atas es krim dengan tiga rasa berbeda – salah satunya keju – yang ditumpuk-tumpuk mengisi sebuah cone kecil.  Menurut teman saya, sebetulnya rasa es krimnya bisa bermacam-macam.  Namun penjaja jalanan paling-paling hanya membawa tiga rasa.

Setelah menghabiskan es yang kami beli, kami pun menyeberangi jalan menuju bagian utama Rizal Park.  Di taman yang cukup luas ini terdapat kolam lengkap dengan air mancur, Chinese Garden, jalan setapak yang lega dan bisa dilewati kereta-keretaan yang menarik minat banyak anak, rumah tradisional Filipina, dan tentunya bebungaan yang ditata indah.  Sebagian bunga membentuk jam bunga raksasa.  Di Minggu siang yang terik itu, banyak keluarga mengisi waktu berkumpul mereka dengan piknik di Rizal Park.  Mereka terlihat gembira.  Selain untuk bersantai, mereka juga bisa mengajari anak-anak mereka sejarah Filipina, karena di taman tersebut dipajang patung sejumlah pahlawan Filipina yang berasal dari berbagai latar suku dan agama, lengkap dengan keterangan.

Panas ataupun hujan, para penjaga ini harus bergeming.

Ah, memang kota memerlukan taman.  Selain fungsinya menjaga lingkungan, juga untuk menjaga para penghuni kota tetap sehat, senang, dan waras.

Pasar dan restoran makanan laut di Macapagal

Dengan taksi – moda transportasi paling nyaman di Manila, asal kita tahu cara memilih taksi yang aman – saya diajak ke pasar dan restoran makanan laut di daerah Macapagal.  Di bagian depan, berderet-deret restoran yang menawarkan beraneka cara memasak hidangan laut.  Cara memasak?  Ya, soalnya kita dipersilakan memilih dan membeli sendiri hewan-hewan laut yang hendak kita santap di pasar di belakang jejeran restoran tersebut.  Mirip ya dengan di Muara Karang.

Kami memasuki salah satu restoran.  Meja-meja yang ada panjang dan diapit banyak kursi, siap menyambut rombongan besar atau keluarga yang hendak bersantap.  Sepertinya memang rata-rata yang berkunjung tidak ada yang sendirian.  Dari ruang makan, ada pintu yang tembus ke pasar ikan.

Pasar ikan yang dimaksud bersih dan rapi.  Memang agak becek, mengingat betapa banyak es (yang lantas meleleh) dan air yang digunakan untuk mempertahankan kesegaran hasil tangkapan para nelayan, namun tidak kotor.  Tawar-menawar juga berlaku, dan saya hanya bisa menyaksikan saja teman saya yang tampak cukup ganas ‘menawar’ dan memilih-milih ikan yang segar.  Beberapa kali kami berpindah kios demi mendapatkan ikan seperti yang ia inginkan.

Tunggu, apa? ….ya, saya juga tidak mengerti.

Hasil belanjaan kami yang berkilo-kilo beratnya (membuat saya berpikir apa betul rombongan kami bisa menghabiskan itu semua) diserahkan kepada pelayan restoran yang menunggu di bagian restoran yang menghadap pasar.  Dengan teliti dicatatnya semua jenis dan berat belanjaan kami, dan cara masak apa yang kami pilih.  Setelahnya, kami tinggal menunggu di dalam.

Rasa masakannya?  Segar dan sedap!  Apalagi didampingi nasi putih yang masih panas, hmmm!  Tanpa sadar, beberapa kilo hidangan laut itu lenyap juga masuk ke perut kami.

Seandainya saja ada sambal Indonesia, akan lebih lezat…

Pusat perbelanjaan: Greenbelt dan Mall of Asia

Terdapat sejumlah pusat perbelanjaan mewah dan raksasa di Manila.  Kalau Anda doyan belanja, sehari mungkin tak cukup untuk menjelajahi pusat perbelanjaan yang sebesar Mall of Asia.  Saking besarnya, waktu itu di MOA ada sejumlah acara diselenggarakan berbarengan tanpa saling mengganggu: pagelaran busana yang antara lain menghadirkan bintang Thailand Mario Maurer sebagai modelnya, dan panggung musik gratis anti-perdagangan manusia dari MTV yang menghadirkan bintang-bintang dari dalam maupun luar negeri, termasuk Jay Park dari Korea.  Mulai tahun ini MOA pun memiliki gedung pertunjukan sendiri, Arena, yang sanggup menampung 16 ribu penonton.  Benar-benar sudah seperti kota mini.

Jay Park pamer bodi di Mall of Asia.

Sementara Greenbelt di Makati yang sengaja dirancang dengan konsep ‘hijau’ lebih tenang dan anggun.  Toko-toko yang hadir di pusat perbelanjaan yang satu ini pun lebih ‘berkelas’, memajang banyak merk-merk papan atas kaliber dunia.  Di tengah-tengah salah satu tamannya, terdapat sebuah kapel.  Ada nuansa berbeda yang hadir bila ibadah sedang berlangsung di kapel tersebut.  Sayang saya tak punya terlalu banyak waktu menjelajahi Greenbelt karena tujuan utama saya ke situ adalah menghadiri jumpa penggemar dengan novelis Nicholas Sparks di salah satu toko buku di mall tersebut.

Manila memang bisa menjadi salah satu kota tujuan pariwisata baru di Asia Tenggara, menyaingi Singapura atau Bangkok.  Hanya saja, seperti juga Jakarta, kota ini harus membereskan sejumlah PR besar seperti mengatasi kemacetan dan banjir yang rutin terjadi.

Selasar Sunaryo, Bandung

This post is about Indonesia

Bandung memang telah lama menjadi kota favorit warga Jabodetabek untuk melarikan diri sejenak kala akhir minggu atau libur panjang.  Kini, berkat dibukanya sejumlah penerbangan dari dan ke bandara kota ini, Bandung semakin ramai saja dengan pelancong-pelancong yang berseliweran.  Namun selain menjelajahi factory outlet, toko-toko, dan berbagai tempat makan di kota Bandung, ada keasyikan tersendiri mencari tempat-tempat yang lebih tenang karena posisinya yang tersembunyi di sekitar Bandung.  Tempat-tempat semacam itu sering kali terletak di jalan-jalan yang sedemikian sempit sehingga bahkan tak bisa dilewati dua mobil berlawanan arah dengan leluasa.

Salah satunya adalah Selasar Sunaryo yang berlokasi di Bukit Pakar Timur no 100.  Tempat ini dimaksudkan sebagai semacam pusat berkesenian, namun tak dikehendaki menyandang nama galeri atau museum, melainkan ‘art space’.  Kedua ruang pamer yang tersedia menampilkan berbagai karya bergantian, tergantung tema atau acara khusus yang sedang berlangsung.  Bahkan saat kami sedang di sana, belum ada apa-apa yang bisa dilihat di ruang pamer, karena keduanya sedang dibereskan untuk pameran berikutnya.

Akhirnya, selain melihat-lihat arsitektur art space ini beserta taman-tamannya – yang tampaknya dipengaruhi ‘gaya’ Zen – kami pun memilih untuk bersantai di Kopi Selasar, kedai yang merupakan bagian dari Selasar Sunaryo.  Tempat makan ini tak hanya menjual makanan dan minuman, melainkan juga suasana dan pemandangan.  Di sini pengunjung juga bisa mengisi ulang baterai telepon genggam di rak-rak khusus yang tersedia.

Sayangnya karena perut saya waktu itu masih agak penuh, saya hanya ‘sanggup’ memesan secangkir kopi dan kentang goreng berbumbu pedas.  Dihidangkan hangat-hangat, keduanya pas betul jadi hidangan  pengusir dingin.

Ada sebuah toko kecil di art space ini, yang menjual buku-buku dan sejumlah cenderamata yang bisa dibeli.  Sebagian cenderamata adalah buatan tangan sejumlah seniman, sehingga tidak ada duanya.  Selasar juga menyediakan perpustakaan yang terbuka bagi umum.

Oya, Selasar Sunaryo juga menyediakan amfiteater dan pendopo untuk pertunjukan atau diskusi.  Silakan cek selalu pameran dan kegiatan yang sedang atau akan berlangsung di situs mereka ini.

Menambah Berat Badan di Penang

This post is about Malaysia

Sewaktu mengetahui saya akan berkunjung ke Penang, teman-teman saya yang berkebangsaan Malaysia langsung dengan bersemangat mempromosikan… makanan di sana.  Ya, Penang memang tenar sebagai ‘gudang makanan enak’ di Malaysia, dari yang murah sampai mahal, dari yang halal sampai tidak.  Berikut ini kami membahas sejumlah tempat makan yang sempat kami jajal di Georgetown dan sekitarnya.

Kaki lima dan kedai di Lebuh Chulia

Saat malam menjelang, sebagian ruas Lebuh Chulia berubah menjadi tempat mangkal para pedagang makanan kaki lima.  Wujudnya, ya seperti di Indonesia, dengan gerobak dorong, kursi-kursi plastik, dan meja kecil.  Berbagai macam makanan bisa dipilih,  tapi yang membuat kami penasaran malam itu adalah sate ayamnya.  Meski malam itu tidak tersedia lontong ataupun nasi, kami tetap memesan 20 tusuk sate.  Seingat saya, 10 tusuk harganya 6 RM.  Bumbu satenya berbeda dengan di Indonesia –  sepertinya ada pengaruh bumbu India – tapi sama lezatnya.  Ditemani potongan timun dan bawang merah yang besar-besar… hmmm!

Makan malam tepi jalan di Lebuh Chulia.

Sebagai penggemar bawang merah, pelengkap sate ayam ini sungguh membuat saya bahagia.

Malam lain, kami makan nasi dengan lauk-pauk yang kami pilih sendiri di sebuah kedai tepat di samping salah satu Banana Guesthouse.  Sederhana, murah-meriah, mungkin sebanding lah dengan warteg di Indonesia – namun kelezatannya membuat kami ‘kurang percaya’ hanya perlu membayar beberapa ringgit saja.

Ini belum terbukti sih, tapi dugaan saya adalah kedai atau gerobak mana pun yang Anda hampiri di Lebuh Chulia ini (atau jangan-jangan di seluruh Penang?), makanannya enak semua…

Sup Hameed

Ke Penang jangan lupa mencicipi nasi kandar.  Salah satu tempat yang menjualnya adalah Sup Hameed yang terletak di Jalan Penang, tak jauh dari perempatan dengan Jalan Sultan Ahmad Shah.  Tempatnya biasa saja, tidak mewah, dan sama sekali tidak dirancang untuk menarik turis.  Tapi justru di tempat-tempat seperti ini kan biasanya kita menemukan santapan khas paling lezat di suatu daerah?  Nasi putih hangat dan pulen ditemani ayam goreng, udang, kerang, dan cumi, disertai teh manis hangat pas betul jadi pengisi perut setelah kami terguyur hujan hari itu.  Saking lapar dan lahapnya kami makan hari itu, kami tidak sempat memotret tempat ini.

Tapi tolong ingatkan saya lain kali bila mengunjungi Malaysia atau Singapura lagi untuk 1) minum bandong lagi (lupa melulu), dan 2) belajar harus bilang apa bila ingin memesan teh manis, teh dengan susu, teh tarik… Teh O artinya teh kosong, bukan?  Hah.  Duh.  Payah.  Selalu lupa dan bingung.

Bukan. Ini bukan foto Sup Hameed.

Latar belakang: KOMTAR. Lebih ke depan: KOMTAR Walk.

Georgetown White Coffee

Sejumlah kota besar di Indonesia mungkin sudah kenal dengan kafe waralaba Old Town dari Malaysia.  Di Georgetown rupanya ada ‘kembarannya’, bahkan dengan arsitektur bangunan dan lambang yang mirip.  Namun hidangan yang disajikan Georgetown White Coffee bertitik berat pada kekayaan kuliner Penang.  Setiap hari, ada promo harga murah untuk jenis hidangan yang berbeda.  White coffee-nya sebagai andalannya juga tidak mengecewakan.  Tapi saya penasaran sih dengan white coffee dari Ipoh.  Lebih enakkah dari yang di Penang?  Oke… Ipoh masuk bucket list.

Cabang Georgetown White Coffee di KOMTAR Walk.

Coob Coffee

Letak kafe kecil ala Jepang ini masih di KOMTAR Walk juga.  Selain menjual minuman, Coob Coffee menyediakan juga sejumlah hidangan, yang tidak semuanya halal.  Namun jenis-jenis minuman yang disediakan sungguh membuat kerongkongan mendadak seret!  Pemilik kafe ini juga sangat ramah dan akan menanggapi obrolan kita dengan akrab.  Ia pernah beberapa kali datang ke Jakarta untuk urusan bisnis, dan… yah, malu juga ya ketika ia bertanya apakah Jakarta masih sering macet atau tidak.  Royal milk tea dan cake yang  saya cicipi, ditambah suasana kafe yang nyaman, membuat saya menandai tempat ini sebagai ‘tempat wajib kunjung kembali’ seandainya ke Penang lagi.

Oh ya, soal KOMTAR, meskipun sebagai pusat perbelanjaan tempat ini tidak ada istimewanya, namun di sini ada supermarket di mana Anda bisa membeli oleh-oleh berupa produk makanan dan minuman buatan Malaysia.  Teh tarik, white coffee, cokelat, teh berwujud daun ataupun kantong…  Tinggal sedia uang yang cukup saja.

Kopitan

Sehabis terpanggang matahari gara-gara berjalan kaki dari City Hall, terus ke Fort Cornwallis dan Menara Jam, saya merasa girang betul saat menemukan kedai di Lebuh Pantai ini.  Kopitan terletak di bangunan lama yang direvitalisasi menjadi pertokoan dan rumah makan, Whiteaways.  Untuk memperoleh seporsi nasi dan lauknya, kita harus merogoh saku guna mengeluarkan sedikitnya 9 RM.  Sayang meski nama tempat ini ‘Kopitan’, kami tidak sempat mencicipi kopinya karena menyisakan jatah kafein hari itu untuk Coob Coffee.  Kami lebih memilih variasi teh dingin yang menyegarkan tubuh yang sudah separo kering akibat keringat yang terkuras.  Oya, kecepatan Wi-Fi yang tersedia di tempat ini luar biasa.  Lumayan, sambil bersantai makan, kami bisa mengunggah sejumlah foto dan mengunduh pembaruan untuk apps telepon genggam kami.

Foodcourt Queensbay Mall, Bayan Lepas

Berhubung kami memilih penerbangan malam untuk kembali ke Jakarta, ada waktu cukup lama yang harus kami habiskan setelah check out dari hotel.  Kami pun meminta supir van yang kami sewa dari hotel untuk mengantarkan kami ke Queensbay Mall.  Ini adalah pusat perbelanjaan mewah yang memajang deretan berbagai tempat makan dan toko merk internasional (termasuk J.Co).  Namun pilihan kami untuk bersantap adalah foodcourt alias ‘medan selera’-nya.  Di foodcourt yang terletak di lantai tiga ini, berbagai penjual makanan lokal bercokol.  Tidak pakai kartu-kartuan, sehingga kita cukup memesan dan membayar di kedai yang kita pilih.

Hanya saja, meski pusat perbelanjaan ini tidak kalah mewah dengan sejumlah pusat perbelanjaan sejenis di Jakarta, wah, kalau soal mushola dan toiletnya, mal-mal di Jakarta masih menang jauh.  Heran juga, kok mal semewah ini ternyata toiletnya rada mirip yang ada di stasiun bis.

Winter Warmers, Queensbay Mall

Di Queensbay, ada satu lagi tempat makan yang kami tuju: kedai teh bernama Winter Warmers.  Berbagai macam teh dan kopi bisa kita pilih dari menunya.  Bisa juga kita memesan paket high tea sejak pukul 2 siang, yang berisikan teh pilihan kita dan kue-kue yang ditata dalam baki tiga tingkat – ada biskuit, scone, muffin, brownies, dan sandwich.  Menggoda!

It is not nice,” kata pelayan langsung ketika saya mencoba memesan teh lavender.  Hah?  Saya agak kurang mengerti.  Ia lantas menyarankan teh mawar atau teh susu bila ingin yang ‘nice’.  Hmm.  Sepertinya yang ia maksudkan dengan kata ‘nice’ itu adalah ‘sweet’.  Baiklah, untuk menghargai si mbak yang telah berusaha memperingatkan saya dengan bahasa Inggrisnya yang seadanya, saya pun ganti memesan teh mawar.  Tapi untuk biskuitnya, tetap memesan biskuit lavender.

Untuk menambah pengalaman minum teh ala Inggris, interior kedai ini sengaja bergaya negara asal Pangeran William itu.  Hanya seragam pelayannya rasanya terlalu kasual, sehingga agak merusak suasana ‘high tea’ ala Inggris.  Tapi ya sudahlah.  Teh dan kue-kuenya juara!  Apalagi biskuitnya yang disajikan hangat.  Yang saya cicipi adalah biskuit cokelat dan lavender.  Sungguh penutup menyenangkan bagi pengalaman berwisata kuliner di Penang.

(Untuk menuju bandara dari Queensbay Mall, kami menaiki taksi yang ogah memasang argometer dan lebih memilih tarif ‘argo kuda’ sebesar 20 RM.  Oleh karena malas berdebat, kami setujui saja.  Taksi bertarif ‘nembak’ adalah hal umum di Penang, dan juga tempat lain di Malaysia yang telah saya kunjungi, sehingga ingatlah untuk menyetujui tarif terlebih dahulu sebelum menaiki sebuah taksi.  Tentu yang paling aman adalah memilih taksi yang patuh menyalakan argometer.)

Selamat menikmati berbagai hidangan lezat di Penang.  Secara umum, Penang cukup aman untuk pelancong, meskipun tetap harus waspada.  Terutama di Georgetown, sesuai pesan dari pemilik 47 Moontree, jagalah tas Anda baik-baik karena sering ada penjambret.

Berat badan bertambah?  Itu sih, risiko pergi ke Penang.

5foot Way Inn dan Sekitarnya, Chinatown Singapura

This post is about Singapore

Bila ditanya kawasan mana yang paling saya gemari di Singapura, saya mungkin akan memilih Chinatown.  Saya menyenangi jalan-jalan dan lorong-lorongnya yang kecil, dengan berbagai toko dan tempat makan menarik.  Ada yang mencolok, seperti toko yang menjual pernak-pernik Tintin karya Herge, namun ada pula di antaranya yang ‘tersembunyi’ dan tidak banyak diketahui turis asing.  Suasananya juga terasa lebih ramah bila dibandingkan dengan kawasan perbelanjaan berbau ‘modern’.  Tempat menginap untuk pelancong yang beranggaran hemat pun cukup mudah ditemukan.

Exit A Stasiun MRT Chinatown.

The Tintin Shop di Chinatown.

Kali ini, yang ingin saya ulas adalah hostel 5foot Way Inn.  Letaknya hanya selemparan batu dari Exit A Stasiun MRT Chinatown.  Dua kali sudah saya menginap di sini, pertama sewaktu masih soft opening – dan masih banyak bagian hostel yang masih dipoles – dan kedua ketika hostel sudah betul-betul siap untuk tamu.  (Yang saya maksudkan di sini adalah cabang pertama 5foot Way Inn.  Mereka membuka cabang baru dekat Sultan Mosque di bulan April 2012, dan hostel kedua di daerah Chinatown akan menyusul.)

Pertama kali mencarinya, saya agak bingung.  Sebabnya, hostel ini menempati lantai-lantai atas sebuah ruko yang terletak di sebelah kanan saat kita keluar dari Exit A.  Di bawahnya ada toko yang menjual suvenir, yang jamak berjejer-jejer di sepanjang jalan tersebut.  Jalan masuk ke hostel adalah pintu di bagian samping depan ruko tersebut.

Begitu pintu terbuka, kita langsung berhadapan dengan tangga bercat gelap yang agak curam.  Boks neon meyakinkan kita bahwa memang betul ini hostel yang dicari-cari.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di 5foot Way Inn.

Resepsionis berada di lantai dua.  Tapi, untuk masuk, terlebih dahulu kita harus mencopot alas kaki dan meletakkannya di rak di samping pintu masuk.  (Mungkin untuk tamu-tamu dari negara-negara ‘Barat’, berkeliaran bertelanjang kaki di hostel ini juga pengalaman tersendiri, ya.)

Berhubung namanya ‘hostel’, kamar-kamar yang tersedia bisa diisi oleh 4 atau 6 orang, dan biasanya yang kita sewa adalah ‘tempat tidur’-nya.  Jadi jangan heran bila Anda akan tidur seruangan bersama orang-orang yang tidak Anda kenal.  Untuk perempuan, ada ‘dorm’ khusus perempuan, sekiranya Anda risih bila harus berbagi dengan laki-laki.  Kamar mandi juga digunakan bersama, dengan kamar mandi khusus perempuan di lantai dua.  Maklum digunakan bersama-sama, jadi bila harus menunggu giliran, ya harus sabar.

Kebetulan, dua kali saya menginap di 5foot Way Inn, selalu bersama teman-teman, sehingga kami bisa menyewa kamar untuk berempat hanya untuk rombongan kami.  Lucunya, saya selalu dapat kamar yang sama, yang terletak selantai dengan resepsionis.  Kamar tersebut menghadap Pagoda Street yang di siang hari ramai oleh kegiatan perdagangan dan suara orang yang lalu-lalang.  Bahkan bila hanya mendengar suara saja, mungkin Anda tidak akan merasa berada di Singapura… Karena yang banyak terdengar adalah percakapan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.  Tapi jangan khawatir, di malam hari, Pagoda Street amat sunyi, karena bukan merupakan daerah hiburan malam ‘ajeb-ajeb’.

Kamar untuk 4 orang.

Kepala tempat tidur dengan stopkontak dan rak kecil.

Kamar tidur, perabot, dan seprei semuanya serba putih.  Di kepala masing-masing tempat tidur, ada stopkontak dan rak kecil khusus untuk sang penyewa, sehingga kita bisa mengisi baterai peralatan elektronik kita tanpa perlu bergiliran dengan orang lain.  Masing-masing penyewa juga mendapatkan laci yang berukuran cukup besar di bagian bawah tempat tidur, dengan gantungan kunci yang merangkap sebagai kunci elektronik untuk membuka pintu depan hostel.a.

Hanya saja memang ukuran kamarnya tergolong sempit.  Kamar-kamar ini memang tidak didesain untuk orang-orang yang ingin menghabiskan banyak waktu di dalamnya.

Di lantai dua, juga terdapat ruang makan bersama yang terbuka, menghadap ke sudut lain Chinatown.  Minuman disediakan gratis sepanjang waktu, termasuk dari mesin minuman yang siap menghadirkan kopi, teh tarik, atau minuman cokelat.  Peralatan makan lengkap disediakan, asal kita mencucinya sendiri usai bersantap.  Nikmat sekali rasanya malam-malam duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang tersedia sambil menyeruput minuman hangat, atau ketika pagi-pagi sekali kita sarapan sebelum Chinatown benar-benar terbangun.  Kita juga bisa banyak berinteraksi dengan penghuni lain hostel di sini.

Ruang makan di lantai dua.

Pemandangan dari ruang makan 5foot Way Inn.

Lebih banyak kamar dan kamar mandi ada di lantai tiga.  Sementara loteng yang berlangit-langit miring dimanfaatkan sebagai ruang santai yang nyaman dan artistik.  Sofa-sofa dan bantal-bantal yang ditata sedemikian rupa sungguh menggoda kita untuk merebahkan tubuh setelah seharian menjelajahi Singapura.  Di sini kita juga bisa menggunakan dua buah komputer secara gratis untuk berselancar di internet, seandainya sambungan Wi-Fi hostel tidak cukup untuk kita.

Loteng 5foot Way Inn Chinatown.

Kalau soal makanan, tidak usah khawatir.  Banyak restoran dan kedai yang mudah ditemukan di sekitar 5foot Way Inn, dari yang murah sampai yang mahal.  Restoran-restoran waralaba internasional juga ada.  Tapi kalau yang satu ini, Crazy World Cafe di Temple Street, tidak semua orang tahu, meskipun hanya berselisih satu jalan dengan Pagoda Street.  Saya juga mengetahui tempat ini dari seorang teman yang bekerja di Singapura.

Bagian depan Crazy World Cafe.

Crazy World cukup nyaman, dengan desain interior yang menarik dan stylish.  Pemiliknya adalah seorang penggemar musik Mandarin, sehingga ia juga memajang berbagai memorabilia di kafenya ini.  Bahkan pertunjukan musik cukup rutin diadakan di kafe ini yang juga menjual sejumlah cenderamata yang unik.  Kalau soal makanan, saya sangat menyarankan Anda mencicipi brownies ‘home-made’-nya.  Tampilannya saja langsung menerbitkan air liur!

Lucunya, di daftar menu ada tulisan yang menyatakan bahwa pihak kafe berusaha sekerasnya untuk menyajikan hidangan tanpa dikenai pajak.  Oleh karena itu, mereka memohon pengunjung untuk tidak hanya memesan air putih yang gratis.  Lho?  Ternyata orang Singapura ada juga ya yang doyan ‘ngadem doang’ sambil minum air putih?

Kalau malam sudah tiba, meskipun banyak ruko yang sudah tutup, justru tiba saatnya para pedagang makanan malam di Food Street beraksi.  Meja-kursi digelar, dan para pedagang siap memasakkan dan menyajikan berbagai makanan jalanan ala Singapura untuk Anda.  Yang patut dicoba adalah ‘carrot cake yang kenamaan, yang jangan dibayangkan merupakan penganan kecil dari wortel.  Hidangan ini juga tidak mengandung wortel, karena sebutan ‘carrot cake’ itu berasal dari salah pemilihan padanan kata ‘chai tao’ yang sebetulnya merujuk kepada ‘lobak’.  Porsi yang dijual cukup besar, sehingga bila perut Anda tidak besar-besar amat, satu piring hidangan bisa dibagi untuk dua orang.

Carrot cake – yang tidak mengandung wortel.

Jangan sampai seperti kami waktu itu: dengan begitu percaya diri masing-masing memesan satu porsi makanan.  Akibatnya, aduh mak…  Kami separuh merayap pulang ke hostel dengan perut kepenuhan.  Satu lagi hal yang tampaknya sulit dihindarkan bila menghabiskan waktu di Chinatown Singapura!

Beberapa Gagasan Menghabiskan Waktu di Bangkok

Tulisan berikut ini saya tulis atas permintaanTitin yang akan mengunjungi Bangkok di bulan Oktober.  Semoga tulisan ini membantu, ya!

This post is about Thailand

Bangkok pada khususnya dan Thailand pada umumnya telah menjadi salah satu tujuan pariwisata luar negeri utama wisatawan Indonesia, terutama semenjak maskapai penerbangan AirAsia membuka jalur langsung dari beberapa kota Indonesia menuju Bangkok.  Dalam tulisan berikut ini, saya menjabarkan beberapa gagasan kegiatan yang bisa Anda lakukan di Bangkok.

Telusuri Chao Phraya

Kami pernah menjabarkan cara menelusuri sungai yang menjadi nadi utama kota Bangkok lama ini di tulisan ini.  Nikmati semarak aktivitas penghuni Bangkok di Chao Phraya saat siang hari.  Perhatikanlah keanekaragaman bangunan lama bersejarah maupun bangunan baru bergaya modern, juga bermacam-macam tempat peribadahan berbagai agama yang berdiri mengapit Chao Phraya.  Tampak wat, masjid, dan gereja tegak berselang-seling.  Susuri pula sungai ini di malam hari, ketika lampu-lampu sengaja menyoroti bangunan-bangunan utama sehingga terlihat dramatis.

Suasana di feri untuk turis.

Salah satu sudut Maharaj Pier. Turunlah di sini bila hendak menuju Grand Palace.

Kunjungi Grand Palace dan Vinmanmek Mansion

Rasanya kalau ke Bangkok tapi belum ke Grand Palace, agak kurang afdol, ya.  Di kompleks istana berukuran 218.000 meter persegi ini terdapat sejumlah bangunan penting, baik yang masih berfungsi sebagai kantor pemerintah, museum, tempat peribadahan, maupun tempat tinggal kerabat raja.  (Raja sudah tidak lagi tinggal di Grand Palace.)  Tidak hanya bergaya khas Thailand atau Indocina, ada pula bangunan-bangunan bergaya Barat, ataupun yang campuran.

Yang perlu diingat, berpakaianlah yang sopan bila hendak memasuki Grand Palace.  Bila pakaian Anda (baik laki-laki ataupun perempuan) terlalu terbuka, misalnya mengenakan celana pendek, maka Anda akan diminta mengenakan pakaian tertutup yang disediakan pihak istana.  Selain itu, bila Anda datang tepat di hari ulang tahun raja (5 Desember), maka di pagi hari Anda tak boleh memasuki kompleks istana tersebut, yang dijadikan tempat pusat perayaan.  Siang harinya, Anda boleh masuk dengan gratis, tetapi hanya ke bagian tempat wat-wat berada, ini pun menumpangi keistimewaan yang diberikan kepada warga Thailand untuk mengunjungi The Royal Monastery of the Emerald Buddha secara gratis agar bisa berdoa untuk sang raja.

Di area Royal Monastery, tak hanya menyambangi sang Buddha Jamrud yang  tersohor, kita juga bisa melihat, antara lain, Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan model Angkor Wat.  (Sekadar info: nama kota di Kamboja tempat Angkor Wat berada saat ini, Siem Reap, berarti ‘Siam Ditaklukkan’.  Dan keberadaan model Angkor Wat ini di kompleks Grand Palace kiranya juga menjadi jejak hubungan antara Thailand dan Kamboja yang kerap sulit, bahkan hingga kini.)

The Royal Monastery menampilkan keunikan agama Buddha yang dianut oleh sebagian besar penduduk Thailand.  Perhatikanlah patung-patung raksasa yang menjulang, dan juga mural Ramakien (Ramayana) berhias emas yang terpajang di tembok yang mengelilingi Wat Phra Kaeo.  Tunggu sebentar.  Ramayana?  Lalu… patung dewa-dewa ini… tidakkah lebih Hindu daripada Buddha?

Ya, memang benar.  Agama Buddha di Thailand dipengaruhi  agama Hindu.  Bahkan berdasarkan hasil bincang-bincang saya dengan seorang kenalan yang berasal dari Goa, India, Thailand adalah satu dari hanya dua tempat di dunia ini di mana terdapat kuil yang dikhususkan untuk Brahma, godhead dalam trimukti agama Hindu.

Ngomong-ngomong, perhatikanlah patung-patung yang menghiasi sejumlah bangunan di kompleks Royal Monastery.  Bisakah Anda bedakan, yang mana yang demon, yang mana yang monyet?  Kalau setelah ke sana Anda belum tahu juga, silakan hubungi kami ya…

Yang juga tidak bisa dilewatkan saat berada di Grand Palace adalah… mencicipi susu segar dan dingin yang dijual tak jauh dari Aula Amarindra Winitchai dan Chakri Maha Prasat (yang bagian bawahnya difungsikan sebagai museum senjata).   Apalagi kalau Anda mengunjungi Grand Palace ketika cuaca sedang panas-panasnya—misalnya, saat bulan Juli—susu berbagai rasa dari peternakan kerajaan ini terasa sungguh menyegarkan dan memompa semangat kembali!

Chakri Maha Prasat

Pergantian penjaga juga bisa menjadi atraksi menarik di Grand Palace.

Oya, sekeluar dari Grand Palace, jangan keburu membuang tiket Anda, karena masih ada satu tempat lagi yang bisa Anda datangi dengan tiket tersebut, yaitu Vinmanmek Mansion.  Jaraknya agak jauh dari Grand Palace, sehingga gunakanlah taksi atau tuktuk menuju tempat tersebut.  Hati-hati, taksi yang mangkal di sekeliling Grand Palace biasanya memang mengincar wisatawan dan ogah pasang argo.  Atau, mereka mau mengantarkan dengan harga murah asalkan kita mau mereka bawa mampir-mampir dulu ke sejumlah toko atau tempat pembelanjaan.  Alasannya, agar mereka mendapat cap dari masing-masing toko untuk mendapatkan bensin gratis.  Kalau punya waktu banyak, coba saja ikut mereka ke toko-toko itu, yang terkadang menawarkan barang-barang bagus dengan harga murah.  Tidak beli juga tidak apa-apa.  Namun bila ingin langsung ke Vinmanmek Mansion, bersikeraslah minta diantar langsung.  Mungkin mereka akan minta 100 Baht untuk menuju kompleks tersebut.

Ini bukanlah Vinmanmek Mansion, melainkan salah satu gedung di dalam kompleksnya. Mansion-nya sendiri sulit untuk dipotret.

Vinmanmek adalah istana dari kayu jati emas bergaya Eropa yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga raja.  Bangunan beserta segala perabot dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya sungguh indah.  Namun untuk memasukinya, peraturan cukup ketat.  Yang pertama, Anda harus meninggalkan tas dan kamera di dalam locker berkunci otomatis yang tersedia.  Hati-hati, sekali buka pintu locker, biayanya 30 Baht.  Saya pernah ketinggalan mengambil sesuatu dari tas, dan harus kembali merogoh 30 Baht dari kocek untuk membuka pintu sekali lagi!

Wisatawan diizinkan keluar-masuk dengan selang waktu tertentu, antara 30-45 menit sekali.  Waktu masuk wisatawan berbahasa Thailand dan berbahasa asing juga dipisah, seturut ketersediaan pemandu.  Kita harus menunggu dengan sabar sampai pintu dibuka lagi untuk wisatawan—yang harus melewati pemeriksaan sinar X.  Sejumlah petugas siap memandu kita dan memberikan berbagai informasi mengenai Vinmanmek Mansion, termasuk sejarah koleksi barang wastu tersebut yang mengundang decak kagum.  Bahkan saat cuaca panas mengamuk di luar, bagian dalam wastu dan taman sekelilingnya tetap sejuk.

Bila sempat, kunjungi juga beberapa museum kecil yang masih terletak di kawasan Vinmanmek Mansion.

Berbelanja

Bagi yang hobi berbelanja, memang Bangkok tempat yang pas untuk memuaskan kegemaran Anda itu.  Kalaupun Anda hanya berniat mencari oleh-oleh, tidak usah khawatir karena banyak cenderamata unik, murah, dan meriah yang bisa Anda peroleh.

Bila melewatkan akhir minggu di Bangkok, kunjungilah pasar Chatuchak yang hanya buka Sabtu dan Minggu.  Cara mudah menuju tempat tersebut adalah naik BTS, turun di stasiun Mo Chit.  Setelahnya, tinggal keluar dari stasiun dan berjalan sedikit, dan voila, Anda telah tiba di pasar tradisional yang luas dan berpotensi cukup besar menyesatkan orang ini.  Telusurilah lorong demi lorong, menawarlah bila bisa, yang penting… tetap waspada, karena pencopet dan penjambret berkeliaran mengincar para wisatawan yang lengah.

Kalau tidak sempat menyambangi Chatuchak, jangan khawatir.  Di pasar malam dan kawasan-kawasan wisatawan seperti Nana Sukhumvit, mudah ditemukan toko atau kios kaki lima yang menjajakan barang-barang yang sama dengan yang dijual di Chatuchak.

Ingin berbelanja ‘gaya modern’?  Pusat-pusat perbelanjaan siap menyambut Anda.  Yang saya paling doyan kunjungi adalah kawasan Pathumwan Junction (naik BTS bisa turun di Siam Square atau National Stadium).  Sejumlah pusat perbelanjaan ternama yaitu MBK, Siam Paragon, dan Discovery Center merubung persimpangan tersebut.  MBK terutama sangat popular karena berbagai barang murah berkualitas bagus dan foodcourt yang memikat.  Di sini juga ada mushola untuk yang perlu menunaikan salat di tengah-tengah berwisata.

Siam Paragon lebih mewah daripada MBK, dan menjadi favorit saya antara lain karena di sinilah terletak salah satu cabang Kinokuniya Bangkok.  Saya juga menyenangi Paragon karena di bawah tanahnya terdapat foodcourt yang menyediakan makanan halal.  Terlebih dulu, tukarkan deposit uang (misalnya 200 Baht) dengan kartu magnetik, yang lantas Anda berikan kepada penjaga kedai makanan.  Deposit Anda akan dipotong sesuai harga makanan dan minuman yang Anda pesan.  Setelah selesai makan, tukarkan kembali kartu untuk memperoleh sisa uang.

Daya tarik lain Paragon adalah hypermarket Gourmet Market (tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari ataupun oleh-oleh seperti cokelat) beserta kios-kios makanannya yang menggugah selera.  Ada pula Siam Ocean World yang memungkinkan kita seolah memasuki laut untuk melihat-lihat kehidupan di dalamnya.

Jembatan pejalan kaki yang menghubungkan MBK dengan stasiun BTS National Stadium dan Siam Paragon/Discovery.

Kalau soal makanan, jika Anda lapar saat sedang berjalan-jalan namun tidak ingin makanan berat, cobalah kunjungi kedai-kedai makanan di stasiun-stasiun BTS.  Macam-macam yang mereka tawarkan, mulai dari kue-kue manis sampai sushi siap makan.  Pokoknya, asal jangan disantap di dalam kereta.

Untuk yang ogah barang palsu atau KW2, produk bermerk asli Thailand yang saya rekomendasikan adalah Jim Thompson (kain, tas, dompet, dan lain-lain) serta arloji Link Graphix, yang menampilkan karya para desainer muda Thailand.

Menonton bioskop

Menonton bioskop?  Hmmm… apa istimewanya?  Ada sensasi tersendiri, lho.  Yang pernah saya coba adalah menonton di bioskop Paragon Cineplex.  Ukuran bioskopnya besar sekali.  Dan yang unik, sebelum pemutaran setiap film, terlebih dahulu diputar video yang berisikan kegiatan sang raja, diiringi lagu yang menyanjung-nyanjung beliau.  Selama video diputar, semua pengunjung, termasuk orang asing, harus berdiri sebagai tanda penghormatan.  Pengalaman ini cukup meninggalkan kesan bagi saya, yang berasal dari negeri yang tidak mengenal tata cara semacam ini.

Menonton pertunjukan malam

Nama Bangkok memang juga lekat dengan hiburan malam.  Sebagian orang mungkin akan langsung terkikik geli mengingat hiburan ‘nakal’ yang marak di sejumlah kawasan Bangkok, misalnya Patpong.  Namun jangan keburu menganggap hiburan malam Bangkok negatif semuanya, meski dibawakan oleh para waria yang sering dicap buruk di Indonesia.  Jangan salah, di Thailand, waria bisa memperoleh pekerjaan biasa seperti orang-orang lainnya, misalnya menjadi penjaga toko, tidak melulu sebagai penghibur jalanan atau tukang salon seperti yang menjadi stereotipe di Indonesia.  Dan kabaret waria adalah pertunjukan terhormat yang disiapkan dan diselenggarakan dengan serius, meski isinya bisa jadi mengocok perut Anda habis-habisan.

Teater kabaret waria yang terkenal di Bangkok adalah Calypso, yang menggelar pertunjukan setiap malam di Hotel Asia (naik BTS, turun di stasiun Ratchatewi, ada pintu keluar langsung ke dalam hotel tersebut).  Cobalah minta hotel memesankan tiket untuk Anda, atau coba pesan online di ThaiTicketMajor.  Tanpa makan malam, harga 1 tiket adalah 900 Baht termasuk first drink (ada teh atau kopi juga).  Tersedia pula merchandise Calypso yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan, misalnya DVD pertunjukan mereka.

Seusai pertunjukan, para pemeran kabaret akan berjejer rapi mengapit jalan menuju pintu keluar.  Anda boleh berfoto dengan mereka, namun jangan lupa selipkan sedikit uang tip ke tangan para artis.  Mereka ramah-ramah dan baik-baik, kok.  Tidak perlu merasa seram hanya karena mereka ‘waria’.  Ups, sebagian di antara mereka bahkan lebih cantik dari perempuan asli, lho!

Yang juga boleh dicoba adalah menonton pertunjukan Siam Niramit yang gegap-gempita.

Bersantailah

Jangan terlalu terburu-buru menyusuri Bangkok gara-gara bernafsu mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya.  Temukan tempat yang nyaman, dan bersantailah sejenak, menikmati irama kota ini.  Saya punya dua tempat favorit untuk beristirahat sambil mencicipi minuman dan penganan di Bangkok.  Yang pertama adalah cabang Au Bon Pain di persimpangan  dekat Grand Palace.  Setelah berterik-terik menjelajahi Grand Palace, selalu menyenangkan rasanya memasuki gedung kecil berarsitektur Eropa ini dan memesan minuman dingin.

Bagian dalam Au Bon Pain dekat Grand Palace.

Tempat kedua favorit saya adalah cabang Subway merangkap Coffee World di dekat stasiun BTS Nana.  Meskipun meja dan kursinya bergaya restoran cepat saji yang tidak terlalu menghiraukan kenyamanan jangka panjang pengunjung, restoran yang buka 24 jam ini cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat nongkrong.

Carrot cake juara dari Coffee World!

Kunjungi beraneka ragam wat

Saat berlayar di Chao Phraya, sempatkan meninjau Wat Arun alias ‘Kuil Fajar’, tempat Buddha Jamrud dahulu disimpan sebelum dipindahkan ke Wat Phra Kaeo di Grand Palace.  Dengan kapal, turunlah di Maharaj Pier, lalu ambil feri menyeberang sungai (tidak ada dermaga khusus feri turis di depan Wat Arun).  Bila Anda tidak gampang gamang, cobalah mendaki tangga yang curam sampai ke puncaknya.

Wat Arun alias ‘Temple of Dawn’

Di dekat kompleks Grand Palace, juga ada Wat Po yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.  Di sinilah terdapat patung raksasa Buddha tidur, dan juga patung prajurit farang (orang asing) yang terlihat unik dengan penutup kepala mereka yang bergaya Barat.

Kepala sang Buddha tidur.

Genta di Wat Po.

Perhatikan betapa kecilnya manusia dibandingkan ukuran sang Buddha tidur.

Salah satu prajurit ‘farang’.

Jejeran patung Buddha di Wat Po.

Selain wat-wat yang popular tersebut, banyak pula wat lain bertebaran di seantero Bangkok.  Sebagian di antaranya tidak banyak dikenal wisatawan sehingga sepi pengunjung – yang justru membuat kita lebih bisa meresapi kekhidmatan tempat-tempat suci tersebut.  Kami pernah beruntung memperoleh seorang supir tuktuk yang mengantarkan kami ke beberapa wat yang jarang dikunjungi turis. Ia membawa kami ke Wat Ratchanatdaram Worawihan dan Wat Srakes Rajavaramahavihara.

Sampai-sampai biarawan di Wat Srakes Rajavaramahavihara bertanya kepada kami, “Dari mana tahu tempat kami ini ?”  Kami pun dipersilakan duduk agak lama di aula utama, di mana terpajang arca Buddha raksasa yang berwarna emas.  Orang yang memberi kami petunjuk menuju wat ini menyebutnya ‘Happy Buddha’.  Konon arca Buddha yang satu ini mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi yang mengunjunginya.

Arca yang disebut ‘Happy Buddha’.

Tak hanya wat-wat ‘tersembunyi’, masih banyak tempat yang bisa Anda kunjungi dan kegiatan yang bisa Anda lakukan selama di Bangkok.   Ini hanyalah beberapa sumbangan gagasan kami saja.  Jangan segan berbagi pengalaman Anda di Bangkok dengan kami, ya!

Mencari yang Halal di Beijing

This post is about China

Salah satu pertanyaan yang paling kerap diajukan pemeluk Islam yang hendak bepergian ke Cina barangkali adalah, “Di sana makannya susah nggak sih?”  Terbayang dalam benak berbagai hidangan Cina yang menggunakan daging atau lemak babi sebagai bahannya.  Ada pula yang mengkhawatirkan  daging hewan lain yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah.  Lalu, oleh-oleh makanan apa yang aman untuk dibawa pulang dari Cina, untuk dibagikan kepada teman-teman dan handai-taulan?

Agama Islam telah cukup lama menjadi bagian dari kehidupan bangsa Cina.  Beberapa suku minoritas, misalnya Uighur, hingga kini memeluk Islam.  Di Beijing ada satu kawasan – Niujie, dengan niu berarti kerbau – yang merupakan pusat warga Beijing yang beragama Islam.  Letaknya juga tidak jauh-jauh amat dari pusat kota tua.  Bila naik metro, bisa turun di Caishikou, Taoranting, dan Changchunjie, lalu berjalan kaki.  Agak jauh sih, tapi anggap saja sekalian melihat-lihat kiri dan kanan.

Barangkali kalau Anda sangat berhati-hati soal makanan, carilah tempat menginap di kawasan ini, karena mudah sekali menemukan kedai dan restoran hidangan halal.  Meskipun demikian, jangan kaget bila tempat-tempat ini juga menjual bir, minuman. yang banyak dikonsumsi warga Cina non-Muslim.

Papan nama supermarket Muslim Niujie.

Banyak kedai ini yang berkumpul menjadi satu di foodcourt di atas supermarket Muslim Niujie, yang terletak di jalan di seberang Masjid Niujie yang bersejarah.  Sebelum memilih-milih makanan, dapatkan kartu magnetik yang bisa Anda isi dengan sejumlah uang (misalnya 50 CNY).  Nanti tinggal berikan kartu ini pada penjaga kios, dan harga makanan-minuman yang Anda pilih akan didebit dari nilai yang tersimpan dalam kartu.  Harga di foodcourt ini cukup murah (sepiring mi dingin yang porsinya seabrek-abrek dihargai 6 CNY), namun ini pun menurut teman saya sebenarnya sudah cukup mahal.

Mi dingin khas Beijing.

Kartu yang dipergunakan di foodcourt Muslim Niujie.

Contoh kedai Muslim di tepi jalan.

Secara umum, memang makanan Muslim selalu lebih mahal daripada makanan Cina biasa yang dijual di kedai-kedai tepi jalan.  Cara mengenali kedai penjual makanan Muslim adalah biasanya papan nama tokonya berwarna hijau dengan tulisan Cina dan Arab berwarna putih.  Ciri lain adalah bangunan restoran yang dilengkapi kubah-kubah menyerupai masjid.  Mengenai ini, teman baru saya dari Afganistan punya sedikit protes.  “Di sini kok restoran mirip masjid, masjidnya mirip kelenteng.”

Bagian depan Masjid Niujie.

Saya jadi terkikik geli mendengarnya.  Memang, Masjid Niujie tidak terlihat mirip masjid seperti yang biasa dikenal di bagian-bagian lain dunia seperti Arab atau Indonesia.  Bangunannya khas bergaya Cina, dengan minaret yang tidak terlampau tinggi.  Bangunan salat untuk laki-laki terpisah dari perempuan.  Di dalam kompleks masjid juga terdapat makam 2 imam yang dihormati, berlapis batu hitam.  Bila Anda Muslim dan hendak salat, masuk masjid ini tidak perlu bayar.  Namun bila Anda non-Muslim, maka Anda wajib membayar tiket masuk untuk berkunjung dan tidak boleh memasuki aula salat utama.  Padahal di langit-langit aula utama ada detail dekorasi yang membuat saya penasaran: sejumlah swastika berjejer.

Minaret masjid Niujie.

Lagi-lagi teman Afgan saya menyuarakan protes, kali ini seusai salat berjamaah.  Ia mengeluhkan lafaz sang imam yang menurutnya tidak benar.  Selidik punya selidik, ini rupanya karena bacaan Qur’an mereka, yang tetap berbahasa Arab, ternyata ditulis dalam hanzi.  Wajar bila ada lafaz yang meleset.  Waduh, si Afgan langsung tidak terima.  “Ya, maaf ya, aku ketat soal ini.  Tapi kan bisa saja huruf Arab-nya ditulis dulu, baru cara bacanya dalam tulisan Cina.  Kenapa Qur’an-nya harus ditulis dalam huruf Cina?  Kalau mau bahasa Arab ya harus pas dong.”

Teman saya yang lain berargumen, mereka ini kan orang Cina.  Tahunya ya aksara Cina.  Mereka bisa membaca aksara Cina saja sudah syukur.  Teman baru kami, seorang Jerman berdarah Turki yang juga datang hendak salat, mengangguk setuju.  “Kami (orang Turki) juga pakai huruf sendiri,” katanya.

Saya bingung mau mengutarakan pendapat.  Diam-diam, saya menyetujui si Afgan: membaca-tulis huruf Arab sebenarnya kan bisa dipelajari.  Tapi tentu kami melihat dari sudut pandang Afganistan dan Indonesia, di mana melek tulisan Arab tersebar luas.  Mudah mencari tempat untuk mempelajari cara membaca Qur’an dalam bahasa Arab.  Namun  teman-teman saya yang lain juga ada benarnya: minoritas Muslim di Cina mungkin tidak memperoleh kemudahan semacam itu.

Kembali ke soal makanan.  Bagaimana kalau ternyata di daerah kita sedang berada, sulit menemukan restoran atau kedai Muslim, sementara perut sudah keroncongan?  Bila Anda tidak terlalu mempermasalahkan penyembelihan hewan, jaringan restoran seperti Yoshinoya dan KFC bisa menyelamatkan Anda.  Yoshinoya menjual berbagai paket nasi dengan ayam, ikan, dan daging sapi yang dimasak ala Jepang.  Bila tetap ragu pada dagingnya, Anda bisa memesan salad saja.  Sementara di KFC, meski tentu saja makanan utamanya tetap ayam yang digoreng ataupun diolah dengan cara lain, berhati-hatilah karena ada beberapa paket nasi yang dimasak dengan bacon.  Mintalah menu berbahasa Inggris dari pramusaji.  Ah, tunggu… bagaimana dengan minyak yang digunakan untuk menggoreng?  Hmm.  Nah, inilah.  Siapa yang bisa menjamin kehalalannya?  Yah, jadi terserah Anda: mau baca basmalah dan tetap menyantap hidangan yang dijual jaringan-jaringan ini, atau bergegas mencari restoran berpapan nama hijau.

Kolonel Sanders: penolong di kala susah?

Oya, di supermarket di bawah foodcourt Muslim yang telah kita bahas di atas, Anda juga bisa memperoleh berbagai makanan segar maupun kemasan yang halal.  Oleh-oleh makanan untuk orang-orang rumah bisa Anda cari di sini.  Memang tak semuanya berlabel halal dari badan berwenang semacam majelis ulama, namun sudah dipilih-pilih oleh pihak supermarket berdasarkan bahan yang dipakai.

Oleh karena itu, bila Anda memeluk Islam, tak perlu ragu bepergian ke Beijing.  Sekarang pun ada sejumlah biro perjalanan yang menawarkan paket-paket tur khusus untuk Muslim.  Dan bila sebelum terbang Anda perlu menunaikan salat terlebih dahulu, ada ruang salat di Terminal 3 Keberangkatan Bandara Internasional Peking, yang dibangun demi para tamu Olimpiade yang beragama Islam.

Salah satu sudut Bandara Internasional Peking.

Tanah Tingal: Setitik Kesegaran di Ciputat

This post is about Indonesia

Dipikir-pikir, lucu memang.  Saat langkah kaki (dan kereta api, dan kapal, dan pesawat terbang) telah jauh membawa saya ke berbagai tempat, ternyata saya belum pernah mengunjungi Tanah Tingal, yang dengan berjalan kaki saja tercapai dari rumah saya.  Kalau teringat ini, saya sering malu.  Maka itu, suatu hari Minggu belum lama ini, dengan niat berolahraga pagi, saya dan seorang teman pun menyambangi tempat tersebut.

Sayangnya, berhubung niat saya pagi itu adalah berolahraga, saya tidak membawa kamera.  Oleh karena itu, hanya beberapa foto yang bisa saya berikan di sini, yang saya ambil dengan telepon genggam saya.

Tanah Tingal adalah tanah pribadi yang dibuka untuk umum (dengan biaya masuk 15 ribu rupiah) sebagai tempat outbond, dilengkapi pula dengan arena futsal, kolam renang, dan danau kecil di mana pengunjung bisa berdayung perahu.  Untuk melakukan sejumlah aktivitas, Anda perlu membayar lagi.  Selain berolahraga pribadi, Tanah Tingal juga bisa disewa untuk kegiatan kelompok, termasuk perhelatan seperti pernikahan.  Untuk anak-anak sekolah, juga tersedia berbagai kegiatan khusus lengkap dengan instrukturnya, mulai dari membatik sampai membuat gula merah.

Keunikan lain dari Tanah Tingal adalah keberadaan sekolah alam di dalamnya.  Saat ini, ada taman kanak-kanak dan sekolah dasar, yang baru mencapai kelas 5.  Bangunan-bangunan sekolah sungguh unik, karena kelas-kelas terbuka ke udara bebas dan segar, tidak berdinding; penutup yang tersedia bila diperlukan sewaktu-waktu paling-paling kerai yang bisa digulung ke atas.  Bahan bangunan yang mendominasi adalah kayu dan gedek.

Di depan setiap kelas, ada rak sepatu dengan bot-bot berjejer, yang tentunya digunakan anak-anak ketika bermain di halaman atau berkebun.  Ya, ada petak-petak kebun yang ditandai dengan papan yang menunjukkan kelas yang bertanggung jawab atas masing-masing petak.  Saya asyik sendiri membayangkan seperti apa bersekolah di sini.

Pagi itu, kami cukup puas berjalan-jalan sejenak di Tanah Tingal.  Tempatnya memang tidak terlalu luas, namun saat berada di dalamnya, dikelilingi pepohonan tinggi, rerumputan menghijau, dan berbagai tumbuhan lain, sejenak saya lupa saya berada di Ciputat, kawasan padat penduduk dan sesak perumahan – yang terus mengalami degradasi lingkungan, dengan diubahnya lahan-lahan basah menjadi perumahan gugus.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers