Menambah Berat Badan di Penang
06 May 2012 Leave a Comment
in malaysia Tags: bayan lepas, georgetown, malaysia, penang, restaurant, tempat makan
Sewaktu mengetahui saya akan berkunjung ke Penang, teman-teman saya yang berkebangsaan Malaysia langsung dengan bersemangat mempromosikan… makanan di sana. Ya, Penang memang tenar sebagai ‘gudang makanan enak’ di Malaysia, dari yang murah sampai mahal, dari yang halal sampai tidak. Berikut ini kami membahas sejumlah tempat makan yang sempat kami jajal di Georgetown dan sekitarnya.
Kaki lima dan kedai di Lebuh Chulia
Saat malam menjelang, sebagian ruas Lebuh Chulia berubah menjadi tempat mangkal para pedagang makanan kaki lima. Wujudnya, ya seperti di Indonesia, dengan gerobak dorong, kursi-kursi plastik, dan meja kecil. Berbagai macam makanan bisa dipilih, tapi yang membuat kami penasaran malam itu adalah sate ayamnya. Meski malam itu tidak tersedia lontong ataupun nasi, kami tetap memesan 20 tusuk sate. Seingat saya, 10 tusuk harganya 6 RM. Bumbu satenya berbeda dengan di Indonesia – sepertinya ada pengaruh bumbu India – tapi sama lezatnya. Ditemani potongan timun dan bawang merah yang besar-besar… hmmm!
Malam lain, kami makan nasi dengan lauk-pauk yang kami pilih sendiri di sebuah kedai tepat di samping salah satu Banana Guesthouse. Sederhana, murah-meriah, mungkin sebanding lah dengan warteg di Indonesia – namun kelezatannya membuat kami ‘kurang percaya’ hanya perlu membayar beberapa ringgit saja.
Ini belum terbukti sih, tapi dugaan saya adalah kedai atau gerobak mana pun yang Anda hampiri di Lebuh Chulia ini (atau jangan-jangan di seluruh Penang?), makanannya enak semua…
Sup Hameed
Ke Penang jangan lupa mencicipi nasi kandar. Salah satu tempat yang menjualnya adalah Sup Hameed yang terletak di Jalan Penang, tak jauh dari perempatan dengan Jalan Sultan Ahmad Shah. Tempatnya biasa saja, tidak mewah, dan sama sekali tidak dirancang untuk menarik turis. Tapi justru di tempat-tempat seperti ini kan biasanya kita menemukan santapan khas paling lezat di suatu daerah? Nasi putih hangat dan pulen ditemani ayam goreng, udang, kerang, dan cumi, disertai teh manis hangat pas betul jadi pengisi perut setelah kami terguyur hujan hari itu. Saking lapar dan lahapnya kami makan hari itu, kami tidak sempat memotret tempat ini.
Tapi tolong ingatkan saya lain kali bila mengunjungi Malaysia atau Singapura lagi untuk 1) minum bandong lagi (lupa melulu), dan 2) belajar harus bilang apa bila ingin memesan teh manis, teh dengan susu, teh tarik… Teh O artinya teh kosong, bukan? Hah. Duh. Payah. Selalu lupa dan bingung.
Georgetown White Coffee
Sejumlah kota besar di Indonesia mungkin sudah kenal dengan kafe waralaba Old Town dari Malaysia. Di Georgetown rupanya ada ‘kembarannya’, bahkan dengan arsitektur bangunan dan lambang yang mirip. Namun hidangan yang disajikan Georgetown White Coffee bertitik berat pada kekayaan kuliner Penang. Setiap hari, ada promo harga murah untuk jenis hidangan yang berbeda. White coffee-nya sebagai andalannya juga tidak mengecewakan. Tapi saya penasaran sih dengan white coffee dari Ipoh. Lebih enakkah dari yang di Penang? Oke… Ipoh masuk bucket list.
Coob Coffee
Letak kafe kecil ala Jepang ini masih di KOMTAR Walk juga. Selain menjual minuman, Coob Coffee menyediakan juga sejumlah hidangan, yang tidak semuanya halal. Namun jenis-jenis minuman yang disediakan sungguh membuat kerongkongan mendadak seret! Pemilik kafe ini juga sangat ramah dan akan menanggapi obrolan kita dengan akrab. Ia pernah beberapa kali datang ke Jakarta untuk urusan bisnis, dan… yah, malu juga ya ketika ia bertanya apakah Jakarta masih sering macet atau tidak. Royal milk tea dan cake yang saya cicipi, ditambah suasana kafe yang nyaman, membuat saya menandai tempat ini sebagai ‘tempat wajib kunjung kembali’ seandainya ke Penang lagi.
Oh ya, soal KOMTAR, meskipun sebagai pusat perbelanjaan tempat ini tidak ada istimewanya, namun di sini ada supermarket di mana Anda bisa membeli oleh-oleh berupa produk makanan dan minuman buatan Malaysia. Teh tarik, white coffee, cokelat, teh berwujud daun ataupun kantong… Tinggal sedia uang yang cukup saja.
Kopitan
Sehabis terpanggang matahari gara-gara berjalan kaki dari City Hall, terus ke Fort Cornwallis dan Menara Jam, saya merasa girang betul saat menemukan kedai di Lebuh Pantai ini. Kopitan terletak di bangunan lama yang direvitalisasi menjadi pertokoan dan rumah makan, Whiteaways. Untuk memperoleh seporsi nasi dan lauknya, kita harus merogoh saku guna mengeluarkan sedikitnya 9 RM. Sayang meski nama tempat ini ‘Kopitan’, kami tidak sempat mencicipi kopinya karena menyisakan jatah kafein hari itu untuk Coob Coffee. Kami lebih memilih variasi teh dingin yang menyegarkan tubuh yang sudah separo kering akibat keringat yang terkuras. Oya, kecepatan Wi-Fi yang tersedia di tempat ini luar biasa. Lumayan, sambil bersantai makan, kami bisa mengunggah sejumlah foto dan mengunduh pembaruan untuk apps telepon genggam kami.
Foodcourt Queensbay Mall, Bayan Lepas
Berhubung kami memilih penerbangan malam untuk kembali ke Jakarta, ada waktu cukup lama yang harus kami habiskan setelah check out dari hotel. Kami pun meminta supir van yang kami sewa dari hotel untuk mengantarkan kami ke Queensbay Mall. Ini adalah pusat perbelanjaan mewah yang memajang deretan berbagai tempat makan dan toko merk internasional (termasuk J.Co). Namun pilihan kami untuk bersantap adalah foodcourt alias ‘medan selera’-nya. Di foodcourt yang terletak di lantai tiga ini, berbagai penjual makanan lokal bercokol. Tidak pakai kartu-kartuan, sehingga kita cukup memesan dan membayar di kedai yang kita pilih.
Hanya saja, meski pusat perbelanjaan ini tidak kalah mewah dengan sejumlah pusat perbelanjaan sejenis di Jakarta, wah, kalau soal mushola dan toiletnya, mal-mal di Jakarta masih menang jauh. Heran juga, kok mal semewah ini ternyata toiletnya rada mirip yang ada di stasiun bis.
Winter Warmers, Queensbay Mall
Di Queensbay, ada satu lagi tempat makan yang kami tuju: kedai teh bernama Winter Warmers. Berbagai macam teh dan kopi bisa kita pilih dari menunya. Bisa juga kita memesan paket high tea sejak pukul 2 siang, yang berisikan teh pilihan kita dan kue-kue yang ditata dalam baki tiga tingkat – ada biskuit, scone, muffin, brownies, dan sandwich. Menggoda!
“It is not nice,” kata pelayan langsung ketika saya mencoba memesan teh lavender. Hah? Saya agak kurang mengerti. Ia lantas menyarankan teh mawar atau teh susu bila ingin yang ‘nice’. Hmm. Sepertinya yang ia maksudkan dengan kata ‘nice’ itu adalah ‘sweet’. Baiklah, untuk menghargai si mbak yang telah berusaha memperingatkan saya dengan bahasa Inggrisnya yang seadanya, saya pun ganti memesan teh mawar. Tapi untuk biskuitnya, tetap memesan biskuit lavender.
Untuk menambah pengalaman minum teh ala Inggris, interior kedai ini sengaja bergaya negara asal Pangeran William itu. Hanya seragam pelayannya rasanya terlalu kasual, sehingga agak merusak suasana ‘high tea’ ala Inggris. Tapi ya sudahlah. Teh dan kue-kuenya juara! Apalagi biskuitnya yang disajikan hangat. Yang saya cicipi adalah biskuit cokelat dan lavender. Sungguh penutup menyenangkan bagi pengalaman berwisata kuliner di Penang.
(Untuk menuju bandara dari Queensbay Mall, kami menaiki taksi yang ogah memasang argometer dan lebih memilih tarif ‘argo kuda’ sebesar 20 RM. Oleh karena malas berdebat, kami setujui saja. Taksi bertarif ‘nembak’ adalah hal umum di Penang, dan juga tempat lain di Malaysia yang telah saya kunjungi, sehingga ingatlah untuk menyetujui tarif terlebih dahulu sebelum menaiki sebuah taksi. Tentu yang paling aman adalah memilih taksi yang patuh menyalakan argometer.)
Selamat menikmati berbagai hidangan lezat di Penang. Secara umum, Penang cukup aman untuk pelancong, meskipun tetap harus waspada. Terutama di Georgetown, sesuai pesan dari pemilik 47 Moontree, jagalah tas Anda baik-baik karena sering ada penjambret.
Berat badan bertambah? Itu sih, risiko pergi ke Penang.
Posted by Tante Guru
GoHalalPlanet
08 Oct 2011 1 Comment
in Uncategorized Tags: halal, hotel, link, muslim, restaurant, south east asia, tempat ibadah, vietnam
Teman-teman Muslim yang gemar lompat-lompat, sekarang ada situs baru nih, namanya GoHalalPlanet. Pengelolanya adalah salah seorang teman kami yang tinggal di Vietnam. Situs ini bertujuan menyediakan informasi mengenai tempat makan halal, tempat penginapan yang nyaman, dan tempat ibadah yang tersedia bagi pelancong Muslim. Cakupan utamanya adalah negara-negara Asia Tenggara yang mayoritas bukan dihuni kaum Muslim, dan saat ini informasi yang sudah tersedia cukup banyak adalah untuk Vietnam.
Teman kami ini teliti sekali lho memeriksa restoran-restoran halal, sampai memeriksa dapurnya langsung.
Semoga bisa membantu ya…
Pesona Lanna di Chiang Mai
07 Dec 2010 4 Comments
in thailand Tags: angkutan umum, chiang mai, hotel, kuil, lanna, pusat belanja, restaurant, tempat makan, thailand
“Lagi di Chiang Mai? Di Cina, ya?”
Kenyataan bahwa sebuah keluarga panda telah menjadi maskot Chiang Mai semakin tidak membantu banyak orang menempatkan letak geografis kota ini dengan benar. Kota yang pernah menjadi tuan rumah SEA GAMES tahun 1995 ini sebenarnya terletak di utara Thailand, dekat perbatasan dengan Laos dan Myanmar.
Bila Anda berpikir, “Ada apa sih di Chiang Mai? Jangan-jangan sama saja dengan Bangkok atau Phuket?”, moga-moga tulisan kami berikut ini bisa mengubah pikiran Anda. Chiang Mai adalah sebuah kota yang layak dikunjungi dan menawarkan berbagai kekhasan, baik dari segi budaya, arsitektur, maupun alam. Salah satu penyebabnya adalah Chiang Mai tadinya bukan merupakan bagian dari kerajaan Siam yang menjadi pondasi negara Thailand modern, melainkan kerajaan Lanna, yang memiliki kebudayaan tersendiri. Baru tahun 1932 Lanna resmi menjadi bagian Thailand.
Ada sejumlah maskapai yang melayani penerbangan ke dan dari Chiang Mai, antara lain AirAsia, Bangkok Airways, dan Nok Air. Sewaktu pesawat akan mendarat, di depan mata telah terpampang pemandangan menggetarkan yang langsung membuat saya yakin bahwa Chiang Mai pasti akan memberikan hal yang berbeda dibandingkan Bangkok yang terletak di dataran rendah: deretan pegunungan hijau. Melihatnya saja sudah membuat hati adem.
Bila Anda hendak mencoba sarana transportasi lain menuju Chiang Mai, Anda bisa mencoba bis (dengan harga karcis sekitar 500 Baht) atau kereta api dengan tiket berkisar 700-an sampai 1300-an Baht, tergantung tipe kereta atau gerbong yang Anda pilih. Dalam sehari, ada beberapa kali kereta meninggalkan Bangkok menuju Chiang Mai dan sebaliknya.
Sesampainya di bandara internasional Chiang Mai, kami menggunakan taksi menuju penginapan kami. Oleh karena Chiang Mai merupakan kota kecil, taksi bermeter dari bandara menetapkan tarif flat 120 Baht menuju kota. Taksi ini tak banyak dijumpai di jalanan, sehingga untuk berkeliling Chiang Mai atau menuju atraksi-atraksi wisata yang agak jauh seperti Kebun Binatang, lebih baik menggunakan songthaew, angkot berwarna merah yang untuk gampangnya diinggriskan sebagai ‘taxi’.
Kami memesan kamar di Montrara Happy House, sebuah penginapan yang membuat kami tertarik lewat foto-fotonya. Junior suite untuk tiga orang dihargai antara 1100-1200 Baht (tergantung apakah weekdays atau weekend, dan sedang peak season atau tidak), alias sekitar 380 ribu rupiah, termasuk sarapan Continental. Dan kami sungguh tidak dikecewakan oleh pelayanan penginapan ini, yang meski terhitung sederhana dan murah namun tidak kalah dari hotel-hotel yang lebih mahal. (Namun bila Anda merasa lebih nyaman menginap di hotel berbintang, di Chiang Mai juga sudah tersedia sejumlah hotel dari jaringan internasional.)
Pertama-tama yang membuat kami menyenangi Montrara adalah desain interiornya yang artistik, menampilkan berbagai pernak-pernik khas Lanna/Thailand. Dari jendela kamar kami di lantai 4 pun terlihat pegunungan di kejauhan dan kanal yang mengelilingi Chiang Mai. Ada AC, kulkas, TV kabel, dan kamar mandi yang bersih serta unik. Rasanya enak sekali pulang ke kamar kami yang nyaman setelah lelah seharian berpetualang di sekitar Chiang Mai.
Sarapan yang disediakan juga sehat dan mengenyangkan, cukup memberi kami energi untuk berkeliaran setengah hari. Sang pemilik dan istrinya pun turun tangan sendiri melayani para tamu. Staf penginapan selalu sigap membantu wisatawan-wisatawan yang rada culun seperti kami.
Bila hendak mencuci pakaian, ada dua binatu di dekat Montrara. Satu terletak tepat di seberangnya, namun tutup pada hari Minggu. Satu lagi terletak beberapa puluh meter jauhnya, setelah Hotel Amora. Biaya binatu di Chiang Mai cukup murah, rata-rata 20 Baht tanpa setrika per kilo dan 35 Baht dengan setrika per kilo. (Coba bandingkan dengan di Phuket, yang mematok harga 50 Baht tanpa setrika dan 80 Baht dengan setrika per kilo….) Waktu mencuci kira-kira 10 jam, sehingga bila Anda menyerahkan pakaian kotor pukul 8 pagi, kira-kira pukul 6 sore sudah bisa Anda ambil kembali dalam kondisi terlipat rapi dan harum.
Seperti yang telah saya sebutkan di atas, Chiang Mai sebenarnya kota kecil saja, kalah jauh dari Bangkok meskipun kota ini adalah kota kedua terbesar di Thailand. Dengan berjalan kaki saja, Anda bisa puas mengelilingi Chiang Mai. Jalan-jalan mobil tidak begitu ramai, sementara trotoar – termasuk yang lebar-lebar di tepian kanal atau sungai – sungguh membuat perjalanan menyusuri Chiang Mai nyaman. Agak mengingatkan saya kepada Hue di Vietnam, andaikan saja suhu Chiang Mai juga sedingin di Hue.
Salah satu kekhasan Chiang Mai adalah kota ini ‘banjir wat’. Ada sekitar 30 wat (kuil) di kota lama yang dikelilingi tembok pertahanan berwarna merah, dan ada barangkali 50 lainnya di bagian kota yang lebih baru. Ibaratnya, Anda menggelinding sedikit pun pasti ketemu wat. Kami mengunjungi cukup banyak wat selama di sana, namun tak akan saya ceritakan semua. Bisa-bisa jadi satu buku sendiri! Saya akan menampilkan hanya beberapa di sini. Dan bila Anda berpikir bahwa mengunjungi Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun di Bangkok saja sudah sangat memuaskan, harap dicatat bahwa wat-wat di Chiang Mai memiliki gaya tersendiri, baik terbuat dari batu maupun kayu, dan sebagian di antaranya juga amat tua. Sebagian bergaya Burma, karena Lanna memang pernah agak lama menjadi wilayah taklukan negara tersebut. Dan karena bagi masyarakat Lanna menyimpan barang-barang peninggalan bangsawan membawa tulah sehingga harus disumbangkan ke wat, di sejumlah wat kita bisa menyaksikan objek-objek bersejarah itu dipamerkan.
Tak jauh-jauh, di jalan yang sama dengan Montrara, ada Wat Ou Sai Kham, yang menampung sejumlah patung Buddha dari giok. Letaknya yang di jalan kecil memang membuat wat ini tidak begitu mencolok, namun Ou Sai Kham tetap saja indah dan menarik. Senyum seorang biksu yang mempersilakan saya duduk beberapa lama dalam aula utama sungguh menyejukkan hati.
Wat paling terkenal di Chiang Mai barangkali adalah Wat Chedi Luang yang terletak kurang lebih di pusat kota (dan memang Pilar Kota juga terletak dalam kompleks ini). Berdiri di depan bangunan utama (vihar) yang megah sudah cukup membuat diri ciut, apalagi memasuki aula besar di mana patung Buddha diletakkan. Cobalah meresapi kekhusyukan jemaah yang datang beribadah.
Di belakang vihar raksasa ini, terdapat pagoda batu dari abad ke-14. Puncaknya sayangnya sudah runtuh, namun bangunan yang tersisa masih memukau. Ular-ular berkepala lima dari batu menguakkan mulut lebar-lebar, mengancam di kaki undak-undakan yang tak boleh didaki lagi karena kondisi.
Di sana-sini di dalam kompleks Wat Chedi Luang, terdapat kotak-kotak sumbangan. Anda bisa memilih menyumbang sesuai hari lahir (untuk keberuntungan), untuk membantu pengobatan biksu yang sakit, membiayai hidup anjing-anjing yang berkeliaran bebas dalam kompleks wat, dan lain sebagainya. Wat Chedi Luang juga menyediakan program berbincang-bincang bersama para biksu. Kita dipersilakan untuk membicarakan apa saja dengan mereka – mulai dari curhat sampai bertanya-tanya soal kebudayaan Thailand. Wah… ada yang perlu saran mengenai cara mengatasi kesulitan hidup?
Satu lagi yang membuat saya terkagum-kagum adalah toilet yang tersedia di kompleks Wat ini benar-benar bersih – sampai-sampai disediakan sandal kamar mandi bagi tamu yang hendak menggunakan fasilitas yang dinaungi pepohonan rindang ini!
Di sebelah Wat Chedi Luang terdapat Wat Phan Tao, dengan vihar utama dari kayu jati. Bagian atas pintu depan dihiasi burung merak, motif yang agak tak lazim di Lanna. Di sebelah belakang terdapat pagoda putih bersih dan deretan lampion kertas berwarna-warni semarak.
Satu lagi wat yang cukup menarik adalah Wat Bupparam, yang dikelilingi patung-patung kecil binatang – termasuk sebuah patung Donal Bebek! Bangunan-bangunan dalam kompleks ini juga terlihat berbeda dengan yang ada di Wat Chedi Luang maupun Wat Phan Tao.

Yah, setidaknya menara BTS di belakang itu berarti Anda tak akan kekurangan cara berkomunikasi di Chiang Mai.
Nah, itu baru sebagian wat yang kami kunjungi dan bisa kami sebutkan! Ada banyak lagi kompleks peribadahan serupa dengan macam-macam gaya arsitektur, yang mungkin lebih menarik bila Anda cari dan temukan sendiri. Bahkan karena ukuran Chiang Mai yang cukup kecil dan melimpahnya wat-wat itu, saya sarankan Anda tak usah terlalu mengandalkan peta atau buku panduan, termasuk tulisan saya ini. Berjalanlah, dan temukan sendiri wat-wat yang barangkali tak tercantum di buku panduan mana pun di berbagai pelosok Chiang Mai. Temukan wat favorit Anda sendiri – rasanya pasti akan lebih menyenangkan dan berharga! Dan jangan khawatir tak punya informasi apa-apa mengenai wat itu, karena biasanya di masing-masing wat disediakan keterangan dalam bahasa Inggris.
Bila malam menjelang, saatnya beranjak ke pasar malam, alias ‘night bazaar’, satu lagi atraksi utama di Chiang Mai. Pasar malam ini terletak di luar tembok kota lama, di seberang Kanal Mae Kha. Meskipun ‘night bazaar’ yang asli berada dalam sebuah gedung khusus, di trotoar pun pedagang kaki lima bersesakan. Banyak sekali barang menggoda yang mereka tawarkan dengan ciri khas Thailand Utara, misalnya tas, syal, kain tenunan, dan lain-lain. Membeli produk-produk tersebut juga mendorong kemandirian ekonomi para pembuatnya, wanita-wanita desa Utara. Selain itu ada pula produk-produk kreatif seperti kaus oblong, kartu ucapan, dan gantungan kunci, dengan desain tak kalah dari ‘kota besar’.
Untuk yang beragama Islam, di samping bangunan pasar malam Kalare ada sebuah masjid, bila Anda perlu salat sebelum melanjutkan jalan-jalan. (Di bandara juga ada mushola, kalau-kalau Anda hendak salat sebelum pesawat lepas landas.)
Puas melihat-lihat wat dan berbelanja di pasar malam, jangan lupa menengok panda. Sekarang rasanya tak mungkin menyebut Chiang Mai tanpa teringat mamalia yang satu ini. Penyebabnya adalah tiga ekor panda – Chuang-chuang dan Lin Hui serta anak mereka, Lin Ping – yang dipelihara di Kebun Binatang Chiang Mai. Letak kebun binatang ini agak jauh dari pusat kota, sehingga tumpangilah songthaew dengan membayar 30 Baht per orang sampai ke depan pintu gerbang kebun binatang. Menyebut ‘zoo’ pun para supir songthaew paham kok.
Harga tiket kebun binatang bervariasi, tergantung pada apa yang hendak Anda kunjungi dan fasilitas apa yang hendak Anda gunakan. Biaya masuk 100 Baht, bila ingin melihat panda dan snowdome tambah 100 Baht lagi, dan juga ada biaya lagi untuk masuk ke akuarium, serta 20 Baht untuk memanfaatkan tramcar. Saran saya, tak perlu ‘sok jago’ atau ‘sok hemat’ sehingga ogah membayar biaya lebih untuk tramcar, karena kebun binatang Chiang Mai sangatlah luas, dan dibangun mengikuti kontur perbukitan. Jarak satu kompleks ke kandang lain bisa beberapa ratus meter, naik-turun pula! Untuk yang tak terbiasa, bisa gempor bila tidak menggunakan tramcar!

Para supir tramcar kebun binatang tampaknya gemar bercerita lucu yang mengundang tawa penumpang. Sayangnya kami tidak mengerti bahasa Thailand.
Sebagian hutan di dalam kebun binatang dijaga tetap alami. Bagi Anda yang punya waktu cukup banyak dan lebih berjiwa petualang, Anda bisa berkemah, menyusuri jalan setapak dengan kaki ataupun menunggangi gajah. Banyak pula kegiatan untuk anak-anak, kalau-kalau Anda membawa anggota keluarga Anda yang masih belia ke sana.
Kandang panda dan koala disponsori LOTTE – yang kebetulan punya produk-produk bernama Hello Panda dan Koala’s March. Menyaksikan tingkah-polah lucu si panda kecil, Ping, sungguh membuat hati riang. Bila beruntung, Anda juga bisa berfoto bersama koala. Sayang sewaktu kami datang, si koala yang jadi bintang foto baru saja makan, dan akan tidur siang. Padahal koala bisa tidur 20 jam! Waduh, memang bukan keberuntungan kami nih. Namun tak perlu khawatir kehabisan ‘tontonan’, karena masih ada gajah, marmoset pigmi, pinguin, anjing laut, dan banyak lagi.
Sekadar peringatan, Anda tak diizinkan merokok di mana pun dalam kawasan kebun binatang.
Siang hari yang melelahkan di bawah sinar matahari paling enak diakhiri dengan minum teh dingin. Maka itu kami melangkahkan kaki menuju Raming Tea House Siam Celadon, yang bersama sejumlah toko lain berbagi lokasi berupa sebuah rumah antik dari kayu jati yang telah direnovasi. Anda bisa memilih untuk menyeruput teh Anda di dalam ruangan yang berdekorasi ala Eropa maupun di taman belakang yang rindang. Bila ingin, Anda bisa membawa pulang daun teh dalam kemasan, baik yang teh tanpa embel-embel ataupun beraneka teh campuran dengan khasiat masing-masing.

Area bersantap di sebelah dalam. Taman terlihat dari pintu yang terbentang lebar. Di sebelah depan, terlihat bangku ayunan.
Puas makan-minum dan membeli oleh-oleh, kami pun membayar dan beranjak keluar. Astaga, bagian depan Siam Celadon sudah gelap-gulita, dan di pintu sudah tergantung tanda CLOSED. Ternyata mereka sudah tutup dari tadi, tapi sama sekali tak mengusir kami!
Beberapa tempat makan lain yang bisa Anda coba adalah:
- Thais That Bind, yang terletak tepat di seberang Wat Chedi Luang. Ayam goreng ala timur laut Thailand-nya juara! Es teh thai-nya juga amat menyegarkan. Kalau mau mencicip makanan panda, coba deh pesan sayuran rebungnya. Mungkin lidah Anda suka. Lidah saya sih kurang nyambung dengan rasanya, hehehe.

Menu yang kami cicipi di Thais That Bind: ayam goreng ala timur laut, sayur rebung, dan tentunya... thai tea!
- Pop Coffee House, yang menyajikan hidangan paket nasi dan lauk (sudah termasuk telur ceplok) dengan harga murah dan rasa menggoyang lidah. Es kopi susunya juga nikmat. Pop adalah bagian dari perusahaan yang juga menyewakan sepeda motor, sepeda, dan mobil untuk berkeliling Chiang Mai.
- Ratana’s Kitchen yang juga menyajikan makanan yang terasa ringan di kantong wisatawan yang tak berkocek tebal, namun buat saya rasanya masih kalah dari Pop.
- The Corner yang betul-betul terletak di sudut jalan dan banyak disambangi para pencari sarapan dan kopi.
Kalau Anda kurang suka bereksperimen rasa dan lebih gemar makan-minum yang pasti-pasti saja, ada sejumlah gerai waralaba atau chain store internasional seperti McD dan Starbucks kok di Chiang Mai.
Satu lagi kekhasan Chiang Mai adalah sekian banyak toko buku bekas yang bertebaran di seantero kota. Toko-toko itu ada di mana-mana, termasuk di jalan tempat Montrara berada. Bila beruntung, Anda bisa menemukan buku incaran Anda dengan harga murah dan kondisi sangat bagus.
Sebenarnya masih banyak kegiatan dan tempat menarik di Chiang Mai yang belum kami jajal, tapi biarlah waktu yang terbatas menyebabkan semua itu kami simpan untuk lain kali. Namun ternyata godaan Chiang Mai belum berhenti di bandara. Sewaktu kami hendak terbang ke Phuket, hati melompat riang namun dompet menjerit frustrasi melihat sejumlah toko berinterior memikat mata di bandara. Toko-toko itu menawarkan sejumlah oleh-oleh seperti penganan, teh, dan kopi.
Cobalah teh beraneka rasa seharga 12 Baht saja, atau belilah kue pia atau kue bunga sebagai buah tangan dari Kanom Ban Arjarn Confectionary. Bila lebih memilih teh atau kopi, ada Lanna Tea dan Papa’s + Mama’s. Jadi, bila ke Chiang Mai… jangan keburu habiskan lembar-lembar THB itu di kota! Siapa tahu justru hati Anda kepincut cendera mata di bandar udara…
Posted by Tante Guru
Melaka, Kota Antik yang Menawan
20 Sep 2010 2 Comments
in malaysia Tags: angkutan umum, hotel, kota tua, malacca, malaysia, melaka, restaurant, tempat makan
Bila bepergian ke Malaysia, jangan hanya tinggal di Kuala Lumpur (KL). Untuk merasakan suasana yang ‘lebih Malaysia’ atau ‘beda’, datangilah daerah-daerah atau kota-kota lain. Kali ini, kami mengajak Anda mengunjungi Melaka, sebuah kota kecil yang terletak 2 jam jauhnya naik bis dari KL. Melaka, atau Malacca, juga bisa Anda capai dengan bis dari Singapura. Kota ini terletak di posisi strategis di Selat Melaka, sehingga tak heran bangsa-bangsa penjajah dulu menjadikan kota tersebut tempat bercokol. Tak heran, Melaka menunjukkan tidak hanya warisan Melayu, India, dan Cina, melainkan juga Belanda, Portugis, dan Inggris.
Oleh karena terminal bis utama KL, Puduraya, sedang ditutup untuk renovasi, kami harus ke tempat parkir F Bukit Jalil, terminal darurat untuk bis-bis yang menuju ke utara atau selatan KL. Tidak perlu khawatir, ada LRT (jalur Ampang) yang berhenti di Bukit Jalil, stadium nasional yang juga sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan konser.
Loket-loket karcis sementara berjejer rapi di dalam tenda besar. Hanya saja, seperti di terminal bis di Indonesia, ada saja orang-orang perusahaan bis yang telah menanti penumpang sejak keluar dari stasiun LRT bukit Jalil, berusaha menyeret mereka ke loket perusahaan tertentu. Kami membeli karcis untuk bis Damai, namun nomor polisi yang tertera di karcis adalah nomor polisi bis perusahaan Jebat—mungkin satu kongsi dengan bis Damai. Kualitas bisnya biasa-biasa saja, malah boleh dibilang agak jelek. Interiornya sudah gembel, AC-nya juga pas-pasan, jarak antarkursi agak sempit, namun masih lumayanlah. Paling tidak, kami hanya harus bertahan 2 jam di dalam bis itu. (Sewaktu pulang ke KL, kami menumpangi bis Metrobus, yang jauh lebih baru, bagus, lega, dan sejuk.)
Dalam perjalanan ke Melaka, tak banyak yang bisa dilihat—di kiri dan kanan jalan, kebanyakan kelapa sawit melulu. Membosankan dan mengkhawatirkan secara ekologis. Namun, semakin dekat Melaka, banyak rumah-rumah tradisional mungil dari kayu yang tampak menarik.
Sewaktu memasuki kawasan kota Melaka, pada awalnya saya agak kecewa. Kota itu di luar bayangan saya—terlalu modern, dengan baris demi baris rumah susun atau apartemen yang seragam, serta pusat-pusat perbelanjaan yang berukuran raksasa namun tanpa selera. Akan tetapi ini adalah bagian Melaka yang baru. Bagian tua Melaka adalah kota kecil yang menawan dan menyenangkan. Jendela-jendela kayu yang tua terasa memberikan sapaan yang lebih ramah daripada jendela-jendela kaca modern yang seragam.
Untuk mencapai kota tua Melaka, dari Melaka Sentral—terminal bis dan pasar tempat bis-bis domestik maupun ‘antarnegeri’ (kalau di Indonesia, bis AKAP) bermuara—ambil bis-bis yang melewati kota tua. Bis-bis itu ada di platform (peron) 6, 7, dan 8. Pilih saja bisnya. Karena tak mau kecele seperti sewaktu berangkat dari KL, saya memilih untuk melihat-lihat bis yang tersedia dulu. Hal ini mudah dilakukan karena terminal keberangkatan Melaka Sentral berbentuk melingkar dengan dinding dari kaca. Penumpang bisa pilih-pilih bis dari dalam ruang tunggu yang ber-AC, dan setelah hati merasa cocok, baru keluar mendatangi bis itu melalui pintu yang berhadapan dengan platform yang dimaksud.
Oya, sebelum menaiki bis, coba datangi pusat informasi pariwisata di bagian tengah Melaka Sentral. Belilah peta pariwisataMelaka seharga 5 RM. Mungkin sepertinya agak mahal, namun membantu sekali.
Bis domestik yang kami pilih adalah bis perusahaan Panorama, dengan biaya 1,5 RM. Bis tidak ber-AC yang sudah tua dan jelek juga ada, kalau-kalau Anda ingin yang lebih murah. Bis Panorama tersebut membawa kami ke depan Mahkota Parade, sebuah tempat belanja besar berwarna cokelat yang tampaknya tidak punya jendela. Pusat perbelanjaan ini terletak tidak jauh dari pantai, menghadap jejeran hotel dan apartemen raksasa. Namun, jalan kaki sedikit ke belakang Mahkota Parade, membawa kami ke bagian tua kota Melaka yang langsung membuat siapa pun jatuh hati.
Kami juga lewat dekat Menara Taming Sari, menara tinggi dengan bagian cincin yang bisa berputar sambil naik-turun sehingga kita bisa melihat berkeliling kota Melaka dari ketinggian. Bila Anda tidak mengidap vertigo atau mudah mabuk, menara ini boleh dicoba. Di kejauhan juga terlihat karusel raksasa, Eyes on Malaysia, yang juga cocok sekali untuk yang tidak takut ketinggian.
Bangunan-bangunan tua kota Melaka terkenal karena warnanya yang merah gelap—konon dulu dicat seperti itu karena banyak pemakan sirih yang gemar meludah dan mengotori dinding. Warna khas itu dipertahankan, meski tentu sudah tidak banyak orang yang main ludah sembarangan. Bangunan-bangunan merah itu dibangun mengelilingi kaki bukit St Paul, tempat Gereja St Paul bercokol di puncaknya. Bila kesehatan Anda cukup prima, silakan mencoba memanjat bukit itu untuk melihat-lihat gereja itu beserta reruntuhan gereja lama.
Sementara, bangunan-bangunan di kaki bukit telah disulap menjadi macam-macam ‘muzium’ alias museum, mulai dari Museum Kecantikan, Museum Islam, Museum UMNO, sampai Stadthuys (Museum Sejarah & Etnografi) serta Christ Church. Christ Church Melaka masih difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan misa. Anda boleh memasukinya untuk melihat-lihat ataupun duduk sejenak menikmati keteduhan bagian dalam gereja, namun tidak boleh memotret. Di depan Christ Church, ada jejeran kios suvenir dan Victoria Fountain. Bila meneruskan perjalanan ke arah utara, Anda akan menyusuri jalanan yang diapit pertokoan antik yang juga berwarna merah, dengan batas daerah historis berupa Gereja St Francis Xavier (seorang penyebar agama Katolik terkemuka, yang juga mengabdi di kawasan Nusantara).
Nah, bila menyeberang jalan dari Christ Church, ada tiruan kincir angin mini (sebagai penanda warisan Belanda di Melaka), kincir air raksasa dari kayu, reruntuhan benteng, dan sejumlah museum lagi, termasuk Museum Maritim I yang berbentuk kapal antik.
Setelah puas melihat-lihat sisi jalan di seberang Christ Church, sekali lagi kami menyeberang, kali ini melintasi jembatan Tan Kim Seng, menyeberangi sungai yang bisa juga Anda susuri dengan kapal pariwisata. Di seberang sungai inilah terletak jalan terkenal yang menjadi urat nadi perekonomian wisata Melaka, Jonker Street (alias Jalan Hang Jebat). Jalan ini juga termasuk kawasan warisan budaya dunia yang diakui dan dilindungi oleh UNESCO. Jalannya tidak lebar, namun diapit oleh jejeran berbagai toko, restoran, hotel, kuburan, dan kuil tua yang terdokumentasi dengan baik. Tidak perlu khawatir mengenai oleh-oleh, karena ada berbagai barang dan jajanan yang dijajakan, menggoda para turis yang melihat-lihat. Toko San Shu Gong misalnya, selain menjual makanan jadi, juga menjual oleh-oleh seperti racikan kopi putih instan, gula tumbuk, dan fruit dumpling.
Di ujung jalan Jonker yang berpotongan dengan jalan Kubu, ada dua hotel bersejarah, Jonker Boutique Hotel dan Tang House. Bila anggaran berlebih, Anda bisa coba menginap di kedua tempat itu. Bila tidak, jangan khawatir, karena ada banyak hotel dan penginapan dari berbagai kelas di kota tua Melaka dan sekitarnya. Bahkan ada yang menyewakan rumah dengan 4 kamar tidur dan 4 kamar mandi, siapa tahu Anda datang berombongan.
Bila agak lelah dengan Jonker Street yang ramai, cobalah masuki jalan-jalan lain yang bersebelahan. Meski juga dijejeri bangunan-bangunan bersejarah, jalan-jalan itu tidak serusuh Jonker Street. Jalan Tokong dan Tukang Emas misalnya, yang lebih sepi dan justru jadi lebih nyaman untuk pelancong yang ingin menikmati pemandangan sekeliling dengan santai. Salah satu tempat menarik adalah Masjid Keling, dengan menaranya yang khas. Bagian dalamnya pun sejuk sekali, sangat menenangkan di tengah hari Melaka yang terik menyengat.
Ada pula kuil Hindu Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi, kelenteng Cheng Hoon Teng, dan Kampung Ketek. Entah bagaimana cara membaca nama kampung tersebut, dan apakah artinya memang ketek yang ada di bawah bahu, yang jelas pelancong Indonesia pasti tertawa melihatnya.
Kalau soal makanan, Melaka menawarkan hidangan dengan berbagai cita rasa, dari yang berbasis Asia, Eropa, sampai peranakan. Salah satu yang saya cicipi adalah kue-kue yang dijual kedai Tart & Tart Bakery yang terletak di Lorong Hang Jebat, di sebelah Museum Budaya Cheng Ho. Kedai tersebut menjual berbagai jenis portuguese egg dan cheese tart. Rasanya berupa-rupa, dari portuguese egg tart klasik, hingga campuran yang terkadang membuat bertanya-tanya, seperti peppermint cheese, blueberry cheese, mocha cheese, dan durian cheese. Baba Kopitiam yang terletak di dekat jembatan juga boleh menjadi tempat perhentian yang menawarkan makanan berat dan ringan serta minuman dingin yang menyegarkan dengan pemandangan langsung ke arah Stadthuys dan reruntuhan Benteng Middelsburg (plus, toiletnya bersih, namun hanya untuk pengunjung saja!).
Sehari saja rasanya tak cukup menjelajahi seluruh seluk-beluk Melaka. Bila ingin menginap, selain beberapa pilihan yang saya sebutkan di atas, ada juga lho program bermalam di museum. Siapa tahu Anda berminat berkenalan tidak hanya dengan penghuni Melaka yang aktif di kala siang, melainkan juga yang berkeliaran kala malam, hehehe…
Kalau Anda ingin berkeliling Melaka tapi tidak kuat berjalan kaki, boleh mencoba naik becak khas Melaka. Becak-becak Melaka tidak hanya dihiasi ramai sekali, melainkan juga berlomba-lomba memamerkan kehebatan speaker dengan memutar musik keras-keras. Musik yang diputar mulai dari musik India, Melayu, sampai… Project Pop dan Wali!
Posted by Tante Guru
Pasar Modern BSD
05 Jun 2010 2 Comments
in indonesia Tags: bsd, indonesia, market, pasar, restaurant, tangerang, tempat makan
Meskipun sekarang banyak hipermarket dan supermarket (atau haruskah saya sebut ‘pasar hiper’ dan ‘pasar super’?), tidak bisa disangkal, berbelanja di pasar tradisional memiliki nilai asyik tersendiri. Mungkin itu kebebasan memilih-milih penjual, menawar barang, atau atmosfer yang memang tidak bisa diperoleh di hipermarket/supermarket. Namun keluhan yang sering kita dengar adalah pasar tradisional kotor, sempit, becek, sehingga tidak menggugah selera orang (terutama dari kalangan menengah dan atas) untuk berbelanja di sana. Barangkali menunggu pemerintah memperbaiki semua pasar tradisional yang ada juga bakalan lama sekali.
Oleh karena itu, sungguh cemerlang gagasan pengelola Bumi Serpong Damai untuk mendirikan Pasar Modern BSD. Sebutannya memang ‘modern’, meski pada dasarnya ini adalah pasar tradisional. Akan tetapi label itu mungkin diperlukan untuk membedakan pasar ini dari pasar yang kotor dan becek semacam itu. Dengan pengelolaan yang cukup ketat – konon ada hukuman cukup keras bila ada pedagang yang melanggar aturan kebersihan – maka pasar ini pun menjadi tempat berbelanja yang nyaman dan digemari banyak orang. Buktinya antara lain adalah betapa sulitnya mencari tempat parkir di pasar ini di akhir minggu. Banyak orang terpaksa parkir di luar area pasar, meskipun Pasmod memiliki lahan parkir yang cukup luas.
Bila Anda menyenangi jajanan dari waralaba internasional, Anda tak akan menemukan satu pun di pasar ini. Jadi pasar ini pun konsisten mendukung pedagang dan rumah makan Indonesia. Bagian keliling luar pasar adalah ruko-ruko. Di sini banyak terdapat restoran yang menawarkan berbagai sajian, baik halal maupun tidak, termasuk yang ‘ajaib’ seperti daging ular. Juga ada bank dan ATM, tempat penukaran valuta asing, toko roti, toko pakaian, toko kelontong, minimarket, dan lain-lain. Di bagian luar ini antara lain ada serabi Notosuman, pisang goreng srikaya, puding Sweet Mom dengan berbagai bentuk dan rasa, dan banyak lagi.
Di sebelah dalam bangunan pasar, terdapat pasar ‘basah’ yang berkoridor lebar dan berlangit-langit tinggi. Pasar basah ini terbagi-bagi seturut jenis dagangan yang dijual – misalnya sayur, daging halal, daging babi. Salah satu yang paling menarik adalah cabang restoran Oen Pao yang bergaya warung. Suasananya santai dan enak, bahkan rasanya kok lebih menyenangkan daripada cabang Oen Pao yang lebih mewah di daerah lain Jakarta.
Pasar pagi/siang buka sampai pukul 3 sore. Setelahnya, pasar basah tutup meskipun ruko-ruko tetap buka, dan sebagian lahan parkir pun disulap menjadi tempat jajanan malam yang buka mulai sore hari. Jadi, dari pagi sampai malam pun, selalu ada yang bisa Anda temukan di Pasar Modern BSD. Pasar ini juga terletak tidak jauh dari pintu tol BSD, sehingga bila Anda ingin menyambangi tempat ini dari Jakarta, tidak sulit menjangkaunya.
Pasar Modern BSD bisa menjadi contoh bagaimana pasar tradisional yang dikelola baik bisa menjadi nyaman dan menarik, serta bahkan mungkin menjadi salah satu tujuan pariwisata yang banyak diincar turis.
Posted by Tante Guru
Stone Garden: oasis di Ho Chi Minh City
28 May 2010 4 Comments
in vietnam Tags: ho chi minh city, restaurant, sai gon, tempat makan, vietnam
Cuaca di Ho Chi Minh City (Sai Gon), seperti di Vietnam Selatan pada umumnya, seringkali terasa panas dan sumpek. Namun kota ini menyimpan sebuah ‘oasis’ yang sungguh sangat nyaman – Stone Garden, sebuah restoran bertema taman, barangkali salah satu best-kept secret HCMC. Letaknya memang agak jauh dari kawasan turis (Distrik 1) sehingga mungkin belum banyak yang mendengar tentang restoran ini.
Restoran ini terletak dalam kawasan Damsen Water Park, Distrik 11, HCMC, menempati areal yang cukup luas. Sejumlah bangunan kayu berdiri dikelilingi pepohonan dan tanaman yang memberikan suasana rindang dan sejuk.
Dan sesuai namanya, Stone Garden, di restoran ini terdapat sejumlah batu berukuran besar, baik yang terbentuk secara alami maupun sudah diubah menjadi patung, juga berbagai struktur lain yang terbuat dari batu. Ada kali-kali buatan, jembatan, air terjun, dan kolam.
Barangkali karena jarang dikunjungi turis asing, menu di restoran ini hanya tersedia dalam bahasa Vietnam. Jadi, sediakanlah kamus ringkas bersama Anda bila pergi ke sini, apalagi kalau Anda ada pantangan makan (misalnya berpantang makan babi). Meskipun tempatnya kelihatan mewah dan eksklusif, jangan khawatir! Harganya sungguh murah! Dengan 2.000 dong (1.000 rupiah), Anda bisa memperoleh es teh hijau yang tanpa henti dituangkan ke gelas Anda.
Poin lebih lain: kamar mandinya sangat bersih, dan tidak kering (alias ada jet spray). Sungguh pantas untuk dicoba!
Ngomong-ngomong, foto kami yang kami jadikan header diambil di restoran tersebut.
Posted by Tante Guru









































































Komentar pelompat