Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

Beberapa lantai di bawah The Star Theater, bangunan yang dikenal sebagai The Star Vista, sebagian besar difungsikan sebagai tempat makan dan minum, dengan restoran dan bar berjejer-jejer.  Ada juga panggung terbuka yang, karena waktu itu sedang dalam suasana Tahun Baru Cina, digunakan sebagai tempat mementaskan sejumlah bentuk kesenian tradisional Cina.  Tepat di belakang The Star, juga terdapat cabang Starbucks Rochester Park yang menempati sebuah bekas gedung tua.  Tempatnya sangat nyaman, enak untuk dijadikan tempat bercengkerama!  Kadang-kadang, cabang Starbucks ini sedemikian ramai, sehingga pengunjung diminta untuk tidak berlama-lama atau serakah mengambil tempat.

Starbucks di belakang The Star Vista

sg-2013-03

Nilai plus dari perjalanan menonton konser saya kali ini adalah… jadi ‘tamu tak diundang’ after party band yang saya tonton saat itu.  Tempatnya?  Tidak seberapa jauh dari Star Theater.  Semua berkat teman saya yang entah bagaimana berhasil dapat bocoran tentang tempat after party tersebut.  Kami memang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam pesta itu, alias jadi penonton saja.  Terkadang cengar-cengir tak jelas dan melambai-lambai ke anggota-anggota band.  Lumayanlah, ditanggapi positif dan ramah oleh mereka.

Berhubung sedang tahun baru Cina, kami berkunjung juga dong ke Chinatown untuk melihat-lihat.  Seperti bisa diduga, Chinatown semarak oleh berbagai dekor.  Kelenteng-kelenteng dipenuhi orang-orang yang hendak memanjatkan doa, mengharap tahun yang baru pun akan membawa keberuntungan.

sg-2013-05

sg-2013-06

sg-2013-07

Salah satu keuntungan datang ke Singapura saat tahun baru Cina adalah museum-museum gratis dimasuki!  Semacam keistimewaan bagi orang-orang yang tidak ikut merayakan Tahun Baru dan bingung hendak berkeliaran ke mana karena rata-rata tempat perbelanjaan tutup.

Kami pertama-tama mengunjungi Museum Filateli (kali kedua untuk saya).  Museum ini memang tidak besar, namun saya menyenanginya.

sg-2013-08

Setelahnya kami melangkahkan kaki ke Museum Peranakan yang terletak tidak jauh dari Museum Filateli.  Di sini kita bisa menyaksikan berbagai pajangan yang mengisahkan seluk-beluk kaum peranakan di Singapura.  Yang paling saya senangi adalah ‘telepon dari masa lalu’.  Ada sejumlah telepon antik, yang bila kita angkat akan memperdengarkan suara seorang peranakan yang menggunakan dialek dari masa ketika telepon itu digunakan.

sg-2013-09

sg-2013-10

Satu lagi pengalaman tak terlupakan di Singapura!

sg-2013-04

sg-2013-11

Hong Kong

Lagi-lagi saya menginap di Ah Shan Hostel saat bertandang ke Hong Kong.  Bagaimana, ya?  Saya sudah ‘nyambung’ betul dengan tempat ini, yang letaknya sangat strategis.  Tidak jauh dari stasiun MRT, dekat halte bis ke bandara, terletak di kawasan di mana berbagai keperluan dan suvenir mudah diperoleh, murah (untuk ukuran Hong Kong) dan bersih, pemiliknya orang Indonesia-Hong Kong.  Paling-paling kekecewaan saya hanya karena kebodohan saya sendiri: baru sadar bahwa di gedung yang sama, di lantai berbeda, ada sebuah kafe kucing.  Dan sadarnya telat, ketika saya sudah hampir check-out untuk berangkat ke bandara!

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Tujuan utama saya ke Hong Kong adalah menonton konser di Asia World-Expo, sehingga saya tidak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan.  Namun saya menyempatkan diri melihat-lihat bagian kota yang lain, yang sebelumnya tidak pernah sempat saya datangi dalam kunjungan-kunjungan saya ke Hong Kong dahulu.  Saya penasaran ingin melihat yang namanya Central Promenade, Expo Promenade dan Hong Kong Exhibition and Convention Center dari dekat.

Sayang, pagi itu hujan mengguyur lumayan deras.  Saya hanya bisa berjalan sampai mentok ke HKECC, sejauh yang ternaungi atap.  Ya, meski lumayan juga jarak yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Wan Chai, namun saya tidak perlu khawatir kehujanan ataupun tertabrak kendaraan bermotor, karena saya cukup menyusuri walkway alias jembatan-jembatan beratap untuk pejalan kaki.  Walkway ini ada juga yang menembus beberapa gedung, yang rupanya memang membuka satu lantai khusus untuk digunakan berlalu-lalang para pejalan kaki.  Kalau bukan karena koordinasi yang baik dengan pemerintah dan keamanan yang terjamin, mana bisa begini ya?

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Masih pagi, sehingga tidak banyak kegiatan di HKECC.  Saya juga hanya mengagumi apa yang bisa terlihat dari lobi bawah saja. Sepertinya sih asyik nih menonton konser atau pertunjukan lain di sini.  Karena sulit meneruskan ke Promenade dalam kondisi hujan, saya malah melipir ke cabang Pacific Coffee di Great Eagle Center.  Tempat yang nyaman, dengan barista yang ramah, yang sepertinya mengenal nyaris semua pelanggannya.  Mungkin memang setiap pagi sebelum berangkat kerja, mereka mampir ke situ untuk meneguk secangkir kopi hangat.

Pacific Coffee

Pacific Coffee

Setelahnya, saya mencoba berjalan kaki di sekitar Wan Chai, tapi hujan tak kunjung reda sementara saya tak punya payung.  Akhirnya saya hanya berjalan-jalan sedikit di sekitar stasiun, lalu kembali lagi.

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Saya juga, seperti biasa, berkunjung ke Avenue of Stars.  Rasanya belum ke Hong Kong kalau belum ke sini dan menghabiskan waktu sejenak.  Eksibisi di Museum Seni sedang tidak menarik bagi saya, sehingga saya meneruskan langkah sampai ke terminal feri Star.  Eh!  Bebek!  Si bebek raksasa!  Proyek seni menggemaskan berwarna kuning ini mengambang-ngambang dengan santainya, tidak kalah pede dari kapal-kapal pesiar dan feri yang berlalu-lalang atau berlabuh di terminal tersebut.  Seluruh Hong Kong sedang demam si rubber duck!  Karya-karya seni yang terbuka bagi publik seperti ini dan secara teratur berganti (terakhir saya ke sini, kawasan terminal feri Star memajang patung-patung Doraemon) memberi kesegaran bagi penduduk yang hidup berimpit-impitan di kota mereka yang sangat ramai.

BEBEK!

BEBEK!

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Sempat juga saya kembali ke Avenue of Stars saat malam.  Iseng saja ingin melihat permainan ‘teater cahaya’ gedung-gedung di Pulau Hong Kong yang sebenarnya tidak terlalu spektakular.  Tapi lumayanlah, tontonan gratisan sambil menikmati angin semilir yang menghambur dari selat.  Kebetulan sedang bulan purnama pula.

Magis.

Magis.

Cumi bakar di Avenue of Stars.  Mengantrinya lama, tapi saya penasaran.  Ternyata rasanya seperti... juhi kering.

Cumi bakar di Avenue of Stars. Mengantrinya lama, tapi saya penasaran. Ternyata rasanya seperti… juhi kering.

Malam-malam saya juga sempat menyambangi SoHo, kawasan yang terkenal karena berbagai tempat makan dan toko yang ‘hip’.  Penasaran saja, karena terakhir kali ke Hong Kong (saat siang) saya mencoba mendatangi wilayah tersebut, tapi malah tersesat.  Padahal ternyata saya waktu itu sudah dekat dengan SoHo, hanya saja terlanjur bingung!  Untuk ke SoHo ternyata hanya perlu berjalan kaki sedikit dari Stasiun Central ke eskalator Mid-Level, lalu menaikinya.  Eskalator?  Ya, untuk mempermudah penduduk menaiki kontur sekitar Central yang berbukit-bukit, pemerintah Hong Kong mengoperasikan sejumlah eskalator, termasuk yang mencapai SoHo.  Tapi eskalator-eskalator ini hanya bergerak ke atas, kalau untuk turun kita harus menggunakan undak-undakan biasa.

Sudut luar Museum Seni.

Sudut luar Museum Seni.

Sebenarnya kawasan SoHo cukup menarik, dengan berbagai restoran, klub, dan bar yang menyajikan berbagai dekorasi eksterior maupun interior memikat.  Hanya saja, karena saya sendirian, kok rasanya cengo’ kalau mau mencoba bergabung dengan keramaian di tempat-tempat nongkrong itu, yang didominasi oleh ‘ekspat bule’ pula.  Rasanya ke SoHo lebih asyik kalau ada temannya, deh.  Jadi bisa memilih tempat makan yang nyangkut di hati, ambil satu meja bersama teman-teman, lantas asyik mengobrol dan tertawa sambil bersantap.  Lain kali, lain kali!

Lembang

Akhirnya, setelah bertahun-tahun hanya mendengar tentang Kampung Daun, saya berkunjung juga ke tempat tersebut bulan Juni lalu.  Hehe, ketinggalan banget nggak?  Terus terang, saya sebenarnya sebelumnya agak meremehkan restoran yang dikonsep bernuansa alam ini.  Saya pikir, ah paling-paling tempatnya seperti apa sih, jangan-jangan cuma sawung-sawung yang didirikan di halaman yang ditata seadanya menyerupai ‘alam’.  Dan yah, memang, saya harus telan bulat-bulat segala perilaku meremehkan saya itu.

lb-2013-01

Berkendara ke ‘atas’, kata orang Bandung, ke arah Lembang, lantas membelok ke Jalan Sersan Bajuri, cukup lama juga perjalanan kami di tengah sore hari yang gelap karena mendung sebelum akhirnya kami tiba di Kampung Daun.  Dari bagian depannya pun saya sudah terkesima, melihat sebuah toko cenderamata dan oleh-oleh dengan dinding dari kayu berwarna muda, dan terang bermandikan cahaya lampu.  Ketika melangkah masuk ke area makan, wah, rasa kagum saya berlebih-lebih lagi.

lb-2013-02

lb-2013-03

Sawung-sawung ditata mengikuti kontur daerah tersebut, dihubungkan oleh jalan setapak.  Semakin ke belakang, jalan setapak itu semakin menanjak, terkadang berubah menjadi tangga.  Sebagian tamu yang kebagian sawung di sebelah belakang, atau memang menginginkan sawung di tempat yang lebih ke atas atau lebih sepi, harus mau bersusah-payah mendaki.  Tapi banyak juga tamu yang iseng saja, tidak keberatan berlelah-lelah sedikit naik ke atas demi melihat-lihat pemandangan.  Sebuah kali berair jernih mengalir membelah kawasan Kampung Daun, menimpali aktivitas tamu dengan suara gemericik atau bahkan berdebur.  Nikmat sekali, apalagi kalau dapat sawung tepat di samping kali, beuh!

lb-2013-05

lb-2013-04

Harga makanannya memang agak mahal, namun saya rasa itu harga yang pantas untuk hidangan yang kita santap sambil menikmati suasana ‘hutan’ yang masih asri.  Dengar-dengar terkadang ada ular yang masih suka memunculkan diri dari rerimbunan.  Yah, menambah-nambah bumbu ‘bersantap di alam’ lah ya.

lb-2013-06

lb-2013-07

Beijing

Sebenarnya sih saya bukan tipe yang senang mengeluh dalam perjalanan, apalagi kalau perjalanannya dibayari alias gratis.  Kalau kesal pasti ada saja, hanya saja biasanya tidak saya endapkan di hati terlalu lama.  Paling saya kenang saja dengan perasaan geli.  Namun yang saya alami di Beijing kali ini, sungguh bikin jera rasanya, dan membuat tidak ada perasaan ingin kembali ke Beijing dalam waktu dekat, entah itu sendirian ataupun bersama biro travel.  Terutama bersama biro travel.

bj-2013-01

Memang, kalau yang namanya ikut biro travel, ya setelan default-nya adalah patuh dan pasrah pada jadwal yang disusun biro travel.  Sebelumnya saya juga sudah beberapa kali ikut perjalanan bersama biro travel, dan baik-baik saja.  Nyaris tidak ada keluhan.  Namun kali ini, haduh, terus terang jadwalnya membosankan sekali, malah bikin kesal.  Di tempat pariwisata yang diincar, diburu-buru, bahkan sampai kami tidak bisa berjalan-jalan bebas di hutong (kawasan kota tua bangsa Manchuria).  Kami dinaikkan ke becak-becak yang lantas ngebut melintasi jalan-jalan sempit hutong.  Padahal banyak toko, restoran, dan kafe menarik yang sepertinya pantas dikunjungi!   Kami malah berkali-kali digiring ke toko-toko yang pastinya sudah menjalin kerjasama dengan biro travel ybs, dilimpahi bujukan dan bahkan tipuan, agar mau membeli barang-barang yang harganya dipatok kelewatan.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Bagaimana tipuannya?  Antara lain: kami diajak masuk ke sebuah toko mutiara air tawar.  Setiap kelompok digiring memasuki ruang duduk tertentu.  Rombongan kami terpencar-pencar menjadi tiga kelompok di ruang-ruang yang agak berjauhan.  Pertama-tama kami disuguhi penjelasan tentang produk-produk yang dijual toko tersebut.  (Ini dilakukan di toko mana pun, entah itu teh, sutera, dan lain sebagainya, dan sebenarnya cukup menarik dan informatif, dengan sampel-sampel gratis yang boleh dicicip atau dibawa pulang.)

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini.  Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini. Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Tak berapa lama, masuklah seorang gadis yang manis sekali ke ruangan kami.  Dengan gaya lucu dan kekanak-kanakan, ia mengaku sebagai salah seorang putri direktur yang dipaksa ayahnya ikut melayani di toko karena mereka sedang kewalahan.  Ia mau karena bisa melatih bahasa Inggris-nya.  Namun ia berkali-kali minta maaf karena bukan instruktur yang sebenarnya, sehingga ia hanya bisa memberitahukan informasi yang terbatas.  Di sela-sela penjelasannya soal budidaya kerang mutiara air tawar, ia mengucapkan hal-hal manis seperti tidak akan lupa pada kami yang telah menjadi temannya, ingin berkunjung ke Indonesia, dan lain sebagainya.

bj-2013-03

Puncaknya, ia membagikan kepada kami masing-masing sebuah cincin.  Ia bisa melakukan itu sebagai putri direktur.  Lantas ia bilang, kala keluar dari ruangan ini dan melihat-lihat ke sekeliling toko, kalau ada barang yang dimau, bilang saja kami temannya, agar diberi diskon!  Kalau diingat-ingat lagi rasanya memang too good to be true ya semua itu.  Tapi ada saja lho yang nyaris tertipu mengeluarkan ribuan yuan untuk barang yang pasti kurang daripada itu harganya, karena merasa tersanjung sekali disukai sang putri direktur.  Kami dengan cepat mengetahui tipuan ini ketika, setelah kami ‘dilepas’ ke dalam toko, kami lekas-lekas mendatangi rombongan lain dan menanyakan apakah mereka memperoleh cerita yang sama.  Iya, betul, ternyata mereka pun didatangi perempuan yang mengaku putri direktur, dengan kisah yang sama, dengan janji diskon yang sama.  Ups!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Yah, sebetulnya bagi saya taktik ini sungguh disayangkan, hanya mendatangkan keuntungan sekejap.  Padahal para ‘korban’ menjadi tidak percaya lagi terhadap para pedagang, bahkan pariwisata, Cina atau setidak-tidaknya Beijing.  Anggota-anggota rombongan saya berbisik-bisik, “Nggak lagi-lagi deh, balik ke sini…”  Saya sendiri sih masih ingin kembali ke Istana Musim Panas, karena belum puas melihat-lihat dengan waktu hanya 45 menit yang diberikan biro travel.  Namun di sana pun harus hati-hati, jangan berbelanja di penjaja pinggir jalan dengan uang pecahan besar.  Bisa-bisa Anda mendapatkan kembalian mata uang Rusia, Taiwan, atau negara lain yang nilainya kurang daripada kembalian yang seharusnya Anda terima dalam yuan.  Bahkan, tak jarang turis malah menerima kembalian uang palsu!

Berikut ini beberapa foto dari kawasan Istana Musim Panas.

bj-2013-04

bj-2013-07

bj-2013-06

bj-2013-05

Untungnya sih saya sempat, atas seizin atasan, ‘meloloskan diri’ dari jadwal menyebalkan ala biro travel.  Saya berkeliaran sendiri dan menonton sebuah band Jepang di salah satu loka di Beijing, di daerah yang belum pernah saya singgahi sebelumnya.  Nah, kalau jalan-jalan sendiri seperti ini, saya suka!

Dan ini beberapa foto lainnya dari Beijing.

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Mesin otomat perpustakaan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina.  Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya!  Yang ini hidangan khas Sichuan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina. Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya! Yang ini hidangan khas Sichuan.

Hong Kong Museum of Art: Oktober 2012

This post is about China

Akhirnya, setelah beberapa kali hanya lewat saja di depan Hong Kong Museum of Art dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya ke Hong Kong, pada bulan Oktober 2012 ini saya berkesempatan juga berkunjung.  Kebetulan pameran istimewa yang sedang diselenggarakan cukup menarik, yaitu ‘The Secret Garden of Emperor Qianlong’, selain sejumlah pameran lainnya di gedung yang sama.

Keluar dari stasiun kereta MTR Tsim Sha Tsui, Kowloon, saya menyusuri jalanan ke arah Museum Seni, menyeberang jalan besar melalui lorong bawah tanah sampai muncul tepat di samping museum tersebut.  Hari itu, karena masih terlalu pagi dan museum belum buka, saya melipir dulu menyusuri Avenue of Stars.  Entah mengapa, kalau belum ke daerah ini dan melihat laut serta pemandangan pulau utama Hong Kong di seberang sana, rasanya ada yang kurang saat mengunjungi Hong Kong.  Setelah ngopi-ngopi sejenak di Starbucks Avenue of Stars yang merupakan salah satu tempat favorit saya, saya kembali ke Museum Seni dan membayar harga tiket khusus, 20 HKD, agar memperoleh akses ke semua pameran yang digelar di museum hari itu.

Bila dilihat sekilas dari luar, Museum Seni tidak tampak terlalu menarik, bahkan bangunannya cenderung kaku dan kuno.  Namun yang saya sukai dari arsitekturnya adalah keterbukaan dan keleluasaan yang dihadirkan sebagai bagian dari koridor tepi laut Kowloon.  Bagian dalam museum memang tak bisa sembarang dimasuki, namun sekelilingnya dan bahkan teras di lantai dua bebas-bebas saja dilewati dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang hendak bersantai atau berolahraga.

Pameran-pameran pun ditunjang oleh pamflet-pamflet dan multimedia yang sangat membantu, bahkan menggelitik pengunjung.  Khusus pameran taman Kaisar Qianlong yang tidak boleh difoto, kita jadi bisa mencicipi sedikit kedamaian dan keindahan taman yang aslinya berada di salah satu pojok Kota Terlarang, Beijing.  (Waktu ke Kota Terlarang, sayangnya seingat saya, saya juga tidak sempat mengunjungi taman ini.  Sekarang juga taman tersebut tidak bisa dilihat pengunjung karena sedang direnovasi.)  Pameran berbagi artifak tidak hanya mengajak kita menengok sekejap taman yang berada ribuan kilometer jauhnya itu, melainkan juga kepribadian dan riwayat sang kaisar serta kehidupan istana pada masanya.

Di bagian-bagian lain museum itu, memotret dibolehkan, asalkan tidak menggunakan lampu kilat demi menjaga agar barang-barang yang dipamerkan tidak rusak.   Tanpa terasa, di museum yang sepertinya tidak begitu besar itu, saya melihat dan mempelajari banyak hal hanya dalam beberapa jam.  Mulai dari kaligrafi Cina, representasi hewan dalam karya-karya seni Cina, berbagai bentuk keramik Cina dari berbagai masa – sungguh menakjubkan rasanya melihat sebuah artifak utuh yang berasal dari abad ke-3 M, bahkan dari masa yang lebih tua lagi – hingga pameran hasil karya pelukis-pelukis Cina yang berguru pada para pelukis Barat.

Dalam pameran terakhir itu, ternyata meskipun menggunakan teknik-teknik yang sama, representasi objek yang sama dari mata pelukis Cina dan pelukis Barat bisa berbeda sekali.  Misalnya, tatkala pelukis Barat menggambarkan penderitaan tawanan yang dipasung, pelukis Cina menggambarkan tawanan dengan dingin, dengan wajah yang lempeng-lempeng saja.

Puas melihat-lihat dan belajar, kita bisa bersantai sejenak di kafe museum, ataupun melihat berbagai pernak-pernik dan suvenir yang dijual di toko museum.  Sebenarnya ingin juga menikmati pagi yang tinggal secuil itu di kafe tersebut, namun hari itu saya ada agenda lain di siang hari.  Setelah membeli beberapa barang kecil di toko museum untuk kenang-kenangan seadanya, saya pun melesat pergi, dalam hati bertekad untuk mencek pameran apa yang sedang digelar di Museum Seni Hong Kong setiap kali saya kebetulan ada di kota tersebut.

 

 

Panduan ringkas menonton konser Laruku di Hong Kong dan Bangkok

This post is about China This post is about Thailand

Band rock raksasa Jepang, L’arc-en-Ciel alias Laruku, menggelar tur dunia!  Sayang sepertinya negara kita belum kebagian menjadi bagian dari tur mereka ini.  Namun bagi yang berniat mengejar mereka ke dua kota terdekat tempat konser Laruku tahun ini diselenggarakan – Hong Kong dan Bangkok – semoga tulisan kami berikut ini membantu.  Siapa tahu, kalaupun bukan Laruku, suatu hari Anda berkesempatan menonton konser bintang lain di kedua kota tersebut.

HONG KONG

Tempat penyelenggaraan: Asia-World Expo

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Hong Kong, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Anda bisa membeli tiket pertunjukan melalui HK Ticketing.  Desain situsnya memang agak ‘jadul’ dan tidak begitu enak dilihat, namun cukup mudah untuk pembelian tiket dengan menggunakan kartu kredit.  Cetak bukti pembelian, dan nanti setelah sampai di Hong Kong, tukarkan bukti pembelian dengan tiket sungguhan di cabang Tom Lee Music mana saja.  (Bisa Anda cek di Google di mana cabang TLM terdekat dengan tempat Anda menginap.)

Contoh tiket asli hasil penukaran bukti pembelian melalui HK Ticketing di Tom Lee Music.

Di mana sebaiknya menginap?

Di sekitar Expo dan bandara sebenarnya ada beberapa hotel, namun semuanya tergolong mahal.  Bila Anda tidak keberatan sih tidak apa-apa.  Namun untuk yang mencari penginapan murah-meriah, carilah penginapan di daerah Kowloon.  Cari yang sedekat mungkin dengan jaringan kereta MTR (ya, bukan MRT, yang ini singkatan dari Mass Transit Railway), misalnya di sekitar Mongkok.  Di Mongkok juga mudah memperoleh berbagai kebutuhan dan dekat dengan beberapa objek wisata lain Hong Kong, seandainya Anda ada waktu lebih untuk menjelajahi kota tersebut selain menonton konser.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Bisa dengan taksi (yang jelas akan menyita banyak uang), bis (biasanya ada rute dan potongan harga khusus bila ada acara di Asia-World Expo), atau kereta bandara (Airport Express).  Cek sebelum konser, barangkali ke situs Asia-World Expo, apakah ada potongan harga untuk pemegang tiket konser yang ingin menggunakan Airport Express!  Biasanya untuk memperoleh potongan harga itu, selain tiket konser, Anda juga harus memegang Kartu Octopus.  (Lihat artikel kami soal Hong Kong yang kami tautkan di atas untuk mengetahui tentang Kartu Octopus, ya!)  Misalnya,  kami pernah memperoleh potongan harga tiket Airport Express bolak-balik dari 100 HKD menjadi 48 HKD saja dengan menunjukkan tiket konser kami.  Bahkan yang naik dari Stasiun Tsing Yi waktu itu dibolehkan menumpang Airport Express dengan gratis!  Cepat, nyaman, dan tergolong murah, bila dibandingkan dengan taksi.

Airport Express ini bisa Anda naiki dari beberapa stasiun saja: Hong Kong, Kowloon, dan Tsing Yi.  Bila Anda menginap di Mongkok, naiklah MTR ke stasiun Central, lalu berjalankakilah mengikuti petunjuk ke stasiun Hong Kong (tidak perlu keluar ke atas tanah).

Namun harap diingat bahwa MTR tidak berjalan 24 jam!  Biasanya antara jam 11-12 malam, kereta-kereta terakhir meninggalkan stasiun keberangkatan paling ujung.  Dulu saya dan teman juga terpaksa berlari-lari demi mendapatkan kereta terakhir menuju Kowloon!  Kalau sampai ketinggalan, persiapkan diri mempergunakan moda transportasi lain.

Pemandangan di dalam Asia-World Expo.

BANGKOK

Tempat penyelenggaraan: Impact Arena

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Bangkok, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Manfaatkan situs pembelian tiket daring Thai Ticket Major.  Seperti juga HK Ticketing, nantinya bukti pembelian Anda harus ditukarkan dengan tiket asli di salah satu cabang atau outlet TTM.  Salah satunya ada di mal Siam Paragon yang terletak di pusat kota Bangkok dan mudah dicapai dengan kereta BTS.

Di mana sebaiknya menginap?

Meskipun backpacker banyak yang menyenangi Khao San Road, bila Anda ingin mudah berkeliling dengan sky train/BTS dan subway, saya menyarankan Anda mencari penginapan yang tidak jauh dari rangkaian kereta-kereta tersebut.  Saya biasanya mencari penginapan di daerah Sukhumvit.

Bila ingin mencoba apart’hotel yang tergolong murah untuk fasilitas yang tersedia, cobalah salah satu cabang Citadines yang ada di daerah Nana.  Apart’hotel ini sangat nyaman, dan cabang-cabang Citadines terletak tak jauh dari stasiun BTS Nana, dikelilingi sejumlah tempat keramaian termasuk yang hanya ramai kala malam.  Mudah mencari makanan dan berbelanja ini-itu di daerah tersebut.  Pilihan lain, bisa coba Hi-Sukhumvit, guest house yang sederhana namun bersih yang juga terletak tidak jauh dari stasiun BTS Thong Lo.  Daerah di sekitar Hi-Sukhumvit lebih tenang dan tidak ‘seajeb-ajeb’ Nana.

Di apart’hotel semacam Citadines, selain kamar yang luas dan perlengkapan dasar yang lengkap, ada pula dapur dengan peralatan memasak dan makan yang komplit sehingga Anda bisa menyiapkan makanan sendiri.

Selain dua alternatif yang kami tawarkan, masih banyak penginapan menarik, aman, bersih dengan harga terjangkau di Bangkok.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Sebenarnya, Impact Arena tidak terletak di dalam kota Bangkok, melainkan cukup jauh keluar di sebelah utara.  Bila tidak mau repot, apalagi kalau bersama teman-teman, bisa naik taksi langsung dari tempat menginap ke Arena.  Taksi di Bangkok tidak begitu mahal apalagi bila dibayar bersama oleh beberapa orang.  Atau, biar tidak repot mencari kendaraan pulang, cobalah menyewa mobil yang akan menunggu sampai konser usai.  Anda mungkin harus melewati jalan tol.

Bila ingin lebih murah, naiklah BTS ke stasiun Mo Chit (stasiun tujuan yang sama dengan bila Anda ingin mengunjungi Pasar Chatuchak).  Dari sini bisa naik taksi, atau menumpang shuttle bus yang harganya hanya beberapa puluh baht.

Semoga tulisan pendek kami membantu Anda yang hendak menonton konser ke dua kota tersebut.  Bagi-bagi cerita ya tentang pengalaman Anda nanti!

Panduan Ringkas Mengunjungi Hong Kong

This post is about China

Kapan sebaiknya mengunjungi Hong Kong?

Pokoknya, asal jangan musim badai.  Panas dan dingin relatif masih bisa diatasi, tapi tidak badai.  Segala kegiatan bisa-bisa terhenti bila badai sedang melanda Hong Kong dan sekitarnya.  Jadi, cek terlebih dahulu apakah pada tanggal yang Anda kehendaki musim badai sedang berlangsung atau tidak – kecuali bila memang gejolak adrenalin Anda membuat Anda ingin merasakan seperti apa sih badai di Hong Kong itu.  November-Desember mungkin bisa jadi pilihan bagus.  Atau, bila sasaran utama Anda adalah Disneyland, coba cari tanggal di sekitar/saat peristiwa penting macam Hallowe’en dan Natal, karena Disneyland akan semakin mempercantik diri agar sesuai dengan tema hari tersebut.

Langit musim dingin Hong Kong

Suasana Natal di Main Avenue Disneyland

Untuk merasakan pengalaman budaya yang juga unik, pastikan Anda ada di Hong Kong pada hari Minggu, ketika wilayah ini berubah menjadi ‘Indonesia Mini’.  Saat itu, saudara-saudari kita yang bekerja di sana memperoleh hari libur dan keluar beramai-ramai untuk beraktivitas bersama dan bersilaturahmi.  Bahasa-bahasa dari Indonesia mudah terdengar di dalam kereta, bis, Victoria Park, Masjid Kowloon, dan lain sekitarnya.  Ini membuat saya berpikir-pikir mengenai apa betul sebuah kebudayaan baru sedang terbentuk melalui hubungan yang terjalin antara tenaga kerja Indonesia dan anak-anak yang mereka asuh.

Masjid Kowloon – hanya beberapa langkah dari salah satu pintu keluar stasiun kereta Tsim Sha Tsui.

Bagaimana mengunjungi Hong Kong?

Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia dan Cathay Pacific memiliki jalur penerbangan langsung dari Jakarta ke Hong Kong.  Untuk maskapai yang lebih murah, bisa pilih Mandala Air (seperti yang saya lakukan).  Bila hendak menggunakan AirAsia, dari Jakarta harus menuju kota lain dulu seperti Kuala Lumpur.  Rencananya, tahun 2011 AirAsia akan membuka jalur langsung Medan-Hong Kong.

Mandala Air juga terbang ke Macau, dan mungkin Anda ingin mengunjungi satu lagi wilayah administrasi khusus Cina ini terlebih dahulu atau sesudah menyambangi Hong Kong.  Hong Kong dan Macau dihubungkan oleh feri dengan frekuensi antara setengah jam sampai satu jam sekali, tergantung siang ataukah malam.  Harga feri sekali jalan juga berbeda-beda tergantung waktu – malam tentunya lebih mahal.  Ada beberapa perusahaan yang melayani rute HK-Macau dengan kualitas dan harga tidak jauh berbeda.

Asal hati-hati saja memilih feri yang tepat menuju terminal yang Anda kehendaki di Hong Kong: apakah yang akan berlabuh di Hong Kong-Macau Ferry Terminal, Hong Kong Island (bila Anda hendak menuju The Peak, Museum Lilin Madame Tussaud, atau naik kereta ekspres menuju Disneyland) ataukah di China Ferry Terminal, Kowloon (di mana Anda bisa menelusuri Avenue of Stars, Museum Antariksa, Museum Seni, Museum Sejarah, Masjid Kowloon, Kowloon City, dan Mongkok).

Kecuali Anda meminta khusus, petugas karcis akan memberikan tiket feri yang paling dekat dengan waktu Anda membeli.  Pemeriksaan imigrasi di terminal feri Hong Kong dan Macau sigap memeriksa dan melewatkan penumpang, sehingga tidak perlu khawatir akan ketinggalan feri selama Anda memastikan diri tidak bermasalah.

Naik feri asyik, cepat, dan menawarkan pemandangan indah dari jendela, namun hati-hati bila Anda mudah mabuk.  Saya sendiri tidak mudah mabuk, namun pernah kombinasi dari arus laut yang kencang, feri yang ngebut, dan perut yang kosong tak urung membuat saya puyeng juga.  Keadaan saya membaik setelah lambung saya diganjal dengan mi instan yang dijual di atas feri.

Sementara dari Cina daratan, ada beraneka ragam mode transportasi seperti feri dan bis.

Bagaimana berkeliling di dalam Hong Kong?

Pertama-tama, tentu jangan lupa memastikan alamat dan mencek lokasi tempat-tempat yang ingin Anda kunjungi di Google Maps.  Dengan cara ini, Anda bisa menimbang-nimbang mode transportasi terbaik yang bisa Anda gunakan.

Manfaatkan kartu Octopus, kartu transportasi (dan belanja) yang praktis dan menawarkan potongan harga di berbagai tempat.  Contohnya, tanpa kartu Octopus, tiket sekali jalan dari stasiun Mongkok ke Tsim Sha Tsui adalah HKD 5, yang harus Anda beli di mesin tiket otomatis.  Bila menggunakan si kartu gurita, harga tiket yang akan dipotong otomatis dari kartu Anda yang disentuhkan ke layar khusus di pintu masuk dan keluar, adalah HKD 4,5.

Begitu tiba di salah satu gerbang masuk Hong Kong, carilah penjual kartu Octopus (misalnya loket layanan pelanggan di stasiun kereta atau toko waralaba).  Bila bukan edisi koleksi yang bisa disimpan terus, kartu Octopus ‘pinjaman’ (on-loan) dihargai HKD 150 pada pembelian pertama.  HKD 50 di antaranya adalah uang jaminan yang akan dikembalikan sewaktu Anda memulangkan kartu Anda, sementara 100-nya bisa Anda manfaatkan.

Bila isi kartu habis, tinggal Anda isi ulang di mesin yang tersedia di stasiun kereta atau di toko waralaba.  Bila Anda tak sempat mengisi namun kredit kartu Octopus sudah mengenaskan, kartu Anda bisa bernilai minus, kok.  Nilai minus itu akan ditambal oleh pengisian ulang berikutnya atau dipotong dari uang jaminan Anda.  Saat pemulangan kartu, ada pemotongan biaya pengembalian kartu sebesar HKD 7.

Bila Anda menggunakan feri dan tiba di terminal Hong Kong Island, bila merasa lebih sreg daripada menggunakan bis atau taksi, Anda bisa berjalan sedikit untuk mencapai stasiun kereta Sheung Wan atau Hong Kong (dan dari situ Anda bisa meneruskan melalui lorong bawah tanah ke Central).

Sementara saat mendarat di terminal feri Kowloon, Anda bisa langsung menaiki bis atau taksi yang menanti di sebelah bawah terminal.  Bila bugar dan punya banyak waktu, susuri saja tepi laut ke arah selatan, melewati menara jam, dermaga feri internal Hong Kong yaitu Star Ferry Piers dan Kowloon Public Piers (tempat Anda bisa memperoleh feri menuju pulau-pulau lain di wilayah Hong Kong), melewati Museum Seni dan Museum Antariksa, sampai tiba di Avenue of Stars, di mana Anda bisa menyaksikan cap-cap tangan para pelaku dunia perfilman Hong Kong dan patung Bruce Lee.  Dari Avenue of Stars, Anda bisa berjalan kaki (lagi) menuju salah satu dari dua stasiun MTR terdekat, Tsim Sha Tsui atau East Tsim Sha Tsui.

Star Ferry Piers

Menara Jam

Avenue of Stars

Bila Anda tiba melalui bandar udara HKIA, saya tidak menyarankan taksi bila ingin berhemat.  Misalnya saja, dari HKIA ke Kowloon bisa habis HKD 300 sekali jalan.  Manfaatkan bis – jaringan bis dan bis mini Hong Kong sangat baik.  Informasi rute yang tersedia di situs perusahaan-perusahaan bis sangat terperinci, termasuk memaparkan foto masing-masing halte tempat setiap bis berhenti dan harga yang harus Anda bayarkan.  Huruf depan kode bis biasanya adalah A atau E, namun bis-bis ini beroperasi hanya sampai tengah malam.  Selepas tengah malam, Anda harus mencari bis malam dengan kode N.  Misalnya, pukul 1 siang, dari bandara ke Mongkok Anda bisa menggunakan bis A21, sementara pada pukul 1 malam Anda harus mencari bis N21.

Peringatan bila menggunakan bis: sediakan uang pas, karena di bis tidak ada kembalian.  Kalau tiket bis adalah HKD 23 sementara Anda hanya punya pecahan HKD 30, ya HKD 7 itu akan melayang.  Pesan moralnya: di Hong Kong, uang receh sangat penting.

Di dalam salah satu gerbong Airport Express.

Cara praktis lain menuju kota dari bandara adalah menggunakan Airport Express.  Kereta khusus ini hanya berhenti di 5 perhentian, yaitu Asia World-Expo, HKIA, Tsing Yi, Kowloon, dan Hong Kong Station.  Harga tiket bolak-balik adalah HKD 100 tanpa kartu Octopus dan HKD 72 dengan kartu Octopus.  Biasanya juga ada potongan harga lagi untuk hadirin acara di Asia World-Expo (cek saja laman transportasi di situs loka tersebut).  Saya pernah dapat tiket bolak-balik Hong Kong Station-Asia World-Expo (berlaku satu hari) dengan harga hanya HKD 48 dengan kartu Octopus.

Bila Anda hendak menuju Disneyland Resort,  naikilah MTR jalur Hong Kong Station-Tung Chung.  Turun di Sunny Bay, berpindah ke kereta ekspres Disney dengan wujud yang pasti langsung memikat hati para penggemar Disney.  Anda bisa menggunakan kartu Octopus, ataupun membeli tiket bolak-balik seharga HKD 50 yang bisa disimpan sebagai kenang-kenangan.

Menanti Disneyland Express di stasiun Sunny Bay.

Anda pasti kenal siapa yang punya kepala berbentuk seperti jendela itu!

Peta jaringan kereta Hong Kong bisa Anda peroleh di situs resmi perusahaan kereta dalam-kota HK, MTR (Mass Transit Railway).

Bila sasaran Anda adalah The Peak, di mana Anda bisa mengamati HK dari ketinggian dan memuaskan rasa tak kesampaian bertemu langsung bintang terkenal di Madame Tussaud, Anda bisa naik bis yang menyusuri jalan menanjak berliku-liku, atau naik tram khusus The Peak.  Perhatikan tiket yang Anda beli, dan jangan keburu mengomel ketika harus membayar mahal, karena tiket ada bermacam-macam.  Ada tiket yang untuk naik tram The Peak saja, atau yang sekaligus dipaketkan dengan tiket masuk ke Sky Terrace, Madame Tussaud, ataupun tiket bis wisata hop on-hop off sepuasnya di Hong Kong Island.

The Peak, yang sebetulnya tidak di puncak-puncak banget.

Hong Kong dilihat dari bis yang sedang mendaki menuju The Peak.

B-beb-beb-beb Bruuuuce!

Trem dan taksi di Hong Kong.

Bagaimana dengan taksi?  Taksi yang beroperasi di wilayah HK berbeda-beda , ditandai oleh tiga macam warna bodi:

  • merah, yaitu taksi perkotaan.
  • hijau, taksi New Territories.
  • biru, taksi wilayah Lantau.

Yang perlu Anda ingat, tak semua supir taksi HK:

  1. bisa berbahasa Inggris,
  2. (boro-boro berbahasa Inggris) bisa membaca huruf Latin pun tidak,
  3. cukup ramah untuk tak mengomel di hadapan Anda dengan bahasa Kanton/Putonghua yang tak Anda mengerti.

Pernah saya menunjukkan sebuah alamat ke supir taksi.  Pertama-tama saya mengajaknya berbicara dalam bahasa Inggris, dan dia menyahut ‘no English’.  Oh, oke.  Toh saya sudah menyiapkan alamat yang saya tuju dalam tulisan Cina.  Dia mengomel sedikit, tampak kesal karena harus repot mengeluarkan kacamatanya untuk membaca.  Setelah membaca, eh dia terus mengomel dalam bahasa Kanton dengan nada keras.  Mungkin kesal karena ternyata tempat tujuan saya itu dekat, tak sampai HKD 40 biayanya.  Saya juga ikut sebal, karena merasa si supir kok tidak sopan sekali.  “Kalau ini supir taksi Jakarta, sudah saya ajak berantem, nih,” pikir saya.  Yah, mungkin ini hanya beda budaya, dan kita sebaiknya siap-siap saja menghadapi yang beginian, tak perlu dimasukkan ke hati atau dipakai menjadi acuan menilai Hong Kong secara keseluruhan.

Di mana sebaiknya menginap di Hong Kong?

Kalau ingin berhemat, banyak hotel, guest house, atau hostel murah bertebaran di Hong Kong, terutama di sekitar jalur stasiun Tsim Sha Tsui sampai Prince Edward.  Jangan kaget dulu bila alamat hostel yang telah Anda pesan ternyata mengantarkan Anda ke sebuah gedung tinggi yang tampak agak kumuh dan tidak meyakinkan.  Oleh karena tanah di Hong Kong sudah langka, mau tak mau pembangunan harus diarahkan ke atas.  Satu bangunan bisa ditempati oleh sejumlah hostel berbeda, mungkin juga bersama-sama toko, tempat tinggal, dan kantor.  Meski bagian luar gedung barangkali membikin hati agak ciut, hostel-hostel ini biasanya , aman, dan berfasilitas cukup lengkap.

Ya toh? Sekilas tidak meyakinkan…

Hostel yang bisa saya sarankan adalah Ah Shan Hostel yang terletak di Argyle Street, dekat sekali dengan stasiun MTR Mongkok (keluar-masuk lewat pintu D1).  Hostel ini dimiliki sepasang suami-istri Indonesia yang masih bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, sehingga  memudahkan komunikasi.  Harga kamar terhitung murah untuk ukuran Hong Kong, antara HKD 250 sampai 350, tergantung kapasitas dan sedang peak season atau tidak.

Fasilitas hostel ini antara lain: di setiap kamar ada jaringan Wi-Fi gratis, televisi (meski mungkin saluran berbahasa Inggris hanya ada satu atau dua, tapi apa Anda datang ke HK demi menonton TV?), air panas untuk mandi, sabun dan sampo, serta AC.  Handuk bersih bisa Anda pinjam, gratis.  Di lobi juga ada 2 PC yang bisa dipakai bergantian untuk berinternet-ria.  Air minum bebas Anda ambil dari dispenser.

Makan apa nih di Hong Kong?

Bila mau murah, 7-Eleven akan selalu menjadi penyelamat Anda.  Seporsi nasi di HK terhitung besar untuk ukuran orang Indonesia, sehingga bisa dimakan berdua.  Lumayan kan, HKD 16 dibagi berdua untuk sekali makan?  Hanya saja, yang perlu diingat: toko waralaba di HK tak selalu memberikan sumpit, sendok, atau kantong belanja, sehingga Anda sebaiknya selalu membawa peralatan makan sendiri.  Kantong plastik dihargai 50 sen selembar di 7-Eleven – agar lebih murah dan ramah lingkungan, mengapa tak membawa tas belanja sendiri?

Ada sejumlah (jaringan) restoran berlabel halal, antara lain Popeye.  Restoran atau kedai halal juga banyak terdapat di sekitar Masjid Kowloon.

Kalau kita pandai-pandai mengatur anggaran, Hong Kong bisa jadi tempat tujuan wisata yang lebih murah daripada Singapura.  Paling-paling yang lebih mahal adalah tiket pesawat ke sana, namun ini pun bisa disiasati dengan membeli tiket penawaran murah.

Pemandangan dari Starbucks di Avenue of Stars.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers