Kunjungan Singkat ke Hakone

This post is about Japan

MENJELAJAHI HAKONE

Masih ingat Hakone?  Di kota yang terletak di sebelah barat daya Tokyo inilah terletak Museum Le Petit Prince yang pernah kami bahas.  Nah, dalam tulisan kami kali ini, akan kami bahas secara lebih mendalam mengenai kota kecil yang menarik ini.

Bis berbentuk ‘jadul’ melenggang di jalanan Hakone yang lengang.

Apa daya tarik Hakone?

Ini beberapa di antaranya:

-          Bila Anda suka mengunjungi museum atau menggemari karya seni, di Hakone terdapat berbagai museum, selain Museum Le Petit Prince tentunya.  Ini beberapa di antaranya: Lalique Museum, Hakone Glass Forest Venetian Glass Museum, Hakone Open-Air Museum, Pola Museum of Art.

-          Mandi air panas!  Hakone terletak di lereng pegunungan berapi.  Tidak heran, sumber mata air panas melimpah.  Paduan suhu gunung yang sejuk atau bahkan dingin dengan air panas alami sungguh menyenangkan.  Tapi ingat, baca, pahami, dan laksanakan baik-baik ya peraturan dan tatacara di pemandian air panas.  Jangan asal masuk dan mencebur.

-          Melihat gunung Fuji di kejauhan dari setidaknya tiga titik (yang ditandai di peta Hakone).

-          Kunjungi ‘lembah neraka’, Owakudani, yang nyaris tandus dengan urat belerang di sana-sini – satu lagi bukti nyata aktivitas vulkanis di wilayah Hakone.  Bila tidak mau menginjakkan kaki langsung, Owakudani bisa dinikmati dari udara, dengan menggunakan ropeway.

-          Ropeway?  Apa itu?  Sederhananya sih: kereta gantung.  Salah satu hal yang menarik dari Hakone adalah transportasi yang dirancang dan dikelola dengan sedemikian baik sehingga memaksimalkan pengalaman wisatawan berkeliling kota tersebut dan wilayah sekitarnya.  Perjalanan menuju tempat-tempat wisata pun menjadi keasyikan tersendiri.  Selain mencicipi Hakone Tozan Train, kita juga bisa menumpangi bis-bis dengan rute naik-turun gunung membelah hutan, menyeberangi Danau Ashi dengan kapal bergaya zaman dahulu, serta menaiki ropeway dan cablecar.  Semua bisa dinaiki cukup dengan free pass Hakone (lihat penjelasan di bawah).

Berbagai penganan yang membuat jantung fans Evangelion kebat-kebit saat melihatnya.

-          Bila Anda penggemar Neon Genesis Evangelion, perjalanan ke Hakone adalah ‘ziarah’ ke wilayah yang dijadikan latar lokasi kota rekaan Tokyo III dalam serial anime/manga laris tersebut.  Tak heran, di Hakone banyak dijual pernak-pernik dan makanan ringan bertema Evangelion.

-          Dan tentu saja… wisata kuliner yang amat menggoda selera!

Bagaimana menuju ke sana?

Apabila Anda menuju Hakone dari Tokyo seperti kami, Anda bisa menggunakan kereta JR ataupun bis Odakyu.  Kami memilih cara yang lebih murah: naik kereta biasa dengan memanfaatkan free pass Hakone dari Odakyu.  Tiket ini bisa dibeli di situs-situs ataupun stasiun-stasiun kereta Odakyu.  Di Shinjuku (titik awal keberangkatan kami), loket penjualan tiket Odakyu ada di dekat pintu keluar barat.

Harga tiket dewasa untuk 2 hari (yang kami pilih) adalah 5000 yen dari Shinjuku (harga anak-anak 1500 yen).  Harga tiket dewasa untuk 3 hari adalah 5500 yen, harga anak-anak 1750 yen.  Bila ingin lebih nyaman, bisa membeli tiket kereta ekspres terbatas ‘Romancecar’ yang waktu tempuhnya lebih cepat dan keretanya pun lebih nyaman, dirancang khusus untuk wisatawan.  Cukup tambahkan 870 yen dari harga dasar free pass Hakone.  Oya, tiket Anda ini berlaku dari Shinjuku ke Hakone, berputar-putar di Hakone, sampai kembali lagi ke Shinjuku dalam batas waktu yang ditentukan.

Perjalanan dari Shinjuku ke stasiun Hakone-Yumoto dengan kereta biasa memakan waktu 115 menit.  Dengan Romancecar hanya butuh waktu 85 menit.

Stasiun Hakone-Yumoto: kereta-kereta dari luar kota seperti Tokyo akan menurunkan Anda di stasiun ini.

Sebaiknya menginap di mana, ya?

Kalau Anda berangkat ke Jepang dengan tekad jalan-jalan hemat, izinkan kami memberikan sedikit saran: longgarkan anggaran Anda, dan jangan segan menghabiskan uang yang agak banyak untuk memperoleh pengalaman penuh di Hakone.  Menginaplah di salah satu penginapan atau hotel yang menyediakan fasilitas pemandian air panas, kamar dan pelayanan bergaya tradisional, serta penyajian hidangan khas lokal di kamar tidur.  Harganya memang tidak murah, per orang lebih dari satu juta rupiah per malam.  Tapi tidak akan menyesal!

Namun, bila Anda merasa keberatan dengan harga itu, hotel-hotel biasanya menyediakan juga kamar bergaya modern yang lebih murah, namun tentunya lebih sempit dan tanpa acara makan-makan di kamar.  Di hotel yang kami inapi, Suimeso, kamar-kamar modern tersebut terletak di bangunan yang dipisahkan oleh jalan kecil.  Kamar untuk satu orang saja pun ada.  Bila hendak mandi air panas, penghuni bangunan modern harus menyeberang jalan, karena pemandian terletak di lantai teratas bangunan yang kami tempati.  Selain soal praktisnya mendatangi pemandian, penyewa kamar bergaya tradisional mendapat keuntungan lain: dapat memperoleh kamar yang menghadap ke sungai dan hutan, sajian yang menyegarkan mata.

Lobi Suimeiso.

Pemandangan yang terlihat dari jendela kamar kami.

Kami memilih Suimeiso yang dekat dengan stasiun Hakone-Yumoto, yang juga punya keuntungan lain lagi, yakni kehadiran toko cenderamata di lantai dasar.  Yukata yang dijual di toko ini pun cukup murah dan cantik-cantik.

Kamar tradisional yang kami sewa sebenarnya sudah mirip sebuah rumah kecil tradisional.  Pintu depannya berupa pintu geser.  Begitu masuk, ada rak sepatu dan bakiak yang berjejer di depan undakan menuju kamar utama.  Persis betul dengan rumah.  Di dalam kamar alas kaki ya harus selalu dilepas.

Bakiak maupun yukata untuk dikenakan setelah usai mandi air panas disediakan oleh hotel.

Setelah bagian depan ini, di sebelah kiri ada toilet, dan ada pintu lagi yang membatasi tempat meletakkan sepatu dengan kamar utama.  Kamar utama berfungsi ganda, sebagai ruang makan dan tempat beraktivitas, dan kala malam disulap oleh pramuwisma menjadi kamar tidur.

Beginilah rupa kamar utama di luar waktu tidur:

Lantas beginilah rupanya setelah waktu tidur hampir tiba, meja-kursi disimpan, dan futon (kasur tradisional) telah digelar:

Selain toilet, juga ada kamar mandi modern di sebelah dalam, yang dilengkapi dengan bath tub dan shower – untuk digunakan jika Anda tak berminat mandi pagi, siang, sore, malam di pemandian terus.  Bila tak hendak menonton TV yang pesawatnya disediakan, di dalam kamar disediakan mainan tradisional yang boleh dicoba saat bersantai.

Contoh rencana perjalanan, bagaimana?

Saat membeli karcis, kita akan diberi selembar peta Hakone dan sekitarnya, yang juga menunjukkan moda-moda transportasi mana saja yang bisa kita naiki tanpa membayar lagi, dan juga beberapa rute perjalanan yang direkomendasikan.  Oleh karena keterbatasan waktu, kami tidak mengikuti rekomendasi itu, melainkan merancang sendiri rute kami.  Beginilah pengalaman kami:

Sekadar menyusuri tepian sungai ini pun sungguh pengalaman menenangkan yang berharga.

Tiba di Hakone-Yumoto, hari sudah sore.  Kami menuju hotel dengan berjalan kaki, sambil menengok sungai lebar dan bersih yang mengalir dekat stasiun serta menyusuri trotoar lebar dengan toko-toko oleh-oleh dan penganan tradisional di sisinya.  Ketenangan kota ini, kontras dengan Tokyo yang hiruk-pikuk nyaris sepanjang waktu, kontan membuai kami.  Ketika kami tiba di hotel, dengan mimik agak khawatir para pegawai hotel menyambut kami.  Ups.  Kami memang terlambat tiba dari waktu yang kami janjikan, dan mereka rupanya telah bertanya-tanya.

Salah seorang pegawai pun mengantarkan kami ke kamar.  Ia memberitahukan bahwa makan malam akan dihidangkan tak beberapa lama lagi.  Kami menunggu sambil mengaso dan menikmati udara segar yang menghambur dari jendela yang sengaja kami buka lebar-lebar.  Ketika akhirnya pramuwisma tiba mengantarkan makanan, malah kami jadi agak ‘panik’ sendiri melihat betapa banyaknya santapan yang disajikan!  Beraneka ragam, berwarna-warni, semua tampak menggoda.  Dan rasanya?  Wuih!  Kelas satu.  Tak heran, karena bahan makanan yang digunakan tampaknya adalah yang terbaik dan segar dari wilayah sekitar.  Meski awalnya rasanya tak mungkin menghabiskan semuanya, tanpa sadar satu per satu makanan berpindah tempat ke dalam lambung kami sehingga nyaris licin tandas.

Ini salah satu alasan Anda tak akan menyesali pergi ke Hakone. Jadi ‘raja dan ratu semalam’!

Usai makan, pramuwisma – seorang ibu-ibu yang sangat ramah dan santun, yang meskipun bahasa Inggrisnya terbatas selalu berusaha sekuat tenaga membantu kami – kembali untuk membereskan meja makan.  Kami memutuskan untuk mencoba keluar sebentar, melihat-lihat kota.  Saat itu baru sekitar pukul 8 malam.  Betapa kagetnya kami ketika mendapati jalanan telah lengang!  Ya, Hakone, kota pariwisata yang dibanjiri turis dari berbagai penjuru dunia ini, tidak mengubah gayanya sebagai sebuah kota kecil: kebanyakan toko tutup sebelum hari beranjak terlalu malam, dan para penduduk setempat pun ‘menghilang’ dari jalanan.

Akhirnya kami kembali ke hotel dan memutuskan untuk menikmati pemandian air panas saja.  Yah, memang ini salah satu inti mengunjungi Hakone.  Malam di kota tetirah ini adalah untuk dinikmati dengan santai, bukan dengan berkeliaran melihat-lihat pusat perbelanjaan.

Keesokan harinya, kami memperoleh sarapan yang ukurannya juga di luar kelaziman sarapan ala Indonesia.  Benar-benar mengenyangkan!  Bisa dibilang kami berguling keluar hotel saking penuhnya perut.

Kami mendatangi halte bis di seberang stasiun Hakone-Yumoto.  Di sana ada sejumlah petugas yang siap membantu kami mencari bis yang tepat dan mengantri di jalur yang sesuai.  Kami menjelaskan kepada salah seorang di antaranya bahwa kami ingin menaiki kapal di Danau Ashi.  Dengan sigap ia mengarahkan kami ke antrian bis jalur K, sambil mengingatkan agar tidak turun di dermaga Motohakone-ko, tujuan awal kami.  Rupanya hari itu tidak ada pelayaran dari dan ke situ.  Padahal niat kami naik kapal dari situ adalah agar bisa berlayar dekat torii merah yang tertanam di dalam bagian dangkal danau di dekat Odakyu Hotel de Yama.  Yah, apa boleh buat.  Kami pun turun di Hakonemachi-ko dan menanti kapal yang akan membawa kami.

Tempat membeli tiket kapal dan mengantri di Hakonemakochi-ko.

Kapal pariwisata Danau Ashi tampil menggelitik dengan wujudnya yang seperti kapal-kapal kuno.  Langsung deh, teringat film-film bajak laut zaman dahulu.  Kapal bertolak setiap 30-40 menit sekali.  Berhubung kapal yang akan kami naiki belum tiba, kami pun melihat-lihat dan berfoto-foto dulu di sekitar dermaga.  Saat itu mendung menggelayut, agak mencemaskan.  Bahkan sebelumnya saat kami berada dalam bis, hujan juga sempat turun. Cuaca di Hakone memang cepat berubah-ubah, dan wisatawan pun diharap memahami bila tahu-tahu saja kapal ataupun moda transportasi lain menghentikan pelayanan untuk sementara karena cuaca yang tidak memungkinkan.

Bajak laut datang!

Untunglah, kapal kami, Victory, tidak ditunda keberangkatannya.  Kami pun berlayar – meski tanpa layar – membelah Danau Ashi, menikmati pemandangan yang terbentang luas di depan mata.  Sesaat rasanya tidak ada yang namanya keburukan dan kejahatan di dunia ini.  Semuanya damai.  Kami berusaha bertahan selama mungkin di geladak atas agar bisa melihat sekeliling sebanyak-banyaknya. Namun, bila tidak lagi kuat diterpa udara dingin di atas ataupun bila hujan turun, geladak bawah yang nyaman siap menyambut.  Di bawah ada toko kecil yang menjual penganan dan berbagai suvenir khas sightseeing cruises itu, termasuk Hello Kitty edisi khusus.  Sayang, karena cuaca, kami gagal melihat Gunung Fuji dari danau, dan juga hanya melihat torii merah dari kejauhan.  Namun pelayaran itu pun sudah sangat berkesan.

Geladak bawah Victory. Jendela-jendela besar memungkinkan kita tetap menikmati pemandangan di luar.

Oya, bila ada laki-laki berpakaian kapten kapal bajak laut mengajak berfoto bersama, harap ingat bahwa itu tidak gratis, ya.  Harganya juga lumayan untuk selembar foto yang telah dicetak.  Tapi buat kenang-kenangan, lucu juga, apalagi saat diserahkan foto sudah ditempatkan dalam map khusus yang juga dihiasi gambar-gambar kapal-kapal pariwisata itu.

Setibanya di dermaga Togendai-ko, kami bergegas menuju stasiun ropeway guna menaiki kereta gantung menuju Sounzan.  Kami ganti kereta gantung di Owakudani, dan melihat-lihat lembah neraka itu dari sebelah atas saja.  Tidak cukup waktu untuk mencoba turun ke bawah.  Keberuntungan kami muncul: saat sudah pasrah tidak akan bisa melihat Gunung Fuji karena awan yang cukup tebal, tahu-tahu matahari bersinar cerah dan kami pun bisa melihat pucuk gunung simbol Jepang itu!  Yes!  Berarti bisa ‘sah’ disebut sudah ke Jepang, dong?  Hehehe.

Bagian dalam kereta gantung.

Perhatikan karakter kanji ‘besar’ yang terlihat di dekat puncak gunung.

Owakudani, dari atas. Urat belerang terlihat berwarna kuning di bebatuan.

Dari Sounzan, kami berpindah ke cablecar, trem dengan rel miring menuruni gunung ke stasiun Gora.  Trem ini membelah kawasan pemukiman, sehingga banyak dimanfaatkan juga oleh penduduk setempat yang tinggal di lereng gunung.

Trem dari Sounzan ke Gora.

Saat menaiki trem, seisi dunia terasa miring…

Dari Gora, kami menaiki bis ke Museum Le Petit Prince, yang kisahnya bisa Anda baca di tulisan kami tersendiri.  Sepulang dari museum, kami naik Hakone Tozan Train yang berwarna merah khas dari Gora menuju Hakone-Yumoto.  Setelah mengambil barang-barang yang sempat kami titipkan di hotel, kami kembali ke stasiun dan bersantap di kafe yang dihiasi sejumlah model kereta berukuran kecil.  Begitu kereta yang akan membawa kami pulang ke Tokyo tiba, maka berakhir pulalah kunjungan singkat kami di kota kecil itu.

Sampai jumpa lagi, kereta Hakone Tozan!

 

Museum si Pangeran Kecil di Hakone

This post is about Japan

Hakone.  Kota kecil, sekitar 115 menit naik kereta biasa ke sebelah barat daya Tokyo, terkenal karena pemandian air panasnya.  Sepi, dibangun mengikuti kontur gunung.  Pukul delapan malam saja toko-toko sudah tutup, dan nyaris tak ada yang berkeliaran selain turis-turis bertampang bingung seperti kami yang mengira kota itu akan sama hiruk-pikuk sampai jauh malam seperti Tokyo.

Namun siapa sangka di kota kecil itu, terletak sejumlah museum yang menyimpan warisan seni dunia dari berbagai penjuru.  Ada POLA Museum of Art; Hakone Glass Forest Venetian Glass Museum; Lalique Museum; Open-Air Museum; dan yang membuat kami penasaran… museum Le Petit Prince dan Saint-Exupéry.  Terus terang, sampai tiba di Hakone, saya tak tahu keberadaan museum ini.  Sewaktu menemukannya di peta wisata, hati saya pun tergelitik, terkenang akan buku yang saya baca bertahun-tahun lalu.  Mengapa museumnya bisa ada di kota yang mungkin namanya saja kalah kesohor dari kota-kota lain di Jepang?

Baiklah, sebelumnya, mari bicara tentang cara mencapai Hakone.  Kami naik kereta lokal Odakyu Line dari Shinjuku, setelah sebelumnya membeli freepass untuk 2 hari seharga 5000 yen di Shinjuku. (Freepass ini, ada juga yang berlaku untuk 3 hari seharga 5500 yen, bisa dibeli di semua stasiun Odakyu Line.)  Sebenarnya, dengan menambah 870 yen/orang, kami bisa mencicipi Romance Car yang lebih cepat dan nyaman, namun saat itu kami memutuskan untuk berhemat.

Freepass Hakone. Dan jempol tangan kiri saya. (Siapa tahu Anda bertanya-tanya.)

Dengan freepass ini, kami tak perlu lagi repot-repot memikirkan transportasi bolak-balik Shinjuku-Hakone.  Kami juga bebas menggunakan berbagai transportasi di dalam Hakone, mulai dari bis, kereta Tozan, cablecar Tozan, ropeway, sampai kapal pariwisata Danau Ashi.  Di 50 fasilitas Hakone kita juga bisa memperoleh diskon, cukup dengan menunjukkan freepass di tempat-tempat yang memajang lambang burung pelatuk biru-merah.

Baiklah, mari berfokus kepada Museum Le Petit Prince.  Terpaksa segala sesuatu saya cepatkan dulu.  Kami telah tiba di stasiun Gora, tempat pertemuan beberapa moda transportasi umum di Hakone. Di halte depan stasiun kami menunggu bis S, yang rutenya digambarkan berwarna ungu tua di peta-peta pariwisata.  Mengingat bis S melintasi halte ini dua kali dalam perjalanan bolak-balik menempuh rutenya, pastikan kita menaiki bis dengan arah yang benar – yang menuju Shisseikan-mae.  Tanyakan saja pada supir, “Hoshi no Oujisama e?”, dan bila ia menjawab ya, monggo naik ke bisnya.

Bis S, yang supirnya pasti sudah sering mendengar kata-kata “Hoshi no Oujisama…”

Bis pun menempuh jalanan di gunung yang berkelok-kelok.  Sebelah kiri dan kanan jalanan pemandangan masih sangat asri, dengan pepohonan besar yang menaungi.  Rumah atau bangunan di tepi jalan tak selalu ada.  Saya jadi berpikir: mungkin memang pas juga, ya, museum Le Petit Prince dibangun di tempat seperti ini.  Senyap, rindang, langit terbuka luas, dengan pegunungan di latar belakang.

Sewaktu turun di depan Museum Le Petit Prince, saya terperangah.  Tentu saya sudah menduga bahwa bangunan museum akan bergaya Eropa.  Namun tetap saja rasanya terkejut ketika museum tersebut benar-benar mewujud di depan mata.  Pagar putih memisahkan area museum dari sekelilingnya, namun sekaligus tampak hangat dan mengundang.  Bendera tricolore Prancis berhiaskan ilustrasi si pangeran kecil karya Saint-Exupéry melambai pelan.

Seperti anak kecil lagi rasanya ketika memasuki area museum.  Kami disambut kolam dengan patung planet sang pangeran kecil dan fasad bangunan yang bergaya pedesaan Prancis.  Setelah membeli tiket dewasa, kami menuju pintu masuk museum dan disambut wangi mawar.  Dekorasi tambahan museum berubah-ubah sepanjang tahun, seturut hari besar atau musim yang sedang dirayakan.  Kali ini temanya adalah mawar – bunga yang juga berperan penting dalam cerita Le Petit Prince.  Brosur museum pun dibuat berbentuk mawar.

Loket karcis.

Pintu masuk setelah loket. Perhatikan mawar-mawar segar yang dipajang di sebelah kanan.

Oya, sebelum melangkah melewati pintu masuk, terlebih dahulu kami mengambil denah museum yang digunakan untuk permainan mengumpulkan cap.  Permainan ini, yang kerap ditemui di objek-objek wisata Jepang, kelihatan sepele, namun seru juga.  Kita dibuat mencari-cari cap yang tersedia, terkadang di pojok-pojok yang belum tentu kita datangi kalau tidak melaksanakan permainan ini.

Taman dan desa tiruan Prancis, lengkap dengan sebuah kapel kecil, sudah membuat kami kegirangan, padahal kami belum lagi masuk ke bangunan utama museum.  Sedikit lupa kami ada di Jepang; rasanya seperti terlontar ke benua lain, ke waktu yang lain.  Di taman dipajang sejumlah patung karakter yang muncul dalam buku Le Petit Prince.  Semakin sureal rasanya.  (Sedikit petunjuk: salah satu cap museum bisa Anda temukan di kapel yang seolah tersembunyi di sudut…)

Terlihatkah si pangeran kecil?

Kapel kecil yang sendu dan agak tersembunyi.

Kenalkah Anda siapa dia?

(Saya sengaja kefoto, kok.)

Bagian luar bangunan museum memang dibuat meniru Prancis di masa hidup Saint-Exupéry, namun bagian dalamnya lebih spektakular lagi: kami dibawa menyusuri tiruan tempat-tempat yang pernah ditinggali ataupun dikunjungi sang penulis semasa hidupnya, sesuai urut-urutan waktu.  Jadi dari Prancis yang nyaman dan damai, kami dibawa ke Afrika Utara, lantas ke Paris yang luluh-lantak akibat perang, terus ke Amerika, sampai adegan penutupan yang menyentuh dan bisa membuat pengunjung menitikkan air mata karena terharu.  Tidak hanya visual, kami juga memperoleh rangsangan berbagai latar suara yang membuat tempat-tempat tiruan itu semakin meyakinkan.  Sayangnya, di bagian museum ini, kami tak boleh memotret, sehingga tak ada foto yang bisa saya pamerkan di sini.

Di bangunan utama museum, kita juga bisa menyaksikan koleksi foto keluarga Saint-Exupéry, pemutaran film Le Petit Prince, memorabilia, dan pameran berbagai edisi Le Petit Prince yang diterbitkan dalam berbagai bahasa di sejumlah negara (tapi rasanya saya tidak melihat edisi Indonesia…).  Keluar dari bangunan utama, kami masih dimanjakan pemandangan yang membuat kami seolah berada di taman sebuah wastu ribuan kilometer jauhnya dari Hakone.

Bila di-zoom in beberapa puluh kali, Anda bisa melihat saya di balkon…

Sayang waktu yang mendesak membuat kami tak sempat bersantai di restoran atau kafe yang ada.  Padahal mereka menawarkan menu khusus yang diilhami isi buku Le Petit Prince.  Meskipun demikian, kami mau tak mau memasuki toko suvenir, karena pintu keluar memang sengaja diletakkan di toko tersebut.  Taktik dagang yang bagus.  Yang ada, kami tersangkut beberapa lama karena melihat berbagai cenderamata khas Le Petit Prince, dari tas, magnet kulkas, stiker, alat tulis, sampai peralatan makan, yang sungguh menggoda kami untuk merogoh kocek.  Pembenarannya, apa lagi kalau bukan, “Mumpung ada di sini kan?  Mau beli di mana lagi?”

Jalan menuju toko sekaligus pintu keluar… Uang di dompet Anda bersiap-siap mengepak pergi.

Ketika melangkah keluar melewati gerbang museum, kami bersepakat bahwa museum ini memang betul-betul asyik.  Tak rugi sama sekali menuruti kata hati sehingga agak memaksakan diri mengunjungi museum yang sebenarnya tidak ada dalam rencana awal kami.  Akan tetapi hal-hal seperti inilah yang membuat perjalanan semakin menarik, bukan?

Ingin oleh-oleh dari museum ini?  Jangan lupa berkomentar di artikel-artikel kami tentang Jepang!  Baca selengkapnya di sini.

Informasi penting Museum Le Petit Prince

909 Sengokuhara, Hakone-machi, Ashigarashimo-gun, Prefektur Kanagawa, 250-0631

Telepon 0460-86-3700

http://www.tbs.co.jp/l-prince

Buka setiap hari dalam setahun, pukul 9.00-17.30, restoran buka dari pukul 10 , kafe dari pukul 9.30

Harga tiket dewasa 1500 yen

Pelajar dan lansia 1100 yen

Anak-anak 700 yen

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers