<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lompat-lompat Sana-sini</title>
	<atom:link href="http://lompatlompat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lompatlompat.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com site</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 10:37:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='lompatlompat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/92e3340c9bc074b8e874383ef438a88d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Lompat-lompat Sana-sini</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lompatlompat.wordpress.com/osd.xml" title="Lompat-lompat Sana-sini" />
	<atom:link rel='hub' href='http://lompatlompat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pulang ke Sumatera Utara (2)</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2012/01/17/pulang-ke-sumatera-utara-2/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2012/01/17/pulang-ke-sumatera-utara-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 00:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[brastagi]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[medan]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera utara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=930</guid>
		<description><![CDATA[Kami meneruskan perjalanan ke Medan, dengan singgah di Brastagi untuk sekadar menengok pasar yang berhias warna-warni bunga dan buah-buahan, serta menyantap jagung bakar yang hangat dan meneguk air tebu yang manis.  Kota tetirah ini bersuhu sejuk dan sepertinya nyaris selalu berada dalam bayang-bayang hujan.  Atau mungkin kebetulan saja setiap kali ke kota ini saya selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=930&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-22" title="indonesia" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg?w=535" alt="This post is about Indonesia"   /></a></p>
<p>Kami meneruskan perjalanan ke Medan, dengan singgah di <strong>Brastagi</strong> untuk sekadar menengok pasar yang berhias warna-warni bunga dan buah-buahan, serta menyantap jagung bakar yang hangat dan meneguk air tebu yang manis.  Kota tetirah ini bersuhu sejuk dan sepertinya nyaris selalu berada dalam bayang-bayang hujan.  Atau mungkin kebetulan saja setiap kali ke kota ini saya selalu kebagian cuaca seperti itu.</p>
<div id="attachment_931" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04765.jpg"><img class="size-full wp-image-931" title="DSC04765" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04765.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Berbagai buah segar menanti pembeli di pasar Brastagi.</p></div>
<div id="attachment_932" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04767.jpg"><img class="size-full wp-image-932" title="DSC04767" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04767.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Jagung bakar dan air tebu yang nikmat disantap di udara dingin.</p></div>
<p>Sebenarnya di Brastagi ada sejumlah resor yang cukup terkenal, di antaranya <strong>Mikie Holiday</strong> yang pernah menjadi tempat <em>fanmeeting</em> dan konser band Korea U-KISS pada Maret 2011.  Seandainya ada waktu, ingin saya mampir&#8230; tapi rupanya kali ini tidak bisa.  Saya hanya lewat saja di depan Mikie yang tampak megah dan mengundang.  Selepas Brastagi, mobil menyusuri jalan berkelok-kelok yang membelah Hutan Raya.  Bila gampang mabuk darat, rute ini pasti cukup ‘meninggalkan kesan’.  Tidak heran salah satu hal yang paling teringat oleh anggota U-KISS adalah perjalanan yang harus mereka tempuh dari Medan ke Brastagi (dan tentunya balik lagi!)</p>
<p>Kami singgah lagi untuk mencicipi <strong>makan durian</strong> di salah satu pondok khusus penjual buah berduri itu di tepi jalan.  Harganya 25 ribu sebuah, terhitung mahal untuk ukuran Sumatera.  Namun ini dengan jaminan bahwa bila durian-nya tidak enak, bisa kita tukar tanpa menambah biaya.  Hanya saja&#8230;  kalau menurut saya kok rasa durian-nya kurang mantap.  Untuk memuaskan rasa penasaran saja sih, lumayanlah.</p>
<div id="attachment_933" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04770.jpg"><img class="size-full wp-image-933" title="DSC04770" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04770.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Jejeran durian. Tampang cukup menggoda... tapi yang ini kebetulan rasanya tidak terlalu istimewa.</p></div>
<p>Sepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah tua yang kelihatan termakan usia.  Sayang sekali, padahal bila diperbaiki dan dirawat, pasti rumah-rumah itu cantik dan bisa memikat hati wisatawan yang sekadar lewat sekali pun.  Umumnya pemilik rumah-rumah itu tidak lagi berdomisili di Sumatera Utara, melainkan pindah ke Jawa, barangkali ke Jakarta, tempat di mana sedemikian banyak uang berputar.  Generasi ‘muda’ yang meninggalkan kota asal setelah generasi ‘tua’ tiada itu rata-rata tidak ingin menjual rumah peninggalan orang tua, namun juga tak ingin meninggalinya.  Akhirnya banyak yang disewakan dengan murah, bahkan hanya dengan harga puluhan ribu per tahun, semata agar rumah-rumah itu tidak kosong dan ada yang merawat meski seadanya.</p>
<p>Saat tiba di Medan hari sudah petang.  Bukannya langsung hotel, kami terlebih dahulu mendatangi <strong>Merdeka Walk</strong> untuk mencari makan.  Ini adalah jejeran tempat makan yang menempel di salah satu sisi Lapangan Merdeka dengan konsep ruang terbuka.  Meskipun kita bisa bersantap di dalam bangunan utama masing-masing restoran, banyak yang lebih memilih duduk di meja-meja di luar, di bawah pepohonan yang memayungi pelataran memanjang yang diberi sebutan ‘<em>walk</em>’ itu.  Mulai dari restoran waralaba asing sampai jago-jago dalam negeri ada di sini.</p>
<div id="attachment_935" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04776.jpg"><img class="size-full wp-image-935" title="DSC04776" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04776.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Sepenggal Merdeka Walk.</p></div>
<div id="attachment_937" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04779.jpg"><img class="size-full wp-image-937" title="DSC04779" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04779.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Di Merdeka Walk, juga terdapat kantor informasi pariwisata.</p></div>
<p><strong>Lapangan Merdeka</strong> sendiri menjadi salah satu tempat pilihan warga Medan untuk berolahraga dan bersantai, berkat fasilitasnya yang cukup memadai dan keteduhan yang ditawarkan sebagai penghilang lelah di tengah kota yang ramai.  Di sekeliling Lapangan Merdeka, selain Merdeka Walk, terdapat sejumlah bangunan menarik yang usianya sudah puluhan bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, yang dibangun ketika Medan sedang bersinar terang sebagai kota utama di ‘sabuk perkebunan’ Sumatera. Contohnya adalah kantor pos pusat dan sejumlah bangunan yang masih difungsikan oleh Bank Mandiri.  Di salah satu sisi Lapangan Merdeka juga terdapat pasar buku, yang sayangnya sore itu telah tutup dan beralih fungsi sebagai tempat sejumlah orang berolahraga sore.</p>
<div id="attachment_934" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04772.jpg"><img class="size-full wp-image-934" title="DSC04772" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04772.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Gedung kantor pos tua Medan.</p></div>
<div id="attachment_936" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04777.jpg"><img class="size-full wp-image-936" title="DSC04777" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04777-e1326759217964.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Aston City Hall yang menggabungkan gedung baru dengan gedung warisan masa lalu.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04780.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-938" title="DSC04780" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04780.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04781.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-939" title="DSC04781" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04781.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04782.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-940" title="DSC04782" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04782.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04783.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-941" title="DSC04783" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04783.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_942" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04787.jpg"><img class="size-full wp-image-942" title="DSC04787" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04787.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana sore di Lapangan Merdeka.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04793.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-943" title="DSC04793" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04793-e1326759936516.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04794.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-944" title="DSC04794" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04794.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Seusai makan, baru kami menuju <strong>Hotel Garuda</strong>, hotel berukuran cukup besar yang cukup terkenal di Medan.  Saat kami di sana, begitu banyak orang yang keluar-masuk hotel untuk berbagai urusan.  Papan di lobi menandakan bahwa sebagian besar ruang fungsi hotel sudah disewa untuk macam-macam acara, dari pesta kelulusan akademi sampai rapat kantor.  Kami mendapat kamar di bangunan hotel yang lama, namun bersih, lega, dan nyaman, serta berlantai parket – jenis lantai kesukaan saya.  Harga sewa kamar sudah mencakup sarapan.  Sarapan ala Medan memang agak terlalu berat untuk perut saya, namun juga tersedia menu gaya lain seperti roti dan bubur.</p>
<p>Di hotel ini ada layanan unik, yaitu ‘<strong>Arman’</strong>, seorang pria yang bisa Anda hubungi melalui telepon atau jumpai di lobi hotel antara pukul 8 pagi sampai 5 sore.  Ia adalah orang yang bisa Anda tanyai apa pun mengenai Medan.  Entah apakah si Arman ini hanya satu orang atau tidak, tapi saya pikir keberadaannya adalah gagasan yang bagus.  Kelebihan lain hotel ini adalah sejumlah biro perjalanan dan perwakilan maskapai yang berkantor di lantai bawah hotel, sehingga tak perlu jauh-jauh bila Anda membutuhkan bantuan mereka.  Posisinya juga cukup strategis di tengah kota Medan – dan tepat di seberang jalan toko <strong>Bolu Meranti</strong>, salah satu oleh-oleh paling terkenal dari Medan sekarang.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04815.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-948" title="DSC04815" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04815.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04813.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-947" title="DSC04813" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04813.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04904.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-963" title="DSC04904" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04904-e1326760130259.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_945" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04797.jpg"><img class="size-full wp-image-945" title="DSC04797" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04797.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Bolu gulung dengan berbagai macam rasa, mulai dari cokelat, keju, moka, blueberry, dan lain-lain bisa dibeli di sini. Tapi rebutannya, waduhhh!</p></div>
<p>Malam itu, karena iseng kami pergi ke luar hotel dan tawar-menawar dengan seorang pengemudi <strong>‘betor’</strong>, becak bermotor.  Akhirnya setelah tawarannya sempat kami tolak, ia mau mengantar kami berkeliling dengan biaya 30 ribu rupiah.  Yak, wisata malam di Medan!  Menyenangkan rasanya duduk di atas betor dengan wajah dihantam angin malam (yang tidak terlalu dingin) sambil menggali-gali ingatan tentang kota Medan yang saya kenal.  Terus terang, tak banyak yang saya ingat.  Lucunya, meskipun dulu lebih sering ke Medan daripada ke Danau Toba, ternyata saya lebih ingat Danau Toba.</p>
<p>Saat kami tengah mengagumi bangunan-bangunan tua Medan, si pengemudi berkata dengan serius, “Tapi rumah-rumah ini” (Ia menyebut semua bangunan itu rumah) “banyak yang tak bisa ditinggali.  Hantunya terlalu kuat.”  Mendadak kami jadi merinding dan bangunan-bangunan kuno di sekeliling kami jadi terasa agak mencekam.  Ia menunjukkan salah satu bangunan bercat biru yang tampak kosong.  Kegelapan mengintip dari sela palang-palang yang melintangi jendela-jendela.  Bangunan itu pasti pernah megah, namun sekarang&#8230; “Gelandangan yang tidur di situ, mati dicekik hantu. Kalau pintu dibuka, ada teriakan-teriakan minta tolong dari dalam.”</p>
<p>Entah benar entah tidak.  Namun lega juga rasanya ketika akhirnya betor kami melewati bangunan suram itu.  Mau tidak mau cerita si pengemudi memengaruhi kami juga.  Wah, lebih baik mengisi benak dengan pemandangan malam kota Medan yang lebih menarik, deh – misalnya <strong>jejeran lesehan yang menjajakan durian</strong>.  Duh, sepertinya durian yang dijual di warung-warung itu lebih mantap daripada yang kami cicipi tadi siang.  Sayang kami tak sempat mampir.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04809.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-946" title="DSC04809" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04809.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Pengemudi betor mengantarkan kami ke salah sebuah toko <strong>bika ambon</strong>.  Toko yang menjadi satu dengan rumah sekaligus pabrik kue berwarna kuning khas Medan itu sebenarnya sudah tutup.  Namun pemilik toko bersedia membuka lagi pintu tokonya agar kami bisa masuk.  “Nanti minta cicip ya, biar saya juga dapat,” bisik si pengemudi kepada kami yang hendak melangkah memasuki toko.  Oalah!  Yah, bonus lah ya, karena sudah bersedia mengantar kami mencari bika ambon malam-malam begini.</p>
<p>Pemilik toko dengan sigap menanyakan kapan kami akan pulang.  Esok, jawab kami.  Ia pun menawarkan untuk menyerahkan bika ambon baru yang segar esok hari di bandara.  Malam itu memang masih ada bika ambon tersisa, yang tahan tiga hari, namun tentunya lebih enak bila memperoleh yang baru dibuat keesokan hari. “Sudah biasa kok, misalnya janjian di Dunkin’ Donuts bandara,” katanya.  Namun kami khawatir esok hari malah terburu-buru atau entah apa sehingga tidak bisa menemui ia di bandara dan memilih untuk membawa bika ambon yang ada saja.  Dua kotak pun berpindah tangan.</p>
<p>Oleh-oleh dari Medan memang sudah menjadi bisnis yang digarap serius oleh toko-toko penyedia buah tangan.  Bila membeli Bolu Meranti, misalnya, mereka sudah memiliki kardus-kardus khusus untuk mengemas bolu dalam jumlah tertentu agar aman meskipun dimasukkan ke bagasi pesawat sekali pun.  Ingin membeli <strong>sirup markisa</strong> namun bingung membawa botol beling ke dalam pesawat karena takut pecah?  Cukup membeli <em>voucher </em>saja, yang nanti ditukarkan dengan sirup markisa di perwakilan di Jakarta.  Mudah!</p>
<p>Keesokan hari, sebelum menuju bandara kami mendatangi dua ikon kota Medan: Masjid Al-Mashun yang terletak di salah satu sudut <strong>Simpang Raya</strong> dan Istana Maimoon yang terletak tidak begitu jauh dari situ.</p>
<p><strong>Masjid Al-Mashun</strong> dibangun di masa pemerintahan penguasa Deli kesembilan, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906.  Arsitekturnya mengagumkan, penuh detail yang menyita perhatian, dengan langit-langit tinggi dan hiasan dalam kubah yang menggoda kita menatap terus-menerus.  Saya menyempat-nyempatkan ‘mengintip’ ke bagian jemaah laki-laki demi melihat mimbar imam.</p>
<p>Tempat mengambil wudu di masjid raya Medan ini dibangun terpisah dari bangunan salat utama, tetap dengan koordinasi warna yang sama.  Bagus sih memang, tapi kalau hujan, bagaimana ya, apa tidak merepotkan?</p>
<div id="attachment_949" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04824.jpg"><img class="size-full wp-image-949" title="DSC04824" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04824.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Al-Mashun yang menjadi salah satu ikon Medan.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04829.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-950" title="DSC04829" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04829.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04832.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-951" title="DSC04832" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04832.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04837.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-952" title="DSC04837" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04837.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_953" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04840.jpg"><img class="size-full wp-image-953" title="DSC04840" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04840.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Tempat mengambil wudu.</p></div>
<div id="attachment_954" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04845.jpg"><img class="size-full wp-image-954" title="DSC04845" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04845.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Di dalam kompleks masjid, juga terdapat pemakaman.</p></div>
<div id="attachment_955" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04847.jpg"><img class="size-full wp-image-955" title="DSC04847" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04847.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Simpang Raya.</p></div>
<p>Tujuan berikutnya adalah <strong>Istana Maimoon</strong>, tempat kedudukan <strong>Sultan Deli</strong>.  Sultan Deli yang sekarang masih remaja – ia naik tahta ketika ayahandanya tewas dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun silam.  Kini ia masih bersekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya yang tidak berdomisili di Medan.  Duduk bersila di lantai, kami mendengarkan penjelasan dari pemandu resmi Istana Maimoon mengenai sejarah ringkas Kesultanan Deli dan Istana Maimoon.  Caranya bercerita asyik; beberapa kali diselingi pantun merayu yang seolah telah menjadi napas orang-orang Melayu.  Sambil mendengarkan sang pemandu, saya mengedarkan mata berkeliling ruangan, berusaha mencerap segala detail yang didominasi warna kuning keemasan dan hijau.</p>
<p>Suasana egaliter di istana ini mungkin cukup mengejutkan kita yang terbiasa membayangkan keluarga kerajaan sebagai sekelompok orang yang jauh dari rakyat.  Singgasana sultan dan permaisuri – yang ngomong-ngomong, sama tingginya – boleh-boleh saja diduduki oleh pengunjung yang notabene adalah ‘rakyat biasa’.  “Kata Sultan, singgasana itu hanya barang, kalau rusak bisa diganti.  Nilai kenangan itu yang penting ada di hati,” tutur pemandu, tanpa menjelaskan sultan mana yang dimaksud.  Tak heran pengunjung sering berlomba-lomba mencicipi duduk bagai sultan di singgasana tersebut.</p>
<p>Bukti lain ke-‘egaliter’-an itu adalah dihuninya sayap-sayap Istana Maimoon oleh sejumlah keluarga.  Risikonya memang bagian-bagian samping istana jadi terlihat ‘agak jorok’ – ini mungkin harus jadi perhatian lebih dari pihak-pihak yang berwenang.  Namun harus diakui keberadaaan keluarga-keluarga itu membuat istana lebih hidup.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04852.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-956" title="DSC04852" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04852.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04857.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-957" title="DSC04857" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04857.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04865.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-958" title="DSC04865" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04865.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04866.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-959" title="DSC04866" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04866.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_960" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04869.jpg"><img class="size-full wp-image-960" title="DSC04869" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04869.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Toko suvenir di Istana Maimoon.</p></div>
<div id="attachment_961" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04873.jpg"><img class="size-full wp-image-961" title="DSC04873" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04873.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Singgasana yang boleh diduduki pengunjung.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04874.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-962" title="DSC04874" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04874.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Sang pemandu juga mengutarakan mengenai betapa penduduk Medan tidak punya masalah dengan keberagaman.  Sejak lama memang kota ini terkenal sebagai sebuah <em>melting pot</em>, di mana hidup orang-orang dari berbagai kelompok etnik dan latar belakang kepercayaan.</p>
<p>“Saya kangen suasana di sini, yang tidak ada di Jakarta,” kata salah seorang ‘perantau’ dari Sumatera Utara yang serombongan dengan saya.  “Di sini, tidak masalah agama kita Kristen atau Islam atau apa.  Kalau bulan puasa dan Lebaran, kami yang Kristen ikut membantu acara buka puasa, ramai berkunjung ke yang merayakan Lebaran.  Sebaliknya kalau hari Natal.  Di Jakarta, mengucapkan selamat Natal saja tidak boleh&#8230;”  Senyum yang membiaskan kenangan dan rasa bangga akan Medan – kebanggaan yang jamak saya temui bila berbicara dengan penduduk di kota itu –  pun terulas di wajahnya.  Senyum harapan bahwa kedamaian di Medan itu juga menyebar ke kota-kota lain.</p>
<p><strong><em>Posted by Tante Guru</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/930/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=930&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2012/01/17/pulang-ke-sumatera-utara-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04765.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04765</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04767.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04767</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04770.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04770</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04776.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04776</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04779.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04779</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04772.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04772</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04777-e1326759217964.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04777</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04780.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04780</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04781.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04781</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04782.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04782</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04783.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04783</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04787.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04787</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04793-e1326759936516.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04793</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04794.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04794</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04815.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04815</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04813.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04813</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04904-e1326760130259.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04904</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04797.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04797</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04809.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04809</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04824.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04824</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04829.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04829</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04832.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04832</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04837.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04837</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04840.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04840</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04845.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04845</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04847.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04847</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04852.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04852</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04857.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04857</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04865.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04865</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04866.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04866</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04869.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04869</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04873.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04873</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dsc04874.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04874</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan ringkas menonton konser Laruku di Hong Kong dan Bangkok</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2012/01/08/laruku-hk-bkk/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2012/01/08/laruku-hk-bkk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 13:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[thailand]]></category>
		<category><![CDATA[bangkok]]></category>
		<category><![CDATA[hong kong]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[  Band rock raksasa Jepang, L’arc-en-Ciel alias Laruku, menggelar tur dunia!  Sayang sepertinya negara kita belum kebagian menjadi bagian dari tur mereka ini.  Namun bagi yang berniat mengejar mereka ke dua kota terdekat tempat konser Laruku tahun ini diselenggarakan – Hong Kong dan Bangkok – semoga tulisan kami berikut ini membantu.  Siapa tahu, kalaupun bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=922&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/11/cina.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-228" title="cina" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/11/cina.jpg?w=535" alt="This post is about China"   /> </a><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/thailand.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-18" title="thailand" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/thailand.jpg?w=535" alt="This post is about Thailand"   /></a></p>
<p>Band rock raksasa Jepang, <strong>L’arc-en-Ciel</strong> alias Laruku, menggelar tur dunia!  Sayang sepertinya negara kita belum kebagian menjadi bagian dari tur mereka ini.  Namun bagi yang berniat mengejar mereka ke dua kota terdekat tempat konser Laruku tahun ini diselenggarakan – Hong Kong dan Bangkok – semoga tulisan kami berikut ini membantu.  Siapa tahu, kalaupun bukan Laruku, suatu hari Anda berkesempatan menonton konser bintang lain di kedua kota tersebut.</p>
<p><strong>HONG KONG</strong></p>
<p><strong>Tempat penyelenggaraan: <a title="Asia-World Expo" href="www.asiaworld-expo.com/" target="_blank">Asia-World Expo</a></strong></p>
<p><strong><em>Untuk melihat panduan umum kami mengenai Hong Kong, silakan cek <a title="Panduan Ringkas Mengunjungi Hong Kong" href="http://lompatlompat.wordpress.com/2010/12/15/hongkong-ringkas/" target="_blank">artikel kami yang ini</a>.</em></strong></p>
<p><strong>Di mana membeli tiket?</strong></p>
<p>Anda bisa membeli tiket pertunjukan melalui <strong><a title="HK Ticketing" href="http://www.hkticketing.com/eng/">HK Ticketing</a></strong>.  Desain situsnya memang agak ‘jadul’ dan tidak begitu enak dilihat, namun cukup mudah untuk pembelian tiket dengan menggunakan kartu kredit.  Cetak bukti pembelian, dan nanti setelah sampai di Hong Kong, tukarkan bukti pembelian dengan tiket sungguhan di cabang <strong>Tom Lee Music</strong> mana saja.  (Bisa Anda cek di Google di mana cabang TLM terdekat dengan tempat Anda menginap.)</p>
<div id="attachment_924" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf1053.jpg"><img class="size-full wp-image-924" title="DSCF1053" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf1053.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Contoh tiket asli hasil penukaran bukti pembelian melalui HK Ticketing di Tom Lee Music.</p></div>
<p><strong>Di mana sebaiknya menginap?</strong></p>
<p>Di sekitar Expo dan bandara sebenarnya ada beberapa hotel, namun semuanya tergolong mahal.  Bila Anda tidak keberatan sih tidak apa-apa.  Namun untuk yang mencari penginapan murah-meriah, carilah penginapan di daerah Kowloon.  Cari yang sedekat mungkin dengan jaringan kereta <strong>MTR </strong>(ya, bukan MRT, yang ini singkatan dari Mass Transit Railway), misalnya di sekitar <strong>Mongkok</strong>.  Di Mongkok juga mudah memperoleh berbagai kebutuhan dan dekat dengan beberapa objek wisata lain Hong Kong, seandainya Anda ada waktu lebih untuk menjelajahi kota tersebut selain menonton konser.</p>
<p><strong>Bagaimana mendatangi tempat konser?</strong></p>
<p>Bisa dengan taksi (yang jelas akan menyita banyak uang), bis (biasanya ada rute dan potongan harga khusus bila ada acara di Asia-World Expo), atau kereta bandara (Airport Express).  <strong>Cek sebelum konser, </strong>barangkali ke situs Asia-World Expo, <strong>apakah ada potongan harga untuk pemegang tiket konser </strong>yang ingin menggunakan Airport Express!  Biasanya untuk memperoleh potongan harga itu, selain tiket konser, Anda juga harus memegang <strong>Kartu Octopus</strong>.  (Lihat artikel kami soal Hong Kong yang kami tautkan di atas untuk mengetahui tentang Kartu Octopus, ya!)  Misalnya,  kami pernah memperoleh potongan harga tiket Airport Express bolak-balik dari 100 HKD menjadi 48 HKD saja dengan menunjukkan tiket konser kami.  Bahkan yang naik dari Stasiun Tsing Yi waktu itu dibolehkan menumpang Airport Express dengan gratis!  Cepat, nyaman, dan tergolong murah, bila dibandingkan dengan taksi.</p>
<p>Airport Express ini bisa Anda naiki dari beberapa stasiun saja: Hong Kong, Kowloon, dan Tsing Yi.  Bila Anda menginap di Mongkok, naiklah MTR ke stasiun <strong>Central</strong>, lalu berjalankakilah mengikuti petunjuk ke stasiun <strong>Hong Kong </strong>(tidak perlu keluar ke atas tanah).</p>
<p>Namun harap diingat bahwa <strong>MTR tidak berjalan 24 jam</strong>!  Biasanya antara jam 11-12 malam, kereta-kereta terakhir meninggalkan stasiun keberangkatan paling ujung.  Dulu saya dan teman juga terpaksa berlari-lari demi mendapatkan kereta terakhir menuju Kowloon!  Kalau sampai ketinggalan, persiapkan diri mempergunakan moda transportasi lain.</p>
<div id="attachment_925" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf1089.jpg"><img class="size-full wp-image-925" title="DSCF1089" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf1089.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan di dalam Asia-World Expo.</p></div>
<p><strong>BANGKOK</strong></p>
<p><strong>Tempat penyelenggaraan: <a title="Impact Arena" href="www.impact.co.th/">Impact Arena</a></strong></p>
<p><strong><em>Untuk melihat panduan umum kami mengenai Bangkok, silakan cek <a title="Beberapa Gagasan Menghabiskan Waktu di Bangkok" href="http://lompatlompat.wordpress.com/2011/05/19/gagasan-bangkok/">artikel kami yang ini</a>. </em></strong></p>
<p><strong>Di mana membeli tiket?</strong></p>
<p>Manfaatkan situs pembelian tiket daring <strong><a title="Thai Ticket Major" href="www.thaiticketmajor.com/index_eng.php">Thai Ticket Major</a></strong>.  Seperti juga HK Ticketing, nantinya bukti pembelian Anda harus ditukarkan dengan tiket asli di salah satu cabang atau <em>outlet </em>TTM.  Salah satunya ada di mal Siam Paragon yang terletak di pusat kota Bangkok dan mudah dicapai dengan kereta BTS.</p>
<p><strong>Di mana sebaiknya menginap?</strong></p>
<p>Meskipun <em>backpacker </em>banyak yang menyenangi Khao San Road, bila Anda ingin mudah berkeliling dengan <em>sky train</em>/BTS dan <em>subway</em>, saya menyarankan Anda mencari penginapan yang tidak jauh dari rangkaian kereta-kereta tersebut.  Saya biasanya mencari penginapan di daerah Sukhumvit.</p>
<p>Bila ingin mencoba apart’hotel yang tergolong murah untuk fasilitas yang tersedia, cobalah salah satu cabang <strong><a title="Citadines" href="http://www2.citadines.com/thailand/bangkok/sukhumvit16.html">Citadines</a> </strong>yang ada di daerah Nana.  Apart’hotel ini sangat nyaman, dan cabang-cabang Citadines terletak tak jauh dari stasiun BTS <strong>Nana</strong>, dikelilingi sejumlah tempat keramaian termasuk yang hanya ramai kala malam.  Mudah mencari makanan dan berbelanja ini-itu di daerah tersebut.  Pilihan lain, bisa coba <strong><a title="Hi-Sukhumvit" href="http://www.hisukhumvit.com/firstpage/index.php">Hi-Sukhumvit</a></strong>, <em>guest house </em>yang sederhana namun bersih yang juga terletak tidak jauh dari stasiun BTS <strong>Thong Lo</strong>.  Daerah di sekitar Hi-Sukhumvit lebih tenang dan tidak ‘<em>seajeb-ajeb</em>’ Nana.</p>
<div id="attachment_923" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf0004.jpg"><img class="size-full wp-image-923" title="DSCF0004" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf0004.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Di apart&#039;hotel semacam Citadines, selain kamar yang luas dan perlengkapan dasar yang lengkap, ada pula dapur dengan peralatan memasak dan makan yang komplit sehingga Anda bisa menyiapkan makanan sendiri.</p></div>
<p>Selain dua alternatif yang kami tawarkan, masih banyak penginapan menarik, aman, bersih dengan harga terjangkau di Bangkok.</p>
<p><strong>Bagaimana mendatangi tempat konser?</strong></p>
<p>Sebenarnya, Impact Arena tidak terletak di dalam kota Bangkok, melainkan cukup jauh keluar di sebelah utara.  Bila tidak mau repot, apalagi kalau bersama teman-teman, bisa naik taksi langsung dari tempat menginap ke Arena.  Taksi di Bangkok tidak begitu mahal apalagi bila dibayar bersama oleh beberapa orang.  Atau, biar tidak repot mencari kendaraan pulang, cobalah menyewa mobil yang akan menunggu sampai konser usai.  Anda mungkin harus melewati jalan tol.</p>
<p>Bila ingin lebih murah, naiklah BTS ke stasiun <strong>Mo Chit </strong>(stasiun tujuan yang sama dengan bila Anda ingin mengunjungi Pasar Chatuchak).  Dari sini bisa naik taksi, atau menumpang <em>shuttle bus </em>yang harganya hanya beberapa puluh baht.</p>
<p>Semoga tulisan pendek kami membantu Anda yang hendak menonton konser ke dua kota tersebut.  Bagi-bagi cerita ya tentang pengalaman Anda nanti!</p>
<p><strong><em>Posted by Tante Guru</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/922/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=922&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2012/01/08/laruku-hk-bkk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/11/cina.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cina</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/thailand.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">thailand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf1053.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF1053</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf1089.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF1089</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2012/01/dscf0004.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0004</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamakura: &#8216;Kyoto&#8217;-nya Jepang Timur</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/12/30/kamakura-kyoto-nya-jepang-timur/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/12/30/kamakura-kyoto-nya-jepang-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 17:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[kamakura]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[kuil]]></category>
		<category><![CDATA[shinto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=872</guid>
		<description><![CDATA[Fujisawa! Pernah dengar nama ini? Sebelumnya kami tidak.  Kami mampir ke kota ini pun sebenarnya dalam perjalanan menuju ke Kamakura.  Bukannya memilih kereta JR, kami memilih untuk naik kereta api swasta, Odakyu Line, untuk lantas berganti ke kereta legendaris Enoden.  Di stasiun Fujisawa ini kami sempat agak bingung juga, karena sempat harus mencari-cari jalur Enoden. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=872&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-624" title="japan" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg?w=535" alt="This post is about Japan"   /></a></p>
<p><strong>Fujisawa</strong>!</p>
<p>Pernah dengar nama ini?</p>
<p>Sebelumnya kami tidak.  Kami mampir ke kota ini pun sebenarnya dalam perjalanan menuju ke <strong>Kamakura</strong>.  Bukannya memilih kereta JR, kami memilih untuk naik kereta api swasta, <strong>Odakyu Line</strong>, untuk lantas berganti ke kereta legendaris Enoden.  Di stasiun Fujisawa ini kami sempat agak bingung juga, karena sempat harus mencari-cari jalur Enoden.</p>
<div id="attachment_873" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01947.jpg"><img class="size-full wp-image-873" title="DSC01947" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01947.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Tiket terusan ke Hakone dan ke Kamakura.</p></div>
<div id="attachment_874" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01952.jpg"><img class="size-full wp-image-874" title="DSC01952" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01952.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Bagian luar stasun Fujisawa, yang hanya kami singgahi sebentar saja. Stasiun ini terhubung dengan department store Odakyu, tempat kita bisa mencari oleh-oleh.</p></div>
<p>Apabila Odakyu Line dilayani oleh kereta yang baru, maka <strong>Enoden</strong> dilayani kereta klasik berwarna hijau, dengan lantai sebagian gerbong masih terbuat dari kayu.  Kereta Enoden berjalan tanpa pendingin udara, dan bekeretak cukup riuh.  Namun ke Kamakura memang harus mencicipi naik kereta ini – selain mudah menyambangi tempat-tempat pariwisata utama dengan menumpangi kereta tersebut, tentu juga karena nilai nostalgia dan pemandangan yang terpampang di luar jendela.  Saat kami datang di awal musim panas, pemandangan itu berarti bunga <strong>ajisai</strong> (hidrangea) yang bermekaran dan pantai yang mulai ramai dikunjungi orang.</p>
<div id="attachment_875" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01958.jpg"><img class="size-full wp-image-875" title="DSC01958" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01958.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Enoden yang baru tiba di Stasiun Fujisawa. Eh, ada pernak-pernik Hello Kitty edisi Enoden lho!</p></div>
<p>Kamakura memang sebuah kota di tepi laut, tidak seberapa jauh dari Tokyo.  Oleh karena itulah kami memutuskan untuk memanfaatkan waktu sehari untuk mengunjunginya (meski kemudian saya berharap seandainya saja saya bisa tinggal lebih lama di kota itu).  Kota kecil, nyaman, dan menyimpan sedemikian banyak peninggalan bersejarah berharga.  Untuk penggemar sejarah Jepang, kota ini punya kedudukan istimewa karena kaitannya yang mendalam dengan keluarga <strong>Minamoto</strong>.</p>
<p>Perhentian pertama kami adalah stasiun <strong>Hase</strong>.  Dari sini kami berjalan kaki menuju <strong>Kotoku-in</strong>, di mana terdapat patung Buddha raksasa (<strong>Daibutsu</strong>) yang merupakan salah satu daya tarik utama Kamakura.  Kami menyusuri jalan-jalan yang sempit namun ramai pengunjung dan diapit pertokoan yang menjual berbagai penganan dan suvenir khas Kamakura.  Bentuk sejumlah penganan cukup bikin kaget kami yang tak terbiasa: Buddha, baik kepalanya saja ataupun sekujur badan.  Aduh!  Ini nggak apa-apa nih, dimakan?  Kok rasanya agak gentar, ya, meski buat orang Jepang biasa saja.  Kue-kue Buddha itu kami lewatkan, namun kami tergoda juga untuk membeli es krim di salah sebuah toko kecil dekat Kotoku-in.  Es krim teh hijaunya benar-benar segar!</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01965.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-911" title="DSC01965" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01965.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01966.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-876" title="DSC01966" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01966.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01968.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-877" title="DSC01968" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01968.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_878" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01971.jpg"><img class="size-full wp-image-878" title="DSC01971" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01971.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Es krim teh hijau/susu</p></div>
<p>Sambil masih memegang es krim, kami menuju tempat penjualan tiket masuk ke Kotoku-in.  Harga tiket masuk cukup murah, yaitu <strong>200 yen</strong> untuk tiket normal (dewasa), ditambah 20 yen kalau mau memasuki  Daibutsu.  Bersama tiket, kami memperoleh denah kompleks tersebut dan sebuah nomor: 29.  Hmmm&#8230; apa maksudnya ya nomor ini?</p>
<p>Seorang petugas dengan santun meminta kami menghabiskan es krim terlebih dahulu sebelum masuk.  Wah, kami pun langsung ngebut menjilati es krim dan membuang sampah yang tersisa ke tempat yang disediakan, lantas melangkah melewati gerbang.  Dan di belakang gerbang&#8230; ah, sungguh, sulit saya menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan kecantikan kompleks Kotoku-in dengan segenap bangunan dan tamannya.  Meskipun ada demikian banyak pengunjung, perasaan damai dan tenang tetap melingkupi segala sudut.  Taman yang ditata dengan cantik, berbagai bangunan dan arca yang terawat, pemandangan yang luas dari lereng bukit, orang-orang yang berdoa dengan khusyuk&#8230;  Saya harap sejumlah foto amatiran yang saya ambil berikut ini bisa sedikit menyampaikan keindahan Kotoku-in kepada Anda.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01977.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-881" title="DSC01977" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01977.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01973.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-879" title="DSC01973" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01973.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01974.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-880" title="DSC01974" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01974.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01982.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-882" title="DSC01982" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01982.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01984.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-883" title="DSC01984" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01984.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Ngomong-ngomong, mana Daibutsu-nya?  Jadi, setelah kami mendaki beberapa undak-undakan, kami tiba di sebuah pelataran di mana para pengunjung berjejer membentuk barisan mengular.  Lho ada apa ini ada apa ini?  Mata saya mengarah ke atas kepala mereka.  Ada sebuah papan di sana dengan nomor besar-besar tertera, dari 26 sampai 29.  29?  Astaga!  Jadi itu nomor urut kelompok untuk mendaki ke tempat Daibutsu berada!  Dan menurut papan pengumuman itu, jadwal naik kelompok 29 masih 60 menit lagi!</p>
<div id="attachment_884" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01996.jpg"><img class="size-full wp-image-884" title="DSC01996" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01996.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Efek suara saat kami melihat papan pengumuman ini adalah... &#039;JEGEEER&#039;</p></div>
<p>Kaki langsung terasa agak lemas.  Aduh, ingin sih melihat Daibutsu Kamakura, tapi kami tidak yakin bisa berlama-lama di tempat tersebut, karena kami masih ingin mendatangi tempat-tempat lain di Kamakura.  Akhirnya kami memuaskan diri dengan melihat-lihat sekeliling kompleks saja, termasuk ribuan patung Buddha kecil yang dijejerkan rapi, gua di mana terdapat ribuan patung Benzaiten mungil, dan patung-patung Buddha yang imut-imut.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01999.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-885" title="DSC01999" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01999.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02000.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-886" title="DSC02000" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02000.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02001.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-887" title="DSC02001" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02001.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02012.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-888" title="DSC02012" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02012.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02017.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-889" title="DSC02017" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02017.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02018.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-890" title="DSC02018" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02018.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02021.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-891" title="DSC02021" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02021.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02029.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-892" title="DSC02029" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02029.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_893" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02031.jpg"><img class="size-full wp-image-893" title="DSC02031" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02031.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Meskipun Kotoku-in adalah kompleks Buddha, namun torii ini merupakan pertanda bahwa ada tempat suci Shinto juga di kompleks tersebut.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02035.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-894" title="DSC02035" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02035.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02036.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-895" title="DSC02036" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02036.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02037.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-896" title="DSC02037" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02037.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>(Ngomong-ngomong, perasaan penasaran kami pada Daibutsu ini nanti ‘terbayarkan’ di Nara, ketika kami melihat Daibutsu terbesar di Jepang.)</p>
<p>Kami kembali berjalan kaki ke stasiun, namun karena perut telah mengeluh lapar, kami membeli bento alias ‘nasi kotak’ (yang sebenarnya dijual dalam wadah berbentuk segi delapan yang dikemas cantik sekali) dari penjual yang mangkal di depan stasiun.  Ibu-ibu yang menjual nasi kotak itu sangat ramah, mengajak kami mengobrol meskipun bahasa Inggrisnya terbatas.  Penasaran, teman saya menanyakan lauk apa saja yang tersaji dalam bento tersebut.  Bukan apa-apa, ingin tahu saja, meskipun jelas lauk-pauk tersebut adalah telur dan makanan laut, mengingat letak Kamakura yang di tepi laut.  Eh, si ibu langsung menjawab semangat, “<em>No pork, no pork</em>!”  Eh?  Padahal kami tidak menunjukkan indikasi kami tidak makan babi, lho.  Namun mungkin si ibu sering ditanyai begitu, ya, sehingga sudah siap dengan jawabannya.</p>
<div id="attachment_898" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02046.jpg"><img class="size-full wp-image-898" title="DSC02046" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02046.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Mau buka bungkusnya agak sayang...</p></div>
<div id="attachment_899" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02047.jpg"><img class="size-full wp-image-899" title="DSC02047" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02047.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Hidangan khas Kamakura tentu saja adalah makanan laut.</p></div>
<p>Persoalan berikut adalah mencari tempat makan yang santai.  Tetap dengan ramah, ibu itu menganjurkan agar kami pergi ke pantai saja untuk makan.  Pantai?  Hmm&#8230; boleh juga.  Maka kami pun menyusuri jalan yang mengarah ke <strong>Pantai Yuigahama</strong>, pantai utama kota Kamakura, sambil melihat-lihat lebih jauh kota yang tenang itu: rumah-rumah dan toko-toko mungil yang cantik, jalan-jalan yang sempit, udara yang segar&#8230; apa yang saya lihat dan rasakan membuat saya semakin jatuh cinta pada Kamakura, dan langsung menyimpan tekad untuk kembali lagi suatu hari nanti untuk menikmatinya lebih lama.</p>
<p>Hari itu, meskipun langit agak mendung dan laut terlihat kelabu, cukup banyak juga orang yang piknik di Yuigahama.  Nah, mereka rata-rata membawa tikar sendiri-sendiri.  Kami?  Tanpa persiapan.  Akhirnya kami mengurungkan niat makan-makan di pantai, lagipula alas kaki teman-teman saya bukan tipe yang enak dipakai di pantai.  Kami akhirnya nekad saja duduk di sebuah tembok rendah dan membuka bento kami serta mulai menyantapnya.  Preman sajalah gayanya&#8230; sebodo amat kalau ada yang memperhatikan.  Eh, ada seorang anak kecil lewat bersama ibunya, dan ia berhenti lalu memandangi kami, kemudian berkata dengan manis sekali, “<em>Oishii.</em>.. (enaknya&#8230;)”  Yang malu malah ibunya.  Sambil tertawa kepada kami, ia separuh menyeret anaknya pergi.  Hahaha&#8230; padahal kami malah berpikir anak itu lucu sekali kok, Tante&#8230;</p>
<div id="attachment_897" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02044.jpg"><img class="size-full wp-image-897" title="DSC02044" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02044.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Yuigahama</p></div>
<p>Kenyang makan siang, kami kembali ke stasiun dan menumpangi Enoden lagi menuju <strong>Stasiun Kamakura</strong>.  Sekeluar dari stasiun tersebut, kami menapaki jalan <strong>Komachi-dori</strong>, salah satu tempat perbelanjaan utama Kamakura.  Pssst&#8230; buat yang suka <strong>Ghibli</strong>, di sini ada lho toko khusus pernak-pernik Ghibli.  Sejumlah barang yang ditawarkan belum tentu dijual juga di toko di Museum Ghibli di Mitaka.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02075.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-902" title="DSC02075" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02075.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_900" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02066.jpg"><img class="size-full wp-image-900" title="DSC02066" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02066.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Hayo... siapa yang menanti Anda di sudut itu...</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02074.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-901" title="DSC02074" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02074.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Kami memutuskan untuk menjajal menaiki <strong><em>jinrikisha</em></strong> (‘<em>rickshaw</em>’) ke Tsurugaoka Hachimangu <em>jinja</em>.  <em>Jinrikisha</em> Ebisu-ya ini terorganisasi dengan baik, dengan staf yang saling berhubungan dengan walkie talkie.  Karena kami memerlukan dua <em>jinrikisha</em> sementara yang tersedia baru satu, kami diminta menunggu terlebih dahulu.  Staf yang mengurusi kami – sayang saya lupa namanya – menanyakan apakah kami dari Thailand.  Bukan, jawab kami, dari Indonesia.  Dan tahu-tahu saja ia mengajak kami berbicara dengan beberapa frasa bahasa Indonesia dengan cukup lancar!  Woh!  Ternyata dia mengaku pernah menghabiskan waktu cukup lama di Bali.  Lumayan kan, kata-kata yang ia pelajari jadi modal membuat para turis dari Indonesia ini senang sekaligus agak ngeri (“Eh, tadi kita nggak ngomong yang aneh-aneh kan?  Dia ngerti nggak ya?”)</p>
<p>Akhirnya, setelah lengkap dua <em>jinrikisha</em> yang kami minta, dan kaki kami telah diselimuti, kami pun berangkat!  Kami memilih paket 3000 yen untuk berdua.  Tak lama memang, hanya berkeliling sebentar lalu diantar ke Tsurugaoka Hachimangu <em>jinja</em>.  Kami dapat bonus selembar stiker yaitu stiker musim panas, berhubung saat itu bulan Juni.  Kalau kita bisa mengumpulkan empat stiker musim berbeda, kita akan memperoleh kenang-kenangan dari Ebisu-ya.  Menumpang <em>jinrikisha</em> selama lebih dari 20 menit, lebih dari sejam, dan lebih dari tiga jam, juga akan mendapatkan hadiah tersendiri.</p>
<div id="attachment_903" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02085.jpg"><img class="size-full wp-image-903" title="DSC02085" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02085.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Turunan dan rel kereta api pun diterabas cepat. Kami yang menumpang yang agak ngeri...</p></div>
<div id="attachment_904" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02090.jpg"><img class="size-full wp-image-904" title="DSC02090" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02090.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Terima kasih, pak penarik jinrikisha!</p></div>
<p>Kami dibuat terkagum-kagum oleh para penarik <em>jinrikisha</em>, yang tidak saja kuat berlari-lari menarik kereta kecil beroda dua yang ditumpangi dua orang, melainkan juga tetap bisa mengobrol ramah dengan kami dan menjadi pemandu yang menerangkan berbagai hal yang kami lihat.  Sewaktu hampir tiba di Tsurugaoka Hachimangu, sempat pula ia mengetes pengetahuan kami.  “Hayo, apa bedanya temple dengan shrine?”</p>
<p>Ini contekannya buat Anda: yang disebut shrine alias <em>jinja</em> adalah tempat peribadahan umat Shinto, dengan ciri khas gerbang torii berwarna merah di bagian depan.  Di peta, biasanya shrine ditandai dengan sebentuk torii kecil, contohnya Tsurugaoka Hachimangu-<em>jinja</em> yang sedang kami singgahi.  Sementara, temple adalah tempat peribadahan umat Buddha, tanpa ada torii, dan di peta biasanya ditandai dengan swastika, misalnya Kotoku-in (tempat Daibutsu Kamakura bersemayam) dan Jyufuku-ji.</p>
<p>Kompleks <strong>Tsurugaoka Hachimangu <em>jinja</em></strong> telah menjadi tempat peribadahan bahkan sebelum Minamoto no Yoritomo datang ke Kamakura&#8230; dan dia datang di tahun 1180.  Di kompleks ini, terdapat panggung di mana Shizuka Gozen menari, namun sayangnya tak sempat kami lihat.  Hari itu perhatian kami tersita oleh sebuah perhelatan yang kami anggap bagian dari keberuntungan kami sebagai tamu: pernikahan tradisional yang sedang berlangsung.  Tentu tidak kami sia-siakan kesempatan menjadi ‘tamu menonton doang’ yang ikut menikmati keindahan khidmat upacara itu.  Orang-orang, kenal ataupun tidak dengan pasangan pengantin, dengan wajah bahagia ikut mengucap <em>omedetou</em> (‘selamat’).  Maaf foto-foto pengantin tidak bisa kami pajang, meskipun mereka mengizinkan kami mengambil gambar mereka dari depan ketika melangkah keluar dari <em>jinja</em>.</p>
<div id="attachment_905" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02100.jpg"><img class="size-full wp-image-905" title="DSC02100" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02100.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Torii di depan Tsurugaoka Hachimangu-jinja.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02113.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-906" title="DSC02113" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02113.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_907" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02123.jpg"><img class="size-full wp-image-907" title="DSC02123" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02123.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Pemusik dalam upacara pernikahan tradisional yang kami saksikan.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02133.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-908" title="DSC02133" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02133.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02134.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-909" title="DSC02134" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02134.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Saat duduk-duduk beristirahat di samping bangunan utama, baru terasa kalau kami lelah.  Kaki belum mau diajak kompromi berdiri dan berjalan lagi, tapi hari semakin sore – sudah hampir waktunya kami meninggalkan Tsurugaoka Hachimangu yang akan segera tutup.  Kami pun kembali ke stasiun, kali ini berjalan kaki (berkat semangat yang mendadak muncul lagi) melewati rute berbeda dengan yang tadi ditempuh <em>jinrikisha</em>.  Bunga ajisai yang juga ditanam dalam pot-pot di stasiun seolah mengantarkan kepergian kami dari kota yang pernah menjadi ibukota Jepang di masa lalu itu.</p>
<p><em><strong><span style="text-decoration:underline;">Bagaimana kami mencapai Kamakura</span></strong></em></p>
<p>Kami membeli <strong>Enoshima-Kamakura pass </strong>seharga <strong>1430 yen </strong>(harga dewasa normal) yang berlaku untuk <strong>satu hari </strong>di Stasiun <strong>Shinjuku, Tokyo</strong>.   Dengan tiket ini kami bisa menumpang kereta <strong>Odakyu </strong>dari <strong>Shinjuku </strong>ke <strong>Fujisawa</strong>, lalu meneruskan perjalanan ke <strong>Kamakura </strong>dengan<strong> kereta Enoden</strong>, atau meneruskan naik <strong>Odakyu </strong>ke <strong>Enoshima</strong>.  Antara Shinjuku dan Fujisawa, kami tidak boleh turun kereta seenaknya.  Namun dari Fujisawa-Kamakura atau Fujisawa-Enoshima, kami bebas naik-turun di setiap stasiun karena kedua rute ini yang dihitung sebagai <strong>rute bebas</strong>.</p>
<p><em><strong>Posted by Tante Guru</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/872/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=872&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/12/30/kamakura-kyoto-nya-jepang-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">japan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01947.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01947</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01952.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01952</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01958.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01958</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01965.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01965</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01966.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01966</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01968.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01968</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01971.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01971</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01977.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01977</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01973.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01973</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01974.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01974</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01982.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01982</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01984.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01984</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01996.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01996</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc01999.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01999</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02000.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02001.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02001</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02012.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02012</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02017.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02017</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02018.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02018</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02021.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02021</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02029.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02029</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02031.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02031</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02035.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02035</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02036.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02036</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02037.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02037</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02046.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02046</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02047.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02047</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02044.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02044</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02075.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02075</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02066.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02066</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02074.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02074</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02085.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02085</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02090.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02090</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02100.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02100</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02113.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02113</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02123.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02123</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02133.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02133</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc02134.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02134</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Pulang&#8217; Ke Sumatera Utara (Bagian I)</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/12/19/sumut/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/12/19/sumut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 04:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[danau toba]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[medan]]></category>
		<category><![CDATA[parapat]]></category>
		<category><![CDATA[pematang siantar]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera utara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=841</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Desember 2011, saya berkesempatan melakukan perjalanan singkat ke Sumatera Utara.  Rasanya agak seperti pulang ke kampung halaman, karena dulu, 16 tahun lalu, saya pernah tinggal di provinsi ini.  Tidak lama memang, satu setengah tahun, tapi cukup untuk menimbulkan kangen.  Dulu saya tinggal di Pangkalan Brandan/Tangkahan Lagan, kota di sebelah utara Medan yang berkembang pesat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=841&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-22" title="indonesia" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg?w=535" alt="This post is about Indonesia"   /></a></p>
<p>Bulan Desember 2011, saya berkesempatan melakukan perjalanan singkat ke <strong>Sumatera Utara</strong>.  Rasanya agak seperti pulang ke kampung halaman, karena dulu, 16 tahun lalu, saya pernah tinggal di provinsi ini.  Tidak lama memang, satu setengah tahun, tapi cukup untuk menimbulkan kangen.  Dulu saya tinggal di Pangkalan Brandan/Tangkahan Lagan, kota di sebelah utara Medan yang berkembang pesat berkat Pertamina.  Konon sekarang kota itu tak lagi seramai dulu sejak Pertamina perlahan-lahan meninggalkan basis operasinya itu.  Meskipun saya berkeinginan untuk menengok kota tersebut, jadwal kali ini tak memungkinkan saya bertandang.  Saya justru menuju ke selatan Medan, ke danau Toba.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04679.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-854" title="DSC04679" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04679.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Saya berangkat ke Medan menggunakan <strong>Batavia Air</strong> dengan pesawat <strong>A330</strong> yang nyaman dan beruang kaki lega.  Pesawat mendarat pukul 9 lewat di bandara <strong>Polonia</strong> yang, sayangnya, tidak mengalami banyak perubahan sejak terakhir saya lihat 16 tahun lalu.  Memang sepertinya perbaikan yang dilakukan untuk Polonia belakangan ini hanya bersifat kosmetik, mengingat ada bandara baru Medan yang sedang dibangun dan rencananya akan mulai dioperasikan tahun 2012, <strong>Kuala Namu</strong>.  Demikian banyak harapan tergantung pada bandara yang baru selesai 70% itu – termasuk juga di hati saya yang miris karena gerbang masuk Indonesia di sebelah barat ini ternyata tidak memiliki bandara yang memadai.  Padahal Polonia adalah bandara internasional yang menjadi tempat singgah maskapai-maskapai yang melayani rute-rute ke negara-negara tetangga, seperti Firefly, AirAsia, Jetstar, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kami langsung bertolak ke Parapat, kota kecil di tepian Danau Toba.  Rute yang kami ambil adalah yang melewati <strong>Pematang Siantar</strong>.  Terus-terang, saya agak deg-degan, karena tahu bahwa beberapa tahun silam, daerah sekitar danau tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah.  Masihkah danau itu cantik seperti dahulu?  Apakah jumlah wisatawan telah kembali meningkat, setelah anjlok di masa krisis ekonomi (dan lingkungan)?  Saya juga tegang sendiri mengira-ngira akan seperti apa perasaan saya seandainya danau itu sudah betul-betul jauh dari yang saya ingat.</p>
<p>Jalan yang kami lewati masih juga kecil, hanya dua jalur.  Kota-kota kecil di kiri-kanannya bagaikan terayun-ayun mengantuk.  Sedih rasanya melihat banyak rumah-toko kuno yang sangat saya sukai arsitekturnya berada dalam kondisi yang kurang terawat.  Justru di kota-kota itu bangunan-bangunan ruko modern yang generik dan tidak menarik mulai menjamur.  Gemas.  Berpikir mengapa pemerintah tidak berusaha lebih keras menyelamatkan deretan-deretan toko tua itu, yang bila direnovasi pasti akan terlihat kembali cantik sekali, dan bahkan bisa memikat wisatawan seperti di Singapura atau Malaysia.</p>
<p>Kami menyempatkan mampir di &#8216;toko roti&#8217; <strong>Paten </strong>di <strong>Pematang Siantar</strong>.  Meski sebutannya &#8216;toko roti&#8217;, tidak ada &#8216;roti&#8217; yang dijual di toko ini, melainkan beraneka penganan tradisional yang dipengaruhi Cina dengan nama-nama seperti tingting, tungtung, tangtang, pangpang, dan lain sebagainya.  Pasti banyak yang mendadak &#8216;serakah&#8217; ingin mencicipi semua sampel yang tersedia.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04671.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-851" title="DSC04671" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04671.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04672.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-852" title="DSC04672" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04672.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04673.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-853" title="DSC04673" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04673.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Kami melewati sejumlah perkebunan, sebagian di antaranya telah digarap sejak zaman kolonial, dan tanaman komoditi yang dipelihara masih itu-itu saja: karet.  Komoditi yang telah membesarkan Medan dahulu.  Namun saat ini, sebagian tanaman karet telah digantikan oleh tanaman lain seperti cokelat, kelapa sawit, dan lain-lain.</p>
<p>Saat melintasi perkebunan karet, saya jadi menyadari sesuatu yang luput dari perhatian saya dahulu: di kaki pohon-pohon karet, polong-polongan (legum) yang rupanya sengaja ditanam tumbuh subur.  Ini adalah sebentuk kearifan: keberadaan polong-polongan mencegah rumput liar tumbuh, dan bakteri pengikat nitrogen yang hidup dalam bintil akar polong-polongan menjaga tanah tetap subur.</p>
<p>Setiba di Parapat, atau tepatnya agak di bagian luarnya karena di situlah hotel kami terletak, matahari sudah mulai tergelincir ke barat.  Ah, memang seharian ini matahari tidak terik.  Suhu Medan ketika kami  tiba saja ‘hanya’ 26 derajat – cukup sejuk bagi penghuni dataran rendah seperti kami yang terbiasa dipanggang suhu lebih dari 30 derajat di siang hari.  Awan kelabu menggelayuti <strong>Danau Toba</strong>, siap menumpahkan hujan.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04738.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-846" title="DSC04738" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04738.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Tanpa <em>check-in </em>ke hotel terlebih dahulu, kami naik ke kapal dari dermaga sederhana di depan hotel untuk menuju Batu Gantung, lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke Ambarita dan Tomok di Pulau Samosir.  Saya baru bisa memandang Parapat dari kejauhan saja: sebuah masjid besar, sebuah gereja terlihat di atas bukit, bangunan-bangunan yang tampaknya merupakan hotel&#8230;  Kelihatan begitu damai di seberang air sana.  Apakah kota ini tidak berubah?</p>
<p>Hmm&#8230; rasanya pepohonan di perbukitan sekitar kota itu tidak selebat dulu.  Inikah sisa-sisa dari perusakan lingkungan yang sampai menyebabkan pamor Danau Toba jatuh?  Untungnya sekarang semakin banyak pihak yang peduli dan berusaha mengembalikan kehijauan di sekeliling Toba.  Ada pohon-pohon muda yang tampak sedang berjuang tumbuh besar.  Sesemakan juga menjadi pertanda bahwa suksesi ekologis terus berlangsung.</p>
<div id="attachment_855" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04682.jpg"><img class="size-full wp-image-855" title="DSC04682" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04682.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Hotel Siantar terlihat dari geladak kapal.</p></div>
<p>Ngomong-ngomong, air Danau Toba yang gelap menandakan dalamnya danau yang terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Toba puluhan ribu tahun lalu itu.  Saya jadi teringat lagi bahwa saya kini sedang melayari sebuah kawah raksasa yang terisi air.  Pulau Samosir yang juga berukuran besar, hanya terlihat satu ujungnya dari sisi danau tempat kami berada, sehingga ada anggota rombongan yang tidak mengira bahwa jejeran gunung di hadapannya saat itu adalah pulau yang dimaksud.  Ya, Pulau Samosir saja saking besarnya tidak terlihat seperti pulau, apalagi danau tempatnya tertambat.</p>
<p>Angin dingin menerpa wajah saya yang duduk di atap anjungan kapal, sementara kabut membayangi Samosir.  Saya berusaha tidak mengacuhkan tamparan angin, karena selama masih bisa, saya tidak mau duduk di tingkat bawah.  Saya ingin mendapatkan pemandangan seluas-luasnya dari danau yang telah bertahun-tahun hanya hadir di ingatan saya.  Memotret pun menjadi lebih mudah – meski kamera saya bukanlah tipe canggih yang bisa menghasilkan gambar-gambar luar biasa tajam.  <strong>Batu Gantung</strong> pun tidak luput dari rekaman lensa saya, sementara telinga saya menyimak penjelasan tentang asal-muasal batu berbentuk menonjol itu.</p>
<p>Saya tidak begitu ingat kisah yang pernah saya dengar sebelumnya, dan bertanya-tanya apakah ada perbedaan pada kisah asal-muasal itu.  Intinya: batu itu adalah seorang putri yang terjepit batu yang merapat (asal nama ‘Parapat’?), ditemani oleh anjing setianya yang juga berubah menjadi batu.  Benar ataupun tidak, kisah itu menambah nilai batu yang sebenarnya bagi sebagian orang, susah dicari kemiripannya dengan tubuh manusia.</p>
<div id="attachment_856" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04684.jpg"><img class=" wp-image-856" title="DSC04684" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04684.jpg?w=448&#038;h=336" alt="" width="448" height="336" /></a><p class="wp-caption-text">Burung-burung yang terpikat ikan-ikan menggiurkan di keramba beterbangan bebas di atas air.</p></div>
<div id="attachment_857" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04692.jpg"><img class="size-full wp-image-857" title="DSC04692" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04692.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Batu Gantung.</p></div>
<p>Dalam perjalanan, kami dihibur oleh tiga orang anak yang menyanyikan lagu-lagu Batak untuk kami.  Mereka ini sebenarnya membantu-bantu di kapal, dan memperoleh penghasilan dari para wisatawan dengan suara mereka yang cukup merdu.  Sayang, mungkin karena hambatan bahasa, mereka kesulitan menjelaskan arti lagu-lagu yang mereka nyanyikan, selain menerangkan singkat-singkat bahwa &#8216;Ini lagu selamat datang&#8217; dan semacamnya.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04700.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-858" title="DSC04700" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04700.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Perhentian berikutnya adalah <strong>Ambarita</strong> di <strong>Pulau Samosir</strong>, untuk melihat warisan budaya <strong>Raja</strong> <strong>Siallagan</strong> berupa sekelompok rumah adat yang masih berkondisi baik dan kumpulan kursi persidangan dari batu serta tempat penyiksaan dan eksekusi tawanan.  Sayang, meskipun gerbang yang menyambut kami di dermaga cukup megah, dan warisan budaya yang dimaksud masih terawat, namun jalan melintasi pasar suvenir yang kami harus lewati untuk menuju Batu Kursi Raja Siallagan ternyata masih seadanya.  Bila hujan turun, pasti jalan itu akan sangat tidak nyaman untuk dilewati.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04706.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-859" title="DSC04706" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04706.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04710.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-860" title="DSC04710" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04710.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04711.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-861" title="DSC04711" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04711.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Kami masuk ke kawasan desa adat melalui gerbang batu yang diapit oleh dua sosok patung, melambangkan laki-laki dan perempuan seperti yang terlihat dari penampakan ciri-ciri keduanya.  Di sebelah dalam desa yang dikelilingi tembok batu itu, tegak sejumlah rumah adat.  Meski hanya satu di antara rumah-rumah itu yang dilabeli ‘museum’, sesungguhnya seluruh desa telah menjadi museum <em>open-air</em>.  Sebagian di antaranya dihiasi bentuk empat payudara perempuan, selain ornamen berbentuk cicak yang memang sering muncul di berbagai produk budaya Batak.  Keempat payudara itu melambangkan berbagai sifat baik – dan, menurut pemandu setempat kami di Ambarita, bila rumah seseorang memiliki hiasan tersebut, itu adalah pertanda pemilik rumah itu berkecukupan dan dermawan.</p>
<p>Sang pemandu setempat lincah bercerita.  Ia menuturkan tentang betapa di masa lalu, penjahat-penjahat yang tertangkap akan dikurung di tempat pemasungan di bawah rumah yang berada tepat di depan kumpulan ‘<strong>batu</strong> <strong>kursi’</strong> (memang begini menyebutnya, bukan ‘kursi batu’).  Pemasungan tersebut khusus karena telah disiapkan untuk mengisap ilmu hitam sang tersangka selama satu minggu penahanan.  Padahal bagian bawah rumah biasanya adalah tempat memelihara babi.  Ya, penjahat dianggap sudah hilang martabatnya sebagai manusia, sama dengan hewan seperti babi dan anjing, dan pantas untuk ‘tinggal’ di bagian rumah sebelah situ.</p>
<p>Para tetua desa, termasuk sang raja, mengadili sang tersangka sambil duduk di batu kursi yang dinaungi sebatang pohon besar.  Mereka menentukan ‘hari baik’ (yang mungkin tidak terasa ‘baik’ bagi sang terdakwa) berdasarkan kalender Batak.  Pengkhianat, pembunuh, dan pemerkosa akan mendapatkan hukuman paling berat, yakni dieksekusi setelah disiksa terlebih dahulu.  Kejahatan yang lebih ringan biasanya ‘hanya diganjar’ siksaan.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04713.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-862" title="DSC04713" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04713.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_863" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04716.jpg"><img class="size-full wp-image-863" title="DSC04716" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04716.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Gerbang masuk ke desa adat di Ambarita, dengan dua patung batu yang mengapit.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04718.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-864" title="DSC04718" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04718.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04719.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-865" title="DSC04719" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04719.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_843" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04724.jpg"><img class="size-full wp-image-843" title="DSC04724" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04724.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Pemandu setempat kami di Ambarita.</p></div>
<div id="attachment_842" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04721.jpg"><img class="size-full wp-image-842" title="DSC04721" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04721.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Batu Kursi tempat tetua kerajaan bersidang menentukan hukuman bagi penjahat. Pemasungan terletak di bawah rumah yang ada di sebelah tengah.</p></div>
<p>Tapi siksaannya apa dulu, nih?  Sekadar peringatan, bagian yang berikut ini mungkin agak sadis bagi sebagian orang.  Bila Anda biasanya tidak kuat dengan cerita-cerita seperti ini, silakan langkahi bagian ini sampai foto berikutnya.</p>
<p>Pemandu menggiring kami ke kumpulan batu kursi kedua.  Di bagian tengah, ada sebuah meja bulat.  Di sinilah diletakkan berbagai macam makanan enak, terutama yang disukai terhukum, yang boleh ia nikmati sebagai semacam ‘permintaan terakhir’.  Saya sih tidak merasa si terhukum bakal berselera makan, ya&#8230;</p>
<p>Di situ juga ada meja batu tempat terhukum diikat dengan kondisi mata tertutup untuk disiksa.  Pertama-tama mereka dipukuli dengan tongkat, sekaligus untuk menguji apakah masih ada ilmu mereka yang tertinggal, yang ditandai dengan tidak terasanya sakit akibat rentetan pukulan itu. Kalau ternyata masih ada ilmu yang tertinggal, mantra-mantra akan dibacakan dalam upaya mengusir keluar ilmu itu. Kemudian tubuh terhukum digurat-gurat dari atas ke bawah, lalu diciprati air jeruk nipis.  Duuuh!  Kebayang <em>nggak </em>betapa perihnya siksaan itu?</p>
<p>Setelah itu, tibalah saat penghukuman mati.  Kepala terhukum diletakkan di atas sebuah landasan batu.  Algojo sambil berteriak ‘horas’ tiga kali akan menebaskan pisau panjangnya (juga tiga kali) ke leher terhukum sampai kepala dan tubuhnya terpisah.  Darah yang tercurah ditampung, dan diserahkan kepada raja untuk diteguk agar ilmu sang terhukum berpindah ke tubuh raja.  Sudah mual?  Belum selesai, nih.  Organ-organ tubuh terhukum lantas diambil dan dicincang, dibagikan kepada semua hadirin yang lantas menyantapnya.  Sekali lagi, ini karena terhukum sudah dianggap seperti binatang saja, dimakan pun pantas.  (Menurut pemandu, inilah cikal-bakal cerita bahwa orang Batak ‘makan orang’!)</p>
<p>Sisa-sisa bagian tubuh terhukum lantas dikuburkan tak jauh dari kumpulan batu kursi tempat mereka menemui ajal – namun tempat penguburan itu sudah tak ada lagi, tertutup bangunan.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04725.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-844" title="DSC04725" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04725.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_845" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04727.jpg"><img class="size-full wp-image-845" title="DSC04727" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04727.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Tempat terhukum dijatuhi siksaan dan hukuman penggal.</p></div>
<p>Kami akhirnya melangkah keluar melalui gerbang yang berbeda dari yang kami gunakan untuk masuk, dan langsung disambut deretan toko suvenir lagi.  Ah, ya, para penjual suvenir masih sengotot dan seblak-blakan dulu, tak malu menggerutu di depan calon pembeli yang dirasa pelit.  Kami hanya bisa membalas kata-kata mereka dengan cengiran.</p>
<p>Kami kembali ke kapal untuk berpindah ke <strong>Tomok</strong>.  Hari sudah lewat pukul enam dan gelap.  Gilanya, di kapal yang kami tumpangi tidak ada lampu sama sekali, bahkan di ruang kemudi.  Saya jadi agak ngeri juga, dan diam-diam mulai mencari-cari di mana ada jaket pelampung yang diperlukan bila ada keadaan darurat.  Duh, sepertinya kok tidak ada.  Gawat ini.  Sekadar berbagi, feri yang diperuntukkan bukan untuk turis pun di Chao Phray, Bangkok dilengkapi peralatan keselamatan yang memadai.  Yah, saya hanya bisa berdoa semoga perjalanan kapal ini lancar apa adanya.</p>
<p>Sebagian besar vila dan hotel yang berjejer di tepi danau, meski terlihat nyaman, tampak sepi dan bahkan sering kali tanpa lampu menyala.  Rupanya Danau Toba belum lagi memasuki ‘masa liburan akhir tahun’.   Wisatawan yang terlihat jelas oleh kami paling-paling satu keluarga asing yang baru selesai berenang dan melambai-lambai dengan ramah kepada kami.</p>
<p>Tomok terlihat lebih siap menyambut wisatawan daripada Ambarita.  Jalanan kecil yang membelah pasar suvenir menuju makam Raja Tomok telah berlapis <em>conblock</em>, dan toko-toko juga terlihat lebih tertata.  Sayang karena sudah malam, sebagian besar toko sudah tutup dan sigale-gale tak bisa dipentaskan.  Namun kami cukup puas dengan pengalaman yang cukup seru: duduk dikelilingi kegelapan di pemakaman Raja Tomok, sambil mendengarkan kisah tentang ketiga raja besar masa lalu dari pemandu setempat.  Tentang betapa makam raja kedua menyimpan kisah cinta tragis: patung sosok perempuan yang ada di atas cungkup sarkofagus bukanlah permaisurinya, melainkan tunangannya yang dipercaya kena guna-guna dan menghilang tak lama sebelum pernikahan mereka.  Tak ada yang tahu apakah jenazahnya terbaring di hutan ataukah di dalam danau.</p>
<p>Pemandu juga menjelaskan bahwa raja-raja terawal masih menganut Parmalim, agama Batak yang melarang memangsa babi, anjing, dan darah; dan bahwa kain tiga warna yang dibentangkan di atas sarkofagus raja pertama dan kedua melambangkan ketiga dunia: dunia atas (putih), dunia tengah (merah), dan dunia bawah (hitam).  Banyak sekali penuturan menarik kami peroleh dari beliau, termasuk filosofi ornamen cicak yang memang membuat kami penasaran.  Menurutnya, itu adalah harapan raja Batak (siapa raja yang dimaksud, tidak ia perinci) agar orang Batak bisa beradaptasi di mana pun mereka berada, seperti cicak yang bisa menempel di mana saja.  “Saya yakin di Bulan juga sudah ada orang Batak,” candanya.</p>
<p><strong><em>Tip: </em></strong>Jangan lupa berdonasi seikhlasnya seusai mengunjungi desa adat dan/atau pemakaman di Pulau Samosir.  Kotak donasi biasanya terletak di samping pintu keluar.</p>
<p>Kami kemudian menyeberang kembali ke hotel untuk <em>check in</em>.  <strong>Hotel Siantar</strong> namanya.  Samar-samar saya ingat bahwa sewaktu SMP dulu, ketika berlibur ke Danau Toba bersama orang tua saya, di sini juga dulu kami tinggal.  Kalau ingatan saya benar, tak banyak yang berubah di hotel itu sejak belasan tahun lalu.  Saya rasa sebagian perabotnya juga masih sama.  Rakas di samping tempat tidur masih dihiasi tombol-tombol model lama yang tak lagi fungsional untuk mengatur lampu dan lain sebagainya.  Bersih sih bersih (meski sepreinya seharusnya bisa lebih bersih lagi), hanya saja memang tidak istimewa, kecuali pemandangan tak teralang ke arah danau dan kota Parapat.  Makanan yang disajikan di ruang makan juga cukup lezat, apalagi bila disantap di meja-meja di samping jendela.</p>
<p>Esok paginya, sebelum kembali ke Medan kami menyempatkan diri beputar-putar sejenak di <strong>Parapat</strong>.  Kata yang terlintas di benak saya sewaktu melihat Parapat kini adalah ‘tua’.  Ya, renta.  Ternyata dari dekat, ketahuan banyak bangunan sepertinya tak pernah mendapatkan perbaikan bertahun-tahun.  Hotel-hotel tampak agak kumuh, dengan cat mengelupas di sana-sini, dibandingkan dengan yang ada di Pulau Samosir.  Barangkali mereka lebih ditujukan untuk wisatawan domestik, sementara yang di Samosir wisatawan asing yang barangkali menuntut fasilitas yang lebih bagus?  Entahlah.  Namun, di saat yang sama dengan kelembaman yang menguasai atmosfer kota itu, di alun-alun terlihat kesibukan.  Parapat sedang berbenah untuk <strong>Festival Danau Toba</strong> yang akan berlangsung mendekati akhir tahun, sekaligus juga aliran pengunjung yang tentunya diharapkan meningkat di musim liburan.  Semoga festival tersebut dapat kembali mengembalikan gairah pariwisata di Danau Toba dan sekitarnya.</p>
<p>Kali ini kami mengambil rute berbeda dari ketika datang ke Parapat, yaitu melewati Pintu Angin untuk melihat air terjun <strong>Sipiso-piso</strong>, lalu Kabanjahe dan kemudian Brastagi.  Rute ini lebih ‘liar’ – membelah pepohonan yang terkadang cukup rapat, sebagian tanpa penerangan (untungnya sih, kami melewatinya di kala siang!), sempit dan berliku, terkadang mobil harus menempel pas sekali ke bibir jurang, kerap kali jalanan benar-benar sepi dari pemukiman penduduk – namun pemandangan yang ditawarkan lebih indah daripada rute yang satu lagi.  Jalan lebih panjang menyusuri tepian Danau Toba, sehingga danau itu seolah tak mau lepas dari kami.  Kami juga tak kunjung puas rasanya menikmati kecantikan danau itu, yang kadang mengintip dari balik rerimbunan pepohonan.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04742.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-847" title="DSC04742" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04742.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Di air terjun <strong>Sipiso-piso</strong>, bagi saya, sebenarnya yang lebih mengagumkan daripada aliran air deras yang terjun bebas menuju sebuah sungai nun jauh di bawah sana, adalah pemandangan Danau Toba yang terlihat dari anjungan pengamatan.  Luar biasa.  Warna biru kelabu air danau dan langit berpadu dengan hijaunya perbukitan, mengundang untuk berlama-lama memandanginya.  (Seandainya saja saya bisa!)</p>
<p>Baru di Sipiso-piso inilah kami melihat cukup banyak turis asing, rata-rata sudah sepuh.  Namun justru mereka yang dengan bersemangat menuruni undak-undakan agar bisa lebih dekat dengan air terjun.  Beberapa kali terdengar mereka berucap, “Beautiful&#8230;”</p>
<div id="attachment_849" class="wp-caption aligncenter" style="width: 346px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04758.jpg"><img class="size-full wp-image-849" title="DSC04758" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04758.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Air Terjun Sipiso-piso.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04762.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-850" title="DSC04762" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04762.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04748.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-848" title="DSC04748" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04748.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Hanya saja satu yang saya agak heran di tempat perhentian Sipiso-piso ini.  Udara sedingin ini, dan tidak ada yang menjual gorengan?  Atau kebetulan saya sedang sial, datang saat tidak ada yang sedang berjualan?  Padahal mengamati pemandangan dari situ pastilah lebih enak ketika ditemani gorengan hangat.  Mungkin ini bisa jadi ide bisnis baru?</p>
<p><em>Kisah kami berikutnya tentang kunjungan ke Sumatera Utara: melintasi Brastagi, dan akhirnya&#8230; Medan!</em></p>
<p><strong><em>Posted by Tante Guru</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/841/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=841&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/12/19/sumut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04679.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04679</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04671.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04671</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04672.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04672</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04673.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04673</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04738.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04738</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04682.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04682</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04684.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04684</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04692.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04692</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04700.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04700</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04706.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04706</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04710.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04710</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04711.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04711</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04713.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04713</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04716.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04716</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04718.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04718</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04719.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04719</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04724.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04724</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04721.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04721</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04725.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04725</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04727.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04727</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04742.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04742</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04758.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04758</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04762.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04762</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/12/dsc04748.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04748</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemenang CD TVXQ!, TONE</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/15/pemenang-cd-tvxq-tone/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/15/pemenang-cd-tvxq-tone/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 23:56:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=838</guid>
		<description><![CDATA[Selamat, ich1heavens!  Kamulah yang berhak memperoleh CD TVXQ! TONE.  Hadiah akan kami kirimkan secepatnya, setelah kamu memberikan data kamu melalui surat elektronik. Tapi ada juga pemenang hadiah bonus lho.  Apa itu?  Hmmm&#8230; nanti ya kami beri tahukan! Semua akan dihubungi melalui surat elektronik.  Terima kasih atas semua yang telah berpartisipasi! Oh ya, bila kalian menyukai K-pop, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=838&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat,<strong> <a href="http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/03/shin-okubo-korean-town-di-tokyo/#comment-242" rel="external nofollow" target="_blank">ich1heavens</a></strong>!  Kamulah yang berhak memperoleh CD TVXQ! TONE.  Hadiah akan kami kirimkan secepatnya, setelah kamu memberikan data kamu melalui surat elektronik.</p>
<p>Tapi ada juga pemenang hadiah bonus lho.  Apa itu?  Hmmm&#8230; nanti ya kami beri tahukan!</p>
<p>Semua akan dihubungi melalui surat elektronik.  Terima kasih atas semua yang telah berpartisipasi!</p>
<p>Oh ya, bila kalian menyukai K-pop, kunjungi juga <strong><a title="Mata Kelabu" href="http://matakelabu.coffee-cat.net" target="_blank">blog milik Tante Guru satu lagi</a></strong>, karena di sanalah ia menuliskan liputan tentang berbagai konser dan festival musik Korea yang ia hadiri.  Misalnya, ini adalah liputan terbarunya tentang <strong><a title="2PM Jakarta" href="http://matakelabu.coffee-cat.net/2011/11/14/111111-2pm-hands-up-jakarta/" target="_blank">konser 2PM di Jakarta</a></strong> baru-baru ini.</p>
<p>Sampai jumpa di bagi-bagi hadiah kami selanjutnya!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/838/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=838&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/15/pemenang-cd-tvxq-tone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Bangsa di Intramuros</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/09/sejarah-bangsa-di-intramuros/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/09/sejarah-bangsa-di-intramuros/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 15:18:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[filipina]]></category>
		<category><![CDATA[angkutan umum]]></category>
		<category><![CDATA[benteng]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[manila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[“Maaf, saya terlalu banyak berbicara ya?” Saya hanya tertawa mendengar pertanyaan supir taksi ramah yang nyaris tanpa putus mengajak saya mengobrol sedari bandara.  Berbagai hal ia tanyakan, mulai dari wajah saya yang menurutnya mirip wajah orang Filipina, sampai agama mayoritas di Indonesia.  Sebagai balasan, ia juga memberi tahu saya mengenai berbagai hal yang bagi saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=778&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/01/filipina.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-416" title="filipina" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/01/filipina.jpg?w=535" alt="This post is about The Philippines"   /></a></p>
<p>“Maaf, saya terlalu banyak berbicara ya?”</p>
<p>Saya hanya tertawa mendengar pertanyaan supir taksi ramah yang nyaris tanpa putus mengajak saya mengobrol sedari bandara.  Berbagai hal ia tanyakan, mulai dari wajah saya yang menurutnya mirip wajah orang Filipina, sampai agama mayoritas di Indonesia.  Sebagai balasan, ia juga memberi tahu saya mengenai berbagai hal yang bagi saya baru sama sekali di Manila, misalnya bagaimana menumpangi <em>jeepney</em>, angkot ala Filipina yang menjadi salah satu ‘<em>trademark</em>’ negara tersebut.</p>
<p>Padahal sewaktu akan berangkat ke Filipina, saya sempat was-was juga.  Saya datang ke Manila untuk suatu urusan, namun ternyata acara tersebut batal, sementara tiket pesawat dan hotel tidak bisa saya gugurkan.  Akhirnya saya memutuskan tetap berangkat, sendirian, karena sayang betul kalau semua pesanan saya hangus.  Lagipula, tidak ada salahnya menapaki negara yang belum pernah saya kunjungi, kan?</p>
<div id="attachment_782" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04012.jpg"><img class="size-full wp-image-782" title="DSC04012" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04012.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Sedikit pemandangan Manila - tepatnya di Pasay City.</p></div>
<p>Teman saya yang saya ajak ke Manila menolak karena sejumlah alasan, salah satunya karena menurut adiknya, negara itu tidak aman.  Hmm, iya sih.  Salah satu yang cepat melintas di benak orang saat mendengar nama Filipina adalah gelombang kekerasan yang kerap terjadi terutama di selatan Filipina.  Namun saya membesarkan hati saja.  Kota tempat saya bekerja, Jakarta, juga bukan kota yang aman.  Dan di negara saya pun kerap terjadi kekerasan di sana-sini, tapi  ternyata tidak berpengaruh ke bagian-bagian lain negara, kan?  Lagipula di Manila, telah menanti teman-teman saya yang dengan baik hati menawarkan ‘mengadopsi’ saya selama dua hari.</p>
<p>Saya berangkat ke Filipina dengan pesawat <strong>Cebu Pacific</strong> yang meninggalkan tanah air selepas tengah malam, lengkap dengan keterlambatan satu jam.  Pesawat tiba sekitar pukul 7 pagi di <strong>Terminal 3 Ninoy Aquino</strong>.  Ini bandara Manila yang dekat dengan ibukota Filipina tersebut.  Bila menggunakan <strong>AirAsia</strong>, Anda akan diantarkan sampai <strong>Bandara Clark</strong>, yang letaknya lebih jauh dari kota tersebut.</p>
<p>Salah satu hal yang kerap diwanti-wantikan kepada para wisatawan yang mengunjungi Filipina adalah berhati-hatilah dengan taksi.  Wujud mobilnya seringkali sudah tua dan tidak terawat, ditambah supirnya ogah menggunakan argo.  Namun, sekarang <strong>dari bandara sudah ada jasa taksi yang diawasi ketat dengan armada yang seluruhnya baru</strong>.  Di T3 Ninoy Aquino, ikuti saja papan penunjuk untuk mencapai tempat mengantri taksi.  Petugas akan membantu kita memperoleh salah satu taksi berwarna <strong>kuning</strong>.  Selain taksi kuning yang berargometer, ada pula taksi sewaan dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya.  Taksi model seperti ini tidak hanya berupa sedan, melainkan juga minivan, sehingga lebih pas untuk rombongan agak besar yang ingin tetap bersama-sama.</p>
<p>Selain taksi bandara yang berwarna kuning, taksi di Manila rata-rata berwarna putih polos, atau paling banter  dihiasi sedikit hiasan warna lain, hijau misalnya.  Sebagian mobil yang dioperasikan memang sudah butut – secara umum taksi-taksi di Jakarta masih jauh lebih bagus.  Untunglah selama di sana, saya tidak memperoleh pengalaman buruk dengan taksi.   Barangkali sih karena saya selalu disertai teman-teman saya yang asli Filipina ke mana-mana sehingga saya ‘aman’, tidak kena tipu.  Portir hotel juga membantu mencek apakah argometer sudah berjalan sebelum taksi saya meninggalkan hotel.</p>
<p>Namun kesan terkuat yang saya peroleh dari para bapak supir adalah mereka ramah-ramah dan gemar mengobrol.  Mungkin berkat penguasaan bahasa Inggris mereka yang juga cukup bagus, mereka juga tidak segan mengobrol dengan tamu asing sekali pun, seperti supir taksi yang saya kisahkan di awal tulisan ini.  Tawa mereka mewarnai perjalanan saya, menipiskan rasa ciut di hati karena berada di tempat yang asing bagi saya.</p>
<p>Taksi jugalah yang kami gunakan menuju salah satu daya tarik utama wisata di Manila, <strong>Intramuros</strong>, yang hanya berjarak beberapa menit dari hotel saya.  Intramuros yang dibangun Spanyol adalah kawasan kota tua Manila yang dikelilingi kubu-kubu pertahanan, seperti tercermin oleh namanya yang berarti ‘dilingkungi tembok’.</p>
<div id="attachment_787" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04092.jpg"><img class="size-full wp-image-787" title="DSC04092" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04092.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu bangunan bergaya Eropa di Intramuros.</p></div>
<p>Bangunan-bangunan yang masih ada di dalam Intramuros sangat bercirikan Eropa.  Kebanyakan sekolah tadinya juga berada dalam Intramuros, sebelum akhirnya Manila mengembang ke segala arah keluar dari kota berbenteng tersebut.  Sekarang ada beberapa universitas di dalam kawasan itu,  dan sejumlah bangunan kuno yang ada dialihkan menjadi asrama atau kantin bagi para mahasiswa.</p>
<p>Setiba di Intramuros, terlebih dahulu kami menyantap sarapan di salah satu cabang <strong>Chow King</strong> yang terletak di seberang basilika Manila.  Jaringan restoran Chow King ini juga ada di Jakarta, namun menu yang dijual banyak sekali perbedaannya.  Yang jelas, sebagian hidangan tersebut tidak halal.  Di Manila memang sulit kalau mau mencari restoran yang menjamin hidangannya disiapkan memenuhi persyaratan agama Islam.  Bahkan sepertinya di Vietnam masih lebih mudah menemukan restoran yang (setidaknya) memajang label ‘halal’.  Teman saya bahkan berkata sampai ragu mengajak teman lain dari Malaysia untuk bertandang ke Manila gara-gara hal itu.  “Mungkin sebaiknya kuajak ke Filipina Selatan saja,” katanya, menyebutkan bagian Filipina di mana banyak terdapat umat Muslim.</p>
<div id="attachment_836" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/2011-10-30-10-31-33.jpg"><img class="size-full wp-image-836" title="2011-10-30 10.31.33" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/2011-10-30-10-31-33.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Beef tapa dan siomay daging sapi yang dijual di Chow King cabang Filipina.</p></div>
<p>Orang Filipina tidak memadukan ayam goreng ala restoran cepat saji Amerika dengan sambal seperti kebiasaan kita, melainkan dengan <em>gravy</em><em> </em>(semacam saus kaldu kental).  Teman saya sampai berseloroh, makan ayam goreng tidak lengkap rasanya tanpa <em>gravy</em>.  Menurut mereka, di KFC boleh mengambil <em>gravy </em>sepuasnya, sehingga bisa saja kita hanya pesan nasi <em>tok</em>, lalu mengambil <em>gravy </em>sebanyak-banyaknya sampai jadi sup.  Tapi saya tidak sempat mencoba saran ini, sih, hehehe.</p>
<p>Dan kalau melihat paket ‘super sulit’ dijual di restoran, jangan cemas, karena itu sebenarnya berarti ‘super hemat’.  Sementara ‘sarap’ berarti ‘lezat’!</p>
<div id="attachment_788" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04095.jpg"><img class="size-full wp-image-788" title="DSC04095" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04095.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Katedral Manila.</p></div>
<p>Setelah mengisi perut, kami menyeberang jalan dan melintasi sebuah taman menuju <strong>Katedral </strong><strong>Manila</strong> yang berstatus sebagai ‘basilika’.  Bangunannya sungguh megah dan menggetarkan hati, namun konon pasangan yang menikah di situ justru tidak akan memperoleh pernikahan yang awet.  Legenda ini lahir dari banyaknya pasangan selebritis yang mengikat janji di basilika tersebut namun berujung pada perceraian.  Entah benar atau tidak.  Yang jelas, basilika tersebut tetap laris sebagai tempat melangsungkan pernikahan, dan harus dipesan jauh-jauh hari sebelumnya.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04098.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-789" title="DSC04098" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04098.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04105.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-790" title="DSC04105" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04105.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Hari itu pun saat kami berada di sana, sedang berlangsung upacara pernikahan yang khidmat.  Pengunjung tetap boleh masuk, namun tidak boleh memasuki dan memotret ruang utama katedral demi menghormati pasangan yang sedang berbahagia.  Akhirnya, saya pun harus cukup puas dengan memasuki ruang-ruang samping yang dihiasi jendela-jendela mosaik indah.  Sejumlah karya seni religius dan berbagai pajangan yang menerangkan berbagai hal tentang agama Katolik dipajang di ruang-ruang itu.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04112.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-791" title="DSC04112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04112.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Setelah bertamu ke basilika, kami menuju bekas benteng Spanyol yang menghadap Sungai Pasig, <strong>Fort Santiago</strong>.  Sebagian bangunan di dalam kompleks itu sudah tinggal reruntuhan, namun masih banyak juga yang terawat baik.  Kami membayar tiket masuk sebesar <strong>75 PHP</strong> untuk orang dewasa (50 PHP untuk pelajar), lantas melangkahkan kaki memasuki area pertama Fort Santiago, sebuah taman luas yang dihiasi sejumlah air mancur dan bangku yang nyaman.  Tak heran cukup banyak orang yang memanfaatkan taman ini untuk bercengkerama.</p>
<div id="attachment_792" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04119.jpg"><img class="size-full wp-image-792" title="DSC04119" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04119.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Kios tiket Fort Santiago.</p></div>
<div id="attachment_793" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04122.jpg"><img class="size-full wp-image-793" title="DSC04122" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04122.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Sudut taman di sebelah depan Fort Santiago.</p></div>
<p>Salah satu alasan Fort Santiago begitu spesial adalah di sinilah kita bisa mempelajari sejarah Filipina sebagai sebuah bangsa, karena di sinilah tempat salah seorang pahlawan terbesar mereka, <strong>Jose Rizal</strong>, ditahan sebelum kemudian dihukum mati.  Sebuah museum untuk mengenang beliau berdiri di salah satu pojok taman, sementara di jalan, kita dapat melihat tapak-tapak dari logam yang menjadi penanda rute yang ditempuh Jose Rizal dengan berjalan kaki dari selnya menuju <strong>Rizal Park</strong> tempat ia dieksekusi.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04130.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-794" title="DSC04130" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04130.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_832" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc041341.jpg"><img class="size-full wp-image-832" title="DSC04134" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc041341.jpg?w=535&#038;h=713" alt="" width="535" height="713" /></a><p class="wp-caption-text">Di balik gerbang ini, berbagai kenangan akan Jose Rizal tersimpan.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04139.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-796" title="DSC04139" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04139.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Kenangan akan sang dokter sekaligus penyair itu terpancar begitu kuat di area tersebut.  Suasana khidmat, namun tidak suram: kematian Jose Rizal membuka jalan bagi kebangkitan sebuah bangsa.  Museum memorial Jose Rizal ditata sederhana, namun meninggalkan kesan kuat.  Syair-syair karya beliau dalam berbagai bahasa dipajang di dinding-dinding museum.  Kutipan-kutipan beliau yang membakar semangat kebangsaan disusun dalam pajangan lampu, menghiasi sel beliau yang dibiarkan polos tanpa hiasan seperti saat masih digunakan.  Para perancang museum rupanya sadar benar bahwa keagungan Jose Rizal justru memang sungguh terasa dalam kesederhanaan ini.</p>
<div id="attachment_831" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc041721.jpg"><img class="size-full wp-image-831" title="DSC04172" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc041721.jpg?w=535&#038;h=713" alt="" width="535" height="713" /></a><p class="wp-caption-text">Patung Jose Rizal seukuran aslinya. Dari sini tapak-tapak kaki logam yang menapak tilas perjalanannya menjemput ajal bermula.</p></div>
<div id="attachment_799" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04147.jpg"><img class="size-full wp-image-799" title="DSC04147" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04147.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Museum kenangan untuk Jose Rizal, tak tampak mencolok di pojokan.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04141.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-797" title="DSC04141" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04141.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04149.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-800" title="DSC04149" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04149.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<div id="attachment_801" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04152.jpg"><img class="size-full wp-image-801" title="DSC04152" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04152.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Sel Jose Rizal.</p></div>
<div id="attachment_802" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04156.jpg"><img class="size-full wp-image-802" title="DSC04156" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04156.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Senjata Jose Rizal adalah kata-kata: maka museum untuk mengenang beliau pun didominasi kata-kata.</p></div>
<div id="attachment_803" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04158.jpg"><img class="size-full wp-image-803" title="DSC04158" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04158.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu terjemahan puisi Jose Rizal dalam bahasa asing.</p></div>
<p>(O ya, sebagai catatan, di dalam museum, <span style="text-decoration:underline;">tidak boleh memotret menggunakan blitz</span>.)</p>
<p>Keluar melalui pintu belakang museum, kami menyusuri bagian atas benteng, menuju sebuah museum lain, yang menyimpan perabotan, pakaian, foto-foto, dan silsilah Jose Rizal.  Untuk memasuki tempat ini, harus membayar ekstra <strong>10 PHP</strong>.  Yang menyedihkan, di dalam museum ini, saya melihat seorang wisatawan lokal dengan seenaknya memanjat pagar pembatas demi bisa berfoto duduk di salah satu kursi yang dipamerkan.  Duh!</p>
<div id="attachment_804" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04159.jpg"><img class="size-full wp-image-804" title="DSC04159" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04159.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Ini adalah koridor di atas tembok benteng.</p></div>
<div id="attachment_805" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04162.jpg"><img class="size-full wp-image-805" title="DSC04162" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04162.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Museum yang menyimpan barang-barang Jose Rizal.</p></div>
<p>Sekeluarnya dari museum kecil tersebut, kami menuju bagian benteng yang menghadap <strong>Sungai Pasig</strong>, ‘Chao Phraya’-nya Manila.  Dari bagian atas benteng itu, kami bisa melihat jejeran sel tahanan yang membuat bergidik.  Sel-sel itu bisa kami lihat karena atapnya sudah hilang.  Terlihatlah ruangan-ruangan sempit berkalang batu jauh di bawah sana, yang bisa dicapai hanya dengan tangga curam atau lorong yang entah berujung di mana&#8230; atau jangan-jangan ada juga tahanan yang didorong begitu saja sampai jatuh ke bawah sana?</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04166.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-806" title="DSC04166" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04166.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Puas dibuai angin dari Sungai Pasig, kami kembali ke depan Fort Santiago.  Setelah tawar-menawar sedikit (kami membayar 500 PHP untuk naik satu kereta berlima, umumnya satu kereta hanya untuk bertiga dengan tarif 350 PHP), kami pun menumpangi sebuah <strong><em>casela</em> </strong>(kereta kuda) mengelilingi Intramuros.  Seperti juga supir-supir taksi, sang kusir sangat ramah dan banyak bicara, hanya saja ia lebih banyak mengobrol dalam bahasa Tagalog.  Dan rupa-rupanya, ia mengira saya dari Korea sehingga memperkenalkan kelapa dan mangga kepada saya.  Aduh Pak, itu sih di negara saya juga banyak, hehehe&#8230;</p>
<div id="attachment_811" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04216.jpg"><img class="size-full wp-image-811" title="DSC04216" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04216.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Casela yang kami tumpangi, beserta kusirnya yang ramah.</p></div>
<div id="attachment_808" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04195.jpg"><img class="size-full wp-image-808" title="DSC04195" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04195.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Saya duduk samping Pak Kusir yang sedang bekerja mengendali kuda supaya baik jalannya</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04199.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-809" title="DSC04199" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04199.jpg?w=535&#038;h=401" alt="" width="535" height="401" /></a></p>
<p>Kapan saja mau berhenti untuk melihat-lihat dan memotret,  kusir akan menunggu dengan sabar.  Ia juga menjadi pemandu yang memperkenalkan berbagai bangunan kepada kami.  Tanpa terasa, perjalanan kami mengelilingi Intramuros pun usai.  Ia mengantarkan kami sampai kembali ke depan katedral, dan kami pun menuju Rizal Park dengan naik <em>jeepney</em>.  Apa yang bisa ditemui di sana?  Tunggu kelanjutan tulisan ini, ya!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/778/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=778&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/09/sejarah-bangsa-di-intramuros/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/01/filipina.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">filipina</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04012.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04012</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04092.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04092</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/2011-10-30-10-31-33.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2011-10-30 10.31.33</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04095.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04095</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04098.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04098</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04105.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04105</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04112.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04112</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04119.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04119</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04122.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04122</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04130.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04130</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc041341.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04134</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04139.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04139</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc041721.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04172</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04147.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04147</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04141.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04141</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04149.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04149</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04152.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04152</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04156.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04156</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04158.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04158</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04159.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04159</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04162.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04162</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04166.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04166</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04216.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04216</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04195.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04195</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc04199.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC04199</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shin-Okubo: Korean Town di Tokyo</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/03/shin-okubo-korean-town-di-tokyo/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/03/shin-okubo-korean-town-di-tokyo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 23:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[hallyu]]></category>
		<category><![CDATA[shibuya]]></category>
		<category><![CDATA[shin-okubo]]></category>
		<category><![CDATA[tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=762</guid>
		<description><![CDATA[Baca artikel ini dan menangkan satu buah CD TONE oleh TVXQ sebelum 21 November 14 November 2011.  Selengkapnya ada di bagian akhir artikel. Lho, jauh-jauh ke Jepang, kok yang dibelanjakan barang-barang artis Korea juga? Barangkali pertanyaan itu yang terlintas di benak orang-orang yang melihat isi bawaan saya sewaktu pulang dari Jepang.  Alasan yang paling mudah saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=762&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Baca artikel ini dan menangkan satu buah CD TONE oleh TVXQ sebelum <del>21 November</del> 14 November 2011.  Selengkapnya ada di bagian akhir artikel.</em></strong></p>
<p>Lho, jauh-jauh ke Jepang, kok yang dibelanjakan barang-barang artis Korea juga?</p>
<p>Barangkali pertanyaan itu yang terlintas di benak orang-orang yang melihat isi bawaan saya sewaktu pulang dari Jepang.  Alasan yang paling mudah saya lontarkan adalah, banyak artis Korea yang merilis album dan pernak-pernik khusus Jepang, yang sulit diperoleh di luar Jepang.  Jepang memang salah satu sasaran utama pemasaran para artis dari negara tetangganya tersebut, dan negeri ini memang tak luput terlanda <em>hallyu </em>alias Korean Wave.  Alasan lain, ya saya memang ‘gelap mata’ saja saat mengunjungi <em>Korean town </em>Tokyo yang berada di daerah <strong>Shin-Okubo</strong>.</p>
<p>Semua bermula saat D-san (salah satu penghuni tetap rumah komunal yang kami tumpangi, masih ingat?) mengetahui bahwa saya juga menggemari <em>hallyu</em>.  Si penggemar SNSD ini dengan antusias menyarankan agar saya mengunjungi Shin-Okubo.  “Di sana banyak toko yang khusus menjual barang-barang Korea,” Ia menerangkan.</p>
<p>Sebenarnya Shin-Okubo tidak ada dalam daftar tempat yang pada mulanya ingin kami kunjungi.  Namun saya jadi tertarik juga mendengar penjelasan singkat D-san, dan untunglah teman-teman bersepakat untuk menyambangi daerah tersebut.  Kami menyempilkan kunjungan ke Shin-Okubo dalam jadwal yang sudah kami isi dengan rencana jalan-jalan ke Shibuya, Harajuku, Yoyogi, dan Shinjuku.  Sebenarnya Shin-Okubo memiliki <strong>stasiun kereta sendiri</strong>, namun kalau mau sekalian jalan, daerah tersebut bisa juga didatangi dengan <strong>berjalan kaki dari Shinjuku</strong>.  (Dan inilah yang kami lakukan.)</p>
<div id="attachment_766" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01930.jpg"><img class="size-full wp-image-766" title="DSC01930" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01930.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Trotoar nyaman, siapa takut jalan kaki?</p></div>
<p>Sebelumnya, di Shibuya, kami mampir ke salah satu cabang dari jaringan toko musik ternama <strong>Tower Records</strong>.  Cabang Shibuya menempati gedung tersendiri yang terdiri atas beberapa lantai.  Sedari lantai paling bawah, berbagai pajangan dan deretan CD serta DVD tampil menggoda.  Tanpa sadar, kelompok kami otomatis terpisah-pisah, masing-masing menuju lantai yang dikhususkan untuk rekaman dari jenis musik yang ia sukai.  Saya menuju lantai yang menjual rekaman musik Korea.</p>
<div id="attachment_763" class="wp-caption aligncenter" style="width: 346px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01800.jpg"><img class="size-full wp-image-763" title="DSC01800" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01800.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Bagian depan Tower Records Shibuya, mengundang pembeli masuk.</p></div>
<p>Oya, sebagai catatan, <strong>belanjaan di setiap lantai harus dibayar terlebih dahulu sebelum bisa dibawa berpindah lantai</strong>.  Saya juga tahu hal ini ketika tanpa sengaja membawa keranjang berisikan belanjaan melewati mesin pendeteksi label yang langsung berbunyi nyaring&#8230; waduh malunya.  Untunglah pramuniaga di lantai tersebut, seorang laki-laki muda, sangat lancar berbahasa Inggris.  Dengan sabar ia membantu saya dan menerangkan peraturan yang berlaku di toko tersebut.</p>
<p>Di setiap lantai, juga dipajang berbagai memorabilia artis-artis yang karyanya dijual di lantai tersebut.  Tower Records cabang Shibuya memang juga sering dipakai sebagai tempat <em>fanmeeting </em>ataupun konser mini, termasuk oleh artis-artis Korea.  Saya yang menggemari Park Jungmin girang sekali mendapati posternya yang bertanda tangan terpajang di lantai tersebut.  Tanpa ba-bi-bu saya langsung mengambil foto.  Baru belakangan saya sadar bahwa sepertinya sebenarnya ada larangan berfoto di situ&#8230; hehehe.  Maaf ya.</p>
<div id="attachment_765" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01805.jpg"><img class="size-full wp-image-765" title="DSC01805" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01805.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Ingin bawa pulang poster bertanda tangan Park Jungmin...</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01803.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-764" title="DSC01803" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01803.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Dari Shibuya, kami berjalan kaki ke Harajuku, lantas meneruskan ke Shinjuku.  Tapi bagian yang ini, kami ceritakan lain kali, ya.  Nah, dari Shinjuku, kami jalan kaki menuju Shin-Okubo, menelusuri trotoar yang nyaman.  Untunglah hari itu kami ‘dikawal’ teman yang telah lama tinggal di Tokyo, yang membimbing kami melewati jalan-jalan kecil yang nyaman.  Tak jauh dari jalan utama Shin-Okubo, kami melewati sederetan restoran.  Di depan salah satunya, terpajang foto besar Dongbangshinki yang berbingkai.</p>
<p>“Itu artinya, mereka pernah makan di sini lho,” Teman kami menerangkan.  Wuah!  Bersejarah juga rupanya restoran kecil yang nyaris tersembunyi ini!  Sayang kami tidak sempat mampir untuk mencicipi hidangan di situ.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01937.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-767" title="DSC01937" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01937.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_768" class="wp-caption aligncenter" style="width: 346px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01938.jpg"><img class="size-full wp-image-768" title="DSC01938" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01938.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Wih, poster Dongbangshinki bertanda tangan ini, meski dipajang terbuka tanpa dijaga seperti ini, tidak ada yang mau menggondol, ya?</p></div>
<p>Ketika akhirnya tiba di Shin-Okubo, sekejap kami merasa seperti bukan di Jepang.  Toko-toko yang berderet menjual berbagai pernak-pernik artis Korea.  Supermarket menjual produk-produk Korea.  Poster-poster yang dipajang di sana-sini mempromosikan drama ataupun konser Korea.  Restoran-restoran menjual berbagai hidangan Korea.  Berbagai macam tulisan dalam aksara <em>hallyu </em>terpajang di sana-sini.  Dan manusia memadati kawasan ini seperti semut mengerubungi gula.</p>
<p>Kawasan ini memang ditata dan dikelola dengan baik.  Dari pengeras suara, dikumandangkan ucapan selamat datang ke Shin-Okubo dalam berbagai bahasa.  Para pengelola sadar benar <em>Korean town </em>yang satu ini telah menarik minat bukan saja para penggemar <em>hallyu </em>di Jepang, melainkan juga dari berbagai penjuru dunia.  Sejumlah band K-pop yang debut di Jepang juga rajin dipromosikan oleh toko-toko di kawasan tersebut.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01941.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-769" title="DSC01941" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01941.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01943.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-771" title="DSC01943" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01943.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Saya mencoba memasuki beberapa toko yang menjual pernak-pernik dan rekaman artis Korea.  Ada yang menjual umum-umum saja, dalam artian segala macam band yang sedang popular seperti Super Junior dan Big Bang ada.  Barang-barang itu ada yang asli keluaran perusahaan sang artis, ada juga yang keluaran tidak resmi (tetapi bukan palsu), namun kualitasnya rata-rata sama bagusnya.  Berbagai benda yang menggoda selera tersebut dipajang di rak khusus untuk masing-masing band atau artis.  Jadi secara sepintas lalu, tingkat kepopuleran mereka bisa diperiksa dengan memperhatikan berapa banyak orang yang merubung di depan rak-rak itu.  Tidak semua remaja atau anak muda, lho!  Ada juga oom-oom sampai nenek-nenek yang tidak malu-malu ikut sikut-sikutan memilih-milih belanjaan.</p>
<p>Selain toko-toko ‘umum’ seperti itu, ada pula toko-toko yang lebih terspesialisasi, misalnya khusus menjual pernak-pernik aktor film, lebih banyak menjual barang-barang DBSK, dan lain sebagainya.  Hal itu membuat keluar-masuk berbagai toko untuk mencek jualan mereka menjadi keasyikan tersendiri.  Sepengamatan saya, Jang Geun Seuk adalah aktor yang paling laris-manis dijajakan.  Lee Hongki FT Island juga rupanya memiliki penggemar lebih banyak daripada bandnya secara keseluruhan.  Sejumlah toko mempunyai rak khusus Hongki.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01944.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-772" title="DSC01944" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01944.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01942.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-770" title="DSC01942" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01942.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Sayang hari itu hujan dengan rintik berukuran cukup besar, sehingga agak sulit bagi saya untuk memotret sana-sini.  Namun kiranya beberapa foto yang saya pajang di sini bisa sedikit memberikan gambaran mengenai betapa serunya Shin-Okubo.  Saya malah tidak puas hanya sekali berkunjung ke situ.  Sebelum pulang, saya menyempatkan diri datang lagi satu kali.  Jadi, kalau kamu juga penggemar <em>hallyu </em>dan berkesempatan pergi ke Jepang, cobalah masukkan Shin-Okubo ke dalam rencana perjalananmu, ya!</p>
<p><strong><em>Ingin memenangkan satu CD TVXQ berbahasa Jepang, TONE, keluaran Indosemar Sakti (Indonesia)?  Mudah saja.  Jawab pertanyaan berikut ini di boks komentar di bawah:</em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Seandainya bisa berkunjung ke Shin-Okubo, benda apa yang kamu ingin beli atau apa yang ingin kamu lakukan di sana?</span></em></strong></p>
<p><strong><em>Jangan lupa sertakan alamat surat elektronik yang bisa kami hubungi.</em></strong></p>
<p><strong><em>Jawaban ditunggu sampai <span style="text-decoration:underline;"><del>21 November</del> 14 November 2011</span></em> <em>ya!</em></strong></p>
<p>CD TONE adalah sumbangan dari Ayu Palar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/762/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/762/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/762/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/762/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/762/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/762/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/762/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/762/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/762/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/762/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/762/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/762/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/762/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/762/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=762&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/11/03/shin-okubo-korean-town-di-tokyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01930.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01930</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01800.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01800</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01805.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01805</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01803.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01803</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01937.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01937</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01938.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01938</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01941.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01941</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01943.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01943</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01944.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01944</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/11/dsc01942.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC01942</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jogjakarta and Its Vicinity [Gallery]</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 07:06:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[istana]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Right.  This is a long-due post.  I made a trip to Jogjakarta last year &#8211; my second after my first time years and years ago when my cousins still lived there.  Just today, after I read about the royal wedding that will take place next week, I realised that apart from the piece about the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=712&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-22" title="indonesia" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg?w=535" alt="This post is about Indonesia"   /></a></p>
<p>Right.  This is a long-due post.  I made a trip to Jogjakarta last year &#8211; my second after my first time years and years ago when my cousins still lived there.  Just today, after I read about the royal wedding that will take place next week, I realised that apart from the piece about the Mendut candi and vihara, I wrote nothing more about my trip.  Guiltily, I browsed my folders to find the pictures I made there.</p>
<p>Not too many.  And I was using my old pocket camera so the quality of the pictures was somewhat I&#8217;m not too proud of.  But anyway, here are some of the pictures I made in Jogjakarta and its vicinity (areas like where the Borobudur is situated are parts of the Central Java province).</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt">
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0411/' title='DSCF0411'><img data-attachment-id='713' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0411.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="The convenient night train that brought us to Jogjakarta from Jakarta." title="DSCF0411" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0415/' title='DSCF0415'><img data-attachment-id='714' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0415.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Our breakfast one morning. Jogjakartan culinary is known for its sweet taste, so if you don&#039;t like sweet, be warned." title="DSCF0415" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0418/' title='DSCF0418'><img data-attachment-id='715' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0418.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Colourful, interesting old houses in the Kauman area. This is where many followers of Muhammadiyah, one of the two biggest Muslim organisations in Indonesia, reside." title="DSCF0418" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0423/' title='DSCF0423'><img data-attachment-id='716' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0423.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0423" title="DSCF0423" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0424/' title='DSCF0424'><img data-attachment-id='717' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0424.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0424" title="DSCF0424" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0425/' title='DSCF0425'><img data-attachment-id='718' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0425.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0425" title="DSCF0425" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0426/' title='DSCF0426'><img data-attachment-id='719' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0426.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="The kraton mosque." title="DSCF0426" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0430/' title='DSCF0430'><img data-attachment-id='720' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0430.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Royal carriages in the special museum." title="DSCF0430" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0433/' title='DSCF0433'><img data-attachment-id='721' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0433.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="A very old abdi dalem is showing a picture of him when he was still very young.  He has served the kraton for decades." title="DSCF0433" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0440/' title='DSCF0440'><img data-attachment-id='722' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0440.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Colours, like cultures, blend harmoniously in the kraton." title="DSCF0440" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0445/' title='DSCF0445'><img data-attachment-id='723' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0445.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="A gamelan set in the kraton." title="DSCF0445" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0446/' title='DSCF0446'><img data-attachment-id='724' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0446.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0446" title="DSCF0446" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0447/' title='DSCF0447'><img data-attachment-id='725' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0447.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0447" title="DSCF0447" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0451/' title='DSCF0451'><img data-attachment-id='726' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0451.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="The kraton is colourful and shows various influences." title="DSCF0451" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0455/' title='DSCF0455'><img data-attachment-id='727' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0455.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Giant doors in the kraton." title="DSCF0455" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0456/' title='DSCF0456'><img data-attachment-id='728' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0456.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0456" title="DSCF0456" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0457/' title='DSCF0457'><img data-attachment-id='729' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0457.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Despite being a Muslim sultanate, the Jogjakarta kraton still reveres Hindu figures, as seen in the &#039;kemenyan&#039; put before this Ganesha statue." title="DSCF0457" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0461/' title='DSCF0461'><img data-attachment-id='730' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0461.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="An interesting touch of the colonial style." title="DSCF0461" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0462/' title='DSCF0462'><img data-attachment-id='731' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0462.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Visit Jogja&#039;s sidewalks at night for street food and warm chitchat with people." title="DSCF0462" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0464/' title='DSCF0464'><img data-attachment-id='732' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0464.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="The presidential palace." title="DSCF0464" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0467/' title='DSCF0467'><img data-attachment-id='733' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0467.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="So many food to taste of Javan background in Jogjakarta!" title="DSCF0467" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0468/' title='DSCF0468'><img data-attachment-id='734' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0468.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Visit Pasar Beringhardjo for cheap local products." title="DSCF0468" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0472/' title='DSCF0472'><img data-attachment-id='735' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0472.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="A view of the Malioboro street with a TransJogja bus stop." title="DSCF0472" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0520/' title='DSCF0520'><img data-attachment-id='737' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0520.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="The giant tree on the yard of Candi Mendut." title="DSCF0520" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0521/' title='DSCF0521'><img data-attachment-id='738' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0521.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0521" title="DSCF0521" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0525/' title='DSCF0525'><img data-attachment-id='739' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0525.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="The steps leading to the stupa of Borobudur, the single largest Buddhist monument in the world." title="DSCF0525" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0537/' title='DSCF0537'><img data-attachment-id='740' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0537.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0537" title="DSCF0537" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0541/' title='DSCF0541'><img data-attachment-id='741' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0541.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="A view of the lands around Borobudur from the upper tiers of the candi." title="DSCF0541" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0542/' title='DSCF0542'><img data-attachment-id='742' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0542.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0542" title="DSCF0542" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0543/' title='DSCF0543'><img data-attachment-id='743' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0543.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="The Ramayana is performed regularly in Prambanan, an ancient Hindu temple in the city." title="DSCF0543" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0555/' title='DSCF0555'><img data-attachment-id='744' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0555.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="The magnificent scene of massive fire in Ramayana." title="DSCF0555" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0569/' title='DSCF0569'><img data-attachment-id='745' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0569.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Street names in Jogja are written in Latin and Javanese scripts like this one." title="DSCF0569" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0570/' title='DSCF0570'><img data-attachment-id='746' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0570.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Tamansari complex, the royal baths, show Muslim, Hindu, Buddhist, and European influences." title="DSCF0570" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0571/' title='DSCF0571'><img data-attachment-id='747' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0571.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0571" title="DSCF0571" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0574/' title='DSCF0574'><img data-attachment-id='748' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0574.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0574" title="DSCF0574" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0578/' title='DSCF0578'><img data-attachment-id='749' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0578.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0578" title="DSCF0578" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0580/' title='DSCF0580'><img data-attachment-id='750' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0580.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0580" title="DSCF0580" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0585/' title='DSCF0585'><img data-attachment-id='751' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0585.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="DSCF0585" title="DSCF0585" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0588/' title='DSCF0588'><img data-attachment-id='752' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0588.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="A glimpse through the gates of a house near Tamansari." title="DSCF0588" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0589/' title='DSCF0589'><img data-attachment-id='753' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0589.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="The lands around Tamansari belong to the court, but abdi dalem and their families were given special privileges to build homes on them." title="DSCF0589" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0591/' title='DSCF0591'><img data-attachment-id='754' data-orig-size='448,336' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0591.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="Masks on sale in a shop near the Tamansari complex." title="DSCF0591" /></a>
<a href='http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/dscf0594/' title='DSCF0594'><img data-attachment-id='755' data-orig-size='336,448' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0594.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Underground tunnels abound in Tamansari.  There&#039;s even an underground mosque." title="DSCF0594" /></a>
</p>
</dt>
</dl>
</div>
<p>Jogjakarta &#8211; home of kings past and present, a sanctuary of faiths, a refugee of the Republic during its harsh times &#8211; may you live long and prosper.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=712&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/13/jogjakarta-and-its-vicinity-gallery/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2010/05/indonesia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0411.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0411</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0415.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0415</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0418.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0418</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0423.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0423</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0424.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0424</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0425.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0425</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0426.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0426</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0430.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0430</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0433.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0433</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0440.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0440</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0445.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0445</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0446.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0446</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0447.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0447</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0451.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0451</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0455.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0455</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0456.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0456</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0457.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0457</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0461.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0461</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0462.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0462</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0464.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0464</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0467.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0467</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0468.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0468</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0472.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0472</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0520.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0520</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0521.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0521</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0525.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0525</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0537.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0537</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0541.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0541</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0542.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0542</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0543.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0543</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0555.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0555</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0569.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0569</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0570.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0570</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0571.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0571</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0574.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0574</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0578.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0578</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0580.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0580</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0585.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0585</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0588.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0588</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0589.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0589</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0591.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0591</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dscf0594.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0594</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Museum Ghibli, Mitaka, Jepang</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/08/museum-ghibli-mitaka-jepang/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/08/museum-ghibli-mitaka-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 09:38:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Studio Ghibli!  Nama besar di kalangan pencinta animasi, apalagi animasi Jepang. Miyazaki Hayao, otak di balik studio tersebut, punya impian mengenai sebuah museum yang tak hanya menampung berbagai memorabilia namun juga menunjukkan proses pembuatan film animasi.  Tempat bersenang-senang memuaskan imajinasi sekaligus belajar. Sebenarnya, jujur, saya tidak tahu banyak mengenai Ghibli.  Hanya dua film buatan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=688&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-624" title="japan" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg?w=535" alt="This post is about Japan"   /></a></p>
<p><strong>Studio Ghibli!  </strong>Nama besar di kalangan pencinta animasi, apalagi animasi Jepang.</p>
<p>Miyazaki Hayao, otak di balik studio tersebut, punya impian mengenai sebuah museum yang tak hanya menampung berbagai memorabilia namun juga menunjukkan proses pembuatan film animasi.  Tempat bersenang-senang memuaskan imajinasi sekaligus belajar.</p>
<p>Sebenarnya, jujur, saya tidak tahu banyak mengenai Ghibli.  Hanya dua film buatan mereka yang pernah saya tonton.  Namun teman-teman yang sangat menyenangi Ghibli sangat bersemangat untuk mengunjungi museum tersebut, membuat saya ikut bergairah juga.  Dan ternyata&#8230; suka ataupun tidak kepada Ghibli, museum ini pasti memincut hati Anda!</p>
<div id="attachment_695" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02446.jpg"><img class="size-full wp-image-695" title="DSC02446" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02446.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Museum Ghibli, dilihat dari samping. Hmmm... kepala siapa itu yang menyembul di atap bangunan?</p></div>
<p>Sekarang mari kita mulai dari yang paling awal dulu&#8230; <strong>bagaimana membeli tiket ke Museum Ghibli</strong>?  Di beberapa negara ada perwakilan resmi penjualan tiket, namun berhubung di Indonesia belum ada, maka kita baru bisa membeli tiket setelah menjejakkan kaki ke Jepang.  Tiket dapat dibeli di mesin-mesin tiket di <strong>LAWSON Convenience Store</strong>.  Instruksinya bisa <strong><a title="Cara membeli tiket Museum Ghibli di LAWSON" href="http://www.lawson.co.jp/ghibli/museum/ticket/english.html" target="_blank">dibaca di sini</a></strong>.  Namun bila ternyata Anda tetap bingung juga, jangan ragu meminta tolong penjaga toko.  Harga tiket bervariasi sesuai usia – untuk 19 tahun ke atas, harganya adalah <strong>1000 yen.</strong></p>
<p>Yang perlu Anda perhatikan:</p>
<ol start="1">
<li>Museum buka dari pukul 10 sampai 18, namun Anda tidak bisa masuk sembarang waktu.  Pintu gerbang dibuka hanya <strong>4 kali sehari</strong>, dan Anda harus masuk sesuai tanggal dan jam yang telah Anda pilih dan tertera di tiket Anda.  Jadi, jangan sampai telat!  Namun setelah berada di dalam, Anda bebas kok menghabiskan waktu sampai museum tutup kalau perlu.</li>
<li>Museum <strong>tutup setiap Selasa</strong>.</li>
</ol>
<p>Karena kami memilih masuk pukul 10, pagi-pagi kami sudah berangkat meninggalkan Ikebukuro menuju Shinjuku, untuk menaiki kereta <strong>Chuo Line </strong>menuju <strong>Mitaka</strong>.  Sesampainya di Mitaka, ternyata pukul sepuluh pagi masih lama.  Kami memutuskan untuk sarapan dulu di sebuah kafe kecil namun apik bernama Shimore yang terletak dekat halte <em>community bus </em>yang ulang-alik dari stasiun ke Museum Ghibli.</p>
<p>Museum Ghibli memang kebanggaan Mitaka.  Kafe Shimore dihiasi pernak-pernik film-film Ghibli.  Kantor informasi pariwisata yang terletak tepat di samping Shimore pun memajang sebuah boneka totoro di depan etalase.  Hal ini membuat kami semakin tidak sabar saja rasanya untuk segera tiba di Museum Ghibli.  Tapi bersantai menikmati menu sarapan di Shimore juga ternyata amat menyenangkan!  Keakraban tampak di antara para pelanggan tetap dan satu-satunya pramusaji yang bertugas – seorang ibu-ibu yang amat ramah.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02441.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-691" title="DSC02441" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02441.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02436.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-689" title="DSC02436" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02436.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02440.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-690" title="DSC02440" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02440.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Dengan perut dan hati hangat, kami pun menuju halte <em>community bus</em>.  Tarif bis ini adalah <strong>200 yen sekali jalan</strong>, atau <strong>300 yen bila membeli tiket pulang-pergi</strong>.  Bila Anda punya banyak waktu dan ingin melihat-lihat, sebenarnya museum tercapai kok dengan berjalan kaki dari stasiun.  Berjalan di Mitaka membuat kita lupa bahwa pusat kota Tokyo yang hiruk-pikuk sebenarnya berjarak tidak jauh.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02445.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-694" title="DSC02445" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02445.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02444.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-693" title="DSC02444" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02444.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02442.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-692" title="DSC02442" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02442.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Sampai di museum, ternyata waktu belum menunjukkan pukul sepuluh.  Kami pun melihat-lihat dulu bagian samping museum yang terletak di sebuah taman dan hanya dipagari rendah ini.  Jeprat-jepret dulu, karena di dalam museum nanti tidak boleh mengambil foto sama sekali.  Di atap atau di halaman boleh, tapi tidak di sebelah dalam.</p>
<p>Karena itu maaf bila kami tidak bisa menyajikan foto-foto bagian dalam museum.  Biarlah itu menjadi misteri yang menggelayuti benak Anda sampai Anda berkesempatan melihatnya sendiri&#8230;</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02466.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-696" title="DSC02466" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02466.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Pukul sepuluh, gerbang depan dibuka.  Pengunjung terlebih dahulu menuju kasir tiket untuk menukar bukti pembelian tiket di LAWSON.  Setelahnya, mereka antri dengan tertib untuk memasuki museum.  Mbak-mbak dan mas-mas penjaga yang senantiasa tersenyum ceria selalu siap membantu.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02471.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-697" title="DSC02471" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02471.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_698" class="wp-caption aligncenter" style="width: 346px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02472.jpg"><img class="size-full wp-image-698" title="DSC02472" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02472.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Eh, siapa tuh yang ngintip di balik kasir...</p></div>
<p>Akhirnya&#8230; pintu depan museum pun dibuka.  Pengunjung bergiliran masuk dan menukarkan tiket dengan tanda masuk yang berbentuk seperti potongan <em>reel </em>film.  Cenderamata yang unik!</p>
<p>Baru di ruangan pertama pun hati yang bergejolak seperti mau lepas kontrol.  Ada begitu banyak hal menarik yang dipajang di lantai bawah.  Dasar-dasar animasi dan pembuatan animasi diperkenalkan di sini.  Usia pun terlupa, ingin rasanya menempelkan wajah di kaca yang mengelilingi sebagian pajangan agar bisa melihat lebih jelas.</p>
<p>Belum lama kami menengok-nengok lantai bawah, para penjaga mengumumkan bahwa pemutaran animasi spesial – yang berlangsung satu kali setiap kali pintu museum dibuka – akan segera dilangsungkan di Teater Saturno.  Kami pun bergegas masuk untuk menemukan tempat duduk yang enak.  Selama beberapa menit pun kami menikmati sajian film pendek yang meski sederhana namun menyentuh – mengingatkan lagi akan ‘keajaiban’ animasi yang menghibur anak-anak maupun orang dewasa.</p>
<p>Setelahnya kami bebas menjelajahi museum luar-dalam atas-bawah.  Di lantai atas museum, tak hanya pemaparan seluk-beluk pembuatan film, kita juga bisa melihat ruang kerja Miyazaki, model-model bangunan yang muncul dalam film-film Ghibli (misalnya toko topi Sophie dalam <em>Howl’s Moving Castle</em> atau warung makan yang muncul dalam <em>Spirited Away</em>), dan merasakan duduk di dalam nekobus.  Ada dua nekobus, yang satu untuk dewasa dan satu lagi untuk anak-anak.  Sayang orang dewasa tidak boleh ikut merasakan nekobus anak-anak, hehehe&#8230;</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02484.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-701" title="DSC02484" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02484.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02485.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-702" title="DSC02485" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02485.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Di lantai atas juga terdapat toko buku khusus buku-buku yang berkaitan dengan Ghibli dan toko cenderamata yang dijamin membuat pengunjung kalap mendadak.  Jadi siap-siap saja deh dengan metode pembayaran yang Anda miliki sebelum masuk ke toko-toko tersebut, apalagi bila Anda memang penggemar Ghibli.  Dalam beberapa menit saja, bisa-bisa Anda telah berdiri sambil memegangi berkantong-kantong belanjaan, dan menghibur diri sendiri dengan kata-kata “Habisnya kalau di Indonesia nggak mungkin kan beli ini semua&#8230;”</p>
<p>Museum ini benar-benar menyenangkan, bahkan sampai ke toilet-toiletnya sekali pun.  Dan bila naik ke atap, Anda akan menjumpai yang ada di foto-foto berikut ini.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02493.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-704" title="DSC02493" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02493.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_705" class="wp-caption aligncenter" style="width: 346px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02494.jpg"><img class="size-full wp-image-705" title="DSC02494" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02494.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Ini di atap, lho!</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02495.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-706" title="DSC02495" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02495.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02499.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-707" title="DSC02499" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02499.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02501.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-708" title="DSC02501" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02501.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Keren kan?</p>
<p>Bila lapar atau haus, bisa segera menuju restoran <em>Straw Hat </em>yang ada di belakang bangunan museum.  Sayangnya, biasanya kita harus mengantri cukup lama untuk mendapatkan giliran bersantap di restoran ini.   Bila tidak punya cukup waktu atau memang sudah kelaparan, ada kios yang menjual <em>hotdog</em>, es krim, dan minuman dingin di samping restoran tersebut.  Sungguh nikmat rasanya mengisi perut sambil duduk di bangku-bangku taman yang menghadap ke arah rimbunan pepohonan, ditemani angin sepoi-sepoi.</p>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02486.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-703" title="DSC02486" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02486.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<div id="attachment_699" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02481.jpg"><img class="size-full wp-image-699" title="DSC02481" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02481.jpg?w=535" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Yang ini ayam isinya.</p></div>
<p><a href="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02482.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-700" title="DSC02482" src="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02482.jpg?w=535" alt=""   /></a></p>
<p>Jadi bila Anda ke Tokyo, sempatkan memanjakan fantasi Anda dengan mengunjungi museum ini.  Segarkan kembali ingatan akan masa kanak-kanak Anda.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=688&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/08/museum-ghibli-mitaka-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">japan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02446.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02446</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02441.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02441</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02436.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02436</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02440.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02440</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02445.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02445</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02444.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02444</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02442.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02442</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02466.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02466</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02471.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02471</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02472.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02472</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02484.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02484</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02485.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02485</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02493.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02493</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02494.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02494</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02495.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02495</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02499.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02499</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02501.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02501</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02486.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02486</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02481.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02481</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lompatlompat.files.wordpress.com/2011/10/dsc02482.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC02482</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GoHalalPlanet</title>
		<link>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/08/gohalalplanet/</link>
		<comments>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/08/gohalalplanet/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 05:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lompatlompat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[link]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[restaurant]]></category>
		<category><![CDATA[south east asia]]></category>
		<category><![CDATA[tempat ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[vietnam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lompatlompat.wordpress.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman Muslim yang gemar lompat-lompat, sekarang ada situs baru nih, namanya GoHalalPlanet.  Pengelolanya adalah salah seorang teman kami yang tinggal di Vietnam.  Situs ini bertujuan menyediakan informasi mengenai tempat makan halal, tempat penginapan yang nyaman, dan tempat ibadah yang tersedia bagi pelancong Muslim.  Cakupan utamanya adalah negara-negara Asia Tenggara yang mayoritas bukan dihuni kaum Muslim, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=686&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-teman Muslim yang gemar lompat-lompat, sekarang ada situs baru nih, namanya <strong><a title="GoHalalPlanet" href="http://gohalalplanet.com" target="_blank">GoHalalPlanet</a></strong>.  Pengelolanya adalah salah seorang teman kami yang tinggal di Vietnam.  Situs ini bertujuan menyediakan informasi mengenai tempat makan halal, tempat penginapan yang nyaman, dan tempat ibadah yang tersedia bagi pelancong Muslim.  Cakupan utamanya adalah negara-negara Asia Tenggara yang mayoritas bukan dihuni kaum Muslim, dan saat ini informasi yang sudah tersedia cukup banyak adalah untuk <strong>Vietnam</strong>.</p>
<p>Teman kami ini teliti sekali lho memeriksa restoran-restoran halal, sampai memeriksa dapurnya langsung.</p>
<p>Semoga bisa membantu ya&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lompatlompat.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lompatlompat.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lompatlompat.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lompatlompat.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lompatlompat.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lompatlompat.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lompatlompat.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lompatlompat.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lompatlompat.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lompatlompat.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lompatlompat.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lompatlompat.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lompatlompat.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lompatlompat.wordpress.com/686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lompatlompat.wordpress.com&amp;blog=13833073&amp;post=686&amp;subd=lompatlompat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lompatlompat.wordpress.com/2011/10/08/gohalalplanet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3d78e9951fb050087ed0f4616917497?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lompatlompat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
