5foot Way Inn dan Sekitarnya, Chinatown Singapura
11 Apr 2012 4 Comments
in singapura Tags: chinatown, pecinan, penginapan, singapura, tempat makan
Bila ditanya kawasan mana yang paling saya gemari di Singapura, saya mungkin akan memilih Chinatown. Saya menyenangi jalan-jalan dan lorong-lorongnya yang kecil, dengan berbagai toko dan tempat makan menarik. Ada yang mencolok, seperti toko yang menjual pernak-pernik Tintin karya Herge, namun ada pula di antaranya yang ‘tersembunyi’ dan tidak banyak diketahui turis asing. Suasananya juga terasa lebih ramah bila dibandingkan dengan kawasan perbelanjaan berbau ‘modern’. Tempat menginap untuk pelancong yang beranggaran hemat pun cukup mudah ditemukan.
Kali ini, yang ingin saya ulas adalah hostel 5foot Way Inn. Letaknya hanya selemparan batu dari Exit A Stasiun MRT Chinatown. Dua kali sudah saya menginap di sini, pertama sewaktu masih soft opening – dan masih banyak bagian hostel yang masih dipoles – dan kedua ketika hostel sudah betul-betul siap untuk tamu. (Yang saya maksudkan di sini adalah cabang pertama 5foot Way Inn. Mereka membuka cabang baru dekat Sultan Mosque di bulan April 2012, dan hostel kedua di daerah Chinatown akan menyusul.)
Pertama kali mencarinya, saya agak bingung. Sebabnya, hostel ini menempati lantai-lantai atas sebuah ruko yang terletak di sebelah kanan saat kita keluar dari Exit A. Di bawahnya ada toko yang menjual suvenir, yang jamak berjejer-jejer di sepanjang jalan tersebut. Jalan masuk ke hostel adalah pintu di bagian samping depan ruko tersebut.
Begitu pintu terbuka, kita langsung berhadapan dengan tangga bercat gelap yang agak curam. Boks neon meyakinkan kita bahwa memang betul ini hostel yang dicari-cari.
Resepsionis berada di lantai dua. Tapi, untuk masuk, terlebih dahulu kita harus mencopot alas kaki dan meletakkannya di rak di samping pintu masuk. (Mungkin untuk tamu-tamu dari negara-negara ‘Barat’, berkeliaran bertelanjang kaki di hostel ini juga pengalaman tersendiri, ya.)
Berhubung namanya ‘hostel’, kamar-kamar yang tersedia bisa diisi oleh 4 atau 6 orang, dan biasanya yang kita sewa adalah ‘tempat tidur’-nya. Jadi jangan heran bila Anda akan tidur seruangan bersama orang-orang yang tidak Anda kenal. Untuk perempuan, ada ‘dorm’ khusus perempuan, sekiranya Anda risih bila harus berbagi dengan laki-laki. Kamar mandi juga digunakan bersama, dengan kamar mandi khusus perempuan di lantai dua. Maklum digunakan bersama-sama, jadi bila harus menunggu giliran, ya harus sabar.
Kebetulan, dua kali saya menginap di 5foot Way Inn, selalu bersama teman-teman, sehingga kami bisa menyewa kamar untuk berempat hanya untuk rombongan kami. Lucunya, saya selalu dapat kamar yang sama, yang terletak selantai dengan resepsionis. Kamar tersebut menghadap Pagoda Street yang di siang hari ramai oleh kegiatan perdagangan dan suara orang yang lalu-lalang. Bahkan bila hanya mendengar suara saja, mungkin Anda tidak akan merasa berada di Singapura… Karena yang banyak terdengar adalah percakapan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi jangan khawatir, di malam hari, Pagoda Street amat sunyi, karena bukan merupakan daerah hiburan malam ‘ajeb-ajeb’.
Kamar tidur, perabot, dan seprei semuanya serba putih. Di kepala masing-masing tempat tidur, ada stopkontak dan rak kecil khusus untuk sang penyewa, sehingga kita bisa mengisi baterai peralatan elektronik kita tanpa perlu bergiliran dengan orang lain. Masing-masing penyewa juga mendapatkan laci yang berukuran cukup besar di bagian bawah tempat tidur, dengan gantungan kunci yang merangkap sebagai kunci elektronik untuk membuka pintu depan hostel.a.
Hanya saja memang ukuran kamarnya tergolong sempit. Kamar-kamar ini memang tidak didesain untuk orang-orang yang ingin menghabiskan banyak waktu di dalamnya.
Di lantai dua, juga terdapat ruang makan bersama yang terbuka, menghadap ke sudut lain Chinatown. Minuman disediakan gratis sepanjang waktu, termasuk dari mesin minuman yang siap menghadirkan kopi, teh tarik, atau minuman cokelat. Peralatan makan lengkap disediakan, asal kita mencucinya sendiri usai bersantap. Nikmat sekali rasanya malam-malam duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang tersedia sambil menyeruput minuman hangat, atau ketika pagi-pagi sekali kita sarapan sebelum Chinatown benar-benar terbangun. Kita juga bisa banyak berinteraksi dengan penghuni lain hostel di sini.
Lebih banyak kamar dan kamar mandi ada di lantai tiga. Sementara loteng yang berlangit-langit miring dimanfaatkan sebagai ruang santai yang nyaman dan artistik. Sofa-sofa dan bantal-bantal yang ditata sedemikian rupa sungguh menggoda kita untuk merebahkan tubuh setelah seharian menjelajahi Singapura. Di sini kita juga bisa menggunakan dua buah komputer secara gratis untuk berselancar di internet, seandainya sambungan Wi-Fi hostel tidak cukup untuk kita.
Kalau soal makanan, tidak usah khawatir. Banyak restoran dan kedai yang mudah ditemukan di sekitar 5foot Way Inn, dari yang murah sampai yang mahal. Restoran-restoran waralaba internasional juga ada. Tapi kalau yang satu ini, Crazy World Cafe di Temple Street, tidak semua orang tahu, meskipun hanya berselisih satu jalan dengan Pagoda Street. Saya juga mengetahui tempat ini dari seorang teman yang bekerja di Singapura.
Crazy World cukup nyaman, dengan desain interior yang menarik dan stylish. Pemiliknya adalah seorang penggemar musik Mandarin, sehingga ia juga memajang berbagai memorabilia di kafenya ini. Bahkan pertunjukan musik cukup rutin diadakan di kafe ini yang juga menjual sejumlah cenderamata yang unik. Kalau soal makanan, saya sangat menyarankan Anda mencicipi brownies ‘home-made’-nya. Tampilannya saja langsung menerbitkan air liur!
Lucunya, di daftar menu ada tulisan yang menyatakan bahwa pihak kafe berusaha sekerasnya untuk menyajikan hidangan tanpa dikenai pajak. Oleh karena itu, mereka memohon pengunjung untuk tidak hanya memesan air putih yang gratis. Lho? Ternyata orang Singapura ada juga ya yang doyan ‘ngadem doang’ sambil minum air putih?
Kalau malam sudah tiba, meskipun banyak ruko yang sudah tutup, justru tiba saatnya para pedagang makanan malam di Food Street beraksi. Meja-kursi digelar, dan para pedagang siap memasakkan dan menyajikan berbagai makanan jalanan ala Singapura untuk Anda. Yang patut dicoba adalah ‘carrot cake’ yang kenamaan, yang jangan dibayangkan merupakan penganan kecil dari wortel. Hidangan ini juga tidak mengandung wortel, karena sebutan ‘carrot cake’ itu berasal dari salah pemilihan padanan kata ‘chai tao’ yang sebetulnya merujuk kepada ‘lobak’. Porsi yang dijual cukup besar, sehingga bila perut Anda tidak besar-besar amat, satu piring hidangan bisa dibagi untuk dua orang.
Jangan sampai seperti kami waktu itu: dengan begitu percaya diri masing-masing memesan satu porsi makanan. Akibatnya, aduh mak… Kami separuh merayap pulang ke hostel dengan perut kepenuhan. Satu lagi hal yang tampaknya sulit dihindarkan bila menghabiskan waktu di Chinatown Singapura!
Posted by Tante Guru
Renungan: Sampah di Sentosa Island
19 Dec 2010 7 Comments
in singapura Tags: renungan, singapura
Dalam perjalanan, memang tak selalu pengalaman indah yang kami temui. Ada yang membuat sebal, bikin gemas, dan lain sebagainya. Sekali waktu saat saya ke Singapura, saya mengernyit melihat sampah yang mengambang di sekitar pantai Sentosa Island, padahal banyak turis yang bersemangat berceburan di air yang dingin dan butek. (Dalam hati, saya berpikir, Aduh, kasihan deh, ke Indonesia aja, pantainya banyak yang bagus dan bersih… hehehe.)
Iseng, saya foto sampah-sampah itu dari salah satu jembatan.
Setelah saya perhatikan baik-baik… aduh, apa itu di sebelah kiri? Coba, saya zoom…
Aduh. Jadi malu. Saya pun menyingkir diam-diam…
Adam Lambert di F1 GP Singapura 2010
29 Sep 2010 Leave a Comment
in singapura Tags: concert, f1, hotel, konser, singapura
Setelah menonton F1 GP Singapura 2009 dan Travis tahun lalu, tahun ini pun anggota tim Lompat-lompat hadir di F1 GP Singapura 2010 untuk menyaksikan berbagai macam keriaan yang berlangsung selama perhelatan akbar tahunan itu. Tujuan utama tahun ini adalah… konser Adam Lambert! Penasaran dengan kisah lengkapnya? Ingin tahu hotel murah apa yang boleh dijajal di Singapura? Silakan klik foto Adam di bawah ini untuk menuju laporan yang ditulis Kaka Monyet Ajaib dalam bahasa Inggris di blognya.
Club Street dan BooksActually
04 Aug 2010 4 Comments
in singapura Tags: singapura, toko buku
Biasanya, bila ke Singapura, para wisatawan tidak lepas dari tempat-tempat seperti Orchard Road dan Sentosa Island. Meskipun tempat-tempat itu memang bagus, Singapura masih menyimpan sejumlah ‘harta tersembunyi’ yang tidak kalah menawan, salah satunya adalah Club Street.
Jalan ini kecil saja, juga sempit, tidak lebar seperti Orchard Road. Bangunan-bangunannya kebanyakan adalah bangunan lama yang dipugar dan ‘disulap’ menjadi berbagai toko, kantor, restoran, dan kafe cantik.
Cara termudah mendatangi Club Street apabila Anda mengandalkan MRT di Singapura adalah: naik MRT jalur North East, yang di peta biasa ditampilkan sebagai jalur hijau, turun di stasiun Chinatown. Keluar lewat gerbang menuju Pagoda Street, dan tembuslah China Square seraya mencoba menahan diri untuk tidak memborong berbagai barang-barang murah (untuk ukuran Singapura) yang ditawarkan para pedagang di kiri-kanan jalan. (Ngomong-ngomong, saya sendiri lebih menyenangi suasana dan para pedagang di Chinatown, yang menurut saya lebih ramah daripada di pusat kota.)
Di ujung jalan utama pasar, ada kuil Hindu, Sri Mariamman, yang dihiasi warna-warni indah. Mungkin Anda ingin berhenti sejenak untuk mengaguminya. Setelahnya, seberangi jalan (South Bridge Road), dan berbeloklah ke Mohamed Ali Lane. Susuri jalan kecil ini, dan di ujungnya Anda akan melihat sebuah bangunan yang – menurut tahun yang tertera di atas pintu utamanya – dibangun tahun 1928. Gedung ini kini berfungsi sebagai apartemen. Dan di sisi lain apartemen ini adalah Club Street.
Berkat arsitektur bangunan dengan bagian depan yang menaungi trotoar, kita pun bisa menyusuri jalan ini tanpa takut kepanasan atau kehujanan.
Tujuan utama kami hari itu adalah mengunjungi toko BooksActually, yang kami ketahui dari sebuah majalah yang kami baca di fX. Untuk Anda yang gemar buku, toko yang mungil dan nyaman ini bisa jadi alternatif untuk toko-toko buku besar seperti Kinokuniya di Takashimaya, Borders di Wheelock Place, atau Page One di Vivo City.
Buku-buku sastra dan berbagai pernak-pernik lucu yang kebanyakan dibuat sendiri oleh Birds & Co, ditawarkan di lantai dasar. Anda juga bisa menaiki tangga menuju lantai 2 & 3, tempat buku-buku non-sains dan barang-barang vintage dipajang. Dengan 1.5 SGD Anda bisa membawa pulang pensil bertuliskan nama pengarang, dengan 2 SGD Anda bisa memboyong kartu pos berhiaskan foto pengarang favorit Anda atau ilustrasi dari buku-buku klasik.
Di samping pintu depan, ada puisi-puisi yang dicetak pada lembaran-lembaran kertas. Silakan mengambil dan memasukkan sumbangan serelanya ke dalam kotak yang disediakan, untuk membantu BooksActually menjalankan misinya memasyarakatkan sastra.
Lain waktu Anda ke Singapura, cobalah kunjungi jalan dan toko buku yang menawan ini, dan rasakan sekelumit kehidupan berbeda di Singapura yang jauh dari hiruk-pikuk Orchard Road.
Posted by Tante Guru
F1 GP Singapore 2009
07 Jun 2010 1 Comment
in singapura Tags: f1, hotel, singapura

Tahun ini, 24-26 September 2010, akan berlangsung F1 GrandPrix Singapore lagi. Bila berminat, mungkin sudah dari jauh-jauh hari ini Anda harus merencanakan perjalanan, dan barangkali memesan tiket, untuk seri GP yang memikat dan unik karena berlangsung malam hari ini. Tahun lalu, saya dan teman-teman memesan tiket F1 melalui salah satu biro di Jakarta yang memang biasa membantu memesankan tiket untuk para peminat F1.
- Tiket F1 GP Singapore 2009
Kami langsung memesan tiket terusan untuk tiga hari, yang tiba dalam wujud kartu dari plastik keras (cocok sekali untuk dikoleksi) sekaligus tali gantungan leher. Sebenarnya, dari pengalaman kami, pada hari-H pun masih banyak tiket yang dijual (baik untuk harian maupun untuk 2-3 hari sekaligus), sehingga mungkin ada kemungkinan bila Anda datang tanpa memesan tiket terlebih dahulu, Anda masih tetap bisa dapat tiket. Tapi, yah, kami ambil aman saja saat itu. Sebetulnya ada pula yang menyediakan paket sekaligus pesawat dan hotel, namun kami memilih untuk mencari sendiri tiket pesawat dan tempat menginap untuk menghemat biaya.
(Hotel pilihan kami adalah Value Hotel di Balestier Road: baru, bersih, dan cukup murah, meskipun agak jauh dari tempat-tempat atraksi utama Singapura. Nilai plusnya adalah: daerah tempat kami menginap itu tenang, karena bukan daerah lampu merah atau perbelanjaan.)
Kami memilih duduk di Bay Grandstand, yang tiketnya tergolong murah – meski sambil tetap menatap iri orang-orang yang duduk di bagian-bagian yang lebih mahal tiketnya, hehehe. Meskipun murah, bukan artinya pelayanan yang diberikan sembarangan saja. Semua teratur rapi.
Di tiket, misalnya, ditunjukkan tempat kami duduk yang diberi nomor dan kode warna. Jadi, tidak bisa sembarangan duduk (seperti yang kami alami saat menonton A1 GP di Sentul). Kami pun tetap mendapat akses untuk berbagai pertunjukan hiburan yang diadakan gratis bagi para pemegang tiket menonton F1. Daftar musisi atau seniman yang turut memeriahkan GP ini juga bisa jadi salah satu alasan kita bergegas membeli tiket GP.
Salah satu penampil tahun lalu adalah Travis, band asal Skotlandia yang saya sukai sejak 1990-an. Begitu balapan usai, kami tergopoh-gopoh menempuh jalan yang cukup jauh menuju The Padang, tempat Travis berpentas malam itu. Pertunjukan band kesayangan di tempat terbuka di bawah langit malam sungguh ini menambah kegembiraan hati saya sebagai penonton GP.
Pemerintah Singapura pun all-out dalam mendukung acara yang jelas mendatangkan mereka banyak devisa ini. Rute bis diatur ulang dengan rapi, bahkan ada bis yang tersedia gratis untuk penonton, yang amat berguna bila kita hendak pulang ke hotel namun hari sudah terlalu malam sehingga sulit memperoleh angkutan umum. (Maklum, namanya juga GP malam hari. Kami betul-betul jadi kalong selama penyelenggaraan GP ini.) MRT beroperasi lebih lama dari biasa. Pokoknya, penonton GP tidak perlu pusing-pusing memikirkan hal lain selain bersenang-senang.
Nah, bila Anda datang ke Singapura pada saat GP F1 berlangsung namun tidak hendak menonton acara olahraga ini, mungkin sebaiknya diingat: banyak akses jalan yang ditutup selama penyelenggaraan GP, termasuk yang menuju tempat-tempat kenamaan di Singapura seperti Merlion di depan Fullerton Hotel. Kebetulan trek balapan ini menggunakan jalanan yang sehari-harinya dipakai untuk kepentingan umum, bukan trek khusus. Jadi, sebaiknya rancang perjalanan Anda dengan berhati-hati, agar tidak ‘kecele’ nantinya. Dan meski bukan penonton yang memegang karcis, Anda juga bisa menikmati berbagai sajian seperti pameran foto F1 di Orchard Road, pameran mobil F1, atau sekadar belanja oleh-oleh F1 mulai dari gantungan kunci sampai kaos.
Posted by Tante Guru







































Komentar pelompat