Menambah Berat Badan di Penang
06 May 2012 Leave a Comment
in malaysia Tags: bayan lepas, georgetown, malaysia, penang, restaurant, tempat makan
Sewaktu mengetahui saya akan berkunjung ke Penang, teman-teman saya yang berkebangsaan Malaysia langsung dengan bersemangat mempromosikan… makanan di sana. Ya, Penang memang tenar sebagai ‘gudang makanan enak’ di Malaysia, dari yang murah sampai mahal, dari yang halal sampai tidak. Berikut ini kami membahas sejumlah tempat makan yang sempat kami jajal di Georgetown dan sekitarnya.
Kaki lima dan kedai di Lebuh Chulia
Saat malam menjelang, sebagian ruas Lebuh Chulia berubah menjadi tempat mangkal para pedagang makanan kaki lima. Wujudnya, ya seperti di Indonesia, dengan gerobak dorong, kursi-kursi plastik, dan meja kecil. Berbagai macam makanan bisa dipilih, tapi yang membuat kami penasaran malam itu adalah sate ayamnya. Meski malam itu tidak tersedia lontong ataupun nasi, kami tetap memesan 20 tusuk sate. Seingat saya, 10 tusuk harganya 6 RM. Bumbu satenya berbeda dengan di Indonesia – sepertinya ada pengaruh bumbu India – tapi sama lezatnya. Ditemani potongan timun dan bawang merah yang besar-besar… hmmm!
Malam lain, kami makan nasi dengan lauk-pauk yang kami pilih sendiri di sebuah kedai tepat di samping salah satu Banana Guesthouse. Sederhana, murah-meriah, mungkin sebanding lah dengan warteg di Indonesia – namun kelezatannya membuat kami ‘kurang percaya’ hanya perlu membayar beberapa ringgit saja.
Ini belum terbukti sih, tapi dugaan saya adalah kedai atau gerobak mana pun yang Anda hampiri di Lebuh Chulia ini (atau jangan-jangan di seluruh Penang?), makanannya enak semua…
Sup Hameed
Ke Penang jangan lupa mencicipi nasi kandar. Salah satu tempat yang menjualnya adalah Sup Hameed yang terletak di Jalan Penang, tak jauh dari perempatan dengan Jalan Sultan Ahmad Shah. Tempatnya biasa saja, tidak mewah, dan sama sekali tidak dirancang untuk menarik turis. Tapi justru di tempat-tempat seperti ini kan biasanya kita menemukan santapan khas paling lezat di suatu daerah? Nasi putih hangat dan pulen ditemani ayam goreng, udang, kerang, dan cumi, disertai teh manis hangat pas betul jadi pengisi perut setelah kami terguyur hujan hari itu. Saking lapar dan lahapnya kami makan hari itu, kami tidak sempat memotret tempat ini.
Tapi tolong ingatkan saya lain kali bila mengunjungi Malaysia atau Singapura lagi untuk 1) minum bandong lagi (lupa melulu), dan 2) belajar harus bilang apa bila ingin memesan teh manis, teh dengan susu, teh tarik… Teh O artinya teh kosong, bukan? Hah. Duh. Payah. Selalu lupa dan bingung.
Georgetown White Coffee
Sejumlah kota besar di Indonesia mungkin sudah kenal dengan kafe waralaba Old Town dari Malaysia. Di Georgetown rupanya ada ‘kembarannya’, bahkan dengan arsitektur bangunan dan lambang yang mirip. Namun hidangan yang disajikan Georgetown White Coffee bertitik berat pada kekayaan kuliner Penang. Setiap hari, ada promo harga murah untuk jenis hidangan yang berbeda. White coffee-nya sebagai andalannya juga tidak mengecewakan. Tapi saya penasaran sih dengan white coffee dari Ipoh. Lebih enakkah dari yang di Penang? Oke… Ipoh masuk bucket list.
Coob Coffee
Letak kafe kecil ala Jepang ini masih di KOMTAR Walk juga. Selain menjual minuman, Coob Coffee menyediakan juga sejumlah hidangan, yang tidak semuanya halal. Namun jenis-jenis minuman yang disediakan sungguh membuat kerongkongan mendadak seret! Pemilik kafe ini juga sangat ramah dan akan menanggapi obrolan kita dengan akrab. Ia pernah beberapa kali datang ke Jakarta untuk urusan bisnis, dan… yah, malu juga ya ketika ia bertanya apakah Jakarta masih sering macet atau tidak. Royal milk tea dan cake yang saya cicipi, ditambah suasana kafe yang nyaman, membuat saya menandai tempat ini sebagai ‘tempat wajib kunjung kembali’ seandainya ke Penang lagi.
Oh ya, soal KOMTAR, meskipun sebagai pusat perbelanjaan tempat ini tidak ada istimewanya, namun di sini ada supermarket di mana Anda bisa membeli oleh-oleh berupa produk makanan dan minuman buatan Malaysia. Teh tarik, white coffee, cokelat, teh berwujud daun ataupun kantong… Tinggal sedia uang yang cukup saja.
Kopitan
Sehabis terpanggang matahari gara-gara berjalan kaki dari City Hall, terus ke Fort Cornwallis dan Menara Jam, saya merasa girang betul saat menemukan kedai di Lebuh Pantai ini. Kopitan terletak di bangunan lama yang direvitalisasi menjadi pertokoan dan rumah makan, Whiteaways. Untuk memperoleh seporsi nasi dan lauknya, kita harus merogoh saku guna mengeluarkan sedikitnya 9 RM. Sayang meski nama tempat ini ‘Kopitan’, kami tidak sempat mencicipi kopinya karena menyisakan jatah kafein hari itu untuk Coob Coffee. Kami lebih memilih variasi teh dingin yang menyegarkan tubuh yang sudah separo kering akibat keringat yang terkuras. Oya, kecepatan Wi-Fi yang tersedia di tempat ini luar biasa. Lumayan, sambil bersantai makan, kami bisa mengunggah sejumlah foto dan mengunduh pembaruan untuk apps telepon genggam kami.
Foodcourt Queensbay Mall, Bayan Lepas
Berhubung kami memilih penerbangan malam untuk kembali ke Jakarta, ada waktu cukup lama yang harus kami habiskan setelah check out dari hotel. Kami pun meminta supir van yang kami sewa dari hotel untuk mengantarkan kami ke Queensbay Mall. Ini adalah pusat perbelanjaan mewah yang memajang deretan berbagai tempat makan dan toko merk internasional (termasuk J.Co). Namun pilihan kami untuk bersantap adalah foodcourt alias ‘medan selera’-nya. Di foodcourt yang terletak di lantai tiga ini, berbagai penjual makanan lokal bercokol. Tidak pakai kartu-kartuan, sehingga kita cukup memesan dan membayar di kedai yang kita pilih.
Hanya saja, meski pusat perbelanjaan ini tidak kalah mewah dengan sejumlah pusat perbelanjaan sejenis di Jakarta, wah, kalau soal mushola dan toiletnya, mal-mal di Jakarta masih menang jauh. Heran juga, kok mal semewah ini ternyata toiletnya rada mirip yang ada di stasiun bis.
Winter Warmers, Queensbay Mall
Di Queensbay, ada satu lagi tempat makan yang kami tuju: kedai teh bernama Winter Warmers. Berbagai macam teh dan kopi bisa kita pilih dari menunya. Bisa juga kita memesan paket high tea sejak pukul 2 siang, yang berisikan teh pilihan kita dan kue-kue yang ditata dalam baki tiga tingkat – ada biskuit, scone, muffin, brownies, dan sandwich. Menggoda!
“It is not nice,” kata pelayan langsung ketika saya mencoba memesan teh lavender. Hah? Saya agak kurang mengerti. Ia lantas menyarankan teh mawar atau teh susu bila ingin yang ‘nice’. Hmm. Sepertinya yang ia maksudkan dengan kata ‘nice’ itu adalah ‘sweet’. Baiklah, untuk menghargai si mbak yang telah berusaha memperingatkan saya dengan bahasa Inggrisnya yang seadanya, saya pun ganti memesan teh mawar. Tapi untuk biskuitnya, tetap memesan biskuit lavender.
Untuk menambah pengalaman minum teh ala Inggris, interior kedai ini sengaja bergaya negara asal Pangeran William itu. Hanya seragam pelayannya rasanya terlalu kasual, sehingga agak merusak suasana ‘high tea’ ala Inggris. Tapi ya sudahlah. Teh dan kue-kuenya juara! Apalagi biskuitnya yang disajikan hangat. Yang saya cicipi adalah biskuit cokelat dan lavender. Sungguh penutup menyenangkan bagi pengalaman berwisata kuliner di Penang.
(Untuk menuju bandara dari Queensbay Mall, kami menaiki taksi yang ogah memasang argometer dan lebih memilih tarif ‘argo kuda’ sebesar 20 RM. Oleh karena malas berdebat, kami setujui saja. Taksi bertarif ‘nembak’ adalah hal umum di Penang, dan juga tempat lain di Malaysia yang telah saya kunjungi, sehingga ingatlah untuk menyetujui tarif terlebih dahulu sebelum menaiki sebuah taksi. Tentu yang paling aman adalah memilih taksi yang patuh menyalakan argometer.)
Selamat menikmati berbagai hidangan lezat di Penang. Secara umum, Penang cukup aman untuk pelancong, meskipun tetap harus waspada. Terutama di Georgetown, sesuai pesan dari pemilik 47 Moontree, jagalah tas Anda baik-baik karena sering ada penjambret.
Berat badan bertambah? Itu sih, risiko pergi ke Penang.
Posted by Tante Guru
‘Rumah Burung Hantu’ di Penang Hill
06 May 2012 Leave a Comment
in malaysia Tags: angkutan umum, malaysia, museum, penang, penang hill
Kali ini, kami masih bercerita tentang Penang. Tapi sekarang kita pergi agak menjauh dari Georgetown. Tepatnya ke Penang Hill, yang secara cukup mengherankan dalam bahasa Melayu dikenal sebagai Bukit Bendera. Hal ini memang jamak terjadi di Penang: satu tempat dikenal dengan nama yang belum tentu sama dalam bahasa-bahasa berbeda yang digunakan penduduk majemuk pulau tersebut.
Resepsionis hotel memberi tahu kami agar menunggu bis Rapid Penang nomor 204 di depan 7 Eleven di Jalan Penang. Kami sempat menunggu beberapa lama di depan salah satu cabang 7 Eleven sebelum sadar kami berdiri di depan cabang yang salah. Seharusnya di cabang yang berada di tepi jalur yang mengarah ke selatan, bukan ke utara. Ya maaf… habisnya banyak banget sih cabangnya, hehehe… (Anda juga bisa naiki bis 204 ini dari KOMTAR, kalau bingung harus menunggu di mana.)
Dari halte tempat kami naik, kami harus membayar 2 ringgit per orang, yang dimasukkan ke kotak uang di samping supir. Setelah membayar, supir akan menyerahkan karcis dan mempersilakan kita mencari tempat duduk (bila masih ada). Bis pun mulai berjalan, dengan kualitas menyupir yang bagi kami agak gila-gilaan, apalagi rute yang ditempuh banyak melewati jalan-jalan yang tidak seberapa besar. Tapi sepertinya supir-supir bis di Penang tahu pasti apa yang mereka lakukan. Lagipula kondisi bis yang bersih, nyaman, dan terawat membuat perasaan khawatir minimal.
Bis-bis Rapid Penang ini pun ramah terhadap pengguna kursi roda. Pintu tengah bisa dibuka lebar-lebar, dan bis bisa dimiringkan sedikit agar kursi roda bisa didorong melewati titian naik-turun bis. Supir juga tak segan repot-repot membantu menaik-turunkan kursi roda.
Bis yang kami tumpangi meluncur keluar dari Georgetown, menuju Air Itam. Di kota ini kita bisa melihat kesibukan pasar tumpah yang cukup memacetkan jalan dari balik jendela bis yang berpendingin udara. Wih, benar-benar berasa turis, tapi tanpa ikut paket tur.
Perhentian terakhir bis 204 tepat di halte kaki Penang Hill. Di loket stasiun Penang Hill, dengan uang 30 ringgit per orang, karcis kereta pulang-pergi pun berpindah tangan. Pemegang identitas Malaysia cukup membayar 4 RM saja. Hus… jangan iri ya.
Kami pun mengantri dengan sabar, menanti sampai kereta yang akan mengangkut kami tiba. Para penumpang naik dan turun tidak akan berpapasan karena pintu yang terbuka untuk mereka berbeda sisi, dan membuka-tutup bergantian.
Naik kereta Penang Hill ini memang pengalaman tersendiri. Agak mirip sih dengan kereta serupa di Hong Kong, namun tentu saja pemandangan yang kita lihat di Penang adalah alam tropis. Bukit yang harus didaki kereta ini sebenarnya curam sekali, tapi tak usah takut isi kereta bakalan ikut miring dan berjatuhan. Kereta dirancang khusus sehingga lantainya selalu datar, dan penumpang bisa berdiri tegak tanpa khawatir terguling meskipun rel miring nyaris 45 derajat.
Setiba di puncak Penang Hill, kami langsung disambut udara yang sejuk dan segar. Pemandangan nun jauh di bawah sana terbentang luas, menampakkan tak hanya Georgetown, namun juga lebih jauh lagi, bahkan ke arah laut dan jembatan menuju Butterworth. Hanya saja, pemandangan dari Penang Hill kerap teradang kabut – entah itu alami atau akibat aktivitas manusia.
Di puncak Penang Hill ini, kita bisa berkeliling melihat bangunan-bangunan kuno menggunakan jasa buggy dengan tarif 30-60 RM. Sayang, karena hari itu langit menunjukkan tanda-tanda akan hujan, kami memilih untuk menikmati apa yang ada di sekitar stasiun saja. Pertama-tama kami menyambangi kuil Hindu yang bisa dicapai dengan mendaki sejumlah anak tangga. Seperti juga banyak kuil Hindu India lain, yang satu ini pun semarak ornamen dan warna. Lebih ke atas lagi dari kuil, ada sebuah masjid.
Puas melihat-lihat di sana, kami pun mengarah ke Owl Museum yang belum lama dibuka. Museum dengan tarif masuk 10 RM ini tidak seberapa besar, namun menyimpan koleksi yang unik: ribuan pernak-pernik burung hantu dari berbagai penjuru dunia. Dari Indonesia juga ada, lho. Kami jadi kegirangan sendiri menelusuri rak demi rak yang menyimpan berbagai perwujudan hewan perlambang Dewi Athena itu. Sebelum pintu keluar museum yang juga menyediakan aktivitas bagi anak-anak ini, terdapat sebuah toko kecil yang menjual berbagai suvenir bertema burung hantu, dari kaus, kalung, anting-anting, tas, dan lain-lain. Nyaris kami kalap di sini!
Di atas Owl Museum ini, terdapat sejumlah toko suvenir dan kedai makan yang cukup murah-meriah. Asyik juga bersantai sejenak menikmati hidangan dan minuman sambil berpuas-puas menikmati kedamaian dan angin semilir di Penang Hill. Keasyikan sudah selesai? Belum dong! Masih ada perjalanan meluncur menuruni bukit. Woohoo!
Mengunjungi Penang Hill adalah kegiatan yang kami rekomendasikan bila kami bertandang ke pulau tersebut. Di puncak bukit ini juga terdapat kantor pos, kalau-kalau Anda ingin mengirimkan kartu pos ke teman-teman atau kerabat. Dari Penang Hill, Anda bisa langsung naik 204 kembali ke Georgetown, atau menaiki 201 menuju Kuil Kek Lok Si. Sekadar catatan, karena banyaknya anak tangga yang harus didaki, Kuil Kek Lok Si kurang disarankan untuk yang kesehatannya kurang prima.
Posted by Tante Guru
Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang
24 Apr 2012 Leave a Comment
in malaysia Tags: benteng, georgetown, gereja, hotel, kelenteng, kota tua, kuil, malaysia, masjid, penang, penginapan
Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?
“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap. Si mas penjaga ini berasal dari Jawa. Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.
Berobat – atau bekerja. Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini. Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang. Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut. Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.
Terpikat oleh kisah-kisah tentang budaya, alam, dan kuliner Penang, kami pun pergi ke sana pada pertengahan April 2012. Tujuan utama kami dalam kunjungan singkat kali ini adalah daerah Georgetown dan sekitarnya. Ketika kami tiba, bandara Penang (Bayan Lepas) tengah menjalani renovasi besar-besaran, sehingga agak berantakan. Tentunya diharapkan setelah renovasi itu kelar, Bayan Lepas siap melayani lebih banyak penumpang pesawat yang singgah di Penang.
Dari Bayan Lepas, kami menggunakan taksi resmi bertarif 44.7 RM ke Georgetown, menempuh perjalanan kira-kira 40 menit. Kami terlebih dahulu harus membayar dan mengambil kupon di loket di bandara sebelum mendapatkan taksi. Cara ini aman dan pasti dibandingkan mencari taksi sembarangan. (Sebagai catatan, di Penang, banyak taksi bandel yang enggan menggunakan argometer. Sehingga pastikan Anda telah menyepakati tarifnya terlebih dahulu sebelum menaiki taksi.) Kalau mau lebih murah lagi, bisa menggunakan sejumlah bis yang mengarah ke KOMTAR. Rutenya bisa dicek di peta-peta gratis yang bisa diambil di bandara.
Tulisan ini berfokus kepada objek-objek yang bisa dilihat di Georgetown. Penang Hill dan berbagai tempat bersantap di Penang akan kami bahas di tulisan lain.
Tempat menginap
Mudah sekali menemukan penginapan di Georgetown, mulai dari yang bertaraf internasional dan berbintang banyak seperti Traders atau Cititel, sampai berbagai guest house termasuk tempat-tempat yang mengklaim diri sebagai hotel namun tampak agak meragukan.
Sebenarnya kami telah memesan tempat di 47 Moontree, sebuah rumah tua yang dihidupkan kembali menjadi guest house ‘bergaya butik’. Namun ketika kami tiba, sang pemilik menyambut dengan wajah khawatir. Ternyata, ia baru membaca pesan yang saya kirimkan kepadanya sewaktu memesan kamar, bahwa kami membawa ibu kami turut serta. Ia mengatakan bahwa tangga ruangan untuk tiga orang yang telah ia siapkan untuk kami terlalu curam bagi ibu kami. Ia mengajak saya melihat ruangan itu. Cukup menarik sebenarnya. Di lantai bawah ada ruang duduk dan kamar mandi yang hanya dibatasi tirai. Ketiga tempat tidur terletak di lantai atas, yang memang hanya bisa dicapai dengan tangga yang sempit dan curam.
Alternatif yang ia tawarkan adalah sebuah kamar di lantai atas dengan tempat tidur untuk 2 orang, namun sayangnya hanya menggunakan kipas angin, dan kamar mandi serta toiletnya pun di luar. Maksud saya, di luar. Di luar bangunan. Duh, nggak kebayang kalau malam-malam ibu saya harus ke kamar mandi. Untunglah sang pemilik 47M sangat membantu kami. Ia menunjukkan dua alternatif penginapan yang terletak tak jauh dari guest house-nya untuk kami coba.
Yang pertama, Red Inn Cabana, terletak di Lebuh Leith, sejajar dengan Cheong Fatt Tze Mansion yang merupakan salah satu objek kebanggaan Georgetown. Guest house yang terletak di atas sebuah toko cokelat ini sebenarnya cukup murah, dan bangunannya baru serta bersih pula. Kamar-kamarnya juga sangat bagus. Sayangnya, satu kamar tunggal dan satu kamar untuk dua orang yang kami incar hanya tersedia untuk satu malam saja. Terpaksa kami melangkahkan kaki ke tempat berikutnya yang direkomendasikan pemilik 47M, yaitu Banana Boutique Hotel di Lebuh Chulia. (Yang ini kelasnya ‘hotel’ – ada juga Banana Guesthouse di jalan yang sama.)
Kami pun menjatuhkan pilihan pada hotel yang satu ini, dan tidak menyesalinya. Harga yang kami bayarkan memang lebih mahal daripada seandainya kami jadi menginap di 47M atau Red Inn Cabana, namun semua sen itu sesuai dengan kualitas hotel. Kami memperoleh sebuah kamar luas untuk tiga orang dengan tiga tempat tidur tunggal dan kamar mandi dalam, serta juga memperoleh sarapan. Yah, yang penting ibu kami nyaman!
Berikut sejumlah foto sudut-sudut hotel ini:
Tempat-tempat yang bisa dilihat di Georgetown
Georgetown adalah sebuah kota tua yang disarati berbagai bangunan bersejarah yang menunjukkan keragaman penduduk Penang – yang beretnis Cina, Melayu, India, Aceh dan lain-lain – dan juga jejak-jejak kolonial sejumlah bangsa Eropa. Kotanya tidak terlalu besar – bila Anda bugar, cukuplah berkeliling wilayah inti dan wilayah penunjang tempat warisan dunia ini dengan berjalan kaki. Tidak semua bangunan kuno telah direnovasi – banyak juga yang kosong dan dibiarkan termakan waktu.
Di hari pertama, setelah memastikan kami menemukan penginapan, kami pun berjalan kaki menuju wisma Cheong Fatt Tze yang dikenal juga sebagai The Blue Mansion karena warna biru dindingnya yang khas. Sebagai peringatan, warna biru itu berasal dari indigo, yang mudah luntur, tidak seperti cat. Jadi jangan menempel-menempel ke dinding yah, kalau tidak mau mendadak berubah menjadi Smurf.
Wisma megah ini tadinya dimiliki Cheong Fatt Tze, seorang pengusaha kaya-raya yang memulai segalanya dari nol sebagai seorang migran Hakka miskin. Kerajaan bisnisnya yang dirintis di Batavia membuatnya memiliki cukup kekayaan untuk membangun ‘ibukota kekaisaran’-nya di Penang. Sayangnya, setelah ia wafat, hartanya terbagi-bagi di antara para istri dan anak-anaknya yang berjumlah banyak. Ia berpesan agar wisma birunya tidak dijual sebelum istri ketujuhnya yang merupakan cinta sejatinya dan anak mereka tiada. Akhirnya, pada tahun 1989, dalam keadaan sudah rusak berat, wisma biru itu pun ‘bebas’ untuk dialihtangankan. Pemerintah lekas mengambil alih dan meremajakan wisma tersebut menjadi salah satu ikon Penang.
Tiket masuk museum ini adalah 12RM. Tidak boleh berkeliaran sendiri, melainkan harus disertai pemandu, dan tidak boleh memotret selain di halaman depan. Dalam sehari hanya ada tiga kesempatan berkunjung: pukul 11, 13.30, dan 15.00. Yang datang pukul 15.00 bisa ikut menikmati ‘high-tea’ dengan hidangan dan kue-kue ala ‘nonya’ (peranakan) dengan menambah 16RM.
Sayangnya, tur berpemandu ini memang menjadikan kita kurang bebas, selain pemandunya yang menurut saya terlalu banyak berbicara tanpa dibantu pajangan atau sarana lain yang bisa membuat kita lebih memahami ceritanya. Ruang-ruang wisma juga kebanyakan kosong, dengan hanya sejumlah barang temuan di rumah itu yang dipamerkan. Agak sedih juga melihat barang-barang usang yang pernah menjadi penanda kehidupan semarak di wisma tersebut, mulai dari topi bayi sampai pakaian Cheong Fatt Tze.
Mungkin salah satu sebab lain akses di wisma ini sedemikian terbatas adalah karena sebagian ruangan diubah menjadi kamar hotel. Si pemandu giat sekali mempromosikan kamar-kamar yang tergolong mahal itu. Hanya satu kamar, bekas dapur, yang boleh kami lihat di hari itu. Apik dan unik juga, tapi… nggak kuat ah di kantong! Hehehe.
Ruang terakhir yang kami kunjungi adalah tempat penjualan suvenir. Khawatir memboroskan uang di hari pertama, saya tidak membeli apa-apa. Namun saat keluar wisma, hujan deras turun. Nah… ini juga catatan bila berkunjung ke Penang. Cuacanya cukup mudah berubah! Kalau tidak membawa payung, di minimarket saya membeli sebuah seharga 13 RM. Sambil menunggu hujan berhenti, saya mengobrol dengan penjaga gerbang, seorang Melayu yang berkeluh-kesah tentang betapa orang-orang Cina telah menguasai berbagai hal di Malaysia. Saya diam saja, enggan menambah-nambahi perasaan kesenjangan yang membebani sang bapak yang sebenarnya baik hati. Ia memberi petunjuk kepada kami di mana bisa ditemukan makanan yang enak dan halal.
***
Kalau Anda senang melihat-lihat arsitektur tempat-tempat ibadah, maka Georgetown adalah ‘surga’ bagi Anda. Ibaratnya, kesandung saja pasti ketemu tempat ibadah, entah itu kelenteng, kuil Hindu, masjid, gereja, dengan berbagai gaya. Sebagian berdiri bersebelah-sebelahan tanpa menunjukkan tanda-tanda terusik.
Berikut beberapa objek memikat yang paling terkenal, yang saya kelompokkan berdasarkan kedekatan mereka satu sama lain:
- Town Hall, City Hall, dan War Memorial yang berdiri dekat laut. Sejajar dengan tepi laut juga terdapat deretan pepohonan dan bangku-bangku di mana kita bisa duduk beberapa lama sambil mengamat-amati laut dan kesibukan pelabuhan. Berjalan sedikit menyusuri Jalan Tun Syed Sheh Barakah, kita akan tiba di sisa benteng ala Eropa, Fort Cornwallis (tiket masuk = 2RM). Terus sedikit lagi, sampai di Menara Jam, dan kawasan bisnis dan pemerintahan yang sudah jauh lebih rapi daripada daerah-daerah Georgetown lainnya.
- Menyusuri Lebuh Pantai, berbeloklah ke Lebuh Gereja. Di sini berdiri Museum Peranakan (tiket masuk = 10RM) yang sangat saya rekomendasikan! Bangunannya memang tidak sebesar Blue Mansion, tapi isinya jauh lebih kaya, menampilkan sepintas kehidupan kaum peranakan di Penang. Kita juga bebas berkeliaran sendiri dan memotret. Ruang piano yang mewah bisa dipesan untuk acara tertentu seperti pertunangan dan lain-lain. Di belakang museum juga ada kuil keluarga yang terkesan agak ‘dingin’. Baru belakangan saya tahu di belakang dinding altar ada sumur yang konon menyimpan kisah-kisah seram. Hmmm, untung saya baru tahu sesudah berkunjung ke sana!
- Cathedral of the Assumption dan St. George’s Church, yang berdiri mengapit Museum Negeri Pinang di Lebuh Bishop. Jujur, dari luar, kedua gereja ini tidak tampak terlalu mencolok, setidaknya dibandingkan gereja-gereja lain yang pernah saya sambangi. Namun entahlah kalau sebelah dalamnya – yang sayangnya tak sempat saya tengok. Jika berbelok ke arah Jalan Masjid Kapitan Keling, di persimpangan dengan Lorong Stewart bisa kita jumpai Kelenteng Kwan Im.
- Di daerah perpotongan Lebuh Chulia dengan Jalan Masjid Kapitan Keling, bisa kita jumpai Kuil Hindu Sri Mahamariamman (yang lebih mudah diamati dan difoto dari sisi yang menghadap ke Lebuh Queen) dan Masjid Kapitan Keling. Di depan Sri Mahamariamman, saya tertegun melihat seorang wanita Cina tua yang kebetulan lewat menghaturkan sembah ke arah kuil. Ini kali kedua saya melihat yang semacam ini di Malaysia – kali pertama di Batu Caves. Ngomong-ngomong, kawasan ini sudah tergolong Little India. Sempatkan waktu mencoba ikut menikmati irama kehidupan di kawasan yang semarak ini.
- Kuil Kongsi Yap, Dr Sun Yat Sen’s Penang Base, dan Museum Islam terletak berdekatan di Lebuh Armenia. Sayang saat saya ke sana, Museum Islam masih tutup. Berbalik ke Lebuh Acheh, saya melihat-lihat Masjid Melayu Lebuh Acheh.
- Belok ke Lebuh Cannon, saya mengunjungi Kongsi Khoo (tiket masuk = 10RM, bonus 2 kartu pos). Yang satu ini juga sangat menarik untuk dikunjungi. Kumpulan bangunan yang dimiliki oleh klan yang kaya-raya ini dilestarikan dengan baik, termasuk panggung opera. Bagian bawah bangunan utama (Leong San Tong) diubah menjadi museum, di mana kita juga bisa mencicipi rekonstruksi pengalaman menonton opera Cina seperti zaman dahulu. Ada pula tiruan dapur zaman dahulu (yang dindingnya berlapis indigo juga) dan diorama penghuni yang sedang bersantap.
Nah, ini baru sebagian kecil dari yang bisa Anda lihat di Georgetown. Tempat-tempat makannya saja belum kami bahas. Pokoknya, tur berjalan kaki seharian di Georgetown akan membuat Anda bisa melihat dan merasakan banyak sekali hal, termasuk yang kerap luput dari perhatian orang banyak. Apalagi ketika seperti saya, Anda berkesempatan menyusuri jalan-jalan Georgetown di pagi hari sesudah hujan. Hmm… nyaman sekali.
Posted by Tante Guru
Memperkaya Pengalaman Spiritual di Batu Caves
14 Jun 2011 2 Comments
in malaysia Tags: batu caves, kuala lumpur, kuil, malaysia
Terletak tidak jauh dari Kuala Lumpur, ada sebuah tempat peribadahan umat Hindu yang sungguh memukau. Dibangun dalam rangkaian gua di tebing gunung, Batu Caves barangkali adalah tempat ziarah utama umat Hindu Malaysia. Sepanjang tahun Batu Caves dikunjungi banyak orang; apalagi kalau sedang perayaan Thaipusam, ramainya bukan buatan.
Berkat pembukaan jalur kereta yang berujung tepat di samping Batu Caves, mengunjungi kuil ini menjadi mudah sekali. Cukup naik kereta sekali dari KL Sentral, turun di Batu Caves, dan hup… tinggal berjalan beberapa ratus meter mendekati undak-undakan yang menuju ke gua raksasa yang merupakan titik sentral kawasan Batu Caves. Namun sebelumnya, kita akan disambut patung Hanuman raksasa yang berdiri gagah dekat gerbang menuju stasiun kereta.
Objek lain yang langsung akan merebut mata adalah patung Lord Murugan yang menjulang di kaki undak-undakan, berlatar belakang tebing gunung yang dirimbuni tetumbuhan. Selain patung tersebut, ada pula bangunan kuil yang disarati arca-arca yang merepresentasikan dewa-dewi Hindu, terutama Syiwa dan keluarganya. Sebuah kolam yang cukup luas turut menambah kesejukan suasana.
Saat saya ke Batu Caves, hujan rintik-rintik sedang membasahi bumi. Ngeri rasanya mendaki tangga yang curam dan semakin licin kala hujan. Saya tak lagi mengkhawatirkan monyet-monyet nakal yang bebas berkeliaran di kawasan kuil. Mereka ini konon tak segan mengganggu pengunjung, namun dibandingkan kemungkinan terpeleset dari ketinggian beberapa belas, bahkan beberapa puluh, meter, monyet-monyet itu bukan ancaman besar. Kecuali, tentu saja, kalau Anda terpeleset gara-gara mereka…
Tapi yah, sudahlah. Toh saya tidak bisa mundur lagi. Sayang amat, belum dapat apa-apa, sudah turun lagi. Jadi meskipun hati agak gentar dan napas mulai ngos-ngosan, saya memaksakan diri terus bergerak menaiki tangga, meski kadang-kadang berhenti untuk beristirahat. Pengunjung juga terus mengalir naik: baik orang-orang keturunan India beragama Hindu yang memang datang dengan tujuan beribadah, maupun wisatawan ingin tahu seperti saya.
Tiba di atas sungguh merupakan pencapaian pribadi bagi saya. Rasa letih seketika sirna. Di hadapan mata ada keajaiban alam berpadu dengan buah jerih-payah manusia. (Coba bayangkan, waktu pertama tangga ke gua itu dibangun, bagaimana ceritanya, bagaimana sulitnya?) Kesyahduan menguar bahkan sebelum kaki jauh melangkah ke dalam gua: sepasang suami-istri berdarah Cina yang sudah agak renta, tampak khusyuk berdoa. Saya kok yakin padahal agama mereka bukan Hindu, namun tak ada yang mempermasalahkan.
Di mulut gua, ada kios-kios yang menjual barang-barang devosi umat Hindu (dan juga minuman, bagi Anda yang keringatnya terkuras habis sewaktu mendaki tangga). Sebagian barang juga bisa Anda beli untuk oleh-oleh.
Dan begitu masuk ke dalam gua utama… wah. Napas yang sudah mulai teratur, kembali tercekat karena kagum. Penerangan remang-remang justru semakin menonjolkan fitur-fitur alami gua, dan menambah kesan agung kepada arca-arca yang ditempatkan di berbagai sudut, terkadang di tempat yang agak tidak terduga. Mengunjungi Batu Caves merupakan keriaan bagi indra penglihatan, sekaligus memperkaya pengalaman spiritual.
Posted by Tante Guru
Melaka, Kota Antik yang Menawan
20 Sep 2010 2 Comments
in malaysia Tags: angkutan umum, hotel, kota tua, malacca, malaysia, melaka, restaurant, tempat makan
Bila bepergian ke Malaysia, jangan hanya tinggal di Kuala Lumpur (KL). Untuk merasakan suasana yang ‘lebih Malaysia’ atau ‘beda’, datangilah daerah-daerah atau kota-kota lain. Kali ini, kami mengajak Anda mengunjungi Melaka, sebuah kota kecil yang terletak 2 jam jauhnya naik bis dari KL. Melaka, atau Malacca, juga bisa Anda capai dengan bis dari Singapura. Kota ini terletak di posisi strategis di Selat Melaka, sehingga tak heran bangsa-bangsa penjajah dulu menjadikan kota tersebut tempat bercokol. Tak heran, Melaka menunjukkan tidak hanya warisan Melayu, India, dan Cina, melainkan juga Belanda, Portugis, dan Inggris.
Oleh karena terminal bis utama KL, Puduraya, sedang ditutup untuk renovasi, kami harus ke tempat parkir F Bukit Jalil, terminal darurat untuk bis-bis yang menuju ke utara atau selatan KL. Tidak perlu khawatir, ada LRT (jalur Ampang) yang berhenti di Bukit Jalil, stadium nasional yang juga sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan konser.
Loket-loket karcis sementara berjejer rapi di dalam tenda besar. Hanya saja, seperti di terminal bis di Indonesia, ada saja orang-orang perusahaan bis yang telah menanti penumpang sejak keluar dari stasiun LRT bukit Jalil, berusaha menyeret mereka ke loket perusahaan tertentu. Kami membeli karcis untuk bis Damai, namun nomor polisi yang tertera di karcis adalah nomor polisi bis perusahaan Jebat—mungkin satu kongsi dengan bis Damai. Kualitas bisnya biasa-biasa saja, malah boleh dibilang agak jelek. Interiornya sudah gembel, AC-nya juga pas-pasan, jarak antarkursi agak sempit, namun masih lumayanlah. Paling tidak, kami hanya harus bertahan 2 jam di dalam bis itu. (Sewaktu pulang ke KL, kami menumpangi bis Metrobus, yang jauh lebih baru, bagus, lega, dan sejuk.)
Dalam perjalanan ke Melaka, tak banyak yang bisa dilihat—di kiri dan kanan jalan, kebanyakan kelapa sawit melulu. Membosankan dan mengkhawatirkan secara ekologis. Namun, semakin dekat Melaka, banyak rumah-rumah tradisional mungil dari kayu yang tampak menarik.
Sewaktu memasuki kawasan kota Melaka, pada awalnya saya agak kecewa. Kota itu di luar bayangan saya—terlalu modern, dengan baris demi baris rumah susun atau apartemen yang seragam, serta pusat-pusat perbelanjaan yang berukuran raksasa namun tanpa selera. Akan tetapi ini adalah bagian Melaka yang baru. Bagian tua Melaka adalah kota kecil yang menawan dan menyenangkan. Jendela-jendela kayu yang tua terasa memberikan sapaan yang lebih ramah daripada jendela-jendela kaca modern yang seragam.
Untuk mencapai kota tua Melaka, dari Melaka Sentral—terminal bis dan pasar tempat bis-bis domestik maupun ‘antarnegeri’ (kalau di Indonesia, bis AKAP) bermuara—ambil bis-bis yang melewati kota tua. Bis-bis itu ada di platform (peron) 6, 7, dan 8. Pilih saja bisnya. Karena tak mau kecele seperti sewaktu berangkat dari KL, saya memilih untuk melihat-lihat bis yang tersedia dulu. Hal ini mudah dilakukan karena terminal keberangkatan Melaka Sentral berbentuk melingkar dengan dinding dari kaca. Penumpang bisa pilih-pilih bis dari dalam ruang tunggu yang ber-AC, dan setelah hati merasa cocok, baru keluar mendatangi bis itu melalui pintu yang berhadapan dengan platform yang dimaksud.
Oya, sebelum menaiki bis, coba datangi pusat informasi pariwisata di bagian tengah Melaka Sentral. Belilah peta pariwisataMelaka seharga 5 RM. Mungkin sepertinya agak mahal, namun membantu sekali.
Bis domestik yang kami pilih adalah bis perusahaan Panorama, dengan biaya 1,5 RM. Bis tidak ber-AC yang sudah tua dan jelek juga ada, kalau-kalau Anda ingin yang lebih murah. Bis Panorama tersebut membawa kami ke depan Mahkota Parade, sebuah tempat belanja besar berwarna cokelat yang tampaknya tidak punya jendela. Pusat perbelanjaan ini terletak tidak jauh dari pantai, menghadap jejeran hotel dan apartemen raksasa. Namun, jalan kaki sedikit ke belakang Mahkota Parade, membawa kami ke bagian tua kota Melaka yang langsung membuat siapa pun jatuh hati.
Kami juga lewat dekat Menara Taming Sari, menara tinggi dengan bagian cincin yang bisa berputar sambil naik-turun sehingga kita bisa melihat berkeliling kota Melaka dari ketinggian. Bila Anda tidak mengidap vertigo atau mudah mabuk, menara ini boleh dicoba. Di kejauhan juga terlihat karusel raksasa, Eyes on Malaysia, yang juga cocok sekali untuk yang tidak takut ketinggian.
Bangunan-bangunan tua kota Melaka terkenal karena warnanya yang merah gelap—konon dulu dicat seperti itu karena banyak pemakan sirih yang gemar meludah dan mengotori dinding. Warna khas itu dipertahankan, meski tentu sudah tidak banyak orang yang main ludah sembarangan. Bangunan-bangunan merah itu dibangun mengelilingi kaki bukit St Paul, tempat Gereja St Paul bercokol di puncaknya. Bila kesehatan Anda cukup prima, silakan mencoba memanjat bukit itu untuk melihat-lihat gereja itu beserta reruntuhan gereja lama.
Sementara, bangunan-bangunan di kaki bukit telah disulap menjadi macam-macam ‘muzium’ alias museum, mulai dari Museum Kecantikan, Museum Islam, Museum UMNO, sampai Stadthuys (Museum Sejarah & Etnografi) serta Christ Church. Christ Church Melaka masih difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan misa. Anda boleh memasukinya untuk melihat-lihat ataupun duduk sejenak menikmati keteduhan bagian dalam gereja, namun tidak boleh memotret. Di depan Christ Church, ada jejeran kios suvenir dan Victoria Fountain. Bila meneruskan perjalanan ke arah utara, Anda akan menyusuri jalanan yang diapit pertokoan antik yang juga berwarna merah, dengan batas daerah historis berupa Gereja St Francis Xavier (seorang penyebar agama Katolik terkemuka, yang juga mengabdi di kawasan Nusantara).
Nah, bila menyeberang jalan dari Christ Church, ada tiruan kincir angin mini (sebagai penanda warisan Belanda di Melaka), kincir air raksasa dari kayu, reruntuhan benteng, dan sejumlah museum lagi, termasuk Museum Maritim I yang berbentuk kapal antik.
Setelah puas melihat-lihat sisi jalan di seberang Christ Church, sekali lagi kami menyeberang, kali ini melintasi jembatan Tan Kim Seng, menyeberangi sungai yang bisa juga Anda susuri dengan kapal pariwisata. Di seberang sungai inilah terletak jalan terkenal yang menjadi urat nadi perekonomian wisata Melaka, Jonker Street (alias Jalan Hang Jebat). Jalan ini juga termasuk kawasan warisan budaya dunia yang diakui dan dilindungi oleh UNESCO. Jalannya tidak lebar, namun diapit oleh jejeran berbagai toko, restoran, hotel, kuburan, dan kuil tua yang terdokumentasi dengan baik. Tidak perlu khawatir mengenai oleh-oleh, karena ada berbagai barang dan jajanan yang dijajakan, menggoda para turis yang melihat-lihat. Toko San Shu Gong misalnya, selain menjual makanan jadi, juga menjual oleh-oleh seperti racikan kopi putih instan, gula tumbuk, dan fruit dumpling.
Di ujung jalan Jonker yang berpotongan dengan jalan Kubu, ada dua hotel bersejarah, Jonker Boutique Hotel dan Tang House. Bila anggaran berlebih, Anda bisa coba menginap di kedua tempat itu. Bila tidak, jangan khawatir, karena ada banyak hotel dan penginapan dari berbagai kelas di kota tua Melaka dan sekitarnya. Bahkan ada yang menyewakan rumah dengan 4 kamar tidur dan 4 kamar mandi, siapa tahu Anda datang berombongan.
Bila agak lelah dengan Jonker Street yang ramai, cobalah masuki jalan-jalan lain yang bersebelahan. Meski juga dijejeri bangunan-bangunan bersejarah, jalan-jalan itu tidak serusuh Jonker Street. Jalan Tokong dan Tukang Emas misalnya, yang lebih sepi dan justru jadi lebih nyaman untuk pelancong yang ingin menikmati pemandangan sekeliling dengan santai. Salah satu tempat menarik adalah Masjid Keling, dengan menaranya yang khas. Bagian dalamnya pun sejuk sekali, sangat menenangkan di tengah hari Melaka yang terik menyengat.
Ada pula kuil Hindu Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi, kelenteng Cheng Hoon Teng, dan Kampung Ketek. Entah bagaimana cara membaca nama kampung tersebut, dan apakah artinya memang ketek yang ada di bawah bahu, yang jelas pelancong Indonesia pasti tertawa melihatnya.
Kalau soal makanan, Melaka menawarkan hidangan dengan berbagai cita rasa, dari yang berbasis Asia, Eropa, sampai peranakan. Salah satu yang saya cicipi adalah kue-kue yang dijual kedai Tart & Tart Bakery yang terletak di Lorong Hang Jebat, di sebelah Museum Budaya Cheng Ho. Kedai tersebut menjual berbagai jenis portuguese egg dan cheese tart. Rasanya berupa-rupa, dari portuguese egg tart klasik, hingga campuran yang terkadang membuat bertanya-tanya, seperti peppermint cheese, blueberry cheese, mocha cheese, dan durian cheese. Baba Kopitiam yang terletak di dekat jembatan juga boleh menjadi tempat perhentian yang menawarkan makanan berat dan ringan serta minuman dingin yang menyegarkan dengan pemandangan langsung ke arah Stadthuys dan reruntuhan Benteng Middelsburg (plus, toiletnya bersih, namun hanya untuk pengunjung saja!).
Sehari saja rasanya tak cukup menjelajahi seluruh seluk-beluk Melaka. Bila ingin menginap, selain beberapa pilihan yang saya sebutkan di atas, ada juga lho program bermalam di museum. Siapa tahu Anda berminat berkenalan tidak hanya dengan penghuni Melaka yang aktif di kala siang, melainkan juga yang berkeliaran kala malam, hehehe…
Kalau Anda ingin berkeliling Melaka tapi tidak kuat berjalan kaki, boleh mencoba naik becak khas Melaka. Becak-becak Melaka tidak hanya dihiasi ramai sekali, melainkan juga berlomba-lomba memamerkan kehebatan speaker dengan memutar musik keras-keras. Musik yang diputar mulai dari musik India, Melayu, sampai… Project Pop dan Wali!
Posted by Tante Guru






























































































Komentar pelompat