Kamakura April 2014

This post is about Japan

Sebelumnya, saya pernah menulis tentang Kamakura, setelah saya berkunjung untuk pertama kalinya ke kota tersebut bersama sejumlah teman pada tahun 2011. Pada musim semi tahun ini, saya kembali mendatangi kota tersebut, lagi-lagi bersama teman-teman. Kali ini kami sempat merasakan bermain-main di pantai Yuigahama, termasuk menulis-nulis dengan norak di pasir. Sayang hujan musim semi membuat kami tidak bisa berlama-lama menikmati pantai. Kami pun menghabiskan sore di dalam sebuah kafe bergaya Hawaii yang terletak dekat sekali dengan stasiun Hase, menyeruput kopi yang nikmat.

Berikut ini adalah sejumlah foto yang saya ambil di bulan April 2014, ketika sisa-sisa sakura yang mekar masih bergantung di pepohonan.

kamakura2014-01

kamakura2014-02

Doa ratusan – mungkin ribuan – orang tergantung di luar Tsurugaoka Hachimangu-jinja.

kamakura2014-03

kamakura2014-04

kamakura2014-05

kamakura2014-06

kamakura2014-07

kamakura2014-08

Kelopak sakura yang telah gugur menutupi sebagian permukaan air kolam.

kamakura2014-09

Ini bukan trotoar, melainkan jalur khusus bagi pejalan kaki yang membelah jalan bagi kendaraan bermotor.

kamakura2014-10

kamakura2014-11

Toko-toko kecil yang cantik dan memikat berjejer di tepi jalan-jalan mungil Kamakura.

Nikko, Juni 2014

This post is about Japan

Wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jepang dan hanya bisa mengunjungi Tokyo, biasanya lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kota. Betul, Tokyo memang punya banyak tempat menarik, tapi sebenarnya banyak lho tempat wisata yang terjangkau dalam half-day atau one-day trip dari Tokyo. Misalnya, saya sebelumnya pernah bahas Enoshima, Kawaguchiko, atau bahkan Ome. Saya sendiri sangat menyarankan untuk bertandang ke tempat-tempat ini, karena kalau bagi saya pribadi, ‘Jepang’ belum benar-benar terasa bila kita hanya berputar-putar di dalam Tokyo. Nah, sekarang saya akan bahas satu lagi tempat semacam itu: Nikko.

nikko-17

Untuk menuju Nikko, ada dua jalur kereta yang bisa Anda gunakan, yaitu kereta milik JR dan Tobu. Masing-masing perusahaan itu punya stasiun sendiri di Nikko (yang dimiliki Tobu dikenal sebagai Tobu-Nikko), sementara yang milik JR dikenal sebagai JR Nikko atau Nikko saja. Kedua stasiun itu terletak nyaris bersebelahan, jadi tidak begitu masalah sih mana yang Anda pilih. Tergantung hitung-hitungan biaya (mungkin Anda membawa JR Pass?) dan kemudahan bolak-balik ke tempat menginap saja. Sewaktu berangkat, saya mencoba naik kereta JR sampai Utsunomiya, lalu disambung dengan Nikko Line.

Stasiun JR Nikko

Stasiun JR Nikko

Ada yang menjuluki Nikko sebagai ‘kulkas’-nya Tokyo. Soalnya konon meskipun Tokyo sedang panas-panasnya, Nikko biasanya lebih sejuk, sehingga banyak orang Tokyo yang melarikan diri sebentar ke Tokyo untuk mencari angin. Tapi sewaktu saya berkunjung ke Nikko bulan Juni 2014, tetap saja panasnya luar biasa, meski hawanya sih memang lebih segar dan bersih daripada Tokyo.

nikko-02

Namun sebenarnya memang walaupun baru tiba di Nikko, mata ini langsung sejuk melihat pemandangan sekitar. Pegunungan terlihat begitu dekat, dan yang jelas, kota ini jauh lebih bersih daripada Tokyo! Iya, meskipun kala pertama datang Tokyo terlihat bersih dan rapi, lama-kelamaan terasa kotor dibandingkan kota-kota lain di Jepang.

Dan ya, langit Nikko terlihat biru sekali hari itu. Nyaris tanpa awan.

nikko-03

Dari stasiun, meski diterpa sinar matahari yang luar biasa terik, saya berjalan kaki menuju Toshogu, yang mungkin merupakan tempat tujuan utama para wisatawan yang mendatangi Nikko. Toshogu sebenarnya adalah sebutan untuk kuil Shinto mana pun yang dibangun untuk menghormati shogun Tokugawa Ieyasu. Di Ueno, Tokyo juga ada Toshogu, namun Toshogu di Nikko inilah yang paling terkenal.

nikko-05

Belum sampai Toshogu, perut saya sudah protes minta diisi. Saya pun melipir dulu, masuk ke salah satu restoran yang terletak tidak jauh dari Toshogu. Saya sih asal pilih saja, yang penting restorannya menyediakan paket hidangan yuba, alias kulit tahu. Dahulu, Nikko merupakan pusat pengajaran agama Buddha, dan banyak biksu yang berdiam di kota tersebut. Tidak heran banyak hidangan khas kota tersebut yang aman bagi vegetarian, dan juga bagi Muslim. Andalannya ya si yuba itu. Harga satu paket hidangan dengan bermacam-macam hasil olahan kulit tahu paling tidak 1000 yen.

Beginilah penampakan paket hidangan yuba yang disediakan oleh restoran yang saya masuki:

nikko-06

Seperti banyak paket hidangan khas Jepang lainnya, semua lauk dan sayur disediakan sejumput-sejumput saja. Rasanya memang jadi agak campur-aduk, dan ada beberapa hidangan yang rasanya tidak terduga untuk lidah Asia Tenggara saya. Sampai terpikir, “Ini buah? Dimakan bareng nasi? Kok rasanya begini ya dimakan juga?” Tapi seru lah untuk petualangan kuliner!

(Kalau lidah Anda tidak cocok dengan makanan Jepang, terdapat beberapa restoran bercitarasa internasional di Nikko, terutama di sekitar stasiun. Misalnya, yang sempat saya perhatikan, adalah restoran India dan restoran hidangan Eropa.)

Kelar makan, saya meneruskan perjalanan. Mata langsung terpikat oleh jembatan yang bernama Shinkyou, yang membentang di atas sungai yang seolah memisahkan kota Nikko tempat kebanyakan penduduk bermukim dengan kompleks kuil Toshogu. Jembatan ini tampak cantik, merah mencolok dengan latar belakang pepohonan hijau dan sungai biru-kehijauan yang bergejolak di bawahnya. Tapi saya hanya memandangnya dari kejauhan, dari atas jembatan baru yang juga bisa dilewati kendaraan bermotor. Soalnya, kalau mau berjalan di atas Shinkyou, harus beli tiket dulu, dan harganya lumayan… 350 yen. Ya, hanya untuk satu jembatan itu saja.

nikko-08

nikko-07

Saya menyeberangi jalan, menapaki tangga menuju kompleks Toshogu. Air jernih mengalir bergemericik di parit-parit yang terkadang tersembunyi.

nikko-09

nikko-10

Di kompleks Toshogu inilah terdapat mausoleum Tokugawa Ieyasu. Fotonya tidak saya tampilkan di sini, sih, tapi untuk menuju makamnya, kita harus mendaki tangga batu yang lumayan curam. Hari itu juga banyak sekali yang hendak menengok makam sang shogun, sehingga saya harus bersabar dengan kecepatan mendaki tangga yang tersendat-sendat.

nikko-11

Di dalam kompleks ini juga terdapat pagoda lima tingkat dengan warna mencolok, selain sejumlah bangunan menarik lainnya.

nikko-12

Barangkali, inilah patung yang paling terkenal di Nikko: patung tiga monyet yang berpesan hear no evil, speak no evil, see no evil. Beberapa kali saya pernah ditanya, “Sudah pernah ke Nikko? Lihat tiga monyet itu dong?” Jadi sepertinya karena betul-tidaknya kita pernah ke Nikko diukur dari sudah melihat ketiga monyet ini atau tidak, jangan sampai kelewatan melihat mereka. Mereka nangkring di sebelah atas istal kuda suci yang dipelihara oleh pihak Toshogu.

nikko-13

nikko-14

Patung nemuri neko alias kucing tidur ini juga terkenal, tapi letaknya agak lebih tersembunyi daripada ketiga monyet. Hayo coba, dicari. Kalau ketemu, cerita-cerita yah ke saya.

nikko-15

Satu hal lain yang juga sangat Nikko banggakan adalah air mereka, yang bisa diminum langsung tanpa perlu dijerang dulu. Di beberapa sudut kota, tersedia pipa-pipa seperti ini yang mencurahkan air yang boleh langsung diciduk atau ditampung dengan gayung untuk diminum. Mau mengisi botol minuman juga boleh. Dan memang sangat mengejutkan, di hari yang sepanas itu, ternyata air yang mengalir dari pipa-pipa tersebut masih sangat dingin!

Pipa air di foto di bawah ini terletak di kantor informasi pariwisata Nikko, di tepi jalan yang mengarah ke Toshogu.

nikko-16

Saya sempat mampir minum kopi sebentar di salah satu kedai yang dijaga oleh seorang perempuan separo baya. Ketika saya memesan salah satu varian minuman dan bertanya bisakah kopi yang dihidangkan itu diberi es, beliau menjelaskan bahwa varian yang itu paling bagus diminum panas-panas, hot, jadi dia tidak menyediakan versi ice. Beliau sangat mengutamakan rasa. Berbeda yah dari kedai kopi franchise yang selalu menyediakan versi panas dan dingin dari minuman mereka demi memenuhi selera tamu. Karena berminat, meskipun sebenarnya saya mengidamkan minuman dingin, tetap saya pesan kopi panas buatan beliau itu.

Dan manisnya, sewaktu saya beranjak pergi, beliau memberikan saya kenang-kenangan: bangau-bangau kecil dari kertas yang beliau lipat sendiri, beserta beberapa lembar kertas origami cantik khas Jepang.

nikko-18

Saya kembali berjalan kaki ke arah kedua stasiun kereta. Karena masih ada waktu sebelum hari gelap (waktu itu musim panas, sehingga Matahari tidak cepat turun), saya berjalan-jalan sebentar di sekeliling stasiun. Perhatian saya tertarik oleh satu jajanan yang ditawarkan beberapa toko di seberang stasiun Tobu-Nikko. Es krim, tapi bukan sembarang es krim… es krim yuba! Yuba juga dibuat menjadi es krim? Wah, ini sih harus dicicip. Saya pikir rasanya bakalan tidak karuan, ternyata enak kok! Dan yang jelas, dingin… terasa segar sekali di kerongkongan.

eskrim yuba

Waktunya kembali ke Tokyo. Saya memasuki stasiun Tobu-Nikko dan menuju ke peron. Wah, bagus nih keretanya, pikir saya, melihat rangkaian kereta dengan kursi berdua-dua dan dengan jendela besar-besar, pas untuk melihat pemandangan. Saya pun duduk di salah satu kursi, mengagumi peluit burung-burungan yang saya beli dari seorang kakek yang mangkal berjualan di Toshogu. Saya juga sempat mengobrol dengan sang kakek yang sangat ramah, dan bisa dalam sekali tebak mengetahui asal negara saya. Beliau juga bisa berbahasa Indonesia sedikit.

Ketika kereta sudah berjalan cukup jauh, lho, tiba-tiba muncul kondektur yang menanyakan tiket. Saya menunjukkan kartu transportasi saya ke kondektur. Bukan, katanya, tiket.

Tiket apa Pak? Saya bingung. Oalaaah, ternyata kereta ini khusus, yang butuh tiket khusus juga yang seharusnya dibeli terpisah. Ups, malunya. Saya main masuk dan duduk saja. Untunglah, di Jepang, kalau ada kesalahan begini, kita bisa membeli tiketnya langsung dari kondektur.

nikko-19

Untuk pertama kalinya setiap habis berjalan-jalan ke luar Tokyo, saya merasa benar-benar ingin cepat-cepat tiba di Tokyo. Bukan apa-apa… penyejuk udara kereta itu entah rusak, atau memang kalah menghadapi hawa di luar, atau memang buat orang Jepang suhu seperti itu normal-normal saja. Panassss luar biasa! Musim panas Jepang memang membuat orang Asia Tenggara sekalipun bertekuk lutut!

Enoshima (2) Mei 2014

This post is about Japan

Saya lanjutkan yah ceritanya mengenai Enoshima…

Dengan tiket terusan, saya pun memasuki Samuel Cocking Garden, peninggalan seorang Irlandia bernama Samuel Cocking yang datang ke Jepang di abad ke-19. Ia menikahi seorang perempuan Jepang dan berbisnis di negara tersebut sampai akhirnya ia bisa membeli tanah di Enoshima, di mana ia lantas mendirikan vila dan membangun taman yang indah. Kini, yang tersisa dari rumah kacanya (yang hancur dihajar gempa besar tahun 1923) adalah pondasinya, seperti yang terlihat di foto bawah ini.

enoshima-16

Banyak sekali tanaman dan bebungaan indah yang menyemarakkan mata di dalam taman yang sebenarnya tidak terlalu besar ini. Kita juga bisa mengedarkan pandangan ke arah laut, sambil mencoba merayu kucing-kucing yang berkeliaran di taman tersebut. Kalau Anda memang doyan menggoda kucing, bolehlah Anda jajal kemampuan Anda di sini. Soalnya, beberapa kucing, meskipun sangat akrab dengan para pengurus taman, ogah diajak main oleh tamu!

enoshima-18

Di dalam taman juga terdapat beberapa bangunan, termasuk gazebo ini, yang gaya bangunannya sepertinya menunjukkan banyak pengaruh Cina. Di langit-langitnya, terlihat juga motif naga, hewan suci bagi pulau ini.

enoshima-25

Ada tempat berbelanja suvenir dan bersantap di dalam taman. Yang saya pilih adalah cafe du Gabo yang terletak di dasar menara Sea Candle. Sebenarnya awalnya saya mengincar LONCAFE yang memiliki teras yang menghadap ke laut, sayangnya saat itu sedang penuh.

Kopi dan wafel cafe du Gabo lumayan juga untuk menyegarkan perut dan mata, apalagi saat itu saya sudah agak lelah berjalan-jalan. Di kafe ini ada foto-foto para kucing yang merupakan pengunjung (atau malah penghuni?) tetap taman, beserta nama-nama mereka. Saya jadi tahu bahwa nama kucing gendut yang sempat menolak pendekatan saya berkali-kali di dekat gerbang taman ternyata bernama Tanuki. Bayangkan dong, sudah mendekati kucing dengan bermanis-manis, eh kucingnya malah menggeram dan melengos. Mau marah juga tidak bisa, karena tetap saja kucing ngambek itu terlihat lucu!

enoshima-21

Nah, inilah yang namanya Sea Candle. Kalau kita pegang tiket terusan, tinggal kita tunjukkan saja tiketnya ke penjaga, dan kita pun akan dipersilakan masuk ke lift yang akan membawa kita ke dek pengamatan di atas. Kalau tidak punya tiket terusan, kita harus membayar 500 yen (sudah termasuk biaya masuk taman sebesar 200 yen).

enoshima-19

Inilah pemandangan yang terlihat dari salah satu sisi dek pengamatan Sea Candle! Terlihatlah prefektur Kanagawa, dan jembatan yang menghubungkan Enoshima dengan daratan utama pulau Honshu. Kontras sekali ya, gedung-gedung di sebelah sana dengan pepohonan yang masih rapat menghijau di Enoshima.

enoshima-20

Di dek pengamatan juga ada penjual suvenir khas Enoshima yang lucu-lucu. Anda juga bisa meminta nama Anda, beserta nama pasangan mungkin, ditorehkan di beberapa jenis suvenir yang tersedia.

enoshima-22

Saya sih menyarankan mengunjungi Samuel Cocking Garden pada sekitar waktu Matahari akan terbenam. Mengapa? Karena kita bisa mengamati proses sang surya memasuki peraduannya, baik dari dek pengamatan di sebelah atas Sea Candle maupun dari dek pengamatan di sebelah bawah. Sewaktu saya ada di sana, sedang banyak awan di langit dan kabut yang menutupi daratan utama, sehingga bentuk Matahari tidak tampak terlalu jelas. Tapi hasilnya adalah pemandangan yang terasa misterius!

enoshima-24

Saat hari mulai gelap, lampu-lampu penghias Sea Candle juga akan dinyalakan, sehingga menjadi atraksi tersendiri. Samuel Cocking Garden buka sampai jam delapan malam, jadi ada cukup waktu untuk mengagumi lampu-lampu tersebut. Tapi Sea Candle bisa dilihat juga dari berbagai sudut pulau, sehingga bila Anda merasa sudah cukup menikmati Samuel Cocking Garden, Anda pun bisa melangkahkan kaki menuju bagian-bagian lain Enoshima yang belum sempat Anda kunjungi.

enoshima-23

Hanya saja, toko-toko dan restoran-restoran di Enoshima (dan di Jepang pada umumnya) tutup cukup awal. Senja itu, orang-orang yang berpapasan dengan saya di jalan-jalan kecil Enoshima kebanyakan merupakan turis yang masih berkeliaran, berusaha menikmati sisa hari yang sudah temaram.

Dan oya, kalau belum saya sebut, di Enoshima ada banyak sekali kucing, rata-rata gendut (atau mungkin saya membandingkan mereka dengan standar kucing kampung Indonesia). Sebagian di antaranya ramah sekali dan bersedia kita elus-elus, tidak seperti si Tanuki di Samuel Cocking Garden.

enoshima-27

Saya mencoba ke balik pulau, hanya untuk mendapati bahwa Gua-gua Iwaya sudah tutup hari itu. Ya iyalah… sudah senja juga. Ditemani sisa-sisa sinar matahari di langit, saya melihat-lihat sekeliling saja, menikmati pemandangan dan bunyi debur ombak yang dahsyat, menengok beberapa kolam batu, dan mengamati beberapa orang pemancing yang masih dengan setia mencoba peruntungan.

enoshima-29Sayangnya penerangan jalan rupanya sengaja dibiarkan jadi hal langka di Enoshima. Beberapa titik pariwisata juga dibiarkan saja tanpa lampu. Saya pun urung mengunjungi bel cinta Enoshima, begitu melihat yang menanti di depan saya adalah jalan setapak yang gelap-gulita. Emmm, makasih, lain kali saja deh, yah siapa tahu kali berikutnya kembali ke sini ada gandengannya untuk membunyikan bel cinta itu.

enoshima-28

Selesai sudah petualangan setengah hari saya di Enoshima. Saya berjalan kaki kembali ke daratan utama, menuju stasiun Katase-Enoshima untuk menumpangi kereta Odakyu pulang ke Tokyo. Rasa lelahnya benar-benar terbayarkan oleh pengalaman yang sedemikian kaya yang saya peroleh dari pulau yang sedemikian kecil!

Enoshima (1) Mei 2014

This post is about Japan

Sebetulnya, setelah bertandang ke Kawaguchiko di bulan Desember dan sebelum mendatangi Enoshima, saya sempat mengunjungi sejumlah tempat lain di Jepang. Tapi mereka saya lompati dulu, deh. Rasanya saya lebih ingin membahas Enoshima terlebih dahulu.

Enoshima adalah nama sebuah pulau di lepas pantai prefektur Kanagawa. Selain Kamakura, Enoshima merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi dalam day trip dari Tokyo. Dan meskipun pulau ini kecil saja, jangan dianggap enteng, karena banyak sekali daya tarik yang disimpannya, baik yang bersifat budaya ataupun alami. Setengah hari saja tidak cukup untuk menjelajahi semua hal yang ditawarkan pulau ini. Hal ini saya buktikan sendiri, kok… Sampai sekarang saya masih ingin balik lagi ke Enoshima, karena masih ada beberapa sudutnya yang terpaksa saya lewatkan akibat terbatasnya waktu saya di sana hari itu.

Enoshima, dilihat dari jembatan penghubung dengan daratan utama.

Enoshima, dilihat dari jembatan penghubung dengan daratan utama.

Ada beberapa pilihan rute kereta untuk menuju Enoshima.

1.) Menggunakan kereta-kereta JR (milik pemerintah), yaitu Shonan-Shinjuku Line dari Shinjuku, atau Tokaido Line dari stasiun utama Tokyo, sampai ke Ofuna. Dari Ofuna, berpindahlah ke Shonan Monorail – Anda harus beli tiket lagi, tidak bisa menggunakan kartu transportasi.  Turunlah di stasiun Shonan-Enoshima.

2.) Atau, kalau Anda hendak menggabungkan kunjungan ke Enoshima dengan ke Kamakura dalam satu hari (banyak wisatawan yang melakukan ini), dari Kamakura tumpangilah kereta klasik Enoden sampai ke stasiun Enoshima.

3.) Perusahaan kereta api swasta, Odakyu, juga menyediakan layanan kereta langsung menuju Enoshima (tepatnya, berujung di stasiun Katase-Enoshima). Keretanya bisa yang biasa, ataupun Romance Car yang lebih mahal namun lebih nyaman dan gaya. Pilihan lainnya adalah berganti kereta ke jalur Enoden di Fujisawa.

Tampak depan Stasiun Katase-Enoshima.

Tampak depan Stasiun Katase-Enoshima.

Saya mengambil pilihan pertama, karena sedikit norak ingin merasakan naik kereta gantung. Sebelumnya sudah pernah sih, antara lain di Tama, tapi saya ingin mencoba yang ini juga. Apalagi sebelumnya saya pernah mencoba naik Enoden, sewaktu berkunjung ke Kamakura. (Nantinya, saya pulang dengan menumpangi kereta Odakyu.)

Meskipun Enoshima merupakan sebuah pulau (kelihatan dari namanya – shima berarti pulau, jadi sebenarnya redundan bila menyebutnya ‘Pulau Enoshima’), kita bisa berjalan kaki atau naik kendaraan (mobil, sepeda sewaan) ke pulau tersebut, melewati jembatan. Berjalan kaki bukan masalah karena jalur pedestrian dan jalanan umum yang nyaman. Bila butuh peta gratis atau info, singgahilah kantor informasi pariwisata yang terletak tidak jauh dari jembatan menuju Enoshima. Di sepanjang jalan dari stasiun kereta api ke jembatan penghubung pun ada sejumlah toko dan tempat makan yang seolah melambai-lambai mengajak masuk. Banyak di antaranya yang menawarkan hidangan berbasis shirasu, ikan kecil-kecil yang merupakan makanan khas Enoshima. Tapi…. nanti dulu ah! Sampai ke Enoshima saja belum, masa kantong jebol duluan, sih!

enoshima-04

Menara yang tampak mencuat di tengah pulau itu adalah Sea Candle.

Di kanan-kiri jembatan penghubung daratan dengan Enoshima, juga ada sejumlah pantai berpasir yang boleh juga disinggahi buat main-main sebentar kalau ada waktu. Akan tetapi… tujuan utama! Tujuan utama! Enoshima!

Ah, ya, sebagai catatan, pastikan Anda mengunjungi Enoshima dalam kondisi tubuh yang bugar dan juga mengenakan pakaian serta sepatu yang enak untuk berjalan jauh dan… mendaki. Lho, mendaki? Kita ke gunung apa ke pulau, sih? Ya, ke pulau, namun Enoshima adalah pulau kecil yang menjulang ke atas. Tidak begitu kelihatan di foto di atas, ya? Tapi percayalah. Untuk menjelajahi pulau tersebut, kita harus naik-turun tangga, yang kerap kali curam sekali. Ada beberapa kabar baik, sih.

Satu. Bila tujuan utama Anda adalah Gua-gua Iwaya yang terletak di sisi sebalik pulau dari sisi yang tampak di foto atas, ada layanan perahu langsung dari jembatan. Biayanya sekitar 400 yen sekali jalan. Gua-gua tersebut ditutup biasanya sebelum senja, jadi mungkin ada bagusnya mengunjungi Iwaya terlebih dahulu, lalu setelahnya menelusuri jalanan kembali ke sisi pulau yang menghadap daratan utama. Kabar kurang bagusnya: itu berarti, dari sisi pulau tersebut, Anda harus mendaki sejumlah tangga yang cukup curam. Pilihan lainnya: menumpang lagi perahu ke sisi ‘depan’ pulau.

Jalanan di Enoshima kecil-kecil, tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, diapit rumah, restoran, toko. Sangat nyaman untuk berjalan-jalan!

Jalanan di Enoshima kecil-kecil, tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, diapit rumah, restoran, toko. Sangat nyaman untuk berjalan-jalan!

Dua. Kalau Anda memutuskan untuk memulai penjelajahan dari sisi ‘depan’ ke ‘sisi belakang’ pulau, ada layanan eskalator (‘Enoshima Escar‘), tapi hanya ke atas. Baliknya ya harus menuruni tangga. Eskalator terputus-putus menjadi beberapa bagian, mengikuti kontur pulau. Anda bisa naik satu eskalator saja dan membayar hanya untuk eskalator itu, tapi ya lebih murah dan praktis membeli tiket terusan seharga 1000 yen, yang tidak saja memungkinkan Anda menaiki semua eskalator, melainkan juga memasuki Samuel Cocking Garden dan Sea Candle. Sebenarnya ada juga paket gabungan dengan tiket masuk ke Enoshima Aquarium, tapi saya merasa hari itu saya tidak akan punya cukup waktu untuk mengunjungi akuarium tersebut.

Salah satu eskalator bagian dari rangkaian Enoshima Escar.

Salah satu eskalator bagian dari rangkaian Enoshima Escar.

Sejak lama Enoshima menjadi tempat persinggahan spiritual. Tidak heran, di pulau yang tidak seberapa besar itu, terdapat banyak kuil, altar, dan tempat berdoa (termasuk tempat menggantungkan gembok cinta dan membunyikan bel doa demi kelanggengan cinta). Dengan menumpangi eskalator, kita bisa dengan mudah mengunjungi tiga kuil di antaranya, yang terletak pada ketinggian berbeda-beda di Enoshima: Hetsunomiya JinjaNakatsunomiya Jinja, dan Okutsunomiya Jinja. Kata jinja menandakan bahwa kuil-kuil ini adalah milik penganut Shinto. Di kuil yang pertama (Hetsunomiya) ada patung yang cukup langka, yang menampilkan dewi Benzaiten dalam kondisi tidak berbusana, sedang memainkan alat musik biwa. Sayangnya saya tidak sempat menengok patung tersebut hari itu; saya terlalu terfokus untuk mendatangi Samuel Cocking Garden.

enoshima-07

Di samping toori (gerbang), terdapat model biwa dari papan.

enoshima-09

enoshima-12

Naga adalah hewan pelindung pulau ini. Tidak heran, patung ataupun motif naga bisa dijumpai di sana-sini.

enoshima-13

enoshima-15

Orang-orang berjalan melewati chinowa ini untuk melenyapkan hal-hal buruk dalam hidup mereka.

Orang-orang berjalan melewati chinowa ini untuk melenyapkan hal-hal buruk dalam hidup mereka.

enoshima-26

Yang ini adalah Enoshima-Dashi atau Saifuku-ji, kuil milik sekte Buddha Sengon. Sosok merah itu adalah Fudou Myou-ou, dikenal dalam bahasa Sansekerta sebagai Acala.

Oke… sekian dulu ya cerita tentang Enoshima. Lain waktu, saya akan beberkan lebih banyak mengenai Samuel Cocking Garden dan Sea Candle yang menawan.

Kawaguchiko (2) – Desember 2013/Maret 2014 – Music Forest

This post is about Japan

Akhirnya saya tergugah untuk menulis lagi di blog ini, menyambung cerita yang sudah lama ditinggalkan tanpa berkelanjutan.

Saya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda ketika dulu  saya mendatangi Jepang sebagai wisatawan dan sekarang setelah saya berdiam di sini. Dulu, rasanya segala sesuatu serba baru, serba menarik. Sewaktu pulang ke tanah air, ada perasaan menggebu-gebu untuk menceritakan berbagai hal yang saya alami itu. Namun, sebagai orang yang kini tinggal di Jepang, hal-hal yang tadinya terasa baru dan sangat menarik itu menjadi keseharian, sehingga dorongan bercerita tidak sekuat dulu. Tetapi saya telah dapati bahwa menuangkan kenangan dalam bentuk tertulis kerap kali menyelamatkan detail-detail dari keterlupaan. Kadang-kadang saya membaca tulisan-tulisan lama saya dan berpikir, “Wah, saya tidak ingat lagi soal ini. Untung dulu ditulis!”

music-forest01

Jadi sekarang saya  coba untuk kembali menulis.

Saya akan sambung cerita saya mengenai Kawaguchiko, kota di kaki Gunung Fuji yang sebelumnya pernah saya ulas secara garis besar. Kali ini saya ingin berfokus kepada salah satu tempat menarik yang saya kunjungi di kota tersebut: museum Music Forest. Namun sebenarnya dalam bahasa Jepang namanya adalah オルゴールの森, Orugooru no mori, alias Hutan Orgel. Julukan lainnya: Chiisana Yooroppa, Little Europe, karena bangunan-bangunan dan bentang alamnya yang dibuat menyerupai Eropa.

Saya dua kali ke museum ini, sekali pada Desember 2013, lalu pada Maret 2014. Bila pada Desember 2013 saya pergi ke Kawaguchiko menggunakan bis, pada Maret 2014 saya memutuskan menggunakan kereta api. Memang memakan waktu agak lebih lama, namun lebih banyak pemandangan menarik yang bisa dilihat melalui jendela kereta api daripada jendela bis.

Di taman museum, terdapat instrumen-instrumen musik yang bebas kita coba-coba.

Di taman museum, terdapat instrumen-instrumen musik yang bebas kita coba-coba.

Rutenya adalah seperti ini:

1. Naiki kereta Chuo Line (bisa dari stasiun Tokyo atau Shinjuku, dua stasiun besar yang dilewati jalur ini) menuju Otsuki. Tidak semua kereta Chuo Line langsung menuju Otsuki, tapi tidak usah khawatir. Bila Anda diturunkan di stasiun terakhir sebelum Otsuki, misalnya Tachikawa atau Takao, cukup cek jadwal keberangkatan kereta dari stasiun itu dan berpindahlah ke kereta yang melanjutkan perjalanan sampai Otsuki.

Hati-hati, sebagian kereta yang melintasi rel Chuo Line sebenarnya adalah kereta Ome Line yang akan membawa Anda ke Ome, beda arah dari Otsuki. Bila Anda terlanjur menaiki kereta Ome Line, turunlah di Tachikawa, tempat kereta tersebut berganti rel, lalu bergantilah ke kereta yang menuju Takao/Otsuki.

2. Dari Otsuki, naiklah Fujikyu Railway menuju stasiun Kawaguchiko. Kalau Anda punya Kanto Area Pass, tidak perlu lagi membeli tiket. Namun kalau Anda hanya memegang Japan Rail Pass, JR East Pass, atau kartu-kartu transportasi semacam Pasmo, Suica, dan lain sebagainya, Anda harus membeli tiket terpisah untuk Fujikyu Railway. Dengan membayar 2.250 yen, Anda akan memperoleh tiket yang berlaku selama dua hari dan memungkinkan Anda bolak-balik turun-naik kereta Fujikyu.

Di museum ini, juga ada restoran dan kafe. Nikmat sekali duduk-duduk ditemani secangkir kopi hangat sambil menikmati pemandangan Music Forest dan sekitarnya.

Di museum ini, juga ada restoran dan kafe. Nikmat sekali duduk-duduk ditemani secangkir kopi hangat sambil menikmati pemandangan Music Forest dan sekitarnya.

Museum ini juga merupakan salah satu tempat terbaik untuk mengamati cantiknya Gunung Fuji.

Museum ini juga merupakan salah satu tempat terbaik untuk mengamati cantiknya Gunung Fuji.

Dari stasiun kereta api Kawaguchiko, Anda bisa menaiki retro bus dengan harga tiket sekali jalan 320 yen (kalau belum berubah) sampai ke dekat Music Forest. (Peta rutenya bisa dilihat di sini.) Perhatikan jadwal bis ini ya, karena rute tersebut tidak dioperasikan sampai malam. Kalau ketinggalan bis terakhir, bisa-bisa harus berjalan kaki sampai ke penginapan. ….sebenarnya, itulah yang pertama kali saya dan teman lakukan sewaktu berkunjung ke museum tersebut pada Desember tahun lalu! Kali kedua saya ke museum tersebut, kami menyewa sepeda dari guest house sehingga perjalanan pun menjadi lebih cepat dan tidak tergantung kepada jadwal bis. (Lagipula, parkir sepeda gratis!)

Meskipun nama resminya menyuratkan bahwa museum ini memajang orgel dan kotak musik, sebenarnya lebih tepat bila museum ini disebut juga sebagai museum otomaton. Museum ini menampung sejumlah otomaton – yang untuk mudahnya bisa kita sebut sebagai ‘robot’ zaman dahulu. Otomaton-otomaton itu dibuat menyerupai makhluk hidup – paling umum berbentuk manusia, meskipun juga ada monyet, burung, dan lain-lain – yang bisa melakukan sejumlah gerakan terprogram. Beberapa di antaranya sangat menyerupai manusia hidup, namun sangat jelas ketidak-hidupannya, membuat mereka justru terlihat agak menyeramkan.

Sebagian otomaton yang dipamerkan di Music Forest. Semuanya bisa bergerak dan mengeluarkan musik atau suara. Staf akan memutarkan otomaton-otomaton ini pada waktu-waktu tertentu.

Sebagian otomaton yang dipamerkan di Music Forest. Semuanya bisa bergerak dan mengeluarkan musik atau suara. Staf akan memutarkan otomaton-otomaton ini pada waktu-waktu tertentu.

Saya bahkan merasa agak janggal saat menatap salah seorang staf yang sangat ramah menjelaskan berbagai hal kepada kami. Entahlah. Ada sesuatu yang kaku pada senyumnya. Seolah-olah senyum itu terpatri di mukanya, bukan senyum sungguhan. Tidak terlihat kerut-kerut senyuman sejati di sekitar matanya. Jangan-jangan dia juga otomaton? Suasana museum yang terasa agak misterius membuat kita gampang memikirkan hal yang tidak-tidak.

music-forest11

Dalam kompleks museum, ada sejumlah bangunan. Ada yang menyimpan orgel raksasa yang sedianya dibawa oleh Titanic – namun rencana tersebut dibatalkan, dan orgel tersebut digantikan oleh live band yang lantas tenggelam bersama kapal naas tersebut, sambil tak putus memainkan musik untuk menenangkan penumpang yang ketakutan sampai detik-detik terakhir. Tidak heran, pernak-pernik Titanic pun menjadi bagian dari memorabilia yang dipamerkan di museum ini.

Istana ini juga berisikan otomaton, lho! Bila diputar, saat musik mengalun, boneka-boneka kecil yang merupakan para penghuni istana akan menari.

Istana ini juga terhitung otomaton, lho! Bila diputar, saat musik mengalun, boneka-boneka kecil yang merupakan para penghuni istana akan menari.

Di gedung lain, disimpanlah berbagai macam orgel, kotak musik, otomaton, dan Polyphon. Pada waktu-waktu tertentu, kita bisa mendengarkan instrumen-instrumen yang masih dalam kondisi bagus itu diputarkan. Ada juga pertunjukan di aula musik utama seperti yang ada di dalam foto di bawah ini. Salah seorang penonton mungkin diajak ke panggung, berperan sebagai ‘Rose’. Seorang pelukis berperan sebagai ‘Jack’ yang menggambar wajah ‘Rose’ sementara staf menjelaskan dan memainkan orgel-orgel yang dipajang di panggung. (Sssst, bahkan piano yang tampak di foto sebenarnya bisa memainkan musik sendiri, lho!)

music-forest13

Gedung lain lagi berfungsi sebagai toko oleh-oleh, mulai dari kotak musik kecil dengan lagu-lagu popular, kotak musik besar, sampai kue-kue dan cokelat. Di gedung ini juga diadakan aktivitas-aktivitas seperti membuat kotak musik sendiri.

music-forest14

music-forest04

music-forest05

Satu gedung lagi difungsikan sebagai restoran dan kafe. (Bila variasi makanan yang ditawarkan tidak menggugah selera, di sekitar museum terdapat sejumlah restoran dan toko penganan khas Kawaguchiko.) Gedung terakhir merupakan toko parfum dan pengharum ruangan. Bila sedang musim mawar, museum ini pun menjual berbagai pernak-pernik mawar, mulai dari minuman anggur bercita rasa mawar, parfum, pengharum ruangan, sampai kue-kue. Saat kita berjalan keluar meninggalkan museum, kita akan melewati satu toko lagi yang menjadi upaya terakhir museum menggoda Anda untuk membeli oleh-oleh.

music-forest12

Pokoknya, kalau ke Kawaguchiko, jangan lupa untuk singgah di museum ini. Bukan hanya kita bisa belajar sejarah, namun juga bisa menikmati pemandangan yang indah luar biasa. Dan karena kami berkunjung ke Music Forest untuk pertama kali di tengah suasana Natal, kami pun mendapatkan bonus iluminasi yang tampak begitu cantik di malam gelap yang cepat turun saat musim dingin. Tidak ada keluhan sesal terucap, meskipun kemudian kami harus berjalan kaki beberapa kilometer menyeberangi jembatan di atas danau di tengah terpaan angin dingin untuk kembali ke penginapan.

music-forest07

music-forest08

Kawaguchiko Music Forest

Tiket: Dewasa 1300 yen, mahasiswa/pelajar SMA 1100 yen, pelajar SMP/SD 800 yen

Jam buka jam 9 pagi sampai 5.30 sore. Terakhir menerima tamu pukul 5 sore.

 

Kawaguchiko: Desember 2013 (1)

 

 

This post is about Japan

Gunung Fuji! Gunung yang satu ini memang sudah menjadi salah satu ikon Jepang. Banyak yang bilang, kalau ke Jepang belum lihat Gunung Fuji, tak lengkap rasanya. Kenapa Gunung Fuji sedemikian penting bagi masyarakat Jepang, sampai sejak dahulu kala sering dijadikan objek karya seni? Demikian pertanyaan yang diajukan seorang teman kepada dosen saya. Kami tadinya mengharapkan jawaban yang mistis atau semacamnya. Namun jawaban dosen saya sederhana saja: “Di Jepang banyak gunung, tapi biasanya menempel membentuk pegunungan. Sementara Gunung Fuji berdiri sendirian, sehingga bentuknya terlihat bagus dan jelas. Lalu dari  cerita-cerita orang Edo (Tokyo jaman dulu), kecantikan Gunung Fuji menyebar ke seluruh Jepang, membuat orang-orang juga ingin melihat Gunung Fuji.”

kawaguchiko-winter2013-05

Jawaban yang masuk akal sekali, ya? Dan memang, Gunung Fuji yang tegak sendirian memperlihatkan bentuk piramidanya itu cantik! Dari mana kita bisa mengamati keindahan gunung ini (bila niat kita bukanlah mendakinya)? Banyak. Saya pernah bahas bahwa Gunung Fuji bisa terlihat dari Hakone. Kalau kita naik shinkansen dari arah Jepang Barat (Kyoto, Osaka) atau Nagoya menuju Tokyo, kita juga bisa melihat Gunung Fuji. Kali ini saya akan bahas Kawaguchiko, sebuah kota kecil dan damai yang terletak tidak jauh dari Gunung Fuji. Bukan hanya Gunung Fuji, Danau Kawaguchi – salah satu dari apa yang disebut Lima Danau Fuji – juga menjadi daya tarik Kawaguchiko. Kota ini bisa menjadi base juga bagi Anda yang berniat mendaki Gunung Fuji.

Saya sudah dua kali mengunjungi kota ini, sekali di awal musim dingin dan sekali di awal musim semi. Pertama-tama saya akan beberkan dulu soal kunjungan saya saat musim dingin tahun lalu. Kebetulan moda transportasi yang saya gunakan dalam setiap kunjungan saya itu berbeda, sehingga pengalaman yang diperoleh juga berbeda. Dengan bis, perjalanan ke Kawaguchiko hanya memakan waktu sekitar 2 jam, jadi ini juga kesempatan bagus untuk trip singkat keluar Tokyo.

kawaguchiko-winter2013-04

Saya dan seorang teman berangkat ke Kawaguchiko menggunakan bis dari Shinjuku. Bis itu bisa dilihat jadwalnya sekaligus direservasi di sini. Pesannya tidak pakai bayar dulu, kok. Bayarnya tunai di kantor sekaligus ruang tunggu perusahaan bis yang terletak di Shinjuku. Di kantor itu ada mesin juga untuk mempermudah pembayaran. Hari itu saya sempat deg-degan karena sempat tersesat saat mencari kantor bis tersebut sementara jadwal keberangkatan bis sudah dekat sekali. (Yang namanya Shinjuku West Exit itu benar-benar membingungkan!) Untungnya, dengan membayar di mesin saya tidak perlu mengantri. Tiket pun langsung dikeluarkan oleh mesin. Tinggal tunggu bis datang, naik, dan kalau lelah atau mengantuk tinggal tidur sampai Kawaguchiko. Pemandangan di luar juga begitu-begitu saja, karena bis lewat jalan tol terus-menerus.

kawaguchiko-winter2013-01

Bis ini sebenarnya juga bisa mengantar kita ke taman bermain terkenal FujiQ Highland ataupun ke Fuji 5th Station, bagi yang ingin mendaki ke Gunung Fuji. Namun kami turun di stasiun kereta api Kawaguchiko yang juga merangkap terminal bis antarkota. Dari situ, kami berjalan kaki ke guest house pilihan kami, K’s House Mt. Fuji. Tidak jauh kok dari stasiun, hanya saja kalau baru pertama ke Kawaguchiko, jalannya memang mungkin membingungkan.

kawaguchiko-winter2013-02

Mungkin karena tidak berada di tengah kota yang tanahnya mahal, secara mencengangkan guest house ini besar-besar ruangannya. Kamar jenis dorm untuk berempat saja luas sekali! Dan yang jelas, bersih (termasuk kamar mandinya) dan kasur serta selimutnya empuk dan hangat. Saya dan teman yang sudah beberapa bulan tidur di kamar asrama yang sempit di Tokyo jadi kegirangan dan norak karenanya. Dapur dan ruang makannya juga sangat menyenangkan dan homey. Pokoknya, kami betah, deh.

Guest house ini juga menyewakan sepeda per jam. Pilihan ini sangat praktis bagi kami karena selain cukup murah, kami juga pelesir dan mampir di mana pun kami mau, tidak seperti bis yang hanya memiliki rute tertentu dan tidak membolehkan naik dan turun di sembarang tempat. Catatan lain, meskipun ada bis pariwisata yang bisa mengantar Anda berkeliling Kawaguchiko dan sekitarnya, jam operasi bis ini terbatas. Waktu itu di atas pukul 5 sore bisnya sudah tidak ada. Kami sempat berjalan kaki jauh sekali untuk kembali ke guest house karena bis tersebut sudah tidak beroperasi hari itu.

kawaguchiko-winter2013-06

Jadi, di Kawaguchiko menikmati apa?

Berjalan-jalan mengelilingi danau. Menyaksikan keindahan alam dan terpesona melihat sedemikian banyaknya bebek dan burung-burung lainnya.

kawaguchiko-winter2013-03

Terutama bebek.

kawaguchiko-winter2013-28

Suasana yang tenang, yang tidak bisa diperoleh di Tokyo. Sungguh, ketika akhirnya kembali ke Tokyo, kami berdua rasanya sepet sekali melihat sedemikian banyak orang di Shinjuku!

kawaguchiko-winter2013-07

Untuk yang suka museum, di sekitar Kawaguchiko juga banyak museum. Sayang kami hanya sempat mengunjungi beberapa di antaranya. Salah satunya adalah MUSE MUSEUM, museum yang secara permanen menampilkan boneka-boneka buatan tangan Atae Yuki. Sayang di dalam museum ini tidak boleh memotret. Namun boneka-boneka itu benar-benar cantik, meski terkadang agak menakutkan saking miripnya dengan manusia betulan.

kawaguchiko-winter2013-31

Dari panggung kayu di dekat museum tersebut, kita juga dapat menyaksikan pemandangan dahsyat Gunung Fuji. Oya, saat kami datang, meskipun sudah terhitung musim dingin, suasananya memang masih lebih mirip musim gugur. (Saya suka sekali pada warna-warna musim gugur!) Namun di puncak Fuji sudah terlihat salju yang membuatnya semakin cantik. Kalau Anda datang di musim panas dan sedang tidak ada salju, Gunung Fuji akan terlihat berbeda. Beginilah yang kami lihat waktu itu:

kawaguchiko-winter2013-30

Kalau soal oleh-oleh, di Kawaguchiko dan sekitarnya banyak ragamnya. Kami mampir ke beberapa toko untuk membeli buah tangan dan juga tentunya… mencicipi sendiri produk-produk mereka. Yang ini sangat saya sukai karena bentuknya yang langsung mengingatkan orang kepada daerah yang diwakilinya, dan juga karena… rasanya enak! Ada rasa cokelat, teh hijau, earl grey, vanila, stroberi… seingat saya.

kawaguchiko-winter2013-33

kawaguchiko-winter2013-32

Saya benar-benar kecantol dengan kota kecil ini dan berjanji kalau nanti ada teman lain ke Jepang, akan saya ajak ke kota ini juga. Indah, tenang, udaranya segar, ditambah lagi bersepeda dan banyak berjalan kaki di sini membuat sehat.

kawaguchiko-winter2013-29

Oya, sebagai catatan, Kawaguchiko tidak seperti di kota besar, di mana kita tersandung sedikit saja bakal menemukan kombini atau toko penjual peralatan sehari-hari lainnya. Di Kawaguchiko, Anda mungkin harus berjalan beberapa ratus meter atau bahkan kilometer sebelum menemukan kombini. Dan restoran atau tempat makan yang buka sampai jauh malam juga jarang. Jadi ada baiknya bersiap membawa cukup bekal untuk makan malam di penginapan, bila tidak mau bersusah-payah keluar malam-malam mencari makan. Dan juga tidak seperti di Tokyo, tidak semua restoran di Kawaguchiko memajang menu dan daftar harga di luar, jadi mungkin agak sulit mencari restoran yang pas dengan lidah dan kantong. Tapi kalau Anda pede mencoba, silakan saja!

Saya akan lanjutkan cerita tentang Kawaguchiko di post berikutnya!

Museum Fujiko F. Fujio, Kawasaki, musim dingin 2013

This post is about Japan

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Rasa-rasanya bagi banyak sekali orang Indonesia yang terlahir pada dasawarsa 1980-an sampai sekarang, tokoh inilah yang mengisi masa kecil mereka. Pintu Ajaib dan berbagai peralatan lain menjadi impian kita ketika hidup di dunia nyata terasa susah betul dan tidak praktis. Tidak heran kalau banyak yang ingin mengunjungi ‘museum Doraemon’ bila bertandang ke Jepang. Nama resmi museum ini sebenarnya adalah Fujiko F. Fujio Museum, terletak di Kawasaki, tidak seberapa jauh dari Tokyo.

Museum ini buka pukul 10.00-18.00 setiap hari kecuali Selasa. Namun saat Golden Week dan libur musim panas, biarpun Selasa, museum ini tetap buka.  Oya, museum ini juga tidak buka saat liburan akhir tahun, jadi kalau berniat ke sini, hindari hari Selasa dan liburan akhir tahun, ya.

Catatan: tiket tidak dijual di museum. Anda harus membeli tiketnya terlebih dahulu melalui kombini Lawson. Di sini ada petunjuk cara membeli tiket dengan mesin Loppi di Lawson. (Sebenarnya petunjuknya untuk membeli tiket pertunjukan, tapi lumayanlah untuk memberi Anda gambaran mengenai penggunaan mesin tersebut.)

???????????????????????????????

Stasiun terdekat dengan museum ini ada beberapa: Noborito yang merupakan perpotongan JR Nanbu Line dan Odakyu Line; Shuku-gawara yang merupakan bagian dari JR Nanbu Line; dan Mukaogaoka-Yuen yang merupakan bagian dari Odakyu Line. Tersedia bis menuju museum, tapi hanya dari Noborito. Dari kedua stasiun lainnya, Anda harus berjalan kaki.

Di stasiun Noborito pun ada patung kecil Doraemon.

Di stasiun Noborito pun ada patung kecil Doraemon.

Kalau naik sepeda juga bisa, karena di museum disediakan tempat parkir khususnya.

???????????????????????????????

Bis ke museum ini mudah dikenali karena berhiaskan karakter-karakter rekaan Fujiko F. Fujio. Ada dari Doraemon, P-man, dan lain sebagainya. Kebetulan waktu itu saya dan teman dapat bis Doraemon.

???????????????????????????????

Hayo, gambar di pelapis bantalan kursi itu menunjukkan alat Doraemon yang mana saja?

Hayo, gambar di pelapis bantalan kursi itu menunjukkan alat Doraemon yang mana saja?

Kalau mau turun, tekan tombol ini, ya!

Kalau mau turun, tekan tombol ini, ya!

Kebetulan kami mengunjungi museum ini di dekat waktu Natal, sehingga museum pun berhias pernak-pernik Natal.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Di museum ini ada ruang pameran yang memperkenalkan pembaca kepada Fujiko F. Fujio dan karya-karyanya. Banyak pula kegiatan yang memperkenalkan pengunjung kepada pembuatan animasi, juga pemutaran film animasi khusus yang hanya bisa dinikmati di museum ini. Tidak hanya menarik bagi anak-anak, orang dewasa pun bisa menikmati berbagai pajangan dan kegiatan di museum ini. Oya, sebagai catatan, beberapa bagian museum off-limit bagi foto dan video. Alias saat berada di bagian-bagian itu, simpan saja kamera Anda.

???????????????????????????????

Warna biru dindingnya pun mengingatkan kepada Doraemon, ya.

???????????????????????????????

Boleh lho, duduk di sini sambil membaca bersama Doraemon.

Ingat kisah tentang sumur ajaib dan Giant versi ganteng? Nah, Anda bisa coba membuat si ganteng Giant keluar dari sumur ini dengan sedikit menguras tenaga…

???????????????????????????????

Hmm.. siapa tuh yang tidur-tiduran di depan kafe?

???????????????????????????????

Ah, ternyata mereka!

???????????????????????????????

Ini di atap bangunan, lho! Museum dibangun mengikuti kontur alam. Perhatikan juga hutan di sekitar museum, karena Anda bisa melihat beberapa pajangan yang diletakkan di sana. Hei… tunggu… di kejauhan itu… sepertinya kenal tidak, sih?

???????????????????????????????

Penggemar Doraemon pasti ingat sekali Piisuke! Dan tuh, lihat, dari antara pepohonan hutan ada yang ‘mengintip’. Tidak jauh dari ‘danau’ Piisuke ini, juga ada Doko Demo Doa alias ‘pintu ke mana saja’ dan pipa-pipa yang ditumpuk seperti di lapangan tempat Nobita dan teman-teman biasa bermain.

???????????????????????????????

Puas bernostalgia, Anda bisa mampir dan melepaskan lembar demi lembar uang yen untuk berbagai cenderamata Doraemon dan teman-temannya di toko suvenir dekat pintu keluar.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kalau Anda tidak sempat ke Kawasaki tapi mau melihat versi sangat mini dari museum ini di Tokyo, sambangi saja TV Asahi yang terletak di sebelah Roppongi Hills. Di situ Anda bisa melihat model kamar Nobita seukuran asli, melihat beberapa pajangan, membuat stiker Doraemon, bermain mesin crane berhadiah boneka Doraemon, serta membeli suvenir Doraemon. Namun tentunya pengalaman penuhnya hanya bisa didapat di Museum Fujiko F. Fujio.

Ome, Januari 2014

This post is about Japan

Hari itu saya libur, dan tidak ada kerjaan.  Tanggalnya adalah 13 Januari 2014, hari libur nasional di Jepang karena berkenaan dengan Seijin no Hi, Coming-of-Age Day, perayaan bagi orang-orang yang dianggap telah dewasa karena telah berulang tahun ke-20.  Iseng, saya pun naik kereta Chuo Line sampai ke Ome.  Tidak ada alasan khusus, saya hanya ingin mencari tahu seperti apa kota kecil yang terletak di ujung salah satu cabang Chuo Line itu.

IMG_1079

IMG_1049

Bangunan kuning gading di sebelah kanan adalah stasiun Ome. Bentuknya yang kuno dipertahankan.

Salah satu  cabang?  Iya, karena meskipun jalur utama Chuo Line mengarah ke Takao (nanti kapan-kapan saya ceritakan juga), tetapi dalam sehari beberapa kereta Chuo Line mengarah ke Ome.  Namun, bila kita tidak mendapatkan kereta langsung ke Ome ini, kita bisa naik kereta sampai Tachikawa, lalu berganti ke Ome Line.  Perjalanannya tidak begitu lama kok dari Tokyo.

IMG_1048

IMG_1052

Kota Ome kecil saja.  Sebenarnya banyak yang ke sana karena ingin menikmati alamnya, tetapi hari itu saya tiba di sana sudah terlanjur siang sekali, sehingga saya hanya melihat-lihat kotanya saja.  Itu pun sebentar saja, karena sebagian besar toko dan restoran, juga museum, tutup.  Yah, namanya juga hari libur nasional.

IMG_1087

IMG_1080

Telepon umum yang terlihat seperti dari dunia antah-berantah.

Hal paling menyenangkan dari Ome adalah ruas-ruas jalan yang dihiasi poster-poster film dan iklan tua.  Di berbagai sudut, terkadang di tempat yang tak terduga atau sulit dilihat, terpajang berbagai poster, mulai dari Metropolis Fritz Lang sampai film-film klasik Jepang.  Ini kebahagiaan tersendiri bagi yang menyenangi film lama ataupun barang vintage.

IMG_1123

IMG_1064

IMG_1063

Ome juga menjadi salah satu tempat yang dikunjungi wisatawan dalam negeri khususnya karena kota ini merupakan tempat asal Akatsuka Fujio, mangaka Tensai Bakabon.  Jadi jangan heran, tokoh-tokoh Tensai Bakabon menyambut kita sejak baru tiba di stasiun kereta Ome yang dipertahankan wujud kunonya.  Di kota ini ada museum bagi sang mangaka, namun sayangnya saya juga belum sempat mengunjunginya.

IMG_1077

IMG_1107

Satu hal lagi yang banyak terlihat di sudut-sudut Ome adalah… karya-karya seni yang menampilkan wujud kucing!  Baik itu lukisan, patung, sampai hiasan halte bis.  Terlihat bahwa pembuatnya bukan hanya satu orang.  Seru juga, mencari-cari karya-karya seni bertema kucing ini di berbagai penjuru Ome.

IMG_1111

IMG_1112

Kalau Anda berkunjung ke Tokyo dan ingin pengalaman ke luar kota tapi tidak bisa jauh-jauh, Anda boleh coba mengunjungi Ome.  Tapi pastikan bukan hari libur nasional seperti yang saya lakukan, karena bisa dijamin Anda bakal disambut suasana sunyi-senyap di kota yang aslinya memang mungil ini.

IMG_1046

IMG_1084

Sebuah halte bis di Ome: memadukan poster film tua dan benda-benda kucing.

IMG_1122

Datanglah ke Ome, dan Anda akan disambut mereka di stasiun kereta!

Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum

This post is about Japan

Halo semuanya.  Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa mulai mengisi blog ini lagi.  Dan, seperti yang sebelumnya saya katakan, karena sekarang saya berdomisili di Jepang, maka isi blog saya mulai saat ini akan didominasi oleh tulisan mengenai Jepang.  Saya tidak hanya akan menulis mengenai tempat-tempat yang telah sangat populer di mata turis asing, melainkan juga yang masih jarang dikunjungi orang.  Contoh dari tempat yang terakhir itu adalah Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum, yang akan saya bahas sekarang.

IMG_0086

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Museum terbuka ini terletak di Koganei, di pinggiran kota Tokyo.  Ada dua stasiun yang dekat dengan museum ini, yaitu Minami Hana-Koganei di jalur Seibu-Shinjuku, dan Musashi-Koganei (North Exit) di Chuo Line.  Tidak jauh kok dari Shinjuku, paling-paling hanya setengah jam.  Yang perlu diperhatikan adalah rel yang digunakan oleh kereta Chuo Line digunakan juga oleh kereta Chuo-Sobu Line, yang jarang mampir ke Musashi-Koganei, paling-paling sampai Mitaka.  Jadi perhatikan warna kereta yang akan Anda naiki, ya.  Apakah stripnya oranye (Chuo) atau kuning (Chuo-Sobu).  Kalau ternyata Anda salah naik kereta Chuo-Sobu yang hanya sampai ke stasiun sebelum Musashi-Koganei, berpindahlah ke jalur kereta oranye.  Itu pun harus Anda pastikan, kereta jalur oranye tersebut berhenti di Musashi-Koganei atau tidak.  Kereta komuter cepat atau ekspres khusus sering kali melewatkan stasiun ini.

IMG_0060

IMG_0059

Dari stasiun kereta, Anda bisa berjalan kaki menuju Koganei Park, di mana museum arsitektur ini berada.  Banyak petunjuk jalan menuju taman yang juga terkenal karena pohon sakuranya ini kok.  Kalau ingin naik bis dari stasiun kereta juga ada.

IMG_0082

IMG_0057

Masuk Koganei Park gratis, namun untuk mengunjungi museum Anda harus membayar…. murah kok, 400 yen saja.  Malah kalau Anda mahasiswa atau sedang sekolah bahasa/kejuruan di Jepang, dengan menunjukkan kartu mahasiswa/pelajar, Anda cukup membayar 320 yen saja.

IMG_0070

Bangunan hijau di sebelah kanan adalah Maruni Shoten, toko peralatan dapur, dibangun di zaman Showa.

IMG_0080

Museum terbuka ini dimaksudkan untuk melestarikan bangunan-bangunan tua Edo (nama lama Tokyo)/Tokyo agar tidak tergerus pembangunan Tokyo yang pesat.  Alasan lain pendirian museum ini adalah karena Jepang khususnya Tokyo telah sering kehilangan aset sejarah dan budaya mereka akibat berbagai bencana seperti gempa bumi, kebakaran, dan lain sebagainya.

IMG_0118

IMG_0072

Sebagian bangunan boleh dimasuki (perhatikan, apakah Anda harus melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal atau tidak), namun sebagian lain hanya boleh dilihat-lihat dari sebelah luar saja.  Ada rumah politikus Jepang zaman dulu, ada toko tua, bar, toko House of Uemura zaman baheula, toko kecap, studio foto kuno, dan macam-macam lagi.  Semuanya dipindahkan secara berhati-hati dan teliti dari Tokyo ke museum di pinggiran ibukota Jepang tersebut.  Sebagian ditata seperti ketika toko-toko itu masih menjalankan bisnis.

IMG_0126

IMG_0074

Kita lihat lebih banyak lagi yuk foto-foto dari museum ini.

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini.  Kami kira rumah bangsawan atau apalah.  Setelah dekat... ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini. Kami kira rumah bangsawan atau apalah. Setelah dekat… ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Bagian dalam Kodakara-yu.  Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

Bagian dalam Kodakara-yu. Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

IMG_0104

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

IMG_0081

IMG_0146

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho!  Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho! Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

IMG_0163

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Oya, di museum ini juga ada ruang pamer yang tidak seberapa besar, yang memajang sejumlah artifak kuno yang ditemukan dalam penggalian-penggalian arkeologis di Jepang.  Sayangnya keterangan dalam bahasa Inggris tidak banyak, namun lumayan kok untuk dilihat-lihat.  Saya sangat merekomendasikan museum ini bagi Anda yang berkunjung ke Tokyo dan menyukai sejarah Jepang ataupun ilmu arsitektur.

Hai! Sekarang saya berada di Jepang

This post is about Japan

Sedikit kabar saja, maaf bila belum bisa menulis artikel lagi di sini (meskipun sebenarnya saya sedang mempersiapkan tulisan mengenai kunjungan terbaru saya ke Singapura).  Saya kemarin-kemarin sibuk sekali mempersiapkan kepindahan saya ke Jepang.  Ya, sekarang saya tinggal di Jepang, untuk setidaknya 1,5 tahun ke depan.  Saya harap akan bisa lebih banyak lagi cerita yang saya hadirkan di sini mengenai negara tempat tinggal baru saya ini.

Doakan saya di tempat baru ini, ya!

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers