Ome, Januari 2014

This post is about Japan

Hari itu saya libur, dan tidak ada kerjaan.  Tanggalnya adalah 13 Januari 2014, hari libur nasional di Jepang karena berkenaan dengan Seijin no Hi, Coming-of-Age Day, perayaan bagi orang-orang yang dianggap telah dewasa karena telah berulang tahun ke-20.  Iseng, saya pun naik kereta Chuo Line sampai ke Ome.  Tidak ada alasan khusus, saya hanya ingin mencari tahu seperti apa kota kecil yang terletak di ujung salah satu cabang Chuo Line itu.

IMG_1079

IMG_1049

Bangunan kuning gading di sebelah kanan adalah stasiun Ome. Bentuknya yang kuno dipertahankan.

Salah satu  cabang?  Iya, karena meskipun jalur utama Chuo Line mengarah ke Takao (nanti kapan-kapan saya ceritakan juga), tetapi dalam sehari beberapa kereta Chuo Line mengarah ke Ome.  Namun, bila kita tidak mendapatkan kereta langsung ke Ome ini, kita bisa naik kereta sampai Tachikawa, lalu berganti ke Ome Line.  Perjalanannya tidak begitu lama kok dari Tokyo.

IMG_1048

IMG_1052

Kota Ome kecil saja.  Sebenarnya banyak yang ke sana karena ingin menikmati alamnya, tetapi hari itu saya tiba di sana sudah terlanjur siang sekali, sehingga saya hanya melihat-lihat kotanya saja.  Itu pun sebentar saja, karena sebagian besar toko dan restoran, juga museum, tutup.  Yah, namanya juga hari libur nasional.

IMG_1087

IMG_1080

Telepon umum yang terlihat seperti dari dunia antah-berantah.

Hal paling menyenangkan dari Ome adalah ruas-ruas jalan yang dihiasi poster-poster film dan iklan tua.  Di berbagai sudut, terkadang di tempat yang tak terduga atau sulit dilihat, terpajang berbagai poster, mulai dari Metropolis Fritz Lang sampai film-film klasik Jepang.  Ini kebahagiaan tersendiri bagi yang menyenangi film lama ataupun barang vintage.

IMG_1123

IMG_1064

IMG_1063

Ome juga menjadi salah satu tempat yang dikunjungi wisatawan dalam negeri khususnya karena kota ini merupakan tempat asal Akatsuka Fujio, mangaka Tensai Bakabon.  Jadi jangan heran, tokoh-tokoh Tensai Bakabon menyambut kita sejak baru tiba di stasiun kereta Ome yang dipertahankan wujud kunonya.  Di kota ini ada museum bagi sang mangaka, namun sayangnya saya juga belum sempat mengunjunginya.

IMG_1077

IMG_1107

Satu hal lagi yang banyak terlihat di sudut-sudut Ome adalah… karya-karya seni yang menampilkan wujud kucing!  Baik itu lukisan, patung, sampai hiasan halte bis.  Terlihat bahwa pembuatnya bukan hanya satu orang.  Seru juga, mencari-cari karya-karya seni bertema kucing ini di berbagai penjuru Ome.

IMG_1111

IMG_1112

Kalau Anda berkunjung ke Tokyo dan ingin pengalaman ke luar kota tapi tidak bisa jauh-jauh, Anda boleh coba mengunjungi Ome.  Tapi pastikan bukan hari libur nasional seperti yang saya lakukan, karena bisa dijamin Anda bakal disambut suasana sunyi-senyap di kota yang aslinya memang mungil ini.

IMG_1046

IMG_1084

Sebuah halte bis di Ome: memadukan poster film tua dan benda-benda kucing.

IMG_1122

Datanglah ke Ome, dan Anda akan disambut mereka di stasiun kereta!

Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum

This post is about Japan

Halo semuanya.  Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa mulai mengisi blog ini lagi.  Dan, seperti yang sebelumnya saya katakan, karena sekarang saya berdomisili di Jepang, maka isi blog saya mulai saat ini akan didominasi oleh tulisan mengenai Jepang.  Saya tidak hanya akan menulis mengenai tempat-tempat yang telah sangat populer di mata turis asing, melainkan juga yang masih jarang dikunjungi orang.  Contoh dari tempat yang terakhir itu adalah Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum, yang akan saya bahas sekarang.

IMG_0086

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Museum terbuka ini terletak di Koganei, di pinggiran kota Tokyo.  Ada dua stasiun yang dekat dengan museum ini, yaitu Minami Hana-Koganei di jalur Seibu-Shinjuku, dan Musashi-Koganei (North Exit) di Chuo Line.  Tidak jauh kok dari Shinjuku, paling-paling hanya setengah jam.  Yang perlu diperhatikan adalah rel yang digunakan oleh kereta Chuo Line digunakan juga oleh kereta Chuo-Sobu Line, yang jarang mampir ke Musashi-Koganei, paling-paling sampai Mitaka.  Jadi perhatikan warna kereta yang akan Anda naiki, ya.  Apakah stripnya oranye (Chuo) atau kuning (Chuo-Sobu).  Kalau ternyata Anda salah naik kereta Chuo-Sobu yang hanya sampai ke stasiun sebelum Musashi-Koganei, berpindahlah ke jalur kereta oranye.  Itu pun harus Anda pastikan, kereta jalur oranye tersebut berhenti di Musashi-Koganei atau tidak.  Kereta komuter cepat atau ekspres khusus sering kali melewatkan stasiun ini.

IMG_0060

IMG_0059

Dari stasiun kereta, Anda bisa berjalan kaki menuju Koganei Park, di mana museum arsitektur ini berada.  Banyak petunjuk jalan menuju taman yang juga terkenal karena pohon sakuranya ini kok.  Kalau ingin naik bis dari stasiun kereta juga ada.

IMG_0082

IMG_0057

Masuk Koganei Park gratis, namun untuk mengunjungi museum Anda harus membayar…. murah kok, 400 yen saja.  Malah kalau Anda mahasiswa atau sedang sekolah bahasa/kejuruan di Jepang, dengan menunjukkan kartu mahasiswa/pelajar, Anda cukup membayar 320 yen saja.

IMG_0070

Bangunan hijau di sebelah kanan adalah Maruni Shoten, toko peralatan dapur, dibangun di zaman Showa.

IMG_0080

Museum terbuka ini dimaksudkan untuk melestarikan bangunan-bangunan tua Edo (nama lama Tokyo)/Tokyo agar tidak tergerus pembangunan Tokyo yang pesat.  Alasan lain pendirian museum ini adalah karena Jepang khususnya Tokyo telah sering kehilangan aset sejarah dan budaya mereka akibat berbagai bencana seperti gempa bumi, kebakaran, dan lain sebagainya.

IMG_0118

IMG_0072

Sebagian bangunan boleh dimasuki (perhatikan, apakah Anda harus melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal atau tidak), namun sebagian lain hanya boleh dilihat-lihat dari sebelah luar saja.  Ada rumah politikus Jepang zaman dulu, ada toko tua, bar, toko House of Uemura zaman baheula, toko kecap, studio foto kuno, dan macam-macam lagi.  Semuanya dipindahkan secara berhati-hati dan teliti dari Tokyo ke museum di pinggiran ibukota Jepang tersebut.  Sebagian ditata seperti ketika toko-toko itu masih menjalankan bisnis.

IMG_0126

IMG_0074

Kita lihat lebih banyak lagi yuk foto-foto dari museum ini.

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini.  Kami kira rumah bangsawan atau apalah.  Setelah dekat... ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini. Kami kira rumah bangsawan atau apalah. Setelah dekat… ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Bagian dalam Kodakara-yu.  Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

Bagian dalam Kodakara-yu. Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

IMG_0104

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

IMG_0081

IMG_0146

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho!  Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho! Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

IMG_0163

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Oya, di museum ini juga ada ruang pamer yang tidak seberapa besar, yang memajang sejumlah artifak kuno yang ditemukan dalam penggalian-penggalian arkeologis di Jepang.  Sayangnya keterangan dalam bahasa Inggris tidak banyak, namun lumayan kok untuk dilihat-lihat.  Saya sangat merekomendasikan museum ini bagi Anda yang berkunjung ke Tokyo dan menyukai sejarah Jepang ataupun ilmu arsitektur.

Hai! Sekarang saya berada di Jepang

This post is about Japan

Sedikit kabar saja, maaf bila belum bisa menulis artikel lagi di sini (meskipun sebenarnya saya sedang mempersiapkan tulisan mengenai kunjungan terbaru saya ke Singapura).  Saya kemarin-kemarin sibuk sekali mempersiapkan kepindahan saya ke Jepang.  Ya, sekarang saya tinggal di Jepang, untuk setidaknya 1,5 tahun ke depan.  Saya harap akan bisa lebih banyak lagi cerita yang saya hadirkan di sini mengenai negara tempat tinggal baru saya ini.

Doakan saya di tempat baru ini, ya!

Kobe Desember 2012

This post is about Japan

Kobe adalah sebuah kota di tepi laut yang merupakan salah satu pelabuhan utama Jepang sejak dahulu.  Bahkan, pernah ada suatu masa ketika di Kobe-lah berpusat tempat tinggal dan industri orang-orang asing di Jepang.  Tak heran bila kota ini diwarnai jejak-jejak kebudayaan yang campur-aduk namun harmonis, mulai dari Eropa, Cina, India, Muslim, bahkan Yahudi.  Meski sempat hancur akibat gempa besar pada tahun 1995, Kobe kini telah bangkit kembali menjadi kota yang cantik dan patut dikunjungi bila Anda menyambangi daerah Kansai.

kobe01

Saya tiba di Stasiun Sannomiya ketika hari sudah siang.  Tak pelak stasiun yang besar dan sedemikian banyaknya orang yang berlalu lalang membuat saya kehilangan arah.  Ke mana saya harus berjalan, bila ingin mengunjungi bangunan-bangunan tua yang menjadi kekhasan Kobe?  Saya pun mendekati satu dari sejumlah peta kota yang dipasang di sekitar stasiun.  Saat sedang memicing-micingkan mata mencoba menentukan lokasi dan rute, seorang pria mendekati saya.

“Mau ke mana?”  Ia bertanya dalam bahasa Inggris.

Saya kaget dan, jujur, saya langsung waspada.  Curiga.  Bagaimana kalau dia orang yang senang menipu turis?  Kenapa sok akrab sekali?

kobe02

Entahlah, mungkin pria itu menyadari mimik saya yang melintaskan keraguan.  Ia lekas menunjukkan sebuah kartu yang dicantolkan ke lanyard di lehernya.

“Saya pemandu wisata.  Saya akan tunjukkan jalan.”

Oh.  Astaga.  Tiba-tiba saya merasa sangat jahat.  Dan malu.

Ternyata pria ini adalah salah seorang pemandu yang ditugaskan berjaga di sekitar stasiun, siap menunjukkan jalan kepada para pengunjung baru di Kobe.

“Saya mau ke masjid,” jawab saya, mengingat saat itu sudah masuk waktu Zuhur.

“Oh, kalau begitu – lihat gedung yang di sana itu?  Nanti Anda jalan ke bla… bla… bla…” Dengan sigap dan terang, sang pemandu pun menjelaskan rute yang harus saya tempuh.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun meninggalkan stasiun, mengikuti arahan dari sang pemandu.  Saya pun menyusuri jalan demi jalan Kobe yang kecil-kecil—umumnya hanya pas untuk dua mobil—di tengah dingin yang menerpa.  Mata dimanjakan bangunan-bangunan cantik, yang terkadang sedemikian Eropa sehingga sejenak saya lupa saya berada di Jepang.

Sambil berjalan, saya menyadari bahwa jalanan yang saya tapaki agak menanjak.  Bagian Kobe yang ini memang berada di perbukitan.  Sebagian objek wisata bahkan terletak sedemikian tinggi, bisa membuat kewalahan orang yang tidak terbiasa banyak berjalan, apalagi mendaki.  Jadi ini saran saya bila ke Kobe: pastikan sepatu yang Anda kenakan nyaman, dan kondisi fisik Anda juga sedang bagus!

kobe03

Sebagai kota internasional, di Kobe pun terdapat komunitas Muslim.  Bahkan di kota inilah terletak masjid paling tua di Jepang, yang berdiri sejak OKtober 1935.  Komunitas Muslim-nya juga kabarnya cukup giat beraktivitas keagamaan.  Hanya saja kebetulan hari itu, ketika saya tiba, masjid sedang sepi sekali.  Tidak ada siapa-siapa.  Hanya dengan kepercayaan bahwa yang namanya masjid bebas dimasuki orang yang hendak beribadah, saya membuka pintu samping yang tertutup dan masuk ke apa yang sepertinya merupakan ruang penyambutan tamu.  Ada lorong ke kiri dan ke kanan, serta tangga ke atas.  Semua sepi.  Sedikit aneh rasanya.

Lantai seperti bangunan Jepang tradisional pada umumnya, agak ditinggikan, dengan area yang lebih rendah di depan pintu sebagai tempat melepas alas kaki.  Di ruangan itu ada semacam meja resepsionis, tapi tidak ada siapa-siapa.  Sebuah buku tamu terpentang di atas meja itu, didampingi sepiring kurma dan kue manis khas Timur Tengah.  Saya mencicipi satu.  Udara musim dingin telah membuat kurma keras dan mengkerut, tapi rasa manisnya masih terasa di lidah.

kobe04

Berdasarkan insting juga saya lantas menaiki tangga, mencari area salat untuk perempuan.  Ternyata benar, memang di lantai dua letaknya.  Ruang tempat mengambil wudu lengkap fasilitasnya, termasuk sandal jepit.  Toiletnya jongkok, dilengkapi dengan air untuk membilas.  Tidak ada air panas, sehingga wudu pun terasa sangat menggigit!

Di area salat juga tidak ada siapa-siapa.  Entahlah apa tadi ada salat berjamaah atau tidak.  Saya pun salat dengan mukena yang tersedia.

Usai beribadah, saya pun meninggalkan masjid.  Tepat di depannya saya melihat dua orang pria yang sedang asyik berfoto.  Tampang mereka Melayu.  Kalau tidak Indonesia, pasti Malaysia nih.  Benar saja.  Mereka orang Malaysia.  “Sudah sembahyang?” tanya mereka.  Kami pun mengobrol sedikit.  Mereka juga membantu memotret saya di depan masjid.  (Inilah susahnya bepergian sendirian: harus cari orang lagi untuk mengambilkan foto kita!)

kobe05

Rupa-rupanya mereka datang bersama rombongan.  Dari kejauhan, tampak sejumlah pria Malaysia lain sedang mendekat, hendak salat juga di masjid Kobe.  Saya pun pamit, memisahkan diri.  Tepatnya saya ke seberang jalan.  Pas di seberang masjid ada sebuah toko yang menjual bahan makanan halal, yang berasal dari Indonesia sampai Turki.  Kecap dan mi instan Indonesia, bumbu masak Malaysia, makanan beku India, manisan Turki, ada semua.  Saya pun membeli dua kotak makanan instan India.  Lumayan buat disantap di penginapan.

Dari masjid, saya kembali menelusuri jalan.  Kali ini menuju kawasan tempat berdirinya sejumlah rumah tua bergaya barat yang dikenal sebagai ‘Ijinkan’ di Kitano-cho, di kaki pegunungan Rokko.  Ada sembilan rumah utama yang dijadikan museum dan bisa dikunjungi dengan harga tiket terusan 3.500 yen.  Kalau beli tiket hanya untuk satu-dua rumah, rasanya sayang, karena untuk satu rumah saja harganya 300, 500, atau 700 yen.  Saya sih optimistis saja, bisa mendatangi kesembilan rumah tersebut sekaligus di sisa sore hari itu.  Selain kesembilan rumah yang dijadikan museum, ada sejumlah bangunan atau rumah lain yang juga dilestarikan, entah itu sebagai milik pribadi, restoran, ataupun toko, seperti Danish House, Austrian House, Dutch House, Italian House.

Kesembilan rumah yang merupakan bagian dari tiket kombinasi:

  1. Panama House
  2. Rhine House
  3. Uroko House dan Uroko Museum
  4. Yamate Hachibankan
  5. Kitano Foreigners’ Association
  6. Bekas Konsulat Cina
  7. Ben’s House
  8. French House
  9. England House

Di dalam setiap rumah ini tersimpan koleksi benda seni dan antik yang berbeda-beda.  Ada yang berfokus pada produk budaya negeri-negeri jauh, ada yang memajang barang-barang impor dari Inggris dahulu kala.

kobe06

Saya mendatangi loket penjualan tiket yang berada di depan Panama House.  Penjaga loketnya tidak bisa berbahasa Inggris, namun ia tetap menjelaskan kepada saya dengan tenang dan lugas dalam bahasa Jepang.  Nah, inilah salah satu hal yang saya kagumi dari para petugas di Jepang yang bergerak di bagian pelayanan seperti ini.  Kadang-kadang mereka tidak mengerti bahasa asing, sehingga tetap akan berbicara dengan bahasa Jepang kepada kita, bukan tergagap-gagap dalam bahasa Inggris seadanya.  Sewaktu ditegur polisi di Takarazuka, mereka juga hanya berbahasa Jepang ke saya.  Namun entah bagaimana, dari nada dan gerak-gerik mereka yang sopan serta lugas, kita jadi bisa mengerti kurang-lebihnya yang mereka maksudkan apa.

Ia memberikan peta kesembilan rumah yang lantas ia gunakan untuk menerangkan kepada saya ke mana saja saya harus berjalan.  Sang petugas juga memberikan sebuah buku ‘paspor’ Kobe untuk mengumpulkan cap di kesembilan rumah yang saya datangi.  Kalau lengkap dapat kesembilan capnya, di rumah terakhir (Panama House) akan ada hadiah, lho!  Selain itu, sang petugas memberikan juga selembar kertas untuk bermain mencari Sinterklas di kesembilan rumah.  Sayangnya saya tidak sempat dengan serius berusaha menjalankan permainan ini.

kobe07

Rumah pertama yang saya kunjungi adalah Rhine House.  Dari sini saja, saya sudah harus menempuh perjalanan menanjak, melewati undak-undakan.  Whew… untung juga saya pergi di saat cuaca sedang dingin, sehingga tidak terlalu menguras keringat.  Kalau ini musim panas, pasti saya sudah bersimbah peluh sedari tadi.  Di Rhine House ini ada toko suvenir yang lucu-lucu, antara lain memajang sejumlah kartu pos karya desainer Jepang.  Saya pun tergoda membeli beberapa lembar.

Keluar dari Rhine House, saya kembali mendaki melewati anak-anak tangga dan jalan-jalan sempit.  Memang cukup melelahkan, tapi perasaan tertarik dan bersemangat membuat saya tidak terlalu memikirkan rasa capai yang mulai menerjang kaki dan punggung.  Hanya saja… kok banyak pasangan bergandengan tangan yah di kawasan ini?  Bikin iri orang yang lagi berkelana sendirian saja, hehehe!

kobe08

Sebelum ke bangunan kedua, saya terlebih dahulu melipir ke Weathervane House, salah satu bangunan tua ternama juga di Kobe.  Kekhasannya adalah petunjuk arah angin berbentuk ayam jago di pucuk atapnya.  Saya tidak sampai masuk, hanya berfoto-foto di depannya saja, di sebuah pelataran berbentuk setengah lingkaran yang bagaikan balkon tempat kita bisa melihat pemandangan Kobe di bawah.

kobe09

Dari Weathervane House, saya menuju Uroko House alias ‘Rumah Sisik Ikan’.  Namanya diperoleh dari bentuk atapnya.  Wah wah… terlihat beberapa tiruan Sinterklas bergelantungan di menara dan di atapnya.  Lucu sekali.

kobe10

Di depan rumah ini ada sebuah bangunan kecil yang berfungsi sebagai toko suvenir dan tempat makan.  Sementara bagian dalam bangunan utama difungsikan sebagai museum yang antara lain memajang lukisan-lukisan karya seniman-seniman terkemuka.

kobe11

 

Dan di lantai paling atas, jendela-jendela besar menawarkan pemandangan leluasa ke arah bagian Kobe yang terletak lebih dekat ke laut.

kobe12

Rumah berikutnya adalah Yamate Hachibankan, di mana tersimpan patung-patung karya sejumlah empu seperti Rodin dan Renoir, juga koleksi patung dan ukiran budaya Afrika dan agama Buddha.

kobe13

Agak seram juga sih suasananya, entah mengapa.  Oya, di sini ada sepasang singgasana berbantalan merah yang mengapit salah satu pintu.  Konon bila kita duduk di situ dan memanjatkan harapan, harapan kita akan terkabul.  Ada yang mau iseng-iseng mencoba?

kobe14

Perjalanan masih menanjak lagi.  Kali ini menuju Kitano Foreigners’ Association.  Rumahnya tidak seberapa besar, namun di dalamnya kita bisa melihat contoh dapur kuno rumah ala Barat zaman dahulu, lengkap dengan segala perlengkapan masak yang digunakan di zaman itu.

kobe15

Tak seberapa jauh dari situ, ada bekas Konsulat Cina, yang tentu saja banyak memajang perabotan, keramik, dan barang-barang lainnya yang bergaya Cina.  Bahkan sampai kamar mandi pun terasa sekali suasana Cina-nya.

Perjalanan mendaki berakhir.  Kini giliran menggelinding menuruni gunung.  Ini juga lumayan curam jalannya.  Waduh, salut banget deh kepada yang tinggal di kawasan ini.  Setiap hari bolak-balik melewati lereng ini pasti bikin otot dan paru-paru mereka kuat!

Selain Kitano Foreigners’ Association, rumah yang juga menimbulkan perasaan kurang enak adalah Ben’s House.  Rumah ini tadinya milik Ben Allison, seorang pemburu.  Tak heran di rumah ini banyak dipajang hasil buruan yang sudah diawetkan.  Rasanya kok ya agak seram saja, sekaligus kasihan, melihat hewan-hewan yang mati namun tampak demikian hidup itu.  Saya tidak tahan lama-lama dan memilih lekas-lekas keluar.

kobe16

Sementara di French House, selain mengagumi perabotan, kita bisa melihat sejumlah koleksi langka seperti seperangkat koper Louis Vuitton buatan Prancis yang terkenal karena kualitasnya.  Tapi French House ini masih kalah menarik dibandingkan rumah berikutnya, England House.

kobe17

England House tak hanya menampilkan perabot antik dari abad kedua puluh.  Di sini juga terdapat dua bar berinterior unik, dan sebuah museum kecil tempat menyimpan memorabilia Sherlock Holmes di lantai dua.  Museum kecil itu ditata seperti kamar tidur Holmes, lengkap dengan biolanya, kursi malasnya, bahkan manekin serupa sosoknya yang menghadap jendela.  Tak heran banyak penggemar Sherlock Holmes mendatangi rumah ini.  Kita juga bisa berfoto mengenakan jas dan topi khas Holmes.

kobe18

Saya kembali ke titik semula, yaitu Panama House.  Di depan bangunan ini, setelah menunjukkan kesembilan cap yang kita peroleh di pintu masuk masing-masing rumah, kita pun dipersilakan mencoba keberuntungan mengambil undian untuk memperoleh suvenir Kobe.  Peruntungan saya rupanya ‘hanya’ berupa sebatang pulpen.  Tapi lumayanlah!  Hadiah kecil begini juga membuat petualangan menyusuri kesembilan rumah lebih berkesan.

Sambil menunggu waktu Magrib, saya berjalan-jalan saja menyusuri Kitano yang permai.  Tadinya mau mencicipi kopi di salah satu dari sekian banyak kafe yang cukup besar, tapi kok rata-rata ramai ya.  Saya juga tidak mau mendatangi kedai kopi internasional, yang bisa saya temui di berbagai kota dan negara.  Saya lebih memilih mencari kafe setempat yang menawarkan racikan kopi sendiri.  Pandangan saya tertumbuk pada sebuah kafe kecil yang tampaknya menarik.  Buffo namanya, terselip di antara sejumlah bangunan lain.  Dari penampakan depannya pun kafe ini terlihat hangat dan mengundang, bagaikan sebuah rumah bergaya pedesaan di Amerika.

kobe19

Saya pun melangkah masuk dan langsung terkesima.  Waaaah, kafe ini sangat nyaman!  Berbagai pernak-pernik ‘rumahan’ ditata dengan menarik, dan menimbulkan kesan akrab.  Seperti betul-betul melangkah masuk ke sebuah rumah yang pemiliknya menyambut kita dengan ramah.  Bahkan ada seekor anjing kecil berpakaian lucu yang sedang tidur di lantai.  Ia menggonggong sedikit, namun tidak galak kok!

kobe20

Saya mengambil tempat duduk di hadapan sebuah meja yang bagian atasnya diganti kaca, sehingga kita bisa melihat berbagai peralatan menjahit seperti kancing dan benang yang dipajang di bagian dalam meja.  Saya memesan secangkir kopi dan pai apel.  Ibu-ibu yang melayani sangatlah ramah.  Bahasa Inggrisnya terbatas (sementara bahasa Jepang saya terbatas), sehingga kami pun terbata-bata bercakap-cakap.  Ia menanyakan apakah saya sedang liburan, dan saya berasal dari mana.  Kebetulan ada peta dunia tergantung di dinding.  Saya pun menunjuk Indonesia.  Saya juga jelaskan bahwa adik saya kebetulan sedang berkuliah di Tokyo, dan saya ada di Jepang saat itu antara lain untuk mengunjunginya.  Si ibu pun memuji adik saya.  Percakapan ramah ini membuat saya semakin terkesan saja kepada kafe kecil itu.

kobe21

Setelah membayar dan berpamitan, saya keluar kembali ke jalanan Kobe, yang kini sudah mulai gelap.  Maklumlah musim dingin, matahari terbenam cepat sekali.  Saya kembali ke masjid untuk salat.  Kelar tunaikan salat Magrib, saya menyadari bahwa di masjid ini saya mendengar sesuatu yang rasanya baru sekali itu saya dengar di kawasan perumahan di Jepang: gelak-tawa nyaring dan sorak-sorakan anak-anak yang asyik bermain dan berlari-lari.  Mungkin anak-anak itu habis mengaji di bagian belakang masjid.

Sebetulnya saya masih ingin berjalan-jalan di Kobe, namun yah…. Resikonya berjalan-jalan di musim dingin.  Cuacanya sih enak, tapi toko-toko dan objek-objek wisata juga cepat tutupnya.  Saya kembali ke Sannomiya untuk menaiki kereta kembali ke Osaka, meninggalkan lampu-lampu kota pertemuan antarbangsa sejak dahulu kala di belakang.

Takarazuka: Tempat Asal sang Empu Manga

This post is about Japan

Di sekitar Osaka, ada sejumlah kota lain yang menarik untuk dikunjungi.  Oleh karena tahun sebelumnya saya telah mengunjungi Kyoto dan Nara, tahun 2012 lalu saya memutuskan untuk melangkahkan kaki ke Takarazuka dan Kobe.  Eh, tidak tepat juga sih dibilang melangkahkan kaki.  Sebenarnya saya naik kereta, hehehe.

Oleh karena berniat menyambangi kedua kota itu dalam sehari, pagi-pagi saya sudah berangkat meninggalkan penginapan di Momodani menuju Takarazuka.  Niat utama saya adalah mengunjungi museum empu manga, Tezuka Osamu, sekaligus melihat-lihat teater Takarazuka Revue, kelompok drama kenamaan yang seluruh pemainnya berjenis kelamin perempuan.

Ada situs web yang mengatakan, paling enak ke Takarazuka naik kereta Hankyu karena stasiunnya lebih dekat ke Teater Takarazuka Revue.  Tapi untuk menaiki kereta itu saya harus meninggalkan jalur JR Loop Osaka.  Tidak mau ambil pusing, saya ambil saja kereta JR dari stasiun Osaka langsung ke Takarazuka, dengan membayar tiket sebesar 320 yen.

Image

Perjalanan ke Takarazuka cepat dan nyaman, ditemani pemandangan musim dingin dari jendela, meski ada saja yang membuat saya heran.  Ketika kereta yang saya tumpangi—kereta biasa, bukan kereta cepat (rapid)— tinggal dua stasiun lagi dari Takarazuka, kereta terlebih dahulu memasuki sebuah stasiun untuk berhenti sejenak.  Di rel sebelah, ada kereta rapid yang juga mengarah ke Takarazuka sedang berhenti, dan memperoleh prioritas lebih dulu diberangkatkan.  Nyaris semua penumpang di kereta saya buru-buru berpindah ke kereta di rel sebelah itu!  Di gerbong saya hanya tersisa dua orang lain selain saya.  Astaga!  Apakah bagi orang-orang Jepang memang setiap menit sedemikian berharga, sehingga mereka tidak sabar menunggu kereta ‘lamban’ saya melanjutkan perjalanan yang tinggal tersisa dua stasiun lagi?  Ataukah sebetulnya kereta cepat itu akan membawa mereka ke stasiun tujuan lain yang tidak disambangi kereta saya?  Entah.  Yang jelas, ketika tiba di Takarazuka, kereta saya memang telah sepi penumpang.

Dan ternyata… stasiun JR dan Hankyu di Takarazuka berseberangan saja begitu.  Memang sih, stasiun Hankyu berada di sisi yang lebih dekat dengan Teater Takarazuka Revue, tapi ya pada dasarnya keduanya hanya dipisahkan jalanan yang cukup lebar, itu pun bisa dengan mudah diseberangi dengan sebuah jembatan yang tersedia.  Saya pun melangkah mengikuti petunjuk jalan menuju Teater Takarazuka Revue.  Jalanan dan trotoar lebar-lebar, namun tidak terlihat banyak mobil berlalu-lalang di kota yang di sekitarnya terdapat perbukitan ini.

Image

Saya melewati restoran Long Fang yang cukup ternama, termasuk karena soal harganya yang mahal.  Padahal luarnya sih cukup menarik, terletak di taman yang pastinya cantik dan asri di musim bunga.  Hmmm… kali ini saya hanya bisa melihat dari luar saja.

Ketika berhasil menemukan Teater Takarazuka Revue, saya tercengang, karena ukurannya yang sungguh-sungguh tidak saya sangka.  Besaaar!  Bagaikan istana sungguhan dengan dinding abu-abu dan jendela-jendela tinggi.  Daerah sekitarnya pun ditata dengan cantik, dengan taman kecil memanjang di mana terdapat bangku-bangku dan sejumlah patung yang menggambarkan karakter-karakter dari drama-drama paling terkenal yang pernah dipentaskan Takarazuka, antara lain Rose of Versailles.  Sayang, karena masih pagi, tidak banyak kesibukan berarti terlihat di teater tersebut.  Paling-paling hanya beberapa penjaga dan petugas bersih-bersih yang terlihat.

Image

Image

Saya pun meneruskan berjalan kaki ke arah Museum Tezuka Osamu.  Dari jauh telah terlihat bangunannya yang seperti campuran antara kastil zaman dahulu dan gedung futuristik.  Di taman mungil di depannya, tegak sejumlah patung karakter yang lahir dari tangan sang empu.  Sambil menunggu lampu hijau menyala agar saya boleh menyeberang ke museum tersebut, saya memotret-motret bagian luar bangunan.  Eh, tahu-tahu saya dihampiri seorang polwan!

Sang polwan dengan sopan dalam bahasa Jepang meminta saya menghapus sejumlah foto yang barusan saya ambil.  Lho, apa pasal?  Ternyata, ada sejumlah anak TK yang di seberang sana sedang menunggu lampu lalulintas berganti tanpa sengaja ikut masuk ke dalam foto-foto saya.  Saya sungguh-sungguh tidak memperhatikan mereka karena berfokus pada bangunan museum.  Mereka masuk frame juga saya tidak sadar.  Tapi ternyata memotret mereka itu tidak boleh!  Oleh karena merasa tidak ada gunanya berdebat, saya menurut dan menghapus foto-foto itu.  Toh, masih bisa saya ambil lagi setelah anak-anak itu lewat.  Tak dinyana, sang polwan dan rekannya yang berdiri menjaga anak-anak itu di seberang sana, mengucapkan terima kasih keras-keras sambil membungkuk segala!  Waduh, sopan sekali ya.  Mau kesal atau marah ya jadi merasa tidak ada alasan.

Image

Saya melangkah masuk ke dalam museum dan membayar tiket sebesar 700 yen di aula depan, yang berhias tiang-tiang berukir dan panel-panel kaca.  Aula depan adalah satu di antara dua tempat di dalam museum di mana kita dibolehkan mengambil foto.  Tak heran di aula ini dipajang patung Sapphire, salah satu figur ikonik rekaan Tezuka, yang sangat memikat untuk dijadikan teman berfoto bareng.  Di berbagai pojok bangunan, kita juga bisa melihat detail-detail atau tiruan latar yang muncul dalam manga-manga Tezuka.

Pertama-tama saya menelusuri ruang pameran yang menuturkan tentang kehidupan Tezuka, dari masa kecilnya sampai menjadi sosok yang barangkali paling berpengaruh dalam sejarah manga dan animasi Jepang.  Dari situ, saya menuju ke lantai dua.  Kebetulan, ketika saya datang, ada pameran istimewa karya-karya Nagai Goh.  Hmmm… saya memang menikmati sejumlah animasi yang diangkat dari karyanya seperti Mazinger – versi jaman dahulu yang merupakan hasil tonedown berkali-kali lipat dari komiknya.  Kalau manga-manga Nagai Goh sendiri, misalnya Devilman, terus terang tidak nyambung dengan selera saya.  Namun seru juga melihat bagaimana Mazinger disandingkan dengan Atom Boy, si robot kecil buah karya Tezuka, yang sama-sama merupakan impian futuristik Jepang beberapa dasawarsa lalu.

Image

Di lantai dua juga ada sebuah toko cenderamata serba Tezuka (bahaya! Bahaya bagi kantong Anda!), area aktivitas untuk anak-anak maupun remaja, dan sejumlah koleksi lagi.  Dari lantai ini, dengan menumpangi lift saya turun ke lantai bawah tanah.  Di sini kita bisa belajar dasar-dasar membuat animasi.  Sayang, karena diburu-buru jadwal yang telah saya tetapkan untuk ke Kobe, saya terpaksa menolak tawaran ramah kedua petugas di area tersebut.  Saya kembali ke aula lantai satu, meminta tolong petugas untuk memfotokan saya bersama patung Sapphire (inilah risiko bepergian sendirian: bingung mencari orang yang mau membantu memotret kita!), kemudian meninggalkan museum tersebut di bawah rintik hujan, balik ke stasiun JR untuk mengambil kereta ke Kobe sebelum hari terlanjur terlalu sore.

Berikutnya: Kobe, kota bangunan tua bergaya Eropa dan tempat percampuran budaya

Sekilas Osaka, Desember 2012

This post is about Japan

Kansai International Airport!

Ah, akhirnya.  Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang—karena pakai transit segala beberapa jam di Kuala Lumpur, maklumlah pakai AirAsia—akhirnya saya menginjakkan kaki juga di bandara yang punya kode nama KIX ini.

osaka01

Saat itu 21 Desember 2012.  Udara di dalam bandara yang sejuk tidak mempersiapkan saya untuk udara dingin menggigit di luar.  Ah, ternyata suhu dalam bandara tadi adalah produk mesin pengatur suhu udara.  Pikiran yang sempat meremehkan “Ah, apakah musim dingin hanya segini suhunya?” kontan terhapus.

Saya ke Jepang di bulan Desember sebenarnya bukan hendak mengejar suhu yang membuat gigi bergemeretak itu.  Saya berhasil memperoleh tiket untuk menyaksikan konser band kesayangan saya, LUNA SEA, pada tanggal 23 Desember di Osaka Jou Hall.  Akhirnya, mumpung akhir tahun, saya rencanakan saja perjalanan saya selama 12 hari, tidak hanya ke daerah Kansai, melainkan juga ke Tokyo.  Kebetulan, tahun 2011 saya belum ke Osaka.  Dan sekalianlah ikut mencicipi Natal dan Tahun Baru di Jepang.  Kebetulan, salah seorang adik saya sekarang bermukim di Tokyo.  Selain itu, saya juga berniat menghadiri pertunjukan musik band-band lain—tapi soal ini saya tulis di blog lain yang khusus mengenai konser.

Sarapan sejenak di KIX. Sederhana, tapi nikmat!

Sarapan sejenak di KIX. Sederhana, tapi nikmat!

Pergi di akhir tahun saat peak season sebenarnya memang suatu hal yang ‘nekad’, apalagi saya tidak bisa membeli tiket pesawat terlalu jauh-jauh hari.  Bukan apa-apa, saya menunggu kepastian memperoleh tiket LUNA SEA dulu.  Perasaan menggebu ingin menonton mereka lagi membuat saya pasrah.  Saya sudah bersiap-siap membayar harga tiket pesawat yang membumbung.  Apalagi setelah mencek situs sejumlah maskapai, harga tiket pulang-pergi ya rata-rata 12 juta.  Pening juga dibuatnya, tapi apa boleh buat.

Alhamdulillah, ketika suatu hari saya iseng membuka situs AirAsia dan memasukkan tanggal berangkat 20 Desember ke Osaka dan tanggal pulang 1 Januari dari Tokyo, saya ternyata masih bisa memperoleh tiket pulang-pergi dengan harga total 6 juta!  Tanpa pikir panjang saya langsung sambar tiket-tiket itu.  Saya rasa saya sudah cukup beruntung mendapat harga segitu, mengingat saya membeli tiket dalam waktu yang cukup mepet dan untuk peak season.

Stasiun kereta di KIX yang menghubungkan bandara tersebut dengan berbagai kota di Kansai.

Stasiun kereta di KIX yang menghubungkan bandara tersebut dengan berbagai kota di Kansai.

Terlebih lagi, jadwal terbang yang saya peroleh sangat menyenangkan.  Berangkat sore dari Jakarta, tiba di Osaka pagi.  Sementara pesawat pulang dari Tokyo (Bandara Haneda) berangkat saat waktu hampir tengah malam.  Berarti jadwal bisa dimaksimalkan!  Yes!  Jepang, saya datang kembali!

Dari KIX, tersedia berbagai macam moda transportasi, tidak hanya menuju Osaka melainkan juga kota-kota lain di sekitarnya seperti Kobe, Kyoto, dan lain sebagainya.  Saya menumpang Kansai Airport Rail dengan harga karcis 1030 yen untuk menuju tempat saya menginap, Bonsai Guest House.  Harga segitu rupanya sudah termasuk tiket JR Osaka Loop Line, kereta yang jalurnya melingkar di pusat Osaka dan menghubungkan berbagai tempat penting.

osaka04

Seperti juga di kota-kota lain di Jepang, kereta di Osaka bersih dan tepat waktu.

Seperti juga di kota-kota lain di Jepang, kereta di Osaka bersih dan tepat waktu.

Bonsai Guest House yang terletak hanya seratus langkah dari stasiun Loop Line yang bernama Momodani.  Pilihan saya jatuhkan ke guest house yang satu ini karena tarifnya murah, dan hanya berjarak empat stasiun dari Osaka Jou-Kouen, stasiun terdekat dengan Osaka Jou-Hall.  Dan ternyata tempatnya memang strategis: mereka tidak bohong ketika mengklaim guest house mereka dekat dengan stasiun, karena memang dekat!  Selain itu, hanya dalam hitungan langkah, ada kombini Lawson serta cabang McDonald’s, Yoshinoya,  dan Mister Donut.  Ada pula sebuah jalan pertokoan bernaung atap, di mana terdapat banyak toko dan restoran, mulai dari buku, oleh-oleh, sampai CD.  Intinya, mencari makan dan keperluan tidak susah.  Staf juga bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Ruang bersama Bonsai Guest House.

Ruang bersama Bonsai Guest House.

Yoshinoya: penyelamat perut.

Yoshinoya: penyelamat perut.

Seusai menitipkan bawaan ke guest house (karena belum bisa check-in), saya memutuskan berkeliaran saja di Osaka.  Bukannya ke Namba yang merupakan salah satu daerah Osaka paling ternama, saya malah memilih ke Tennouji.  Di sekitar stasiun Tennouji ada Kuil Shitennouji, kebun binatang, wilayah perbelanjaan Shinsekai lengkap dengan Menara Tsutenkaku yang ikonik.

Dari stasiun Tennouji, saya berjalan kaki menyusuri taman dan jalan-jalan setapak yang nyaman, namun cukup panjang juga.  Ternyata kebun binatang sepertinya sedang direnovasi.  Tidak ada tanda-tanda aktivitas pengunjung yang bisa saya lihat.  Museum Seni juga tidak tampak buka.  Waduh!

osaka08

Kebun binatang... lho kok sepi?

Kebun binatang… lho kok sepi?

Untunglah Shinsekai cukup ramai.  Wilayah perbelanjaan ini ‘didandani’ sehingga bernuansa Osaka tahun 1950-1960-an.  Meriah!  Banyak pula tempat permainan pachinko, tapi yang itu saya tidak ikut-ikutan deh, hehehe.  Di beberapa jalan kecil juga ada tempat-tempat hiburan malam yang tanpa malu-malu memajang poster perempuan telanjang di sebelah depan.  Padahal, saya pikir, anak-anak kecil bisa saja berlalu-lalang melewati lorong-lorong itu.  Apa tidak ada yang keberatan, ya.

Saya sempat mencicipi takoyaki yang dijual di pinggir jalan.  Hmmm, lezat sekali, panas-panas di tengah udara dingin.

Salah satu gerbang ke Shinsekai.

Salah satu gerbang ke Shinsekai.

osaka11

Shinsekai yang bergaya zaman Showa, dengan Menara Tsutenkaku di sebelah belakang.

Shinsekai yang bergaya zaman Showa, dengan Menara Tsutenkaku di sebelah belakang.

Takoyaki-nya enak, pake banget!

Takoyaki-nya enak, pake banget!

Dari Shinsekai, saya mencoba memaksakan diri berjalan lagi mencari Kuil Shitennouji.  Aduh, tapi ternyata saya yang belum sempat beristirahat setelah perjalanan panjang dari Jakarta, keburu merasa lelah.  Jalanannya menanjak pula.  Saya pun memutuskan kembali ke guest house saja untuk check-in dan menelusuri daerah sekitar penginapan.  Berhubung musim dingin, toko-toko cepat juga tutupnya.  Dan langit sudah luar biasa gelap sejak pukul 5 sore!

Keesokan harinya, saya pergi ke Takarazuka dan Kobe.  Kedua kota ini nanti akan saya ceritakan dalam post tersendiri.  Tanggal 23, saya pergi ke stasiun Osaka guna membeli tiket Shinkansen ke Tokyo untuk keesokan paginya.  Saya sengaja membeli tiket ‘non-reserved’, yang berarti saya boleh menaiki kereta Shinkansen kapan saja esok harinya selama masih ada kursi di gerbong non-reserved.  Shinkansen berangkat dari stasiun Shin-Osaka, tapi tiketnya bisa dibeli di stasiun Osaka.

Stasiun Osaka.

Stasiun Osaka.

Kemudian saya menghabiskan pagi berusaha pergi ke Dotombori, tapi malah rada ‘tersesat’ di pusat perbelanjaan bawah tanah di sekitar stasiun JR Namba/OCAT (Osaka City Air Terminal).  Akhirnya karena dikejar waktu untuk menonton konser, saya batalkan niat melihat-lihat Namba dan Dotombori lebih jauh.  Saya membeli makan di cook deli yang menjual berbagai macam bento siap makan ataupun lauk saja.  Lumayan kalau punya pantangan, kita jadi bisa pilih-pilih.  Saya pun bersiap-siap pergi ke Osaka Jou Hall untuk menonton konser yang berlangsung sampai malam.

Bagian depan stasiun JR Namba/OCAT.

Bagian depan stasiun JR Namba/OCAT.

osaka15

osaka16

Haha, yah, lumayan juga sih.  Memang jadinya sedikit sekali yang saya telah kunjungi di Osaka, dibandingkan dengan banyaknya atraksi yang ditawarkan kota tersebut.  Teman-teman saya yang sangat menyukai Osaka bisa-bisa protes nih karena sedikitnya waktu yang saya habiskan di kota tersebut.  Tapi, hei, ini bisa jadi alasan untuk kembali ke sana, bukan?

Tokyo: Dari Meiji-Jingu ke Tokyo Tower

This post is about Japan

Perhatikan baik-baik foto di bawah ini.  Kira-kira dalam bayangan Anda, foto ini saya ambil di kawasan pedesaan, ataukah di perkotaan?

Meski barangkali hal pertama yang terlintas di benak saat melihat foto ini adalah pedesaan yang jauh dari kota, namun sebenarnya foto ini saya ambil di Tokyo.  Ya, di tengah megapolitan yang dihuni puluhan juta orang, masih bisa kita temui hutan lebat dan sungai bersih yang mengalir.  Walaupun sebenarnya foto ini adalah foto taman di kompleks kuil Asakusa.  Tapi nanti di bawah akan saya tunjukkan tempat yang masih pantas kita sebut ‘hutan di tengah Tokyo’ itu.

Saya mungkin jadi terdengar klise seperti banyak orang bila membicarakan Jepang yang dengan enaknya ‘menubrukkan’ berbagai dunia yang tampak bertentangan.  Tapi seperti yang saya pernah katakan dalam tulisan saya mengenai Nara, memang begitulah adanya.  Dalam tulisan penutup dari deretan tulisan kami mengenai Jepang kali ini, saya akan mengajak Anda menengok beberapa lagi tempat menarik di Tokyo, kota mahaluas yang begitu penuh paradoks.

Saya kira salah satu pertanyaan yang paling kerap diajukan orang yang hendak berkunjung ke Jepang dengan anggaran tidak seberapa besar adalah “Bukankah Jepang mahal?”  Iya.  Itu tidak akan saya pungkiri.  Apalagi yen Jepang tampak enak-enak saja bercokol di posisi tukar yang tinggi terhadap rupiah.  Namun banyak cara mengakali pos pengeluaran selama di Jepang, antara lain: banyak-banyak berjalan kaki.  Dari Shibuya sampai Shinjuku, bisa kok ditempuh berjalan kaki, misalnya.  Lagipula, tak hanya menghemat, dengan berjalan kaki kita pun bisa melihat berbagai hal yang tak akan terlihat bila kita berada di atas kereta.

Detail Stasiun Shibuya, yang menuturkan kisah Hachiko si anjing setia.

Berjalan kaki juga memang seringkali menjadi satu-satunya cara untuk mendatangi pelosok-pelosok seperti Meiji Jingu yang ‘tersembunyi’ cukup jauh di dalam hutan seluas 175 ekar.  Memimpikan ada ojek yang selalu siap mengantar kita ke mana pun tentu saja… hanya mimpi.

Torii menuju Meiji Jingu.

Deretan gentong sake yang dipersembahkan ke Meiji Jingu.

Kenang-kenangan gratis dan unik: cap Meiji Jingu.

Mungkin kami cukup beruntung. Dua kali menyaksikan arak-arakan pernikahan tradisional. Sekali di Tokyo, sekali di Kyoto.

Berjalan kakilah membelah keramaian anak muda yang berkumpul di Harajuku, merayakan sedikit kebebasan terutama di akhir minggu dengan berpakaian sesuka-suka mereka, bebas dari kewajiban berpakaian rapi dan sopan dalam keseharian mereka.

Wajah khas Stasiun Harajuku.

Bagian dalam family resto yang cukup terkenal, Jonathan’s.

Sudut-sudut Harajuku.

Berjalanlah dari stasiun kereta bawah tanah Asakusa, melewati gerbang bernama Kanarimon; lantas menyusuri Nakamise-dori yang ramai oleh kios-kios kecil (dan bila hari panas, belilah es krim ubi kuning yang segar – tentu tak keberatan menyantapnya sambil berdiri?); lagi melewati gerbang lain yang kali ini disebut Hozomon, sampai akhirnya tiba di bagian utama kuil Asakusa Kannon (Sensoji).  Dan seperti juga banyak kuil Buddha lain di Jepang, tidak ada yang keberatan kuil ini berdiri masih satu kompleks dengan kuil Shinto – Asakusa Jinja.

Nakamise-dori.

Es krim ubi kuning? Enak. Percayalah.

Mensucikan diri sebelum beribadah.

Berjalanlah melewati perkantoran modern setelah turun di stasiun Hamamatsucho, menuju Tokyo Tower.  Tetap percaya diri meskipun pakaian kita jelas menunjukkan kita adalah pengelana yang berpakaian seadanya saja yang kita bawa, sungguh berbeda dari orang-orang kantoran Tokyo yang selalu berjas rapi dan tampak bersih. Sempatkan diri mampir di kuil keluarga Tokugawa, Zojoji.

Zojoji dengan Tokyo Tower di latar belakang.

Berjalanlah menelusuri jalan kecil di samping Zojoji, semakin dekat ke Tokyo Tower, dan resapi aura yang menusuk, mengharukan, melihat jejeran jizo yang dipersembahkan bagi anak-anak yang meninggal dalam kandungan ataupun saat dilahirkan.  Para orang tua yang datang masih sering mempersembahkan mainan di depan jizo-jizo itu, seolah berharap di dunia sana anak mereka bisa tetap bermain seperti seharusnya apabila mereka terus hidup.

Berjalan?  Ke puncak Tokyo Tower?  Wah, ya jangan.  Naik elevator dong, hehe.  Tapi… berhubung saya belum sempat naik ke Tokyo Tower, hanya nampang doang di bagian bawahnya, barangkali ada di antara yang telah mencobanya mau berbagi cerita lebih mendetail?

Kaki Tokyo Tower.

Jepang.  Saya menanti hari saya bisa kembali menapakkan kaki berjalan menyusuri trotoar-trotoarnya yang nyaman, dan jalan-jalannya yang meskipun ramai namun tetap bisa teratur.  Ramai tapi teratur – apakah itu paradoks lagi?  Lagi-lagi klisekah saya?  Ah, pentingkah sesuatu itu klise atau tidak – bila yang tersaji adalah harmoni?

Buddha Raksasa dan Rusa di Nara

This post is about Japan

Ketika kita membayangkan segenap Jepang tak ubahnya bagai megapolitan Tokyo, di mana teknologi tinggi bertubrukan ramai dengan unsur-unsur tradisional yang tampak mewah seperti Asakusa yang ramai pengunjung, terlupa oleh kita bahwa masih banyak daerah di Jepang yang berupa hutan, pedesaan, dan persawahan.  Itulah yang tampak oleh kami dalam perjalanan kereta dari Kyoto ke Nara yang tidak memakan waktu begitu lama (menurut ukuran orang Jakarta, tentu saja).  Rumah-rumah yang tampak sederhana terkadang diselingi oleh bangunan yang hanya bisa disebut gubuk.  Orang-orang berjalan kaki atau bersepeda melintasi pematang sawah.  Ini sisi Jepang yang bagi saya juga menarik.  Di luar segala hiruk-pikuk kota-kota besarnya, Jepang yang permai masih luas terhampar.  Ah, ya, meskipun satu kali terlihat oleh kami pengguna sepeda yang dengan andalnya memainkan telepon genggam dengan sebelah tangan seraya terus menggenjot sepedanya…

Kami turun dari kereta di stasiun Kintetsu Nara, bukan di stasiun Nara.  Kintetsu Nara lebih dekat dengan objek utama yang hendak kami tengok hari itu: Todai-ji, di mana terdapat salah satu daibutsu (patung Buddha raksasa) kenamaan di Jepang.  Ceritanya, mau membalaskan ‘penasaran’ karena gagal melihat daibutsu di Nara.  Todai-ji tercapai dengan berjalan kaki dari Kintetsu Nara, meski bila Anda ingin menghamburkan uang sedikit, bisa saja naik bis sebentar menempuh perjalanan singkat itu.  Bukan masalah perjalanannya yang singkat, tapi apa yang akan Anda lewatkan bila hanya melihat-lihat dari balik kaca jendela bis: rusa.

Ya, rusa.  Kota kecil ini kesohor ke seantero Jepang antara lain karena rusa-rusanya yang bebas berseliweran di mana-mana.  Bahkan para pengemudi mobil yang tadinya melaju kencang karena jalanan yang tidak terlalu ramai, selalu siap sedia melambatkan atau bahkan menghentikan sebentar kendaraannya agar rusa bisa menyeberang jalan dengan aman dan damai.  Rusa dianggap hewan suci yang melindungi kota Nara, sehingga tak ada yang berani mengusik mereka.   Maskot kota Nara saat ini – Sento-kun – juga menyandang rangga rusa di kepalanya.  Jangan heran pula, ada penganan oleh-oleh dari Nara yang berbentuk… kotoran rusa.  Jijik-jijik lucu.

Inilah Sento-kun.

Rusa, rusa di mana-mana…

Yang ini tampangnya lumayan ramah nih. Makanya bisa didekati dari depan sampai jarak segini.

Bekas ibukota Jepang di abad ke-8 Masehi ini – pada periode yang karenanya dikenal sebagai ‘periode Nara’ – juga bertaburkan kuil Buddha di berbagai sudutnya.  Beberapa orang biksu terlihat berdiri di beberapa tempat, membacakan doa-doa sambil memegang wadah tempat menampung sedekah.  Salah satunya kami lihat di tepi air mancur yang terlihat oleh kami sewaktu baru keluar dari Kintetsu Nara.  Beberapa menit saya perhatikan, tak ada yang memberinya barang sekeping dua keping sekalipun.  Entah mengapa.  Di Tokyo juga saya pernah melihat dua peminta sumbangan sampai membungkuk-bungkuk memohon kesediaan orang-orang yang berlalu-lalang untuk beramal.  Apakah orang-orang lain khawatir mereka penipu?  Entahlah.

Air mancur di dekat Kintetsu Nara, dan sang biksu yang tidak dipedulikan orang.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami masuk ke salah sebuah rumah makan bergaya tradisional di lorong perbelanjaan di samping Kintetsu Nara.  Yang melayani sudah agak berumur.  Dua tamu lain selain kami di ruang depan pun juga tidak lagi muda.  Namun deretan manga shounen yang dipajang berjejer di lemari dinding menunjukkan tanda napas muda di kedai itu.  Lagipula, sepertinya ada lagi ruang makan di sebelah belakang, yang tidak kami tengok sedikit pun.  Sudah cukup langsung mengisi perut yang kelaparan dengan sajian soba dan yakitori yang luar biasa enaknya.

Lorong pertokoan dekat Kintetsu Nara.

Soba dingin, memang paling nikmat disantap di hari panas!

Keluar dari rumah makan, kami kembali ke rute semula: menuju ke timur, menyusuri jalan yang agak menanjak, sambil agak main halang-rintang dengan rusa-rusa yang di Nara tidak bisa kita katai ‘Emangnya jalannya engkong lo’ – karena di kota ini memang mereka ‘pemilik’ jalanan.  Hati-hati.  Tidak semua rusa ramah dan mau dielus.  Lihat-lihat juga tampang dan gelagatnya sebelum Anda mencoba beramah-tamah dengan anggota keluarga rusa.  Yah, ada juga sih rusa-rusa yang justru sok akrab, menarik-narik pakaian atau tas ataupun menggesek-gesekkan moncong ke orang yang lewat.   Tapi ya, paling mungkin akan lebih aman beramah-tamah dengan penarik jinrikisha yang siap mengantar Anda melihat-lihat Nara.

Saat berjalan ke arah Todai-ji, sejumlah museum di sebelah kanan kami terpaksa dilewatkan, meskipun tampak mengundang: Museum Harta Nasional dan Museum Nasional Nara.  Apa daya, kunjungan ke Nara ini memang hanya day-trip yang baru kami putuskan malam sebelumnya, ketika bingung keesokan harinya hendak berkunjung ke mana lagi, saking banyaknya pilihan tersedia di tangan.

Tiba di kompleks Todai-ji, kami tidak langsung berhadapan wajah dengan sang Buddha raksasa.  Terlebih dahulu kami menyusuri jalan yang di satu sisinya berjejer kedai dan kios penjual cenderamata.  Rusa?  Oh ya, tentunya, tidak usah ditanya.  Dan anak sekolah.  Banyak sekali anak sekolah.  Ternyata kedatangan kami berbarengan dengan rombongan demi rombongan anak sekolah yang tidak terkira banyaknya.

Boleh dicoba: wasabibashi. Seperti sushi tapi tidak dibungkus dengan nori (rumput laut), dijual oleh Umemori.

Pengunjung masuk melewati Nandaimon (Gerbang Selatan), struktur yang berukuran besar sekali (bahkan merupakan gerbang terbesar di Jepang) dan terbuat dari kayu.  Usianya sudah 7 abad.  Tak heran, gerbang ini ditetapkan sebagai salah satu Harta Nasional Jepang.  Di Nandaimon ini, terdapat 2 patung penjaga yang disebut Nio.  Yang mulutnya terkatup dikenal sebagai Ungyo, sementara yang mulutnya terbuka dikenal sebagai Agyo.

Nandaimon. Perhatikan manusia-manusia yang jadi terlihat seperti kurcaci ketika berdiri di bawah gerbang raksasa ini.

Nah, sudah tahu dong yang mana ‘Ungyo’ yang mana ‘Agyo’?

Dari Nandaimon, kami terus melangkah sampai ke Chumon, dan baru kemudian ke Daibutsuden, aula tempat patung Buddha raksasa bersemayam.  Patungnya saja raksasa, tentunya aulanya juga.  Betul-betul diri terasa kecil ketika telah berada di dekat bangunan itu.

Daibutsu-den dari kejauhan.

Daibutsu Nara dengan tingginya yang mencapai 16 meter sungguh mengagumkan.  Kepalanya menjulang jauh di atas kami, mengharuskan kami mendongak senantiasa untuk melihat wujudnya.  Patung perunggu ini – dan juga struktur-struktur lain di kompleks Todai-ji – telah mengalami kerusakan beberapa kali akibat gempa, dan diperbaiki.  Hati jadi bergetar mengingat bahwa kompleks ini telah berdiri sejak abad ke-8 Masehi!

Bila mengitari Daibutsu, kita juga bisa melihat patung Bishamonten dan Komukuten serta maket lengkap wujud asli kompleks kuil, yang menampilkan juga model sejumlah bangunan yang sudah tidak ada.  Untuk yang ingin mencoba peruntungan, ada sebuah lubang di salah satu tiang penyangga Daibutsuden.  Konon yang bisa melewatinya, akan beroleh berkah di kehidupan nanti.  Sayang saya tidak sempat mencobanya, meski hanya untuk menunjukkan bahwa saya masih cukup langsing untuk melewati sebuah lubang berukuran kecil…

Sang Daibutsu.

Patung Komukuten.

Sementara di teras kanan depan, terdapat sebuah patung kayu yang tampak agak menyeramkan karena bagian wajahnya mulai rusak digerus waktu.  Namun patung yang diberi pakaian berwarna merah ini pun banyak disembahyangi dan disentuh orang.  Ternyata ini adalah perwujudan Bizuru (Pindola Bharadvaja), salah seorang dari enam belas arahat atau murid Sang Buddha.  Orang Jepang percaya, bila kita mengelus bagian patung Pindola yang berkesesuaian dengan bagian tubuh kita yang sakit, maka penyakit itu akan hilang.

Patung Pindola yang bertuah.

Pekarangan Todai-ji, dilihat dari teras luar Daibutsu-den.

Di antara asap hio yang menyesakkan hidung dan memedihkan mata, serta para peziarah yang khusyuk bersembahyang, murid-murid sekolah asyik berfoto dengan gaya ‘unyu’, termasuk sambil membelakangi Daibutsu.  Ini bukan masalah rupanya di Jepang.  Di beberapa negara lain, misalnya Thailand, Anda tidak boleh menunjukkan punggung kepada Buddha.  Pun di dalam Daibutsu-en, terdapat kios-kios yang menjual cenderamata khusus Todai-ji.  Urusan komersial bukan hal tabu dilakukan di dalam bangunan yang semestinya untuk beribadah.  Untuk yang hendak beramal, bisa juga, dengan cara menyumbangkan uang untuk membeli sebilah genting yang akan ditulisi nama kita dan digunakan mengganti atap bangunan-bangunan Todai-ji yang telah rusak.

Yang modern dan yang tradisional.  Yang fana dan yang baka.  Pada akhirnya, seperti juga banyak orang asing lain, saya tak habis pikir bagaimana bangsa Jepang dengan mulusnya bisa menyelaraskan hal-hal yang tampak bertentangan itu.  Termasuk di sini, di Todai-ji.

Ueno dan Pameran Buddha Tezuka Osamu

This post is about Japan

Kalau menilik kalimat terakhir pada tulisan saya sebelumnya, maka sekarang ini seharusnya saya membahas tentang Nara, ya?  Tetapi bolehlah saya tunda niat menulis tentang Nara sejenak, dan beralih ke Tokyo (yang, setelah dipikir-pikir, masih sedikit kami bahas).  Tepatnya ke Ueno, di mana terdapat sejumlah museum yang amat memikat, juga taman, kompleks pemakaman, dan kebun binatang.  Malah sebenarnya, Ueno-lah tempat pertama yang kami kunjungi begitu tiba di Jepang.

Begitu keluar dari Stasiun Ueno yang terletak di jalur Yamanote, Hibiya, dan Ginza, kami langsung disambut oleh rindangnya pepohonan.  Sejumlah bangunan – Museum Nasional Seni Barat dan Aula Festival Metropolitan Tokyo – langsung menggoda mata, mengundang masuk.  Namun berhubung lapar, kami malah melipir dulu ke Green Salon Cafe, dengan berbagai kare andalannya, untuk mengisi perut.  Setelah tenaga kembali tersedia, barulah kami kembali ke rencana awal: mengunjungi museum.  Tapi… museum yang mana?

Aula Festival Metropolitan Tokyo.

Kebun binatang sudah sedari awal kami coret dari daftar kunjungan karena keterbatasan waktu.  Kami terpaksa melewatkan yang berikut ini dan hanya melihat-lihat dari luar:

-          Museum Nasional Seni Barat (Kokuritsu Seiyo Bijutsukan) – yang banyak menyimpan karya-karya Rodin, termasuk satu dari sedikit cetakan perunggu Gates of Hell, El Greco, Monet, Renoir, dan lain-lain.

-          Museum Sains Museum, dengan model paus biru raksasa di sebelah luarnya.

Di kompleks Ueno ini juga ada Museum Seni Metropolitan Tokyo.

Cetakan perunggu ‘Gates of Hell’ karya Rodin.

Lokomotif tua di depan Museum Sains Nasional.

Kami langsung menuju Museum Nasional Tokyo, dan dengan suka cita melihat baliho di sebelah luar yang menyatakan bahwa sedang berlangsung pameran khusus Buddha karya Tezuka Osamu!  Sungguh kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan!  (Kita yang di Indonesia beruntung karena karya ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.  Sementara animasi yang didasarkan pada manga ini pun akan ditayangkan di bioskop-bioskop kita tahun 2012 ini.)  Dengan merelakan uang 800 yen, kami pun memperoleh tiket masuk ke Museum Nasional.

Bagi orang-orang yang sangat menyenangi museum tapi tinggal di negeri yang masih kekurangan museum yang bagus, melihat Museum Nasional Tokyo dari luar pun sudah cukup membuat hati bergetar karena merasa asyik dan… panik.  Lho, kok panik?  Ya, habisnya, apa sempat menjelajahi semuanya seharian?  Apa sempat kami tengok semua koleksinya?

Ada sejumlah gedung dalam kompleks Museum Nasional Tokyo, yang saling tersambung sehingga mudah untuk dikunjungi:

-          Honkan, bangunan utama, tempat koleksi permanen seni Jepang.

-          Houryuu-ji Houmotsukan, yang menyimpan galeri harta karun tak ternilai dari kuil Buddha Houryuu-ji di barat daya Nara.

-          Touyoukan, yang memamerkan seni dan artefak Asia.

-          Hyoukeikan tempat pameran khusus.

-          Heiseikan, galeri arkeologi Jepang.

Yang pertama kami datangi adalah Honkan, di mana pameran Buddha sedang dilangsungkan.  Tidak hanya kami berkesempatan melihat halaman-halaman asli manga Buddha hasil garapan tangan Tezuka Osamu, melainkan juga artefak-artefak yang mengilhami dan menjadi model Siddharta dalam manga tersebut.  Artefak-artefak Buddha yang menggambarkan Buddha dari berbagai usia dengan beraneka pose itu juga berasal dari tempat yang berbeda-beda, mulai dari India, Afganistan, Cina, sampai dari Jepang sendiri.  Sungguh mengingatkan betapa pernah sedemikian tersebar luas keyakinan ini.  Beribu maaf, kami tidak boleh mengambil foto di pameran ini.

Arca Buddha ini dipajang di luar pameran Tezuka Osamu, sehingga saya boleh memotretnya.

Di pintu keluar ruang pameran khusus itu, kami disambut pernak-pernik pameran Buddha tersebut, juga karya-karya Tezuka lain seperti Tetsuwan Atom, yang dijual dengan harga cukup menggoda.  Benak pun terombang-ambing antara  kesadaran bahwa barang-barang ini sulit diperoleh, dan rasa ngeri langsung membelanjakan banyak uang di hari pertama.  Tak ayal saya beli juga beberapa kartu pos.

Sebelum sempat kalap (apalagi kami tahu bahwa museum ini pun memiliki toko cenderamata tersendiri di luar kios khusus Buddha itu), kami pun mulai menelusuri ruang demi ruang di Honkan dan Heiseikan – hanya dua bangunan ini yang bisa kami jajal hari itu.

Oh ya, untuk catatan, di dalam museum boleh memotret, namun perhatikan tanda pada setiap pajangan karena ada sebagian pajangan yang tidak boleh dipotret.  Apa pun alasannya dilarang – mungkin karena barang yang dimaksud dianggap sangat berharga atau sangat suci – sebaiknya kita hormati larangan ini.

Honkan terbagi atas 9 ruangan.  Beginilah isi masing-masing ruangan, yang saya tuliskan dalam bahasa Inggris sesuai brosurnya.

-          1[1]: The Dawn of Japanese Art, yang menampilkan karya-karya dari zaman Jomon, Yayoi, dan Kofun.

-          1[2]: The Rise of Buddhism

-          2: National Treasure Gallery

-          3[1] dan 3[2]: Buddhist and Courtly Art

-          3[3]: Zen and Ink Paintings

-          4: The Art of Tea Ceremony

-          5 dan 6: Attire of the Military Elite, di mana kita bisa melihat baju zirah para ksatria zaman dahulu, juga pedang-pedang bersejarah.

-          7: Folding Screen and Sliding Door Paintings

-          8[1]: The Arts of Daily Life

-          8[2]: Developments in Painting and Calligraphy

-          9: Noh and Kabuki.  Kita bisa melihat berbagai kostum dan topeng yang dikenakan para aktor.

-          10: Fashion in the Edo Period, Ukiyo-e in the Edo Period

Heiseikan pun sangat menarik, dengan koleksi berbagai artefak arkeologi yang mendokumentasikan perkembangan Jepang dari zaman ke zaman.  Sebagian temuan dari masa lalu ini sekilas tidak terbayangkan merupakan karya para penduduk Jepang di zaman dahulu.  Sungguh jauh berbeda dengan apa yang lekat dengan bayangan kita tentang budaya Jepang sekarang.  Bahkan ada makam tua segala dipamerkan di sini.  Penataan yang memikat dan informasi pendamping yang tersaji membuat kami lupa akan waktu yang berlalu.  Di dalam museum kami berada di masa lalu, seolah tidak sejalan dengan perjalanan matahari di langit di luar.

Jendela kaca pada lorong yang menghubungkan Honkan dengan Heiseikan ini menampakkan taman di luar.

Di lorong pun, ada berbagai pajangan yang bisa dinikmati.

Peninggalan nenek-moyang orang Jepang dari zaman Jomon.

Uh… tak terasa hari sudah sore.  Sejam lagi museum akan ditutup, namun kami belum mengunjungi toko cenderamata yang terletak di bawah tanah.  Saya bergegas ke situ, dan, duh… Sejam sih juga mana cukup di toko ini?  Begitu banyak cenderamata yang seperti memekik minta dibawa pulang!

Ketika akhirnya kami melangkah keluar dari kompleks museum, kami pun menyegarkan diri dengan es krim lembut yang kami beli dari truk yang memang mangkal di dekat museum.  Kami duduk-duduk di depan Museum Sains Nasional dan bermain dengan beberapa ekor anjing yang dibawa berjalan-jalan oleh kakek pemilik mereka.  Hari pertama yang mengesankan di Jepang bersama kenangan dari masa lalu negara ini.

Orang Indonesia di Kyoto

This post is about Japan

Bukan, judul ini bukan tentang kami.  Meski, ya, benar sih.  Kami memang bepergian ke Kyoto.  Melainkan tentang seseorang yang tanpa kami duga-duga bertemu dengan kami di bekas ibukota kekaisaran Jepang tersebut.

Kami tiba di Kyoto pagi-pagi sekali.  Bis malam yang kami tumpangi dari Tokyo tiba tepat waktu sesuai perkiraan yang diberikan kepada kami.  Bis yang nyaman, jalanan yang mulus, dan cara mengemudi yang meyakinkan membuat kami tidak terlalu lelah meski telah menghabiskan waktu semalaman di bis.  Agak pegal sedikit sih iya, namanya juga naik kendaraan berjam-jam.

Kami diturunkan di seberang stasiun pusat Kyoto.  Di sini jalur-jalur kereta antarkota dan dalam kota bertemu.  Bangunannya besar dan modern.  Kami pun melangkah ke stasiun tersebut guna membersihkan diri sejenak di kamar mandi.  Hmmm… ternyata kamar mandinya biasa-biasa saja.  Jangankan washlet, tisu pun tidak gratis.  Selain kami, sejumlah penumpang lain juga tampak mencuci muka, menyikat gigi, dan berdandan di kamar mandi.

Satu per satu orang mulai bermunculan di stasiun yang masih sepi, meski tetap belum banyak kegiatan berarti.  Orang-orang belum lagi berangkat kerja atau sekolah.  Kami mampir ke McD’s cabang stasiun itu untuk sarapan.  Mata menjadi melek penuh ‘dihajar’ kopi panas yang disajikan.  Setelah perut terganjal, kami pun mencari-cari loker untuk meletakkan tas-tas kami yang berukuran besar.  Apa boleh buat, seperti juga di penginapan-penginapan lain, baru di atas pukul dua siang nanti kami boleh check-in.  Lagipula, malas juga ya rasanya bolak-balik pakai ke penginapan dulu untuk menitipkan tas sebelum cabut lagi.

Salah satu stasiun kereta di Kyoto.

Apalagi kami ini sedang di Kyoto.  Segala persiapan harus direncanakan betul-betul.  Pasalnya, biaya transportasi di Kyoto lebih mahal daripada di Tokyo.  Cuma berjarak satu stasiun pun bisa 200 yen-an naik kereta.  Tiba-tiba Tokyo yang biaya transportasinya mahal kalau dirupiahkan, terasa murah dibandingkan Kyoto.  Mau tak mau mulut kami mengomel-ngomel pelan juga karenanya.  Kalau ada sepeda sih lumayan, banyak tempat bisa terjangkau sambil olahraga.

Nah, pertanyaan berikutnya, mau ke mana sepagi ini?  Biasanya bila kita ke Kyoto, orang-orang akan menyarankan kepada kita untuk mengunjungi tempat-tempat seperti Gion, daerah geisha yang kebetulan juga sedang merayakan festival (Gion Matsuri) ketika kami di sana; Kinkakuji alias ‘Kuil Paviliun Emas’; ataupun Kiyomizu-dera.  Selain nama-nama kesohor itu, juga banyak sekali tempat-tempat menarik di Kyoto, membuat kami beberapa lama kebingungan untuk memutuskan mau ke mana saat matahari masih rendah di ufuk.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyambangi Fushimi Inari Taisha, kuil (shrine) Shinto pusat dari jejaring kuil rubah.  Kami naik kereta JR dan turun di stasiun Fushimi-Inari.  Dari situ, hanya tinggal berjalan kaki saja – kuil tersebut dekat sekali dengan stasiun, praktis hanya menyeberang jalan.  Di kuil ini, telah cukup banyak orang berkegiatan.  Dengan khusyuk orang-orang berdoa, termasuk seorang bapak yang kelihatannya merupakan direktur perusahaan atau orang penting sejenisnya, didampingi seorang ajudan yang setia mengikuti si bos mendaki undak-undakan kuil demi menuju tempat bersembahyang.

Dari agak jauh pun, warna merah kuil yang khas telah menarik mata.  Biasanya kuil-kuil rubah memang menggunakan warna ini.  Arca-arca rubah juga tegak mengawasi.  Di depan pintu gerbang kuil, terdapat chi no wa (茅の輪), lingkaran besar dari jalinan tanaman yang bila dilangkahi dipercaya akan mengenyahkan nasib buruk ataupun kesalahan kita di masa lalu.

Salah satu arca rubah di Fushimi Inari Taisha.

Di sebelah depan foto adalah chinowa.

Entah karena pagi hari yang masih dingin dan suasana yang sunyi atau bagaimana, tapi Fushimi Inari Taisha ini memiliki aura yang… mistis sekali.  Apalagi ketika semakin jauh kami mendaki undak-undakan menuju bagian-bagian kompleks kuil yang terletak lebih ke atas bukit.  Kami terpecah menjadi dua kelompok, dan saya yang berjalan bersama Anis terdiam ketika kami sampai di aras kompleks kuil di mana terdapat banyak sekali torii – gerbang berwarna merah menyala – berdiri rapat membentuk lorong.  Duh.  Suasana semakin ‘berat’ saja di sini.  Mengambil foto di depan terowongan torii itu pun kami agak ragu-ragu.

Pada awalnya, masih renggang…

Kami memutuskan untuk menyusuri lorong mendaki tersebut.  Lama-kelamaan, jejeran torii yang bertuliskan nama (perusahaan) penyumbang dan tanggal torii tersebut dipasang semakin rapat.  Dan ketika terowongan bercabang menjadi dua, saya dan Anis hanya ‘sanggup’ meneruskan beberapa puluh meter lagi sebelum menemukan percabangan lagi dan memutuskan untuk memutar.  Kami turun lagi ke bawah, dan lebih memilih untuk menyaksikan upacara pagi yang sedang berlangsung di bagian depan kompleks, dan juga melihat-lihat toko yang menjual jimat asli keluaran kuil dan juga toko-toko lain yang menjual cenderamata.

Lama-lama, kok semakin rapat, yaaa?

Air untuk ‘berwudu’ bagi yang ingin bersembahyang. Biasanya ada papan yang menunjukkan langkah-langkah untuk membersihkan diri dengan air ini.

Oya, bila mengunjungi kuil-kuil semacam ini, memotret miko atau para gadis kuil terlarang sifatnya.  Mereka juga akan cepat mengibaskan tangan meminta jangan dipotret bila ada orang yang sudah mengangkat tustel siap menjepret mereka.  Sebaiknya sih kita hormati ini.  Kalau ternyata mereka terpotret juga dari jauh saat kita mengambil foto-foto di kuil, yah anggaplah rejeki saja.

Puas melihat-lihat di Fushimi Inari Taisha, kami menaiki kereta kembali ke arah pusat kota Kyoto, namun kali ini turun di stasiun Imadegawa, dekat dengan Istana Kekaisaran Kyoto.  Kompleks bersejarah ini tidak lagi menjadi kediaman utama kaisar, namun tidak berarti bebas dikunjungi sekarang.  Kita harus mengikuti tur (gratis) berpemandu yang disediakan oleh badan pengelola, yang hanya dijadwalkan dua kali dalam sehari (pukul 10 pagi dan 2 siang), sehingga jangan sampai ketinggalan!  Cek juga di hari apa saja tur berbahasa Inggris diselenggarakan, karena di hari Sabtu hanya ada tur berbahasa Jepang.  Oh ya, kita juga harus mendaftar terlebih dahulu ke kantor pengelola istana, lengkap dengan menunjukkan paspor.  Sepertinya agak repot, ya, tapi yang bisa kita lihat di dalam istana nanti benar-benar tak akan membuat menyesal!

Ruang tunggu di Istana Kekaisaran Kyoto.

Sambil menunggu tur dimulai, kami dipersilakan menunggu di ruangan yang dilengkapi bangku-bangku panjang yang tetap nyaman meski tidak bersenderan, dilengkapi televisi yang memutar dokumenter mengenai istana.  Di dalam ruangan itu juga ada toko cenderamata yang menjual berbagai suvenir khas istana.  Harganya cukup terjangkau kok.

Pemandu kami, seorang wanita yang tampak gesit, mengumpulkan kelompok wisatawan yang akan bersama-sama menilik istana pagi itu.  Ia bahkan repot-repot mencarikan payung untuk para wisatawan yang tidak membawa payung untuk melindungi diri dari rintik hujan.  Kami pun dibawanya menyusuri sudut demi sudut istana kekaisaran.  Ya, tidak semua sih, karena memang hanya bagian-bagian tertentu yang boleh kami kunjungi.

Dari mulut pemandu kami meluncur lancar berbagai cerita mengenai kehidupan di istana.  Misalnya, tentang bagaimana di zaman dahulu kaisar tidak pernah sekalipun menginjak tanah.  Jembatan-jembatan kecil dibuat menghubungkan berbagai bangunan yang berada di dalam kompleks istana.  Sementara kaisar hanya boleh melewati jalan-jalan khusus untuknya itu, para pelayan menjadi bayang-bayang yang berkeliaran di lorong-lorong di bawah panggung istana.  Keberadaan mereka tidak boleh mencolok, namun harus selalu siap muncul di sisi istana mana pun mereka dibutuhkan untuk melaksanakan tugas mereka.

Halaman istana tampak kosong dengan berlapiskan batu. Namun sebenarnya halaman bebatuan itu adalah desain Zen.

Kaisar dahulu menerima tamu-tamunya di sini. Itu pun tidak boleh sembarangan.

Pemandu kami juga menjelaskan bahwa hingga kini, atap istana kekaisaran dibuat dari kulit pohon sipres.  Namun karena sekarang sulit membuat atap sipres karena pohonnya juga sulit diperoleh, penggantian atap seluruh bangunan, yang harus dilakukan berkala, memakan waktu lama. Akibatnya ketika akhirnya bangunan terakhir selesai diganti atapnya, atap bangunan pertama sudah perlu diganti lagi!

Contoh atap kulit sipres yang sedang dalam pembuatan. Yang berdiri di sampingnya adalah pemandu kami yang cekatan.

Satu kejadian lucu dalam kunjungan itu adalah ketika sepasang suami-istri Amerika mengobrol bersama sekelompok mahasiswa Taiwan.  Mencoba ramah, sang suami berkata kepada para pemuda Taiwan itu:  “Nanti kapan-kapan kami kunjungi negara kalian juga ya.  Kami akan lihat-lihat istana kaisar kalian.”  Sunyi sejurus, sebelum kemudian salah seorang mahasiswa itu menyahut: “Tapi, kami tidak punya kaisar.”  Sang pria Amerika langsung terdiam kaget.  “Oh.”  Sementara seorang turis Indonesia yang nantinya menulis apa yang sedang Anda baca ini melewati mereka sambil menahan tawa.  Aduh, rupanya si oom Amerika tidak tahu apa-apa soal Taiwan.

Taman Istana Kekaisaran.

Tempat kaum bangsawan dulu piknik sambil bermain dan merangkai syair.

Setelah tur berpemandu berakhir, kami pun menyantap makan siang di kafetaria yang masih menjadi bagian dari kompleks istana.  Hmmm… enak sekali rasanya menyantap udon dan soba dengan kuah hangat setelah beberapa puluh menit tertimpa gerimis.

Eh, lho.  Lalu di mana kami bertemu orang Indonesia yang kami maksudkan di judul tulisan ini?  Kami bertemu dia di Museum Manga, yang kami datangi setelah tur berpemandu di Istana Kekaisaran berakhir.  Kami kembali naik kereta, kali ini turun di Karasuma-Oike, dan berjalan kaki beberapa menit menuju museum tersebut.

Berjalan kaki di Kyoto lebih nyaman daripada di Tokyo.  Trotoar-trotoarnya sangat lebar, orang yang berlalu-lalang tidak terlalu banyak. Jalan-jalannya (setidaknya di pusat kota) pun tersusun dalam blok-blok rapi. Bangunan-bangunan di Kyoto juga tidak setinggi-tinggi di Tokyo.  Secara umum kesan kota ini yang saya tangkap adalah datar, namun dikelilingi oleh pegunungan yang menghijau.

Museum Manga yang menempati sebuah bangunan bekas SD menampung banyak sekali koleksi komik Jepang, baik yang masih dalam bahasa aslinya ataupun yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Semua disusun dalam rak demi rak, diurutkan berdasarkan abjad dan juga berdasarkan dasawarsa terbitnya.  Kita bisa menemukan edisi-edisi asli karya-karya klasik semacam Rose of Versailles, dan juga yang berusia lebih tua.  Selain pajangan permanen, ada pula pajangan khusus sesuai acara yang sedang berlangsung.  Juga ada toko yang menjual pernak-pernik menarik berkenaan dengan manga yang langsung membuat kami jelalatan dan rada kalap.  (Tapi maaf… di dalam museum ini tidak boleh mengambil foto.)

Ketika petugas yang meminta kami mengisi buku tamu bertanya kami dari mana dan kami menjawab Indonesia, sambil tertawa ia menunjuk salah seorang rekannya, seorang laki-laki.  Ah, ternyata si Mas ini dari Indonesia juga, mahasiswa dari Padang.  Waduh, langsung senang sekali rasanya bertemu rekan senegara yang dengan sigap bisa membantu kami, termasuk mengajarkan cara menukar uang kertas menjadi koin di mesin pembelian tiket.  Koinnya hendak kami pakai bermain gashapon, hehe.  Semangat terus yah Mas kuliah dan kerjanya!

Pintu masuk Museum Manga.

Setelah cukup puas melihat-lihat Kyoto, kami pun segera menuju guest house pilihan kami, Yahata Inn, yang terletak beberapa ratus meter dari Stasiun Gojo.  Guest house ini aslinya adalah rumah tradisional yang diubah menjadi penginapan untuk tamu-tamu seperti kami yang mencari kesederhanaan.  Maksudnya, mencari penginapan murah yang pas dengan kantong.  Pemilik penginapan adalah sepasang suami-istri yang sangat ramah, dibantu oleh dua orang asisten mereka (kami kurang yakin apakah di antara kedua orang itu ada anak mereka atau tidak).  Penginapannya sih bersih dan nyaman sekali.  Harga juga sudah termasuk sarapan yang boleh kami siapkan sendiri, serta kopi dan teh yang tidak terbatas.  Penginapan juga menyediakan berbagai informasi mengenai Kyoto seperti peta dan buku-buku panduan bagi para wisatawan.  Tapi…. ada tapinya.

Berhubung penginapan ini terletak di sebuah kawasan pemukiman, maka berbagai peraturan ketat diberlakukan.  Di sinilah kita melihat semacam paradoks pada masyarakat Jepang: mereka adalah orang-orang yang ramah, namun juga cepat marah apabila tetangga mereka membuat suara atau tindakan sedikit saja yang mereka anggap mengganggu ketenangan mereka.  Tak heran di berbagai sudut Yahata, tertempel kertas putih yang berisikan larangan dan aturan (yang dinyatakan dengan sopan, sebenarnya, tapi cukup mengganggu karena jumlahnya yang banyak): Tolong buka pintunya pelan-pelan.  Mandi hanya boleh antara pukul 5 pagi sampai 11 malam.  Jangan tutup jendela kamar mandi ini (eh… kenapa ya?)  Sampai yang cukup ajaib… Tolong jangan sampai salah berdiri di depan rumah tetangga. Kami pernah diprotes karena ada tamu yang salah berdiri.  Waduhhh..

Sampai-sampai saya lupa mengambil foto penginapan ini!  Tapi bila Anda tertarik, silakan tengok situs mereka di sini.

Malam harinya, sayang betul, kaki saya yang rupanya sudah beberapa hari dipakai berjalan kaki, rewel minta istirahat.  Kulit kaki saya ada yang copot ketika saya melepas sepatu dan kaus kaki!  Waduh.  Saya pun memilih tinggal di penginapan, menanti teman-teman saya pulang.  Toh yang sempat bertandang ke Gion berkomentar, daerah itu ternyata cepat sekali sepinya saat malam menjelang.  Keramaian sepertinya telah berpindah ke bangunan-bangunan yang lebih privat, bagi para geisha dan tamu-tamu mereka.  Ya, memang kalau ke Gion, ada faktor untung-untungan juga.  Geisha sebenarnya bukan tontonan yang memajang diri di tepi jalan.  Bisa bertemu mereka yang sedang berangkat ke tempat kerja adalah kesempatan yang tidak setiap orang dapatkan.

Hmmm… sehari saja tidak cukup untuk melihat semua atraksi yang ada di Kyoto.  Tapi malam ini memang saatnya beristirahat.  Keesokan hari, kami akan mengunjungi Nara.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers