Menambah Berat Badan di Penang
06 May 2012 Leave a Comment
in malaysia Tags: bayan lepas, georgetown, malaysia, penang, restaurant, tempat makan
Sewaktu mengetahui saya akan berkunjung ke Penang, teman-teman saya yang berkebangsaan Malaysia langsung dengan bersemangat mempromosikan… makanan di sana. Ya, Penang memang tenar sebagai ‘gudang makanan enak’ di Malaysia, dari yang murah sampai mahal, dari yang halal sampai tidak. Berikut ini kami membahas sejumlah tempat makan yang sempat kami jajal di Georgetown dan sekitarnya.
Kaki lima dan kedai di Lebuh Chulia
Saat malam menjelang, sebagian ruas Lebuh Chulia berubah menjadi tempat mangkal para pedagang makanan kaki lima. Wujudnya, ya seperti di Indonesia, dengan gerobak dorong, kursi-kursi plastik, dan meja kecil. Berbagai macam makanan bisa dipilih, tapi yang membuat kami penasaran malam itu adalah sate ayamnya. Meski malam itu tidak tersedia lontong ataupun nasi, kami tetap memesan 20 tusuk sate. Seingat saya, 10 tusuk harganya 6 RM. Bumbu satenya berbeda dengan di Indonesia – sepertinya ada pengaruh bumbu India – tapi sama lezatnya. Ditemani potongan timun dan bawang merah yang besar-besar… hmmm!
Malam lain, kami makan nasi dengan lauk-pauk yang kami pilih sendiri di sebuah kedai tepat di samping salah satu Banana Guesthouse. Sederhana, murah-meriah, mungkin sebanding lah dengan warteg di Indonesia – namun kelezatannya membuat kami ‘kurang percaya’ hanya perlu membayar beberapa ringgit saja.
Ini belum terbukti sih, tapi dugaan saya adalah kedai atau gerobak mana pun yang Anda hampiri di Lebuh Chulia ini (atau jangan-jangan di seluruh Penang?), makanannya enak semua…
Sup Hameed
Ke Penang jangan lupa mencicipi nasi kandar. Salah satu tempat yang menjualnya adalah Sup Hameed yang terletak di Jalan Penang, tak jauh dari perempatan dengan Jalan Sultan Ahmad Shah. Tempatnya biasa saja, tidak mewah, dan sama sekali tidak dirancang untuk menarik turis. Tapi justru di tempat-tempat seperti ini kan biasanya kita menemukan santapan khas paling lezat di suatu daerah? Nasi putih hangat dan pulen ditemani ayam goreng, udang, kerang, dan cumi, disertai teh manis hangat pas betul jadi pengisi perut setelah kami terguyur hujan hari itu. Saking lapar dan lahapnya kami makan hari itu, kami tidak sempat memotret tempat ini.
Tapi tolong ingatkan saya lain kali bila mengunjungi Malaysia atau Singapura lagi untuk 1) minum bandong lagi (lupa melulu), dan 2) belajar harus bilang apa bila ingin memesan teh manis, teh dengan susu, teh tarik… Teh O artinya teh kosong, bukan? Hah. Duh. Payah. Selalu lupa dan bingung.
Georgetown White Coffee
Sejumlah kota besar di Indonesia mungkin sudah kenal dengan kafe waralaba Old Town dari Malaysia. Di Georgetown rupanya ada ‘kembarannya’, bahkan dengan arsitektur bangunan dan lambang yang mirip. Namun hidangan yang disajikan Georgetown White Coffee bertitik berat pada kekayaan kuliner Penang. Setiap hari, ada promo harga murah untuk jenis hidangan yang berbeda. White coffee-nya sebagai andalannya juga tidak mengecewakan. Tapi saya penasaran sih dengan white coffee dari Ipoh. Lebih enakkah dari yang di Penang? Oke… Ipoh masuk bucket list.
Coob Coffee
Letak kafe kecil ala Jepang ini masih di KOMTAR Walk juga. Selain menjual minuman, Coob Coffee menyediakan juga sejumlah hidangan, yang tidak semuanya halal. Namun jenis-jenis minuman yang disediakan sungguh membuat kerongkongan mendadak seret! Pemilik kafe ini juga sangat ramah dan akan menanggapi obrolan kita dengan akrab. Ia pernah beberapa kali datang ke Jakarta untuk urusan bisnis, dan… yah, malu juga ya ketika ia bertanya apakah Jakarta masih sering macet atau tidak. Royal milk tea dan cake yang saya cicipi, ditambah suasana kafe yang nyaman, membuat saya menandai tempat ini sebagai ‘tempat wajib kunjung kembali’ seandainya ke Penang lagi.
Oh ya, soal KOMTAR, meskipun sebagai pusat perbelanjaan tempat ini tidak ada istimewanya, namun di sini ada supermarket di mana Anda bisa membeli oleh-oleh berupa produk makanan dan minuman buatan Malaysia. Teh tarik, white coffee, cokelat, teh berwujud daun ataupun kantong… Tinggal sedia uang yang cukup saja.
Kopitan
Sehabis terpanggang matahari gara-gara berjalan kaki dari City Hall, terus ke Fort Cornwallis dan Menara Jam, saya merasa girang betul saat menemukan kedai di Lebuh Pantai ini. Kopitan terletak di bangunan lama yang direvitalisasi menjadi pertokoan dan rumah makan, Whiteaways. Untuk memperoleh seporsi nasi dan lauknya, kita harus merogoh saku guna mengeluarkan sedikitnya 9 RM. Sayang meski nama tempat ini ‘Kopitan’, kami tidak sempat mencicipi kopinya karena menyisakan jatah kafein hari itu untuk Coob Coffee. Kami lebih memilih variasi teh dingin yang menyegarkan tubuh yang sudah separo kering akibat keringat yang terkuras. Oya, kecepatan Wi-Fi yang tersedia di tempat ini luar biasa. Lumayan, sambil bersantai makan, kami bisa mengunggah sejumlah foto dan mengunduh pembaruan untuk apps telepon genggam kami.
Foodcourt Queensbay Mall, Bayan Lepas
Berhubung kami memilih penerbangan malam untuk kembali ke Jakarta, ada waktu cukup lama yang harus kami habiskan setelah check out dari hotel. Kami pun meminta supir van yang kami sewa dari hotel untuk mengantarkan kami ke Queensbay Mall. Ini adalah pusat perbelanjaan mewah yang memajang deretan berbagai tempat makan dan toko merk internasional (termasuk J.Co). Namun pilihan kami untuk bersantap adalah foodcourt alias ‘medan selera’-nya. Di foodcourt yang terletak di lantai tiga ini, berbagai penjual makanan lokal bercokol. Tidak pakai kartu-kartuan, sehingga kita cukup memesan dan membayar di kedai yang kita pilih.
Hanya saja, meski pusat perbelanjaan ini tidak kalah mewah dengan sejumlah pusat perbelanjaan sejenis di Jakarta, wah, kalau soal mushola dan toiletnya, mal-mal di Jakarta masih menang jauh. Heran juga, kok mal semewah ini ternyata toiletnya rada mirip yang ada di stasiun bis.
Winter Warmers, Queensbay Mall
Di Queensbay, ada satu lagi tempat makan yang kami tuju: kedai teh bernama Winter Warmers. Berbagai macam teh dan kopi bisa kita pilih dari menunya. Bisa juga kita memesan paket high tea sejak pukul 2 siang, yang berisikan teh pilihan kita dan kue-kue yang ditata dalam baki tiga tingkat – ada biskuit, scone, muffin, brownies, dan sandwich. Menggoda!
“It is not nice,” kata pelayan langsung ketika saya mencoba memesan teh lavender. Hah? Saya agak kurang mengerti. Ia lantas menyarankan teh mawar atau teh susu bila ingin yang ‘nice’. Hmm. Sepertinya yang ia maksudkan dengan kata ‘nice’ itu adalah ‘sweet’. Baiklah, untuk menghargai si mbak yang telah berusaha memperingatkan saya dengan bahasa Inggrisnya yang seadanya, saya pun ganti memesan teh mawar. Tapi untuk biskuitnya, tetap memesan biskuit lavender.
Untuk menambah pengalaman minum teh ala Inggris, interior kedai ini sengaja bergaya negara asal Pangeran William itu. Hanya seragam pelayannya rasanya terlalu kasual, sehingga agak merusak suasana ‘high tea’ ala Inggris. Tapi ya sudahlah. Teh dan kue-kuenya juara! Apalagi biskuitnya yang disajikan hangat. Yang saya cicipi adalah biskuit cokelat dan lavender. Sungguh penutup menyenangkan bagi pengalaman berwisata kuliner di Penang.
(Untuk menuju bandara dari Queensbay Mall, kami menaiki taksi yang ogah memasang argometer dan lebih memilih tarif ‘argo kuda’ sebesar 20 RM. Oleh karena malas berdebat, kami setujui saja. Taksi bertarif ‘nembak’ adalah hal umum di Penang, dan juga tempat lain di Malaysia yang telah saya kunjungi, sehingga ingatlah untuk menyetujui tarif terlebih dahulu sebelum menaiki sebuah taksi. Tentu yang paling aman adalah memilih taksi yang patuh menyalakan argometer.)
Selamat menikmati berbagai hidangan lezat di Penang. Secara umum, Penang cukup aman untuk pelancong, meskipun tetap harus waspada. Terutama di Georgetown, sesuai pesan dari pemilik 47 Moontree, jagalah tas Anda baik-baik karena sering ada penjambret.
Berat badan bertambah? Itu sih, risiko pergi ke Penang.
Posted by Tante Guru
‘Rumah Burung Hantu’ di Penang Hill
06 May 2012 Leave a Comment
in malaysia Tags: angkutan umum, malaysia, museum, penang, penang hill
Kali ini, kami masih bercerita tentang Penang. Tapi sekarang kita pergi agak menjauh dari Georgetown. Tepatnya ke Penang Hill, yang secara cukup mengherankan dalam bahasa Melayu dikenal sebagai Bukit Bendera. Hal ini memang jamak terjadi di Penang: satu tempat dikenal dengan nama yang belum tentu sama dalam bahasa-bahasa berbeda yang digunakan penduduk majemuk pulau tersebut.
Resepsionis hotel memberi tahu kami agar menunggu bis Rapid Penang nomor 204 di depan 7 Eleven di Jalan Penang. Kami sempat menunggu beberapa lama di depan salah satu cabang 7 Eleven sebelum sadar kami berdiri di depan cabang yang salah. Seharusnya di cabang yang berada di tepi jalur yang mengarah ke selatan, bukan ke utara. Ya maaf… habisnya banyak banget sih cabangnya, hehehe… (Anda juga bisa naiki bis 204 ini dari KOMTAR, kalau bingung harus menunggu di mana.)
Dari halte tempat kami naik, kami harus membayar 2 ringgit per orang, yang dimasukkan ke kotak uang di samping supir. Setelah membayar, supir akan menyerahkan karcis dan mempersilakan kita mencari tempat duduk (bila masih ada). Bis pun mulai berjalan, dengan kualitas menyupir yang bagi kami agak gila-gilaan, apalagi rute yang ditempuh banyak melewati jalan-jalan yang tidak seberapa besar. Tapi sepertinya supir-supir bis di Penang tahu pasti apa yang mereka lakukan. Lagipula kondisi bis yang bersih, nyaman, dan terawat membuat perasaan khawatir minimal.
Bis-bis Rapid Penang ini pun ramah terhadap pengguna kursi roda. Pintu tengah bisa dibuka lebar-lebar, dan bis bisa dimiringkan sedikit agar kursi roda bisa didorong melewati titian naik-turun bis. Supir juga tak segan repot-repot membantu menaik-turunkan kursi roda.
Bis yang kami tumpangi meluncur keluar dari Georgetown, menuju Air Itam. Di kota ini kita bisa melihat kesibukan pasar tumpah yang cukup memacetkan jalan dari balik jendela bis yang berpendingin udara. Wih, benar-benar berasa turis, tapi tanpa ikut paket tur.
Perhentian terakhir bis 204 tepat di halte kaki Penang Hill. Di loket stasiun Penang Hill, dengan uang 30 ringgit per orang, karcis kereta pulang-pergi pun berpindah tangan. Pemegang identitas Malaysia cukup membayar 4 RM saja. Hus… jangan iri ya.
Kami pun mengantri dengan sabar, menanti sampai kereta yang akan mengangkut kami tiba. Para penumpang naik dan turun tidak akan berpapasan karena pintu yang terbuka untuk mereka berbeda sisi, dan membuka-tutup bergantian.
Naik kereta Penang Hill ini memang pengalaman tersendiri. Agak mirip sih dengan kereta serupa di Hong Kong, namun tentu saja pemandangan yang kita lihat di Penang adalah alam tropis. Bukit yang harus didaki kereta ini sebenarnya curam sekali, tapi tak usah takut isi kereta bakalan ikut miring dan berjatuhan. Kereta dirancang khusus sehingga lantainya selalu datar, dan penumpang bisa berdiri tegak tanpa khawatir terguling meskipun rel miring nyaris 45 derajat.
Setiba di puncak Penang Hill, kami langsung disambut udara yang sejuk dan segar. Pemandangan nun jauh di bawah sana terbentang luas, menampakkan tak hanya Georgetown, namun juga lebih jauh lagi, bahkan ke arah laut dan jembatan menuju Butterworth. Hanya saja, pemandangan dari Penang Hill kerap teradang kabut – entah itu alami atau akibat aktivitas manusia.
Di puncak Penang Hill ini, kita bisa berkeliling melihat bangunan-bangunan kuno menggunakan jasa buggy dengan tarif 30-60 RM. Sayang, karena hari itu langit menunjukkan tanda-tanda akan hujan, kami memilih untuk menikmati apa yang ada di sekitar stasiun saja. Pertama-tama kami menyambangi kuil Hindu yang bisa dicapai dengan mendaki sejumlah anak tangga. Seperti juga banyak kuil Hindu India lain, yang satu ini pun semarak ornamen dan warna. Lebih ke atas lagi dari kuil, ada sebuah masjid.
Puas melihat-lihat di sana, kami pun mengarah ke Owl Museum yang belum lama dibuka. Museum dengan tarif masuk 10 RM ini tidak seberapa besar, namun menyimpan koleksi yang unik: ribuan pernak-pernik burung hantu dari berbagai penjuru dunia. Dari Indonesia juga ada, lho. Kami jadi kegirangan sendiri menelusuri rak demi rak yang menyimpan berbagai perwujudan hewan perlambang Dewi Athena itu. Sebelum pintu keluar museum yang juga menyediakan aktivitas bagi anak-anak ini, terdapat sebuah toko kecil yang menjual berbagai suvenir bertema burung hantu, dari kaus, kalung, anting-anting, tas, dan lain-lain. Nyaris kami kalap di sini!
Di atas Owl Museum ini, terdapat sejumlah toko suvenir dan kedai makan yang cukup murah-meriah. Asyik juga bersantai sejenak menikmati hidangan dan minuman sambil berpuas-puas menikmati kedamaian dan angin semilir di Penang Hill. Keasyikan sudah selesai? Belum dong! Masih ada perjalanan meluncur menuruni bukit. Woohoo!
Mengunjungi Penang Hill adalah kegiatan yang kami rekomendasikan bila kami bertandang ke pulau tersebut. Di puncak bukit ini juga terdapat kantor pos, kalau-kalau Anda ingin mengirimkan kartu pos ke teman-teman atau kerabat. Dari Penang Hill, Anda bisa langsung naik 204 kembali ke Georgetown, atau menaiki 201 menuju Kuil Kek Lok Si. Sekadar catatan, karena banyaknya anak tangga yang harus didaki, Kuil Kek Lok Si kurang disarankan untuk yang kesehatannya kurang prima.
Posted by Tante Guru
Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang
24 Apr 2012 Leave a Comment
in malaysia Tags: benteng, georgetown, gereja, hotel, kelenteng, kota tua, kuil, malaysia, masjid, penang, penginapan
Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?
“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap. Si mas penjaga ini berasal dari Jawa. Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.
Berobat – atau bekerja. Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini. Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang. Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut. Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.
Terpikat oleh kisah-kisah tentang budaya, alam, dan kuliner Penang, kami pun pergi ke sana pada pertengahan April 2012. Tujuan utama kami dalam kunjungan singkat kali ini adalah daerah Georgetown dan sekitarnya. Ketika kami tiba, bandara Penang (Bayan Lepas) tengah menjalani renovasi besar-besaran, sehingga agak berantakan. Tentunya diharapkan setelah renovasi itu kelar, Bayan Lepas siap melayani lebih banyak penumpang pesawat yang singgah di Penang.
Dari Bayan Lepas, kami menggunakan taksi resmi bertarif 44.7 RM ke Georgetown, menempuh perjalanan kira-kira 40 menit. Kami terlebih dahulu harus membayar dan mengambil kupon di loket di bandara sebelum mendapatkan taksi. Cara ini aman dan pasti dibandingkan mencari taksi sembarangan. (Sebagai catatan, di Penang, banyak taksi bandel yang enggan menggunakan argometer. Sehingga pastikan Anda telah menyepakati tarifnya terlebih dahulu sebelum menaiki taksi.) Kalau mau lebih murah lagi, bisa menggunakan sejumlah bis yang mengarah ke KOMTAR. Rutenya bisa dicek di peta-peta gratis yang bisa diambil di bandara.
Tulisan ini berfokus kepada objek-objek yang bisa dilihat di Georgetown. Penang Hill dan berbagai tempat bersantap di Penang akan kami bahas di tulisan lain.
Tempat menginap
Mudah sekali menemukan penginapan di Georgetown, mulai dari yang bertaraf internasional dan berbintang banyak seperti Traders atau Cititel, sampai berbagai guest house termasuk tempat-tempat yang mengklaim diri sebagai hotel namun tampak agak meragukan.
Sebenarnya kami telah memesan tempat di 47 Moontree, sebuah rumah tua yang dihidupkan kembali menjadi guest house ‘bergaya butik’. Namun ketika kami tiba, sang pemilik menyambut dengan wajah khawatir. Ternyata, ia baru membaca pesan yang saya kirimkan kepadanya sewaktu memesan kamar, bahwa kami membawa ibu kami turut serta. Ia mengatakan bahwa tangga ruangan untuk tiga orang yang telah ia siapkan untuk kami terlalu curam bagi ibu kami. Ia mengajak saya melihat ruangan itu. Cukup menarik sebenarnya. Di lantai bawah ada ruang duduk dan kamar mandi yang hanya dibatasi tirai. Ketiga tempat tidur terletak di lantai atas, yang memang hanya bisa dicapai dengan tangga yang sempit dan curam.
Alternatif yang ia tawarkan adalah sebuah kamar di lantai atas dengan tempat tidur untuk 2 orang, namun sayangnya hanya menggunakan kipas angin, dan kamar mandi serta toiletnya pun di luar. Maksud saya, di luar. Di luar bangunan. Duh, nggak kebayang kalau malam-malam ibu saya harus ke kamar mandi. Untunglah sang pemilik 47M sangat membantu kami. Ia menunjukkan dua alternatif penginapan yang terletak tak jauh dari guest house-nya untuk kami coba.
Yang pertama, Red Inn Cabana, terletak di Lebuh Leith, sejajar dengan Cheong Fatt Tze Mansion yang merupakan salah satu objek kebanggaan Georgetown. Guest house yang terletak di atas sebuah toko cokelat ini sebenarnya cukup murah, dan bangunannya baru serta bersih pula. Kamar-kamarnya juga sangat bagus. Sayangnya, satu kamar tunggal dan satu kamar untuk dua orang yang kami incar hanya tersedia untuk satu malam saja. Terpaksa kami melangkahkan kaki ke tempat berikutnya yang direkomendasikan pemilik 47M, yaitu Banana Boutique Hotel di Lebuh Chulia. (Yang ini kelasnya ‘hotel’ – ada juga Banana Guesthouse di jalan yang sama.)
Kami pun menjatuhkan pilihan pada hotel yang satu ini, dan tidak menyesalinya. Harga yang kami bayarkan memang lebih mahal daripada seandainya kami jadi menginap di 47M atau Red Inn Cabana, namun semua sen itu sesuai dengan kualitas hotel. Kami memperoleh sebuah kamar luas untuk tiga orang dengan tiga tempat tidur tunggal dan kamar mandi dalam, serta juga memperoleh sarapan. Yah, yang penting ibu kami nyaman!
Berikut sejumlah foto sudut-sudut hotel ini:
Tempat-tempat yang bisa dilihat di Georgetown
Georgetown adalah sebuah kota tua yang disarati berbagai bangunan bersejarah yang menunjukkan keragaman penduduk Penang – yang beretnis Cina, Melayu, India, Aceh dan lain-lain – dan juga jejak-jejak kolonial sejumlah bangsa Eropa. Kotanya tidak terlalu besar – bila Anda bugar, cukuplah berkeliling wilayah inti dan wilayah penunjang tempat warisan dunia ini dengan berjalan kaki. Tidak semua bangunan kuno telah direnovasi – banyak juga yang kosong dan dibiarkan termakan waktu.
Di hari pertama, setelah memastikan kami menemukan penginapan, kami pun berjalan kaki menuju wisma Cheong Fatt Tze yang dikenal juga sebagai The Blue Mansion karena warna biru dindingnya yang khas. Sebagai peringatan, warna biru itu berasal dari indigo, yang mudah luntur, tidak seperti cat. Jadi jangan menempel-menempel ke dinding yah, kalau tidak mau mendadak berubah menjadi Smurf.
Wisma megah ini tadinya dimiliki Cheong Fatt Tze, seorang pengusaha kaya-raya yang memulai segalanya dari nol sebagai seorang migran Hakka miskin. Kerajaan bisnisnya yang dirintis di Batavia membuatnya memiliki cukup kekayaan untuk membangun ‘ibukota kekaisaran’-nya di Penang. Sayangnya, setelah ia wafat, hartanya terbagi-bagi di antara para istri dan anak-anaknya yang berjumlah banyak. Ia berpesan agar wisma birunya tidak dijual sebelum istri ketujuhnya yang merupakan cinta sejatinya dan anak mereka tiada. Akhirnya, pada tahun 1989, dalam keadaan sudah rusak berat, wisma biru itu pun ‘bebas’ untuk dialihtangankan. Pemerintah lekas mengambil alih dan meremajakan wisma tersebut menjadi salah satu ikon Penang.
Tiket masuk museum ini adalah 12RM. Tidak boleh berkeliaran sendiri, melainkan harus disertai pemandu, dan tidak boleh memotret selain di halaman depan. Dalam sehari hanya ada tiga kesempatan berkunjung: pukul 11, 13.30, dan 15.00. Yang datang pukul 15.00 bisa ikut menikmati ‘high-tea’ dengan hidangan dan kue-kue ala ‘nonya’ (peranakan) dengan menambah 16RM.
Sayangnya, tur berpemandu ini memang menjadikan kita kurang bebas, selain pemandunya yang menurut saya terlalu banyak berbicara tanpa dibantu pajangan atau sarana lain yang bisa membuat kita lebih memahami ceritanya. Ruang-ruang wisma juga kebanyakan kosong, dengan hanya sejumlah barang temuan di rumah itu yang dipamerkan. Agak sedih juga melihat barang-barang usang yang pernah menjadi penanda kehidupan semarak di wisma tersebut, mulai dari topi bayi sampai pakaian Cheong Fatt Tze.
Mungkin salah satu sebab lain akses di wisma ini sedemikian terbatas adalah karena sebagian ruangan diubah menjadi kamar hotel. Si pemandu giat sekali mempromosikan kamar-kamar yang tergolong mahal itu. Hanya satu kamar, bekas dapur, yang boleh kami lihat di hari itu. Apik dan unik juga, tapi… nggak kuat ah di kantong! Hehehe.
Ruang terakhir yang kami kunjungi adalah tempat penjualan suvenir. Khawatir memboroskan uang di hari pertama, saya tidak membeli apa-apa. Namun saat keluar wisma, hujan deras turun. Nah… ini juga catatan bila berkunjung ke Penang. Cuacanya cukup mudah berubah! Kalau tidak membawa payung, di minimarket saya membeli sebuah seharga 13 RM. Sambil menunggu hujan berhenti, saya mengobrol dengan penjaga gerbang, seorang Melayu yang berkeluh-kesah tentang betapa orang-orang Cina telah menguasai berbagai hal di Malaysia. Saya diam saja, enggan menambah-nambahi perasaan kesenjangan yang membebani sang bapak yang sebenarnya baik hati. Ia memberi petunjuk kepada kami di mana bisa ditemukan makanan yang enak dan halal.
***
Kalau Anda senang melihat-lihat arsitektur tempat-tempat ibadah, maka Georgetown adalah ‘surga’ bagi Anda. Ibaratnya, kesandung saja pasti ketemu tempat ibadah, entah itu kelenteng, kuil Hindu, masjid, gereja, dengan berbagai gaya. Sebagian berdiri bersebelah-sebelahan tanpa menunjukkan tanda-tanda terusik.
Berikut beberapa objek memikat yang paling terkenal, yang saya kelompokkan berdasarkan kedekatan mereka satu sama lain:
- Town Hall, City Hall, dan War Memorial yang berdiri dekat laut. Sejajar dengan tepi laut juga terdapat deretan pepohonan dan bangku-bangku di mana kita bisa duduk beberapa lama sambil mengamat-amati laut dan kesibukan pelabuhan. Berjalan sedikit menyusuri Jalan Tun Syed Sheh Barakah, kita akan tiba di sisa benteng ala Eropa, Fort Cornwallis (tiket masuk = 2RM). Terus sedikit lagi, sampai di Menara Jam, dan kawasan bisnis dan pemerintahan yang sudah jauh lebih rapi daripada daerah-daerah Georgetown lainnya.
- Menyusuri Lebuh Pantai, berbeloklah ke Lebuh Gereja. Di sini berdiri Museum Peranakan (tiket masuk = 10RM) yang sangat saya rekomendasikan! Bangunannya memang tidak sebesar Blue Mansion, tapi isinya jauh lebih kaya, menampilkan sepintas kehidupan kaum peranakan di Penang. Kita juga bebas berkeliaran sendiri dan memotret. Ruang piano yang mewah bisa dipesan untuk acara tertentu seperti pertunangan dan lain-lain. Di belakang museum juga ada kuil keluarga yang terkesan agak ‘dingin’. Baru belakangan saya tahu di belakang dinding altar ada sumur yang konon menyimpan kisah-kisah seram. Hmmm, untung saya baru tahu sesudah berkunjung ke sana!
- Cathedral of the Assumption dan St. George’s Church, yang berdiri mengapit Museum Negeri Pinang di Lebuh Bishop. Jujur, dari luar, kedua gereja ini tidak tampak terlalu mencolok, setidaknya dibandingkan gereja-gereja lain yang pernah saya sambangi. Namun entahlah kalau sebelah dalamnya – yang sayangnya tak sempat saya tengok. Jika berbelok ke arah Jalan Masjid Kapitan Keling, di persimpangan dengan Lorong Stewart bisa kita jumpai Kelenteng Kwan Im.
- Di daerah perpotongan Lebuh Chulia dengan Jalan Masjid Kapitan Keling, bisa kita jumpai Kuil Hindu Sri Mahamariamman (yang lebih mudah diamati dan difoto dari sisi yang menghadap ke Lebuh Queen) dan Masjid Kapitan Keling. Di depan Sri Mahamariamman, saya tertegun melihat seorang wanita Cina tua yang kebetulan lewat menghaturkan sembah ke arah kuil. Ini kali kedua saya melihat yang semacam ini di Malaysia – kali pertama di Batu Caves. Ngomong-ngomong, kawasan ini sudah tergolong Little India. Sempatkan waktu mencoba ikut menikmati irama kehidupan di kawasan yang semarak ini.
- Kuil Kongsi Yap, Dr Sun Yat Sen’s Penang Base, dan Museum Islam terletak berdekatan di Lebuh Armenia. Sayang saat saya ke sana, Museum Islam masih tutup. Berbalik ke Lebuh Acheh, saya melihat-lihat Masjid Melayu Lebuh Acheh.
- Belok ke Lebuh Cannon, saya mengunjungi Kongsi Khoo (tiket masuk = 10RM, bonus 2 kartu pos). Yang satu ini juga sangat menarik untuk dikunjungi. Kumpulan bangunan yang dimiliki oleh klan yang kaya-raya ini dilestarikan dengan baik, termasuk panggung opera. Bagian bawah bangunan utama (Leong San Tong) diubah menjadi museum, di mana kita juga bisa mencicipi rekonstruksi pengalaman menonton opera Cina seperti zaman dahulu. Ada pula tiruan dapur zaman dahulu (yang dindingnya berlapis indigo juga) dan diorama penghuni yang sedang bersantap.
Nah, ini baru sebagian kecil dari yang bisa Anda lihat di Georgetown. Tempat-tempat makannya saja belum kami bahas. Pokoknya, tur berjalan kaki seharian di Georgetown akan membuat Anda bisa melihat dan merasakan banyak sekali hal, termasuk yang kerap luput dari perhatian orang banyak. Apalagi ketika seperti saya, Anda berkesempatan menyusuri jalan-jalan Georgetown di pagi hari sesudah hujan. Hmm… nyaman sekali.
Posted by Tante Guru
5foot Way Inn dan Sekitarnya, Chinatown Singapura
11 Apr 2012 4 Comments
in singapura Tags: chinatown, pecinan, penginapan, singapura, tempat makan
Bila ditanya kawasan mana yang paling saya gemari di Singapura, saya mungkin akan memilih Chinatown. Saya menyenangi jalan-jalan dan lorong-lorongnya yang kecil, dengan berbagai toko dan tempat makan menarik. Ada yang mencolok, seperti toko yang menjual pernak-pernik Tintin karya Herge, namun ada pula di antaranya yang ‘tersembunyi’ dan tidak banyak diketahui turis asing. Suasananya juga terasa lebih ramah bila dibandingkan dengan kawasan perbelanjaan berbau ‘modern’. Tempat menginap untuk pelancong yang beranggaran hemat pun cukup mudah ditemukan.
Kali ini, yang ingin saya ulas adalah hostel 5foot Way Inn. Letaknya hanya selemparan batu dari Exit A Stasiun MRT Chinatown. Dua kali sudah saya menginap di sini, pertama sewaktu masih soft opening – dan masih banyak bagian hostel yang masih dipoles – dan kedua ketika hostel sudah betul-betul siap untuk tamu. (Yang saya maksudkan di sini adalah cabang pertama 5foot Way Inn. Mereka membuka cabang baru dekat Sultan Mosque di bulan April 2012, dan hostel kedua di daerah Chinatown akan menyusul.)
Pertama kali mencarinya, saya agak bingung. Sebabnya, hostel ini menempati lantai-lantai atas sebuah ruko yang terletak di sebelah kanan saat kita keluar dari Exit A. Di bawahnya ada toko yang menjual suvenir, yang jamak berjejer-jejer di sepanjang jalan tersebut. Jalan masuk ke hostel adalah pintu di bagian samping depan ruko tersebut.
Begitu pintu terbuka, kita langsung berhadapan dengan tangga bercat gelap yang agak curam. Boks neon meyakinkan kita bahwa memang betul ini hostel yang dicari-cari.
Resepsionis berada di lantai dua. Tapi, untuk masuk, terlebih dahulu kita harus mencopot alas kaki dan meletakkannya di rak di samping pintu masuk. (Mungkin untuk tamu-tamu dari negara-negara ‘Barat’, berkeliaran bertelanjang kaki di hostel ini juga pengalaman tersendiri, ya.)
Berhubung namanya ‘hostel’, kamar-kamar yang tersedia bisa diisi oleh 4 atau 6 orang, dan biasanya yang kita sewa adalah ‘tempat tidur’-nya. Jadi jangan heran bila Anda akan tidur seruangan bersama orang-orang yang tidak Anda kenal. Untuk perempuan, ada ‘dorm’ khusus perempuan, sekiranya Anda risih bila harus berbagi dengan laki-laki. Kamar mandi juga digunakan bersama, dengan kamar mandi khusus perempuan di lantai dua. Maklum digunakan bersama-sama, jadi bila harus menunggu giliran, ya harus sabar.
Kebetulan, dua kali saya menginap di 5foot Way Inn, selalu bersama teman-teman, sehingga kami bisa menyewa kamar untuk berempat hanya untuk rombongan kami. Lucunya, saya selalu dapat kamar yang sama, yang terletak selantai dengan resepsionis. Kamar tersebut menghadap Pagoda Street yang di siang hari ramai oleh kegiatan perdagangan dan suara orang yang lalu-lalang. Bahkan bila hanya mendengar suara saja, mungkin Anda tidak akan merasa berada di Singapura… Karena yang banyak terdengar adalah percakapan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi jangan khawatir, di malam hari, Pagoda Street amat sunyi, karena bukan merupakan daerah hiburan malam ‘ajeb-ajeb’.
Kamar tidur, perabot, dan seprei semuanya serba putih. Di kepala masing-masing tempat tidur, ada stopkontak dan rak kecil khusus untuk sang penyewa, sehingga kita bisa mengisi baterai peralatan elektronik kita tanpa perlu bergiliran dengan orang lain. Masing-masing penyewa juga mendapatkan laci yang berukuran cukup besar di bagian bawah tempat tidur, dengan gantungan kunci yang merangkap sebagai kunci elektronik untuk membuka pintu depan hostel.a.
Hanya saja memang ukuran kamarnya tergolong sempit. Kamar-kamar ini memang tidak didesain untuk orang-orang yang ingin menghabiskan banyak waktu di dalamnya.
Di lantai dua, juga terdapat ruang makan bersama yang terbuka, menghadap ke sudut lain Chinatown. Minuman disediakan gratis sepanjang waktu, termasuk dari mesin minuman yang siap menghadirkan kopi, teh tarik, atau minuman cokelat. Peralatan makan lengkap disediakan, asal kita mencucinya sendiri usai bersantap. Nikmat sekali rasanya malam-malam duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang tersedia sambil menyeruput minuman hangat, atau ketika pagi-pagi sekali kita sarapan sebelum Chinatown benar-benar terbangun. Kita juga bisa banyak berinteraksi dengan penghuni lain hostel di sini.
Lebih banyak kamar dan kamar mandi ada di lantai tiga. Sementara loteng yang berlangit-langit miring dimanfaatkan sebagai ruang santai yang nyaman dan artistik. Sofa-sofa dan bantal-bantal yang ditata sedemikian rupa sungguh menggoda kita untuk merebahkan tubuh setelah seharian menjelajahi Singapura. Di sini kita juga bisa menggunakan dua buah komputer secara gratis untuk berselancar di internet, seandainya sambungan Wi-Fi hostel tidak cukup untuk kita.
Kalau soal makanan, tidak usah khawatir. Banyak restoran dan kedai yang mudah ditemukan di sekitar 5foot Way Inn, dari yang murah sampai yang mahal. Restoran-restoran waralaba internasional juga ada. Tapi kalau yang satu ini, Crazy World Cafe di Temple Street, tidak semua orang tahu, meskipun hanya berselisih satu jalan dengan Pagoda Street. Saya juga mengetahui tempat ini dari seorang teman yang bekerja di Singapura.
Crazy World cukup nyaman, dengan desain interior yang menarik dan stylish. Pemiliknya adalah seorang penggemar musik Mandarin, sehingga ia juga memajang berbagai memorabilia di kafenya ini. Bahkan pertunjukan musik cukup rutin diadakan di kafe ini yang juga menjual sejumlah cenderamata yang unik. Kalau soal makanan, saya sangat menyarankan Anda mencicipi brownies ‘home-made’-nya. Tampilannya saja langsung menerbitkan air liur!
Lucunya, di daftar menu ada tulisan yang menyatakan bahwa pihak kafe berusaha sekerasnya untuk menyajikan hidangan tanpa dikenai pajak. Oleh karena itu, mereka memohon pengunjung untuk tidak hanya memesan air putih yang gratis. Lho? Ternyata orang Singapura ada juga ya yang doyan ‘ngadem doang’ sambil minum air putih?
Kalau malam sudah tiba, meskipun banyak ruko yang sudah tutup, justru tiba saatnya para pedagang makanan malam di Food Street beraksi. Meja-kursi digelar, dan para pedagang siap memasakkan dan menyajikan berbagai makanan jalanan ala Singapura untuk Anda. Yang patut dicoba adalah ‘carrot cake’ yang kenamaan, yang jangan dibayangkan merupakan penganan kecil dari wortel. Hidangan ini juga tidak mengandung wortel, karena sebutan ‘carrot cake’ itu berasal dari salah pemilihan padanan kata ‘chai tao’ yang sebetulnya merujuk kepada ‘lobak’. Porsi yang dijual cukup besar, sehingga bila perut Anda tidak besar-besar amat, satu piring hidangan bisa dibagi untuk dua orang.
Jangan sampai seperti kami waktu itu: dengan begitu percaya diri masing-masing memesan satu porsi makanan. Akibatnya, aduh mak… Kami separuh merayap pulang ke hostel dengan perut kepenuhan. Satu lagi hal yang tampaknya sulit dihindarkan bila menghabiskan waktu di Chinatown Singapura!
Posted by Tante Guru
Benteng Heritage Museum, Tangerang
10 Apr 2012 4 Comments
in indonesia Tags: banten, benteng, kuil, museum, peranakan, percinan, tangerang, tionghoa
Di sisi Jakarta, ada tiga wilayah yang menyandang nama ‘Tangerang’. Dua di antaranya kota: Tangerang dan Tangerang Selatan; sementara satu lagi berstatus kabupaten. Kadang-kadang ini memang membingungkan. Apabila saya secara singkat menyebutkan rumah saya ada di Tangerang (dan yang saya maksudkan adalah Tangerang Selatan), banyak yang mengira rumah saya ada di Kota Tangerang. Namun kedua wilayah ini berbeda, dan jaraknya dari ujung ke ujung lumayan jauh pula. Setidaknya, jarak dari rumah saya ke kawasan kota tua Tangerang, di mana Benteng Heritage Museum (BHM) terdapat.
Kawasan kota tua Tangerang dikenal juga sebagai kawasan ‘Benteng’, asal-muasal sebutan ‘ciben’ alias ‘Cina Benteng’ untuk orang-orang Tionghoa yang sejak lama bermukim di daerah tersebut. Konon dahulu memang ada benteng yang berdiri di wilayah yang kini menjadi kota tua Tangerang.
Malangnya, di masa lalu, meskipun telah berabad-abad tinggal di Tangerang sejak nenek moyang mereka pertama kali mendarat di Teluk Naga, para ‘ciben’ kerap mendapat diskriminasi dan pelecehan, dan beberapa kali pula terjadi tragedi berdarah. Misalnya, pada 1942, di masa penjajahan Jepang, rumah-rumah warga Tionghoa Tangerang dijarah. Berbagai benda berharga hilang, termasuk warisan keluarga seperti guci abu leluhur dan papan nama leluhur. Tahun 1946, di masa awal republik ini, fitnah bahwa ada orang Tionghoa menurunkan bendera merah-putih di Tangerang berbuntut pembantaian besar-besaran terhadap ‘ciben’. Diperkirakan ada 600 orang tewas.
Kaum peranakan ini pun dahulu dianggap lebih ‘rendah’ oleh orang-orang Tionghoa yang bermukim di Jakarta, karena kulit mereka yang lebih gelap dan dialek mereka yang dianggap ‘aneh’, hasil percampuran dengan suku-suku bangsa lainnya di sekitar Tangerang. Sampai sekarang, bila Anda bertandang ke Kota Tangerang, Anda akan bertemu dengan orang-orang Tionghoa yang berbicara dengan logat Sunda, juga beberapa logat lain yang digunakan penduduk Banten.
Berbagai kisah masa lalu masyarakat Tionghoa Tangerang, juga contoh artefak dan produk budaya mereka hingga kini, bisa kita nikmati di museum yang baru resmi dibuka tahun 2011 lalu, yaitu Benteng Heritage Museum yang terletak di Pasar Lama Tangerang. Awalnya, museum ini adalah dua rumah bersisian yang berhasil dibeli oleh Bapak Udaya Halim dan direstorasi besar-besaran oleh tim beliau. Pak Udaya bertumbuh besar di Pasar Lama Tangerang, dan berniat menyelamatkan warisan budaya Tionghoa Tangerang termasuk bangunan-bangunannya. Masih ada beberapa rumah lagi yang hendak beliau selamatkan, termasuk rumah ketiga yang sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian rumah yang dijadikan museum.

Sejumlah rumah lama yang masih bisa Anda lihat di kawasan Pasar Lama Tangerang - yang dulu juga disebut 'Petak Sembilan', seperti kawasan pecinan di Jakarta.
Dari Cikokol, saya naik angkot berwarna biru-kuning dan meminta supir angkot menurunkan saya di Pasar Lama. Ia menurunkan saya di depan sebuah gang kecil. “Betul di sini, Bang?” tanya saya.
“Betul. Lewat gang ini saja, nanti tembus di Pasar Lama.”
Pertama-tama saya agak ragu, namun sang supir angkot memang tidak berbohong. Gang itu betul tembus ke Pasar Lama. Namun meski saya sebut ‘gang’, jangan kira wujudnya adalah jalan kecil yang kotor dan becek. Di Kota Tangerang, gang-gang sekalipun sebagian besar sudah berlapis conblock sehingga enak disusuri. Dan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil ini, sambil memperhatikan rumah-rumah tua dan kesibukan masyarakat Tangerang, terasa menyenangkan.
Di dekat tempat saya turun, ada sebuah gerbang merah yang digantungi lampion. Di balik gerbang itu ada tangga yang menuju ke pelataran yang tidak seberapa luas, dengan sebuah altar kecil tempat orang-orang bisa bersembahyang. Dulu di sini berdiri apa yang disebut Tangga Djamban, hasil sumbangan 81 orang warga Tionghoa Tangerang. Pada tahun 2009, tangga tersebut telah hancur total, namun pada tahun 2010 didirikan lagi atas inisiatif masyarakat, dan toapekong kali pun diletakkan di situ. Prasasti yang memuat nama ke-81 penyumbang Tangga Djamban diangkut ke Benteng Heritage Museum, dibersihkan dan kini dipajang di lantai dua bangunan tersebut. Pengunjung yang datang seringkali antusias ketika melihat nama marganya juga tercantum di prasasti itu.
Pemandangan Sungai Cisadane yang lebar dan relatif bersih meski airnya berwarna kecokelatan sungguh membuai mata. Memang satu lagi kelebihan Kota Tangerang adalah kawasan bantaran sungainya yang cukup terawat, dilengkapi kawasan hijau dan trotoar. Masih terlihat sampan-sampan dan para pemancing di sungai tersebut, juga orang-orang yang berjalan-jalan menikmati pemandangan sungai. Bila sedang perayaan Peh Cun, di sungai ini diselenggarakan perlombaan perahu naga.
(Trotoar dan taman memang merupakan kelebihan lain Kota Tangerang. Di sebagian ruas jalan, trotoar berdampingan dengan taman-taman yang dilengkapi bangku, tempat sampah, landasan bermain skateboard, lapangan basket, dan sarana permainan gimnastik.)
Saya mengikuti gang yang ditunjukkan sang supir angkot menuju Pasar Lama. Tidak jauh kok jalannya. Pasar Lama sampai saat ini memang masih berfungsi sebagai pasar tradisional di pagi hari. Mungkin karena itulah BHM juga buka siang hari, sejak pukul 1 di hari biasa dan pukul 11 di akhir minggu, namun tutup di hari Senin. Ketika saya tiba, pasar tersebut sudah sepi. Hanya tersisa beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangan.

Rumah di sebelah kiri belum berhasil dibeli oleh museum, namun direncanakan demikian, agar museum menjadi kesatuan utuh.
BHM mudah ditemukan karena tampak mencolok dengan cat dinding dan daun pintu serta kusen jendelanya yang masih terlihat mengilap. Kita akan disambut oleh sepasang patung singa – jantan dan betina – yang berdiri mengapit pintu depan. Gagang pintu tampak dihias diagram patkwa.
Ruang depan merupakan tempat penyambutan tamu, di mana kita bisa membeli minum untuk melegakan haus, membeli karcis, dan memotret. Ya, soalnya setelah melewati tempat penjualan karcis, kita tidak boleh mengambil foto. Namun di ruang depan ini, juga ada sejumlah pajangan yang menunjukkan kehidupan Kota Tangerang di masa lalu, untuk semakin menggelitik rasa ingin tahu kita.
Lantai dasar berlapis ubin kuno berwarna merah pudar. Ketika lantai dibongkar sewaktu restorasi, penggalian sedalam 20 meter ternyata menemukan sejumlah artefak yang menunjukkan bahwa lama sebelum rumah tersebut didirikan, daerah Pasar Lama telah digunakan sebagai pemukiman. Artefak-artefak itu kini dipamerkan di lantai dua BHM.
Di lantai bawah ini, disimpan sejumlah perabotan dan peralatan hidup sehari-hari seperti penggiling beras dari batu. Juga ada gerbang bulan yang indah, namun sebenarnya bukan merupakan bagian asli dari rumah, melainkan ditambahkan saat restorasi.
Lantai bawah saja sudah cukup membuat tercengang. Namun lantai dua BHM sungguh luar biasa! Untuk naik ke lantai berikutnya, kita terlebih dahulu harus mencopot sepatu, sebab penggunaan alas kaki dikhawatirkan menggores lantai atas yang terbuat dari kayu. Setelah mendaki tangga kayu yang cukup curam, kita pun tiba di lantai yang menyimpan sedemikian banyak harta warisan budaya.
Ada begitu banyak benda yang bisa kita lihat di lantai dua:
Mulai dari dachin (timbangan) dari yang kecil sampai yang bergagang panjang, sebab bisa digunakan merangkap sebagai pikulan;
kumpulan mesin tik, sempoa, jam dinding tua (salah satu di antaranya masih setia berdetak);
koleksi kain dan pakaian tradisional yang dipengaruhi budaya Tionghoa, misalnya kebaya encim;
Prasasti Tangga Djamban;
artefak berupa pecahan porselin, uang kuno, paku, dan lain sebagainya yang ditemukan tertanam di bawah museum;
sepatu-sepatu khusus yang dahulu dipakai oleh perempuan-perempuan yang kakinya diikat agar berukuran kecil, terkadang hanya sepanjang 3 inci (‘lotus feet’);
berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk upacara-upacara tradisional;
arca dan ikon berbagai dewa dan sang Buddha;
perabotan dan peralatan hidup sehari-hari; serta banyak lagi.
Ada pula ruang tempat menyimpan koleksi kamera kuno, gramofon, dan piringan hitam milik Pak Udaya, namun ruang ini hanya bisa kita masuki bila sang pemilik sedang berada di BHM.
Akan tetapi, barangkali harta paling berharga rumah ini adalah relief potongan cerita Sam Kok yang menghiasi bagian pinggir penunjang atap di sekeliling void rumah. Relief yang menunjukkan kehebatan kriya kayu dan tempel-keramik ini mungkin tidak akan kita sadari seandainya kita tidak mendongak. Keberadaannya sepertinya merupakan bukti bahwa museum dahulu merupakan rumah kongsi, karena tidak sembarang rumah boleh dipasangi relief seperti itu. Keindahannya seperti mencuri napas saya sejenak.
Hal seru lain yang bisa kita lakukan di museum ini adalah mencoba membuka papan gerendel pintu menuju balkon di lantai dua. Meski kelihatannya sederhana dan hanya terbuat dari kayu, jangan salah! Bila kita tidak tahu caranya, sampai bego juga kita tidak akan bisa menggeser kedua gerendel itu sampai terbuka. Sungguh karya pertukangan yang brilian! (Kalau kita menyerah, pemandu akan memberi tahu kita cara membuka pintu, kok. Contekannya tidak saya beri, ya… hehehe. ) Dari balkon, kita bisa melihat-lihat ruas jalan Pasar Lama yang merupakan urat nadi perdagangan Tangerang masa lalu.
Setelah puas melihat-lihat lantai dua, kita akan dituntun menuruni tangga yang berbeda, menuju ruang di mana kita dapat membeli berbagai buku dan kecap tradisional buatan Tangerang. Nantinya ruang suvenir ini diharapkan bisa menjual lebih banyak lagi ragam cenderamata.
Kelar mengunjungi museum yang menyimpan kekayaan budaya ini, kita bisa berjalan sedikit ke arah kanan saat keluar dari rumah dan menengok Vihara Padumuttara/Kelenteng Boen Tek Bio, tempat sebagian penduduk lokal beribadah. Bau dupa yang meruap meninggalkan kesan kuat dalam ingatan akan Kota Tua Tangerang yang begitu kental dengan budaya peranakan.
Informasi penting mengenai Benteng Heritage Museum
Jl. Cilame No. 18/20, Pasar Lama
Tangerang 15111, Banten, Indonesia
Telepon: +62 21 445.445.29
e-mail: info@bentengheritage.com
Tur di Museum Benteng Heritage adalah tur berpemandu, berlangsung selama 45 menit, dengan jumlah setiap rombongan dibatasi 20 peserta.
Harga tiket umum Rp 20.000; mahasiswa/pelajar (wajib menunjukkan kartu pelajar) Rp 10.000; tur berbahasa Inggris Rp 50.000.
Museum buka Selasa – Jumat 13.00 – 18.00, Sabtu – Minggu 11.00 – 19.00, Senin tutup
Heritage Waroeng Kopi 10.00 – 20.00, menyediakan berbagai makanan/minuman khas babah/peranakan Tangerang (halal)
Posted by Tante Guru
Tokyo: Dari Meiji-Jingu ke Tokyo Tower
29 Mar 2012 2 Comments
Perhatikan baik-baik foto di bawah ini. Kira-kira dalam bayangan Anda, foto ini saya ambil di kawasan pedesaan, ataukah di perkotaan?
Meski barangkali hal pertama yang terlintas di benak saat melihat foto ini adalah pedesaan yang jauh dari kota, namun sebenarnya foto ini saya ambil di Tokyo. Ya, di tengah megapolitan yang dihuni puluhan juta orang, masih bisa kita temui hutan lebat dan sungai bersih yang mengalir. Walaupun sebenarnya foto ini adalah foto taman di kompleks kuil Asakusa. Tapi nanti di bawah akan saya tunjukkan tempat yang masih pantas kita sebut ‘hutan di tengah Tokyo’ itu.
Saya mungkin jadi terdengar klise seperti banyak orang bila membicarakan Jepang yang dengan enaknya ‘menubrukkan’ berbagai dunia yang tampak bertentangan. Tapi seperti yang saya pernah katakan dalam tulisan saya mengenai Nara, memang begitulah adanya. Dalam tulisan penutup dari deretan tulisan kami mengenai Jepang kali ini, saya akan mengajak Anda menengok beberapa lagi tempat menarik di Tokyo, kota mahaluas yang begitu penuh paradoks.
Saya kira salah satu pertanyaan yang paling kerap diajukan orang yang hendak berkunjung ke Jepang dengan anggaran tidak seberapa besar adalah “Bukankah Jepang mahal?” Iya. Itu tidak akan saya pungkiri. Apalagi yen Jepang tampak enak-enak saja bercokol di posisi tukar yang tinggi terhadap rupiah. Namun banyak cara mengakali pos pengeluaran selama di Jepang, antara lain: banyak-banyak berjalan kaki. Dari Shibuya sampai Shinjuku, bisa kok ditempuh berjalan kaki, misalnya. Lagipula, tak hanya menghemat, dengan berjalan kaki kita pun bisa melihat berbagai hal yang tak akan terlihat bila kita berada di atas kereta.
Berjalan kaki juga memang seringkali menjadi satu-satunya cara untuk mendatangi pelosok-pelosok seperti Meiji Jingu yang ‘tersembunyi’ cukup jauh di dalam hutan seluas 175 ekar. Memimpikan ada ojek yang selalu siap mengantar kita ke mana pun tentu saja… hanya mimpi.

Mungkin kami cukup beruntung. Dua kali menyaksikan arak-arakan pernikahan tradisional. Sekali di Tokyo, sekali di Kyoto.
Berjalan kakilah membelah keramaian anak muda yang berkumpul di Harajuku, merayakan sedikit kebebasan terutama di akhir minggu dengan berpakaian sesuka-suka mereka, bebas dari kewajiban berpakaian rapi dan sopan dalam keseharian mereka.
Berjalanlah dari stasiun kereta bawah tanah Asakusa, melewati gerbang bernama Kanarimon; lantas menyusuri Nakamise-dori yang ramai oleh kios-kios kecil (dan bila hari panas, belilah es krim ubi kuning yang segar – tentu tak keberatan menyantapnya sambil berdiri?); lagi melewati gerbang lain yang kali ini disebut Hozomon, sampai akhirnya tiba di bagian utama kuil Asakusa Kannon (Sensoji). Dan seperti juga banyak kuil Buddha lain di Jepang, tidak ada yang keberatan kuil ini berdiri masih satu kompleks dengan kuil Shinto – Asakusa Jinja.
Berjalanlah melewati perkantoran modern setelah turun di stasiun Hamamatsucho, menuju Tokyo Tower. Tetap percaya diri meskipun pakaian kita jelas menunjukkan kita adalah pengelana yang berpakaian seadanya saja yang kita bawa, sungguh berbeda dari orang-orang kantoran Tokyo yang selalu berjas rapi dan tampak bersih. Sempatkan diri mampir di kuil keluarga Tokugawa, Zojoji.
Berjalanlah menelusuri jalan kecil di samping Zojoji, semakin dekat ke Tokyo Tower, dan resapi aura yang menusuk, mengharukan, melihat jejeran jizo yang dipersembahkan bagi anak-anak yang meninggal dalam kandungan ataupun saat dilahirkan. Para orang tua yang datang masih sering mempersembahkan mainan di depan jizo-jizo itu, seolah berharap di dunia sana anak mereka bisa tetap bermain seperti seharusnya apabila mereka terus hidup.
Berjalan? Ke puncak Tokyo Tower? Wah, ya jangan. Naik elevator dong, hehe. Tapi… berhubung saya belum sempat naik ke Tokyo Tower, hanya nampang doang di bagian bawahnya, barangkali ada di antara yang telah mencobanya mau berbagi cerita lebih mendetail?
Jepang. Saya menanti hari saya bisa kembali menapakkan kaki berjalan menyusuri trotoar-trotoarnya yang nyaman, dan jalan-jalannya yang meskipun ramai namun tetap bisa teratur. Ramai tapi teratur – apakah itu paradoks lagi? Lagi-lagi klisekah saya? Ah, pentingkah sesuatu itu klise atau tidak – bila yang tersaji adalah harmoni?
Posted by Tante Guru
Buddha Raksasa dan Rusa di Nara
29 Mar 2012 Leave a Comment
in jepang Tags: buddha, daibutsu, jepang, kuil, kyoto, nara
Ketika kita membayangkan segenap Jepang tak ubahnya bagai megapolitan Tokyo, di mana teknologi tinggi bertubrukan ramai dengan unsur-unsur tradisional yang tampak mewah seperti Asakusa yang ramai pengunjung, terlupa oleh kita bahwa masih banyak daerah di Jepang yang berupa hutan, pedesaan, dan persawahan. Itulah yang tampak oleh kami dalam perjalanan kereta dari Kyoto ke Nara yang tidak memakan waktu begitu lama (menurut ukuran orang Jakarta, tentu saja). Rumah-rumah yang tampak sederhana terkadang diselingi oleh bangunan yang hanya bisa disebut gubuk. Orang-orang berjalan kaki atau bersepeda melintasi pematang sawah. Ini sisi Jepang yang bagi saya juga menarik. Di luar segala hiruk-pikuk kota-kota besarnya, Jepang yang permai masih luas terhampar. Ah, ya, meskipun satu kali terlihat oleh kami pengguna sepeda yang dengan andalnya memainkan telepon genggam dengan sebelah tangan seraya terus menggenjot sepedanya…
Kami turun dari kereta di stasiun Kintetsu Nara, bukan di stasiun Nara. Kintetsu Nara lebih dekat dengan objek utama yang hendak kami tengok hari itu: Todai-ji, di mana terdapat salah satu daibutsu (patung Buddha raksasa) kenamaan di Jepang. Ceritanya, mau membalaskan ‘penasaran’ karena gagal melihat daibutsu di Nara. Todai-ji tercapai dengan berjalan kaki dari Kintetsu Nara, meski bila Anda ingin menghamburkan uang sedikit, bisa saja naik bis sebentar menempuh perjalanan singkat itu. Bukan masalah perjalanannya yang singkat, tapi apa yang akan Anda lewatkan bila hanya melihat-lihat dari balik kaca jendela bis: rusa.
Ya, rusa. Kota kecil ini kesohor ke seantero Jepang antara lain karena rusa-rusanya yang bebas berseliweran di mana-mana. Bahkan para pengemudi mobil yang tadinya melaju kencang karena jalanan yang tidak terlalu ramai, selalu siap sedia melambatkan atau bahkan menghentikan sebentar kendaraannya agar rusa bisa menyeberang jalan dengan aman dan damai. Rusa dianggap hewan suci yang melindungi kota Nara, sehingga tak ada yang berani mengusik mereka. Maskot kota Nara saat ini – Sento-kun – juga menyandang rangga rusa di kepalanya. Jangan heran pula, ada penganan oleh-oleh dari Nara yang berbentuk… kotoran rusa. Jijik-jijik lucu.
Bekas ibukota Jepang di abad ke-8 Masehi ini – pada periode yang karenanya dikenal sebagai ‘periode Nara’ – juga bertaburkan kuil Buddha di berbagai sudutnya. Beberapa orang biksu terlihat berdiri di beberapa tempat, membacakan doa-doa sambil memegang wadah tempat menampung sedekah. Salah satunya kami lihat di tepi air mancur yang terlihat oleh kami sewaktu baru keluar dari Kintetsu Nara. Beberapa menit saya perhatikan, tak ada yang memberinya barang sekeping dua keping sekalipun. Entah mengapa. Di Tokyo juga saya pernah melihat dua peminta sumbangan sampai membungkuk-bungkuk memohon kesediaan orang-orang yang berlalu-lalang untuk beramal. Apakah orang-orang lain khawatir mereka penipu? Entahlah.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami masuk ke salah sebuah rumah makan bergaya tradisional di lorong perbelanjaan di samping Kintetsu Nara. Yang melayani sudah agak berumur. Dua tamu lain selain kami di ruang depan pun juga tidak lagi muda. Namun deretan manga shounen yang dipajang berjejer di lemari dinding menunjukkan tanda napas muda di kedai itu. Lagipula, sepertinya ada lagi ruang makan di sebelah belakang, yang tidak kami tengok sedikit pun. Sudah cukup langsung mengisi perut yang kelaparan dengan sajian soba dan yakitori yang luar biasa enaknya.
Keluar dari rumah makan, kami kembali ke rute semula: menuju ke timur, menyusuri jalan yang agak menanjak, sambil agak main halang-rintang dengan rusa-rusa yang di Nara tidak bisa kita katai ‘Emangnya jalannya engkong lo’ – karena di kota ini memang mereka ‘pemilik’ jalanan. Hati-hati. Tidak semua rusa ramah dan mau dielus. Lihat-lihat juga tampang dan gelagatnya sebelum Anda mencoba beramah-tamah dengan anggota keluarga rusa. Yah, ada juga sih rusa-rusa yang justru sok akrab, menarik-narik pakaian atau tas ataupun menggesek-gesekkan moncong ke orang yang lewat. Tapi ya, paling mungkin akan lebih aman beramah-tamah dengan penarik jinrikisha yang siap mengantar Anda melihat-lihat Nara.
Saat berjalan ke arah Todai-ji, sejumlah museum di sebelah kanan kami terpaksa dilewatkan, meskipun tampak mengundang: Museum Harta Nasional dan Museum Nasional Nara. Apa daya, kunjungan ke Nara ini memang hanya day-trip yang baru kami putuskan malam sebelumnya, ketika bingung keesokan harinya hendak berkunjung ke mana lagi, saking banyaknya pilihan tersedia di tangan.
Tiba di kompleks Todai-ji, kami tidak langsung berhadapan wajah dengan sang Buddha raksasa. Terlebih dahulu kami menyusuri jalan yang di satu sisinya berjejer kedai dan kios penjual cenderamata. Rusa? Oh ya, tentunya, tidak usah ditanya. Dan anak sekolah. Banyak sekali anak sekolah. Ternyata kedatangan kami berbarengan dengan rombongan demi rombongan anak sekolah yang tidak terkira banyaknya.

Boleh dicoba: wasabibashi. Seperti sushi tapi tidak dibungkus dengan nori (rumput laut), dijual oleh Umemori.
Pengunjung masuk melewati Nandaimon (Gerbang Selatan), struktur yang berukuran besar sekali (bahkan merupakan gerbang terbesar di Jepang) dan terbuat dari kayu. Usianya sudah 7 abad. Tak heran, gerbang ini ditetapkan sebagai salah satu Harta Nasional Jepang. Di Nandaimon ini, terdapat 2 patung penjaga yang disebut Nio. Yang mulutnya terkatup dikenal sebagai Ungyo, sementara yang mulutnya terbuka dikenal sebagai Agyo.

Nandaimon. Perhatikan manusia-manusia yang jadi terlihat seperti kurcaci ketika berdiri di bawah gerbang raksasa ini.
Dari Nandaimon, kami terus melangkah sampai ke Chumon, dan baru kemudian ke Daibutsuden, aula tempat patung Buddha raksasa bersemayam. Patungnya saja raksasa, tentunya aulanya juga. Betul-betul diri terasa kecil ketika telah berada di dekat bangunan itu.
Daibutsu Nara dengan tingginya yang mencapai 16 meter sungguh mengagumkan. Kepalanya menjulang jauh di atas kami, mengharuskan kami mendongak senantiasa untuk melihat wujudnya. Patung perunggu ini – dan juga struktur-struktur lain di kompleks Todai-ji – telah mengalami kerusakan beberapa kali akibat gempa, dan diperbaiki. Hati jadi bergetar mengingat bahwa kompleks ini telah berdiri sejak abad ke-8 Masehi!
Bila mengitari Daibutsu, kita juga bisa melihat patung Bishamonten dan Komukuten serta maket lengkap wujud asli kompleks kuil, yang menampilkan juga model sejumlah bangunan yang sudah tidak ada. Untuk yang ingin mencoba peruntungan, ada sebuah lubang di salah satu tiang penyangga Daibutsuden. Konon yang bisa melewatinya, akan beroleh berkah di kehidupan nanti. Sayang saya tidak sempat mencobanya, meski hanya untuk menunjukkan bahwa saya masih cukup langsing untuk melewati sebuah lubang berukuran kecil…
Sementara di teras kanan depan, terdapat sebuah patung kayu yang tampak agak menyeramkan karena bagian wajahnya mulai rusak digerus waktu. Namun patung yang diberi pakaian berwarna merah ini pun banyak disembahyangi dan disentuh orang. Ternyata ini adalah perwujudan Bizuru (Pindola Bharadvaja), salah seorang dari enam belas arahat atau murid Sang Buddha. Orang Jepang percaya, bila kita mengelus bagian patung Pindola yang berkesesuaian dengan bagian tubuh kita yang sakit, maka penyakit itu akan hilang.
Di antara asap hio yang menyesakkan hidung dan memedihkan mata, serta para peziarah yang khusyuk bersembahyang, murid-murid sekolah asyik berfoto dengan gaya ‘unyu’, termasuk sambil membelakangi Daibutsu. Ini bukan masalah rupanya di Jepang. Di beberapa negara lain, misalnya Thailand, Anda tidak boleh menunjukkan punggung kepada Buddha. Pun di dalam Daibutsu-en, terdapat kios-kios yang menjual cenderamata khusus Todai-ji. Urusan komersial bukan hal tabu dilakukan di dalam bangunan yang semestinya untuk beribadah. Untuk yang hendak beramal, bisa juga, dengan cara menyumbangkan uang untuk membeli sebilah genting yang akan ditulisi nama kita dan digunakan mengganti atap bangunan-bangunan Todai-ji yang telah rusak.
Yang modern dan yang tradisional. Yang fana dan yang baka. Pada akhirnya, seperti juga banyak orang asing lain, saya tak habis pikir bagaimana bangsa Jepang dengan mulusnya bisa menyelaraskan hal-hal yang tampak bertentangan itu. Termasuk di sini, di Todai-ji.
Posted by Tante Guru
TOUCH KOREA TOUR: 10 Alasan Mengapa Saya yang Pantas Dipilih
21 Mar 2012 22 Comments
in korea Tags: buzz Korea, hallyu, Korea Tourism Organization Indonesia, tempat wisata, tempat wisata korea selatan, touch korea tour, wisata Korea Selatan
Beberapa tahun silam, dalam sebuah konferensi, saya bertemu dengan seorang profesor bahasa dari Korea Selatan. Mari kita sebut saja beliau Profesor Park – sesuai nama keluarganya, yang memang dimiliki oleh banyak orang Korea. Wanita setengah baya ini sangat ramah dan santun. Dengan cepat kami akrab, dan selama konferensi banyak menghabiskan waktu bersama.
Saat itu, saya belum tahu banyak mengenai Korea. Baru menonton beberapa drama TV saja, yang kebetulan memang saya suka. Namun Profesor Park sangat tertarik sewaktu mendengar dari saya bahwa semakin banyak penggemar budaya (terutama budaya popular) Korea di Indonesia. Beliau juga berpesan ke saya agar sekali-sekali main ke Busan, tempat beliau menetap dan mengajar.
Yang paling membekas di hati saya adalah ketika di hari Minggu Profesor Park baru muncul di tempat konferensi saat hari sudah siang. Beliau tidak menghadiri sesi pagi. Apa pasal? Ternyata beliau sepagian mencari gereja untuk beribadah terlebih dahulu. Beliau lebih rela ketinggalan sesi konferensi yang jauh-jauh ia hadiri daripada alpa ke gereja.
Saat itu saya berpikir: apakah orang-orang Korea setaat ini beragama? Sesantun ini? Seramah ini? Pertemuan tiga hari itu ternyata menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya. Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya membuat saya berkeinginan mengikuti kompetisi TOUCH KOREA agar bisa berangkat ke Korea!
Tapi mengapa saya? Inilah sejumlah alasan yang semoga membuat Anda yakin bahwa saya pantas terpilih.
SATU. Saya seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah menengah atas. Sebagian murid saya, seperti juga banyak remaja Indonesia pada umumnya, sangat menggemari Korea. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang Korea, termasuk bagaimana berkunjung dan meneruskan pendidikan ke sana. Saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang Korea, agar juga bisa menjawab keingintahuan mereka dengan lebih baik. Siapa tahu, tak lama lagi saya bisa mengantarkan murid-murid saya melanjutkan ke perguruan tinggi di Korea.
DUA. Eh, tetapi bukan hanya murid-murid saya saja yang menyenangi budaya popular Korea… Sebenarnya saya pun menyenangi sejumlah artis/musisi Korea. Dianggap ketuaan untuk menyenangi musik pop Korea? Ah, tidak apa-apa! Untuk saya, musik yang bagus tidak mengenal batas-batas seperti usia, asal, dan lain sebagainya. Saya dan murid-murid bahkan sering mengobrolkan artis kesukaan kami, hehehe…
TIGA. Saya menyenangi jalan-jalan. Ya, seperti yang dapat terlihat pada isi lain dari keseluruhan blog yang saya kelola dan sedang Anda baca ini, saya memang selalu berusaha menyisihkan uang setiap beberapa bulan sekali agar bisa mengunjungi tempat-tempat menarik, entah itu di negara sendiri ataupun di negara lain, ‘meskipun’ hanya dengan anggaran yang tidak besar. Korea Selatan adalah salah satu negara di Asia Timur yang sampai saat ini saya belum punya kesempatan untuk kunjungi.
EMPAT. Blog saya sendiri meraih cukup banyak pengunjung setiap harinya. Contohnya, ini adalah statistik pengunjung blog saya untuk beberapa minggu terakhir (Maret 2012). Tahun lalu, blog jalan-jalan saya itu memperoleh lebih dari 11.000 hit. Tulisan-tulisan saya juga selalu saya promosikan di Twitter dan Facebook. Saya yakin blog saya ini masih bisa digenjot lagi untuk mempromosikan pariwisata dan pendidikan Korea.
LIMA. Selain blog jalan-jalan berbahasa Indonesia itu, saya juga memiliki blog yang ditulis dalam bahasa Inggris. Nah, kalau di blog yang satu ini, saya banyak menuliskan ulasan konser yang saya hadiri, termasuk sejumlah konser artis Korea. Contohnya, sewaktu Super Junior dll datang ke Indonesia untuk acara KIMCHI, saya menuliskan liputannya di sini.
ENAM. Jalan-jalan, bagi saya bukan hanya melihat-lihat. Namun saya juga tertarik kepada kebudayaan. Korea memiliki kekhasan budaya, yang meski memiliki kemiripan, namun tetap cukup mudah dibedakan dari negara-negara tetangganya. Salah satu yang paling khas tentu adalah hanbok, pakaian tradisional Korea. Memang sih, di Indonesia pun sudah cukup banyak tempat di mana kita bisa mencoba mengenakan hanbok. Tapi mengenakannya di negara asalnya, tentu beda rasanya bukan? Apalagi dilengkapi suguhan tari-tarian tradisional Korea – pasti asyik sekali rasanya!
TUJUH. Saya juga tertarik karena dengan mengikuti TOUCH KOREA ada kesempatan untuk bertemu 2PM dan Miss A. Mereka sudah pernah berkunjung ke Indonesia. Giliran saya mengunjungi mereka di negara mereka!
DELAPAN. salah satu hal yang paling menarik perhatian saya dalam sejumlah promosi pariwisata Korea adalah bagaimana Korea menempatkan diri sebagai negara yang bersahabat bagi wisatawan Muslim. Saya sendiri sering ditanyai teman-teman ataupun pengunjung blog yang beragama Islam – agama mayoritas di Indonesia – mengenai kiat-kiat bepergian ke negara-negara tertentu sebagai seorang Muslim. Saya akan sangat senang sekali bila bisa memberikan lebih banyak bantuan berperspektif Muslim bagi calon pengunjung ke Korea!
SEMBILAN. Masih terkait dengan perspektif wisatawan Muslim di Korea, saya juga ingin mencicipi berbagai makanan Korea, tentunya yang boleh saya konsumsi. Dan saya terbantu sekali oleh Korea Tourism Organization yang mengeluarkan buku panduan khusus untuk para pengunjung Muslim ke Korea. Beberapa makanan yang ingin saya coba antara lain adalah haemul jeongol (kaserol seafood), pajeon yang juga disarati seafood, dan hwangtaegui, ikan hwangtae (pollack) yang dikeringkan dan dimasak dengan berbagai bumbu. Hmm! Ingin mencicipi makanan Korea yang terkenal akan bahan-bahannya yang berkualitas tinggi, terutama seafood-nya.
SEPULUH. Saya pun berharap bisa bertemu kembali dengan Profesor Park yang telah saya kisahkan di awal cerita. Ya, siapa tahu. Namun sekiranya pun tidak, saya yakin akan bertemu dengan banyak orang yang bisa menambah pemahaman saya mengenai Korea, sekaligus menjalin persahabatan yang lebih langgeng antara negara saya dan Korea. Semoga!
Demikianlah 10 alasan yang bisa saya ajukan. Semoga cukup bisa meyakinkan Anda semua!
Semua foto yang ditampilkan di sini, terkecuali banner TOUCH KOREA TOUR, adalah foto yang saya ambil sendiri.
Ueno dan Pameran Buddha Tezuka Osamu
18 Mar 2012 Leave a Comment
in jepang Tags: jepang, museum, tokyo, ueno
Kalau menilik kalimat terakhir pada tulisan saya sebelumnya, maka sekarang ini seharusnya saya membahas tentang Nara, ya? Tetapi bolehlah saya tunda niat menulis tentang Nara sejenak, dan beralih ke Tokyo (yang, setelah dipikir-pikir, masih sedikit kami bahas). Tepatnya ke Ueno, di mana terdapat sejumlah museum yang amat memikat, juga taman, kompleks pemakaman, dan kebun binatang. Malah sebenarnya, Ueno-lah tempat pertama yang kami kunjungi begitu tiba di Jepang.
Begitu keluar dari Stasiun Ueno yang terletak di jalur Yamanote, Hibiya, dan Ginza, kami langsung disambut oleh rindangnya pepohonan. Sejumlah bangunan – Museum Nasional Seni Barat dan Aula Festival Metropolitan Tokyo – langsung menggoda mata, mengundang masuk. Namun berhubung lapar, kami malah melipir dulu ke Green Salon Cafe, dengan berbagai kare andalannya, untuk mengisi perut. Setelah tenaga kembali tersedia, barulah kami kembali ke rencana awal: mengunjungi museum. Tapi… museum yang mana?
Kebun binatang sudah sedari awal kami coret dari daftar kunjungan karena keterbatasan waktu. Kami terpaksa melewatkan yang berikut ini dan hanya melihat-lihat dari luar:
- Museum Nasional Seni Barat (Kokuritsu Seiyo Bijutsukan) – yang banyak menyimpan karya-karya Rodin, termasuk satu dari sedikit cetakan perunggu Gates of Hell, El Greco, Monet, Renoir, dan lain-lain.
- Museum Sains Museum, dengan model paus biru raksasa di sebelah luarnya.
Di kompleks Ueno ini juga ada Museum Seni Metropolitan Tokyo.
Kami langsung menuju Museum Nasional Tokyo, dan dengan suka cita melihat baliho di sebelah luar yang menyatakan bahwa sedang berlangsung pameran khusus Buddha karya Tezuka Osamu! Sungguh kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan! (Kita yang di Indonesia beruntung karena karya ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Sementara animasi yang didasarkan pada manga ini pun akan ditayangkan di bioskop-bioskop kita tahun 2012 ini.) Dengan merelakan uang 800 yen, kami pun memperoleh tiket masuk ke Museum Nasional.
Bagi orang-orang yang sangat menyenangi museum tapi tinggal di negeri yang masih kekurangan museum yang bagus, melihat Museum Nasional Tokyo dari luar pun sudah cukup membuat hati bergetar karena merasa asyik dan… panik. Lho, kok panik? Ya, habisnya, apa sempat menjelajahi semuanya seharian? Apa sempat kami tengok semua koleksinya?
Ada sejumlah gedung dalam kompleks Museum Nasional Tokyo, yang saling tersambung sehingga mudah untuk dikunjungi:
- Honkan, bangunan utama, tempat koleksi permanen seni Jepang.
- Houryuu-ji Houmotsukan, yang menyimpan galeri harta karun tak ternilai dari kuil Buddha Houryuu-ji di barat daya Nara.
- Touyoukan, yang memamerkan seni dan artefak Asia.
- Hyoukeikan tempat pameran khusus.
- Heiseikan, galeri arkeologi Jepang.
Yang pertama kami datangi adalah Honkan, di mana pameran Buddha sedang dilangsungkan. Tidak hanya kami berkesempatan melihat halaman-halaman asli manga Buddha hasil garapan tangan Tezuka Osamu, melainkan juga artefak-artefak yang mengilhami dan menjadi model Siddharta dalam manga tersebut. Artefak-artefak Buddha yang menggambarkan Buddha dari berbagai usia dengan beraneka pose itu juga berasal dari tempat yang berbeda-beda, mulai dari India, Afganistan, Cina, sampai dari Jepang sendiri. Sungguh mengingatkan betapa pernah sedemikian tersebar luas keyakinan ini. Beribu maaf, kami tidak boleh mengambil foto di pameran ini.
Di pintu keluar ruang pameran khusus itu, kami disambut pernak-pernik pameran Buddha tersebut, juga karya-karya Tezuka lain seperti Tetsuwan Atom, yang dijual dengan harga cukup menggoda. Benak pun terombang-ambing antara kesadaran bahwa barang-barang ini sulit diperoleh, dan rasa ngeri langsung membelanjakan banyak uang di hari pertama. Tak ayal saya beli juga beberapa kartu pos.
Sebelum sempat kalap (apalagi kami tahu bahwa museum ini pun memiliki toko cenderamata tersendiri di luar kios khusus Buddha itu), kami pun mulai menelusuri ruang demi ruang di Honkan dan Heiseikan – hanya dua bangunan ini yang bisa kami jajal hari itu.
Oh ya, untuk catatan, di dalam museum boleh memotret, namun perhatikan tanda pada setiap pajangan karena ada sebagian pajangan yang tidak boleh dipotret. Apa pun alasannya dilarang – mungkin karena barang yang dimaksud dianggap sangat berharga atau sangat suci – sebaiknya kita hormati larangan ini.
Honkan terbagi atas 9 ruangan. Beginilah isi masing-masing ruangan, yang saya tuliskan dalam bahasa Inggris sesuai brosurnya.
- 1[1]: The Dawn of Japanese Art, yang menampilkan karya-karya dari zaman Jomon, Yayoi, dan Kofun.
- 1[2]: The Rise of Buddhism
- 2: National Treasure Gallery
- 3[1] dan 3[2]: Buddhist and Courtly Art
- 3[3]: Zen and Ink Paintings
- 4: The Art of Tea Ceremony
- 5 dan 6: Attire of the Military Elite, di mana kita bisa melihat baju zirah para ksatria zaman dahulu, juga pedang-pedang bersejarah.
- 7: Folding Screen and Sliding Door Paintings
- 8[1]: The Arts of Daily Life
- 8[2]: Developments in Painting and Calligraphy
- 9: Noh and Kabuki. Kita bisa melihat berbagai kostum dan topeng yang dikenakan para aktor.
- 10: Fashion in the Edo Period, Ukiyo-e in the Edo Period
Heiseikan pun sangat menarik, dengan koleksi berbagai artefak arkeologi yang mendokumentasikan perkembangan Jepang dari zaman ke zaman. Sebagian temuan dari masa lalu ini sekilas tidak terbayangkan merupakan karya para penduduk Jepang di zaman dahulu. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang lekat dengan bayangan kita tentang budaya Jepang sekarang. Bahkan ada makam tua segala dipamerkan di sini. Penataan yang memikat dan informasi pendamping yang tersaji membuat kami lupa akan waktu yang berlalu. Di dalam museum kami berada di masa lalu, seolah tidak sejalan dengan perjalanan matahari di langit di luar.
Uh… tak terasa hari sudah sore. Sejam lagi museum akan ditutup, namun kami belum mengunjungi toko cenderamata yang terletak di bawah tanah. Saya bergegas ke situ, dan, duh… Sejam sih juga mana cukup di toko ini? Begitu banyak cenderamata yang seperti memekik minta dibawa pulang!
Ketika akhirnya kami melangkah keluar dari kompleks museum, kami pun menyegarkan diri dengan es krim lembut yang kami beli dari truk yang memang mangkal di dekat museum. Kami duduk-duduk di depan Museum Sains Nasional dan bermain dengan beberapa ekor anjing yang dibawa berjalan-jalan oleh kakek pemilik mereka. Hari pertama yang mengesankan di Jepang bersama kenangan dari masa lalu negara ini.
Posted by Tante Guru




















































































































































































































Komentar pelompat