Kunjungan Singkat ke Hakone

This post is about Japan

MENJELAJAHI HAKONE

Masih ingat Hakone?  Di kota yang terletak di sebelah barat daya Tokyo inilah terletak Museum Le Petit Prince yang pernah kami bahas.  Nah, dalam tulisan kami kali ini, akan kami bahas secara lebih mendalam mengenai kota kecil yang menarik ini.

Bis berbentuk 'jadul' melenggang di jalanan Hakone yang lengang.

Apa daya tarik Hakone?

Ini beberapa di antaranya:

-          Bila Anda suka mengunjungi museum atau menggemari karya seni, di Hakone terdapat berbagai museum, selain Museum Le Petit Prince tentunya.  Ini beberapa di antaranya: Lalique Museum, Hakone Glass Forest Venetian Glass Museum, Hakone Open-Air Museum, Pola Museum of Art.

-          Mandi air panas!  Hakone terletak di lereng pegunungan berapi.  Tidak heran, sumber mata air panas melimpah.  Paduan suhu gunung yang sejuk atau bahkan dingin dengan air panas alami sungguh menyenangkan.  Tapi ingat, baca, pahami, dan laksanakan baik-baik ya peraturan dan tatacara di pemandian air panas.  Jangan asal masuk dan mencebur.

-          Melihat gunung Fuji di kejauhan dari setidaknya tiga titik (yang ditandai di peta Hakone).

-          Kunjungi ‘lembah neraka’, Owakudani, yang nyaris tandus dengan urat belerang di sana-sini – satu lagi bukti nyata aktivitas vulkanis di wilayah Hakone.  Bila tidak mau menginjakkan kaki langsung, Owakudani bisa dinikmati dari udara, dengan menggunakan ropeway.

-          Ropeway?  Apa itu?  Sederhananya sih: kereta gantung.  Salah satu hal yang menarik dari Hakone adalah transportasi yang dirancang dan dikelola dengan sedemikian baik sehingga memaksimalkan pengalaman wisatawan berkeliling kota tersebut dan wilayah sekitarnya.  Perjalanan menuju tempat-tempat wisata pun menjadi keasyikan tersendiri.  Selain mencicipi Hakone Tozan Train, kita juga bisa menumpangi bis-bis dengan rute naik-turun gunung membelah hutan, menyeberangi Danau Ashi dengan kapal bergaya zaman dahulu, serta menaiki ropeway dan cablecar.  Semua bisa dinaiki cukup dengan free pass Hakone (lihat penjelasan di bawah).

Berbagai penganan yang membuat jantung fans Evangelion kebat-kebit saat melihatnya.

-          Bila Anda penggemar Neon Genesis Evangelion, perjalanan ke Hakone adalah ‘ziarah’ ke wilayah yang dijadikan latar lokasi kota rekaan Tokyo III dalam serial anime/manga laris tersebut.  Tak heran, di Hakone banyak dijual pernak-pernik dan makanan ringan bertema Evangelion.

-          Dan tentu saja… wisata kuliner yang amat menggoda selera!

Bagaimana menuju ke sana?

Apabila Anda menuju Hakone dari Tokyo seperti kami, Anda bisa menggunakan kereta JR ataupun bis Odakyu.  Kami memilih cara yang lebih murah: naik kereta biasa dengan memanfaatkan free pass Hakone dari Odakyu.  Tiket ini bisa dibeli di situs-situs ataupun stasiun-stasiun kereta Odakyu.  Di Shinjuku (titik awal keberangkatan kami), loket penjualan tiket Odakyu ada di dekat pintu keluar barat.

Harga tiket dewasa untuk 2 hari (yang kami pilih) adalah 5000 yen dari Shinjuku (harga anak-anak 1500 yen).  Harga tiket dewasa untuk 3 hari adalah 5500 yen, harga anak-anak 1750 yen.  Bila ingin lebih nyaman, bisa membeli tiket kereta ekspres terbatas ‘Romancecar’ yang waktu tempuhnya lebih cepat dan keretanya pun lebih nyaman, dirancang khusus untuk wisatawan.  Cukup tambahkan 870 yen dari harga dasar free pass Hakone.  Oya, tiket Anda ini berlaku dari Shinjuku ke Hakone, berputar-putar di Hakone, sampai kembali lagi ke Shinjuku dalam batas waktu yang ditentukan.

Perjalanan dari Shinjuku ke stasiun Hakone-Yumoto dengan kereta biasa memakan waktu 115 menit.  Dengan Romancecar hanya butuh waktu 85 menit.

Stasiun Hakone-Yumoto: kereta-kereta dari luar kota seperti Tokyo akan menurunkan Anda di stasiun ini.

Sebaiknya menginap di mana, ya?

Kalau Anda berangkat ke Jepang dengan tekad jalan-jalan hemat, izinkan kami memberikan sedikit saran: longgarkan anggaran Anda, dan jangan segan menghabiskan uang yang agak banyak untuk memperoleh pengalaman penuh di Hakone.  Menginaplah di salah satu penginapan atau hotel yang menyediakan fasilitas pemandian air panas, kamar dan pelayanan bergaya tradisional, serta penyajian hidangan khas lokal di kamar tidur.  Harganya memang tidak murah, per orang lebih dari satu juta rupiah per malam.  Tapi tidak akan menyesal!

Namun, bila Anda merasa keberatan dengan harga itu, hotel-hotel biasanya menyediakan juga kamar bergaya modern yang lebih murah, namun tentunya lebih sempit dan tanpa acara makan-makan di kamar.  Di hotel yang kami inapi, Suimeso, kamar-kamar modern tersebut terletak di bangunan yang dipisahkan oleh jalan kecil.  Kamar untuk satu orang saja pun ada.  Bila hendak mandi air panas, penghuni bangunan modern harus menyeberang jalan, karena pemandian terletak di lantai teratas bangunan yang kami tempati.  Selain soal praktisnya mendatangi pemandian, penyewa kamar bergaya tradisional mendapat keuntungan lain: dapat memperoleh kamar yang menghadap ke sungai dan hutan, sajian yang menyegarkan mata.

Lobi Suimeiso.

Pemandangan yang terlihat dari jendela kamar kami.

Kami memilih Suimeiso yang dekat dengan stasiun Hakone-Yumoto, yang juga punya keuntungan lain lagi, yakni kehadiran toko cenderamata di lantai dasar.  Yukata yang dijual di toko ini pun cukup murah dan cantik-cantik.

Kamar tradisional yang kami sewa sebenarnya sudah mirip sebuah rumah kecil tradisional.  Pintu depannya berupa pintu geser.  Begitu masuk, ada rak sepatu dan bakiak yang berjejer di depan undakan menuju kamar utama.  Persis betul dengan rumah.  Di dalam kamar alas kaki ya harus selalu dilepas.

Bakiak maupun yukata untuk dikenakan setelah usai mandi air panas disediakan oleh hotel.

Setelah bagian depan ini, di sebelah kiri ada toilet, dan ada pintu lagi yang membatasi tempat meletakkan sepatu dengan kamar utama.  Kamar utama berfungsi ganda, sebagai ruang makan dan tempat beraktivitas, dan kala malam disulap oleh pramuwisma menjadi kamar tidur.

Beginilah rupa kamar utama di luar waktu tidur:

Lantas beginilah rupanya setelah waktu tidur hampir tiba, meja-kursi disimpan, dan futon (kasur tradisional) telah digelar:

Selain toilet, juga ada kamar mandi modern di sebelah dalam, yang dilengkapi dengan bath tub dan shower – untuk digunakan jika Anda tak berminat mandi pagi, siang, sore, malam di pemandian terus.  Bila tak hendak menonton TV yang pesawatnya disediakan, di dalam kamar disediakan mainan tradisional yang boleh dicoba saat bersantai.

Contoh rencana perjalanan, bagaimana?

Saat membeli karcis, kita akan diberi selembar peta Hakone dan sekitarnya, yang juga menunjukkan moda-moda transportasi mana saja yang bisa kita naiki tanpa membayar lagi, dan juga beberapa rute perjalanan yang direkomendasikan.  Oleh karena keterbatasan waktu, kami tidak mengikuti rekomendasi itu, melainkan merancang sendiri rute kami.  Beginilah pengalaman kami:

Sekadar menyusuri tepian sungai ini pun sungguh pengalaman menenangkan yang berharga.

Tiba di Hakone-Yumoto, hari sudah sore.  Kami menuju hotel dengan berjalan kaki, sambil menengok sungai lebar dan bersih yang mengalir dekat stasiun serta menyusuri trotoar lebar dengan toko-toko oleh-oleh dan penganan tradisional di sisinya.  Ketenangan kota ini, kontras dengan Tokyo yang hiruk-pikuk nyaris sepanjang waktu, kontan membuai kami.  Ketika kami tiba di hotel, dengan mimik agak khawatir para pegawai hotel menyambut kami.  Ups.  Kami memang terlambat tiba dari waktu yang kami janjikan, dan mereka rupanya telah bertanya-tanya.

Salah seorang pegawai pun mengantarkan kami ke kamar.  Ia memberitahukan bahwa makan malam akan dihidangkan tak beberapa lama lagi.  Kami menunggu sambil mengaso dan menikmati udara segar yang menghambur dari jendela yang sengaja kami buka lebar-lebar.  Ketika akhirnya pramuwisma tiba mengantarkan makanan, malah kami jadi agak ‘panik’ sendiri melihat betapa banyaknya santapan yang disajikan!  Beraneka ragam, berwarna-warni, semua tampak menggoda.  Dan rasanya?  Wuih!  Kelas satu.  Tak heran, karena bahan makanan yang digunakan tampaknya adalah yang terbaik dan segar dari wilayah sekitar.  Meski awalnya rasanya tak mungkin menghabiskan semuanya, tanpa sadar satu per satu makanan berpindah tempat ke dalam lambung kami sehingga nyaris licin tandas.

Ini salah satu alasan Anda tak akan menyesali pergi ke Hakone. Jadi 'raja dan ratu semalam'!

Usai makan, pramuwisma – seorang ibu-ibu yang sangat ramah dan santun, yang meskipun bahasa Inggrisnya terbatas selalu berusaha sekuat tenaga membantu kami – kembali untuk membereskan meja makan.  Kami memutuskan untuk mencoba keluar sebentar, melihat-lihat kota.  Saat itu baru sekitar pukul 8 malam.  Betapa kagetnya kami ketika mendapati jalanan telah lengang!  Ya, Hakone, kota pariwisata yang dibanjiri turis dari berbagai penjuru dunia ini, tidak mengubah gayanya sebagai sebuah kota kecil: kebanyakan toko tutup sebelum hari beranjak terlalu malam, dan para penduduk setempat pun ‘menghilang’ dari jalanan.

Akhirnya kami kembali ke hotel dan memutuskan untuk menikmati pemandian air panas saja.  Yah, memang ini salah satu inti mengunjungi Hakone.  Malam di kota tetirah ini adalah untuk dinikmati dengan santai, bukan dengan berkeliaran melihat-lihat pusat perbelanjaan.

Keesokan harinya, kami memperoleh sarapan yang ukurannya juga di luar kelaziman sarapan ala Indonesia.  Benar-benar mengenyangkan!  Bisa dibilang kami berguling keluar hotel saking penuhnya perut.

Kami mendatangi halte bis di seberang stasiun Hakone-Yumoto.  Di sana ada sejumlah petugas yang siap membantu kami mencari bis yang tepat dan mengantri di jalur yang sesuai.  Kami menjelaskan kepada salah seorang di antaranya bahwa kami ingin menaiki kapal di Danau Ashi.  Dengan sigap ia mengarahkan kami ke antrian bis jalur K, sambil mengingatkan agar tidak turun di dermaga Motohakone-ko, tujuan awal kami.  Rupanya hari itu tidak ada pelayaran dari dan ke situ.  Padahal niat kami naik kapal dari situ adalah agar bisa berlayar dekat torii merah yang tertanam di dalam bagian dangkal danau di dekat Odakyu Hotel de Yama.  Yah, apa boleh buat.  Kami pun turun di Hakonemachi-ko dan menanti kapal yang akan membawa kami.

Tempat membeli tiket kapal dan mengantri di Hakonemakochi-ko.

Kapal pariwisata Danau Ashi tampil menggelitik dengan wujudnya yang seperti kapal-kapal kuno.  Langsung deh, teringat film-film bajak laut zaman dahulu.  Kapal bertolak setiap 30-40 menit sekali.  Berhubung kapal yang akan kami naiki belum tiba, kami pun melihat-lihat dan berfoto-foto dulu di sekitar dermaga.  Saat itu mendung menggelayut, agak mencemaskan.  Bahkan sebelumnya saat kami berada dalam bis, hujan juga sempat turun. Cuaca di Hakone memang cepat berubah-ubah, dan wisatawan pun diharap memahami bila tahu-tahu saja kapal ataupun moda transportasi lain menghentikan pelayanan untuk sementara karena cuaca yang tidak memungkinkan.

Bajak laut datang!

Untunglah, kapal kami, Victory, tidak ditunda keberangkatannya.  Kami pun berlayar – meski tanpa layar – membelah Danau Ashi, menikmati pemandangan yang terbentang luas di depan mata.  Sesaat rasanya tidak ada yang namanya keburukan dan kejahatan di dunia ini.  Semuanya damai.  Kami berusaha bertahan selama mungkin di geladak atas agar bisa melihat sekeliling sebanyak-banyaknya. Namun, bila tidak lagi kuat diterpa udara dingin di atas ataupun bila hujan turun, geladak bawah yang nyaman siap menyambut.  Di bawah ada toko kecil yang menjual penganan dan berbagai suvenir khas sightseeing cruises itu, termasuk Hello Kitty edisi khusus.  Sayang, karena cuaca, kami gagal melihat Gunung Fuji dari danau, dan juga hanya melihat torii merah dari kejauhan.  Namun pelayaran itu pun sudah sangat berkesan.

Geladak bawah Victory. Jendela-jendela besar memungkinkan kita tetap menikmati pemandangan di luar.

Oya, bila ada laki-laki berpakaian kapten kapal bajak laut mengajak berfoto bersama, harap ingat bahwa itu tidak gratis, ya.  Harganya juga lumayan untuk selembar foto yang telah dicetak.  Tapi buat kenang-kenangan, lucu juga, apalagi saat diserahkan foto sudah ditempatkan dalam map khusus yang juga dihiasi gambar-gambar kapal-kapal pariwisata itu.

Setibanya di dermaga Togendai-ko, kami bergegas menuju stasiun ropeway guna menaiki kereta gantung menuju Sounzan.  Kami ganti kereta gantung di Owakudani, dan melihat-lihat lembah neraka itu dari sebelah atas saja.  Tidak cukup waktu untuk mencoba turun ke bawah.  Keberuntungan kami muncul: saat sudah pasrah tidak akan bisa melihat Gunung Fuji karena awan yang cukup tebal, tahu-tahu matahari bersinar cerah dan kami pun bisa melihat pucuk gunung simbol Jepang itu!  Yes!  Berarti bisa ‘sah’ disebut sudah ke Jepang, dong?  Hehehe.

Bagian dalam kereta gantung.

Perhatikan karakter kanji 'besar' yang terlihat di dekat puncak gunung.

Owakudani, dari atas. Urat belerang terlihat berwarna kuning di bebatuan.

Dari Sounzan, kami berpindah ke cablecar, trem dengan rel miring menuruni gunung ke stasiun Gora.  Trem ini membelah kawasan pemukiman, sehingga banyak dimanfaatkan juga oleh penduduk setempat yang tinggal di lereng gunung.

Trem dari Sounzan ke Gora.

Saat menaiki trem, seisi dunia terasa miring...

Dari Gora, kami menaiki bis ke Museum Le Petit Prince, yang kisahnya bisa Anda baca di tulisan kami tersendiri.  Sepulang dari museum, kami naik Hakone Tozan Train yang berwarna merah khas dari Gora menuju Hakone-Yumoto.  Setelah mengambil barang-barang yang sempat kami titipkan di hotel, kami kembali ke stasiun dan bersantap di kafe yang dihiasi sejumlah model kereta berukuran kecil.  Begitu kereta yang akan membawa kami pulang ke Tokyo tiba, maka berakhir pulalah kunjungan singkat kami di kota kecil itu.

Sampai jumpa lagi, kereta Hakone Tozan!

Posted by Tante Guru

Pulang ke Sumatera Utara (2)

This post is about Indonesia

Kami meneruskan perjalanan ke Medan, dengan singgah di Brastagi untuk sekadar menengok pasar yang berhias warna-warni bunga dan buah-buahan, serta menyantap jagung bakar yang hangat dan meneguk air tebu yang manis.  Kota tetirah ini bersuhu sejuk dan sepertinya nyaris selalu berada dalam bayang-bayang hujan.  Atau mungkin kebetulan saja setiap kali ke kota ini saya selalu kebagian cuaca seperti itu.

Berbagai buah segar menanti pembeli di pasar Brastagi.

Jagung bakar dan air tebu yang nikmat disantap di udara dingin.

Sebenarnya di Brastagi ada sejumlah resor yang cukup terkenal, di antaranya Mikie Holiday yang pernah menjadi tempat fanmeeting dan konser band Korea U-KISS pada Maret 2011.  Seandainya ada waktu, ingin saya mampir… tapi rupanya kali ini tidak bisa.  Saya hanya lewat saja di depan Mikie yang tampak megah dan mengundang.  Selepas Brastagi, mobil menyusuri jalan berkelok-kelok yang membelah Hutan Raya.  Bila gampang mabuk darat, rute ini pasti cukup ‘meninggalkan kesan’.  Tidak heran salah satu hal yang paling teringat oleh anggota U-KISS adalah perjalanan yang harus mereka tempuh dari Medan ke Brastagi (dan tentunya balik lagi!)

Kami singgah lagi untuk mencicipi makan durian di salah satu pondok khusus penjual buah berduri itu di tepi jalan.  Harganya 25 ribu sebuah, terhitung mahal untuk ukuran Sumatera.  Namun ini dengan jaminan bahwa bila durian-nya tidak enak, bisa kita tukar tanpa menambah biaya.  Hanya saja…  kalau menurut saya kok rasa durian-nya kurang mantap.  Untuk memuaskan rasa penasaran saja sih, lumayanlah.

Jejeran durian. Tampang cukup menggoda... tapi yang ini kebetulan rasanya tidak terlalu istimewa.

Sepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah tua yang kelihatan termakan usia.  Sayang sekali, padahal bila diperbaiki dan dirawat, pasti rumah-rumah itu cantik dan bisa memikat hati wisatawan yang sekadar lewat sekali pun.  Umumnya pemilik rumah-rumah itu tidak lagi berdomisili di Sumatera Utara, melainkan pindah ke Jawa, barangkali ke Jakarta, tempat di mana sedemikian banyak uang berputar.  Generasi ‘muda’ yang meninggalkan kota asal setelah generasi ‘tua’ tiada itu rata-rata tidak ingin menjual rumah peninggalan orang tua, namun juga tak ingin meninggalinya.  Akhirnya banyak yang disewakan dengan murah, bahkan hanya dengan harga puluhan ribu per tahun, semata agar rumah-rumah itu tidak kosong dan ada yang merawat meski seadanya.

Saat tiba di Medan hari sudah petang.  Bukannya langsung hotel, kami terlebih dahulu mendatangi Merdeka Walk untuk mencari makan.  Ini adalah jejeran tempat makan yang menempel di salah satu sisi Lapangan Merdeka dengan konsep ruang terbuka.  Meskipun kita bisa bersantap di dalam bangunan utama masing-masing restoran, banyak yang lebih memilih duduk di meja-meja di luar, di bawah pepohonan yang memayungi pelataran memanjang yang diberi sebutan ‘walk’ itu.  Mulai dari restoran waralaba asing sampai jago-jago dalam negeri ada di sini.

Sepenggal Merdeka Walk.

Di Merdeka Walk, juga terdapat kantor informasi pariwisata.

Lapangan Merdeka sendiri menjadi salah satu tempat pilihan warga Medan untuk berolahraga dan bersantai, berkat fasilitasnya yang cukup memadai dan keteduhan yang ditawarkan sebagai penghilang lelah di tengah kota yang ramai.  Di sekeliling Lapangan Merdeka, selain Merdeka Walk, terdapat sejumlah bangunan menarik yang usianya sudah puluhan bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, yang dibangun ketika Medan sedang bersinar terang sebagai kota utama di ‘sabuk perkebunan’ Sumatera. Contohnya adalah kantor pos pusat dan sejumlah bangunan yang masih difungsikan oleh Bank Mandiri.  Di salah satu sisi Lapangan Merdeka juga terdapat pasar buku, yang sayangnya sore itu telah tutup dan beralih fungsi sebagai tempat sejumlah orang berolahraga sore.

Gedung kantor pos tua Medan.

Aston City Hall yang menggabungkan gedung baru dengan gedung warisan masa lalu.

Suasana sore di Lapangan Merdeka.

Seusai makan, baru kami menuju Hotel Garuda, hotel berukuran cukup besar yang cukup terkenal di Medan.  Saat kami di sana, begitu banyak orang yang keluar-masuk hotel untuk berbagai urusan.  Papan di lobi menandakan bahwa sebagian besar ruang fungsi hotel sudah disewa untuk macam-macam acara, dari pesta kelulusan akademi sampai rapat kantor.  Kami mendapat kamar di bangunan hotel yang lama, namun bersih, lega, dan nyaman, serta berlantai parket – jenis lantai kesukaan saya.  Harga sewa kamar sudah mencakup sarapan.  Sarapan ala Medan memang agak terlalu berat untuk perut saya, namun juga tersedia menu gaya lain seperti roti dan bubur.

Di hotel ini ada layanan unik, yaitu ‘Arman’, seorang pria yang bisa Anda hubungi melalui telepon atau jumpai di lobi hotel antara pukul 8 pagi sampai 5 sore.  Ia adalah orang yang bisa Anda tanyai apa pun mengenai Medan.  Entah apakah si Arman ini hanya satu orang atau tidak, tapi saya pikir keberadaannya adalah gagasan yang bagus.  Kelebihan lain hotel ini adalah sejumlah biro perjalanan dan perwakilan maskapai yang berkantor di lantai bawah hotel, sehingga tak perlu jauh-jauh bila Anda membutuhkan bantuan mereka.  Posisinya juga cukup strategis di tengah kota Medan – dan tepat di seberang jalan toko Bolu Meranti, salah satu oleh-oleh paling terkenal dari Medan sekarang.

Bolu gulung dengan berbagai macam rasa, mulai dari cokelat, keju, moka, blueberry, dan lain-lain bisa dibeli di sini. Tapi rebutannya, waduhhh!

Malam itu, karena iseng kami pergi ke luar hotel dan tawar-menawar dengan seorang pengemudi ‘betor’, becak bermotor.  Akhirnya setelah tawarannya sempat kami tolak, ia mau mengantar kami berkeliling dengan biaya 30 ribu rupiah.  Yak, wisata malam di Medan!  Menyenangkan rasanya duduk di atas betor dengan wajah dihantam angin malam (yang tidak terlalu dingin) sambil menggali-gali ingatan tentang kota Medan yang saya kenal.  Terus terang, tak banyak yang saya ingat.  Lucunya, meskipun dulu lebih sering ke Medan daripada ke Danau Toba, ternyata saya lebih ingat Danau Toba.

Saat kami tengah mengagumi bangunan-bangunan tua Medan, si pengemudi berkata dengan serius, “Tapi rumah-rumah ini” (Ia menyebut semua bangunan itu rumah) “banyak yang tak bisa ditinggali.  Hantunya terlalu kuat.”  Mendadak kami jadi merinding dan bangunan-bangunan kuno di sekeliling kami jadi terasa agak mencekam.  Ia menunjukkan salah satu bangunan bercat biru yang tampak kosong.  Kegelapan mengintip dari sela palang-palang yang melintangi jendela-jendela.  Bangunan itu pasti pernah megah, namun sekarang… “Gelandangan yang tidur di situ, mati dicekik hantu. Kalau pintu dibuka, ada teriakan-teriakan minta tolong dari dalam.”

Entah benar entah tidak.  Namun lega juga rasanya ketika akhirnya betor kami melewati bangunan suram itu.  Mau tidak mau cerita si pengemudi memengaruhi kami juga.  Wah, lebih baik mengisi benak dengan pemandangan malam kota Medan yang lebih menarik, deh – misalnya jejeran lesehan yang menjajakan durian.  Duh, sepertinya durian yang dijual di warung-warung itu lebih mantap daripada yang kami cicipi tadi siang.  Sayang kami tak sempat mampir.

Pengemudi betor mengantarkan kami ke salah sebuah toko bika ambon.  Toko yang menjadi satu dengan rumah sekaligus pabrik kue berwarna kuning khas Medan itu sebenarnya sudah tutup.  Namun pemilik toko bersedia membuka lagi pintu tokonya agar kami bisa masuk.  “Nanti minta cicip ya, biar saya juga dapat,” bisik si pengemudi kepada kami yang hendak melangkah memasuki toko.  Oalah!  Yah, bonus lah ya, karena sudah bersedia mengantar kami mencari bika ambon malam-malam begini.

Pemilik toko dengan sigap menanyakan kapan kami akan pulang.  Esok, jawab kami.  Ia pun menawarkan untuk menyerahkan bika ambon baru yang segar esok hari di bandara.  Malam itu memang masih ada bika ambon tersisa, yang tahan tiga hari, namun tentunya lebih enak bila memperoleh yang baru dibuat keesokan hari. “Sudah biasa kok, misalnya janjian di Dunkin’ Donuts bandara,” katanya.  Namun kami khawatir esok hari malah terburu-buru atau entah apa sehingga tidak bisa menemui ia di bandara dan memilih untuk membawa bika ambon yang ada saja.  Dua kotak pun berpindah tangan.

Oleh-oleh dari Medan memang sudah menjadi bisnis yang digarap serius oleh toko-toko penyedia buah tangan.  Bila membeli Bolu Meranti, misalnya, mereka sudah memiliki kardus-kardus khusus untuk mengemas bolu dalam jumlah tertentu agar aman meskipun dimasukkan ke bagasi pesawat sekali pun.  Ingin membeli sirup markisa namun bingung membawa botol beling ke dalam pesawat karena takut pecah?  Cukup membeli voucher saja, yang nanti ditukarkan dengan sirup markisa di perwakilan di Jakarta.  Mudah!

Keesokan hari, sebelum menuju bandara kami mendatangi dua ikon kota Medan: Masjid Al-Mashun yang terletak di salah satu sudut Simpang Raya dan Istana Maimoon yang terletak tidak begitu jauh dari situ.

Masjid Al-Mashun dibangun di masa pemerintahan penguasa Deli kesembilan, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906.  Arsitekturnya mengagumkan, penuh detail yang menyita perhatian, dengan langit-langit tinggi dan hiasan dalam kubah yang menggoda kita menatap terus-menerus.  Saya menyempat-nyempatkan ‘mengintip’ ke bagian jemaah laki-laki demi melihat mimbar imam.

Tempat mengambil wudu di masjid raya Medan ini dibangun terpisah dari bangunan salat utama, tetap dengan koordinasi warna yang sama.  Bagus sih memang, tapi kalau hujan, bagaimana ya, apa tidak merepotkan?

Masjid Al-Mashun yang menjadi salah satu ikon Medan.

Tempat mengambil wudu.

Di dalam kompleks masjid, juga terdapat pemakaman.

Simpang Raya.

Tujuan berikutnya adalah Istana Maimoon, tempat kedudukan Sultan Deli.  Sultan Deli yang sekarang masih remaja – ia naik tahta ketika ayahandanya tewas dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun silam.  Kini ia masih bersekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya yang tidak berdomisili di Medan.  Duduk bersila di lantai, kami mendengarkan penjelasan dari pemandu resmi Istana Maimoon mengenai sejarah ringkas Kesultanan Deli dan Istana Maimoon.  Caranya bercerita asyik; beberapa kali diselingi pantun merayu yang seolah telah menjadi napas orang-orang Melayu.  Sambil mendengarkan sang pemandu, saya mengedarkan mata berkeliling ruangan, berusaha mencerap segala detail yang didominasi warna kuning keemasan dan hijau.

Suasana egaliter di istana ini mungkin cukup mengejutkan kita yang terbiasa membayangkan keluarga kerajaan sebagai sekelompok orang yang jauh dari rakyat.  Singgasana sultan dan permaisuri – yang ngomong-ngomong, sama tingginya – boleh-boleh saja diduduki oleh pengunjung yang notabene adalah ‘rakyat biasa’.  “Kata Sultan, singgasana itu hanya barang, kalau rusak bisa diganti.  Nilai kenangan itu yang penting ada di hati,” tutur pemandu, tanpa menjelaskan sultan mana yang dimaksud.  Tak heran pengunjung sering berlomba-lomba mencicipi duduk bagai sultan di singgasana tersebut.

Bukti lain ke-‘egaliter’-an itu adalah dihuninya sayap-sayap Istana Maimoon oleh sejumlah keluarga.  Risikonya memang bagian-bagian samping istana jadi terlihat ‘agak jorok’ – ini mungkin harus jadi perhatian lebih dari pihak-pihak yang berwenang.  Namun harus diakui keberadaaan keluarga-keluarga itu membuat istana lebih hidup.

Toko suvenir di Istana Maimoon.

Singgasana yang boleh diduduki pengunjung.

Sang pemandu juga mengutarakan mengenai betapa penduduk Medan tidak punya masalah dengan keberagaman.  Sejak lama memang kota ini terkenal sebagai sebuah melting pot, di mana hidup orang-orang dari berbagai kelompok etnik dan latar belakang kepercayaan.

“Saya kangen suasana di sini, yang tidak ada di Jakarta,” kata salah seorang ‘perantau’ dari Sumatera Utara yang serombongan dengan saya.  “Di sini, tidak masalah agama kita Kristen atau Islam atau apa.  Kalau bulan puasa dan Lebaran, kami yang Kristen ikut membantu acara buka puasa, ramai berkunjung ke yang merayakan Lebaran.  Sebaliknya kalau hari Natal.  Di Jakarta, mengucapkan selamat Natal saja tidak boleh…”  Senyum yang membiaskan kenangan dan rasa bangga akan Medan – kebanggaan yang jamak saya temui bila berbicara dengan penduduk di kota itu –  pun terulas di wajahnya.  Senyum harapan bahwa kedamaian di Medan itu juga menyebar ke kota-kota lain.

Posted by Tante Guru

Panduan ringkas menonton konser Laruku di Hong Kong dan Bangkok

This post is about China This post is about Thailand

Band rock raksasa Jepang, L’arc-en-Ciel alias Laruku, menggelar tur dunia!  Sayang sepertinya negara kita belum kebagian menjadi bagian dari tur mereka ini.  Namun bagi yang berniat mengejar mereka ke dua kota terdekat tempat konser Laruku tahun ini diselenggarakan – Hong Kong dan Bangkok – semoga tulisan kami berikut ini membantu.  Siapa tahu, kalaupun bukan Laruku, suatu hari Anda berkesempatan menonton konser bintang lain di kedua kota tersebut.

HONG KONG

Tempat penyelenggaraan: Asia-World Expo

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Hong Kong, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Anda bisa membeli tiket pertunjukan melalui HK Ticketing.  Desain situsnya memang agak ‘jadul’ dan tidak begitu enak dilihat, namun cukup mudah untuk pembelian tiket dengan menggunakan kartu kredit.  Cetak bukti pembelian, dan nanti setelah sampai di Hong Kong, tukarkan bukti pembelian dengan tiket sungguhan di cabang Tom Lee Music mana saja.  (Bisa Anda cek di Google di mana cabang TLM terdekat dengan tempat Anda menginap.)

Contoh tiket asli hasil penukaran bukti pembelian melalui HK Ticketing di Tom Lee Music.

Di mana sebaiknya menginap?

Di sekitar Expo dan bandara sebenarnya ada beberapa hotel, namun semuanya tergolong mahal.  Bila Anda tidak keberatan sih tidak apa-apa.  Namun untuk yang mencari penginapan murah-meriah, carilah penginapan di daerah Kowloon.  Cari yang sedekat mungkin dengan jaringan kereta MTR (ya, bukan MRT, yang ini singkatan dari Mass Transit Railway), misalnya di sekitar Mongkok.  Di Mongkok juga mudah memperoleh berbagai kebutuhan dan dekat dengan beberapa objek wisata lain Hong Kong, seandainya Anda ada waktu lebih untuk menjelajahi kota tersebut selain menonton konser.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Bisa dengan taksi (yang jelas akan menyita banyak uang), bis (biasanya ada rute dan potongan harga khusus bila ada acara di Asia-World Expo), atau kereta bandara (Airport Express).  Cek sebelum konser, barangkali ke situs Asia-World Expo, apakah ada potongan harga untuk pemegang tiket konser yang ingin menggunakan Airport Express!  Biasanya untuk memperoleh potongan harga itu, selain tiket konser, Anda juga harus memegang Kartu Octopus.  (Lihat artikel kami soal Hong Kong yang kami tautkan di atas untuk mengetahui tentang Kartu Octopus, ya!)  Misalnya,  kami pernah memperoleh potongan harga tiket Airport Express bolak-balik dari 100 HKD menjadi 48 HKD saja dengan menunjukkan tiket konser kami.  Bahkan yang naik dari Stasiun Tsing Yi waktu itu dibolehkan menumpang Airport Express dengan gratis!  Cepat, nyaman, dan tergolong murah, bila dibandingkan dengan taksi.

Airport Express ini bisa Anda naiki dari beberapa stasiun saja: Hong Kong, Kowloon, dan Tsing Yi.  Bila Anda menginap di Mongkok, naiklah MTR ke stasiun Central, lalu berjalankakilah mengikuti petunjuk ke stasiun Hong Kong (tidak perlu keluar ke atas tanah).

Namun harap diingat bahwa MTR tidak berjalan 24 jam!  Biasanya antara jam 11-12 malam, kereta-kereta terakhir meninggalkan stasiun keberangkatan paling ujung.  Dulu saya dan teman juga terpaksa berlari-lari demi mendapatkan kereta terakhir menuju Kowloon!  Kalau sampai ketinggalan, persiapkan diri mempergunakan moda transportasi lain.

Pemandangan di dalam Asia-World Expo.

BANGKOK

Tempat penyelenggaraan: Impact Arena

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Bangkok, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Manfaatkan situs pembelian tiket daring Thai Ticket Major.  Seperti juga HK Ticketing, nantinya bukti pembelian Anda harus ditukarkan dengan tiket asli di salah satu cabang atau outlet TTM.  Salah satunya ada di mal Siam Paragon yang terletak di pusat kota Bangkok dan mudah dicapai dengan kereta BTS.

Di mana sebaiknya menginap?

Meskipun backpacker banyak yang menyenangi Khao San Road, bila Anda ingin mudah berkeliling dengan sky train/BTS dan subway, saya menyarankan Anda mencari penginapan yang tidak jauh dari rangkaian kereta-kereta tersebut.  Saya biasanya mencari penginapan di daerah Sukhumvit.

Bila ingin mencoba apart’hotel yang tergolong murah untuk fasilitas yang tersedia, cobalah salah satu cabang Citadines yang ada di daerah Nana.  Apart’hotel ini sangat nyaman, dan cabang-cabang Citadines terletak tak jauh dari stasiun BTS Nana, dikelilingi sejumlah tempat keramaian termasuk yang hanya ramai kala malam.  Mudah mencari makanan dan berbelanja ini-itu di daerah tersebut.  Pilihan lain, bisa coba Hi-Sukhumvit, guest house yang sederhana namun bersih yang juga terletak tidak jauh dari stasiun BTS Thong Lo.  Daerah di sekitar Hi-Sukhumvit lebih tenang dan tidak ‘seajeb-ajeb’ Nana.

Di apart'hotel semacam Citadines, selain kamar yang luas dan perlengkapan dasar yang lengkap, ada pula dapur dengan peralatan memasak dan makan yang komplit sehingga Anda bisa menyiapkan makanan sendiri.

Selain dua alternatif yang kami tawarkan, masih banyak penginapan menarik, aman, bersih dengan harga terjangkau di Bangkok.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Sebenarnya, Impact Arena tidak terletak di dalam kota Bangkok, melainkan cukup jauh keluar di sebelah utara.  Bila tidak mau repot, apalagi kalau bersama teman-teman, bisa naik taksi langsung dari tempat menginap ke Arena.  Taksi di Bangkok tidak begitu mahal apalagi bila dibayar bersama oleh beberapa orang.  Atau, biar tidak repot mencari kendaraan pulang, cobalah menyewa mobil yang akan menunggu sampai konser usai.  Anda mungkin harus melewati jalan tol.

Bila ingin lebih murah, naiklah BTS ke stasiun Mo Chit (stasiun tujuan yang sama dengan bila Anda ingin mengunjungi Pasar Chatuchak).  Dari sini bisa naik taksi, atau menumpang shuttle bus yang harganya hanya beberapa puluh baht.

Semoga tulisan pendek kami membantu Anda yang hendak menonton konser ke dua kota tersebut.  Bagi-bagi cerita ya tentang pengalaman Anda nanti!

Posted by Tante Guru

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.