Kamakura: ‘Kyoto’-nya Jepang Timur

This post is about Japan

Fujisawa!

Pernah dengar nama ini?

Sebelumnya kami tidak.  Kami mampir ke kota ini pun sebenarnya dalam perjalanan menuju ke Kamakura.  Bukannya memilih kereta JR, kami memilih untuk naik kereta api swasta, Odakyu Line, untuk lantas berganti ke kereta legendaris Enoden.  Di stasiun Fujisawa ini kami sempat agak bingung juga, karena sempat harus mencari-cari jalur Enoden.

Tiket terusan ke Hakone dan ke Kamakura.

Bagian luar stasun Fujisawa, yang hanya kami singgahi sebentar saja. Stasiun ini terhubung dengan department store Odakyu, tempat kita bisa mencari oleh-oleh.

Apabila Odakyu Line dilayani oleh kereta yang baru, maka Enoden dilayani kereta klasik berwarna hijau, dengan lantai sebagian gerbong masih terbuat dari kayu.  Kereta Enoden berjalan tanpa pendingin udara, dan bekeretak cukup riuh.  Namun ke Kamakura memang harus mencicipi naik kereta ini – selain mudah menyambangi tempat-tempat pariwisata utama dengan menumpangi kereta tersebut, tentu juga karena nilai nostalgia dan pemandangan yang terpampang di luar jendela.  Saat kami datang di awal musim panas, pemandangan itu berarti bunga ajisai (hidrangea) yang bermekaran dan pantai yang mulai ramai dikunjungi orang.

Enoden yang baru tiba di Stasiun Fujisawa. Eh, ada pernak-pernik Hello Kitty edisi Enoden lho!

Kamakura memang sebuah kota di tepi laut, tidak seberapa jauh dari Tokyo.  Oleh karena itulah kami memutuskan untuk memanfaatkan waktu sehari untuk mengunjunginya (meski kemudian saya berharap seandainya saja saya bisa tinggal lebih lama di kota itu).  Kota kecil, nyaman, dan menyimpan sedemikian banyak peninggalan bersejarah berharga.  Untuk penggemar sejarah Jepang, kota ini punya kedudukan istimewa karena kaitannya yang mendalam dengan keluarga Minamoto.

Perhentian pertama kami adalah stasiun Hase.  Dari sini kami berjalan kaki menuju Kotoku-in, di mana terdapat patung Buddha raksasa (Daibutsu) yang merupakan salah satu daya tarik utama Kamakura.  Kami menyusuri jalan-jalan yang sempit namun ramai pengunjung dan diapit pertokoan yang menjual berbagai penganan dan suvenir khas Kamakura.  Bentuk sejumlah penganan cukup bikin kaget kami yang tak terbiasa: Buddha, baik kepalanya saja ataupun sekujur badan.  Aduh!  Ini nggak apa-apa nih, dimakan?  Kok rasanya agak gentar, ya, meski buat orang Jepang biasa saja.  Kue-kue Buddha itu kami lewatkan, namun kami tergoda juga untuk membeli es krim di salah sebuah toko kecil dekat Kotoku-in.  Es krim teh hijaunya benar-benar segar!

Es krim teh hijau/susu

Sambil masih memegang es krim, kami menuju tempat penjualan tiket masuk ke Kotoku-in.  Harga tiket masuk cukup murah, yaitu 200 yen untuk tiket normal (dewasa), ditambah 20 yen kalau mau memasuki  Daibutsu.  Bersama tiket, kami memperoleh denah kompleks tersebut dan sebuah nomor: 29.  Hmmm… apa maksudnya ya nomor ini?

Seorang petugas dengan santun meminta kami menghabiskan es krim terlebih dahulu sebelum masuk.  Wah, kami pun langsung ngebut menjilati es krim dan membuang sampah yang tersisa ke tempat yang disediakan, lantas melangkah melewati gerbang.  Dan di belakang gerbang… ah, sungguh, sulit saya menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan kecantikan kompleks Kotoku-in dengan segenap bangunan dan tamannya.  Meskipun ada demikian banyak pengunjung, perasaan damai dan tenang tetap melingkupi segala sudut.  Taman yang ditata dengan cantik, berbagai bangunan dan arca yang terawat, pemandangan yang luas dari lereng bukit, orang-orang yang berdoa dengan khusyuk…  Saya harap sejumlah foto amatiran yang saya ambil berikut ini bisa sedikit menyampaikan keindahan Kotoku-in kepada Anda.

Ngomong-ngomong, mana Daibutsu-nya?  Jadi, setelah kami mendaki beberapa undak-undakan, kami tiba di sebuah pelataran di mana para pengunjung berjejer membentuk barisan mengular.  Lho ada apa ini ada apa ini?  Mata saya mengarah ke atas kepala mereka.  Ada sebuah papan di sana dengan nomor besar-besar tertera, dari 26 sampai 29.  29?  Astaga!  Jadi itu nomor urut kelompok untuk mendaki ke tempat Daibutsu berada!  Dan menurut papan pengumuman itu, jadwal naik kelompok 29 masih 60 menit lagi!

Efek suara saat kami melihat papan pengumuman ini adalah... 'JEGEEER'

Kaki langsung terasa agak lemas.  Aduh, ingin sih melihat Daibutsu Kamakura, tapi kami tidak yakin bisa berlama-lama di tempat tersebut, karena kami masih ingin mendatangi tempat-tempat lain di Kamakura.  Akhirnya kami memuaskan diri dengan melihat-lihat sekeliling kompleks saja, termasuk ribuan patung Buddha kecil yang dijejerkan rapi, gua di mana terdapat ribuan patung Benzaiten mungil, dan patung-patung Buddha yang imut-imut.

Meskipun Kotoku-in adalah kompleks Buddha, namun torii ini merupakan pertanda bahwa ada tempat suci Shinto juga di kompleks tersebut.

(Ngomong-ngomong, perasaan penasaran kami pada Daibutsu ini nanti ‘terbayarkan’ di Nara, ketika kami melihat Daibutsu terbesar di Jepang.)

Kami kembali berjalan kaki ke stasiun, namun karena perut telah mengeluh lapar, kami membeli bento alias ‘nasi kotak’ (yang sebenarnya dijual dalam wadah berbentuk segi delapan yang dikemas cantik sekali) dari penjual yang mangkal di depan stasiun.  Ibu-ibu yang menjual nasi kotak itu sangat ramah, mengajak kami mengobrol meskipun bahasa Inggrisnya terbatas.  Penasaran, teman saya menanyakan lauk apa saja yang tersaji dalam bento tersebut.  Bukan apa-apa, ingin tahu saja, meskipun jelas lauk-pauk tersebut adalah telur dan makanan laut, mengingat letak Kamakura yang di tepi laut.  Eh, si ibu langsung menjawab semangat, “No pork, no pork!”  Eh?  Padahal kami tidak menunjukkan indikasi kami tidak makan babi, lho.  Namun mungkin si ibu sering ditanyai begitu, ya, sehingga sudah siap dengan jawabannya.

Mau buka bungkusnya agak sayang...

Hidangan khas Kamakura tentu saja adalah makanan laut.

Persoalan berikut adalah mencari tempat makan yang santai.  Tetap dengan ramah, ibu itu menganjurkan agar kami pergi ke pantai saja untuk makan.  Pantai?  Hmm… boleh juga.  Maka kami pun menyusuri jalan yang mengarah ke Pantai Yuigahama, pantai utama kota Kamakura, sambil melihat-lihat lebih jauh kota yang tenang itu: rumah-rumah dan toko-toko mungil yang cantik, jalan-jalan yang sempit, udara yang segar… apa yang saya lihat dan rasakan membuat saya semakin jatuh cinta pada Kamakura, dan langsung menyimpan tekad untuk kembali lagi suatu hari nanti untuk menikmatinya lebih lama.

Hari itu, meskipun langit agak mendung dan laut terlihat kelabu, cukup banyak juga orang yang piknik di Yuigahama.  Nah, mereka rata-rata membawa tikar sendiri-sendiri.  Kami?  Tanpa persiapan.  Akhirnya kami mengurungkan niat makan-makan di pantai, lagipula alas kaki teman-teman saya bukan tipe yang enak dipakai di pantai.  Kami akhirnya nekad saja duduk di sebuah tembok rendah dan membuka bento kami serta mulai menyantapnya.  Preman sajalah gayanya… sebodo amat kalau ada yang memperhatikan.  Eh, ada seorang anak kecil lewat bersama ibunya, dan ia berhenti lalu memandangi kami, kemudian berkata dengan manis sekali, “Oishii... (enaknya…)”  Yang malu malah ibunya.  Sambil tertawa kepada kami, ia separuh menyeret anaknya pergi.  Hahaha… padahal kami malah berpikir anak itu lucu sekali kok, Tante…

Pantai Yuigahama

Kenyang makan siang, kami kembali ke stasiun dan menumpangi Enoden lagi menuju Stasiun Kamakura.  Sekeluar dari stasiun tersebut, kami menapaki jalan Komachi-dori, salah satu tempat perbelanjaan utama Kamakura.  Pssst… buat yang suka Ghibli, di sini ada lho toko khusus pernak-pernik Ghibli.  Sejumlah barang yang ditawarkan belum tentu dijual juga di toko di Museum Ghibli di Mitaka.

Hayo... siapa yang menanti Anda di sudut itu...

Kami memutuskan untuk menjajal menaiki jinrikisha (‘rickshaw’) ke Tsurugaoka Hachimangu jinjaJinrikisha Ebisu-ya ini terorganisasi dengan baik, dengan staf yang saling berhubungan dengan walkie talkie.  Karena kami memerlukan dua jinrikisha sementara yang tersedia baru satu, kami diminta menunggu terlebih dahulu.  Staf yang mengurusi kami – sayang saya lupa namanya – menanyakan apakah kami dari Thailand.  Bukan, jawab kami, dari Indonesia.  Dan tahu-tahu saja ia mengajak kami berbicara dengan beberapa frasa bahasa Indonesia dengan cukup lancar!  Woh!  Ternyata dia mengaku pernah menghabiskan waktu cukup lama di Bali.  Lumayan kan, kata-kata yang ia pelajari jadi modal membuat para turis dari Indonesia ini senang sekaligus agak ngeri (“Eh, tadi kita nggak ngomong yang aneh-aneh kan?  Dia ngerti nggak ya?”)

Akhirnya, setelah lengkap dua jinrikisha yang kami minta, dan kaki kami telah diselimuti, kami pun berangkat!  Kami memilih paket 3000 yen untuk berdua.  Tak lama memang, hanya berkeliling sebentar lalu diantar ke Tsurugaoka Hachimangu jinja.  Kami dapat bonus selembar stiker yaitu stiker musim panas, berhubung saat itu bulan Juni.  Kalau kita bisa mengumpulkan empat stiker musim berbeda, kita akan memperoleh kenang-kenangan dari Ebisu-ya.  Menumpang jinrikisha selama lebih dari 20 menit, lebih dari sejam, dan lebih dari tiga jam, juga akan mendapatkan hadiah tersendiri.

Turunan dan rel kereta api pun diterabas cepat. Kami yang menumpang yang agak ngeri...

Terima kasih, pak penarik jinrikisha!

Kami dibuat terkagum-kagum oleh para penarik jinrikisha, yang tidak saja kuat berlari-lari menarik kereta kecil beroda dua yang ditumpangi dua orang, melainkan juga tetap bisa mengobrol ramah dengan kami dan menjadi pemandu yang menerangkan berbagai hal yang kami lihat.  Sewaktu hampir tiba di Tsurugaoka Hachimangu, sempat pula ia mengetes pengetahuan kami.  “Hayo, apa bedanya temple dengan shrine?”

Ini contekannya buat Anda: yang disebut shrine alias jinja adalah tempat peribadahan umat Shinto, dengan ciri khas gerbang torii berwarna merah di bagian depan.  Di peta, biasanya shrine ditandai dengan sebentuk torii kecil, contohnya Tsurugaoka Hachimangu-jinja yang sedang kami singgahi.  Sementara, temple adalah tempat peribadahan umat Buddha, tanpa ada torii, dan di peta biasanya ditandai dengan swastika, misalnya Kotoku-in (tempat Daibutsu Kamakura bersemayam) dan Jyufuku-ji.

Kompleks Tsurugaoka Hachimangu jinja telah menjadi tempat peribadahan bahkan sebelum Minamoto no Yoritomo datang ke Kamakura… dan dia datang di tahun 1180.  Di kompleks ini, terdapat panggung di mana Shizuka Gozen menari, namun sayangnya tak sempat kami lihat.  Hari itu perhatian kami tersita oleh sebuah perhelatan yang kami anggap bagian dari keberuntungan kami sebagai tamu: pernikahan tradisional yang sedang berlangsung.  Tentu tidak kami sia-siakan kesempatan menjadi ‘tamu menonton doang’ yang ikut menikmati keindahan khidmat upacara itu.  Orang-orang, kenal ataupun tidak dengan pasangan pengantin, dengan wajah bahagia ikut mengucap omedetou (‘selamat’).  Maaf foto-foto pengantin tidak bisa kami pajang, meskipun mereka mengizinkan kami mengambil gambar mereka dari depan ketika melangkah keluar dari jinja.

Torii di depan Tsurugaoka Hachimangu-jinja.

Pemusik dalam upacara pernikahan tradisional yang kami saksikan.

Saat duduk-duduk beristirahat di samping bangunan utama, baru terasa kalau kami lelah.  Kaki belum mau diajak kompromi berdiri dan berjalan lagi, tapi hari semakin sore – sudah hampir waktunya kami meninggalkan Tsurugaoka Hachimangu yang akan segera tutup.  Kami pun kembali ke stasiun, kali ini berjalan kaki (berkat semangat yang mendadak muncul lagi) melewati rute berbeda dengan yang tadi ditempuh jinrikisha.  Bunga ajisai yang juga ditanam dalam pot-pot di stasiun seolah mengantarkan kepergian kami dari kota yang pernah menjadi ibukota Jepang di masa lalu itu.

Bagaimana kami mencapai Kamakura

Kami membeli Enoshima-Kamakura pass seharga 1430 yen (harga dewasa normal) yang berlaku untuk satu hari di Stasiun Shinjuku, Tokyo.   Dengan tiket ini kami bisa menumpang kereta Odakyu dari Shinjuku ke Fujisawa, lalu meneruskan perjalanan ke Kamakura dengan kereta Enoden, atau meneruskan naik Odakyu ke Enoshima.  Antara Shinjuku dan Fujisawa, kami tidak boleh turun kereta seenaknya.  Namun dari Fujisawa-Kamakura atau Fujisawa-Enoshima, kami bebas naik-turun di setiap stasiun karena kedua rute ini yang dihitung sebagai rute bebas.

Posted by Tante Guru

‘Pulang’ Ke Sumatera Utara (Bagian I)

This post is about Indonesia

Bulan Desember 2011, saya berkesempatan melakukan perjalanan singkat ke Sumatera Utara.  Rasanya agak seperti pulang ke kampung halaman, karena dulu, 16 tahun lalu, saya pernah tinggal di provinsi ini.  Tidak lama memang, satu setengah tahun, tapi cukup untuk menimbulkan kangen.  Dulu saya tinggal di Pangkalan Brandan/Tangkahan Lagan, kota di sebelah utara Medan yang berkembang pesat berkat Pertamina.  Konon sekarang kota itu tak lagi seramai dulu sejak Pertamina perlahan-lahan meninggalkan basis operasinya itu.  Meskipun saya berkeinginan untuk menengok kota tersebut, jadwal kali ini tak memungkinkan saya bertandang.  Saya justru menuju ke selatan Medan, ke danau Toba.

Saya berangkat ke Medan menggunakan Batavia Air dengan pesawat A330 yang nyaman dan beruang kaki lega.  Pesawat mendarat pukul 9 lewat di bandara Polonia yang, sayangnya, tidak mengalami banyak perubahan sejak terakhir saya lihat 16 tahun lalu.  Memang sepertinya perbaikan yang dilakukan untuk Polonia belakangan ini hanya bersifat kosmetik, mengingat ada bandara baru Medan yang sedang dibangun dan rencananya akan mulai dioperasikan tahun 2012, Kuala Namu.  Demikian banyak harapan tergantung pada bandara yang baru selesai 70% itu – termasuk juga di hati saya yang miris karena gerbang masuk Indonesia di sebelah barat ini ternyata tidak memiliki bandara yang memadai.  Padahal Polonia adalah bandara internasional yang menjadi tempat singgah maskapai-maskapai yang melayani rute-rute ke negara-negara tetangga, seperti Firefly, AirAsia, Jetstar, dan lain sebagainya.

Kami langsung bertolak ke Parapat, kota kecil di tepian Danau Toba.  Rute yang kami ambil adalah yang melewati Pematang Siantar.  Terus-terang, saya agak deg-degan, karena tahu bahwa beberapa tahun silam, daerah sekitar danau tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah.  Masihkah danau itu cantik seperti dahulu?  Apakah jumlah wisatawan telah kembali meningkat, setelah anjlok di masa krisis ekonomi (dan lingkungan)?  Saya juga tegang sendiri mengira-ngira akan seperti apa perasaan saya seandainya danau itu sudah betul-betul jauh dari yang saya ingat.

Jalan yang kami lewati masih juga kecil, hanya dua jalur.  Kota-kota kecil di kiri-kanannya bagaikan terayun-ayun mengantuk.  Sedih rasanya melihat banyak rumah-toko kuno yang sangat saya sukai arsitekturnya berada dalam kondisi yang kurang terawat.  Justru di kota-kota itu bangunan-bangunan ruko modern yang generik dan tidak menarik mulai menjamur.  Gemas.  Berpikir mengapa pemerintah tidak berusaha lebih keras menyelamatkan deretan-deretan toko tua itu, yang bila direnovasi pasti akan terlihat kembali cantik sekali, dan bahkan bisa memikat wisatawan seperti di Singapura atau Malaysia.

Kami menyempatkan mampir di ‘toko roti’ Paten di Pematang Siantar.  Meski sebutannya ‘toko roti’, tidak ada ‘roti’ yang dijual di toko ini, melainkan beraneka penganan tradisional yang dipengaruhi Cina dengan nama-nama seperti tingting, tungtung, tangtang, pangpang, dan lain sebagainya.  Pasti banyak yang mendadak ‘serakah’ ingin mencicipi semua sampel yang tersedia.

Kami melewati sejumlah perkebunan, sebagian di antaranya telah digarap sejak zaman kolonial, dan tanaman komoditi yang dipelihara masih itu-itu saja: karet.  Komoditi yang telah membesarkan Medan dahulu.  Namun saat ini, sebagian tanaman karet telah digantikan oleh tanaman lain seperti cokelat, kelapa sawit, dan lain-lain.

Saat melintasi perkebunan karet, saya jadi menyadari sesuatu yang luput dari perhatian saya dahulu: di kaki pohon-pohon karet, polong-polongan (legum) yang rupanya sengaja ditanam tumbuh subur.  Ini adalah sebentuk kearifan: keberadaan polong-polongan mencegah rumput liar tumbuh, dan bakteri pengikat nitrogen yang hidup dalam bintil akar polong-polongan menjaga tanah tetap subur.

Setiba di Parapat, atau tepatnya agak di bagian luarnya karena di situlah hotel kami terletak, matahari sudah mulai tergelincir ke barat.  Ah, memang seharian ini matahari tidak terik.  Suhu Medan ketika kami  tiba saja ‘hanya’ 26 derajat – cukup sejuk bagi penghuni dataran rendah seperti kami yang terbiasa dipanggang suhu lebih dari 30 derajat di siang hari.  Awan kelabu menggelayuti Danau Toba, siap menumpahkan hujan.

Tanpa check-in ke hotel terlebih dahulu, kami naik ke kapal dari dermaga sederhana di depan hotel untuk menuju Batu Gantung, lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke Ambarita dan Tomok di Pulau Samosir.  Saya baru bisa memandang Parapat dari kejauhan saja: sebuah masjid besar, sebuah gereja terlihat di atas bukit, bangunan-bangunan yang tampaknya merupakan hotel…  Kelihatan begitu damai di seberang air sana.  Apakah kota ini tidak berubah?

Hmm… rasanya pepohonan di perbukitan sekitar kota itu tidak selebat dulu.  Inikah sisa-sisa dari perusakan lingkungan yang sampai menyebabkan pamor Danau Toba jatuh?  Untungnya sekarang semakin banyak pihak yang peduli dan berusaha mengembalikan kehijauan di sekeliling Toba.  Ada pohon-pohon muda yang tampak sedang berjuang tumbuh besar.  Sesemakan juga menjadi pertanda bahwa suksesi ekologis terus berlangsung.

Hotel Siantar terlihat dari geladak kapal.

Ngomong-ngomong, air Danau Toba yang gelap menandakan dalamnya danau yang terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Toba puluhan ribu tahun lalu itu.  Saya jadi teringat lagi bahwa saya kini sedang melayari sebuah kawah raksasa yang terisi air.  Pulau Samosir yang juga berukuran besar, hanya terlihat satu ujungnya dari sisi danau tempat kami berada, sehingga ada anggota rombongan yang tidak mengira bahwa jejeran gunung di hadapannya saat itu adalah pulau yang dimaksud.  Ya, Pulau Samosir saja saking besarnya tidak terlihat seperti pulau, apalagi danau tempatnya tertambat.

Angin dingin menerpa wajah saya yang duduk di atap anjungan kapal, sementara kabut membayangi Samosir.  Saya berusaha tidak mengacuhkan tamparan angin, karena selama masih bisa, saya tidak mau duduk di tingkat bawah.  Saya ingin mendapatkan pemandangan seluas-luasnya dari danau yang telah bertahun-tahun hanya hadir di ingatan saya.  Memotret pun menjadi lebih mudah – meski kamera saya bukanlah tipe canggih yang bisa menghasilkan gambar-gambar luar biasa tajam.  Batu Gantung pun tidak luput dari rekaman lensa saya, sementara telinga saya menyimak penjelasan tentang asal-muasal batu berbentuk menonjol itu.

Saya tidak begitu ingat kisah yang pernah saya dengar sebelumnya, dan bertanya-tanya apakah ada perbedaan pada kisah asal-muasal itu.  Intinya: batu itu adalah seorang putri yang terjepit batu yang merapat (asal nama ‘Parapat’?), ditemani oleh anjing setianya yang juga berubah menjadi batu.  Benar ataupun tidak, kisah itu menambah nilai batu yang sebenarnya bagi sebagian orang, susah dicari kemiripannya dengan tubuh manusia.

Burung-burung yang terpikat ikan-ikan menggiurkan di keramba beterbangan bebas di atas air.

Batu Gantung.

Dalam perjalanan, kami dihibur oleh tiga orang anak yang menyanyikan lagu-lagu Batak untuk kami.  Mereka ini sebenarnya membantu-bantu di kapal, dan memperoleh penghasilan dari para wisatawan dengan suara mereka yang cukup merdu.  Sayang, mungkin karena hambatan bahasa, mereka kesulitan menjelaskan arti lagu-lagu yang mereka nyanyikan, selain menerangkan singkat-singkat bahwa ‘Ini lagu selamat datang’ dan semacamnya.

Perhentian berikutnya adalah Ambarita di Pulau Samosir, untuk melihat warisan budaya Raja Siallagan berupa sekelompok rumah adat yang masih berkondisi baik dan kumpulan kursi persidangan dari batu serta tempat penyiksaan dan eksekusi tawanan.  Sayang, meskipun gerbang yang menyambut kami di dermaga cukup megah, dan warisan budaya yang dimaksud masih terawat, namun jalan melintasi pasar suvenir yang kami harus lewati untuk menuju Batu Kursi Raja Siallagan ternyata masih seadanya.  Bila hujan turun, pasti jalan itu akan sangat tidak nyaman untuk dilewati.

Kami masuk ke kawasan desa adat melalui gerbang batu yang diapit oleh dua sosok patung, melambangkan laki-laki dan perempuan seperti yang terlihat dari penampakan ciri-ciri keduanya.  Di sebelah dalam desa yang dikelilingi tembok batu itu, tegak sejumlah rumah adat.  Meski hanya satu di antara rumah-rumah itu yang dilabeli ‘museum’, sesungguhnya seluruh desa telah menjadi museum open-air.  Sebagian di antaranya dihiasi bentuk empat payudara perempuan, selain ornamen berbentuk cicak yang memang sering muncul di berbagai produk budaya Batak.  Keempat payudara itu melambangkan berbagai sifat baik – dan, menurut pemandu setempat kami di Ambarita, bila rumah seseorang memiliki hiasan tersebut, itu adalah pertanda pemilik rumah itu berkecukupan dan dermawan.

Sang pemandu setempat lincah bercerita.  Ia menuturkan tentang betapa di masa lalu, penjahat-penjahat yang tertangkap akan dikurung di tempat pemasungan di bawah rumah yang berada tepat di depan kumpulan ‘batu kursi’ (memang begini menyebutnya, bukan ‘kursi batu’).  Pemasungan tersebut khusus karena telah disiapkan untuk mengisap ilmu hitam sang tersangka selama satu minggu penahanan.  Padahal bagian bawah rumah biasanya adalah tempat memelihara babi.  Ya, penjahat dianggap sudah hilang martabatnya sebagai manusia, sama dengan hewan seperti babi dan anjing, dan pantas untuk ‘tinggal’ di bagian rumah sebelah situ.

Para tetua desa, termasuk sang raja, mengadili sang tersangka sambil duduk di batu kursi yang dinaungi sebatang pohon besar.  Mereka menentukan ‘hari baik’ (yang mungkin tidak terasa ‘baik’ bagi sang terdakwa) berdasarkan kalender Batak.  Pengkhianat, pembunuh, dan pemerkosa akan mendapatkan hukuman paling berat, yakni dieksekusi setelah disiksa terlebih dahulu.  Kejahatan yang lebih ringan biasanya ‘hanya diganjar’ siksaan.

Gerbang masuk ke desa adat di Ambarita, dengan dua patung batu yang mengapit.

Pemandu setempat kami di Ambarita.

Batu Kursi tempat tetua kerajaan bersidang menentukan hukuman bagi penjahat. Pemasungan terletak di bawah rumah yang ada di sebelah tengah.

Tapi siksaannya apa dulu, nih?  Sekadar peringatan, bagian yang berikut ini mungkin agak sadis bagi sebagian orang.  Bila Anda biasanya tidak kuat dengan cerita-cerita seperti ini, silakan langkahi bagian ini sampai foto berikutnya.

Pemandu menggiring kami ke kumpulan batu kursi kedua.  Di bagian tengah, ada sebuah meja bulat.  Di sinilah diletakkan berbagai macam makanan enak, terutama yang disukai terhukum, yang boleh ia nikmati sebagai semacam ‘permintaan terakhir’.  Saya sih tidak merasa si terhukum bakal berselera makan, ya…

Di situ juga ada meja batu tempat terhukum diikat dengan kondisi mata tertutup untuk disiksa.  Pertama-tama mereka dipukuli dengan tongkat, sekaligus untuk menguji apakah masih ada ilmu mereka yang tertinggal, yang ditandai dengan tidak terasanya sakit akibat rentetan pukulan itu. Kalau ternyata masih ada ilmu yang tertinggal, mantra-mantra akan dibacakan dalam upaya mengusir keluar ilmu itu. Kemudian tubuh terhukum digurat-gurat dari atas ke bawah, lalu diciprati air jeruk nipis.  Duuuh!  Kebayang nggak betapa perihnya siksaan itu?

Setelah itu, tibalah saat penghukuman mati.  Kepala terhukum diletakkan di atas sebuah landasan batu.  Algojo sambil berteriak ‘horas’ tiga kali akan menebaskan pisau panjangnya (juga tiga kali) ke leher terhukum sampai kepala dan tubuhnya terpisah.  Darah yang tercurah ditampung, dan diserahkan kepada raja untuk diteguk agar ilmu sang terhukum berpindah ke tubuh raja.  Sudah mual?  Belum selesai, nih.  Organ-organ tubuh terhukum lantas diambil dan dicincang, dibagikan kepada semua hadirin yang lantas menyantapnya.  Sekali lagi, ini karena terhukum sudah dianggap seperti binatang saja, dimakan pun pantas.  (Menurut pemandu, inilah cikal-bakal cerita bahwa orang Batak ‘makan orang’!)

Sisa-sisa bagian tubuh terhukum lantas dikuburkan tak jauh dari kumpulan batu kursi tempat mereka menemui ajal – namun tempat penguburan itu sudah tak ada lagi, tertutup bangunan.

Tempat terhukum dijatuhi siksaan dan hukuman penggal.

Kami akhirnya melangkah keluar melalui gerbang yang berbeda dari yang kami gunakan untuk masuk, dan langsung disambut deretan toko suvenir lagi.  Ah, ya, para penjual suvenir masih sengotot dan seblak-blakan dulu, tak malu menggerutu di depan calon pembeli yang dirasa pelit.  Kami hanya bisa membalas kata-kata mereka dengan cengiran.

Kami kembali ke kapal untuk berpindah ke Tomok.  Hari sudah lewat pukul enam dan gelap.  Gilanya, di kapal yang kami tumpangi tidak ada lampu sama sekali, bahkan di ruang kemudi.  Saya jadi agak ngeri juga, dan diam-diam mulai mencari-cari di mana ada jaket pelampung yang diperlukan bila ada keadaan darurat.  Duh, sepertinya kok tidak ada.  Gawat ini.  Sekadar berbagi, feri yang diperuntukkan bukan untuk turis pun di Chao Phray, Bangkok dilengkapi peralatan keselamatan yang memadai.  Yah, saya hanya bisa berdoa semoga perjalanan kapal ini lancar apa adanya.

Sebagian besar vila dan hotel yang berjejer di tepi danau, meski terlihat nyaman, tampak sepi dan bahkan sering kali tanpa lampu menyala.  Rupanya Danau Toba belum lagi memasuki ‘masa liburan akhir tahun’.   Wisatawan yang terlihat jelas oleh kami paling-paling satu keluarga asing yang baru selesai berenang dan melambai-lambai dengan ramah kepada kami.

Tomok terlihat lebih siap menyambut wisatawan daripada Ambarita.  Jalanan kecil yang membelah pasar suvenir menuju makam Raja Tomok telah berlapis conblock, dan toko-toko juga terlihat lebih tertata.  Sayang karena sudah malam, sebagian besar toko sudah tutup dan sigale-gale tak bisa dipentaskan.  Namun kami cukup puas dengan pengalaman yang cukup seru: duduk dikelilingi kegelapan di pemakaman Raja Tomok, sambil mendengarkan kisah tentang ketiga raja besar masa lalu dari pemandu setempat.  Tentang betapa makam raja kedua menyimpan kisah cinta tragis: patung sosok perempuan yang ada di atas cungkup sarkofagus bukanlah permaisurinya, melainkan tunangannya yang dipercaya kena guna-guna dan menghilang tak lama sebelum pernikahan mereka.  Tak ada yang tahu apakah jenazahnya terbaring di hutan ataukah di dalam danau.

Pemandu juga menjelaskan bahwa raja-raja terawal masih menganut Parmalim, agama Batak yang melarang memangsa babi, anjing, dan darah; dan bahwa kain tiga warna yang dibentangkan di atas sarkofagus raja pertama dan kedua melambangkan ketiga dunia: dunia atas (putih), dunia tengah (merah), dan dunia bawah (hitam).  Banyak sekali penuturan menarik kami peroleh dari beliau, termasuk filosofi ornamen cicak yang memang membuat kami penasaran.  Menurutnya, itu adalah harapan raja Batak (siapa raja yang dimaksud, tidak ia perinci) agar orang Batak bisa beradaptasi di mana pun mereka berada, seperti cicak yang bisa menempel di mana saja.  “Saya yakin di Bulan juga sudah ada orang Batak,” candanya.

Tip: Jangan lupa berdonasi seikhlasnya seusai mengunjungi desa adat dan/atau pemakaman di Pulau Samosir.  Kotak donasi biasanya terletak di samping pintu keluar.

Kami kemudian menyeberang kembali ke hotel untuk check inHotel Siantar namanya.  Samar-samar saya ingat bahwa sewaktu SMP dulu, ketika berlibur ke Danau Toba bersama orang tua saya, di sini juga dulu kami tinggal.  Kalau ingatan saya benar, tak banyak yang berubah di hotel itu sejak belasan tahun lalu.  Saya rasa sebagian perabotnya juga masih sama.  Rakas di samping tempat tidur masih dihiasi tombol-tombol model lama yang tak lagi fungsional untuk mengatur lampu dan lain sebagainya.  Bersih sih bersih (meski sepreinya seharusnya bisa lebih bersih lagi), hanya saja memang tidak istimewa, kecuali pemandangan tak teralang ke arah danau dan kota Parapat.  Makanan yang disajikan di ruang makan juga cukup lezat, apalagi bila disantap di meja-meja di samping jendela.

Esok paginya, sebelum kembali ke Medan kami menyempatkan diri beputar-putar sejenak di Parapat.  Kata yang terlintas di benak saya sewaktu melihat Parapat kini adalah ‘tua’.  Ya, renta.  Ternyata dari dekat, ketahuan banyak bangunan sepertinya tak pernah mendapatkan perbaikan bertahun-tahun.  Hotel-hotel tampak agak kumuh, dengan cat mengelupas di sana-sini, dibandingkan dengan yang ada di Pulau Samosir.  Barangkali mereka lebih ditujukan untuk wisatawan domestik, sementara yang di Samosir wisatawan asing yang barangkali menuntut fasilitas yang lebih bagus?  Entahlah.  Namun, di saat yang sama dengan kelembaman yang menguasai atmosfer kota itu, di alun-alun terlihat kesibukan.  Parapat sedang berbenah untuk Festival Danau Toba yang akan berlangsung mendekati akhir tahun, sekaligus juga aliran pengunjung yang tentunya diharapkan meningkat di musim liburan.  Semoga festival tersebut dapat kembali mengembalikan gairah pariwisata di Danau Toba dan sekitarnya.

Kali ini kami mengambil rute berbeda dari ketika datang ke Parapat, yaitu melewati Pintu Angin untuk melihat air terjun Sipiso-piso, lalu Kabanjahe dan kemudian Brastagi.  Rute ini lebih ‘liar’ – membelah pepohonan yang terkadang cukup rapat, sebagian tanpa penerangan (untungnya sih, kami melewatinya di kala siang!), sempit dan berliku, terkadang mobil harus menempel pas sekali ke bibir jurang, kerap kali jalanan benar-benar sepi dari pemukiman penduduk – namun pemandangan yang ditawarkan lebih indah daripada rute yang satu lagi.  Jalan lebih panjang menyusuri tepian Danau Toba, sehingga danau itu seolah tak mau lepas dari kami.  Kami juga tak kunjung puas rasanya menikmati kecantikan danau itu, yang kadang mengintip dari balik rerimbunan pepohonan.

Di air terjun Sipiso-piso, bagi saya, sebenarnya yang lebih mengagumkan daripada aliran air deras yang terjun bebas menuju sebuah sungai nun jauh di bawah sana, adalah pemandangan Danau Toba yang terlihat dari anjungan pengamatan.  Luar biasa.  Warna biru kelabu air danau dan langit berpadu dengan hijaunya perbukitan, mengundang untuk berlama-lama memandanginya.  (Seandainya saja saya bisa!)

Baru di Sipiso-piso inilah kami melihat cukup banyak turis asing, rata-rata sudah sepuh.  Namun justru mereka yang dengan bersemangat menuruni undak-undakan agar bisa lebih dekat dengan air terjun.  Beberapa kali terdengar mereka berucap, “Beautiful…”

Air Terjun Sipiso-piso.

Hanya saja satu yang saya agak heran di tempat perhentian Sipiso-piso ini.  Udara sedingin ini, dan tidak ada yang menjual gorengan?  Atau kebetulan saya sedang sial, datang saat tidak ada yang sedang berjualan?  Padahal mengamati pemandangan dari situ pastilah lebih enak ketika ditemani gorengan hangat.  Mungkin ini bisa jadi ide bisnis baru?

Kisah kami berikutnya tentang kunjungan ke Sumatera Utara: melintasi Brastagi, dan akhirnya… Medan!

Posted by Tante Guru

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.