Pemenang CD TVXQ!, TONE
15 Nov 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: hadiah, jepang
Selamat, ich1heavens! Kamulah yang berhak memperoleh CD TVXQ! TONE. Hadiah akan kami kirimkan secepatnya, setelah kamu memberikan data kamu melalui surat elektronik.
Tapi ada juga pemenang hadiah bonus lho. Apa itu? Hmmm… nanti ya kami beri tahukan!
Semua akan dihubungi melalui surat elektronik. Terima kasih atas semua yang telah berpartisipasi!
Oh ya, bila kalian menyukai K-pop, kunjungi juga blog milik Tante Guru satu lagi, karena di sanalah ia menuliskan liputan tentang berbagai konser dan festival musik Korea yang ia hadiri. Misalnya, ini adalah liputan terbarunya tentang konser 2PM di Jakarta baru-baru ini.
Sampai jumpa di bagi-bagi hadiah kami selanjutnya!
Sejarah Bangsa di Intramuros
09 Nov 2011 3 Comments
in filipina Tags: angkutan umum, benteng, filipina, kota tua, manila
“Maaf, saya terlalu banyak berbicara ya?”
Saya hanya tertawa mendengar pertanyaan supir taksi ramah yang nyaris tanpa putus mengajak saya mengobrol sedari bandara. Berbagai hal ia tanyakan, mulai dari wajah saya yang menurutnya mirip wajah orang Filipina, sampai agama mayoritas di Indonesia. Sebagai balasan, ia juga memberi tahu saya mengenai berbagai hal yang bagi saya baru sama sekali di Manila, misalnya bagaimana menumpangi jeepney, angkot ala Filipina yang menjadi salah satu ‘trademark’ negara tersebut.
Padahal sewaktu akan berangkat ke Filipina, saya sempat was-was juga. Saya datang ke Manila untuk suatu urusan, namun ternyata acara tersebut batal, sementara tiket pesawat dan hotel tidak bisa saya gugurkan. Akhirnya saya memutuskan tetap berangkat, sendirian, karena sayang betul kalau semua pesanan saya hangus. Lagipula, tidak ada salahnya menapaki negara yang belum pernah saya kunjungi, kan?
Teman saya yang saya ajak ke Manila menolak karena sejumlah alasan, salah satunya karena menurut adiknya, negara itu tidak aman. Hmm, iya sih. Salah satu yang cepat melintas di benak orang saat mendengar nama Filipina adalah gelombang kekerasan yang kerap terjadi terutama di selatan Filipina. Namun saya membesarkan hati saja. Kota tempat saya bekerja, Jakarta, juga bukan kota yang aman. Dan di negara saya pun kerap terjadi kekerasan di sana-sini, tapi ternyata tidak berpengaruh ke bagian-bagian lain negara, kan? Lagipula di Manila, telah menanti teman-teman saya yang dengan baik hati menawarkan ‘mengadopsi’ saya selama dua hari.
Saya berangkat ke Filipina dengan pesawat Cebu Pacific yang meninggalkan tanah air selepas tengah malam, lengkap dengan keterlambatan satu jam. Pesawat tiba sekitar pukul 7 pagi di Terminal 3 Ninoy Aquino. Ini bandara Manila yang dekat dengan ibukota Filipina tersebut. Bila menggunakan AirAsia, Anda akan diantarkan sampai Bandara Clark, yang letaknya lebih jauh dari kota tersebut.
Salah satu hal yang kerap diwanti-wantikan kepada para wisatawan yang mengunjungi Filipina adalah berhati-hatilah dengan taksi. Wujud mobilnya seringkali sudah tua dan tidak terawat, ditambah supirnya ogah menggunakan argo. Namun, sekarang dari bandara sudah ada jasa taksi yang diawasi ketat dengan armada yang seluruhnya baru. Di T3 Ninoy Aquino, ikuti saja papan penunjuk untuk mencapai tempat mengantri taksi. Petugas akan membantu kita memperoleh salah satu taksi berwarna kuning. Selain taksi kuning yang berargometer, ada pula taksi sewaan dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. Taksi model seperti ini tidak hanya berupa sedan, melainkan juga minivan, sehingga lebih pas untuk rombongan agak besar yang ingin tetap bersama-sama.
Selain taksi bandara yang berwarna kuning, taksi di Manila rata-rata berwarna putih polos, atau paling banter dihiasi sedikit hiasan warna lain, hijau misalnya. Sebagian mobil yang dioperasikan memang sudah butut – secara umum taksi-taksi di Jakarta masih jauh lebih bagus. Untunglah selama di sana, saya tidak memperoleh pengalaman buruk dengan taksi. Barangkali sih karena saya selalu disertai teman-teman saya yang asli Filipina ke mana-mana sehingga saya ‘aman’, tidak kena tipu. Portir hotel juga membantu mencek apakah argometer sudah berjalan sebelum taksi saya meninggalkan hotel.
Namun kesan terkuat yang saya peroleh dari para bapak supir adalah mereka ramah-ramah dan gemar mengobrol. Mungkin berkat penguasaan bahasa Inggris mereka yang juga cukup bagus, mereka juga tidak segan mengobrol dengan tamu asing sekali pun, seperti supir taksi yang saya kisahkan di awal tulisan ini. Tawa mereka mewarnai perjalanan saya, menipiskan rasa ciut di hati karena berada di tempat yang asing bagi saya.
Taksi jugalah yang kami gunakan menuju salah satu daya tarik utama wisata di Manila, Intramuros, yang hanya berjarak beberapa menit dari hotel saya. Intramuros yang dibangun Spanyol adalah kawasan kota tua Manila yang dikelilingi kubu-kubu pertahanan, seperti tercermin oleh namanya yang berarti ‘dilingkungi tembok’.
Bangunan-bangunan yang masih ada di dalam Intramuros sangat bercirikan Eropa. Kebanyakan sekolah tadinya juga berada dalam Intramuros, sebelum akhirnya Manila mengembang ke segala arah keluar dari kota berbenteng tersebut. Sekarang ada beberapa universitas di dalam kawasan itu, dan sejumlah bangunan kuno yang ada dialihkan menjadi asrama atau kantin bagi para mahasiswa.
Setiba di Intramuros, terlebih dahulu kami menyantap sarapan di salah satu cabang Chow King yang terletak di seberang basilika Manila. Jaringan restoran Chow King ini juga ada di Jakarta, namun menu yang dijual banyak sekali perbedaannya. Yang jelas, sebagian hidangan tersebut tidak halal. Di Manila memang sulit kalau mau mencari restoran yang menjamin hidangannya disiapkan memenuhi persyaratan agama Islam. Bahkan sepertinya di Vietnam masih lebih mudah menemukan restoran yang (setidaknya) memajang label ‘halal’. Teman saya bahkan berkata sampai ragu mengajak teman lain dari Malaysia untuk bertandang ke Manila gara-gara hal itu. “Mungkin sebaiknya kuajak ke Filipina Selatan saja,” katanya, menyebutkan bagian Filipina di mana banyak terdapat umat Muslim.
Orang Filipina tidak memadukan ayam goreng ala restoran cepat saji Amerika dengan sambal seperti kebiasaan kita, melainkan dengan gravy (semacam saus kaldu kental). Teman saya sampai berseloroh, makan ayam goreng tidak lengkap rasanya tanpa gravy. Menurut mereka, di KFC boleh mengambil gravy sepuasnya, sehingga bisa saja kita hanya pesan nasi tok, lalu mengambil gravy sebanyak-banyaknya sampai jadi sup. Tapi saya tidak sempat mencoba saran ini, sih, hehehe.
Dan kalau melihat paket ‘super sulit’ dijual di restoran, jangan cemas, karena itu sebenarnya berarti ‘super hemat’. Sementara ‘sarap’ berarti ‘lezat’!
Setelah mengisi perut, kami menyeberang jalan dan melintasi sebuah taman menuju Katedral Manila yang berstatus sebagai ‘basilika’. Bangunannya sungguh megah dan menggetarkan hati, namun konon pasangan yang menikah di situ justru tidak akan memperoleh pernikahan yang awet. Legenda ini lahir dari banyaknya pasangan selebritis yang mengikat janji di basilika tersebut namun berujung pada perceraian. Entah benar atau tidak. Yang jelas, basilika tersebut tetap laris sebagai tempat melangsungkan pernikahan, dan harus dipesan jauh-jauh hari sebelumnya.
Hari itu pun saat kami berada di sana, sedang berlangsung upacara pernikahan yang khidmat. Pengunjung tetap boleh masuk, namun tidak boleh memasuki dan memotret ruang utama katedral demi menghormati pasangan yang sedang berbahagia. Akhirnya, saya pun harus cukup puas dengan memasuki ruang-ruang samping yang dihiasi jendela-jendela mosaik indah. Sejumlah karya seni religius dan berbagai pajangan yang menerangkan berbagai hal tentang agama Katolik dipajang di ruang-ruang itu.
Setelah bertamu ke basilika, kami menuju bekas benteng Spanyol yang menghadap Sungai Pasig, Fort Santiago. Sebagian bangunan di dalam kompleks itu sudah tinggal reruntuhan, namun masih banyak juga yang terawat baik. Kami membayar tiket masuk sebesar 75 PHP untuk orang dewasa (50 PHP untuk pelajar), lantas melangkahkan kaki memasuki area pertama Fort Santiago, sebuah taman luas yang dihiasi sejumlah air mancur dan bangku yang nyaman. Tak heran cukup banyak orang yang memanfaatkan taman ini untuk bercengkerama.
Salah satu alasan Fort Santiago begitu spesial adalah di sinilah kita bisa mempelajari sejarah Filipina sebagai sebuah bangsa, karena di sinilah tempat salah seorang pahlawan terbesar mereka, Jose Rizal, ditahan sebelum kemudian dihukum mati. Sebuah museum untuk mengenang beliau berdiri di salah satu pojok taman, sementara di jalan, kita dapat melihat tapak-tapak dari logam yang menjadi penanda rute yang ditempuh Jose Rizal dengan berjalan kaki dari selnya menuju Rizal Park tempat ia dieksekusi.
Kenangan akan sang dokter sekaligus penyair itu terpancar begitu kuat di area tersebut. Suasana khidmat, namun tidak suram: kematian Jose Rizal membuka jalan bagi kebangkitan sebuah bangsa. Museum memorial Jose Rizal ditata sederhana, namun meninggalkan kesan kuat. Syair-syair karya beliau dalam berbagai bahasa dipajang di dinding-dinding museum. Kutipan-kutipan beliau yang membakar semangat kebangsaan disusun dalam pajangan lampu, menghiasi sel beliau yang dibiarkan polos tanpa hiasan seperti saat masih digunakan. Para perancang museum rupanya sadar benar bahwa keagungan Jose Rizal justru memang sungguh terasa dalam kesederhanaan ini.

Patung Jose Rizal seukuran aslinya. Dari sini tapak-tapak kaki logam yang menapak tilas perjalanannya menjemput ajal bermula.
(O ya, sebagai catatan, di dalam museum, tidak boleh memotret menggunakan blitz.)
Keluar melalui pintu belakang museum, kami menyusuri bagian atas benteng, menuju sebuah museum lain, yang menyimpan perabotan, pakaian, foto-foto, dan silsilah Jose Rizal. Untuk memasuki tempat ini, harus membayar ekstra 10 PHP. Yang menyedihkan, di dalam museum ini, saya melihat seorang wisatawan lokal dengan seenaknya memanjat pagar pembatas demi bisa berfoto duduk di salah satu kursi yang dipamerkan. Duh!
Sekeluarnya dari museum kecil tersebut, kami menuju bagian benteng yang menghadap Sungai Pasig, ‘Chao Phraya’-nya Manila. Dari bagian atas benteng itu, kami bisa melihat jejeran sel tahanan yang membuat bergidik. Sel-sel itu bisa kami lihat karena atapnya sudah hilang. Terlihatlah ruangan-ruangan sempit berkalang batu jauh di bawah sana, yang bisa dicapai hanya dengan tangga curam atau lorong yang entah berujung di mana… atau jangan-jangan ada juga tahanan yang didorong begitu saja sampai jatuh ke bawah sana?
Puas dibuai angin dari Sungai Pasig, kami kembali ke depan Fort Santiago. Setelah tawar-menawar sedikit (kami membayar 500 PHP untuk naik satu kereta berlima, umumnya satu kereta hanya untuk bertiga dengan tarif 350 PHP), kami pun menumpangi sebuah casela (kereta kuda) mengelilingi Intramuros. Seperti juga supir-supir taksi, sang kusir sangat ramah dan banyak bicara, hanya saja ia lebih banyak mengobrol dalam bahasa Tagalog. Dan rupa-rupanya, ia mengira saya dari Korea sehingga memperkenalkan kelapa dan mangga kepada saya. Aduh Pak, itu sih di negara saya juga banyak, hehehe…
Kapan saja mau berhenti untuk melihat-lihat dan memotret, kusir akan menunggu dengan sabar. Ia juga menjadi pemandu yang memperkenalkan berbagai bangunan kepada kami. Tanpa terasa, perjalanan kami mengelilingi Intramuros pun usai. Ia mengantarkan kami sampai kembali ke depan katedral, dan kami pun menuju Rizal Park dengan naik jeepney. Apa yang bisa ditemui di sana? Tunggu kelanjutan tulisan ini, ya!
Shin-Okubo: Korean Town di Tokyo
03 Nov 2011 7 Comments
in jepang Tags: hallyu, jepang, shibuya, shin-okubo, tokyo
Baca artikel ini dan menangkan satu buah CD TONE oleh TVXQ sebelum 21 November 14 November 2011. Selengkapnya ada di bagian akhir artikel.
Lho, jauh-jauh ke Jepang, kok yang dibelanjakan barang-barang artis Korea juga?
Barangkali pertanyaan itu yang terlintas di benak orang-orang yang melihat isi bawaan saya sewaktu pulang dari Jepang. Alasan yang paling mudah saya lontarkan adalah, banyak artis Korea yang merilis album dan pernak-pernik khusus Jepang, yang sulit diperoleh di luar Jepang. Jepang memang salah satu sasaran utama pemasaran para artis dari negara tetangganya tersebut, dan negeri ini memang tak luput terlanda hallyu alias Korean Wave. Alasan lain, ya saya memang ‘gelap mata’ saja saat mengunjungi Korean town Tokyo yang berada di daerah Shin-Okubo.
Semua bermula saat D-san (salah satu penghuni tetap rumah komunal yang kami tumpangi, masih ingat?) mengetahui bahwa saya juga menggemari hallyu. Si penggemar SNSD ini dengan antusias menyarankan agar saya mengunjungi Shin-Okubo. “Di sana banyak toko yang khusus menjual barang-barang Korea,” Ia menerangkan.
Sebenarnya Shin-Okubo tidak ada dalam daftar tempat yang pada mulanya ingin kami kunjungi. Namun saya jadi tertarik juga mendengar penjelasan singkat D-san, dan untunglah teman-teman bersepakat untuk menyambangi daerah tersebut. Kami menyempilkan kunjungan ke Shin-Okubo dalam jadwal yang sudah kami isi dengan rencana jalan-jalan ke Shibuya, Harajuku, Yoyogi, dan Shinjuku. Sebenarnya Shin-Okubo memiliki stasiun kereta sendiri, namun kalau mau sekalian jalan, daerah tersebut bisa juga didatangi dengan berjalan kaki dari Shinjuku. (Dan inilah yang kami lakukan.)
Sebelumnya, di Shibuya, kami mampir ke salah satu cabang dari jaringan toko musik ternama Tower Records. Cabang Shibuya menempati gedung tersendiri yang terdiri atas beberapa lantai. Sedari lantai paling bawah, berbagai pajangan dan deretan CD serta DVD tampil menggoda. Tanpa sadar, kelompok kami otomatis terpisah-pisah, masing-masing menuju lantai yang dikhususkan untuk rekaman dari jenis musik yang ia sukai. Saya menuju lantai yang menjual rekaman musik Korea.
Oya, sebagai catatan, belanjaan di setiap lantai harus dibayar terlebih dahulu sebelum bisa dibawa berpindah lantai. Saya juga tahu hal ini ketika tanpa sengaja membawa keranjang berisikan belanjaan melewati mesin pendeteksi label yang langsung berbunyi nyaring… waduh malunya. Untunglah pramuniaga di lantai tersebut, seorang laki-laki muda, sangat lancar berbahasa Inggris. Dengan sabar ia membantu saya dan menerangkan peraturan yang berlaku di toko tersebut.
Di setiap lantai, juga dipajang berbagai memorabilia artis-artis yang karyanya dijual di lantai tersebut. Tower Records cabang Shibuya memang juga sering dipakai sebagai tempat fanmeeting ataupun konser mini, termasuk oleh artis-artis Korea. Saya yang menggemari Park Jungmin girang sekali mendapati posternya yang bertanda tangan terpajang di lantai tersebut. Tanpa ba-bi-bu saya langsung mengambil foto. Baru belakangan saya sadar bahwa sepertinya sebenarnya ada larangan berfoto di situ… hehehe. Maaf ya.
Dari Shibuya, kami berjalan kaki ke Harajuku, lantas meneruskan ke Shinjuku. Tapi bagian yang ini, kami ceritakan lain kali, ya. Nah, dari Shinjuku, kami jalan kaki menuju Shin-Okubo, menelusuri trotoar yang nyaman. Untunglah hari itu kami ‘dikawal’ teman yang telah lama tinggal di Tokyo, yang membimbing kami melewati jalan-jalan kecil yang nyaman. Tak jauh dari jalan utama Shin-Okubo, kami melewati sederetan restoran. Di depan salah satunya, terpajang foto besar Dongbangshinki yang berbingkai.
“Itu artinya, mereka pernah makan di sini lho,” Teman kami menerangkan. Wuah! Bersejarah juga rupanya restoran kecil yang nyaris tersembunyi ini! Sayang kami tidak sempat mampir untuk mencicipi hidangan di situ.

Wih, poster Dongbangshinki bertanda tangan ini, meski dipajang terbuka tanpa dijaga seperti ini, tidak ada yang mau menggondol, ya?
Ketika akhirnya tiba di Shin-Okubo, sekejap kami merasa seperti bukan di Jepang. Toko-toko yang berderet menjual berbagai pernak-pernik artis Korea. Supermarket menjual produk-produk Korea. Poster-poster yang dipajang di sana-sini mempromosikan drama ataupun konser Korea. Restoran-restoran menjual berbagai hidangan Korea. Berbagai macam tulisan dalam aksara hallyu terpajang di sana-sini. Dan manusia memadati kawasan ini seperti semut mengerubungi gula.
Kawasan ini memang ditata dan dikelola dengan baik. Dari pengeras suara, dikumandangkan ucapan selamat datang ke Shin-Okubo dalam berbagai bahasa. Para pengelola sadar benar Korean town yang satu ini telah menarik minat bukan saja para penggemar hallyu di Jepang, melainkan juga dari berbagai penjuru dunia. Sejumlah band K-pop yang debut di Jepang juga rajin dipromosikan oleh toko-toko di kawasan tersebut.
Saya mencoba memasuki beberapa toko yang menjual pernak-pernik dan rekaman artis Korea. Ada yang menjual umum-umum saja, dalam artian segala macam band yang sedang popular seperti Super Junior dan Big Bang ada. Barang-barang itu ada yang asli keluaran perusahaan sang artis, ada juga yang keluaran tidak resmi (tetapi bukan palsu), namun kualitasnya rata-rata sama bagusnya. Berbagai benda yang menggoda selera tersebut dipajang di rak khusus untuk masing-masing band atau artis. Jadi secara sepintas lalu, tingkat kepopuleran mereka bisa diperiksa dengan memperhatikan berapa banyak orang yang merubung di depan rak-rak itu. Tidak semua remaja atau anak muda, lho! Ada juga oom-oom sampai nenek-nenek yang tidak malu-malu ikut sikut-sikutan memilih-milih belanjaan.
Selain toko-toko ‘umum’ seperti itu, ada pula toko-toko yang lebih terspesialisasi, misalnya khusus menjual pernak-pernik aktor film, lebih banyak menjual barang-barang DBSK, dan lain sebagainya. Hal itu membuat keluar-masuk berbagai toko untuk mencek jualan mereka menjadi keasyikan tersendiri. Sepengamatan saya, Jang Geun Seuk adalah aktor yang paling laris-manis dijajakan. Lee Hongki FT Island juga rupanya memiliki penggemar lebih banyak daripada bandnya secara keseluruhan. Sejumlah toko mempunyai rak khusus Hongki.
Sayang hari itu hujan dengan rintik berukuran cukup besar, sehingga agak sulit bagi saya untuk memotret sana-sini. Namun kiranya beberapa foto yang saya pajang di sini bisa sedikit memberikan gambaran mengenai betapa serunya Shin-Okubo. Saya malah tidak puas hanya sekali berkunjung ke situ. Sebelum pulang, saya menyempatkan diri datang lagi satu kali. Jadi, kalau kamu juga penggemar hallyu dan berkesempatan pergi ke Jepang, cobalah masukkan Shin-Okubo ke dalam rencana perjalananmu, ya!
Ingin memenangkan satu CD TVXQ berbahasa Jepang, TONE, keluaran Indosemar Sakti (Indonesia)? Mudah saja. Jawab pertanyaan berikut ini di boks komentar di bawah:
Seandainya bisa berkunjung ke Shin-Okubo, benda apa yang kamu ingin beli atau apa yang ingin kamu lakukan di sana?
Jangan lupa sertakan alamat surat elektronik yang bisa kami hubungi.
Jawaban ditunggu sampai 21 November 14 November 2011 ya!
CD TONE adalah sumbangan dari Ayu Palar.



































Komentar pelompat