Jogjakarta and Its Vicinity [Gallery]
13 Oct 2011 2 Comments
in indonesia Tags: candi, indonesia, istana, jawa tengah, jogjakarta, museum, pasar
Right. This is a long-due post. I made a trip to Jogjakarta last year – my second after my first time years and years ago when my cousins still lived there. Just today, after I read about the royal wedding that will take place next week, I realised that apart from the piece about the Mendut candi and vihara, I wrote nothing more about my trip. Guiltily, I browsed my folders to find the pictures I made there.
Not too many. And I was using my old pocket camera so the quality of the pictures was somewhat I’m not too proud of. But anyway, here are some of the pictures I made in Jogjakarta and its vicinity (areas like where the Borobudur is situated are parts of the Central Java province).
-
- The convenient night train that brought us to Jogjakarta from Jakarta.
- Our breakfast one morning. Jogjakartan culinary is known for its sweet taste, so if you don’t like sweet, be warned.
- Colourful, interesting old houses in the Kauman area. This is where many followers of Muhammadiyah, one of the two biggest Muslim organisations in Indonesia, reside.
- The kraton mosque.
- Royal carriages in the special museum.
- A very old abdi dalem is showing a picture of him when he was still very young. He has served the kraton for decades.
- Colours, like cultures, blend harmoniously in the kraton.
- A gamelan set in the kraton.
- The kraton is colourful and shows various influences.
- Giant doors in the kraton.
- Despite being a Muslim sultanate, the Jogjakarta kraton still reveres Hindu figures, as seen in the ‘kemenyan’ put before this Ganesha statue.
- An interesting touch of the colonial style.
- Visit Jogja’s sidewalks at night for street food and warm chitchat with people.
- The presidential palace.
- So many food to taste of Javan background in Jogjakarta!
- Visit Pasar Beringhardjo for cheap local products.
- A view of the Malioboro street with a TransJogja bus stop.
- The giant tree on the yard of Candi Mendut.
- The steps leading to the stupa of Borobudur, the single largest Buddhist monument in the world.
- A view of the lands around Borobudur from the upper tiers of the candi.
- The Ramayana is performed regularly in Prambanan, an ancient Hindu temple in the city.
- The magnificent scene of massive fire in Ramayana.
- Street names in Jogja are written in Latin and Javanese scripts like this one.
- Tamansari complex, the royal baths, show Muslim, Hindu, Buddhist, and European influences.
- A glimpse through the gates of a house near Tamansari.
- The lands around Tamansari belong to the court, but abdi dalem and their families were given special privileges to build homes on them.
- Masks on sale in a shop near the Tamansari complex.
- Underground tunnels abound in Tamansari. There’s even an underground mosque.
Jogjakarta – home of kings past and present, a sanctuary of faiths, a refugee of the Republic during its harsh times – may you live long and prosper.
Museum Ghibli, Mitaka, Jepang
08 Oct 2011 Leave a Comment
in jepang Tags: jepang, museum
Studio Ghibli! Nama besar di kalangan pencinta animasi, apalagi animasi Jepang.
Miyazaki Hayao, otak di balik studio tersebut, punya impian mengenai sebuah museum yang tak hanya menampung berbagai memorabilia namun juga menunjukkan proses pembuatan film animasi. Tempat bersenang-senang memuaskan imajinasi sekaligus belajar.
Sebenarnya, jujur, saya tidak tahu banyak mengenai Ghibli. Hanya dua film buatan mereka yang pernah saya tonton. Namun teman-teman yang sangat menyenangi Ghibli sangat bersemangat untuk mengunjungi museum tersebut, membuat saya ikut bergairah juga. Dan ternyata… suka ataupun tidak kepada Ghibli, museum ini pasti memincut hati Anda!
Sekarang mari kita mulai dari yang paling awal dulu… bagaimana membeli tiket ke Museum Ghibli? Di beberapa negara ada perwakilan resmi penjualan tiket, namun berhubung di Indonesia belum ada, maka kita baru bisa membeli tiket setelah menjejakkan kaki ke Jepang. Tiket dapat dibeli di mesin-mesin tiket di LAWSON Convenience Store. Instruksinya bisa dibaca di sini. Namun bila ternyata Anda tetap bingung juga, jangan ragu meminta tolong penjaga toko. Harga tiket bervariasi sesuai usia – untuk 19 tahun ke atas, harganya adalah 1000 yen.
Yang perlu Anda perhatikan:
- Museum buka dari pukul 10 sampai 18, namun Anda tidak bisa masuk sembarang waktu. Pintu gerbang dibuka hanya 4 kali sehari, dan Anda harus masuk sesuai tanggal dan jam yang telah Anda pilih dan tertera di tiket Anda. Jadi, jangan sampai telat! Namun setelah berada di dalam, Anda bebas kok menghabiskan waktu sampai museum tutup kalau perlu.
- Museum tutup setiap Selasa.
Karena kami memilih masuk pukul 10, pagi-pagi kami sudah berangkat meninggalkan Ikebukuro menuju Shinjuku, untuk menaiki kereta Chuo Line menuju Mitaka. Sesampainya di Mitaka, ternyata pukul sepuluh pagi masih lama. Kami memutuskan untuk sarapan dulu di sebuah kafe kecil namun apik bernama Shimore yang terletak dekat halte community bus yang ulang-alik dari stasiun ke Museum Ghibli.
Museum Ghibli memang kebanggaan Mitaka. Kafe Shimore dihiasi pernak-pernik film-film Ghibli. Kantor informasi pariwisata yang terletak tepat di samping Shimore pun memajang sebuah boneka totoro di depan etalase. Hal ini membuat kami semakin tidak sabar saja rasanya untuk segera tiba di Museum Ghibli. Tapi bersantai menikmati menu sarapan di Shimore juga ternyata amat menyenangkan! Keakraban tampak di antara para pelanggan tetap dan satu-satunya pramusaji yang bertugas – seorang ibu-ibu yang amat ramah.
Dengan perut dan hati hangat, kami pun menuju halte community bus. Tarif bis ini adalah 200 yen sekali jalan, atau 300 yen bila membeli tiket pulang-pergi. Bila Anda punya banyak waktu dan ingin melihat-lihat, sebenarnya museum tercapai kok dengan berjalan kaki dari stasiun. Berjalan di Mitaka membuat kita lupa bahwa pusat kota Tokyo yang hiruk-pikuk sebenarnya berjarak tidak jauh.
Sampai di museum, ternyata waktu belum menunjukkan pukul sepuluh. Kami pun melihat-lihat dulu bagian samping museum yang terletak di sebuah taman dan hanya dipagari rendah ini. Jeprat-jepret dulu, karena di dalam museum nanti tidak boleh mengambil foto sama sekali. Di atap atau di halaman boleh, tapi tidak di sebelah dalam.
Karena itu maaf bila kami tidak bisa menyajikan foto-foto bagian dalam museum. Biarlah itu menjadi misteri yang menggelayuti benak Anda sampai Anda berkesempatan melihatnya sendiri…
Pukul sepuluh, gerbang depan dibuka. Pengunjung terlebih dahulu menuju kasir tiket untuk menukar bukti pembelian tiket di LAWSON. Setelahnya, mereka antri dengan tertib untuk memasuki museum. Mbak-mbak dan mas-mas penjaga yang senantiasa tersenyum ceria selalu siap membantu.
Akhirnya… pintu depan museum pun dibuka. Pengunjung bergiliran masuk dan menukarkan tiket dengan tanda masuk yang berbentuk seperti potongan reel film. Cenderamata yang unik!
Baru di ruangan pertama pun hati yang bergejolak seperti mau lepas kontrol. Ada begitu banyak hal menarik yang dipajang di lantai bawah. Dasar-dasar animasi dan pembuatan animasi diperkenalkan di sini. Usia pun terlupa, ingin rasanya menempelkan wajah di kaca yang mengelilingi sebagian pajangan agar bisa melihat lebih jelas.
Belum lama kami menengok-nengok lantai bawah, para penjaga mengumumkan bahwa pemutaran animasi spesial – yang berlangsung satu kali setiap kali pintu museum dibuka – akan segera dilangsungkan di Teater Saturno. Kami pun bergegas masuk untuk menemukan tempat duduk yang enak. Selama beberapa menit pun kami menikmati sajian film pendek yang meski sederhana namun menyentuh – mengingatkan lagi akan ‘keajaiban’ animasi yang menghibur anak-anak maupun orang dewasa.
Setelahnya kami bebas menjelajahi museum luar-dalam atas-bawah. Di lantai atas museum, tak hanya pemaparan seluk-beluk pembuatan film, kita juga bisa melihat ruang kerja Miyazaki, model-model bangunan yang muncul dalam film-film Ghibli (misalnya toko topi Sophie dalam Howl’s Moving Castle atau warung makan yang muncul dalam Spirited Away), dan merasakan duduk di dalam nekobus. Ada dua nekobus, yang satu untuk dewasa dan satu lagi untuk anak-anak. Sayang orang dewasa tidak boleh ikut merasakan nekobus anak-anak, hehehe…
Di lantai atas juga terdapat toko buku khusus buku-buku yang berkaitan dengan Ghibli dan toko cenderamata yang dijamin membuat pengunjung kalap mendadak. Jadi siap-siap saja deh dengan metode pembayaran yang Anda miliki sebelum masuk ke toko-toko tersebut, apalagi bila Anda memang penggemar Ghibli. Dalam beberapa menit saja, bisa-bisa Anda telah berdiri sambil memegangi berkantong-kantong belanjaan, dan menghibur diri sendiri dengan kata-kata “Habisnya kalau di Indonesia nggak mungkin kan beli ini semua…”
Museum ini benar-benar menyenangkan, bahkan sampai ke toilet-toiletnya sekali pun. Dan bila naik ke atap, Anda akan menjumpai yang ada di foto-foto berikut ini.
Keren kan?
Bila lapar atau haus, bisa segera menuju restoran Straw Hat yang ada di belakang bangunan museum. Sayangnya, biasanya kita harus mengantri cukup lama untuk mendapatkan giliran bersantap di restoran ini. Bila tidak punya cukup waktu atau memang sudah kelaparan, ada kios yang menjual hotdog, es krim, dan minuman dingin di samping restoran tersebut. Sungguh nikmat rasanya mengisi perut sambil duduk di bangku-bangku taman yang menghadap ke arah rimbunan pepohonan, ditemani angin sepoi-sepoi.
Jadi bila Anda ke Tokyo, sempatkan memanjakan fantasi Anda dengan mengunjungi museum ini. Segarkan kembali ingatan akan masa kanak-kanak Anda.
GoHalalPlanet
08 Oct 2011 1 Comment
in Uncategorized Tags: halal, hotel, link, muslim, restaurant, south east asia, tempat ibadah, vietnam
Teman-teman Muslim yang gemar lompat-lompat, sekarang ada situs baru nih, namanya GoHalalPlanet. Pengelolanya adalah salah seorang teman kami yang tinggal di Vietnam. Situs ini bertujuan menyediakan informasi mengenai tempat makan halal, tempat penginapan yang nyaman, dan tempat ibadah yang tersedia bagi pelancong Muslim. Cakupan utamanya adalah negara-negara Asia Tenggara yang mayoritas bukan dihuni kaum Muslim, dan saat ini informasi yang sudah tersedia cukup banyak adalah untuk Vietnam.
Teman kami ini teliti sekali lho memeriksa restoran-restoran halal, sampai memeriksa dapurnya langsung.
Semoga bisa membantu ya…
Pemenang oleh-oleh dari Jepang!
01 Oct 2011 4 Comments
in jepang Tags: hadiah, jepang
Terima kasih untuk semua yang telah memberikan komentar pada artikel-artikel kami mengenai Jepang. Maaf pengumuman pemenang baru bisa dilakukan sekarang, dan maaf juga belum semua artikel bisa kami turunkan. Namun inilah pemenang hadiah-hadiah yang kami janjikan di sini:
Satu penyimpan berkas dari Museum Le Petit Prince, Hakone dan 1 lembar kartu pos dari Museum Ghibli: Iyut
1 lembar kartu pos dari Museum Ghibli dan pensil Enid Blyton dari BooksActually, Singapura: Inggir
1 lembar kartu pos khusus pameran Buddha karya Osamu Tezuka di Museum Nasional Jepang, Tokyo dan 1 sampul paspor dari Vietnam: Nina
Semua pemenang akan kami hubungi langsung melalui surat elektronik. Selamat, dan terima kasih semuanya!

































































Komentar pelompat