Mencari yang Halal di Beijing
24 Apr 2011 3 Comments
in cina Tags: beijing, cina, halal, islam, masjid, pusat belanja, tempat makan
Salah satu pertanyaan yang paling kerap diajukan pemeluk Islam yang hendak bepergian ke Cina barangkali adalah, “Di sana makannya susah nggak sih?” Terbayang dalam benak berbagai hidangan Cina yang menggunakan daging atau lemak babi sebagai bahannya. Ada pula yang mengkhawatirkan daging hewan lain yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah. Lalu, oleh-oleh makanan apa yang aman untuk dibawa pulang dari Cina, untuk dibagikan kepada teman-teman dan handai-taulan?
Agama Islam telah cukup lama menjadi bagian dari kehidupan bangsa Cina. Beberapa suku minoritas, misalnya Uighur, hingga kini memeluk Islam. Di Beijing ada satu kawasan – Niujie, dengan niu berarti kerbau – yang merupakan pusat warga Beijing yang beragama Islam. Letaknya juga tidak jauh-jauh amat dari pusat kota tua. Bila naik metro, bisa turun di Caishikou, Taoranting, dan Changchunjie, lalu berjalan kaki. Agak jauh sih, tapi anggap saja sekalian melihat-lihat kiri dan kanan.
Barangkali kalau Anda sangat berhati-hati soal makanan, carilah tempat menginap di kawasan ini, karena mudah sekali menemukan kedai dan restoran hidangan halal. Meskipun demikian, jangan kaget bila tempat-tempat ini juga menjual bir, minuman. yang banyak dikonsumsi warga Cina non-Muslim.
Banyak kedai ini yang berkumpul menjadi satu di foodcourt di atas supermarket Muslim Niujie, yang terletak di jalan di seberang Masjid Niujie yang bersejarah. Sebelum memilih-milih makanan, dapatkan kartu magnetik yang bisa Anda isi dengan sejumlah uang (misalnya 50 CNY). Nanti tinggal berikan kartu ini pada penjaga kios, dan harga makanan-minuman yang Anda pilih akan didebit dari nilai yang tersimpan dalam kartu. Harga di foodcourt ini cukup murah (sepiring mi dingin yang porsinya seabrek-abrek dihargai 6 CNY), namun ini pun menurut teman saya sebenarnya sudah cukup mahal.
Secara umum, memang makanan Muslim selalu lebih mahal daripada makanan Cina biasa yang dijual di kedai-kedai tepi jalan. Cara mengenali kedai penjual makanan Muslim adalah biasanya papan nama tokonya berwarna hijau dengan tulisan Cina dan Arab berwarna putih. Ciri lain adalah bangunan restoran yang dilengkapi kubah-kubah menyerupai masjid. Mengenai ini, teman baru saya dari Afganistan punya sedikit protes. “Di sini kok restoran mirip masjid, masjidnya mirip kelenteng.”
Saya jadi terkikik geli mendengarnya. Memang, Masjid Niujie tidak terlihat mirip masjid seperti yang biasa dikenal di bagian-bagian lain dunia seperti Arab atau Indonesia. Bangunannya khas bergaya Cina, dengan minaret yang tidak terlampau tinggi. Bangunan salat untuk laki-laki terpisah dari perempuan. Di dalam kompleks masjid juga terdapat makam 2 imam yang dihormati, berlapis batu hitam. Bila Anda Muslim dan hendak salat, masuk masjid ini tidak perlu bayar. Namun bila Anda non-Muslim, maka Anda wajib membayar tiket masuk untuk berkunjung dan tidak boleh memasuki aula salat utama. Padahal di langit-langit aula utama ada detail dekorasi yang membuat saya penasaran: sejumlah swastika berjejer.
Lagi-lagi teman Afgan saya menyuarakan protes, kali ini seusai salat berjamaah. Ia mengeluhkan lafaz sang imam yang menurutnya tidak benar. Selidik punya selidik, ini rupanya karena bacaan Qur’an mereka, yang tetap berbahasa Arab, ternyata ditulis dalam hanzi. Wajar bila ada lafaz yang meleset. Waduh, si Afgan langsung tidak terima. “Ya, maaf ya, aku ketat soal ini. Tapi kan bisa saja huruf Arab-nya ditulis dulu, baru cara bacanya dalam tulisan Cina. Kenapa Qur’an-nya harus ditulis dalam huruf Cina? Kalau mau bahasa Arab ya harus pas dong.”
Teman saya yang lain berargumen, mereka ini kan orang Cina. Tahunya ya aksara Cina. Mereka bisa membaca aksara Cina saja sudah syukur. Teman baru kami, seorang Jerman berdarah Turki yang juga datang hendak salat, mengangguk setuju. “Kami (orang Turki) juga pakai huruf sendiri,” katanya.
Saya bingung mau mengutarakan pendapat. Diam-diam, saya menyetujui si Afgan: membaca-tulis huruf Arab sebenarnya kan bisa dipelajari. Tapi tentu kami melihat dari sudut pandang Afganistan dan Indonesia, di mana melek tulisan Arab tersebar luas. Mudah mencari tempat untuk mempelajari cara membaca Qur’an dalam bahasa Arab. Namun teman-teman saya yang lain juga ada benarnya: minoritas Muslim di Cina mungkin tidak memperoleh kemudahan semacam itu.
Kembali ke soal makanan. Bagaimana kalau ternyata di daerah kita sedang berada, sulit menemukan restoran atau kedai Muslim, sementara perut sudah keroncongan? Bila Anda tidak terlalu mempermasalahkan penyembelihan hewan, jaringan restoran seperti Yoshinoya dan KFC bisa menyelamatkan Anda. Yoshinoya menjual berbagai paket nasi dengan ayam, ikan, dan daging sapi yang dimasak ala Jepang. Bila tetap ragu pada dagingnya, Anda bisa memesan salad saja. Sementara di KFC, meski tentu saja makanan utamanya tetap ayam yang digoreng ataupun diolah dengan cara lain, berhati-hatilah karena ada beberapa paket nasi yang dimasak dengan bacon. Mintalah menu berbahasa Inggris dari pramusaji. Ah, tunggu… bagaimana dengan minyak yang digunakan untuk menggoreng? Hmm. Nah, inilah. Siapa yang bisa menjamin kehalalannya? Yah, jadi terserah Anda: mau baca basmalah dan tetap menyantap hidangan yang dijual jaringan-jaringan ini, atau bergegas mencari restoran berpapan nama hijau.
Oya, di supermarket di bawah foodcourt Muslim yang telah kita bahas di atas, Anda juga bisa memperoleh berbagai makanan segar maupun kemasan yang halal. Oleh-oleh makanan untuk orang-orang rumah bisa Anda cari di sini. Memang tak semuanya berlabel halal dari badan berwenang semacam majelis ulama, namun sudah dipilih-pilih oleh pihak supermarket berdasarkan bahan yang dipakai.
Oleh karena itu, bila Anda memeluk Islam, tak perlu ragu bepergian ke Beijing. Sekarang pun ada sejumlah biro perjalanan yang menawarkan paket-paket tur khusus untuk Muslim. Dan bila sebelum terbang Anda perlu menunaikan salat terlebih dahulu, ada ruang salat di Terminal 3 Keberangkatan Bandara Internasional Peking, yang dibangun demi para tamu Olimpiade yang beragama Islam.
Posted by Tante Guru
Beijing, Tanpa Paket Tur
24 Apr 2011 8 Comments
in cina Tags: angkutan umum, beijing, cina, kebun binatang, kota terlarang, kota tua, market, pusat belanja, tembok besar
Pergi ke Beijing tanpa paket tur, praktis tidak sih? Ya, bisa-bisa saja, asal Anda tidak keberatan berjalan jauh, naik-turun kereta atau bis, dan bersusah-payah sedikit. Dengan perencanaan yang bagus, Anda bisa menghemat uang cukup banyak namun tetap dapat mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan yang didatangi paket tur, bahkan mungkin dengan jadwal yang lebih leluasa.
Lapangan Tian’anmen dan Kota Terlarang
Sepertinya siapa pun yang berkunjung ke Beijing tak akan mau melewatkan kedua tempat yang berseberangan jalan ini. Bila naik metro, Anda bisa turun di stasiun Tian’anmen West ataupun East. Ikuti petunjuk menuju Lapangan Tian’anmen, yang terabadikan dalam foto-foto menggetarkan protes mahasiswa tahun 1989. Siapa yang tak tergerak hatinya melihat seorang pemuda berdiri dengan gagah berani di depan tank yang siap melindasnya? Namun kini untuk memasuki Lapangan Tian’anmen, jangan harap bisa membawa bahkan sekadar niat berdemo. Pemeriksaan ketat terhadap tas dengan mesin sinar-X, dan juga pemeriksaan tubuh bila perlu, akan dilakukan oleh aparat yang berjaga-jaga di pintu-pintu masuk menuju Lapangan Tian’anmen.
Lapangan Tian’anmen luas membentang ke empat penjuru mata angin, diapit oleh bangunan-bangunan penting pemerintahan. Kota Terlarang dengan temboknya yang merah gelap terlihat di sebelah utara. Sebenarnya bagian perbentengan Kota Terlarang yang terlihat dari lapangan inilah yang disebut ‘Tianan’men’ (men berarti gerbang). Sementara di depan Monumen Pahlawan Rakyat, 6 pemuda belia, bersama 2 orang tentara, harus tegak berjaga meski diterpa angin dingin.
Puas melihat-lihat di Lapangan Tian’anmen, langkahkan kaki menyeberang jalan melewati terowongan bawah tanah ke depan Kota Terlarang. Setelahnya Anda akan melewati beberapa gerbang dan menempuh beratus-ratus meter sebelum akhirnya tiba di loket pembelian karcis. Ya, bermenit-menit yang Anda habiskan tadi belum lagi membawa Anda memasuki bagian utama Kota Terlarang: Anda baru berada di lingkar luar.
Kota Terlarang buka dari pukul 08.30 sampai pukul 17.00, namun pembelian tiket terakhir dilakukan pukul 16.10 (dan yah, apa 50 menit cukup untuk menjelajahi kompleks yang luar biasa besarnya ini?). Setelah tiket berharga 60 CNY aman dalam genggaman Anda, selamat mulai menjelajahi Kota Terlarang dan pahami sendiri mengapa tempat ini disebut ‘kota’, bukan sekadar ‘istana’ atau ‘benteng’!
Bila ingin melihat bangunan-bangunan utama saja, cukup ikuti garis lurus dari gerbang depan sampai gerbang belakang. Apabila punya cukup waktu dan tenaga, melipirlah menengok struktur-struktur lain yang ada di kiri dan kanan. Beberapa patung dan tempayan raksasa dikelilingi garis pembatas, yang tentunya dimaksudkan agar tidak disentuh-sentuh oleh pengunjung. Tapi… astaga, ada saja turis domestik yang nekad memanjat garis pembatas agar bisa berfoto bersama benda-benda itu. Duh… kalau di Indonesia saya masih berani menegur, kalau di sini? Saya akhirnya pura-pura tidak lihat, meski sedih melihatnya.
Selepas Gerbang Wumen di sebelah utara Kota Terlarang, kalau masih punya cukup energi, Anda bisa lanjutkan terus ke utara ke Taman Jingshan. Dakilah sampai mencapai tempat Anda bisa menyaksikan dari atas Kota Terlarang yang sungguh luas. Bila hendak meneruskan ke tempat lain, tersedia papan petunjuk dalam bahasa Inggris yang memberikan informasi mengenai cara mendatangi objek-objek wisata lain dari titik itu.
Oya, saya menyenangi toko suvenir di Kota Terlarang. Cendera mata seperti tas dan dompet tidak terlalu mahal untuk kualitas yang ditawarkan. Kalau saya memang lebih senang beli barang bermerk asli negara setempat daripada beli barang palsu. Namun bila Anda memang tidak keberatan dengan barang KW2, beberapa tempat belanja yang kami jabarkan di bagian berikutnya mungkin bisa membantu.
Wangfujing dan tempat berbelanja lainnya
Siapa pun yang pernah berbelanja di Beijing pasti akan memberikan nasihat ini kepada Anda: “Nawarnya sadis aja.” Gila memang. Sehelai selendang yang awalnya dihargai 350 CNY, setelah ditawar-tawar dilepas dengan harga 20 CNY. Modalnya memang asal kuat mental, karena cara berbicara para penjual yang terdengar seperti marah, membentak, atau mengomel kerap membuat hati ciut atau malas menawar lebih lanjut. Peringatan lain, di Beijing cash economy masih banyak berlaku. Selain di toko-toko merk besar atau hotel jaringan, kartu kredit masih jarang diterima. Entah apakah ini berkah atau beban bagi Anda yang sering lepas kendali bila berbelanja.
Turis yang gemar mencoba peruntungan dengan tawar-menawar, biasanya menuju Pearl Market (buka 8.30-19.00, terletak di seberang gerbang timur Tiantandong, naik metro turun di Tiantandongmen), Silk Market (buka 9.30-21.00, turun di Jianguomen), ataupun Yashow (turun di Tuanjiehu).
Saya sendiri menyenangi Wangfujing. Bila naik metro, turun di stasiun Wangfujing, atau bila dari Kota Terlarang, naiklah bis nomor 103. Kawasan belanja Wangfujing adalah seruas jalan lebar sepanjang 1 kilometer, ditutup untuk kendaraan bermotor. Di kanan-kiri pusat perbelanjaan modern berdiri mengundang para pembelanja. Sejumlah kedai kecil yang manis menawarkan minuman dan tempat duduk untuk sejenak mengistirahatkan kaki yang pegal-pegal karena berpindah dari satu toko ke toko lain.
Di Wangfujing ada beberapa toko buku besar yang juga menjual buku-buku berbahasa asing. Selisih harga buku-buku impor itu lumayan juga dengan harga di Indonesia. Penyuka seni juga bisa menemukan banyak buku-buku seni keluaran Cina yang juga tidak bisa dikatakan mahal. Sambil membayar di kasir, saya tak habis pikir mengapa buku-buku di sini bisa murah.
(Oya, untuk catatan, di Cina biasanya toko-toko tidak memberikan kantong plastik secara otomatis bila Anda berbelanja. Anda harus membayar kantong plastik jika memerlukannya. Lebih baik memang bawa saja sendiri tas belanjaan – lebih murah, dan lebih bersahabat dengan alam.)
Toko-toko dan pusat perbelanjaan di Wangfujing umumnya menawarkan barang bermerk, namun kios-kios di tepi jalan juga menjual cenderamata yang sama dengan yang bisa Anda temukan di Pearl Market ataupun Silk Market. Dan di malam hari, sejumlah gang yang bercabang dari Wangfujing berubah menjadi pasar kaget, yang antara lain menjual makanan-makanan unik yang tak hanya menantang lidah namun juga keberanian. Makan sate kalajengking? Buat saya sih tidak terlalu mengagetkan. Tapi sewaktu melihat kalajengking-kalajengking yang disate itu masih bergerak-gerak… Emmm, nggak deh, saya cari makanan yang biasa saja. Lebih baik saya nikmati saja seorang penyanyi opera Cina yang dengan dandanan lengkap bernyanyi di sebuah balkon.
Kebun Binatang Beijing
Bila naik metro, turunlah di stasiun Beijing Zoo. Ikuti petunjuk menuju pintu keluar yang sesisi dengan gerbang utama Kebun Binatang. Belilah tiket di loket, dan ingat, tidak perlu mengomel kalau ada yang menyerobot antrian Anda.
Tiket terusan termasuk ke bagian panda berharga 20 CNY. Kalau Anda ingin naik sesuatu yang disebut sebagai ‘pleasure boat’ sekalian, harga total tiket adalah 40 CNY. Sayangnya saya tidak ada waktu untuk mencek apa itu sebenarnya si ‘perahu kenikmatan’. Kalau yang dimaksud adalah motorboat yang meliuk-liuk kencang di sebuah kanal sempit… oke, mungkin itu definisi ‘nikmat’ bagi sebagian orang.
Daya tarik utama kebun binatang ini memang barangkali panda, baik yang tergolong giant ataupun lesser. Memang yang namanya panda, tidur-tiduran atau makan rebung saja terlihat lucu. Kalau Anda gemar pernak-pernik panda, hati-hati dompet Anda jebol di toko suvenir yang berbau panda, karena selain harganya (yang tidak bisa ditawar) cukup murah, kualitas barangnya juga lebih bagus daripada yang dijual di pasar atau jalanan. Dan yang lebih gawat… toko suvenir kebun binatang menerima kartu kredit, tidak seperti kebanyakan toko pada umumnya. Hm hm…
Di dalam kompleks kebun binatang juga terdapat Beijing Aquarium, yang harga tiket masuknya terpisah dari harga masuk kebun binatang. Selain itu, saat kami berkunjung, juga masih banyak bagian kebun binatang yang sedang diperbaiki atau ditambah. Hmm, bagaimana kalau nanti sudah jadi semua, ya? Tentu tambah seru. Saat ini, dengan taman-tamannya yang teduh, Kebun Binatang Beijing menjadi salah satu tempat bersantai ataupun bertamasya yang menyejukkan.
Satu hal lagi yang saya sukai dari Kebun Binatang Beijing: sejumlah instalasi seni yang dapat ditemukan di beberapa sudut.
Tiantan (Kuil Langit)
Dengan metro, Anda bisa turun di Tiantandongmen dan masuk melalui Gerbang Timur. Namun, berhubung tempat kami menginap waktu itu terletak di sebelah barat Tiantan, kami masuk dari Gerbang Barat, dengan membayar tiket terusan sebesar 35 CNY. Seperti juga objek-objek wisata bersejarah lain di Beijing dan sekitarnya… siap-siaplah ‘berolahraga’. Jarak satu gerbang ke gerbang lain kurang-lebih 2 km. Jangan lupa membawa minum yang cukup!
Kira-kira di tengah-tengah antara kedua gerbang, ada jalan membentang dari utara ke selatan, menghubungkan Kuil Langit dan Aula Qinian. Jalur paling tengah di jalan penghubung itu agak lebih tinggi dari jalur-jalur lain di kanan-kirinya, karena dikhususkan untuk kaisar yang dalam upacara-upacara keagamaan harus berpindah di antara kedua bangunan penting tersebut. Ada pula Tembok Gema dan Altar Bukit Melingkar, di mana Anda harus mengantri untuk bisa berfoto sambil memijak lingkaran batu yang dahulu dipijak para kaisar saat upacara.
Taman dalam kompleks Kuil Langit akan disarati bunga berwarna-warni saat musim semi dan musim panas. Cantik sekali. Dan bila beruntung, Anda bisa menyaksikan gratis pertunjukan bela diri yang digelar di pelataran-pelataran kompleks.
Tembok Besar
Dari Beijing, dua bagian Tembok Besar yang bisa Anda datangi adalah yang terletak di Badaling atau di Mutianyu. Karena menurut sebuah situs Tembok Besar Mutianyu ‘less touristy’, kami pun mengarah ke sana. Kalau mau ikut paket tur Tembok Besar, harganya bisa mencapai 400-500 CNY per orang atau malah lebih. Dalam paket tur, kunjungan ke Tembok Besar biasanya digabung dengan satu tempat pariwisata lain, entah itu Kota Terlarang, Istana Musim Panas, atau semacamnya. Berikut ini adalah pilihan perjalanan yang kami ambil.
Kami naik metro ke halte Dongzhimen, lalu menuju terminal bis dan naik bis nomor 916 Ekspress (12 CNY sekali jalan, tiket dibeli dari petugas yang berjaga di ujung depan antrian) ke Hoairou. Di Hoairou, bisa naik bis 936 yang hanya ada sejam sekali, atau tawar-menawar dengan supir-supir minibis yang akan mengantarkan dan menunggui kita sampai puas menjelajahi Tembok Besar Mutianyu, lantas membawa kita kembali ke terminal bis. Kami berhasil memperoleh harga 20 CNY per orang, bolak-balik. Dari terminal bis sampai ke Tembok Besar Mutianyu makan waktu kira-kira setengah jam.
Setibanya di Mutianyu kami tercengang: Wah, ramainya. Ini yang disebut less touristy? Bagaimana dengan yang di Badaling? Kios-kios cenderamata riuh meneriakkan harga dalam dollar. Namun yang memikat hati saya adalah para pembuat stempel nama Cina. Tidak masalah bila Anda tidak punya nama Cina—sang pembuat stempel akan mencarikan karakter-karakter hanzi yang sesuai. Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, usai kerjanya menggurat batang stempel dengan karakter-karakter tersebut.
Harga tiket masuk dan kereta gantung bolak-balik adalah 110 CNY. Sebelum merasakan enaknya bersantai dalam kereta gantung, terlebih dahulu kami harus mendaki bukit curam menuju stasiun kereta gantung. Hufff! Tak heran juga kalau salah satu cenderamata yang banyak dijual di sekitar Tembok Besar adalah kaus bertuliskan kalimat penuh kebanggaan, ‘I’ve Climbed the Great Wall’ – karena memang luar biasa upaya yang harus dikerahkan untuk mencapai tembok tersebut! Saya juga kagum pada opa-opa dan oma-oma yang ternyata masih kuat naik sampai ke atas.
Namun memang, setelah mencapai bagian atas Tembok Besar, rasanya terlupakan segala susah-payah yang tadi harus disampaikan itu. Sejauh mata memandang, terlihat keagungan alam dan juga kedahsyatan jerih manusia. Bayangkan, tanpa mesin-mesin modern, nenek-moyang bangsa Cina telah membangun tembok sepanjang ribuan kilometer bahkan di tempat-tempat yang sulit tercapai seperti ini!
Total biaya yang kami habiskan untuk menuju Tembok Besar Mutianyu dari Dongzhimen adalah (2 x 12) + 20 + 110 CNY = 154 CNY.
Stadion Olimpiade
Saran saya, datangilah stadion olimpiade Beijing (terkenal sebagai Bird’s Nest, Sarang Burung, karena bentuknya yang unik) dan stadion akuatik Beijing (Water Cube) yang terletak berseberangan saat senja atau malam hari, agar dapat menyaksikan keindahan kedua bangunan megah itu dipertegas oleh permainan lampu. Dengan metro, turunlah di halte Olympic Sports Center atau Olympic Green.
Ini baru sebagian objek wisata yang bisa kita kunjungi di Beijing. Sekali lagi, jangan lupa mencek stasiun metro mana yang paling dekat dengan tempat yang hendak Anda sambangi. Dengan modal 2 CNY sekali naik metro, Beijing sungguh bersahabat bagi pengunjung yang hendak berwisata hemat!
Posted by Tante Guru
Pengantar: Beijing
24 Apr 2011 2 Comments
in cina Tags: angkutan umum, beijing, cina, toilet
Beijing sedang diterpa angin kencang yang datang dari Mongolia. Terkadang tiupan angin begitu laju, nyaris menyeret saya serta entah ke mana ia pergi. Tapi teman-teman berkata: justru sekarang ini musimnya enak untuk berkunjung ke Beijing. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas. Yang penting: kepala tetap dingin.
“Jangan harapkan orang sini minta maaf kalau mereka menabrak kita,” kata seorang teman yang telah 11 tahun bermukim di Beijing. “Bukannya mereka tidak sopan. Karena dengan orang sebanyak ini, bagi mereka bertabrakan itu hal yang tidak bisa dihindarkan, tidak perlu dibesar-besarkan.”
Saya mengingat-ingat nasihatnya itu, dan selama beberapa hari di Beijing, saya juga berusaha menjadi orang yang lebih cuek dari biasanya: diam saja ketika ditabrak, meski kalau saya yang menabrak, saya otomatis berkata “Sorry.”
Tak perlu pula emosi bila pelayan seolah melemparkan sumpit, tisu, dan piring ke meja Anda. Meskipun mungkin rasanya agak risih bagi kita, memang begini gaya mereka, bukannya mereka sedang berlaku tidak sopan.
Teman saya itu juga berkata untunglah saya datang ke Beijing sekarang, setelah Olimpiade. “Dulu sewaktu gue datang pertama ke sini, meski pakai you-can-see, cewek-ceweknya tidak cukur bulu ketiak,” Ia tertawa geli mengenang. “Namun sekarang mereka modis-modis sekali.”
Saya memandang berkeliling dan mengiyakan. Yang saya tak habis pikir, beberapa gadis tampak mengenakan stiletto – padahal mereka harus berjalan kaki jauh bila menaiki metro, entah itu menuju bangunan tujuan mereka atau berpindah jalur, dan seringkali harus mendaki tangga yang cukup tinggi. Wow. Apa mereka tidak merasa kerepotan? Namun jelas keberadaan 15 jalur metro telah sangat membantu pergerakan mereka – dan juga para penghuni Beijing yang berbelas-belas juta. Seandainya tidak ada jalur-jalur kereta bawah tanah ini, entah bagaimana kacaunya ketika mereka semua harus berangkat sekolah atau bekerja dan pulang pada waktu nyaris bersamaan.
Metro, bis, atau taksi?
Bagi pengunjung seperti saya, keberadaan kereta bawah tanah juga amat membantu. Bepergian ke berbagai tempat yang jauh dari tempat saya menginap, dan yang tentunya tak pernah saya datangi sebelumnya, menjadi mudah. Cukup cek jalur kereta (misalnya di situs ini), mana yang paling dekat dengan tujuan kita, rencanakan perpindahan jalur yang efektif kalau perlu, dan, voila, tidak perlu takut tersesat. Papan-papan petunjuk arah yang dilengkapi tulisan Latin siap membantu kita. Pengumuman dan petunjuk di kereta juga dilengkapi transliterasi.
Berkat subsidi, harga tiket kereta bawah tanah di Beijing menjadi amat murah. Dengan 2 CNY (yuan), selama kita tidak keluar dari stasiun, kita bebas bepergian ke stasiun mana saja. Kalau di Jakarta, miriplah dengan sistem karcis Transjakarta: harganya flat, tidak seperti subway Singapura atau Hongkong yang menghitung berdasarkan jarak.
Anda bisa membeli tiket langsung dari loket, ataupun melalui mesin yang menerima uang logam pecahan 1 CNY dan uang kertas mulai dari 5 CNY. Bila tidak mengerti bahasa Cina, ubah saja bahasa yang terpampang di mesin menjadi bahasa Inggris. Sebelum memasuki peron, bila Anda membawa tas atau kantong belanja, segala bawaan Anda itu harus dilewatkan di dalam mesin sinar-X terlebih dahulu untuk pemeriksaan. Ya, soal ini memang pemerintah Beijing sangat ketat dan berhati-hati.
Sorongkan tiket Anda ke mesin pembaca di gerbang masuk, dan simpan tiket tersebut, karena harus Anda masukkan ke mesin pembuka gerbang di tempat tujuan akhir Anda nanti.
Bagaimana dengan bis umum? Harga karcis bis dalam kota juga flat, 1 CNY. Jadi bila hendak ke mana-mana, siapkanlah uang receh yang siap dimasukkan ke dalam kotak di depan pintu masuk bis. Sayangnya, meskipun di bis biasanya ada petunjuk nama-nama halte yang dilengkapi dalam transliterasi Latin, di halte sendiri petunjuk rute bis hanya menyertakan transliterasi untuk tempat awal dan tujuan akhir bis. Sebaiknya bila Anda memang memutuskan untuk naik bis ke tempat tertentu, ceklah di situs internet (atau tanyakan kepada orang yang mengerti) untuk mengetahui nomor bis dan di halte mana saja bis itu bisa Anda peroleh. Ada baiknya juga Anda mencatat atau menandai peta nama tempat tujuan Anda dalam tulisan Cina, agar mudah ditunjukkan kepada orang ketika menanyakan jalan.
Taksi di Beijing juga tidak terlalu mahal, meskipun biaya flagfall (buka pintu)-nya cukup besar, 10 CNY. Namun bila Anda memang harus menggunakan taksi, dan apalagi bila perginya tidak sendirian sehingga tarif taksi bisa dibagi bersama, kantong Anda tak akan terlalu diberati. Oya, jangan marah-marah kalau supir taksi menambahkan 2 CNY ke tarif akhir Anda, karena ini memang peraturan di sana. Tambahan ini bisa berubah-ubah setiap waktu. Hanya beberapa hari sebelum saya tiba di Beijing, besarnya hanya 1 CNY.
Toilet umum
Ah, ya. Masalah ini juga harus saya bahas, karena banyak juga yang penasaran soal kabar-kabar yang beredar mengenai toilet umum di Beijing. Apa benar sedemikian parahnya? Kalau soal ini, lagi-lagi teman saya berkata, “Untung lu datangnya setelah Olimpiade.” Ya, karena dalam rangka persiapan besar-besaran menyambut Olimpiade, pemerintah Cina merombak banyak fasilitas umum di Beijing demi kenyamanan para pengunjung. Toilet-toilet umum berubah menjadi toilet kering, baik yang duduk ataupun yang jongkok, dengan tisu, wastafel, dan sabun tersedia.
Fasilitas boleh berganti—kebiasaan yang susah diubah. Siap-siap saja ‘mematirasakan’ indra bila Anda memasuki toilet umum di Beijing. Rata-rata memang bersih, namun beberapa kali juga saya dapat ‘jackpot’, mendapati WC bekas buang air besar yang tidak disiram. Di berbagai tempat (bahkan di dalam pesawat terbang!) pemerintah atau pengelola bangunan juga harus memasang peringatan yang kira-kira berbunyi ‘Demi kenyamanan, harap kunci pintu toilet Anda’. Dan, ya, bahkan di pesawat terbang, ada saja yang menggunakan toilet tanpa mengunci pintu, membuat pramugari dan orang yang mengantri kebingungan. Cerita heboh datang dari seorang rekan: ia mendapati 2 orang perempuan duduk di toilet yang berhadap-hadapan, dengan pintu terbuka, sambil mengobrol!
Jadi, yah, seperti juga di mana pun, tengok-tengok saja dulu toilet umumnya sebelum masuk: terlihat meyakinkan atau tidak? Kalau rasanya tidak, ya, masih banyak kok toilet umum di Beijing yang bisa dimanfaatkan, misalnya di pusat-pusat perbelanjaan menengah ke atas yang tentunya lebih terjamin. Gratis ini, hehehe.
Kebiasaan lain: meludah
Ini kebiasaan lain penduduk Beijing yang cukup mengganggu untuk orang yang tidak terbiasa. Mereka gemar meludah di mana pun, termasuk di dalam ruangan: dan sebelum diludahkan, mereka ‘mengocok’ dahulu dahak itu dalam tenggorokan sehingga mengeluarkan bunyi keras. Pokoknya jangan menyender ke dinding atau duduk di lantai, deh. Bercak-bercaknya saja sudah mencurigakan.
Eh, tapi jangan karena kisah-kisah kami ini, Anda jadi malas berkunjung ke Beijing, karena kota ini sebenarnya menawarkan banyak hal yang mengesankan. Ini sekadar agar Anda bersiap-siap dan tidak malah marah-marah mendapati penduduk Beijing melakukan banyak hal secara berbeda dengan kita. Di bagian lain dari seri laporan Lompat-lompat ke Beijing, kami akan menampilkan cara mengunjungi sejumlah tempat terkenal di Beijing tanpa mengambil paket tur dari biro perjalanan, dan juga melihat sisi kehidupan Cina Muslim di Beijing.
Posted by Tante Guru
Mengurus Visa Cina
11 Apr 2011 Leave a Comment
Halo teman-teman melompat, apa kabar? Maaf kalau kami agak jarang memperbarui isi blog kami ini akhir-akhir ini. Masing-masing anggota sibuk sekali, selain pekerjaan, juga sibuk mempersiapkan sejumlah lompatan ke beberapa negara di bulan April sampai Juli. Ke mana saja? Nantikan kabar dari kami ya. Tapi barangkali post berikut ini memberikan petunjuk untuk kalian.
Mengurus visa Cina tergolong cukup mudah dan tidak ribet. Bila tujuan kita hanya berwisata, cukup menyerahkan formulir aplikasi yang telah diisi lengkap, selembar pasfoto terbaru dengan latar belakang terang, dan paspor kita. Bahkan tidak perlu bukti pembelian tiket pesawat dan hotel terlebih dahulu. Bila Anda ke sana untuk training, gunakan visa kunjungan bisnis. Untuk informasi selengkapnya tentang jenis visa yang harus atau bisa Anda ambil, silakan lihat di sini.
Kedutaan Besar Cina juga menyediakan pelayanan beberapa jenis visa, tergantung dari apakah kita ingin masuk sekali saja, dua kali, atau berkali-kali, dan apakah kita membutuhkan visa jadi hari ini, esok hari, atau tidak terburu-buru sehingga tidak mengapa visa baru jadi beberapa hari kemudian. Untuk daftar biaya pengurusan visa sesuai jenis yang kita kehendaki, silakan cek di sini. Pembayaran dilakukan sewaktu mengambil visa yang telah selesai.
Oya, yang perlu jadi perhatian:
1. Kita tidak mengurus visa di Kedutaan Besar Cina yang terletak di Mega Kuningan, melainkan di gedung The East yang terletak tidak jauh dari kedubes tersebut. Visa Application Center terletak di lantai dua mezanin.
2. Harga yang tertera di situs yang tautannya saya berikan di atas adalah harga dari kedubes. Namun karena pengurusan visa diserahkan kepada Visa Application Center yang terletak di The East itu, ada biaya tambahan 240 ribu rupiah. Jadi kalau Anda berniat mengambil visa wisata single-entry, total yang harus dibayar (menurut harga saat ini) adalah (300 + 240) = 540 ribu rupiah.
Nah, semoga informasi dari kami ini membantu Anda yang berniat mengajukan aplikasi visa ke Cina. Sekian dulu, dan tunggu kabar terbaru dari kami ya!



































Komentar pelompat