Enoshima (1) Mei 2014

This post is about Japan

Sebetulnya, setelah bertandang ke Kawaguchiko di bulan Desember dan sebelum mendatangi Enoshima, saya sempat mengunjungi sejumlah tempat lain di Jepang. Tapi mereka saya lompati dulu, deh. Rasanya saya lebih ingin membahas Enoshima terlebih dahulu.

Enoshima adalah nama sebuah pulau di lepas pantai prefektur Kanagawa. Selain Kamakura, Enoshima merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi dalam day trip dari Tokyo. Dan meskipun pulau ini kecil saja, jangan dianggap enteng, karena banyak sekali daya tarik yang disimpannya, baik yang bersifat budaya ataupun alami. Setengah hari saja tidak cukup untuk menjelajahi semua hal yang ditawarkan pulau ini. Hal ini saya buktikan sendiri, kok… Sampai sekarang saya masih ingin balik lagi ke Enoshima, karena masih ada beberapa sudutnya yang terpaksa saya lewatkan akibat terbatasnya waktu saya di sana hari itu.

Enoshima, dilihat dari jembatan penghubung dengan daratan utama.

Enoshima, dilihat dari jembatan penghubung dengan daratan utama.

Ada beberapa pilihan rute kereta untuk menuju Enoshima.

1.) Menggunakan kereta-kereta JR (milik pemerintah), yaitu Shonan-Shinjuku Line dari Shinjuku, atau Tokaido Line dari stasiun utama Tokyo, sampai ke Ofuna. Dari Ofuna, berpindahlah ke Shonan Monorail – Anda harus beli tiket lagi, tidak bisa menggunakan kartu transportasi.  Turunlah di stasiun Shonan-Enoshima.

2.) Atau, kalau Anda hendak menggabungkan kunjungan ke Enoshima dengan ke Kamakura dalam satu hari (banyak wisatawan yang melakukan ini), dari Kamakura tumpangilah kereta klasik Enoden sampai ke stasiun Enoshima.

3.) Perusahaan kereta api swasta, Odakyu, juga menyediakan layanan kereta langsung menuju Enoshima (tepatnya, berujung di stasiun Katase-Enoshima). Keretanya bisa yang biasa, ataupun Romance Car yang lebih mahal namun lebih nyaman dan gaya. Pilihan lainnya adalah berganti kereta ke jalur Enoden di Fujisawa.

Tampak depan Stasiun Katase-Enoshima.

Tampak depan Stasiun Katase-Enoshima.

Saya mengambil pilihan pertama, karena sedikit norak ingin merasakan naik kereta gantung. Sebelumnya sudah pernah sih, antara lain di Tama, tapi saya ingin mencoba yang ini juga. Apalagi sebelumnya saya pernah mencoba naik Enoden, sewaktu berkunjung ke Kamakura. (Nantinya, saya pulang dengan menumpangi kereta Odakyu.)

Meskipun Enoshima merupakan sebuah pulau (kelihatan dari namanya – shima berarti pulau, jadi sebenarnya redundan bila menyebutnya ‘Pulau Enoshima’), kita bisa berjalan kaki atau naik kendaraan (mobil, sepeda sewaan) ke pulau tersebut, melewati jembatan. Berjalan kaki bukan masalah karena jalur pedestrian dan jalanan umum yang nyaman. Bila butuh peta gratis atau info, singgahilah kantor informasi pariwisata yang terletak tidak jauh dari jembatan menuju Enoshima. Di sepanjang jalan dari stasiun kereta api ke jembatan penghubung pun ada sejumlah toko dan tempat makan yang seolah melambai-lambai mengajak masuk. Banyak di antaranya yang menawarkan hidangan berbasis shirasu, ikan kecil-kecil yang merupakan makanan khas Enoshima. Tapi…. nanti dulu ah! Sampai ke Enoshima saja belum, masa kantong jebol duluan, sih!

enoshima-04

Menara yang tampak mencuat di tengah pulau itu adalah Sea Candle.

Di kanan-kiri jembatan penghubung daratan dengan Enoshima, juga ada sejumlah pantai berpasir yang boleh juga disinggahi buat main-main sebentar kalau ada waktu. Akan tetapi… tujuan utama! Tujuan utama! Enoshima!

Ah, ya, sebagai catatan, pastikan Anda mengunjungi Enoshima dalam kondisi tubuh yang bugar dan juga mengenakan pakaian serta sepatu yang enak untuk berjalan jauh dan… mendaki. Lho, mendaki? Kita ke gunung apa ke pulau, sih? Ya, ke pulau, namun Enoshima adalah pulau kecil yang menjulang ke atas. Tidak begitu kelihatan di foto di atas, ya? Tapi percayalah. Untuk menjelajahi pulau tersebut, kita harus naik-turun tangga, yang kerap kali curam sekali. Ada beberapa kabar baik, sih.

Satu. Bila tujuan utama Anda adalah Gua-gua Iwaya yang terletak di sisi sebalik pulau dari sisi yang tampak di foto atas, ada layanan perahu langsung dari jembatan. Biayanya sekitar 400 yen sekali jalan. Gua-gua tersebut ditutup biasanya sebelum senja, jadi mungkin ada bagusnya mengunjungi Iwaya terlebih dahulu, lalu setelahnya menelusuri jalanan kembali ke sisi pulau yang menghadap daratan utama. Kabar kurang bagusnya: itu berarti, dari sisi pulau tersebut, Anda harus mendaki sejumlah tangga yang cukup curam. Pilihan lainnya: menumpang lagi perahu ke sisi ‘depan’ pulau.

Jalanan di Enoshima kecil-kecil, tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, diapit rumah, restoran, toko. Sangat nyaman untuk berjalan-jalan!

Jalanan di Enoshima kecil-kecil, tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, diapit rumah, restoran, toko. Sangat nyaman untuk berjalan-jalan!

Dua. Kalau Anda memutuskan untuk memulai penjelajahan dari sisi ‘depan’ ke ‘sisi belakang’ pulau, ada layanan eskalator (‘Enoshima Escar‘), tapi hanya ke atas. Baliknya ya harus menuruni tangga. Eskalator terputus-putus menjadi beberapa bagian, mengikuti kontur pulau. Anda bisa naik satu eskalator saja dan membayar hanya untuk eskalator itu, tapi ya lebih murah dan praktis membeli tiket terusan seharga 1000 yen, yang tidak saja memungkinkan Anda menaiki semua eskalator, melainkan juga memasuki Samuel Cocking Garden dan Sea Candle. Sebenarnya ada juga paket gabungan dengan tiket masuk ke Enoshima Aquarium, tapi saya merasa hari itu saya tidak akan punya cukup waktu untuk mengunjungi akuarium tersebut.

Salah satu eskalator bagian dari rangkaian Enoshima Escar.

Salah satu eskalator bagian dari rangkaian Enoshima Escar.

Sejak lama Enoshima menjadi tempat persinggahan spiritual. Tidak heran, di pulau yang tidak seberapa besar itu, terdapat banyak kuil, altar, dan tempat berdoa (termasuk tempat menggantungkan gembok cinta dan membunyikan bel doa demi kelanggengan cinta). Dengan menumpangi eskalator, kita bisa dengan mudah mengunjungi tiga kuil di antaranya, yang terletak pada ketinggian berbeda-beda di Enoshima: Hetsunomiya JinjaNakatsunomiya Jinja, dan Okutsunomiya Jinja. Kata jinja menandakan bahwa kuil-kuil ini adalah milik penganut Shinto. Di kuil yang pertama (Hetsunomiya) ada patung yang cukup langka, yang menampilkan dewi Benzaiten dalam kondisi tidak berbusana, sedang memainkan alat musik biwa. Sayangnya saya tidak sempat menengok patung tersebut hari itu; saya terlalu terfokus untuk mendatangi Samuel Cocking Garden.

enoshima-07

Di samping toori (gerbang), terdapat model biwa dari papan.

enoshima-09

enoshima-12

Naga adalah hewan pelindung pulau ini. Tidak heran, patung ataupun motif naga bisa dijumpai di sana-sini.

enoshima-13

enoshima-15

Orang-orang berjalan melewati chinowa ini untuk melenyapkan hal-hal buruk dalam hidup mereka.

Orang-orang berjalan melewati chinowa ini untuk melenyapkan hal-hal buruk dalam hidup mereka.

enoshima-26

Yang ini adalah Enoshima-Dashi atau Saifuku-ji, kuil milik sekte Buddha Sengon. Sosok merah itu adalah Fudou Myou-ou, dikenal dalam bahasa Sansekerta sebagai Acala.

Oke… sekian dulu ya cerita tentang Enoshima. Lain waktu, saya akan beberkan lebih banyak mengenai Samuel Cocking Garden dan Sea Candle yang menawan.

Kawaguchiko (2) – Desember 2013/Maret 2014 – Music Forest

This post is about Japan

Akhirnya saya tergugah untuk menulis lagi di blog ini, menyambung cerita yang sudah lama ditinggalkan tanpa berkelanjutan.

Saya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda ketika dulu  saya mendatangi Jepang sebagai wisatawan dan sekarang setelah saya berdiam di sini. Dulu, rasanya segala sesuatu serba baru, serba menarik. Sewaktu pulang ke tanah air, ada perasaan menggebu-gebu untuk menceritakan berbagai hal yang saya alami itu. Namun, sebagai orang yang kini tinggal di Jepang, hal-hal yang tadinya terasa baru dan sangat menarik itu menjadi keseharian, sehingga dorongan bercerita tidak sekuat dulu. Tetapi saya telah dapati bahwa menuangkan kenangan dalam bentuk tertulis kerap kali menyelamatkan detail-detail dari keterlupaan. Kadang-kadang saya membaca tulisan-tulisan lama saya dan berpikir, “Wah, saya tidak ingat lagi soal ini. Untung dulu ditulis!”

music-forest01

Jadi sekarang saya  coba untuk kembali menulis.

Saya akan sambung cerita saya mengenai Kawaguchiko, kota di kaki Gunung Fuji yang sebelumnya pernah saya ulas secara garis besar. Kali ini saya ingin berfokus kepada salah satu tempat menarik yang saya kunjungi di kota tersebut: museum Music Forest. Namun sebenarnya dalam bahasa Jepang namanya adalah オルゴールの森, Orugooru no mori, alias Hutan Orgel. Julukan lainnya: Chiisana Yooroppa, Little Europe, karena bangunan-bangunan dan bentang alamnya yang dibuat menyerupai Eropa.

Saya dua kali ke museum ini, sekali pada Desember 2013, lalu pada Maret 2014. Bila pada Desember 2013 saya pergi ke Kawaguchiko menggunakan bis, pada Maret 2014 saya memutuskan menggunakan kereta api. Memang memakan waktu agak lebih lama, namun lebih banyak pemandangan menarik yang bisa dilihat melalui jendela kereta api daripada jendela bis.

Di taman museum, terdapat instrumen-instrumen musik yang bebas kita coba-coba.

Di taman museum, terdapat instrumen-instrumen musik yang bebas kita coba-coba.

Rutenya adalah seperti ini:

1. Naiki kereta Chuo Line (bisa dari stasiun Tokyo atau Shinjuku, dua stasiun besar yang dilewati jalur ini) menuju Otsuki. Tidak semua kereta Chuo Line langsung menuju Otsuki, tapi tidak usah khawatir. Bila Anda diturunkan di stasiun terakhir sebelum Otsuki, misalnya Tachikawa atau Takao, cukup cek jadwal keberangkatan kereta dari stasiun itu dan berpindahlah ke kereta yang melanjutkan perjalanan sampai Otsuki.

Hati-hati, sebagian kereta yang melintasi rel Chuo Line sebenarnya adalah kereta Ome Line yang akan membawa Anda ke Ome, beda arah dari Otsuki. Bila Anda terlanjur menaiki kereta Ome Line, turunlah di Tachikawa, tempat kereta tersebut berganti rel, lalu bergantilah ke kereta yang menuju Takao/Otsuki.

2. Dari Otsuki, naiklah Fujikyu Railway menuju stasiun Kawaguchiko. Kalau Anda punya Kanto Area Pass, tidak perlu lagi membeli tiket. Namun kalau Anda hanya memegang Japan Rail Pass, JR East Pass, atau kartu-kartu transportasi semacam Pasmo, Suica, dan lain sebagainya, Anda harus membeli tiket terpisah untuk Fujikyu Railway. Dengan membayar 2.250 yen, Anda akan memperoleh tiket yang berlaku selama dua hari dan memungkinkan Anda bolak-balik turun-naik kereta Fujikyu.

Di museum ini, juga ada restoran dan kafe. Nikmat sekali duduk-duduk ditemani secangkir kopi hangat sambil menikmati pemandangan Music Forest dan sekitarnya.

Di museum ini, juga ada restoran dan kafe. Nikmat sekali duduk-duduk ditemani secangkir kopi hangat sambil menikmati pemandangan Music Forest dan sekitarnya.

Museum ini juga merupakan salah satu tempat terbaik untuk mengamati cantiknya Gunung Fuji.

Museum ini juga merupakan salah satu tempat terbaik untuk mengamati cantiknya Gunung Fuji.

Dari stasiun kereta api Kawaguchiko, Anda bisa menaiki retro bus dengan harga tiket sekali jalan 320 yen (kalau belum berubah) sampai ke dekat Music Forest. (Peta rutenya bisa dilihat di sini.) Perhatikan jadwal bis ini ya, karena rute tersebut tidak dioperasikan sampai malam. Kalau ketinggalan bis terakhir, bisa-bisa harus berjalan kaki sampai ke penginapan. ….sebenarnya, itulah yang pertama kali saya dan teman lakukan sewaktu berkunjung ke museum tersebut pada Desember tahun lalu! Kali kedua saya ke museum tersebut, kami menyewa sepeda dari guest house sehingga perjalanan pun menjadi lebih cepat dan tidak tergantung kepada jadwal bis. (Lagipula, parkir sepeda gratis!)

Meskipun nama resminya menyuratkan bahwa museum ini memajang orgel dan kotak musik, sebenarnya lebih tepat bila museum ini disebut juga sebagai museum otomaton. Museum ini menampung sejumlah otomaton – yang untuk mudahnya bisa kita sebut sebagai ‘robot’ zaman dahulu. Otomaton-otomaton itu dibuat menyerupai makhluk hidup – paling umum berbentuk manusia, meskipun juga ada monyet, burung, dan lain-lain – yang bisa melakukan sejumlah gerakan terprogram. Beberapa di antaranya sangat menyerupai manusia hidup, namun sangat jelas ketidak-hidupannya, membuat mereka justru terlihat agak menyeramkan.

Sebagian otomaton yang dipamerkan di Music Forest. Semuanya bisa bergerak dan mengeluarkan musik atau suara. Staf akan memutarkan otomaton-otomaton ini pada waktu-waktu tertentu.

Sebagian otomaton yang dipamerkan di Music Forest. Semuanya bisa bergerak dan mengeluarkan musik atau suara. Staf akan memutarkan otomaton-otomaton ini pada waktu-waktu tertentu.

Saya bahkan merasa agak janggal saat menatap salah seorang staf yang sangat ramah menjelaskan berbagai hal kepada kami. Entahlah. Ada sesuatu yang kaku pada senyumnya. Seolah-olah senyum itu terpatri di mukanya, bukan senyum sungguhan. Tidak terlihat kerut-kerut senyuman sejati di sekitar matanya. Jangan-jangan dia juga otomaton? Suasana museum yang terasa agak misterius membuat kita gampang memikirkan hal yang tidak-tidak.

music-forest11

Dalam kompleks museum, ada sejumlah bangunan. Ada yang menyimpan orgel raksasa yang sedianya dibawa oleh Titanic – namun rencana tersebut dibatalkan, dan orgel tersebut digantikan oleh live band yang lantas tenggelam bersama kapal naas tersebut, sambil tak putus memainkan musik untuk menenangkan penumpang yang ketakutan sampai detik-detik terakhir. Tidak heran, pernak-pernik Titanic pun menjadi bagian dari memorabilia yang dipamerkan di museum ini.

Istana ini juga berisikan otomaton, lho! Bila diputar, saat musik mengalun, boneka-boneka kecil yang merupakan para penghuni istana akan menari.

Istana ini juga terhitung otomaton, lho! Bila diputar, saat musik mengalun, boneka-boneka kecil yang merupakan para penghuni istana akan menari.

Di gedung lain, disimpanlah berbagai macam orgel, kotak musik, otomaton, dan Polyphon. Pada waktu-waktu tertentu, kita bisa mendengarkan instrumen-instrumen yang masih dalam kondisi bagus itu diputarkan. Ada juga pertunjukan di aula musik utama seperti yang ada di dalam foto di bawah ini. Salah seorang penonton mungkin diajak ke panggung, berperan sebagai ‘Rose’. Seorang pelukis berperan sebagai ‘Jack’ yang menggambar wajah ‘Rose’ sementara staf menjelaskan dan memainkan orgel-orgel yang dipajang di panggung. (Sssst, bahkan piano yang tampak di foto sebenarnya bisa memainkan musik sendiri, lho!)

music-forest13

Gedung lain lagi berfungsi sebagai toko oleh-oleh, mulai dari kotak musik kecil dengan lagu-lagu popular, kotak musik besar, sampai kue-kue dan cokelat. Di gedung ini juga diadakan aktivitas-aktivitas seperti membuat kotak musik sendiri.

music-forest14

music-forest04

music-forest05

Satu gedung lagi difungsikan sebagai restoran dan kafe. (Bila variasi makanan yang ditawarkan tidak menggugah selera, di sekitar museum terdapat sejumlah restoran dan toko penganan khas Kawaguchiko.) Gedung terakhir merupakan toko parfum dan pengharum ruangan. Bila sedang musim mawar, museum ini pun menjual berbagai pernak-pernik mawar, mulai dari minuman anggur bercita rasa mawar, parfum, pengharum ruangan, sampai kue-kue. Saat kita berjalan keluar meninggalkan museum, kita akan melewati satu toko lagi yang menjadi upaya terakhir museum menggoda Anda untuk membeli oleh-oleh.

music-forest12

Pokoknya, kalau ke Kawaguchiko, jangan lupa untuk singgah di museum ini. Bukan hanya kita bisa belajar sejarah, namun juga bisa menikmati pemandangan yang indah luar biasa. Dan karena kami berkunjung ke Music Forest untuk pertama kali di tengah suasana Natal, kami pun mendapatkan bonus iluminasi yang tampak begitu cantik di malam gelap yang cepat turun saat musim dingin. Tidak ada keluhan sesal terucap, meskipun kemudian kami harus berjalan kaki beberapa kilometer menyeberangi jembatan di atas danau di tengah terpaan angin dingin untuk kembali ke penginapan.

music-forest07

music-forest08

Kawaguchiko Music Forest

Tiket: Dewasa 1300 yen, mahasiswa/pelajar SMA 1100 yen, pelajar SMP/SD 800 yen

Jam buka jam 9 pagi sampai 5.30 sore. Terakhir menerima tamu pukul 5 sore.

 

Kawaguchiko: Desember 2013 (1)

 

 

This post is about Japan

Gunung Fuji! Gunung yang satu ini memang sudah menjadi salah satu ikon Jepang. Banyak yang bilang, kalau ke Jepang belum lihat Gunung Fuji, tak lengkap rasanya. Kenapa Gunung Fuji sedemikian penting bagi masyarakat Jepang, sampai sejak dahulu kala sering dijadikan objek karya seni? Demikian pertanyaan yang diajukan seorang teman kepada dosen saya. Kami tadinya mengharapkan jawaban yang mistis atau semacamnya. Namun jawaban dosen saya sederhana saja: “Di Jepang banyak gunung, tapi biasanya menempel membentuk pegunungan. Sementara Gunung Fuji berdiri sendirian, sehingga bentuknya terlihat bagus dan jelas. Lalu dari  cerita-cerita orang Edo (Tokyo jaman dulu), kecantikan Gunung Fuji menyebar ke seluruh Jepang, membuat orang-orang juga ingin melihat Gunung Fuji.”

kawaguchiko-winter2013-05

Jawaban yang masuk akal sekali, ya? Dan memang, Gunung Fuji yang tegak sendirian memperlihatkan bentuk piramidanya itu cantik! Dari mana kita bisa mengamati keindahan gunung ini (bila niat kita bukanlah mendakinya)? Banyak. Saya pernah bahas bahwa Gunung Fuji bisa terlihat dari Hakone. Kalau kita naik shinkansen dari arah Jepang Barat (Kyoto, Osaka) atau Nagoya menuju Tokyo, kita juga bisa melihat Gunung Fuji. Kali ini saya akan bahas Kawaguchiko, sebuah kota kecil dan damai yang terletak tidak jauh dari Gunung Fuji. Bukan hanya Gunung Fuji, Danau Kawaguchi – salah satu dari apa yang disebut Lima Danau Fuji – juga menjadi daya tarik Kawaguchiko. Kota ini bisa menjadi base juga bagi Anda yang berniat mendaki Gunung Fuji.

Saya sudah dua kali mengunjungi kota ini, sekali di awal musim dingin dan sekali di awal musim semi. Pertama-tama saya akan beberkan dulu soal kunjungan saya saat musim dingin tahun lalu. Kebetulan moda transportasi yang saya gunakan dalam setiap kunjungan saya itu berbeda, sehingga pengalaman yang diperoleh juga berbeda. Dengan bis, perjalanan ke Kawaguchiko hanya memakan waktu sekitar 2 jam, jadi ini juga kesempatan bagus untuk trip singkat keluar Tokyo.

kawaguchiko-winter2013-04

Saya dan seorang teman berangkat ke Kawaguchiko menggunakan bis dari Shinjuku. Bis itu bisa dilihat jadwalnya sekaligus direservasi di sini. Pesannya tidak pakai bayar dulu, kok. Bayarnya tunai di kantor sekaligus ruang tunggu perusahaan bis yang terletak di Shinjuku. Di kantor itu ada mesin juga untuk mempermudah pembayaran. Hari itu saya sempat deg-degan karena sempat tersesat saat mencari kantor bis tersebut sementara jadwal keberangkatan bis sudah dekat sekali. (Yang namanya Shinjuku West Exit itu benar-benar membingungkan!) Untungnya, dengan membayar di mesin saya tidak perlu mengantri. Tiket pun langsung dikeluarkan oleh mesin. Tinggal tunggu bis datang, naik, dan kalau lelah atau mengantuk tinggal tidur sampai Kawaguchiko. Pemandangan di luar juga begitu-begitu saja, karena bis lewat jalan tol terus-menerus.

kawaguchiko-winter2013-01

Bis ini sebenarnya juga bisa mengantar kita ke taman bermain terkenal FujiQ Highland ataupun ke Fuji 5th Station, bagi yang ingin mendaki ke Gunung Fuji. Namun kami turun di stasiun kereta api Kawaguchiko yang juga merangkap terminal bis antarkota. Dari situ, kami berjalan kaki ke guest house pilihan kami, K’s House Mt. Fuji. Tidak jauh kok dari stasiun, hanya saja kalau baru pertama ke Kawaguchiko, jalannya memang mungkin membingungkan.

kawaguchiko-winter2013-02

Mungkin karena tidak berada di tengah kota yang tanahnya mahal, secara mencengangkan guest house ini besar-besar ruangannya. Kamar jenis dorm untuk berempat saja luas sekali! Dan yang jelas, bersih (termasuk kamar mandinya) dan kasur serta selimutnya empuk dan hangat. Saya dan teman yang sudah beberapa bulan tidur di kamar asrama yang sempit di Tokyo jadi kegirangan dan norak karenanya. Dapur dan ruang makannya juga sangat menyenangkan dan homey. Pokoknya, kami betah, deh.

Guest house ini juga menyewakan sepeda per jam. Pilihan ini sangat praktis bagi kami karena selain cukup murah, kami juga pelesir dan mampir di mana pun kami mau, tidak seperti bis yang hanya memiliki rute tertentu dan tidak membolehkan naik dan turun di sembarang tempat. Catatan lain, meskipun ada bis pariwisata yang bisa mengantar Anda berkeliling Kawaguchiko dan sekitarnya, jam operasi bis ini terbatas. Waktu itu di atas pukul 5 sore bisnya sudah tidak ada. Kami sempat berjalan kaki jauh sekali untuk kembali ke guest house karena bis tersebut sudah tidak beroperasi hari itu.

kawaguchiko-winter2013-06

Jadi, di Kawaguchiko menikmati apa?

Berjalan-jalan mengelilingi danau. Menyaksikan keindahan alam dan terpesona melihat sedemikian banyaknya bebek dan burung-burung lainnya.

kawaguchiko-winter2013-03

Terutama bebek.

kawaguchiko-winter2013-28

Suasana yang tenang, yang tidak bisa diperoleh di Tokyo. Sungguh, ketika akhirnya kembali ke Tokyo, kami berdua rasanya sepet sekali melihat sedemikian banyak orang di Shinjuku!

kawaguchiko-winter2013-07

Untuk yang suka museum, di sekitar Kawaguchiko juga banyak museum. Sayang kami hanya sempat mengunjungi beberapa di antaranya. Salah satunya adalah MUSE MUSEUM, museum yang secara permanen menampilkan boneka-boneka buatan tangan Atae Yuki. Sayang di dalam museum ini tidak boleh memotret. Namun boneka-boneka itu benar-benar cantik, meski terkadang agak menakutkan saking miripnya dengan manusia betulan.

kawaguchiko-winter2013-31

Dari panggung kayu di dekat museum tersebut, kita juga dapat menyaksikan pemandangan dahsyat Gunung Fuji. Oya, saat kami datang, meskipun sudah terhitung musim dingin, suasananya memang masih lebih mirip musim gugur. (Saya suka sekali pada warna-warna musim gugur!) Namun di puncak Fuji sudah terlihat salju yang membuatnya semakin cantik. Kalau Anda datang di musim panas dan sedang tidak ada salju, Gunung Fuji akan terlihat berbeda. Beginilah yang kami lihat waktu itu:

kawaguchiko-winter2013-30

Kalau soal oleh-oleh, di Kawaguchiko dan sekitarnya banyak ragamnya. Kami mampir ke beberapa toko untuk membeli buah tangan dan juga tentunya… mencicipi sendiri produk-produk mereka. Yang ini sangat saya sukai karena bentuknya yang langsung mengingatkan orang kepada daerah yang diwakilinya, dan juga karena… rasanya enak! Ada rasa cokelat, teh hijau, earl grey, vanila, stroberi… seingat saya.

kawaguchiko-winter2013-33

kawaguchiko-winter2013-32

Saya benar-benar kecantol dengan kota kecil ini dan berjanji kalau nanti ada teman lain ke Jepang, akan saya ajak ke kota ini juga. Indah, tenang, udaranya segar, ditambah lagi bersepeda dan banyak berjalan kaki di sini membuat sehat.

kawaguchiko-winter2013-29

Oya, sebagai catatan, Kawaguchiko tidak seperti di kota besar, di mana kita tersandung sedikit saja bakal menemukan kombini atau toko penjual peralatan sehari-hari lainnya. Di Kawaguchiko, Anda mungkin harus berjalan beberapa ratus meter atau bahkan kilometer sebelum menemukan kombini. Dan restoran atau tempat makan yang buka sampai jauh malam juga jarang. Jadi ada baiknya bersiap membawa cukup bekal untuk makan malam di penginapan, bila tidak mau bersusah-payah keluar malam-malam mencari makan. Dan juga tidak seperti di Tokyo, tidak semua restoran di Kawaguchiko memajang menu dan daftar harga di luar, jadi mungkin agak sulit mencari restoran yang pas dengan lidah dan kantong. Tapi kalau Anda pede mencoba, silakan saja!

Saya akan lanjutkan cerita tentang Kawaguchiko di post berikutnya!

Museum Fujiko F. Fujio, Kawasaki, musim dingin 2013

This post is about Japan

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Rasa-rasanya bagi banyak sekali orang Indonesia yang terlahir pada dasawarsa 1980-an sampai sekarang, tokoh inilah yang mengisi masa kecil mereka. Pintu Ajaib dan berbagai peralatan lain menjadi impian kita ketika hidup di dunia nyata terasa susah betul dan tidak praktis. Tidak heran kalau banyak yang ingin mengunjungi ‘museum Doraemon’ bila bertandang ke Jepang. Nama resmi museum ini sebenarnya adalah Fujiko F. Fujio Museum, terletak di Kawasaki, tidak seberapa jauh dari Tokyo.

Museum ini buka pukul 10.00-18.00 setiap hari kecuali Selasa. Namun saat Golden Week dan libur musim panas, biarpun Selasa, museum ini tetap buka.  Oya, museum ini juga tidak buka saat liburan akhir tahun, jadi kalau berniat ke sini, hindari hari Selasa dan liburan akhir tahun, ya.

Catatan: tiket tidak dijual di museum. Anda harus membeli tiketnya terlebih dahulu melalui kombini Lawson. Di sini ada petunjuk cara membeli tiket dengan mesin Loppi di Lawson. (Sebenarnya petunjuknya untuk membeli tiket pertunjukan, tapi lumayanlah untuk memberi Anda gambaran mengenai penggunaan mesin tersebut.)

???????????????????????????????

Stasiun terdekat dengan museum ini ada beberapa: Noborito yang merupakan perpotongan JR Nanbu Line dan Odakyu Line; Shuku-gawara yang merupakan bagian dari JR Nanbu Line; dan Mukaogaoka-Yuen yang merupakan bagian dari Odakyu Line. Tersedia bis menuju museum, tapi hanya dari Noborito. Dari kedua stasiun lainnya, Anda harus berjalan kaki.

Di stasiun Noborito pun ada patung kecil Doraemon.

Di stasiun Noborito pun ada patung kecil Doraemon.

Kalau naik sepeda juga bisa, karena di museum disediakan tempat parkir khususnya.

???????????????????????????????

Bis ke museum ini mudah dikenali karena berhiaskan karakter-karakter rekaan Fujiko F. Fujio. Ada dari Doraemon, P-man, dan lain sebagainya. Kebetulan waktu itu saya dan teman dapat bis Doraemon.

???????????????????????????????

Hayo, gambar di pelapis bantalan kursi itu menunjukkan alat Doraemon yang mana saja?

Hayo, gambar di pelapis bantalan kursi itu menunjukkan alat Doraemon yang mana saja?

Kalau mau turun, tekan tombol ini, ya!

Kalau mau turun, tekan tombol ini, ya!

Kebetulan kami mengunjungi museum ini di dekat waktu Natal, sehingga museum pun berhias pernak-pernik Natal.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Di museum ini ada ruang pameran yang memperkenalkan pembaca kepada Fujiko F. Fujio dan karya-karyanya. Banyak pula kegiatan yang memperkenalkan pengunjung kepada pembuatan animasi, juga pemutaran film animasi khusus yang hanya bisa dinikmati di museum ini. Tidak hanya menarik bagi anak-anak, orang dewasa pun bisa menikmati berbagai pajangan dan kegiatan di museum ini. Oya, sebagai catatan, beberapa bagian museum off-limit bagi foto dan video. Alias saat berada di bagian-bagian itu, simpan saja kamera Anda.

???????????????????????????????

Warna biru dindingnya pun mengingatkan kepada Doraemon, ya.

???????????????????????????????

Boleh lho, duduk di sini sambil membaca bersama Doraemon.

Ingat kisah tentang sumur ajaib dan Giant versi ganteng? Nah, Anda bisa coba membuat si ganteng Giant keluar dari sumur ini dengan sedikit menguras tenaga…

???????????????????????????????

Hmm.. siapa tuh yang tidur-tiduran di depan kafe?

???????????????????????????????

Ah, ternyata mereka!

???????????????????????????????

Ini di atap bangunan, lho! Museum dibangun mengikuti kontur alam. Perhatikan juga hutan di sekitar museum, karena Anda bisa melihat beberapa pajangan yang diletakkan di sana. Hei… tunggu… di kejauhan itu… sepertinya kenal tidak, sih?

???????????????????????????????

Penggemar Doraemon pasti ingat sekali Piisuke! Dan tuh, lihat, dari antara pepohonan hutan ada yang ‘mengintip’. Tidak jauh dari ‘danau’ Piisuke ini, juga ada Doko Demo Doa alias ‘pintu ke mana saja’ dan pipa-pipa yang ditumpuk seperti di lapangan tempat Nobita dan teman-teman biasa bermain.

???????????????????????????????

Puas bernostalgia, Anda bisa mampir dan melepaskan lembar demi lembar uang yen untuk berbagai cenderamata Doraemon dan teman-temannya di toko suvenir dekat pintu keluar.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kalau Anda tidak sempat ke Kawasaki tapi mau melihat versi sangat mini dari museum ini di Tokyo, sambangi saja TV Asahi yang terletak di sebelah Roppongi Hills. Di situ Anda bisa melihat model kamar Nobita seukuran asli, melihat beberapa pajangan, membuat stiker Doraemon, bermain mesin crane berhadiah boneka Doraemon, serta membeli suvenir Doraemon. Namun tentunya pengalaman penuhnya hanya bisa didapat di Museum Fujiko F. Fujio.

Ome, Januari 2014

This post is about Japan

Hari itu saya libur, dan tidak ada kerjaan.  Tanggalnya adalah 13 Januari 2014, hari libur nasional di Jepang karena berkenaan dengan Seijin no Hi, Coming-of-Age Day, perayaan bagi orang-orang yang dianggap telah dewasa karena telah berulang tahun ke-20.  Iseng, saya pun naik kereta Chuo Line sampai ke Ome.  Tidak ada alasan khusus, saya hanya ingin mencari tahu seperti apa kota kecil yang terletak di ujung salah satu cabang Chuo Line itu.

IMG_1079

IMG_1049

Bangunan kuning gading di sebelah kanan adalah stasiun Ome. Bentuknya yang kuno dipertahankan.

Salah satu  cabang?  Iya, karena meskipun jalur utama Chuo Line mengarah ke Takao (nanti kapan-kapan saya ceritakan juga), tetapi dalam sehari beberapa kereta Chuo Line mengarah ke Ome.  Namun, bila kita tidak mendapatkan kereta langsung ke Ome ini, kita bisa naik kereta sampai Tachikawa, lalu berganti ke Ome Line.  Perjalanannya tidak begitu lama kok dari Tokyo.

IMG_1048

IMG_1052

Kota Ome kecil saja.  Sebenarnya banyak yang ke sana karena ingin menikmati alamnya, tetapi hari itu saya tiba di sana sudah terlanjur siang sekali, sehingga saya hanya melihat-lihat kotanya saja.  Itu pun sebentar saja, karena sebagian besar toko dan restoran, juga museum, tutup.  Yah, namanya juga hari libur nasional.

IMG_1087

IMG_1080

Telepon umum yang terlihat seperti dari dunia antah-berantah.

Hal paling menyenangkan dari Ome adalah ruas-ruas jalan yang dihiasi poster-poster film dan iklan tua.  Di berbagai sudut, terkadang di tempat yang tak terduga atau sulit dilihat, terpajang berbagai poster, mulai dari Metropolis Fritz Lang sampai film-film klasik Jepang.  Ini kebahagiaan tersendiri bagi yang menyenangi film lama ataupun barang vintage.

IMG_1123

IMG_1064

IMG_1063

Ome juga menjadi salah satu tempat yang dikunjungi wisatawan dalam negeri khususnya karena kota ini merupakan tempat asal Akatsuka Fujio, mangaka Tensai Bakabon.  Jadi jangan heran, tokoh-tokoh Tensai Bakabon menyambut kita sejak baru tiba di stasiun kereta Ome yang dipertahankan wujud kunonya.  Di kota ini ada museum bagi sang mangaka, namun sayangnya saya juga belum sempat mengunjunginya.

IMG_1077

IMG_1107

Satu hal lagi yang banyak terlihat di sudut-sudut Ome adalah… karya-karya seni yang menampilkan wujud kucing!  Baik itu lukisan, patung, sampai hiasan halte bis.  Terlihat bahwa pembuatnya bukan hanya satu orang.  Seru juga, mencari-cari karya-karya seni bertema kucing ini di berbagai penjuru Ome.

IMG_1111

IMG_1112

Kalau Anda berkunjung ke Tokyo dan ingin pengalaman ke luar kota tapi tidak bisa jauh-jauh, Anda boleh coba mengunjungi Ome.  Tapi pastikan bukan hari libur nasional seperti yang saya lakukan, karena bisa dijamin Anda bakal disambut suasana sunyi-senyap di kota yang aslinya memang mungil ini.

IMG_1046

IMG_1084

Sebuah halte bis di Ome: memadukan poster film tua dan benda-benda kucing.

IMG_1122

Datanglah ke Ome, dan Anda akan disambut mereka di stasiun kereta!

Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum

This post is about Japan

Halo semuanya.  Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa mulai mengisi blog ini lagi.  Dan, seperti yang sebelumnya saya katakan, karena sekarang saya berdomisili di Jepang, maka isi blog saya mulai saat ini akan didominasi oleh tulisan mengenai Jepang.  Saya tidak hanya akan menulis mengenai tempat-tempat yang telah sangat populer di mata turis asing, melainkan juga yang masih jarang dikunjungi orang.  Contoh dari tempat yang terakhir itu adalah Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum, yang akan saya bahas sekarang.

IMG_0086

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Museum terbuka ini terletak di Koganei, di pinggiran kota Tokyo.  Ada dua stasiun yang dekat dengan museum ini, yaitu Minami Hana-Koganei di jalur Seibu-Shinjuku, dan Musashi-Koganei (North Exit) di Chuo Line.  Tidak jauh kok dari Shinjuku, paling-paling hanya setengah jam.  Yang perlu diperhatikan adalah rel yang digunakan oleh kereta Chuo Line digunakan juga oleh kereta Chuo-Sobu Line, yang jarang mampir ke Musashi-Koganei, paling-paling sampai Mitaka.  Jadi perhatikan warna kereta yang akan Anda naiki, ya.  Apakah stripnya oranye (Chuo) atau kuning (Chuo-Sobu).  Kalau ternyata Anda salah naik kereta Chuo-Sobu yang hanya sampai ke stasiun sebelum Musashi-Koganei, berpindahlah ke jalur kereta oranye.  Itu pun harus Anda pastikan, kereta jalur oranye tersebut berhenti di Musashi-Koganei atau tidak.  Kereta komuter cepat atau ekspres khusus sering kali melewatkan stasiun ini.

IMG_0060

IMG_0059

Dari stasiun kereta, Anda bisa berjalan kaki menuju Koganei Park, di mana museum arsitektur ini berada.  Banyak petunjuk jalan menuju taman yang juga terkenal karena pohon sakuranya ini kok.  Kalau ingin naik bis dari stasiun kereta juga ada.

IMG_0082

IMG_0057

Masuk Koganei Park gratis, namun untuk mengunjungi museum Anda harus membayar…. murah kok, 400 yen saja.  Malah kalau Anda mahasiswa atau sedang sekolah bahasa/kejuruan di Jepang, dengan menunjukkan kartu mahasiswa/pelajar, Anda cukup membayar 320 yen saja.

IMG_0070

Bangunan hijau di sebelah kanan adalah Maruni Shoten, toko peralatan dapur, dibangun di zaman Showa.

IMG_0080

Museum terbuka ini dimaksudkan untuk melestarikan bangunan-bangunan tua Edo (nama lama Tokyo)/Tokyo agar tidak tergerus pembangunan Tokyo yang pesat.  Alasan lain pendirian museum ini adalah karena Jepang khususnya Tokyo telah sering kehilangan aset sejarah dan budaya mereka akibat berbagai bencana seperti gempa bumi, kebakaran, dan lain sebagainya.

IMG_0118

IMG_0072

Sebagian bangunan boleh dimasuki (perhatikan, apakah Anda harus melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal atau tidak), namun sebagian lain hanya boleh dilihat-lihat dari sebelah luar saja.  Ada rumah politikus Jepang zaman dulu, ada toko tua, bar, toko House of Uemura zaman baheula, toko kecap, studio foto kuno, dan macam-macam lagi.  Semuanya dipindahkan secara berhati-hati dan teliti dari Tokyo ke museum di pinggiran ibukota Jepang tersebut.  Sebagian ditata seperti ketika toko-toko itu masih menjalankan bisnis.

IMG_0126

IMG_0074

Kita lihat lebih banyak lagi yuk foto-foto dari museum ini.

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini.  Kami kira rumah bangsawan atau apalah.  Setelah dekat... ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini. Kami kira rumah bangsawan atau apalah. Setelah dekat… ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Bagian dalam Kodakara-yu.  Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

Bagian dalam Kodakara-yu. Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

IMG_0104

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

IMG_0081

IMG_0146

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho!  Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho! Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

IMG_0163

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Oya, di museum ini juga ada ruang pamer yang tidak seberapa besar, yang memajang sejumlah artifak kuno yang ditemukan dalam penggalian-penggalian arkeologis di Jepang.  Sayangnya keterangan dalam bahasa Inggris tidak banyak, namun lumayan kok untuk dilihat-lihat.  Saya sangat merekomendasikan museum ini bagi Anda yang berkunjung ke Tokyo dan menyukai sejarah Jepang ataupun ilmu arsitektur.

Art and Science Museum, Gardens by the Bay, Asian Civilizations Museum Singapura, September 2013

This post is about Singapore

Seperti yang telah saya beritahukan di post saya sebelum ini, kini saya tinggal di Jepang, setidaknya untuk satu setengah tahun.  Namun sebelum berangkat ke Jepang, saya menyempatkan diri untuk bepergian ke Singapura ,bertemu sejumlah teman dan terutama mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sedari lama saya ingin kunjungi tapi belum sempat-sempat juga.

Agar lebih murah dan lebih banyak waktu santai bagi saya untuk berjalan-jalan di Singapura, saya memilih penerbangan yang tiba paling malam di Changi.  Setelahnya, saya tidak keluar dari bandara, namun tidak juga memilih untuk menginap di hotel bandara.  Soalnya, hotel bandara lumayan mahal!  Saya lebih memilih mencari sudut untuk tidur di Terminal 2 yang memang disiapkan di bandara Changi.  Penerangan di sudut tersebut dibiarkan temaram, dan ada sejumlah kursi panjang yang disiapkan untuk yang ingin tidur-tiduran atau bahkan tidur betulan.  Buat saya sih sebenarnya kursinya tidak terlalu nyaman untuk tidur.  Bila mau, tidur saja di lantai yang berkarpet empuk.  Tidak akan dimarahi, kok, karena memang sudut itu disediakan untuk kita-kita yang rela tidur seadanya.  Akan jadi pengalaman luar biasa, kok, tidur berhadapan dengan dinding kaca yang menghadirkan pemandangan landasan bandara.  Ditambah lagi waktu itu hujan deras sedang turun, dan ada beberapa pesawat baik yang sudah terparkir maupun baru mendarat atau hendak bertolak.  ‘Kamar tidur’ yang dramatis, hehe.

Paginya, saya mengarah ke kota, namun tidak dalam keadaan kucel dong.  Saya menuju Rainforest Lounge di Changi untuk menumpang mandi dengan membayar harga yang cukup murah dan memperoleh segala perlengkapan seperti handuk, sampo, sabun, sikat gigi, dan odol.  Segar lagi, deh, setelah semalam hanya sempat tidur beberapa jam.

DSC09555

Saya mendatangi Art and Science Museum di Marina Bay Sands terlebih dahulu, karena berdasarkan info dari teman, sedang berlangsung pameran mumi dan foto-foto National Geographic.  Ternyata ada satu lagi pameran yang sedang digelar, yaitu pameran karya-karya suami-istri Eames.  Ya sudah, sekalian saja saya beli tiket terusan untuk ketiganya.

DSC09559

DSC09616

Pameran pertama yang saya masuki adalah pameran mumi (betulan!) yang dibawa beserta berbagai artifak Mesir Kuno lainnya dari British Museum.  Sayangnya, di dalam pameran kami tidak boleh memotret, jadi saya hanya bisa cerita, ya.  Sewaktu masuk, kami diberi kacamata 3D, karena untuk setiap rombongan turis yang masuk diputarkan terlebih dahulu sebuah dokumenter 3D yang dinarasikan Patrick Stewart mengenai mumi.  Banyak hal menarik yang dipelajari dari film tersebut, misalnya bagaimana cara para pembalsem mumi mengeluarkan organ dalam mumi (prosedurnya memancing komentar ‘yiakkks’ dari sebagian hadirin), metode apa yang kini digunakan ilmuwan untuk mempelajari mumi tanpa membongkar perban atau bahkan petinya, bagaimana membaca hieroglif, dan lain-lain.  Kita pun diberi gambaran mengenai kehidupan sehari-hari pendeta di zaman Mesir Kuno.  Ada pula hal lucu yang menjelaskan mengapa ada sebuah objek aneh yang ditemukan di kepala salah satu mumi—yang tampaknya merupakan cetakan tanah liat yang tak sengaja ditinggalkan para pembalsem!

DSC09563

Sesudah film selesai, pintu menuju aula pameran terbuka, dan pengunjung pun dibebaskan mengeksplorasi  ruang-ruang tempat berbagai peninggalan Mesir Kuno ditata.  Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya berada sedemikian dekat dengan mumi sungguhan, meski tentu tak bisa disentuh karena dibatasi peti kaca.  Banyak pula patung-patung dan objek-objek pembuatan mumi yang dipamerkan, misalnya guci-guci yang fungsinya menampung organ-organ dalam mumi sementara jenazah dipersiapkan.  Semuanya dilengkapi keterangan yang singkat dan padat.  Entah mengapa, yang paling membuat saya terkesima adalah sebuah patung Dewa Seth yang justru mungkin berukuran paling kecil di pameran tersebut.  Warnanya cokelat tua, dengan detail kecil yang terlihat tajam.  Aneh saja rasanya, dewa yang terkenal menyeramkan, ternyata patungnya kecil sekali, meskipun tetap menggetarkan.

DSC09565

Di pintu keluar, pengunjung disambut toko kecil yang menjual berbagai pernak-pernik pameran mumi, British Museum, dan National Geographic.  Saya harus kuat menahan diri agar kantong tidak jebol, karena kali ini saya tidak membawa terlalu banyak uang.  Toh saya tidak kuasa juga menolak godaan membeli sampul paspor hitam-putih bercorak batu Rosetta.  Habisnya, sudah sedari SD saya tergelitik oleh batu Rosetta yang telah membantu para ahli menguak masa lalu dengan membaca berbagai macam aksara berbeda yang tertera di batu itu.

Kelar dengan pameran mumi, saya menuju pameran foto-foto istimewa National Geographic.  Bukan hanya melihat sejumlah foto National Geographic yang sangat terkenal bahkan melegenda, kita juga diberi pelajaran-pelajaran singkat mengenai dasar-dasar fotografi (melalui pajangan-pajangan yang ada).   Foto-foto yang dipamerkan juga disertai kisah di balik pengambilannya, juga kutipan para fotografernya.

DSC09572

DSC09579

DSC09580

Pameran yang terakhir, Essential Eames, berfokus pada sepasang suami-istri yang, jujur saja, asing bagi saya.  Baru belakangan saya diberi tahu teman betapa terkenal dan berpengaruhnya mereka di bidang desain, terutama desain kursi.  Yah, saat berada dalam pameran, saya memang hanya bisa meraba-raba ketenaran mereka dari keterangan-keterangan yang tersedia (dan kenyataan bahwa mereka cukup penting sampai dibuat pameran seperti ini!), namun yang jelas karya-karya mereka yang dipamerkan memang membuat saya terkesima!

DSC09583

DSC09586

DSC09591

Mulai dari rancangan rumah, rancangan kursi, pajangan pameran yang ditata suami-istri tersebut, still photos, mainan, semuanya menarik.  Di ruangan tempat kursi-kursi dipamerkan, kita bahkan bisa mencoba mencicipi seperti apa rasanya duduk di bangku hasil desain suami-istri Eames.  Saya yang tadinya masih agak sangsi mengapa tampaknya kursi-kursi mereka sangat dipuji-puji, jadi terdiam ketika menyenderkan diri di salah satu kursi malas Eames.  Nyaman sekali!  Kalau begitu tidak heran lagi deh mengapa nama mereka sungguh mencorong.

DSC09596

DSC09599

DSC09606

Puas menjelajahi ketiga pameran di Art & Science Museum, saya menuju Gardens by the Bay yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Marina Bay Sands.  Ini adalah salah satu atraksi terbaru di Singapura yang langsung melejit namanya karena menghadirkan bukan hanya suasana taman melainkan juga alam bebas di antara gedung-gedung tinggi dari beton dan baja.  Menara-menara yang dirancang menyerupai pohon dan menjulang di Gardens by the Bay entah mengapa menghadirkan suasana primitif.

DSC09625

Di beberapa sudut Gardens by the Bay, sungguh terasa suasana alam liar, tidak seperti di tengah-tengah kota besar.  Danau dan sungai yang mengaliri kebun raya ini juga dihuni oleh sejumlah spesies hewan air termasuk yang merupakan khas Singapura, seperti satu jenis terapin (semacam kura-kura).  Yang jelas, banyak capung—penanda keberadaan air bersih!  Sosok capung pun diabadikan dalam wujud beberapa patung berukuran besar di kebun raya tersebut.

DSC09650

Gardens by the Bay sungguh luas, sehingga saya tidak sempat mendatangi seluruh penjuru maupun atraksinya.  Apalagi saya sendirian, agak planga-plongo.  Lain kali kalau kembali ke sini, harus ada temannya, deh.  Namun yang sempat saya lihat dalam kunjungan solo itu juga sudah cukup membuat hati tentram, terutama ketika saya berjalan di jembatan papan terbuka (tanpa pagar di kiri-kanannya, jadi hati-hati ya!) di sepanjang tepi danau.

DSC09642

Satu lagi yang membuat saya ternganga adalah salah satu dari sekian banyak karya seni yang diletakkan di Gardens by the Bay, yaitu patung bayi raksasa putih berjudul Planet.  Desain patung ini hebat sekali, karena patung sebesar itu bisa dibuat tampak melayang di udara, hanya disangga oleh tangan kanan si bayi yang menempel ke tanah.

DSC09658

Keesokan harinya barulah saya berkunjung ke Asian Civilizations Museum yang terletak di tepian Sungai Singapura.  (Berjalan-jalan di tepi sungai ini juga enak sekali!)  Eh, ternyata sedang ada acara festival budaya Melayu, sehingga hari itu pengunjung dibebaskan dari biaya masuk museum.  Saya agak terheran-heran juga , karena sudah beberapa kali ke Singapura dan berkunjung ke museum, kok ya pas museumnya sedang gratis.  Lumayan banget, kan.

DSC09680

Sesuai namanya, museum ini menyimpan dan memamerkan berbagai artifak dan produk budaya dari berbagai peradaban di Asia, mulai dari Cina, India, Arab dan peradaban Islam, Asia Tenggara, dan lain-lain.  Hari itu, selain festival budaya Melayu dan pajangan yang biasa, juga ada pameran Lacquer Across Asia dan Desire and Devotion.  Sebetulnya rasanya perlu waktu setidaknya seharian untuk mengamati  lekat-lekat semua objek yang dipamerkan, belum lagi mengikuti aktivitas-aktivitas yang disediakan, namun tentu saja saya tidak punya waktu sebanyak itu.  Beberapa pajangan akhirnya hanya saya amati sebentar, dan lebih banyak waktu yang saya curahkan untuk benda-benda lain.

DSC09683

DSC09705

DSC09692

Saya terutama tertarik kepada artifak-artifak hasil persilangan budaya di Asia yang dipamerkan di bawah tajuk Desire and Devotion.  Ada patung malaikat Michael dari Filipina yang dibuat dengan gaya setempat, patung hasil perpaduan budaya India dan Hellenistik (Yunani), lukisan-lukisan penghias manuskrip-manuskrip Persia Kuno, dan lain-lain.  Yang membuat pameran semakin menyenangkan (dan memang seharusnya demikian!) adalah brosur berdesain menarik yang dilengkapi aktivitas bagi pengunjung.  Untuk Desire and Devotion disediakan tiga macam brosur lipat, yaitu yang bertemakan Power, Adventure, dan Love.  Ada bagian-bagian yang bisa dirobek dan ditulisi di brosur-brosur itu, untuk digantung di tempat yang sesuai di pintu keluar pameran.  Gantungan-gantungan tersebut menjadi tempat pengunjung bebas menuangkan imajinasi dalam menjawab sejumlah pertanyaan pengandaian yang berhubungan dengan isi pameran.

DSC09723

DSC09733

DSC09740

Di Asian Civilizations Museum juga ada pameran khusus objek-objek dari kawasan Indonesia , termasuk tiruan rumah Toraja yang meskipun mini, tetap bisa kita masuki untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam tongkonan.  Agak sedih sih rasanya memikirkan barangkali benda-benda ini lebih terawat di museum negara tetangga ini daripada di museum-museum atau tempat-tempat asal mereka di negeri kita sendiri.  Bukan bermaksud membuat Anda bosan dengan keluhan semacam ini, tapi sayangnya ya memang masih beginilah kenyataannya.

DSC09744

DSC09692

DSC09751

Puas sekali rasanya akhirnya bisa mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sudah sedari lama saya ingin singgahi.  Saya juga jadi tidak penasaran lagi mengapa teman saya yang berkebangsaan Singapura menyatakan bahwa inilah salah satu tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu.  Bila tulisan saya ini juga membuat Anda penasaran, jangan lupa menyempatkan mengunjungi museum ini ya kali lain Anda berada di Singapura!

Hai! Sekarang saya berada di Jepang

This post is about Japan

Sedikit kabar saja, maaf bila belum bisa menulis artikel lagi di sini (meskipun sebenarnya saya sedang mempersiapkan tulisan mengenai kunjungan terbaru saya ke Singapura).  Saya kemarin-kemarin sibuk sekali mempersiapkan kepindahan saya ke Jepang.  Ya, sekarang saya tinggal di Jepang, untuk setidaknya 1,5 tahun ke depan.  Saya harap akan bisa lebih banyak lagi cerita yang saya hadirkan di sini mengenai negara tempat tinggal baru saya ini.

Doakan saya di tempat baru ini, ya!

Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

Beberapa lantai di bawah The Star Theater, bangunan yang dikenal sebagai The Star Vista, sebagian besar difungsikan sebagai tempat makan dan minum, dengan restoran dan bar berjejer-jejer.  Ada juga panggung terbuka yang, karena waktu itu sedang dalam suasana Tahun Baru Cina, digunakan sebagai tempat mementaskan sejumlah bentuk kesenian tradisional Cina.  Tepat di belakang The Star, juga terdapat cabang Starbucks Rochester Park yang menempati sebuah bekas gedung tua.  Tempatnya sangat nyaman, enak untuk dijadikan tempat bercengkerama!  Kadang-kadang, cabang Starbucks ini sedemikian ramai, sehingga pengunjung diminta untuk tidak berlama-lama atau serakah mengambil tempat.

Starbucks di belakang The Star Vista

sg-2013-03

Nilai plus dari perjalanan menonton konser saya kali ini adalah… jadi ‘tamu tak diundang’ after party band yang saya tonton saat itu.  Tempatnya?  Tidak seberapa jauh dari Star Theater.  Semua berkat teman saya yang entah bagaimana berhasil dapat bocoran tentang tempat after party tersebut.  Kami memang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam pesta itu, alias jadi penonton saja.  Terkadang cengar-cengir tak jelas dan melambai-lambai ke anggota-anggota band.  Lumayanlah, ditanggapi positif dan ramah oleh mereka.

Berhubung sedang tahun baru Cina, kami berkunjung juga dong ke Chinatown untuk melihat-lihat.  Seperti bisa diduga, Chinatown semarak oleh berbagai dekor.  Kelenteng-kelenteng dipenuhi orang-orang yang hendak memanjatkan doa, mengharap tahun yang baru pun akan membawa keberuntungan.

sg-2013-05

sg-2013-06

sg-2013-07

Salah satu keuntungan datang ke Singapura saat tahun baru Cina adalah museum-museum gratis dimasuki!  Semacam keistimewaan bagi orang-orang yang tidak ikut merayakan Tahun Baru dan bingung hendak berkeliaran ke mana karena rata-rata tempat perbelanjaan tutup.

Kami pertama-tama mengunjungi Museum Filateli (kali kedua untuk saya).  Museum ini memang tidak besar, namun saya menyenanginya.

sg-2013-08

Setelahnya kami melangkahkan kaki ke Museum Peranakan yang terletak tidak jauh dari Museum Filateli.  Di sini kita bisa menyaksikan berbagai pajangan yang mengisahkan seluk-beluk kaum peranakan di Singapura.  Yang paling saya senangi adalah ‘telepon dari masa lalu’.  Ada sejumlah telepon antik, yang bila kita angkat akan memperdengarkan suara seorang peranakan yang menggunakan dialek dari masa ketika telepon itu digunakan.

sg-2013-09

sg-2013-10

Satu lagi pengalaman tak terlupakan di Singapura!

sg-2013-04

sg-2013-11

Hong Kong

Lagi-lagi saya menginap di Ah Shan Hostel saat bertandang ke Hong Kong.  Bagaimana, ya?  Saya sudah ‘nyambung’ betul dengan tempat ini, yang letaknya sangat strategis.  Tidak jauh dari stasiun MRT, dekat halte bis ke bandara, terletak di kawasan di mana berbagai keperluan dan suvenir mudah diperoleh, murah (untuk ukuran Hong Kong) dan bersih, pemiliknya orang Indonesia-Hong Kong.  Paling-paling kekecewaan saya hanya karena kebodohan saya sendiri: baru sadar bahwa di gedung yang sama, di lantai berbeda, ada sebuah kafe kucing.  Dan sadarnya telat, ketika saya sudah hampir check-out untuk berangkat ke bandara!

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Tujuan utama saya ke Hong Kong adalah menonton konser di Asia World-Expo, sehingga saya tidak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan.  Namun saya menyempatkan diri melihat-lihat bagian kota yang lain, yang sebelumnya tidak pernah sempat saya datangi dalam kunjungan-kunjungan saya ke Hong Kong dahulu.  Saya penasaran ingin melihat yang namanya Central Promenade, Expo Promenade dan Hong Kong Exhibition and Convention Center dari dekat.

Sayang, pagi itu hujan mengguyur lumayan deras.  Saya hanya bisa berjalan sampai mentok ke HKECC, sejauh yang ternaungi atap.  Ya, meski lumayan juga jarak yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Wan Chai, namun saya tidak perlu khawatir kehujanan ataupun tertabrak kendaraan bermotor, karena saya cukup menyusuri walkway alias jembatan-jembatan beratap untuk pejalan kaki.  Walkway ini ada juga yang menembus beberapa gedung, yang rupanya memang membuka satu lantai khusus untuk digunakan berlalu-lalang para pejalan kaki.  Kalau bukan karena koordinasi yang baik dengan pemerintah dan keamanan yang terjamin, mana bisa begini ya?

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Masih pagi, sehingga tidak banyak kegiatan di HKECC.  Saya juga hanya mengagumi apa yang bisa terlihat dari lobi bawah saja. Sepertinya sih asyik nih menonton konser atau pertunjukan lain di sini.  Karena sulit meneruskan ke Promenade dalam kondisi hujan, saya malah melipir ke cabang Pacific Coffee di Great Eagle Center.  Tempat yang nyaman, dengan barista yang ramah, yang sepertinya mengenal nyaris semua pelanggannya.  Mungkin memang setiap pagi sebelum berangkat kerja, mereka mampir ke situ untuk meneguk secangkir kopi hangat.

Pacific Coffee

Pacific Coffee

Setelahnya, saya mencoba berjalan kaki di sekitar Wan Chai, tapi hujan tak kunjung reda sementara saya tak punya payung.  Akhirnya saya hanya berjalan-jalan sedikit di sekitar stasiun, lalu kembali lagi.

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Saya juga, seperti biasa, berkunjung ke Avenue of Stars.  Rasanya belum ke Hong Kong kalau belum ke sini dan menghabiskan waktu sejenak.  Eksibisi di Museum Seni sedang tidak menarik bagi saya, sehingga saya meneruskan langkah sampai ke terminal feri Star.  Eh!  Bebek!  Si bebek raksasa!  Proyek seni menggemaskan berwarna kuning ini mengambang-ngambang dengan santainya, tidak kalah pede dari kapal-kapal pesiar dan feri yang berlalu-lalang atau berlabuh di terminal tersebut.  Seluruh Hong Kong sedang demam si rubber duck!  Karya-karya seni yang terbuka bagi publik seperti ini dan secara teratur berganti (terakhir saya ke sini, kawasan terminal feri Star memajang patung-patung Doraemon) memberi kesegaran bagi penduduk yang hidup berimpit-impitan di kota mereka yang sangat ramai.

BEBEK!

BEBEK!

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Sempat juga saya kembali ke Avenue of Stars saat malam.  Iseng saja ingin melihat permainan ‘teater cahaya’ gedung-gedung di Pulau Hong Kong yang sebenarnya tidak terlalu spektakular.  Tapi lumayanlah, tontonan gratisan sambil menikmati angin semilir yang menghambur dari selat.  Kebetulan sedang bulan purnama pula.

Magis.

Magis.

Cumi bakar di Avenue of Stars.  Mengantrinya lama, tapi saya penasaran.  Ternyata rasanya seperti... juhi kering.

Cumi bakar di Avenue of Stars. Mengantrinya lama, tapi saya penasaran. Ternyata rasanya seperti… juhi kering.

Malam-malam saya juga sempat menyambangi SoHo, kawasan yang terkenal karena berbagai tempat makan dan toko yang ‘hip’.  Penasaran saja, karena terakhir kali ke Hong Kong (saat siang) saya mencoba mendatangi wilayah tersebut, tapi malah tersesat.  Padahal ternyata saya waktu itu sudah dekat dengan SoHo, hanya saja terlanjur bingung!  Untuk ke SoHo ternyata hanya perlu berjalan kaki sedikit dari Stasiun Central ke eskalator Mid-Level, lalu menaikinya.  Eskalator?  Ya, untuk mempermudah penduduk menaiki kontur sekitar Central yang berbukit-bukit, pemerintah Hong Kong mengoperasikan sejumlah eskalator, termasuk yang mencapai SoHo.  Tapi eskalator-eskalator ini hanya bergerak ke atas, kalau untuk turun kita harus menggunakan undak-undakan biasa.

Sudut luar Museum Seni.

Sudut luar Museum Seni.

Sebenarnya kawasan SoHo cukup menarik, dengan berbagai restoran, klub, dan bar yang menyajikan berbagai dekorasi eksterior maupun interior memikat.  Hanya saja, karena saya sendirian, kok rasanya cengo’ kalau mau mencoba bergabung dengan keramaian di tempat-tempat nongkrong itu, yang didominasi oleh ‘ekspat bule’ pula.  Rasanya ke SoHo lebih asyik kalau ada temannya, deh.  Jadi bisa memilih tempat makan yang nyangkut di hati, ambil satu meja bersama teman-teman, lantas asyik mengobrol dan tertawa sambil bersantap.  Lain kali, lain kali!

Lembang

Akhirnya, setelah bertahun-tahun hanya mendengar tentang Kampung Daun, saya berkunjung juga ke tempat tersebut bulan Juni lalu.  Hehe, ketinggalan banget nggak?  Terus terang, saya sebenarnya sebelumnya agak meremehkan restoran yang dikonsep bernuansa alam ini.  Saya pikir, ah paling-paling tempatnya seperti apa sih, jangan-jangan cuma sawung-sawung yang didirikan di halaman yang ditata seadanya menyerupai ‘alam’.  Dan yah, memang, saya harus telan bulat-bulat segala perilaku meremehkan saya itu.

lb-2013-01

Berkendara ke ‘atas’, kata orang Bandung, ke arah Lembang, lantas membelok ke Jalan Sersan Bajuri, cukup lama juga perjalanan kami di tengah sore hari yang gelap karena mendung sebelum akhirnya kami tiba di Kampung Daun.  Dari bagian depannya pun saya sudah terkesima, melihat sebuah toko cenderamata dan oleh-oleh dengan dinding dari kayu berwarna muda, dan terang bermandikan cahaya lampu.  Ketika melangkah masuk ke area makan, wah, rasa kagum saya berlebih-lebih lagi.

lb-2013-02

lb-2013-03

Sawung-sawung ditata mengikuti kontur daerah tersebut, dihubungkan oleh jalan setapak.  Semakin ke belakang, jalan setapak itu semakin menanjak, terkadang berubah menjadi tangga.  Sebagian tamu yang kebagian sawung di sebelah belakang, atau memang menginginkan sawung di tempat yang lebih ke atas atau lebih sepi, harus mau bersusah-payah mendaki.  Tapi banyak juga tamu yang iseng saja, tidak keberatan berlelah-lelah sedikit naik ke atas demi melihat-lihat pemandangan.  Sebuah kali berair jernih mengalir membelah kawasan Kampung Daun, menimpali aktivitas tamu dengan suara gemericik atau bahkan berdebur.  Nikmat sekali, apalagi kalau dapat sawung tepat di samping kali, beuh!

lb-2013-05

lb-2013-04

Harga makanannya memang agak mahal, namun saya rasa itu harga yang pantas untuk hidangan yang kita santap sambil menikmati suasana ‘hutan’ yang masih asri.  Dengar-dengar terkadang ada ular yang masih suka memunculkan diri dari rerimbunan.  Yah, menambah-nambah bumbu ‘bersantap di alam’ lah ya.

lb-2013-06

lb-2013-07

Beijing

Sebenarnya sih saya bukan tipe yang senang mengeluh dalam perjalanan, apalagi kalau perjalanannya dibayari alias gratis.  Kalau kesal pasti ada saja, hanya saja biasanya tidak saya endapkan di hati terlalu lama.  Paling saya kenang saja dengan perasaan geli.  Namun yang saya alami di Beijing kali ini, sungguh bikin jera rasanya, dan membuat tidak ada perasaan ingin kembali ke Beijing dalam waktu dekat, entah itu sendirian ataupun bersama biro travel.  Terutama bersama biro travel.

bj-2013-01

Memang, kalau yang namanya ikut biro travel, ya setelan default-nya adalah patuh dan pasrah pada jadwal yang disusun biro travel.  Sebelumnya saya juga sudah beberapa kali ikut perjalanan bersama biro travel, dan baik-baik saja.  Nyaris tidak ada keluhan.  Namun kali ini, haduh, terus terang jadwalnya membosankan sekali, malah bikin kesal.  Di tempat pariwisata yang diincar, diburu-buru, bahkan sampai kami tidak bisa berjalan-jalan bebas di hutong (kawasan kota tua bangsa Manchuria).  Kami dinaikkan ke becak-becak yang lantas ngebut melintasi jalan-jalan sempit hutong.  Padahal banyak toko, restoran, dan kafe menarik yang sepertinya pantas dikunjungi!   Kami malah berkali-kali digiring ke toko-toko yang pastinya sudah menjalin kerjasama dengan biro travel ybs, dilimpahi bujukan dan bahkan tipuan, agar mau membeli barang-barang yang harganya dipatok kelewatan.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Bagaimana tipuannya?  Antara lain: kami diajak masuk ke sebuah toko mutiara air tawar.  Setiap kelompok digiring memasuki ruang duduk tertentu.  Rombongan kami terpencar-pencar menjadi tiga kelompok di ruang-ruang yang agak berjauhan.  Pertama-tama kami disuguhi penjelasan tentang produk-produk yang dijual toko tersebut.  (Ini dilakukan di toko mana pun, entah itu teh, sutera, dan lain sebagainya, dan sebenarnya cukup menarik dan informatif, dengan sampel-sampel gratis yang boleh dicicip atau dibawa pulang.)

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini.  Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini. Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Tak berapa lama, masuklah seorang gadis yang manis sekali ke ruangan kami.  Dengan gaya lucu dan kekanak-kanakan, ia mengaku sebagai salah seorang putri direktur yang dipaksa ayahnya ikut melayani di toko karena mereka sedang kewalahan.  Ia mau karena bisa melatih bahasa Inggris-nya.  Namun ia berkali-kali minta maaf karena bukan instruktur yang sebenarnya, sehingga ia hanya bisa memberitahukan informasi yang terbatas.  Di sela-sela penjelasannya soal budidaya kerang mutiara air tawar, ia mengucapkan hal-hal manis seperti tidak akan lupa pada kami yang telah menjadi temannya, ingin berkunjung ke Indonesia, dan lain sebagainya.

bj-2013-03

Puncaknya, ia membagikan kepada kami masing-masing sebuah cincin.  Ia bisa melakukan itu sebagai putri direktur.  Lantas ia bilang, kala keluar dari ruangan ini dan melihat-lihat ke sekeliling toko, kalau ada barang yang dimau, bilang saja kami temannya, agar diberi diskon!  Kalau diingat-ingat lagi rasanya memang too good to be true ya semua itu.  Tapi ada saja lho yang nyaris tertipu mengeluarkan ribuan yuan untuk barang yang pasti kurang daripada itu harganya, karena merasa tersanjung sekali disukai sang putri direktur.  Kami dengan cepat mengetahui tipuan ini ketika, setelah kami ‘dilepas’ ke dalam toko, kami lekas-lekas mendatangi rombongan lain dan menanyakan apakah mereka memperoleh cerita yang sama.  Iya, betul, ternyata mereka pun didatangi perempuan yang mengaku putri direktur, dengan kisah yang sama, dengan janji diskon yang sama.  Ups!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Yah, sebetulnya bagi saya taktik ini sungguh disayangkan, hanya mendatangkan keuntungan sekejap.  Padahal para ‘korban’ menjadi tidak percaya lagi terhadap para pedagang, bahkan pariwisata, Cina atau setidak-tidaknya Beijing.  Anggota-anggota rombongan saya berbisik-bisik, “Nggak lagi-lagi deh, balik ke sini…”  Saya sendiri sih masih ingin kembali ke Istana Musim Panas, karena belum puas melihat-lihat dengan waktu hanya 45 menit yang diberikan biro travel.  Namun di sana pun harus hati-hati, jangan berbelanja di penjaja pinggir jalan dengan uang pecahan besar.  Bisa-bisa Anda mendapatkan kembalian mata uang Rusia, Taiwan, atau negara lain yang nilainya kurang daripada kembalian yang seharusnya Anda terima dalam yuan.  Bahkan, tak jarang turis malah menerima kembalian uang palsu!

Berikut ini beberapa foto dari kawasan Istana Musim Panas.

bj-2013-04

bj-2013-07

bj-2013-06

bj-2013-05

Untungnya sih saya sempat, atas seizin atasan, ‘meloloskan diri’ dari jadwal menyebalkan ala biro travel.  Saya berkeliaran sendiri dan menonton sebuah band Jepang di salah satu loka di Beijing, di daerah yang belum pernah saya singgahi sebelumnya.  Nah, kalau jalan-jalan sendiri seperti ini, saya suka!

Dan ini beberapa foto lainnya dari Beijing.

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Mesin otomat perpustakaan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina.  Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya!  Yang ini hidangan khas Sichuan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina. Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya! Yang ini hidangan khas Sichuan.

Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian II)

This post is about Indonesia

Usai Maghrib, saya turun ke lobi dan bertanya ke resepsionis, bagaimana cara menuju ke Simpang Lima.  Jauhkah?  Bisakah berjalan kaki, atau naik bis?

“Wah, lumayan jauh.  Bis (Trans Semarang) sudah tidak jalan jam segini.  Sebaiknya naik taksi,” jawab sang resepsionis.

semarang24

Saya akhirnya mengambil alternatif: berjalan kaki ke depan Lawang Sewu, dan mengambil angkot ke arah Simpang Lima dari situ.  Kebetulan malam Minggu.  Simpang Lima, dengan lapangan luas yang dikelilingi oleh berbagai pusat perbelanjaan dan masjid agung, diramaikan oleh warga Semarang yang menghabiskan malam.  Menyenangkan sekali melihatnya.  Tua, muda, bapak, ibu, anak, nongkrong di warung-warung di tepi jalan atau di tembok-tembok rendah di trotoar, asyik mengobrol dan bercanda.  Ada juga yang menyewa sepeda berhiaskan lampu warna-warni untuk mengelilingi Lapangan Simpang Lima.  Ada yang asyik bermain, berkejar-kejaran di lapangan.

semarang22

Saya tiba-tiba kembali merasakan ‘spirit’, ‘ruh’ sebuah kota, yang seharusnya betul-betul merupakan sebuah ‘tempat tinggal’ bagi warganya.  ‘Tinggal’ yang merupakan sesuatu yang melampaui totalitas kegiatan-kegiatan yang bisa kita lakukan di sebuah kota seperti bekerja, makan, dan tidur.  Hubungan antarmanusia, suasana nyaman yang memanusiakan, seharusnya juga jadi unsur sebuah kota.

semarang21

Saya memilih sebuah warung di tepi jalan yang menjual – sebutannya apa ya?  Istilah yang biasa saya pakai sih ‘nasi kucing’.  Sedikit nasi, dibungkus dengan sejumput lauk atau sesendok-dua sendok sayur, dibungkus kecil-kecil, dijual dengan harga murah.  Yang punya uang hanya sedikit masih bisalah membeli sebungkus untuk diri sendiri.  Yang tidak kenyang hanya memakan satu atau ingin kombinasi beberapa lauk/sayur, bisa membeli beberapa bungkus, masih ditambah gorengan kalau perlu.  Bersama secangkir teh hangat manis, malam yang agak gerimis pun terasa lengkap sempurna!

semarang23

Usai makan, saya mengarah ke Istana Brilian, pusat oleh-oleh yang masih buka.  Saya membeli sejumlah penganan khas Semarang sebelum kembali pulang ke hotel dengan angkot.  Atau tepatnya, sampai ke dekat Lawang Sewu, dan dari situ berjalan kaki lagi ke hotel.  Itu, kisah di bagian sebelumnya, sewaktu saya nyaris tertimpa cabang pohon.  Lawang Sewu masih terlihat agak ramai oleh para pengunjung yang berwisata malam.

semarang25

Keesokan paginya, karena masih ada beberapa jam sebelum waktu check-out dari hotel dan menghadiri pesta pernikahan, saya kembali menggerakkan kaki.  Pertama-tama saya mencoba menengok Museum Perjuangan Mandala Bhakti, yang terletak di seberang Lawang Sewu.  Untuk mencapainya saya harus melewati Tugu Pemuda beserta taman yang mengelilinginya.  Museum terlihat sepi, hanya ada beberapa orang pria dan wanita yang sedang berkumpul di sampingnya.  Melihat saya, salah seorang ibu-ibu menggerakkan tangan memanggil saya mendekat.  Meskipun kecurigaan otomatis timbul di hati saya yang bertahun-tahun ditempa ibukota, saya menurut.  Ah, ternyata ibu-ibu itu bukan bermaksud apa-apa.  Hanya menanyakan kepada saya mau apa, dan apakah saya salah seorang yang hendak mengikuti acara di museum itu (entah apa) hari ini.  Sambil diam-diam kesal kepada diri saya sendiri yang begitu pencuriga sekarang, saya mengobrol sedikit dengan sang ibu dan rekan-rekannya.  Dari mereka saya tahu museum tidak selalu buka.  Akhirnya saya hanya menikmati bagian luarnya saja.  Teringat seloroh si pemandu Lawang Sewu teriring tawa kemarin, “Museum di depan itu iri pada Lawang Sewu.  Dia yang museum, tapi Lawang Sewu-lah yang banyak dikunjungi orang.”

semarang26

Setelah itu, saya pun meneruskan perjalanan ke arah Pandanaran, di mana berjejer toko-toko dan kedai-kedai yang menjual jajanan basah khas Semarang seperti lumpia, bandeng presto, wingko.  Sebetulnya ingin juga membeli untuk dibawa pulang ke Tangerang, tapi mengingat bawaan saya sudah lumayan merepotkan dengan segala oleh-oleh yang saya beli semalam, niat itu saya urungkan.  Saya cukup membeli satu untuk dinikmati sendiri.

Saya pun berjalan balik ke hotel, menikmati Minggu pagi yang damai dengan matahari yang masih malu-malu (ah, memang seharusnya begini Minggu pagi!).  Melihat sebuah bis menuju Ambarawa melintas, saya jadi bertekad dalam hati, lain kali kalau ke Semarang harus lebih lama lagi, dan menyempatkan diri ke kota-kota lain di sekitarnya!

semarang27

Depan Lawang Sewu telah kembali ramai, kini oleh gerobak-gerobak penjaja makanan.  Saya membeli dawet dicampur durian.  Hmm, segar sekali menutup acara jalan-jalan pagi dengan minuman dingin ini!

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah membeli bacaan untuk menemani kala menunggu pesawat nanti di Gramedia yang baru buka, lantas mandi dan berbenah-benah.  Saya pun siap untuk check-out.  Resepsionis menelepon memanggil taksi untuk mengantar saya ke Masjid Agung Jawa Tengah, tempat pesta pernikahan digelar.  Tak saya duga, jauh juga letaknya dari pusat kota Semarang, dan jalan menuju kompleks yang sangat luas itu ternyata kecil-kecil.

semarang29

Mengenai masjidnya sendiri, yang paling membuat terpukau memang ukurannya yang luar biasa.  Namun kesan yang saya tangkap mengenai arsitekturnya agak membingungkan.  Sepertinya menggabungkan lagam Jawa dan Turki, namun terkesan agak gagap, dengan deretan tiang dan lengkungan ala Romawi yang mengelilingi pelataran air mancur.  Sayang saat itu payung-payung raksasa yang biasa dipakai menaungi jemaah saat masjid sedang ramai sedang tidak dibuka.  Ingin saja melihat seperti apa jadinya.

semarang28

Meski waktu saya di Semarang semakin sempit, saya juga mencoba naik ke atas menara di mana kita bisa menyaksikan pemandangan Semarang dan sekitarnya dari ketinggian lumayan.  Kota, laut, sawah, pedesaan – semua terlihat.  Di menara ini juga terdapat museum sejarah Islami, yang sayangnya tidak sempat saya kunjungi.  Saya lebih memilih bersantap siang mengisi perut yang sudah keroncongan lagi di restoran berputar yang berada selantai tepat di bawah anjungan untuk melihat pemandangan.  Cukup murah dan lezat, namun sayangnya kondisi restoran seperti kurang terurus.

semarang30

Saya lantas menelepon pusat taksi Blue Bird, meminta dijemput untuk diantar ke bandara.  Tak menunggu berapa lama, taksi datang.  Belum bergerak jauh dari masjid, kami terperangkap kemacetan.  Duh, jalan-jalan kecil dengan populasi yang semakin membludak, bagaimana tidak macet, ya?  Supir taksi pun menawarkan alternatif, lewat jalan tol menuju bandara.  Lebih mahal, tapi tidak macet.  Saya setuju.  Dan ternyata memang jauh, melewati perbukitan yang hijau.  Ah, yang penting tidak sampai terlambat naik pesawat!

semarang31

Pesawat AirAsia yang membawa saya pulang ke Tangerang lepas landas sore itu, meninggalkan bandara Semarang yang tidak terlalu besar.  Menjauh dari kota yang menyajikan percampuran budaya hasil pertemuan dan dialog berabad-abad: cerminan nyata Indonesia.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers