Ome, Januari 2014

This post is about Japan

Hari itu saya libur, dan tidak ada kerjaan.  Tanggalnya adalah 13 Januari 2014, hari libur nasional di Jepang karena berkenaan dengan Seijin no Hi, Coming-of-Age Day, perayaan bagi orang-orang yang dianggap telah dewasa karena telah berulang tahun ke-20.  Iseng, saya pun naik kereta Chuo Line sampai ke Ome.  Tidak ada alasan khusus, saya hanya ingin mencari tahu seperti apa kota kecil yang terletak di ujung salah satu cabang Chuo Line itu.

IMG_1079

IMG_1049

Bangunan kuning gading di sebelah kanan adalah stasiun Ome. Bentuknya yang kuno dipertahankan.

Salah satu  cabang?  Iya, karena meskipun jalur utama Chuo Line mengarah ke Takao (nanti kapan-kapan saya ceritakan juga), tetapi dalam sehari beberapa kereta Chuo Line mengarah ke Ome.  Namun, bila kita tidak mendapatkan kereta langsung ke Ome ini, kita bisa naik kereta sampai Tachikawa, lalu berganti ke Ome Line.  Perjalanannya tidak begitu lama kok dari Tokyo.

IMG_1048

IMG_1052

Kota Ome kecil saja.  Sebenarnya banyak yang ke sana karena ingin menikmati alamnya, tetapi hari itu saya tiba di sana sudah terlanjur siang sekali, sehingga saya hanya melihat-lihat kotanya saja.  Itu pun sebentar saja, karena sebagian besar toko dan restoran, juga museum, tutup.  Yah, namanya juga hari libur nasional.

IMG_1087

IMG_1080

Telepon umum yang terlihat seperti dari dunia antah-berantah.

Hal paling menyenangkan dari Ome adalah ruas-ruas jalan yang dihiasi poster-poster film dan iklan tua.  Di berbagai sudut, terkadang di tempat yang tak terduga atau sulit dilihat, terpajang berbagai poster, mulai dari Metropolis Fritz Lang sampai film-film klasik Jepang.  Ini kebahagiaan tersendiri bagi yang menyenangi film lama ataupun barang vintage.

IMG_1123

IMG_1064

IMG_1063

Ome juga menjadi salah satu tempat yang dikunjungi wisatawan dalam negeri khususnya karena kota ini merupakan tempat asal Akatsuka Fujio, mangaka Tensai Bakabon.  Jadi jangan heran, tokoh-tokoh Tensai Bakabon menyambut kita sejak baru tiba di stasiun kereta Ome yang dipertahankan wujud kunonya.  Di kota ini ada museum bagi sang mangaka, namun sayangnya saya juga belum sempat mengunjunginya.

IMG_1077

IMG_1107

Satu hal lagi yang banyak terlihat di sudut-sudut Ome adalah… karya-karya seni yang menampilkan wujud kucing!  Baik itu lukisan, patung, sampai hiasan halte bis.  Terlihat bahwa pembuatnya bukan hanya satu orang.  Seru juga, mencari-cari karya-karya seni bertema kucing ini di berbagai penjuru Ome.

IMG_1111

IMG_1112

Kalau Anda berkunjung ke Tokyo dan ingin pengalaman ke luar kota tapi tidak bisa jauh-jauh, Anda boleh coba mengunjungi Ome.  Tapi pastikan bukan hari libur nasional seperti yang saya lakukan, karena bisa dijamin Anda bakal disambut suasana sunyi-senyap di kota yang aslinya memang mungil ini.

IMG_1046

IMG_1084

Sebuah halte bis di Ome: memadukan poster film tua dan benda-benda kucing.

IMG_1122

Datanglah ke Ome, dan Anda akan disambut mereka di stasiun kereta!

Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum

This post is about Japan

Halo semuanya.  Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa mulai mengisi blog ini lagi.  Dan, seperti yang sebelumnya saya katakan, karena sekarang saya berdomisili di Jepang, maka isi blog saya mulai saat ini akan didominasi oleh tulisan mengenai Jepang.  Saya tidak hanya akan menulis mengenai tempat-tempat yang telah sangat populer di mata turis asing, melainkan juga yang masih jarang dikunjungi orang.  Contoh dari tempat yang terakhir itu adalah Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum, yang akan saya bahas sekarang.

IMG_0086

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Museum terbuka ini terletak di Koganei, di pinggiran kota Tokyo.  Ada dua stasiun yang dekat dengan museum ini, yaitu Minami Hana-Koganei di jalur Seibu-Shinjuku, dan Musashi-Koganei (North Exit) di Chuo Line.  Tidak jauh kok dari Shinjuku, paling-paling hanya setengah jam.  Yang perlu diperhatikan adalah rel yang digunakan oleh kereta Chuo Line digunakan juga oleh kereta Chuo-Sobu Line, yang jarang mampir ke Musashi-Koganei, paling-paling sampai Mitaka.  Jadi perhatikan warna kereta yang akan Anda naiki, ya.  Apakah stripnya oranye (Chuo) atau kuning (Chuo-Sobu).  Kalau ternyata Anda salah naik kereta Chuo-Sobu yang hanya sampai ke stasiun sebelum Musashi-Koganei, berpindahlah ke jalur kereta oranye.  Itu pun harus Anda pastikan, kereta jalur oranye tersebut berhenti di Musashi-Koganei atau tidak.  Kereta komuter cepat atau ekspres khusus sering kali melewatkan stasiun ini.

IMG_0060

IMG_0059

Dari stasiun kereta, Anda bisa berjalan kaki menuju Koganei Park, di mana museum arsitektur ini berada.  Banyak petunjuk jalan menuju taman yang juga terkenal karena pohon sakuranya ini kok.  Kalau ingin naik bis dari stasiun kereta juga ada.

IMG_0082

IMG_0057

Masuk Koganei Park gratis, namun untuk mengunjungi museum Anda harus membayar…. murah kok, 400 yen saja.  Malah kalau Anda mahasiswa atau sedang sekolah bahasa/kejuruan di Jepang, dengan menunjukkan kartu mahasiswa/pelajar, Anda cukup membayar 320 yen saja.

IMG_0070

Bangunan hijau di sebelah kanan adalah Maruni Shoten, toko peralatan dapur, dibangun di zaman Showa.

IMG_0080

Museum terbuka ini dimaksudkan untuk melestarikan bangunan-bangunan tua Edo (nama lama Tokyo)/Tokyo agar tidak tergerus pembangunan Tokyo yang pesat.  Alasan lain pendirian museum ini adalah karena Jepang khususnya Tokyo telah sering kehilangan aset sejarah dan budaya mereka akibat berbagai bencana seperti gempa bumi, kebakaran, dan lain sebagainya.

IMG_0118

IMG_0072

Sebagian bangunan boleh dimasuki (perhatikan, apakah Anda harus melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal atau tidak), namun sebagian lain hanya boleh dilihat-lihat dari sebelah luar saja.  Ada rumah politikus Jepang zaman dulu, ada toko tua, bar, toko House of Uemura zaman baheula, toko kecap, studio foto kuno, dan macam-macam lagi.  Semuanya dipindahkan secara berhati-hati dan teliti dari Tokyo ke museum di pinggiran ibukota Jepang tersebut.  Sebagian ditata seperti ketika toko-toko itu masih menjalankan bisnis.

IMG_0126

IMG_0074

Kita lihat lebih banyak lagi yuk foto-foto dari museum ini.

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini.  Kami kira rumah bangsawan atau apalah.  Setelah dekat... ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Dari jauh, kami berfoto-foto penuh gaya dengan latar belakang bangunan besar ini. Kami kira rumah bangsawan atau apalah. Setelah dekat… ternyata Kodakara-yu, pemandian umum!

Bagian dalam Kodakara-yu.  Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

Bagian dalam Kodakara-yu. Pedekah Anda mandi bareng di pemandian seperti ini? (^__^)

IMG_0104

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Rumah rancangan arsitek Mayekawa Kunio untuk dirinya sendiri pada 1942, ketika Perang Dunia Dua sedang berlangsung dan sulit untuk memperoleh bahan bangunan.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

Bagian dalam salah satu rumah tua bergaya Barat.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

House of George de Lalande ini kini menjadi kafe tempat Anda bisa bersantai bila lelah berjalan kaki mengelilingi museum terbuka yang cukup luas ini.

IMG_0081

IMG_0146

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho!  Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Bangunan-bangunan tradisional yang tua sekali juga ada, lho! Begini bentuk perapian merangkap kompor di rumah-rumah tua semacam ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

Di rumah-rumah tradisional tua itu, ada staf yang siap membantu menunjukkan cara menggunakan perapian, ataupun mengajarkan cara membuat mainan tradisional Jepang, seperti kakek ini.

IMG_0163

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Toko suvenir di bagian depan museum (gerbang keluar/masuk dan tempat membeli tiket).

Oya, di museum ini juga ada ruang pamer yang tidak seberapa besar, yang memajang sejumlah artifak kuno yang ditemukan dalam penggalian-penggalian arkeologis di Jepang.  Sayangnya keterangan dalam bahasa Inggris tidak banyak, namun lumayan kok untuk dilihat-lihat.  Saya sangat merekomendasikan museum ini bagi Anda yang berkunjung ke Tokyo dan menyukai sejarah Jepang ataupun ilmu arsitektur.

Art and Science Museum, Gardens by the Bay, Asian Civilizations Museum Singapura, September 2013

This post is about Singapore

Seperti yang telah saya beritahukan di post saya sebelum ini, kini saya tinggal di Jepang, setidaknya untuk satu setengah tahun.  Namun sebelum berangkat ke Jepang, saya menyempatkan diri untuk bepergian ke Singapura ,bertemu sejumlah teman dan terutama mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sedari lama saya ingin kunjungi tapi belum sempat-sempat juga.

Agar lebih murah dan lebih banyak waktu santai bagi saya untuk berjalan-jalan di Singapura, saya memilih penerbangan yang tiba paling malam di Changi.  Setelahnya, saya tidak keluar dari bandara, namun tidak juga memilih untuk menginap di hotel bandara.  Soalnya, hotel bandara lumayan mahal!  Saya lebih memilih mencari sudut untuk tidur di Terminal 2 yang memang disiapkan di bandara Changi.  Penerangan di sudut tersebut dibiarkan temaram, dan ada sejumlah kursi panjang yang disiapkan untuk yang ingin tidur-tiduran atau bahkan tidur betulan.  Buat saya sih sebenarnya kursinya tidak terlalu nyaman untuk tidur.  Bila mau, tidur saja di lantai yang berkarpet empuk.  Tidak akan dimarahi, kok, karena memang sudut itu disediakan untuk kita-kita yang rela tidur seadanya.  Akan jadi pengalaman luar biasa, kok, tidur berhadapan dengan dinding kaca yang menghadirkan pemandangan landasan bandara.  Ditambah lagi waktu itu hujan deras sedang turun, dan ada beberapa pesawat baik yang sudah terparkir maupun baru mendarat atau hendak bertolak.  ‘Kamar tidur’ yang dramatis, hehe.

Paginya, saya mengarah ke kota, namun tidak dalam keadaan kucel dong.  Saya menuju Rainforest Lounge di Changi untuk menumpang mandi dengan membayar harga yang cukup murah dan memperoleh segala perlengkapan seperti handuk, sampo, sabun, sikat gigi, dan odol.  Segar lagi, deh, setelah semalam hanya sempat tidur beberapa jam.

DSC09555

Saya mendatangi Art and Science Museum di Marina Bay Sands terlebih dahulu, karena berdasarkan info dari teman, sedang berlangsung pameran mumi dan foto-foto National Geographic.  Ternyata ada satu lagi pameran yang sedang digelar, yaitu pameran karya-karya suami-istri Eames.  Ya sudah, sekalian saja saya beli tiket terusan untuk ketiganya.

DSC09559

DSC09616

Pameran pertama yang saya masuki adalah pameran mumi (betulan!) yang dibawa beserta berbagai artifak Mesir Kuno lainnya dari British Museum.  Sayangnya, di dalam pameran kami tidak boleh memotret, jadi saya hanya bisa cerita, ya.  Sewaktu masuk, kami diberi kacamata 3D, karena untuk setiap rombongan turis yang masuk diputarkan terlebih dahulu sebuah dokumenter 3D yang dinarasikan Patrick Stewart mengenai mumi.  Banyak hal menarik yang dipelajari dari film tersebut, misalnya bagaimana cara para pembalsem mumi mengeluarkan organ dalam mumi (prosedurnya memancing komentar ‘yiakkks’ dari sebagian hadirin), metode apa yang kini digunakan ilmuwan untuk mempelajari mumi tanpa membongkar perban atau bahkan petinya, bagaimana membaca hieroglif, dan lain-lain.  Kita pun diberi gambaran mengenai kehidupan sehari-hari pendeta di zaman Mesir Kuno.  Ada pula hal lucu yang menjelaskan mengapa ada sebuah objek aneh yang ditemukan di kepala salah satu mumi—yang tampaknya merupakan cetakan tanah liat yang tak sengaja ditinggalkan para pembalsem!

DSC09563

Sesudah film selesai, pintu menuju aula pameran terbuka, dan pengunjung pun dibebaskan mengeksplorasi  ruang-ruang tempat berbagai peninggalan Mesir Kuno ditata.  Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya berada sedemikian dekat dengan mumi sungguhan, meski tentu tak bisa disentuh karena dibatasi peti kaca.  Banyak pula patung-patung dan objek-objek pembuatan mumi yang dipamerkan, misalnya guci-guci yang fungsinya menampung organ-organ dalam mumi sementara jenazah dipersiapkan.  Semuanya dilengkapi keterangan yang singkat dan padat.  Entah mengapa, yang paling membuat saya terkesima adalah sebuah patung Dewa Seth yang justru mungkin berukuran paling kecil di pameran tersebut.  Warnanya cokelat tua, dengan detail kecil yang terlihat tajam.  Aneh saja rasanya, dewa yang terkenal menyeramkan, ternyata patungnya kecil sekali, meskipun tetap menggetarkan.

DSC09565

Di pintu keluar, pengunjung disambut toko kecil yang menjual berbagai pernak-pernik pameran mumi, British Museum, dan National Geographic.  Saya harus kuat menahan diri agar kantong tidak jebol, karena kali ini saya tidak membawa terlalu banyak uang.  Toh saya tidak kuasa juga menolak godaan membeli sampul paspor hitam-putih bercorak batu Rosetta.  Habisnya, sudah sedari SD saya tergelitik oleh batu Rosetta yang telah membantu para ahli menguak masa lalu dengan membaca berbagai macam aksara berbeda yang tertera di batu itu.

Kelar dengan pameran mumi, saya menuju pameran foto-foto istimewa National Geographic.  Bukan hanya melihat sejumlah foto National Geographic yang sangat terkenal bahkan melegenda, kita juga diberi pelajaran-pelajaran singkat mengenai dasar-dasar fotografi (melalui pajangan-pajangan yang ada).   Foto-foto yang dipamerkan juga disertai kisah di balik pengambilannya, juga kutipan para fotografernya.

DSC09572

DSC09579

DSC09580

Pameran yang terakhir, Essential Eames, berfokus pada sepasang suami-istri yang, jujur saja, asing bagi saya.  Baru belakangan saya diberi tahu teman betapa terkenal dan berpengaruhnya mereka di bidang desain, terutama desain kursi.  Yah, saat berada dalam pameran, saya memang hanya bisa meraba-raba ketenaran mereka dari keterangan-keterangan yang tersedia (dan kenyataan bahwa mereka cukup penting sampai dibuat pameran seperti ini!), namun yang jelas karya-karya mereka yang dipamerkan memang membuat saya terkesima!

DSC09583

DSC09586

DSC09591

Mulai dari rancangan rumah, rancangan kursi, pajangan pameran yang ditata suami-istri tersebut, still photos, mainan, semuanya menarik.  Di ruangan tempat kursi-kursi dipamerkan, kita bahkan bisa mencoba mencicipi seperti apa rasanya duduk di bangku hasil desain suami-istri Eames.  Saya yang tadinya masih agak sangsi mengapa tampaknya kursi-kursi mereka sangat dipuji-puji, jadi terdiam ketika menyenderkan diri di salah satu kursi malas Eames.  Nyaman sekali!  Kalau begitu tidak heran lagi deh mengapa nama mereka sungguh mencorong.

DSC09596

DSC09599

DSC09606

Puas menjelajahi ketiga pameran di Art & Science Museum, saya menuju Gardens by the Bay yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Marina Bay Sands.  Ini adalah salah satu atraksi terbaru di Singapura yang langsung melejit namanya karena menghadirkan bukan hanya suasana taman melainkan juga alam bebas di antara gedung-gedung tinggi dari beton dan baja.  Menara-menara yang dirancang menyerupai pohon dan menjulang di Gardens by the Bay entah mengapa menghadirkan suasana primitif.

DSC09625

Di beberapa sudut Gardens by the Bay, sungguh terasa suasana alam liar, tidak seperti di tengah-tengah kota besar.  Danau dan sungai yang mengaliri kebun raya ini juga dihuni oleh sejumlah spesies hewan air termasuk yang merupakan khas Singapura, seperti satu jenis terapin (semacam kura-kura).  Yang jelas, banyak capung—penanda keberadaan air bersih!  Sosok capung pun diabadikan dalam wujud beberapa patung berukuran besar di kebun raya tersebut.

DSC09650

Gardens by the Bay sungguh luas, sehingga saya tidak sempat mendatangi seluruh penjuru maupun atraksinya.  Apalagi saya sendirian, agak planga-plongo.  Lain kali kalau kembali ke sini, harus ada temannya, deh.  Namun yang sempat saya lihat dalam kunjungan solo itu juga sudah cukup membuat hati tentram, terutama ketika saya berjalan di jembatan papan terbuka (tanpa pagar di kiri-kanannya, jadi hati-hati ya!) di sepanjang tepi danau.

DSC09642

Satu lagi yang membuat saya ternganga adalah salah satu dari sekian banyak karya seni yang diletakkan di Gardens by the Bay, yaitu patung bayi raksasa putih berjudul Planet.  Desain patung ini hebat sekali, karena patung sebesar itu bisa dibuat tampak melayang di udara, hanya disangga oleh tangan kanan si bayi yang menempel ke tanah.

DSC09658

Keesokan harinya barulah saya berkunjung ke Asian Civilizations Museum yang terletak di tepian Sungai Singapura.  (Berjalan-jalan di tepi sungai ini juga enak sekali!)  Eh, ternyata sedang ada acara festival budaya Melayu, sehingga hari itu pengunjung dibebaskan dari biaya masuk museum.  Saya agak terheran-heran juga , karena sudah beberapa kali ke Singapura dan berkunjung ke museum, kok ya pas museumnya sedang gratis.  Lumayan banget, kan.

DSC09680

Sesuai namanya, museum ini menyimpan dan memamerkan berbagai artifak dan produk budaya dari berbagai peradaban di Asia, mulai dari Cina, India, Arab dan peradaban Islam, Asia Tenggara, dan lain-lain.  Hari itu, selain festival budaya Melayu dan pajangan yang biasa, juga ada pameran Lacquer Across Asia dan Desire and Devotion.  Sebetulnya rasanya perlu waktu setidaknya seharian untuk mengamati  lekat-lekat semua objek yang dipamerkan, belum lagi mengikuti aktivitas-aktivitas yang disediakan, namun tentu saja saya tidak punya waktu sebanyak itu.  Beberapa pajangan akhirnya hanya saya amati sebentar, dan lebih banyak waktu yang saya curahkan untuk benda-benda lain.

DSC09683

DSC09705

DSC09692

Saya terutama tertarik kepada artifak-artifak hasil persilangan budaya di Asia yang dipamerkan di bawah tajuk Desire and Devotion.  Ada patung malaikat Michael dari Filipina yang dibuat dengan gaya setempat, patung hasil perpaduan budaya India dan Hellenistik (Yunani), lukisan-lukisan penghias manuskrip-manuskrip Persia Kuno, dan lain-lain.  Yang membuat pameran semakin menyenangkan (dan memang seharusnya demikian!) adalah brosur berdesain menarik yang dilengkapi aktivitas bagi pengunjung.  Untuk Desire and Devotion disediakan tiga macam brosur lipat, yaitu yang bertemakan Power, Adventure, dan Love.  Ada bagian-bagian yang bisa dirobek dan ditulisi di brosur-brosur itu, untuk digantung di tempat yang sesuai di pintu keluar pameran.  Gantungan-gantungan tersebut menjadi tempat pengunjung bebas menuangkan imajinasi dalam menjawab sejumlah pertanyaan pengandaian yang berhubungan dengan isi pameran.

DSC09723

DSC09733

DSC09740

Di Asian Civilizations Museum juga ada pameran khusus objek-objek dari kawasan Indonesia , termasuk tiruan rumah Toraja yang meskipun mini, tetap bisa kita masuki untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam tongkonan.  Agak sedih sih rasanya memikirkan barangkali benda-benda ini lebih terawat di museum negara tetangga ini daripada di museum-museum atau tempat-tempat asal mereka di negeri kita sendiri.  Bukan bermaksud membuat Anda bosan dengan keluhan semacam ini, tapi sayangnya ya memang masih beginilah kenyataannya.

DSC09744

DSC09692

DSC09751

Puas sekali rasanya akhirnya bisa mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sudah sedari lama saya ingin singgahi.  Saya juga jadi tidak penasaran lagi mengapa teman saya yang berkebangsaan Singapura menyatakan bahwa inilah salah satu tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu.  Bila tulisan saya ini juga membuat Anda penasaran, jangan lupa menyempatkan mengunjungi museum ini ya kali lain Anda berada di Singapura!

Hai! Sekarang saya berada di Jepang

This post is about Japan

Sedikit kabar saja, maaf bila belum bisa menulis artikel lagi di sini (meskipun sebenarnya saya sedang mempersiapkan tulisan mengenai kunjungan terbaru saya ke Singapura).  Saya kemarin-kemarin sibuk sekali mempersiapkan kepindahan saya ke Jepang.  Ya, sekarang saya tinggal di Jepang, untuk setidaknya 1,5 tahun ke depan.  Saya harap akan bisa lebih banyak lagi cerita yang saya hadirkan di sini mengenai negara tempat tinggal baru saya ini.

Doakan saya di tempat baru ini, ya!

Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

Beberapa lantai di bawah The Star Theater, bangunan yang dikenal sebagai The Star Vista, sebagian besar difungsikan sebagai tempat makan dan minum, dengan restoran dan bar berjejer-jejer.  Ada juga panggung terbuka yang, karena waktu itu sedang dalam suasana Tahun Baru Cina, digunakan sebagai tempat mementaskan sejumlah bentuk kesenian tradisional Cina.  Tepat di belakang The Star, juga terdapat cabang Starbucks Rochester Park yang menempati sebuah bekas gedung tua.  Tempatnya sangat nyaman, enak untuk dijadikan tempat bercengkerama!  Kadang-kadang, cabang Starbucks ini sedemikian ramai, sehingga pengunjung diminta untuk tidak berlama-lama atau serakah mengambil tempat.

Starbucks di belakang The Star Vista

sg-2013-03

Nilai plus dari perjalanan menonton konser saya kali ini adalah… jadi ‘tamu tak diundang’ after party band yang saya tonton saat itu.  Tempatnya?  Tidak seberapa jauh dari Star Theater.  Semua berkat teman saya yang entah bagaimana berhasil dapat bocoran tentang tempat after party tersebut.  Kami memang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam pesta itu, alias jadi penonton saja.  Terkadang cengar-cengir tak jelas dan melambai-lambai ke anggota-anggota band.  Lumayanlah, ditanggapi positif dan ramah oleh mereka.

Berhubung sedang tahun baru Cina, kami berkunjung juga dong ke Chinatown untuk melihat-lihat.  Seperti bisa diduga, Chinatown semarak oleh berbagai dekor.  Kelenteng-kelenteng dipenuhi orang-orang yang hendak memanjatkan doa, mengharap tahun yang baru pun akan membawa keberuntungan.

sg-2013-05

sg-2013-06

sg-2013-07

Salah satu keuntungan datang ke Singapura saat tahun baru Cina adalah museum-museum gratis dimasuki!  Semacam keistimewaan bagi orang-orang yang tidak ikut merayakan Tahun Baru dan bingung hendak berkeliaran ke mana karena rata-rata tempat perbelanjaan tutup.

Kami pertama-tama mengunjungi Museum Filateli (kali kedua untuk saya).  Museum ini memang tidak besar, namun saya menyenanginya.

sg-2013-08

Setelahnya kami melangkahkan kaki ke Museum Peranakan yang terletak tidak jauh dari Museum Filateli.  Di sini kita bisa menyaksikan berbagai pajangan yang mengisahkan seluk-beluk kaum peranakan di Singapura.  Yang paling saya senangi adalah ‘telepon dari masa lalu’.  Ada sejumlah telepon antik, yang bila kita angkat akan memperdengarkan suara seorang peranakan yang menggunakan dialek dari masa ketika telepon itu digunakan.

sg-2013-09

sg-2013-10

Satu lagi pengalaman tak terlupakan di Singapura!

sg-2013-04

sg-2013-11

Hong Kong

Lagi-lagi saya menginap di Ah Shan Hostel saat bertandang ke Hong Kong.  Bagaimana, ya?  Saya sudah ‘nyambung’ betul dengan tempat ini, yang letaknya sangat strategis.  Tidak jauh dari stasiun MRT, dekat halte bis ke bandara, terletak di kawasan di mana berbagai keperluan dan suvenir mudah diperoleh, murah (untuk ukuran Hong Kong) dan bersih, pemiliknya orang Indonesia-Hong Kong.  Paling-paling kekecewaan saya hanya karena kebodohan saya sendiri: baru sadar bahwa di gedung yang sama, di lantai berbeda, ada sebuah kafe kucing.  Dan sadarnya telat, ketika saya sudah hampir check-out untuk berangkat ke bandara!

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Tujuan utama saya ke Hong Kong adalah menonton konser di Asia World-Expo, sehingga saya tidak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan.  Namun saya menyempatkan diri melihat-lihat bagian kota yang lain, yang sebelumnya tidak pernah sempat saya datangi dalam kunjungan-kunjungan saya ke Hong Kong dahulu.  Saya penasaran ingin melihat yang namanya Central Promenade, Expo Promenade dan Hong Kong Exhibition and Convention Center dari dekat.

Sayang, pagi itu hujan mengguyur lumayan deras.  Saya hanya bisa berjalan sampai mentok ke HKECC, sejauh yang ternaungi atap.  Ya, meski lumayan juga jarak yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Wan Chai, namun saya tidak perlu khawatir kehujanan ataupun tertabrak kendaraan bermotor, karena saya cukup menyusuri walkway alias jembatan-jembatan beratap untuk pejalan kaki.  Walkway ini ada juga yang menembus beberapa gedung, yang rupanya memang membuka satu lantai khusus untuk digunakan berlalu-lalang para pejalan kaki.  Kalau bukan karena koordinasi yang baik dengan pemerintah dan keamanan yang terjamin, mana bisa begini ya?

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Masih pagi, sehingga tidak banyak kegiatan di HKECC.  Saya juga hanya mengagumi apa yang bisa terlihat dari lobi bawah saja. Sepertinya sih asyik nih menonton konser atau pertunjukan lain di sini.  Karena sulit meneruskan ke Promenade dalam kondisi hujan, saya malah melipir ke cabang Pacific Coffee di Great Eagle Center.  Tempat yang nyaman, dengan barista yang ramah, yang sepertinya mengenal nyaris semua pelanggannya.  Mungkin memang setiap pagi sebelum berangkat kerja, mereka mampir ke situ untuk meneguk secangkir kopi hangat.

Pacific Coffee

Pacific Coffee

Setelahnya, saya mencoba berjalan kaki di sekitar Wan Chai, tapi hujan tak kunjung reda sementara saya tak punya payung.  Akhirnya saya hanya berjalan-jalan sedikit di sekitar stasiun, lalu kembali lagi.

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Saya juga, seperti biasa, berkunjung ke Avenue of Stars.  Rasanya belum ke Hong Kong kalau belum ke sini dan menghabiskan waktu sejenak.  Eksibisi di Museum Seni sedang tidak menarik bagi saya, sehingga saya meneruskan langkah sampai ke terminal feri Star.  Eh!  Bebek!  Si bebek raksasa!  Proyek seni menggemaskan berwarna kuning ini mengambang-ngambang dengan santainya, tidak kalah pede dari kapal-kapal pesiar dan feri yang berlalu-lalang atau berlabuh di terminal tersebut.  Seluruh Hong Kong sedang demam si rubber duck!  Karya-karya seni yang terbuka bagi publik seperti ini dan secara teratur berganti (terakhir saya ke sini, kawasan terminal feri Star memajang patung-patung Doraemon) memberi kesegaran bagi penduduk yang hidup berimpit-impitan di kota mereka yang sangat ramai.

BEBEK!

BEBEK!

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Sempat juga saya kembali ke Avenue of Stars saat malam.  Iseng saja ingin melihat permainan ‘teater cahaya’ gedung-gedung di Pulau Hong Kong yang sebenarnya tidak terlalu spektakular.  Tapi lumayanlah, tontonan gratisan sambil menikmati angin semilir yang menghambur dari selat.  Kebetulan sedang bulan purnama pula.

Magis.

Magis.

Cumi bakar di Avenue of Stars.  Mengantrinya lama, tapi saya penasaran.  Ternyata rasanya seperti... juhi kering.

Cumi bakar di Avenue of Stars. Mengantrinya lama, tapi saya penasaran. Ternyata rasanya seperti… juhi kering.

Malam-malam saya juga sempat menyambangi SoHo, kawasan yang terkenal karena berbagai tempat makan dan toko yang ‘hip’.  Penasaran saja, karena terakhir kali ke Hong Kong (saat siang) saya mencoba mendatangi wilayah tersebut, tapi malah tersesat.  Padahal ternyata saya waktu itu sudah dekat dengan SoHo, hanya saja terlanjur bingung!  Untuk ke SoHo ternyata hanya perlu berjalan kaki sedikit dari Stasiun Central ke eskalator Mid-Level, lalu menaikinya.  Eskalator?  Ya, untuk mempermudah penduduk menaiki kontur sekitar Central yang berbukit-bukit, pemerintah Hong Kong mengoperasikan sejumlah eskalator, termasuk yang mencapai SoHo.  Tapi eskalator-eskalator ini hanya bergerak ke atas, kalau untuk turun kita harus menggunakan undak-undakan biasa.

Sudut luar Museum Seni.

Sudut luar Museum Seni.

Sebenarnya kawasan SoHo cukup menarik, dengan berbagai restoran, klub, dan bar yang menyajikan berbagai dekorasi eksterior maupun interior memikat.  Hanya saja, karena saya sendirian, kok rasanya cengo’ kalau mau mencoba bergabung dengan keramaian di tempat-tempat nongkrong itu, yang didominasi oleh ‘ekspat bule’ pula.  Rasanya ke SoHo lebih asyik kalau ada temannya, deh.  Jadi bisa memilih tempat makan yang nyangkut di hati, ambil satu meja bersama teman-teman, lantas asyik mengobrol dan tertawa sambil bersantap.  Lain kali, lain kali!

Lembang

Akhirnya, setelah bertahun-tahun hanya mendengar tentang Kampung Daun, saya berkunjung juga ke tempat tersebut bulan Juni lalu.  Hehe, ketinggalan banget nggak?  Terus terang, saya sebenarnya sebelumnya agak meremehkan restoran yang dikonsep bernuansa alam ini.  Saya pikir, ah paling-paling tempatnya seperti apa sih, jangan-jangan cuma sawung-sawung yang didirikan di halaman yang ditata seadanya menyerupai ‘alam’.  Dan yah, memang, saya harus telan bulat-bulat segala perilaku meremehkan saya itu.

lb-2013-01

Berkendara ke ‘atas’, kata orang Bandung, ke arah Lembang, lantas membelok ke Jalan Sersan Bajuri, cukup lama juga perjalanan kami di tengah sore hari yang gelap karena mendung sebelum akhirnya kami tiba di Kampung Daun.  Dari bagian depannya pun saya sudah terkesima, melihat sebuah toko cenderamata dan oleh-oleh dengan dinding dari kayu berwarna muda, dan terang bermandikan cahaya lampu.  Ketika melangkah masuk ke area makan, wah, rasa kagum saya berlebih-lebih lagi.

lb-2013-02

lb-2013-03

Sawung-sawung ditata mengikuti kontur daerah tersebut, dihubungkan oleh jalan setapak.  Semakin ke belakang, jalan setapak itu semakin menanjak, terkadang berubah menjadi tangga.  Sebagian tamu yang kebagian sawung di sebelah belakang, atau memang menginginkan sawung di tempat yang lebih ke atas atau lebih sepi, harus mau bersusah-payah mendaki.  Tapi banyak juga tamu yang iseng saja, tidak keberatan berlelah-lelah sedikit naik ke atas demi melihat-lihat pemandangan.  Sebuah kali berair jernih mengalir membelah kawasan Kampung Daun, menimpali aktivitas tamu dengan suara gemericik atau bahkan berdebur.  Nikmat sekali, apalagi kalau dapat sawung tepat di samping kali, beuh!

lb-2013-05

lb-2013-04

Harga makanannya memang agak mahal, namun saya rasa itu harga yang pantas untuk hidangan yang kita santap sambil menikmati suasana ‘hutan’ yang masih asri.  Dengar-dengar terkadang ada ular yang masih suka memunculkan diri dari rerimbunan.  Yah, menambah-nambah bumbu ‘bersantap di alam’ lah ya.

lb-2013-06

lb-2013-07

Beijing

Sebenarnya sih saya bukan tipe yang senang mengeluh dalam perjalanan, apalagi kalau perjalanannya dibayari alias gratis.  Kalau kesal pasti ada saja, hanya saja biasanya tidak saya endapkan di hati terlalu lama.  Paling saya kenang saja dengan perasaan geli.  Namun yang saya alami di Beijing kali ini, sungguh bikin jera rasanya, dan membuat tidak ada perasaan ingin kembali ke Beijing dalam waktu dekat, entah itu sendirian ataupun bersama biro travel.  Terutama bersama biro travel.

bj-2013-01

Memang, kalau yang namanya ikut biro travel, ya setelan default-nya adalah patuh dan pasrah pada jadwal yang disusun biro travel.  Sebelumnya saya juga sudah beberapa kali ikut perjalanan bersama biro travel, dan baik-baik saja.  Nyaris tidak ada keluhan.  Namun kali ini, haduh, terus terang jadwalnya membosankan sekali, malah bikin kesal.  Di tempat pariwisata yang diincar, diburu-buru, bahkan sampai kami tidak bisa berjalan-jalan bebas di hutong (kawasan kota tua bangsa Manchuria).  Kami dinaikkan ke becak-becak yang lantas ngebut melintasi jalan-jalan sempit hutong.  Padahal banyak toko, restoran, dan kafe menarik yang sepertinya pantas dikunjungi!   Kami malah berkali-kali digiring ke toko-toko yang pastinya sudah menjalin kerjasama dengan biro travel ybs, dilimpahi bujukan dan bahkan tipuan, agar mau membeli barang-barang yang harganya dipatok kelewatan.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Bagaimana tipuannya?  Antara lain: kami diajak masuk ke sebuah toko mutiara air tawar.  Setiap kelompok digiring memasuki ruang duduk tertentu.  Rombongan kami terpencar-pencar menjadi tiga kelompok di ruang-ruang yang agak berjauhan.  Pertama-tama kami disuguhi penjelasan tentang produk-produk yang dijual toko tersebut.  (Ini dilakukan di toko mana pun, entah itu teh, sutera, dan lain sebagainya, dan sebenarnya cukup menarik dan informatif, dengan sampel-sampel gratis yang boleh dicicip atau dibawa pulang.)

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini.  Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini. Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Tak berapa lama, masuklah seorang gadis yang manis sekali ke ruangan kami.  Dengan gaya lucu dan kekanak-kanakan, ia mengaku sebagai salah seorang putri direktur yang dipaksa ayahnya ikut melayani di toko karena mereka sedang kewalahan.  Ia mau karena bisa melatih bahasa Inggris-nya.  Namun ia berkali-kali minta maaf karena bukan instruktur yang sebenarnya, sehingga ia hanya bisa memberitahukan informasi yang terbatas.  Di sela-sela penjelasannya soal budidaya kerang mutiara air tawar, ia mengucapkan hal-hal manis seperti tidak akan lupa pada kami yang telah menjadi temannya, ingin berkunjung ke Indonesia, dan lain sebagainya.

bj-2013-03

Puncaknya, ia membagikan kepada kami masing-masing sebuah cincin.  Ia bisa melakukan itu sebagai putri direktur.  Lantas ia bilang, kala keluar dari ruangan ini dan melihat-lihat ke sekeliling toko, kalau ada barang yang dimau, bilang saja kami temannya, agar diberi diskon!  Kalau diingat-ingat lagi rasanya memang too good to be true ya semua itu.  Tapi ada saja lho yang nyaris tertipu mengeluarkan ribuan yuan untuk barang yang pasti kurang daripada itu harganya, karena merasa tersanjung sekali disukai sang putri direktur.  Kami dengan cepat mengetahui tipuan ini ketika, setelah kami ‘dilepas’ ke dalam toko, kami lekas-lekas mendatangi rombongan lain dan menanyakan apakah mereka memperoleh cerita yang sama.  Iya, betul, ternyata mereka pun didatangi perempuan yang mengaku putri direktur, dengan kisah yang sama, dengan janji diskon yang sama.  Ups!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Yah, sebetulnya bagi saya taktik ini sungguh disayangkan, hanya mendatangkan keuntungan sekejap.  Padahal para ‘korban’ menjadi tidak percaya lagi terhadap para pedagang, bahkan pariwisata, Cina atau setidak-tidaknya Beijing.  Anggota-anggota rombongan saya berbisik-bisik, “Nggak lagi-lagi deh, balik ke sini…”  Saya sendiri sih masih ingin kembali ke Istana Musim Panas, karena belum puas melihat-lihat dengan waktu hanya 45 menit yang diberikan biro travel.  Namun di sana pun harus hati-hati, jangan berbelanja di penjaja pinggir jalan dengan uang pecahan besar.  Bisa-bisa Anda mendapatkan kembalian mata uang Rusia, Taiwan, atau negara lain yang nilainya kurang daripada kembalian yang seharusnya Anda terima dalam yuan.  Bahkan, tak jarang turis malah menerima kembalian uang palsu!

Berikut ini beberapa foto dari kawasan Istana Musim Panas.

bj-2013-04

bj-2013-07

bj-2013-06

bj-2013-05

Untungnya sih saya sempat, atas seizin atasan, ‘meloloskan diri’ dari jadwal menyebalkan ala biro travel.  Saya berkeliaran sendiri dan menonton sebuah band Jepang di salah satu loka di Beijing, di daerah yang belum pernah saya singgahi sebelumnya.  Nah, kalau jalan-jalan sendiri seperti ini, saya suka!

Dan ini beberapa foto lainnya dari Beijing.

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Mesin otomat perpustakaan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina.  Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya!  Yang ini hidangan khas Sichuan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina. Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya! Yang ini hidangan khas Sichuan.

Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian II)

This post is about Indonesia

Usai Maghrib, saya turun ke lobi dan bertanya ke resepsionis, bagaimana cara menuju ke Simpang Lima.  Jauhkah?  Bisakah berjalan kaki, atau naik bis?

“Wah, lumayan jauh.  Bis (Trans Semarang) sudah tidak jalan jam segini.  Sebaiknya naik taksi,” jawab sang resepsionis.

semarang24

Saya akhirnya mengambil alternatif: berjalan kaki ke depan Lawang Sewu, dan mengambil angkot ke arah Simpang Lima dari situ.  Kebetulan malam Minggu.  Simpang Lima, dengan lapangan luas yang dikelilingi oleh berbagai pusat perbelanjaan dan masjid agung, diramaikan oleh warga Semarang yang menghabiskan malam.  Menyenangkan sekali melihatnya.  Tua, muda, bapak, ibu, anak, nongkrong di warung-warung di tepi jalan atau di tembok-tembok rendah di trotoar, asyik mengobrol dan bercanda.  Ada juga yang menyewa sepeda berhiaskan lampu warna-warni untuk mengelilingi Lapangan Simpang Lima.  Ada yang asyik bermain, berkejar-kejaran di lapangan.

semarang22

Saya tiba-tiba kembali merasakan ‘spirit’, ‘ruh’ sebuah kota, yang seharusnya betul-betul merupakan sebuah ‘tempat tinggal’ bagi warganya.  ‘Tinggal’ yang merupakan sesuatu yang melampaui totalitas kegiatan-kegiatan yang bisa kita lakukan di sebuah kota seperti bekerja, makan, dan tidur.  Hubungan antarmanusia, suasana nyaman yang memanusiakan, seharusnya juga jadi unsur sebuah kota.

semarang21

Saya memilih sebuah warung di tepi jalan yang menjual – sebutannya apa ya?  Istilah yang biasa saya pakai sih ‘nasi kucing’.  Sedikit nasi, dibungkus dengan sejumput lauk atau sesendok-dua sendok sayur, dibungkus kecil-kecil, dijual dengan harga murah.  Yang punya uang hanya sedikit masih bisalah membeli sebungkus untuk diri sendiri.  Yang tidak kenyang hanya memakan satu atau ingin kombinasi beberapa lauk/sayur, bisa membeli beberapa bungkus, masih ditambah gorengan kalau perlu.  Bersama secangkir teh hangat manis, malam yang agak gerimis pun terasa lengkap sempurna!

semarang23

Usai makan, saya mengarah ke Istana Brilian, pusat oleh-oleh yang masih buka.  Saya membeli sejumlah penganan khas Semarang sebelum kembali pulang ke hotel dengan angkot.  Atau tepatnya, sampai ke dekat Lawang Sewu, dan dari situ berjalan kaki lagi ke hotel.  Itu, kisah di bagian sebelumnya, sewaktu saya nyaris tertimpa cabang pohon.  Lawang Sewu masih terlihat agak ramai oleh para pengunjung yang berwisata malam.

semarang25

Keesokan paginya, karena masih ada beberapa jam sebelum waktu check-out dari hotel dan menghadiri pesta pernikahan, saya kembali menggerakkan kaki.  Pertama-tama saya mencoba menengok Museum Perjuangan Mandala Bhakti, yang terletak di seberang Lawang Sewu.  Untuk mencapainya saya harus melewati Tugu Pemuda beserta taman yang mengelilinginya.  Museum terlihat sepi, hanya ada beberapa orang pria dan wanita yang sedang berkumpul di sampingnya.  Melihat saya, salah seorang ibu-ibu menggerakkan tangan memanggil saya mendekat.  Meskipun kecurigaan otomatis timbul di hati saya yang bertahun-tahun ditempa ibukota, saya menurut.  Ah, ternyata ibu-ibu itu bukan bermaksud apa-apa.  Hanya menanyakan kepada saya mau apa, dan apakah saya salah seorang yang hendak mengikuti acara di museum itu (entah apa) hari ini.  Sambil diam-diam kesal kepada diri saya sendiri yang begitu pencuriga sekarang, saya mengobrol sedikit dengan sang ibu dan rekan-rekannya.  Dari mereka saya tahu museum tidak selalu buka.  Akhirnya saya hanya menikmati bagian luarnya saja.  Teringat seloroh si pemandu Lawang Sewu teriring tawa kemarin, “Museum di depan itu iri pada Lawang Sewu.  Dia yang museum, tapi Lawang Sewu-lah yang banyak dikunjungi orang.”

semarang26

Setelah itu, saya pun meneruskan perjalanan ke arah Pandanaran, di mana berjejer toko-toko dan kedai-kedai yang menjual jajanan basah khas Semarang seperti lumpia, bandeng presto, wingko.  Sebetulnya ingin juga membeli untuk dibawa pulang ke Tangerang, tapi mengingat bawaan saya sudah lumayan merepotkan dengan segala oleh-oleh yang saya beli semalam, niat itu saya urungkan.  Saya cukup membeli satu untuk dinikmati sendiri.

Saya pun berjalan balik ke hotel, menikmati Minggu pagi yang damai dengan matahari yang masih malu-malu (ah, memang seharusnya begini Minggu pagi!).  Melihat sebuah bis menuju Ambarawa melintas, saya jadi bertekad dalam hati, lain kali kalau ke Semarang harus lebih lama lagi, dan menyempatkan diri ke kota-kota lain di sekitarnya!

semarang27

Depan Lawang Sewu telah kembali ramai, kini oleh gerobak-gerobak penjaja makanan.  Saya membeli dawet dicampur durian.  Hmm, segar sekali menutup acara jalan-jalan pagi dengan minuman dingin ini!

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah membeli bacaan untuk menemani kala menunggu pesawat nanti di Gramedia yang baru buka, lantas mandi dan berbenah-benah.  Saya pun siap untuk check-out.  Resepsionis menelepon memanggil taksi untuk mengantar saya ke Masjid Agung Jawa Tengah, tempat pesta pernikahan digelar.  Tak saya duga, jauh juga letaknya dari pusat kota Semarang, dan jalan menuju kompleks yang sangat luas itu ternyata kecil-kecil.

semarang29

Mengenai masjidnya sendiri, yang paling membuat terpukau memang ukurannya yang luar biasa.  Namun kesan yang saya tangkap mengenai arsitekturnya agak membingungkan.  Sepertinya menggabungkan lagam Jawa dan Turki, namun terkesan agak gagap, dengan deretan tiang dan lengkungan ala Romawi yang mengelilingi pelataran air mancur.  Sayang saat itu payung-payung raksasa yang biasa dipakai menaungi jemaah saat masjid sedang ramai sedang tidak dibuka.  Ingin saja melihat seperti apa jadinya.

semarang28

Meski waktu saya di Semarang semakin sempit, saya juga mencoba naik ke atas menara di mana kita bisa menyaksikan pemandangan Semarang dan sekitarnya dari ketinggian lumayan.  Kota, laut, sawah, pedesaan – semua terlihat.  Di menara ini juga terdapat museum sejarah Islami, yang sayangnya tidak sempat saya kunjungi.  Saya lebih memilih bersantap siang mengisi perut yang sudah keroncongan lagi di restoran berputar yang berada selantai tepat di bawah anjungan untuk melihat pemandangan.  Cukup murah dan lezat, namun sayangnya kondisi restoran seperti kurang terurus.

semarang30

Saya lantas menelepon pusat taksi Blue Bird, meminta dijemput untuk diantar ke bandara.  Tak menunggu berapa lama, taksi datang.  Belum bergerak jauh dari masjid, kami terperangkap kemacetan.  Duh, jalan-jalan kecil dengan populasi yang semakin membludak, bagaimana tidak macet, ya?  Supir taksi pun menawarkan alternatif, lewat jalan tol menuju bandara.  Lebih mahal, tapi tidak macet.  Saya setuju.  Dan ternyata memang jauh, melewati perbukitan yang hijau.  Ah, yang penting tidak sampai terlambat naik pesawat!

semarang31

Pesawat AirAsia yang membawa saya pulang ke Tangerang lepas landas sore itu, meninggalkan bandara Semarang yang tidak terlalu besar.  Menjauh dari kota yang menyajikan percampuran budaya hasil pertemuan dan dialog berabad-abad: cerminan nyata Indonesia.

Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian I)

This post is about Indonesia

Azan subuh belum lagi berkumandang di Semarang dan sekitarnya ketika saya menapak turun dari kereta yang beberapa jam sebelumnya bertolak dari Jakarta.  Sendirian saya mendatangi kota ini di bulan Februari 2013 untuk menghadiri pernikahan teman.  Sendirian, karena teman-teman lain kebetulan tidak bisa menyesuaikan jadwal dengan undangan tersebut.  Saya nekad saja, padahal belum pernah sekalipun ke Semarang.

Saya membeli tiket kereta Gambir-Semarang Tawang secara daring melalui Tiket.  Prosedurnya menurut saya cukup mudah, bisa memilih kursi pula.  Dengan semangat saya memilih kursi di tepi jendela dengan maksud menikmati pemandangan… Lalu baru kemudian ingat hal itu percuma saja, karena saya memilih kereta yang berjalan di malam hari, haha.  Di hari keberangkatan, saya cukup mendatangi loket penukaran bukti pembelian daring dan memperoleh tiket saya di situ.

semarang02

Singkat cerita, kini saya telah berada di Tawang.  Hari masih gelap-gulita, dan daripada keburu keluar serta sulit menemukan tempat untuk solat, saya memutuskan mengisi perut dengan minuman hangat terlebih dahulu di Dunkin Donuts.  Kebetulan cabang DD yang pintunya menghadap ke peron ini sudah buka, sementara tempat makan lain rata-rata masih tutup.

Usai subuh, barulah saya melangkah keluar dari peron.  Dan wuih, langsung didekati beberapa orang yang menawarkan jasa becak.  Sesopan mungkin saya menolak.  Seorang di antaranya masih cukup keukeuh mengikuti saya beberapa lama, berharap saya berubah pikiran mungkin.  Kasihan juga, tetapi saya memang berniat berjalan kaki saja pagi itu.

semarang01

Setelah sejenak melihat-lihat stasiun yang cukup tua usianya ini (karena saya akan pulang naik pesawat, tidak akan kembali ke stasiun ini) saya pun mencari jalan menuju tempat yang saya tuju: Gereja Immanuel, populer sebagai ‘Gereja Blenduk’.  Benar-benar tanpa tahu arah, tidak pegang peta, hanya sempat melihat-lihat peta Semarang melalui Google Maps.  Hanya mengandalkan bertanya.  Untunglah bapak-bapak yang saya tanya menjawab meyakinkan, “Tidak jauh kok mbak, lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri.  Dekat kok, tuh dari sini juga kelihatan…”  Baiklah.

semarang03

Saya melintasi polder yang airnya berwarna kehijauan di depan stasiun, lantas tanpa terlalu pikir-pikir menyusuri jalan-jalan kota tua Semarang yang diapit bangunan-bangunan tua.  Banyak yang tampak megah dan cantik, namun tidak sedikit pula yang terlihat kurang terawat.  Terkadang, bau kurang sedap meruah dari saluran-saluran air yang tampak nyaris kepenuhan oleh air berwarna hitam, mungkin sisa limpahan rob, yang memang sering membanjiri wilayah ini.

semarang04

Seandainya lebih terurus lagi daripada kondisinya sekarang, pasti kawasan kota tua ini semakin menarik.  Saya sendiri sangat menyukai bangunan-bangunan era kolonial sehingga sangat menikmati jalan-jalan pagi saya ini.  Seorang bapak menegur ramah, bertanya saya dari mana, kok pagi-pagi sudah jalan-jalan, rumahnya di mana.  Saya jawab saja saya baru dari stasiun (tidak bohong, kan?).

semarang05

Puas menemukan dan mengagumi arsitektur Gereja Blenduk dan beberapa gedung di sekitarnya dari luar, saya meneruskan ke jalan-jalan kecil di kawasan itu.  Saya coba bayangkan seperti apa dahulu kawasan ini, ketika kehidupan kota Semarang masih ramai terpusat di sini.

semarang06

Saya kembali ke titik awal, Stasiun Tawang, dan meminta sebuah taksi Blue Bird untuk mengantarkan saya ke tujuan berikutnya, kelenteng Sam Poo Kong, yang agak jauh letaknya dari stasiun.  Sang supir mengira saya orang Tionghoa yang hendak beribadah di kelenteng.  Saya tertawa dan berkata, Bukan, ayah saya orang Manado, makanya mungkin wajah saya terlihat seperti orang Tionghoa.  Kami pun jadi bercakap-cakap di sepanjang perjalanan.

“Saya dari kecil tinggal di sini.  Kalau saya bilang, kota ini perkembangannya lambat,” katanya.

“Tapi tentram toh Pak?” Saya berkomentar.

“Iya, tentram.”  Tahu saya dari Jakarta, ia berkata, “Maaf ya Mbak, saya memang orang Indonesia.  Tapi saya tidak berniat pindah ke Jakarta.  Saya memang belum pernah ke sana.  Tapi kalau lihat di TV, orangnya kelihatan banyak sekali.  Kali Ciliwung juga tampak kotor.  Habis banjir-banjir gitu kan Mbak?  Rumah Mbak kena nggak?”

Yah, saya sendiri secara pribadi berpendapat tinggal di kota yang tidak terlalu besar seperti Semarang atau Balikpapan tampaknya lebih menyenangkan daripada setiap hari disergap kemacetan dan polusi di Jakarta.  Toh kalau yang kita khawatirkan adalah segala kenyamanan kota besar modern seperti restoran-restoran cepat saji atau kafe-kafe internasional, kini mereka pun sudah mudah ditemukan di ibukota-ibukota provinsi berukuran sedang.  Saya tidak merasa pak supir perlu meminta maaf karena lebih memilih berdiam di Semarang yang mungkin bagi banyak orang Jakarta bukan kota yang perlu dilirik sebagai tempat tinggal.

semarang08

Meskipun tadi telah mengulur-ulur waktu di kota tua, saya tiba kepagian di Sam Poo Kong.  Loket belum buka, namun penjaga di situ membolehkan kami—saya dan beberapa wisatawan lain—masuk.  “Silakan saja, bayarnya nanti saja,” ucapnya ramah.  Saya melewati gerbang dan langsung disambut keteduhan pepohonan yang menaungi sejumlah meja batu beserta kursi-kursinya.  Beberapa lama saya duduk di depan salah satu meja, menikmati pagi, memandang ke arah bangunan-bangunan dalam kompleks kelenteng, baik yang telah lama selesai dibangun maupun yang sedang dibangun.  Saya bertanya-tanya apa kegunaan bangunan yang belum selesai itu nantinya: panggung sandiwara Cina kah?  Aula untuk peribadahan?

semarang09

Hampir sejam setelahnya baru saya berdiri dan mulai berjalan-jalan berkeliling.  Tampak sekelompok pria yang sepertinya petugas keamanan tengah di-briefing dan kemudian berlatih.  Bangunan-bangunan utama peribadahan kelenteng dipisahkan oleh saluran air yang ditata bagai sungai kecil dari pelataran luas di depannya.  Berbekalkan tiket khusus ke bagian itu, saya pun menyeberang dan mengamati bangunan-bangunan tersebut dari dekat.  Warna merah terang tentu mendominasi, namun juga ada warna hijau, dan bila saya tidak salah, sentuhan Jawa pada arsitektur atap bangunan utama.  Beberapa bagian tidak bisa dimasuki oleh orang yang tidak berniat beribadah, dan di beberapa bagian kita harus mencopot sepatu.  Aturan-aturan ini tentu harus kita hormati.

semarang07

Figur paling dihormati di kelenteng ini adalah sang pelaut Muslim dari negeri Cina,  Cheng Ho.  Patung raksasanya gagah berdiri di depan bangunan utama peribadahan.  Di kelenteng ini pun terdapat beberapa relik yang berhubungan dengan dunia maritim.  Kura-kura, si perlambang usia panjang, juga banyak menghiasi kelenteng ini, baik kura-kura sungguhan maupun yang dari batu.

semarang10

Saya lalu mendatangi sekumpulan bapak-bapak yang duduk di bawah pepohonan tempat saya sempat bercokol sekitar sejam tadi.  Dengan ramah mereka melayani pertanyaan saya mengenai cara pergi ke Pagoda Buddhagaya Watugong.  Berdasarkan petunjuk mereka, saya menyeberang di depan kelenteng, dan menaiki bis kecil – seukuran Metro Mini – ke arah Banyumanik.  Cukup jauh juga perjalanan ke pagoda tersebut, namun buat saya sama sekali tidak membosankan, karena ini kali pertama saya melihat semua yang terpampang di hadapan mata.

Tiba di Pagoda Buddhagaya Watugong, terlintas sebuah pikiran konyol di benak saya yang rupanya telah terpenjara kehidupan bertahun-tahun di Jakarta: Wah, rasanya seperti bukan di Indonesia, seperti di negara asing saja.  Ini konyol.  Tentu saja ini Indonesia.  Indonesia yang merupakan keseharian bagi penduduk daerah ini.  Indonesia yang berbeda dari Jakarta ,tapi tidak kurang Indonesia-nya.

semarang11

semarang12

Di pagoda ini pun penjaganya sungguh ramah.  Ia mempersilakan saya masuk.  Untuk mencapai pagoda, kita harus mendaki undak-undakan.  Sebelum sampai di bangunan utama pagoda, kita disambut patung Dewi Kwam In di tengah-tengah pelataran, sementara tak jauh darinya, sebuah patung Buddha berwarna keemasan bersemayam damai di bawah sebatang pohon boddhi yang rindang.

semarang14

semarang13

Di bagian belakang kelenteng terdapat kamar mandi yang cukup bersih.  Saya manfaatkan untuk mencuci muka yang sejak kemarin belum tersentuh air mandi.  Segar rasanya.  Saya lantas meneruskan mengelilingi pagoda yang sebenarnya tidak seberapa luas, mengamati sebanyak mungkin detail: patung-patung dan ukiran-ukiran naga, kura-kura, singa, pita-pita merah yang diikat di berbagai objek.

semarang15

Hari sudah siang sekali ketika saya meninggalkan pagoda, naik angkot ke terminal Banyumanik, dilanjutkan dengan bis Trans Semarang yang nyaman.  Saya turun di halte SMA 5 Pemuda, tepat di seberang hotel Amaris Pemuda, tempat saya menginap.  Saya memilih hotel ini karena melihat letaknya yang cukup dekat ke beberapa objek wisata di Semarang, seperti Lawang Sewu, selain harganya yang memadai untuk kantong saya dan pengalaman saya selama ini di cabang-cabang lain yang tidak mengecewakan.  Ternyata beberapa keuntungan lain menginap di hotel ini adalah: hanya selemparan batu dari halte Trans Semarang; di bagian bawah hotel ada cabang Dunkin Donuts dan Gramedia; kalau perlu apa-apa juga mal Paragon dan Carrefour bisa didatangi dengan berjalan kaki.

semarang20

Setelah beristirahat sejenak di kamar hotel, saya keluar lagi untuk mencari makan di Carrefour, sekalian menuju Lawang Sewu.  Karena lapar, saya pilih saja sebuah restoran cepat saji yang menyajikan makanan Asia.  Hmmm… rasanya biasa saja sih, harganya pun setara dengan restoran cepat saji lain alias ‘harga Jakarta’, tapi ya sudahlah.  Namanya orang lapar.  Tapi saya bertekad, sehabis ini kalau mau makan harus di luar mal!

Ah, tapi sebelumnya saya perlu bicarakan dulu tentang betapa enaknya berjalan kaki di banyak bagian Semarang.  Trotoar luas, rapi, kerap kali dinaungi pohon rindang.  Dari hotel ke Lawang Sewu, saya melewati kantor walikota dan DPRD yang megah, dan juga papan-papan di mana surat kabar hari itu ditempelkan, bebas dibaca oleh warga yang kebetulan lewat.  Kota-kota Indonesia perlu lebih banyak trotoar semacam ini!

semarang19

Tiba di Lawang Sewu, yang mungkin merupakan ikon paling kenamaan Kota Semarang, saya pun membeli tiket dan magnet kulkas berbentuk Lawang Sewu.  Selain itu, saya harus membayar pemandu yang mengantar saya menyambangi berbagai pojok Lawang Sewu yang sudah dibuka untuk umum (karena sebagian bangunan masih berada dalam tahap renovasi, termasuk bagian di mana terdapat jendela kaca patri yang indah).   Pak pemandu menemani saya dengan berbagai kisah sejarah maupun ‘urban legend’ yang juga membuat kompleks bangunan ‘berpintu seribu’ ini terkenal.  Pasti semua juga sudah pernah kan mendengar tentang kejadian-kejadian seram yang konon terjadi di Lawang Sewu?

semarang16

Dalam hati, saya sendiri merasa seandainya gedung-gedung di kompleks ini terawat baik semuanya, dan juga digunakan secara aktif, tentu tidak terasa (terlalu) menyeramkan.  Atmosfernya tidak akan ‘wingit’, tidak akan jadi lokasi favorit ‘uji nyali’ (kalau mau, Anda bisa lho ikut tur malam hari di gedung ini).  Malah gedung-gedung tersebut pastilah cantik sekali di masa jayanya, ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, sibuk dengan berbagai aktivitas mereka.

Di bagian yang sudah direnovasi dan dijadikan museum PT KAI, saya belajar banyak tentang sejarah dan kondisi perkereta-apian di Indonesia sekarang.  Wah, ternyata di Sumatra masih ada lokomotif yang menjalankan tugas luar biasa, menarik 40 sampai 60 gerbang sekaligus!  Sedihnya, tersaji pula peta rute-rute daerah-daerah operasional KAI, yang juga menunjukkan stasiun-stasiun yang sudah ‘dimatikan’ alias ditutup.  Ah!  Padahal dulu kereta merupakan salah satu alat transportasi utama yang menghubungkan kota-kota di Sumatra dan Jawa.

semarang18

Saya sempat ditawari masuk ke lorong-lorong bawah tanah, tempat difilmkannya video hantu yang popular di TV maupun Youtube.  Saya menolak sambil tertawa.

“Kenapa?  Kan sayang sudah jauh-jauh ke sini,” kata penjaga di depan tangga turun ke lorong-lorong tersebut.  (Untuk turun, kita harus membayar lagi biaya masuk yang juga mencakup penyewaan sepatu bot, karena di bawah sana air kerap menggenang.)

“Nggak ah Pak.  Saya tidur sendirian di hotel dekat sini,” saya berseloroh.

Beberapa kali mereka mencoba membujuk saya, namun gagal.  Bener deh, saya tidak ada niat turun ke bawah, meskipun katanya di bawah sana sedang ramai oleh pengunjung, tidak menakutkan.  Memang sih masih siang.  Saya hanya malas saja kalau malam nanti jadi terbayang-bayang suasana di lorong-lorong itu.

semarang17

Bukannya percaya takhayul ya, tapi kebetulan sekali malam harinya saat saya pulang dari Simpang Lima usai makan malam, saya kembali melintas di samping Lawang Sewu saat berjalan kaki menuju hotel.  Tanpa diduga, di depan saya cabang pohon yang cukup besar tahu-tahu jatuh ke trotoar di depan saya!  Seandainya saya tadi tidak melambatkan langkah karena menengok layar telepon genggam, mungkin cabang pohon yang tumbuh di tepi kompleks Lawang Sewu itu bakal menimpa saya.

Ups.

Anggaplah sambutan pertanda saya diterima di Semarang!  Hehehe.

Bersambung ke bagian kedua…

Kobe Desember 2012

This post is about Japan

Kobe adalah sebuah kota di tepi laut yang merupakan salah satu pelabuhan utama Jepang sejak dahulu.  Bahkan, pernah ada suatu masa ketika di Kobe-lah berpusat tempat tinggal dan industri orang-orang asing di Jepang.  Tak heran bila kota ini diwarnai jejak-jejak kebudayaan yang campur-aduk namun harmonis, mulai dari Eropa, Cina, India, Muslim, bahkan Yahudi.  Meski sempat hancur akibat gempa besar pada tahun 1995, Kobe kini telah bangkit kembali menjadi kota yang cantik dan patut dikunjungi bila Anda menyambangi daerah Kansai.

kobe01

Saya tiba di Stasiun Sannomiya ketika hari sudah siang.  Tak pelak stasiun yang besar dan sedemikian banyaknya orang yang berlalu lalang membuat saya kehilangan arah.  Ke mana saya harus berjalan, bila ingin mengunjungi bangunan-bangunan tua yang menjadi kekhasan Kobe?  Saya pun mendekati satu dari sejumlah peta kota yang dipasang di sekitar stasiun.  Saat sedang memicing-micingkan mata mencoba menentukan lokasi dan rute, seorang pria mendekati saya.

“Mau ke mana?”  Ia bertanya dalam bahasa Inggris.

Saya kaget dan, jujur, saya langsung waspada.  Curiga.  Bagaimana kalau dia orang yang senang menipu turis?  Kenapa sok akrab sekali?

kobe02

Entahlah, mungkin pria itu menyadari mimik saya yang melintaskan keraguan.  Ia lekas menunjukkan sebuah kartu yang dicantolkan ke lanyard di lehernya.

“Saya pemandu wisata.  Saya akan tunjukkan jalan.”

Oh.  Astaga.  Tiba-tiba saya merasa sangat jahat.  Dan malu.

Ternyata pria ini adalah salah seorang pemandu yang ditugaskan berjaga di sekitar stasiun, siap menunjukkan jalan kepada para pengunjung baru di Kobe.

“Saya mau ke masjid,” jawab saya, mengingat saat itu sudah masuk waktu Zuhur.

“Oh, kalau begitu – lihat gedung yang di sana itu?  Nanti Anda jalan ke bla… bla… bla…” Dengan sigap dan terang, sang pemandu pun menjelaskan rute yang harus saya tempuh.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun meninggalkan stasiun, mengikuti arahan dari sang pemandu.  Saya pun menyusuri jalan demi jalan Kobe yang kecil-kecil—umumnya hanya pas untuk dua mobil—di tengah dingin yang menerpa.  Mata dimanjakan bangunan-bangunan cantik, yang terkadang sedemikian Eropa sehingga sejenak saya lupa saya berada di Jepang.

Sambil berjalan, saya menyadari bahwa jalanan yang saya tapaki agak menanjak.  Bagian Kobe yang ini memang berada di perbukitan.  Sebagian objek wisata bahkan terletak sedemikian tinggi, bisa membuat kewalahan orang yang tidak terbiasa banyak berjalan, apalagi mendaki.  Jadi ini saran saya bila ke Kobe: pastikan sepatu yang Anda kenakan nyaman, dan kondisi fisik Anda juga sedang bagus!

kobe03

Sebagai kota internasional, di Kobe pun terdapat komunitas Muslim.  Bahkan di kota inilah terletak masjid paling tua di Jepang, yang berdiri sejak OKtober 1935.  Komunitas Muslim-nya juga kabarnya cukup giat beraktivitas keagamaan.  Hanya saja kebetulan hari itu, ketika saya tiba, masjid sedang sepi sekali.  Tidak ada siapa-siapa.  Hanya dengan kepercayaan bahwa yang namanya masjid bebas dimasuki orang yang hendak beribadah, saya membuka pintu samping yang tertutup dan masuk ke apa yang sepertinya merupakan ruang penyambutan tamu.  Ada lorong ke kiri dan ke kanan, serta tangga ke atas.  Semua sepi.  Sedikit aneh rasanya.

Lantai seperti bangunan Jepang tradisional pada umumnya, agak ditinggikan, dengan area yang lebih rendah di depan pintu sebagai tempat melepas alas kaki.  Di ruangan itu ada semacam meja resepsionis, tapi tidak ada siapa-siapa.  Sebuah buku tamu terpentang di atas meja itu, didampingi sepiring kurma dan kue manis khas Timur Tengah.  Saya mencicipi satu.  Udara musim dingin telah membuat kurma keras dan mengkerut, tapi rasa manisnya masih terasa di lidah.

kobe04

Berdasarkan insting juga saya lantas menaiki tangga, mencari area salat untuk perempuan.  Ternyata benar, memang di lantai dua letaknya.  Ruang tempat mengambil wudu lengkap fasilitasnya, termasuk sandal jepit.  Toiletnya jongkok, dilengkapi dengan air untuk membilas.  Tidak ada air panas, sehingga wudu pun terasa sangat menggigit!

Di area salat juga tidak ada siapa-siapa.  Entahlah apa tadi ada salat berjamaah atau tidak.  Saya pun salat dengan mukena yang tersedia.

Usai beribadah, saya pun meninggalkan masjid.  Tepat di depannya saya melihat dua orang pria yang sedang asyik berfoto.  Tampang mereka Melayu.  Kalau tidak Indonesia, pasti Malaysia nih.  Benar saja.  Mereka orang Malaysia.  “Sudah sembahyang?” tanya mereka.  Kami pun mengobrol sedikit.  Mereka juga membantu memotret saya di depan masjid.  (Inilah susahnya bepergian sendirian: harus cari orang lagi untuk mengambilkan foto kita!)

kobe05

Rupa-rupanya mereka datang bersama rombongan.  Dari kejauhan, tampak sejumlah pria Malaysia lain sedang mendekat, hendak salat juga di masjid Kobe.  Saya pun pamit, memisahkan diri.  Tepatnya saya ke seberang jalan.  Pas di seberang masjid ada sebuah toko yang menjual bahan makanan halal, yang berasal dari Indonesia sampai Turki.  Kecap dan mi instan Indonesia, bumbu masak Malaysia, makanan beku India, manisan Turki, ada semua.  Saya pun membeli dua kotak makanan instan India.  Lumayan buat disantap di penginapan.

Dari masjid, saya kembali menelusuri jalan.  Kali ini menuju kawasan tempat berdirinya sejumlah rumah tua bergaya barat yang dikenal sebagai ‘Ijinkan’ di Kitano-cho, di kaki pegunungan Rokko.  Ada sembilan rumah utama yang dijadikan museum dan bisa dikunjungi dengan harga tiket terusan 3.500 yen.  Kalau beli tiket hanya untuk satu-dua rumah, rasanya sayang, karena untuk satu rumah saja harganya 300, 500, atau 700 yen.  Saya sih optimistis saja, bisa mendatangi kesembilan rumah tersebut sekaligus di sisa sore hari itu.  Selain kesembilan rumah yang dijadikan museum, ada sejumlah bangunan atau rumah lain yang juga dilestarikan, entah itu sebagai milik pribadi, restoran, ataupun toko, seperti Danish House, Austrian House, Dutch House, Italian House.

Kesembilan rumah yang merupakan bagian dari tiket kombinasi:

  1. Panama House
  2. Rhine House
  3. Uroko House dan Uroko Museum
  4. Yamate Hachibankan
  5. Kitano Foreigners’ Association
  6. Bekas Konsulat Cina
  7. Ben’s House
  8. French House
  9. England House

Di dalam setiap rumah ini tersimpan koleksi benda seni dan antik yang berbeda-beda.  Ada yang berfokus pada produk budaya negeri-negeri jauh, ada yang memajang barang-barang impor dari Inggris dahulu kala.

kobe06

Saya mendatangi loket penjualan tiket yang berada di depan Panama House.  Penjaga loketnya tidak bisa berbahasa Inggris, namun ia tetap menjelaskan kepada saya dengan tenang dan lugas dalam bahasa Jepang.  Nah, inilah salah satu hal yang saya kagumi dari para petugas di Jepang yang bergerak di bagian pelayanan seperti ini.  Kadang-kadang mereka tidak mengerti bahasa asing, sehingga tetap akan berbicara dengan bahasa Jepang kepada kita, bukan tergagap-gagap dalam bahasa Inggris seadanya.  Sewaktu ditegur polisi di Takarazuka, mereka juga hanya berbahasa Jepang ke saya.  Namun entah bagaimana, dari nada dan gerak-gerik mereka yang sopan serta lugas, kita jadi bisa mengerti kurang-lebihnya yang mereka maksudkan apa.

Ia memberikan peta kesembilan rumah yang lantas ia gunakan untuk menerangkan kepada saya ke mana saja saya harus berjalan.  Sang petugas juga memberikan sebuah buku ‘paspor’ Kobe untuk mengumpulkan cap di kesembilan rumah yang saya datangi.  Kalau lengkap dapat kesembilan capnya, di rumah terakhir (Panama House) akan ada hadiah, lho!  Selain itu, sang petugas memberikan juga selembar kertas untuk bermain mencari Sinterklas di kesembilan rumah.  Sayangnya saya tidak sempat dengan serius berusaha menjalankan permainan ini.

kobe07

Rumah pertama yang saya kunjungi adalah Rhine House.  Dari sini saja, saya sudah harus menempuh perjalanan menanjak, melewati undak-undakan.  Whew… untung juga saya pergi di saat cuaca sedang dingin, sehingga tidak terlalu menguras keringat.  Kalau ini musim panas, pasti saya sudah bersimbah peluh sedari tadi.  Di Rhine House ini ada toko suvenir yang lucu-lucu, antara lain memajang sejumlah kartu pos karya desainer Jepang.  Saya pun tergoda membeli beberapa lembar.

Keluar dari Rhine House, saya kembali mendaki melewati anak-anak tangga dan jalan-jalan sempit.  Memang cukup melelahkan, tapi perasaan tertarik dan bersemangat membuat saya tidak terlalu memikirkan rasa capai yang mulai menerjang kaki dan punggung.  Hanya saja… kok banyak pasangan bergandengan tangan yah di kawasan ini?  Bikin iri orang yang lagi berkelana sendirian saja, hehehe!

kobe08

Sebelum ke bangunan kedua, saya terlebih dahulu melipir ke Weathervane House, salah satu bangunan tua ternama juga di Kobe.  Kekhasannya adalah petunjuk arah angin berbentuk ayam jago di pucuk atapnya.  Saya tidak sampai masuk, hanya berfoto-foto di depannya saja, di sebuah pelataran berbentuk setengah lingkaran yang bagaikan balkon tempat kita bisa melihat pemandangan Kobe di bawah.

kobe09

Dari Weathervane House, saya menuju Uroko House alias ‘Rumah Sisik Ikan’.  Namanya diperoleh dari bentuk atapnya.  Wah wah… terlihat beberapa tiruan Sinterklas bergelantungan di menara dan di atapnya.  Lucu sekali.

kobe10

Di depan rumah ini ada sebuah bangunan kecil yang berfungsi sebagai toko suvenir dan tempat makan.  Sementara bagian dalam bangunan utama difungsikan sebagai museum yang antara lain memajang lukisan-lukisan karya seniman-seniman terkemuka.

kobe11

 

Dan di lantai paling atas, jendela-jendela besar menawarkan pemandangan leluasa ke arah bagian Kobe yang terletak lebih dekat ke laut.

kobe12

Rumah berikutnya adalah Yamate Hachibankan, di mana tersimpan patung-patung karya sejumlah empu seperti Rodin dan Renoir, juga koleksi patung dan ukiran budaya Afrika dan agama Buddha.

kobe13

Agak seram juga sih suasananya, entah mengapa.  Oya, di sini ada sepasang singgasana berbantalan merah yang mengapit salah satu pintu.  Konon bila kita duduk di situ dan memanjatkan harapan, harapan kita akan terkabul.  Ada yang mau iseng-iseng mencoba?

kobe14

Perjalanan masih menanjak lagi.  Kali ini menuju Kitano Foreigners’ Association.  Rumahnya tidak seberapa besar, namun di dalamnya kita bisa melihat contoh dapur kuno rumah ala Barat zaman dahulu, lengkap dengan segala perlengkapan masak yang digunakan di zaman itu.

kobe15

Tak seberapa jauh dari situ, ada bekas Konsulat Cina, yang tentu saja banyak memajang perabotan, keramik, dan barang-barang lainnya yang bergaya Cina.  Bahkan sampai kamar mandi pun terasa sekali suasana Cina-nya.

Perjalanan mendaki berakhir.  Kini giliran menggelinding menuruni gunung.  Ini juga lumayan curam jalannya.  Waduh, salut banget deh kepada yang tinggal di kawasan ini.  Setiap hari bolak-balik melewati lereng ini pasti bikin otot dan paru-paru mereka kuat!

Selain Kitano Foreigners’ Association, rumah yang juga menimbulkan perasaan kurang enak adalah Ben’s House.  Rumah ini tadinya milik Ben Allison, seorang pemburu.  Tak heran di rumah ini banyak dipajang hasil buruan yang sudah diawetkan.  Rasanya kok ya agak seram saja, sekaligus kasihan, melihat hewan-hewan yang mati namun tampak demikian hidup itu.  Saya tidak tahan lama-lama dan memilih lekas-lekas keluar.

kobe16

Sementara di French House, selain mengagumi perabotan, kita bisa melihat sejumlah koleksi langka seperti seperangkat koper Louis Vuitton buatan Prancis yang terkenal karena kualitasnya.  Tapi French House ini masih kalah menarik dibandingkan rumah berikutnya, England House.

kobe17

England House tak hanya menampilkan perabot antik dari abad kedua puluh.  Di sini juga terdapat dua bar berinterior unik, dan sebuah museum kecil tempat menyimpan memorabilia Sherlock Holmes di lantai dua.  Museum kecil itu ditata seperti kamar tidur Holmes, lengkap dengan biolanya, kursi malasnya, bahkan manekin serupa sosoknya yang menghadap jendela.  Tak heran banyak penggemar Sherlock Holmes mendatangi rumah ini.  Kita juga bisa berfoto mengenakan jas dan topi khas Holmes.

kobe18

Saya kembali ke titik semula, yaitu Panama House.  Di depan bangunan ini, setelah menunjukkan kesembilan cap yang kita peroleh di pintu masuk masing-masing rumah, kita pun dipersilakan mencoba keberuntungan mengambil undian untuk memperoleh suvenir Kobe.  Peruntungan saya rupanya ‘hanya’ berupa sebatang pulpen.  Tapi lumayanlah!  Hadiah kecil begini juga membuat petualangan menyusuri kesembilan rumah lebih berkesan.

Sambil menunggu waktu Magrib, saya berjalan-jalan saja menyusuri Kitano yang permai.  Tadinya mau mencicipi kopi di salah satu dari sekian banyak kafe yang cukup besar, tapi kok rata-rata ramai ya.  Saya juga tidak mau mendatangi kedai kopi internasional, yang bisa saya temui di berbagai kota dan negara.  Saya lebih memilih mencari kafe setempat yang menawarkan racikan kopi sendiri.  Pandangan saya tertumbuk pada sebuah kafe kecil yang tampaknya menarik.  Buffo namanya, terselip di antara sejumlah bangunan lain.  Dari penampakan depannya pun kafe ini terlihat hangat dan mengundang, bagaikan sebuah rumah bergaya pedesaan di Amerika.

kobe19

Saya pun melangkah masuk dan langsung terkesima.  Waaaah, kafe ini sangat nyaman!  Berbagai pernak-pernik ‘rumahan’ ditata dengan menarik, dan menimbulkan kesan akrab.  Seperti betul-betul melangkah masuk ke sebuah rumah yang pemiliknya menyambut kita dengan ramah.  Bahkan ada seekor anjing kecil berpakaian lucu yang sedang tidur di lantai.  Ia menggonggong sedikit, namun tidak galak kok!

kobe20

Saya mengambil tempat duduk di hadapan sebuah meja yang bagian atasnya diganti kaca, sehingga kita bisa melihat berbagai peralatan menjahit seperti kancing dan benang yang dipajang di bagian dalam meja.  Saya memesan secangkir kopi dan pai apel.  Ibu-ibu yang melayani sangatlah ramah.  Bahasa Inggrisnya terbatas (sementara bahasa Jepang saya terbatas), sehingga kami pun terbata-bata bercakap-cakap.  Ia menanyakan apakah saya sedang liburan, dan saya berasal dari mana.  Kebetulan ada peta dunia tergantung di dinding.  Saya pun menunjuk Indonesia.  Saya juga jelaskan bahwa adik saya kebetulan sedang berkuliah di Tokyo, dan saya ada di Jepang saat itu antara lain untuk mengunjunginya.  Si ibu pun memuji adik saya.  Percakapan ramah ini membuat saya semakin terkesan saja kepada kafe kecil itu.

kobe21

Setelah membayar dan berpamitan, saya keluar kembali ke jalanan Kobe, yang kini sudah mulai gelap.  Maklumlah musim dingin, matahari terbenam cepat sekali.  Saya kembali ke masjid untuk salat.  Kelar tunaikan salat Magrib, saya menyadari bahwa di masjid ini saya mendengar sesuatu yang rasanya baru sekali itu saya dengar di kawasan perumahan di Jepang: gelak-tawa nyaring dan sorak-sorakan anak-anak yang asyik bermain dan berlari-lari.  Mungkin anak-anak itu habis mengaji di bagian belakang masjid.

Sebetulnya saya masih ingin berjalan-jalan di Kobe, namun yah…. Resikonya berjalan-jalan di musim dingin.  Cuacanya sih enak, tapi toko-toko dan objek-objek wisata juga cepat tutupnya.  Saya kembali ke Sannomiya untuk menaiki kereta kembali ke Osaka, meninggalkan lampu-lampu kota pertemuan antarbangsa sejak dahulu kala di belakang.

Ketika Sebuah Kenangan Tak Jadi Ditulis: Singapura

This post is about Singapore

Setiap kali habis bepergian, rasanya ingin segera menuangkan kenangan menjadi tulisan.  Tetapi seringkali, kesibukan yang langsung menyergap membuat semua bahan yang telah disiapkan menjadi terbengkalai.

Yang berikut ini contohnya.

Tahun 2012 lalu di bulan Juli saya melawat ke Singapura bersama kedua adik saya.  Tujuan utamanya menonton konser The Stone Roses, sekaligus mengunjungi pameran Harry Potter dan Andy Warhol di ArtScience Museum.

Untuk yang hendak menonton di National Indoor Stadium Singapura, menginap di daerah Sultan Mosque/Kampong Glam nyaman sekali.  Daerah ini hanya berjarak satu stasiun dari NIS, banyak penginapan dan tempat makan murah (dan halal).

Ketika sebuah kenangan tak jadi ditulis, untunglah masih ada foto-foto.  Bila satu foto mengandung seribu kata, maka berapa banyakkah kenangan yang urung tertuang dalam huruf-huruf itu?

MuBank Jakarta – perhelatan akbar Kpop di negeri sendiri

This post is about Indonesia

Agak lemas saya menatap jadwal Super Show 3.

Indonesia tidak masuk ke dalam daftar negara yang menjadi tuan rumah tur Super Junior itu.

Dan pertunjukan terakhir akan digelar di Ho Chi Minh City, Vietnam.  Akankah saya nekad?

Akhirnya, ya, saya nekad.  Saat itu tahun 2011.  Saya belum sempat menonton SS satu kali pun.  Kesempatan saya yang tersisa ketika itu hanyalah Vietnam.

Maka, dengan modal secukupnya (uh, untunglah Vietnam masih tergolong negara yang murah!) saya berangkat juga ke HCMC, demi menonton Super Junior.  Bukan pengalaman yang terlalu menyenangkan sebenarnya.  Tetapi setidaknya, waktu itu sudah lumayan puas, bisa juga menonton Super Junior dan bertemu dengan teman-teman baru.

Justru pengalaman itu membuat keinginan menonton Super Junior semakin menggebu.  Dan tekad saya, harus di Indonesia!  Rasanya, penonton negara lain itu tidak ada yang segila di Indonesia.  Beberapa kali menonton di luar negeri, saya selalu kangen kepada penonton Indonesia yang seru dan berisik.

Sekarang memang sudah banyak, ya, artis-artis Kpop yang silih-berganti menggelar konser atau event di Indonesia.  Tapi dulu jarang sekali ada yang datang ke sini.  Rasanya mereka datang itu hanya mimpi, di awang-awang.  Jadilah para penggemar Kpop Indonesia bertebaran ke berbagai negara, demi bisa menonton (atau malah bertemu) idolanya.  Itu juga yang saya lakukan demi menonton, antara lain, penampilan TEEN TOP.  Dua kali saya menonton mereka, di Singapura dan Malaysia.  Boros?  Yah… kalau hanya dilihat dari segi uangnya, iya.  Tapi sebenarnya kalau kita senang, mengeluarkan uang memang tidak terasa sayang.  Tapi, ya, kalau ada yang lebih dekat dan tidak perlu memikirkan masalah transportasi dan akomodasi, pastinya mau, dong!  Kan uangnya malah bisa dipakai membeli merchandise, mungkin… hehehe…

2pm

Sejak saat itu, Super Junior memang telah beberapa kali datang lagi ke Indonesia.  Begitu pula 2PM.  Tapi terus terang saya rasanya tidak pernah ‘puas’ dalam artian ‘tidak ingin menonton lagi’ sih.  Meskipun setiap kali Super Junior dan 2PM ke sini saya pasti menghadiri konser mereka, saya tidak pernah kapok atau bosan untuk kembali melihat mereka menunjukkan kebolehan menyanyi dan dance di depan mata sendiri.

Nah,  kebayang dong perasaan senang saya sewaktu mendengar KBS Music Bank akan diselenggarakan di Jakarta pada 9 Maret 2013 di Gelora Bung Karno?  Wow!  Super Junior, 2PM, SHINee, dan TEEN TOP.  Iya, saya memang sudah pernah menonton mereka, tapi terbayang dahsyatnya pertunjukan gabungan yang hanya akan digelar sekali di Asia tahun ini, yaitu ya di Indonesia ini!

Music Bank di Jakarta adalah konser MuBank kelima dalam Music Bank World Tour yang dilangsungkan sejak 2011.  Tidak sembarang kota dan negara terpilih untuk menyelenggarakannya.  Sebelum Jakarta, yang pernah terpilih adalah Tokyo (2011), Paris, Hong Kong, dan Chile (2012).  Jadi bisa dibilang ini adalah kesempatan langka untuk menyaksikan festival Kpop terbesar ini!  Ditambah lagi, MuBank Jakarta diselenggarakan dalam rangka memperingati 40 tahun hubungan Korea Selatan dan Indonesia.  Oleh karena itu, tak hanya tamu-tamu dari Korea Selatan, di MuBank Jakarta juga akan tampil artis-artis dari Indonesia.  Yang sudah dikonfirmasi adalah Afghan.

teentop

Selain itu juga akan ada Infinite, boyband yang dari dulu juga saya ingin tonton tapi belum kesampaian.  Seperti juga TEEN TOP, tadinya Infinite hanya punya jadwal di negara-negara tetangga.  Selain mereka berempat, juga akan ada B2ST, Eru (kali kedua mereka ke Indonesia), dan SISTAR, satu-satunya girlband dalam line-up, yang juga pasti telah amat ditunggu-tunggu oleh para penggemar mereka.

Kali ini, sepertinya penggemar dari negara-negara lain yang akan mengalir ke Jakarta demi melihat bintang-bintang kesayangan mereka.  Ah, ya, kini giliran mereka mengejar idola Hallyu kesayangan ke negeri orang…

Music Bank dipersembahkan oleh KBS. Tur dikelola oleh CABA Entertainment. Promotor MuBank di Jakarta adalah Asia Top Entertainment, didukung oleh Live Motion Pictures Inc, Marygops Studios, dan IYAA.

Music Bank

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers